Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Langkah Menuju Bencana Selanjutnya


__ADS_3

Yi Hua menatap kertas kosong yang ada di tangannya berkali-kali. Berharap jika digosok, diraba, atau diterawang akan muncul tulisan di sana. Nyatanya nihil.


Ini seperti mencari uban di tubuh sapi! Aneh tapi nyata.


Belum lagi dengan berita bencana longsor di sekitar makam Keluarga Wei.


Yi Hua menatap pada Wei Wuxie yang duduk dengan tenang. Sedangkan Zhang Yuwen membuka suara. "Wei Wuxie, kau tak berniat menjenguk kuburanmu sendiri? Siapa tahu tertindih tanah karena longsor."


Mungkin Wei Wuxie adalah orang yang punya kuburan, padahal dirinya masih hidup. Zhang Yuwen juga baru mengetahuinya ketika mereka dulu bertemu di makam Keluarga Wei. Saat itu makam milik Wei Wuxie kosong, dan Zhang Yuwen mendadak ingat sesuatu.


Tak ada yang pernah berkata jika mayat Wei Wuxie ditemukan dahulu.


Jadi, selama ini mereka mendoakan apa di dalam makan itu?


"Lebih baik kau mengurus daging kering koleksi-mu saja," balas Wei Wuxie yang memang jarang akur dengan Zhang Yuwen.


"Kau tahu ... Gadis peramal di sana itu sudah mendoakan para mayat bergantung itu! Kau bayangkan, dia melepaskan gantungan mayat koleksi ku," ucap Zhang Yuwen menggebu-gebu sambil melirik malas pada Yi Hua.


Beruntung Zhang Yuwen tidak mencekik gadis peramal ini. Jika saja dia kelepasan, maka dia tak pernah tahu jika gadis Yi Hua ini adalah wujud baru untuk Tuan Putri-nya.


"Kau tidak boleh pergi ke mana pun."


Ucapan dingin Hua Yifeng membuat semua pandangan ke arahnya.


Melihat itu, mendadak Wei Wuxie terbatuk sebentar sebelum berjalan ke arah Zhang Yuwen. Padahal pria itu baru saja ingin ikut-ikutan duduk bersama Liu Xingsheng dan Yi Hua. Akan tetapi, Wei Wuxie dengan sangat lembut menarik kerah pakaiannya. Membuat Zhang Yuwen kembali berdiri.


"Kau mencari masalah ..." Baru saja Zhang Yuwen ingin memaki Wei Wuxie, pria dengan cadar di wajahnya itu memberi tatapan peringatan.


Ya sudahlah. Sejak zaman dahulu kala, Wei Wuxie memang sudah galak seperti nenek sihir.


Lalu, Wei Wuxie menoleh pada Liu Xingsheng yang sejak tadi nyaman berbaring di paha Yi Hua. Ia mengerti jika di kehidupan ini Yi Hua dan Liu Xingsheng adalah teman seusia. Sehingga wajar jika Liu Xingsheng sangat akrab dengan Yi Hua.


"Tuan Liu, ayo berkeliling di sekitar sini," ajak Wei Wuxie dengan nada yang lebih lembut dibandingkan saat berbicara dengan Zhang Yuwen.


Liu Xingsheng ingin menolak, tetapi ia sadar jika Tuan Iblis Kehancuran sedang dalam suasana hati buruk. Ia menganggukkan kepalanya dan bangkit. Mengabaikan tatapan Yi Hua yang memberi isyarat agar Liu Xingsheng tetap di ruangan ini. Meski begitu, Liu Xingsheng tak ingin jadi pengusir nyamuk di ruangan ini!


Akhirnya, Liu Xingsheng mengikuti Wei Wuxie yang keluar sambil menyeret Zhang Yuwen.


"Wei Wuxie ..."


Wei Wuxie berhenti sejenak ketika mendengar panggilan Yi Hua. Ia berhenti tetapi tidak menoleh. Seolah menunggu perintah.


"Periksa makam keluarga Wei," ucap Yi Hua yang dibalas anggukan oleh Wei Wuxie.


Setelah itu, mereka semua keluar dari ruangan. Meninggalkan Yi Hua yang masih duduk di lantai. Dan Hua Yifeng yang tengah menyenderkan tubuhnya di dinding. Sejak tadi mereka berdua masih saling diam.


