Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Seorang Penari 1: Datang ke Kota Zhu


__ADS_3

Kota Zhu ...


Kota kecil yang terletak di bagian timur dari Kerajaan Li. Ciri khas dari kota ini adalah kau bisa melihat bambu-bambu yang berjejer di pinggir sungai. Kota ini nyaris seperti bagaian dari aset Kerajaan Li yang masih sangat alami.


Jalan utama untuk memasuki kota Zhu cukup ramai. Walau tak terlalu pengap seperti di Pusat Kota. Setidaknya tempat ini meski di penuhi oleh orang-orang yang beraktivitas, tetapi masih terlihat asri. Terutama saat kau menyaksikan banyaknya tanaman bambu di pinggir sungai.


Bahkan saat Yi Hua melangkahkan kakinya keluar dari kereta, suara air bisa ia dengar. Bahkan jalan besar yang menjadi jalur kereta pun berada di dekat air batuan. Tempat yang sangat menarik ketika ingin menenggelamkan diri saat lelah hidup.


Yi Hua yang memang terobsesi ingin mengejar kematian jelas menyukai tempat beresiko seperti tempat ini. Ia senantiasa harus mencari cara untuk membuat dirinya hampir mati terus-menerus. Semua itu hanya agar tercipta tegangan keras di tubuhnya, dan dia akan mengingat kembali kehidupan sebelumnya.


Bukankah jika dia berlari ke arah air batuan itu, dan terpeleset maka itu bukan dihitung bunuh diri?


Entahlah.


Ia jelas seorang makhluk yang punya motivasi hidup lebih kelam ketimbang orang lain. Yah, tentu saja itu karena dia memiliki pilihan hidup yang lebih sengsara daripada orang lain. Sudahlah! Meski dia mengeluh, nyatanya dia tak bisa mengubah apapun.


"Hey, belum ada informasi yang jelas tentang kasus itu, Yi Hua. Lagipula, Kota Zhu adalah tempat terakhir ditemukannya korban. Bagaimana jika pelakunya berpindah tempat?" tanya Xiao yang seperti biasa memberikan Yi Hua 'aspirasi'.


Yi Hua menghela napasnya saat merasa kepalanya agak panas. Itu semua karena teriknya matahari yang menyakitinya. Bahkan dengan penutup kepalanya saja ia masih kepanasan.


"Jika kita tak mengikuti dari tempat terakhir, bagaimana kita tahu tempat selanjutnya? Aku rasa pelakunya masih ada di Kota Zhu ini. Baru dua hari sejak mayat anak kecil malang itu ditemukan," ucap Yi Hua pelan. Ia jelas tak ingin disebut orang gila karena bicara sendirian.


Lagipula ... Yi Hua punya seseorang yang berguna untuknya mengumpulkan informasi.


" ... Hua."


Di keramaian itu terkadang telinga manusia agak tuli. Sehingga Yi Hua merasa seperti ada yang memanggilnya. Hal itu yang membuat Yi Hua menyibak penutup kepalanya. Akan tetapi, ia tak bisa menemukan siapa yang memanggilnya. Ia melakukannya hingga penutup kepala dari jeraminya nyaris terjatuh.


"Yi Hua."


SRET!


Suara itu agak jelas, dan Yi Hua menolehkan wajahnya. Awalnya ia tersenyum saat seseorang yang dimaksud sudah muncul. Akan tetapi, ia mengingat rencananya sendiri. Sehingga ia membuat wajah terkejut yang dibuat-buat.



"Ah ... Sepertinya Dewa membuat jalan agar kita kebetulan bertemu di sini, Perdana Menteri Huan," sapa Yi Hua pada Huan Ran yang masih dengan wajah datarnya.


Sebelum Yi Hua menoleh ke arah pria yang menatap jengkel ke arahnya. Pria itu tampak membuka kipasnya hanya untuk menutupi wajahnya sendiri. Lebih dari segalanya, pria itu masih menyimpan kekesalan pada Yi Hua.


Sayangnya, dia tak berani untuk mencekik Yi Hua. Hal itu karena temannya itu tak mudah dikalahkan dalam urusan mengelabui. Salah-salah Liu Xingsheng akan rugi sendiri, seperti beberapa hari yang lalu.


Siapa yang menyangka jika Yi Hua melaporkannya pada kakaknya! Itu semua karena Liu Xingsheng ternyata ditugaskan untuk menyusul Huan Ran. Namun Perdana Menteri paling santai itu berpura-pura mengasuh Pangeran Li Quon. Itulah semua alasan dari kekacauan yang dialami Yi Hua.


Bukan tanpa alasan Yi Hua mengetahui itu. Liu Xingsheng sendiri yang menceritakannya pada Yi Hua. Yah, beri Yi Hua selamat karena dia dengan liciknya menjebak Liu Xingsheng dengan kata-katanya.


