
SRET!
"Pangeran ... Hey, jangan tenggelam di sini! Ku belikan mainan jika kau masih hidup," teriak Yi Hua yang sebenarnya bingung sendiri.
Jelas jika memang kematian, maka tak akan ada kata nanti. Dan semua penyesalan tak bisa ditebus lagi. Yi Hua jelas memahaminya. Ia hanya panik, dan tak tahu harus mengatakan apa.
SRAK!
GREP!
Jantung Yi Hua sepertinya selalu mendapat kejutan hari ini. Padahal dia baru saja mendapat kejut jantung saat melihat Pangeran kecil itu melompat ke sungai, sekarang dia dikejutkan dengan tarikan di belakang pakaiannya. Eh, tarikan?
"Yi Hua, anak itu menempel di kakimu," ucap Xiao di telinga kiri Yi Hua.
Terkadang sistem itu berfungsi sebagai pendeteksi di sekitar. Sebab, saat Yi Hua tak bisa melihat, mendengar, dan merasakan, Xiao tetap bisa diandalkan untuk mengatasi itu. Sehingga ... Yah, terkadang sistem ini berfungsi dengan baik.
Pangeran kecil itu ternyata tidak apa-apa. Dia mungkin menenggelamkan kepalanya sebentar karena mengira Yi Hua yang tenggelam. Akan tetapi, setelah keributan yang Yi Hua buat, anak itu mendengarnya.
Beruntung air sungai tak begitu dalam. Dari apa yang Yi Hua lihat, tinggi air mencapai leher Li Quon. Selama anak ini tidak terpeleset di dalam air, maka dia baik-baik saja. Yi Hua menghela napasnya.
"Kau berjanji akan membelikan mainannya, bukan?" tanya Li Quon pada Yi Hua.
Yi Hua memegang kedua pipi Li Quon karena terkejut. "Kau sekarang bicara."
"Kau bilang aku harus mengatakannya jika aku menginginkan sesuatu," balas Li Quon seadanya.
Yah ... Memang Yi Hua yang mengatakannya. Akan tetapi, ia tak menyangka jika kejadian ini membuat Li Quon mulai berbicara lagi. Yi Hua jelas tak tahu apa yang dialami anak ini, tetapi apa memang semudah itu membuka hati anak ini?
Jelas tidak, bukan?
Orang di sekitar Li Quon pun tak bisa membuka hati anak ini. Bahkan Liu Xingsheng pun tidak, padahal pria itu cukup konyol untuk menghibur kekecewaan. Atau, ibunya, Si Selir Wen, cukup bisa menjadi bahan Li Quon untuk mengkritik.
Namun anak ini terus diam.
Yi Hua mengangkat Li Quon kembali ke atas perahu kecil (curian) mereka. Anak itu tidak mengatakan apa-apa. Akan tetapi, keduanya jelas dalam keadaan yang tak baik-baik saja. Mereka basah kuyup.
Ditambah lagi Yi Hua jelas telah menaruh lehernya ke tiang gantung. Bagaimana bisa ia membuat seorang Pangeran menerjuni sungai seperti ini?
SRET!
Yi Hua meminta izin sebentar untuk menyentuh pakaian Li Quon ini. Meski dia hanyalah makhluk kecil dengan pipi menggembung, dia tetaplah seorang Pangeran. Sehingga seseorang sepertinya tak seharusnya menyentuh sembarangan calon Raja masa depan ini.
Li Quon memperhatikan Yi Hua yang tengah memeras ujung pakaiannya. Air sungai ini sebenarnya bercampur lumpur hingga pakaian Li Quon jelas ikut kotor. Sedangkan Yi Hua, jangan ditanya lagi. Sejak awal warna pakaiannya adalah putih, dan pakaiannya sekarang sudah berganti warna dengan sempurna.
"Yi Hua tak ingin bertanya?" Suara kecil itu menghentikan gerakan Yi Hua.
Namun itu hanya bertahan beberapa detik. Setelahnya, Yi Hua kembali memeras pakaian Li Quon. Jelas ia tak ingin Pangeran ini masuk angin ketika mereka masih berada di permukaan sungai.
"Sudah aku bilang, jika kau menginginkannya silahkan bicara. Jika tidak, maka Pangeran bisa diam," ucap Yi Hua dengan senyum tipis di wajahnya.