Aku harus memulainya dengan bicara apa? 'Hey' atau salam penghormatan. Atau aku harus pura-pura hilang ingatan dan mengatakan, 'siapa anda?'


Yi Hua terlarut dalam pemikiran gaibnya. Sehingga ketika Hua Yifeng berjalan ke arahnya, Yi Hua menegakkan tubuhnya tanpa sadar.


***


Karena Zhang Yuwen dan Liu Xingsheng tidak ada kerjaan. Dibanding mereka menunggu momen rumah bergetar, seperti yang dipikirkan otak sialan Zhang Yuwen, lebih baik mereka mengikuti Wei Wuxie ke makam keluarga Wei. Awalnya mereka ingin menggunakan kuda tanpa kepala milik pasukan tentara hantu Wei Wuxie, dan tentu saja Liu Xingsheng menolaknya.


Ide buruk mana yang menunggangi kuda tanpa kepala di Pusat Kota di siang terik seperti ini?


Jadi, Liu Xingsheng mengusulkan untuk menggunakan kereta kuda. Masalahnya adalah mereka tidak punya uang manusia. Liu Xingsheng sudah turun jabatan, sedangkan Wei Wuxie selama ini lebih sering bergaul dengan hantu dan iblis sehingga tak memegang uang manusia. Apalagi Zhang Yuwen yang notabenenya identitasnya sudah pindah ke dunia iblis.


Usulan ini ditolak, ditambah Zhang Yuwen yang mengusulkan mencuri kereta saja.


Akhirnya, mereka memutuskan untuk menggunakan sihir perpindahan. Walau Wei Wuxie manusia, tetapi ia bisa berkultivasi. Sedangkan, Liu Xingsheng tiba bisa dan tidak pernah berlatih tentang itu sama sekali. Akhirnya, Zhang Yuwen meminjamkan kekuatannya dengan cara menepuk dahi Liu Xingsheng kuat-kuat.


Tentu saja ada cara lain, tetapi wajah Liu Xingsheng yang murni dan polos membuat Zhang Yuwen gemas sendiri.


Baiklah.


Itulah serangkaian kejadian hingga mereka sampai di makam kediaman keluarga Wei yang tertimbun tanah.


Tentu saja dengan jubah besar yang mereka gunakan. Mereka tak akan bodoh untuk mengungkapkan identitas mereka. Sehingga mereka sekarang menjadi tiga pejalan kaki yang mendadak diberhentikan oleh prajurit kerajaan.


"Jalan di sini ditutup, Tuan-Tuan," ujar salah seorang prajurit dengan wajah tidak ramah. Bintang satu.


Zhang Yuwen yang mudah meledak-ledak jelas berniat membanting prajurit ini. Akan tetapi, Wei Wuxie segera berucap. "Kamu tidak tahu jika jalannya ditutup. Apakah ada jalan lain untuk melintas di sini?" tanya Wei Wuxie sambil memperhatikan sekelilingnya.


Ada beberapa prajurit yang tengah memeriksa di sekeliling gunung yang longsor. Tumpukkan tanah tampak memenuhi jalan. Walau sebenarnya itu masih bisa dilewati, tetapi prajurit kerajaan sepertinya tengah melakukan pemeriksaan.


"Kalian bisa memutar jalan di ...." Baru saja prajurit itu ingin menjelaskan, mendadak Liu Xingsheng memegang perutnya.


"Aduh ... Kakak sepertinya perut saya semakin sakit," adu Liu Xingsheng pada Zhang Yuwen yang ada di sampingnya.


Siapa yang dipanggil pria cantik ini Kakak? Aku?


Liu Xingsheng segera menyikut pelan lengan Zhang Yuwen. Sehingga mau tak mau Zhang Yuwen membuka suara. "Heh prajurit kerajaan, kau tidak lihat adikku ini sakit perut! Kami ingin lewat di sini, dan apa urusanmu!" bentak Zhang Yuwen.


Hal tersebut tentu membuat keributan baru di sekitar mereka.


"Tuan prajurit, biarkan kami lewat di sini agar perjalanan kami tidak begitu jauh," ucap Wei Wuxie dengan nada yang lebih tenang.


Prajurit itu berpandangan pada rekannya yang lain. Mereka tak bisa membuka jalan yang mereka tutup demi keamanan penduduk. Siapa yang bisa menjamin jika tidak ada hal berbahaya di sekitar tempat ini. Apalagi dengan catatan kejadian, adanya penyerangan mayat berjalan di sekitar tempat ini sebelumnya. Tepatnya di sekitar makam keluarga Wei.