Kemudian, Yi Hua kembali menceritakan itu pada Selir Qian. Dengan seluruh kerendahan hati kakaknya, Selir Qian langsung menyuruh Liu Xingsheng menyusul Huan Ran yang bertugas di Kota Zhu. Tanpa ada cara agar Liu Xingsheng menolak.


Yi Hua tersenyum manis pada Liu Xingsheng. "Bukankah kita baru bertemu kemarin, Perdana Menteri Liu."


"Itu benar, Yi Hua. Terlalu banyak kebetulan hingga kau juga ada di sini," balas Liu Xingsheng agak sinis.


Liu Xingsheng yang memang berpikir agak lambat baru menyadari rencana Yi Hua. Pasti peramal ini begitu penasaran lagi dengan kasus di Kota Zhu. Sejatinya, Liu Xingsheng merasa Yi Hua berubah dari dirinya yang dulu.


Peramal Yi Hua terkenal dengan omong kosong dan sombongnya. Dia banyak bicara seolah dia tahu semua isi dunia. Akan tetapi, nyatanya peramal Yi hanyalah segelintir orang yang banyak berkomentar tetapi turun tangan saja tidak.

__ADS_1


Namun Yi Hua sekarang terlihat seperti orang yang sangat aktif untuk ikut campur dalam semua hal. Seperti Yi Hua tengah mencari sesuatu. Hal itu membuat Liu Xingsheng berpikir untuk berhati-hati pada Yi Hua. Siapa tahu orang ini ingin menjilat pada orang 'atas'. Agar bisa naik jabatan atau sebagainya.


Yi Hua mengangkat bahunya ketika melihat wajah waspada dari Liu Xingsheng. "Sebenarnya tak banyak kebetulan di dunia ini, Perdana Menteri Liu. Saya hanya orang yang punya banyak waktu luang. Sehingga memutuskan untuk berjalan-jalan. Saya tak tahu jika kedua Perdana Menteri ada di sini."


Yi Hua tak sepenuhnya berbohong tentang itu. Ia memang sengaja membuat Liu Xingsheng berada di Kota Zhu juga agar dia bisa mendapat informasi. Ia tak yakin jika Huan Ran akan sama 'bocor'nya seperti Liu Xingsheng.


Huan Ran menepuk bahu Liu Xingsheng untuk mengajak rekannya itu pergi. "Sepertinya kami tak akan mengganggu Tuan Yi berkeliling."


Hal itu membuat kedua Perdana Menteri itu berjalan menjauhi Yi Hua. Akan tetapi, Yi Hua melangkah dengan cepat untuk mengejar kedua orang itu.


"Apakah kedua Perdana Menteri percaya bahwa kejahatan itu sangat sulit untuk disembunyikan?" tanya Yi Hua dengan nada pelan.


Ia sangat yakin kedua orang itu pasti akan mendengar suaranya dengan jelas.


Liu Xingsheng menghela napasnya. Terkadang ia menyesal jika terlalu dekat dengan Yi Hua. Seharusnya ia tahu betapa liciknya Yi Hua. Yah, walau Yi Hua adalah teman bermain yang menarik.


Jika dengan Yi Hua, Liu Xingsheng bisa berhenti memasang topeng seolah dia adalah orang yang cerdas yang hebat. Namun apa yang mereka selidiki sekarang sama sekali tak berhubungan dengan hal mistis. Mereka tak perlu Yi Hua, atau semua kemampuan cenayangnya.


"Bukankah Anda berjalan-jalan, Tuan Yi?" tanya Huan Ran dengan nada rendah. Seolah dia tak begitu tertarik dengan apa yang Yi Hua katakan.


"Korbannya adalah anak-anak. Awalnya kasus ini hanya disebut sebagai penculikan, karena tak ada dari daftar anak yang diculik itu yang ditemukan mayatnya. Juga, tak ada dari anak-anak itu yang kembali dengan selamat. Namun ini juga jelas bukan perbuatan dari Si Tirai Darah, Zhang Yuwen. Sebab, Zhang Yuwen tidak menyukai daging anak-anak," ucap Yi Hua masih dengan suara kecilnya.


Yi Hua pernah sekali melihat pekerjaan Zhang Yuwen ini. Iblis yang terkenal dengan kerakusannya dan kebengisan. Zhang Yuwen biasanya menggantung orang-orang yang diculiknya terbalik seperti menjemur ikan. Setelah darah dari makanannya kering, Zhang Yuwen baru memakannya.


Dari Xiao, Yi Hua akhirnya tahu jika iblis biasa atau hantu bisa meningkatkan kekuatan dengan memakan manusia. Di Gunung Hua, Yi Hua melihat pasar hantu, dimana mereka menjual manusia di sana. Itu agak kejam, tetapi sejak Yi Hua masuk ke dunia ini, dia seharusnya tak terkejut dengan semua rantai makanan ini.