Li Quon menepuk tangan Yi Hua yang berada di pakaiannya. "Mereka tak pernah bilang seperti itu padaku."
"Siapa? Biarkan aku menendang kepala mereka untukmu."
Anak kecil itu menatap Yi Hua dengan mata polosnya, "Ibu dan kakek."
__ADS_1
Itu jelas Selir Wen dan Pejabat Tinggi Wen, mertua dari Raja Li Shen. Yi Hua jelas meneguk ludahnya saat ingat dengan ucapannya sendiri. Ia jelas tak berani menendang kepala kedua orang itu. Bukan persoalan tak berani secara nyali, tetapi tak berani karena dia hanyalah seonggok bawahan kerajaan.
"Yi Hua, sebaiknya kau segera kembali ke Pusat Kota sebelum kepalamu semakin tak berharga lagi di mata kerajaan," tegur Xiao mengingatkan.
"Mungkin mereka lupa untuk mengatakannya," jawab Yi Hua seadanya. Ia jelas tak ingin memperkeruh masalah keluarga.
Akan tetapi, keluarga kerajaan jelas berbeda dengan keluarga biasa.
Li Quon menggoyang-goyangkan sekuntum biji teratai di tangannya dengan wajah datar. Mungkin anak ini benar-benar baru pertama kalinya melihat biji teratai. "Mereka hanya berkata untuk mengangkat nama keluarga Wen."
Apa mereka sadar tengah bicara dengan siapa? Bahkan Li Quon hanyalah anak kecil yang belum pernah bicara dengan sapi!
Yi Hua memutuskan untuk kembali. Siapa tahu Liu Xingsheng sedang mencari mereka di Pusat Kota. Namun baru saja Yi Hua ingin meraih ganggang bambu yang menjadi dayung, tatapannya terarah pada tangkai teratai yang ia petik. Ia membuat keributan untuk mengambil benda itu sebelumnya.
Sungguh jika dia tahu akan merepotkan seperti ini, maka lebih baik Yi Hua membawa Li Quon untuk mengelilingi Pusat Kota saja.
"Karena aku tak punya uang, biji teratai ini untukmu," ucap Yi Hua yang ternyata gemar sekali mengingkari janji.
Li Quon meraih tangkai teratai itu dengan wajah muram. Jelas sekali anak ini masih menginginkan mainan.
"Biasanya kau pernah makan biji teratai ini saat sudah dibersihkan oleh para pelayan. Lihat. Beginilah bentuk aslinya," ujar Yi Hua sambil meraih ganggang bambu lagi.
Ia kembali mendayung perahu untuk kembali. Li Quon menatap setangkai biji teratai dengan wajah datarnya. Entah apa yang anak itu pikirkan. Namun dia memegang pemberian Yi Hua dengan erat.
Aku harus kembali, atau aku akan tercatat sebagai penculik anak Raja!
"Lain kali jangan berani melompat seperti itu, Pangeran. Kau harus menilai situasi dahulu baru bertindak," ucap Yi Hua menggurui.
"Harusnya kau bicara itu pada dirimu sendiri, Yi Hua. Kau bahkan lebih parah dari dia," tegur Xiao.
Yi Hua menatap keramaian Pusat Kota dari kejauhan. Sepertinya mereka sudah hampir sampai ke tempat Yi Hua meminjam perahu ini. Ia memperhatikan Li Quon yang masih fokus menatap sekuntum biji teratai di tangannya.
"Yi Hua akan menghilang juga seperti Zi Si," lanjut Li Quon.
^^^*Zi Si itu cangkang manusia yang sempat menculik Li Quon di kasus pertama. Dia adalah gadis yang menjadi pelayan pribadi Li Quon.^^^
Di mata Li Quon, Zi Si adalah seseorang yang selalu bersamanya. Ia jelas tak tahu jika Zi Si bukanlah manusia. Dari reaksi Li Quon, Zi Si mungkin memperlakukannya dengan baik. Hanya saja dia tak lain adalah seorang budak, dan ada yang mengendalikannya.
Sampai sekarang Yi Hua masih belum tahu alasan mengapa Zi Si menyamar menjadi pelayan pribadi Li Quon.
"Aku tak akan semudah itu menghilang. Tapi ini aneh, bukankah kau sebelumnya tak ingin bicara padaku?" tanya Yi Hua untuk menggoda Li Quon.