"Ada apa ini?"


Suara itu cukup berenergi dibandingkan suara yang lainnya. Hanya dari suaranya yang karismatik kita sudah tahu bahwa yang berbicara memiliki wajah yang tampan. Liu Xingsheng yang tahu siapa yang datang, segera menundukkan kepalanya.


"Jenderal Wei."


Zhang Yuwen terdiam ketika mendengar sapaan dari para prajurit kerajaan pada pria tinggi yang baru datang itu. Bagaimana pun sebagai orang yang dekat dengan Wei Wuxie, ia mengenal Wei Qionglin. Adik Wei Wuxie.


Sudah berapa tahun berlalu ... Pria kecil ini sudah dewasa.


Rupanya agak sedikit kasar dibandingkan Wei Wuxie yang dingin dan tenang. Wei Qionglin tampak memiliki tinggi yang lebih unggul dibandingkan Wei Wuxie. Meski begitu, wajah mereka berdua cukup mirip. Walau Wei Qionglin tampak lebih tegas dan gagah dibandingkan Wei Wuxie.


Wei Qionglin tidak terlalu dekat dengan Wei Wuxie. Namun Wei Wuxie adalah satu-satunya keluarga dekat yang Wei Qionglin miliki. Sayangnya, Wei Qionglin tak pernah tahu jika Wei Wuxie masih hidup.


"Para pejalan kaki ini ingin melintas di tempat kejadian," jelas prajurit yang berjaga.

__ADS_1


Wei Qionglin menatap ketiga orang ini bergantian. Tak aneh jika prajuritnya curiga, karena wajah ketiga orang ini saja tidak tampak. Ketiganya mengunakan penutup kepala yang memiliki kain tipis berwarna hitam sebagai penutup di sekelilingnya. Belum lagi dengan seorang yang sudah memakai penutup kepala, tapi juga memakai cadar.


"Tempat ini berbahaya. Kalian harus memutar," ucap Wei Qionglin tegas sambil memberi isyarat agar beberapa prajurit mengantar ketiga orang ini ke jalan lain.


Akan tetapi, situasi diperburuk ketika salah seorang prajurit menyentuh bahu Zhang Yuwen. Pria Tirai Berdarah ini sejak awal berdarah panas. Dia mudah meledak-ledak, sehingga ia menangkap tangan prajurit itu dan membantingnya ke tanah.


Hal tersebut membuat Wei Qionglin meraih pedangnya.


STAB!


SRING!


Pedang milik Wei Qionglin di tepis oleh pedang tipis lainnya. Namun setiap pedang yang dimiliki petarung, biasanya memiliki ciri tertentu. Sehingga ketika Wei Qionglin menatap pedang yang menepis pedangnya itu, ia terpaku.


"Pergi," perintah seorang pria di balik cadar hitam itu.


Zhang Yuwen meraih pinggang Liu Xingsheng untuk diajak terbang sejenak. Mereka berlari menuju jalan masuk ke makam keluarga Wei. Di belakangnya Wei Wuxie menyusul setelah membanting pedang Wei Qionglin ke tanah.


SRET!


"Kejar mereka!" perintah Wei Qionglin dengan tergesa-gesa.


Hanya saja ...


Pedang tipis yang menepis pedang miliknya memiliki simbol keluarga Wei di mata permukaannya.


Pedang Wei Qionglin juga memiliki simbol tersebut. Yang jadi pertanyaan, mengapa pria bercadar itu juga punya simbol keluarganya?


"Jenderal Wei, ada aroma aneh!" lapor seorang prajurit yang berjaga di bagian ujung.


Apa lagi ini?


Aroma aneh disertai kabut tebal. Benar. Aroma yang familiar. Ketika serangan di pusat kota, yaitu saat Liu Xingsheng terkena racun bubuk mayat, aroma ini juga ada. Yi Hua adalah orang pertama yang menyadarinya.


SRING!


Ada seseorang di antara kabut ini! Apa ketiga pejalan kaki tadi adalah dalangnya?


Wei Qionglin memerintahkan prajuritnya untuk waspada. Akan tetapi, BRUK!