Jelas anak ini sebelumnya bahkan tak ingin menatap Yi Hua. Namun sekarang mengapa sangat berbeda.
Apa pesonaku telah sampai pada anak kecil ini?
Lalu, Yi Hua mendengar suara Xiao yang seperti muntah.
Ternyata sulit sekali mengkhayal di dunia yang keras dan kejam ini.
"Kau sama seperti Yang Mulia."
Yi Hua mengerutkan keningnya ketika mendengar jawaban aneh itu. Bagaimana pun dia jelas tahu siapa Yang Mulia ini. Tentu saja itu adalah Yang Mulia Raja Li Shen.
Akan tetapi, ini kali pertama seseorang menyebutnya seperti Raja Li Shen. Lagipula, darimana ia bisa terlihat seperti Raja Li Shen yang pemarah itu. Belum lagi Yi Hua tak begitu pendek hati seperti Raja Li Shen.
__ADS_1
"Sama?" tanya Yi Hua memastikan telinganya masih normal atau tidak.
Siapa tahu telinganya rusak akibat teracuni oleh suara Xiao terus-menerus.
"Hangat."
Hanya itu yang Yi Hua dengar dari Li Quon.
Yi Hua berhenti mendayung sejenak. "Aku tak tahu jika kau dekat dengan Yang Mulia."
Sepanjang yang Yi Hua ingat ialah biasanya Raja akan begitu sibuk, hingga tak sempat untuk sering melihat wajah anaknya. Atau, Raja Li Shen mungkin tak seperti yang Yi Hua bayangkan.
"Aku jarang melihatnya, tetapi aku menyukai nyanyian tidur darinya," balas Li Quon yang terlihat agak semangat.
Ah, nyanyian tidur.
Seingat Yi Hua, Kerajaan Li punya banyak tradisi seni. Salah satunya adalah nyanyian tidurnya yang sering dinyanyikan oleh orangtua untuk anak-anaknya. Kalau tidak salah ...
Yi Hua melamun sebentar hingga ia tak sadar jika perahu kecil itu telah dekat dengan pinggir sungai.
"Hmmm ... hmm ... Di kala hujan menyirami, bunga mawar tampak bersemi. Lalu, mereka bernyanyi hingga tangkai mereka bergoyang," sebut Yi Hua secara spontan.
"Lagu apa yang kau nyanyikan itu, Yi Hua? Nyanyian tidur Kerajaan Li hanya sebatas suara dengungan," ucap Xiao yang heran.
Wajah Li Quon terlihat bingung seolah dia tak tahu dengan lagu yang Yi Hua nyanyikan. Nadanya terdengar familiar, tetapi lagu tidur yang ia kenal tidak memiliki lirik di dalamnya. Itu hanyalah sebatas nada gumaman.
Akan tetapi, Yi Hua bukan bernyanyi sembarang bernyanyi. Itu adalah apa yang ada di dalam ingatannya. Bahkan ia seperti mendengar suara nyanyian itu sendiri, dan suaranya seperti suara dalam seorang pria.
Namun Xiao juga sepertinya heran, berarti ingatan ini bukan datang dari Xiao.
Huh? Kapan aku pernah mendengarnya?
Ia hanya spontan menyanyikan lagu dari suara yang tertanam di pikirannya saat ini. Lagipula, ia merasa sangat mengenal lagu ini.
Sebelum ia bisa mengetahui jawabannya, rasa dingin di tenggorokannya langsung membuat Yi Hua tertegun. Bahkan Yi Hua tak berani menggerakkan lehernya hanya karena ia takut kepalanya akan terlepas. Belum lagi dengan suara yang Yi Hua kenal terdengar di belakangnya.
Ayolah! Kesialan benar-benar menyayangi aku di sini.
"Siapa kau sebenarnya? Kau tahu tentang lagu itu."
Itu adalah suara dari Raja Li Shen.
Lebih dari segalanya ialah Yi Hua sebenarnya juga tak tahu bagaimana dia bisa tahu lagu itu. Bahkan jika dia diancam untuk dihukum mati pun, dia tetap tak bisa menjawab pertanyaan Raja ini. Sebab, dia sejatinya tak tahu banyak tentang dirinya sendiri.
Ditambah lagi, mengapa Raja Li Shen terlihat terkejut dengan apa yang Yi Hua nyanyikan?
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
Adios~
__ADS_1