Beberapa prajurit Wei Qionglin terjatuh dengan luka panjang di punggungnya. Ketika itu, hanya kilat pedang yang bisa Wei Qionglin lihat. Sehingga pria itu menahan mata pedang yang terlihat keji di antara kabut itu.


Wei Qionglin memperhatikan pedang yang menekan pedangnya dengan kuat. Pedang ini berbeda dengan yang dilihat Wei Qionglin sebelumnya. Bukan milik pria dengan cadar hitam itu.


Namun Wei Qionglin tak bisa melihat dengan jelas siapa penyerangnya. Ia berpakaian serba putih dan bertubuh kecil. Lengan kecilnya yang cantik serta tatapan mata yang sekilas terlihat di antara kabut mengingatkan Wei Qionglin tentang pria cantik yang merupakan seorang peramal.


Namun mata cantik itu dihiasi dengan percikan darah di sekitar wajahnya yang putih.


Yi Hua!


***


Yi Hua menghela napas, "Maaf sudah merepotkan Tuan Hua," ucap Yi Hua pelan.


"Kau sudah kembali seperti biasanya pada kedua temanmu, tetapi kau tetap memandangku asing," balas Hua Yifeng yang mendekat pada Yi Hua.


"Tuan Hua Yifeng, Anda ...?"


Hua Yifeng menundukkan tubuhnya untuk menatap lekat pada Yi Hua. Jemari dingin Hua Yifeng mengangkat dagu Yi Hua. Sehingga wajah Yi Hua terangkat dengan posisi yang cukup tak nyaman.


"Kau tidak memiliki keharusan untuk menjadi pahlawan, Yi Hua." Suara Hua Yifeng sarat akan kesakitan di dalamnya.


Seolah kalimat itu menimbulkan rasa sakit ketika ia ucapkan. Rasa familiar yang tidak bisa Yi Hua mengerti. Ia merasa jika seseorang pernah mengatakan hal yang sama padanya dahulu.


Akan tetapi, ia tak bisa mengingat apa-apa.


Hanya saja ... Dahulu memang benar dirinya adalah seorang putri. Ia harus melindungi kerajaannya, begitu juga adiknya. Sekarang ia terlahir kembali sebagai seorang peramal yang tidak ada penting-pentingnya sedikit pun untuk kerajaan. Ia bisa lepas tangan pada persoalan kerajaan.


Akan tetapi, "Raja Li Shen ... Dia adikku. Sekarang ia memiliki musuh yang tak terduga di sekitarnya. Entah siapa itu."


"Yi Hua, apa kau pernah memikirkan dirimu sendiri?"


Yi Hua tak tahu harus menjawab apa. Ia tak pernah merasa ingin menjadi pahlawan. Atau menjadi orang baik yang menyelamatkan banyak orang. Itu semua omong kosong yang tak mungkin Yi Hua lakukan.


Ia tak merasa jika dirinya ingin menyelamatkan dunia ini. Yi Hua hanya ... Tak mau memiliki penyesalan.


"Tapi kau selalu memiliki penyesalan di hidup ini! Kau pikir apa yang kau lakukan itu berguna?" ucapan Hua Yifeng terasa mengejek ketika masuk ke telinga Yi Hua.


SLAP!


Yi Hua menepis tangan Hua Yifeng yang masih menyentuh dagunya.


"Kau menertawakan aku?" tanya Yi Hua. Mendadak hatinya terasa sakit, tetapi itu adalah fakta. Sebanyak apapun Yi Hua berusaha ia selalu kembali pada kenyataan yang sama.


Ia tak bisa melakukan apapun. Semua yang ia cintai hancur. Hidupnya hancur.


"Tidak ada siapapun yang menertawakan dirimu. Tapi seringkali kau harus tahu jika takdir yang terjadi selalu memilikinya alasan."


Yi Hua mendadak bangkit dan membuat kepalanya hampir menyundul dagu Hua Yifeng. Tentu saja Yi Hua sengaja. Agar ia bisa menyakiti Hua Yifeng. Meski begitu, Hua Yifeng dengan gesit menegakkan tubuhnya.


"Kau bicara seolah aku melawan takdir. Apa kau lupa siapa pendosa di sini?" teriak Yi Hua di depan wajah Hua Yifeng.


Hal yang membuat keduanya terpaku karena nyatanya mereka berdua sama. Apalagi dengan fakta jika Hua Yifeng pernah ingin mengubah takdir. Ia berusaha menghidupkan Putri Li Wei dari kematiannya.


Begitu juga dengan dirinya. Ia adalah Bencana Besar yang membuat kerajaan Li hampir hancur.


Yi Hua berniat pergi, tetapi Hua Yifeng menahannya. Sehingga timbul perdebatan di sana.


"Aku bilang lepaskan aku!" teriak Yi Hua ketika tangan Hua Yifeng mencengkeramnya.


Hua Yifeng tetap pada pendiriannya. Ia tak membiarkan Yi Hua terlepas dari tangannya. Dahulu ia membiarkan Li Wei keluar dari kediaman Ling Xiao. Sehingga Li Wei tak pernah kembali, dan saat Hua Yifeng mendatangi ke kerajaan.


Ia melihat Li Wei berbaring di antara ceceran darah.


"Hua Yifeng, lepaskan aku!" ucap Yi Hua sambil berusaha melepaskan pegangan tangan Hua Yifeng yang semakin lama semakin menyakitkan.

__ADS_1


Hua Yifeng mendorong Yi Hua hingga peramal itu menempel ke dinding yang reyot. Akibat itu semua, terdengar bunyi dinding yang seperti siap roboh kapan saja. Yi Hua mengernyitkan dahinya ketika merasa sakit di punggungnya.


"Kau menyakitiku," ucap Yi Hua tak percaya.


Hua Yifeng menatap lekat pada Yi Hua. "Aku tak akan membiarkan kau pergi ke istana kerajaan Li."


"Lalu, aku akan diam di sini seperti pengecut."


Hua Yifeng membantah. "Kau mau melakukan apa! Diam dan melakukan sesuatu sama saja untukmu. Tidak ada yang berubah."


Cukup. Ucapan Hua Yifeng sudah keterlaluan.


STAK!


Mendadak Yi Hua menabrakkan dahinya ke wajah Hua Yifeng. Ia melakukannya dengan keras. Sehingga Hua Yifeng agak termundur. Meski begitu, tangannya masih mencengkeram lengan Yi Hua.


"Apa kau pernah bertanya jika aku mau kau tahan seperti ini? Apa kau pernah bertanya perasaanku?! Apa kau pernah bertanya jika aku terganggu atau tidak saat kau mengikutiku seperti ini?" bentak Yi Hua.


Itu benar.


"Apa aku pernah berkata jika aku membutuhkan kau ada di sisiku?"


DEG!


Ucapan Yi Hua membuat tangan Hua Yifeng melemah. Yi Hua menyadari jika ucapannya terbilang menyakiti Hua Yifeng.


"Kau benar ... Sejak awal semuanya hanya sepihak."


Bukan seperti itu.


Hua Yifeng mendadak tertawa kencang. Ada frustasi dalam suaranya. Tangan Hua Yifeng menutupi matanya sendiri ketika tertawa. Sedangkan, Yi Hua tak bisa mengatakan apa-apa.


"Aku ..."


Hua Yifeng menghela napasnya. "Kau tahu, dahulu kau mengatakan jika aku bisa menggunakan hidupku untuk dirimu. Kau membuat aku memiliki cara untuk menjalani hidup."


Yi Hua tak bisa mengatakan apapun. Ia sangat yakin terjadi sesuatu di antara dirinya dan Hua Yifeng dahulu. Namun ia tak bisa mengingatnya.


"Aku menggunakan hidupku untuk dirimu. Bahkan ... Kemanusiaan ku," jelas Hua Yifeng dengan nada dingin.


Hua Yifeng melawan takdir untuk menghidupkan Li Wei kembali.


"Maaf aku ..." Yi Hua ingin mengatakan bahwa meski dirinya tak ingat, tetapi dirinya ... Mencin ...


"Tidak ... Bukan salahmu. Ini salahku yang tak pernah bertanya apakah kau ingin aku mengorbankan semua ini untukmu." Tatapan Hua Yifeng kini menjadi dingin.


Bukan itu. Seharusnya Yi Hua bisa mengatakan hal yang lebih banyak lagi.


Hua Yifeng mengulurkan tangannya untuk mengusap pipi Yi Hua yang tembam. Yi Hua terlihat lebih berisi dibandingkan pertama kali Hua Yifeng bertemu dengan sosoknya. Di saat ia tahu jika Li Wei terlahir kembali dengan tubuh Yi Hua.


"Maaf karena hanya aku yang bahagia saat kita bersama," bisik Hua Yifeng dengan senyum tipisnya.


Senyum tipis dan tulus yang selalu Hua Yifeng berikan padanya. Tidak cerah dan hangat seperti senyum orang lain pada umumnya. Akan tetapi, ia sadar jika Hua Yifeng saja jarang tersenyum.


"Pergilah. Lakukan apapun yang kau inginkan. Aku akan selalu mendukungmu," ucap Hua Yifeng yang melepaskan tangannya dari pipi Yi Hua.


Yi Hua merasakan sakit di dadanya. Ini tak seperti saat Tungku Iblis bereaksi. Rasa sakitnya tak membunuh fisiknya, tetapi membuat Yi Hua ingin menangis sejadi-jadinya.


"Kenapa?" tanya Yi Hua pelan. Ia tak tahu mengapa itu yang keluar dari bibirnya.


Hua Yifeng perlahan memudar layaknya dandelion tertiup angin. Meski begitu, suara Hua Yifeng masih bisa Yi Hua dengar.


"Mungkin karena dahulu kau mengajarkan aku bagaimana menggunakan hidupku untuk dirimu. Namun kau lupa mengajarkan aku bagaimana cara menggunakan hidupku jika tanpa dirimu."


Yang Yi Hua ingat ialah dia berjalan dengan sedikit terhuyung-huyung untuk menuju Pusat Kota. Bahkan saat prajurit kerajaan menangkapnya dan menyeretnya, Yi Hua tak memberontak. Ia tak tahu apa yang ia pikirkan.


Akan tetapi, ia mulai memikirkan sesuatu di kepalanya.


Terutama Xiao, yang aktif setelah Hua Yifeng pergi, mengatakan jika hari ini matahari lebih redup dari biasanya. Energi buruk mulai terlepas seolah keseimbangan antara dunia manusia dan iblis terganggu. Ketika Yi Hua diseret menuju istana kerajaan, ia melihat sekumpulan gagak hitam yang terbang berkelompok di langit.


Yi Hua mendadak mengingat surat Ling Xiao saat ia berada di istana Putra Mahkota*


^^^*Itu yang Yi Hua berkiriman surat sama Hua Yifeng. Jadi sebenarnya, selain tanya kabar, Ling Xiao juga kasih informasi sama Yi Hua. ^^^


"Jika kau bertanya padaku apakah Hua Yifeng dalangnya, maka aku mengatakan tidak. Bencana Besar berikutnya memang akan muncul, dan dengan lemahnya Hua Yifeng, berarti Pohon Iblis telah memilih 'Tuan'nya," ujar Ling Xiao dalam suratnya.


Dalam catatan penelitian Selir Qian. Ditemukan jika Pohon Iblis tercipta dari kekuatan Pangeran Penduka yang terkumpul dari setiap kelahirannya. Pangeran Penduka terus terlahir kembali dan terus mengalami takdir buruk.


Akhirnya dengan dendam Pangeran Penduka mengumpulkan kekuatannya di setiap kehidupannya. Klan Bao adalah klan pengikut Pangeran Penduka yang terus ada secara turun temurun. Walau kekuatan Pohon Iblis sendiri yang menjadi bencana untuk Klan Bao.


Dan ... Sesuai catatan Pangeran Penduka akan terlahir kembali di kalangan Klan Bao juga.


Hua Yifeng adalah kelahiran berikutnya dari Pangeran Penduka.


Apakah Pohon Iblis benar-benar memilih Tuan yang lain. Apa penyebabnya?


Jika seperti itu apa yang terjadi pada Hua Yifeng?


Hua Yifeng selama ini hidup sebagai Iblis Kehancuran, dan bisa mengendalikan Pohon Iblis. Jika Pohon Iblis memakan Hua Yifeng, maka pria itu akan hancur seperti butiran dandelion.


Jika Pohon Iblis memilih Tuannya yang baru,itu berarti kematian untuk Hua Yifeng.


***


Selamat membaca 😉


Taraaaa ... Kembali dengan ketegangan dan konflik yang tak pernah berakhir.


Jadi, bagaimana? Siapa menurut Anda 'Tuan' Pohon Iblis ini? Siapa Bencana Keenam yang akan membalaskan dendam Pangeran Penduka?


Biarkan itu jadi kebingungan baru untuk kita semua.


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.


Mari bertemu di chapter selanjutnya.

__ADS_1


Adios~


__ADS_2