Akan tetapi, tak pernah ada cerita bahwa anak-anak juga menjadi korban dari Zhang Yuwen. Sehingga Yi Hua bisa mengesampingkan Zhang Yuwen dalam kasus ini. Ditambah lagi ...


"Sampai seorang anak ditemukan di Kota Selatan. Namun anak itu bukanlah salah satu anak yang tercatat dalam daftar hilang. Itu adalah anak yang tak dikenal. Bahkan tak ada yang tahu siapa dia," jelas Yi Hua yang entah darimana dia mendapatkan informasi ini.


"Bukan aku, Kakak Huan! Aku tak mengatakan apapun," ucap Liu Xingsheng ketika menyadari bahwa dia ditatap oleh Huan Ran dengan tajam.


Meski Liu Xingsheng bermulut 'lemas', tetapi dia bahkan baru tahu tentang kasus ini setelah ia datang ke Kota Zhu. Ketika dia datang ke markas, para prajurit menjelaskan itu padanya. Sehingga dia tak mungkin tanpa sengaja mengatakan itu pada Yi Hua.


Beruntung aku punya Xiao yang lebih hebat dari bibi-bibi penggosip!


"Bisakah kau hanya memujiku saja, Yi Hua," keluh Xiao yang tak suka disama-samakan.


Yi Hua malas membalas Xiao. Ia lebih memilih semakin menekan Huan Ran. "Lalu, korbannya menjadi cukup banyak hingga sekarang. Bahkan di Kota Zhu ini juga. Anehnya, setiap korban bukanlah anak-anak yang diculik. Namun kasus hilangnya anak-anak semakin tinggi. Kemana anak yang diculik ini pergi? Dan, darimana mayat-mayat ini bisa datang?" tanya Yi Hua dengan ambigu.


Ini seperti ada dua kasus. Namun korbannya adalah anak-anak.


Huan Ran menghela napasnya. "Anda tak takut jika terlibat terlalu banyak dalam hal ini, Tuan Yi? Bukankah Anda punya tugas untuk menyelamatkan diri Anda sendiri? Yaitu berusaha membunuh Hua Yifeng."


Yah, Yi Hua jelas ingat dengan janji Raja Li Shen itu. Bahwa dia akan sepenuhnya membebaskan Yi Hua dari hukuman mati apabila dia berhasil mengalahkan Hua Yifeng. Namun Yi Hua yakin itu tak akan mudah untuk dilakukan.


Mungkin aku harus menunggu sampai aku mati hingga aku bisa bertarung dengan Hua Yifeng.


Lagipula, Yi Hua tahu jika ini hanyalah rencana Raja Li Shen agar dirinya tak banyak ikut campur lagi. Itu semua karena Yi Hua adalah satu dari sedikit orang yang tahu tentang Tentara Malam. Yah, itu semua karena kebodohan Rong Mingyu yang menculik Yi Hua sebelumnya.


"Saya punya alasan sendiri, Perdana Menteri Huan. Lagipula, saya bisa mengetahui hal yang dialami oleh korban melalui penglihatan spiritual. Apakah Perdana Menteri lupa bahwa saya adalah seorang peramal?" balas Yi Hua cepat.


Walau kemampuan ini kadang tak bekerja, tetapi Yi Hua harus menebar banyak omong kosong. Ia harus mengumpulkan ingatannya dengan membuat bahaya dan celaka dirinya sendiri. Seperti kata Xiao, daripada dia mencelakai dirinya pada hal yang tak berguna, lebih baik dia membantu kerajaan. Ia juga mendapat hal baik dari itu, seperti tambahan uang untuk hidupnya sebagai Yi Hua.


"Jika kerajaan tahu ..."

__ADS_1


Yi Hua merapatkan penutup kepalanya lagi karena angin yang bertiup agak kencang. "Lalu, biarkan kerajaan tak tahu."


Jika kerajaan tak tahu, berarti Yi Hua tak berniat 'menjilat' untuk kenaikan jabatan dan sebagainya. Lalu, apa yang diinginkan orang ini?


Sungguh Huan Ran dan Liu Xingsheng tak pernah mengerti.


"Yah, cukup biarkan saya menginap dan makan secara gratis di Kota Zhu, maka saya akan membantu," ucap Yi Hua dengan santai.


"Coba kau bilang pada mereka untuk memberimu satu peti koin emas. Kau ingin memperbaiki kediamanmu, bukan?" usul Xiao yang agak serakah.


Yi Hua menghela napasnya dan berkata di dalam hati, "Jangan membuat malu. Kau pikir aku semurahan itu untuk memberi jasa. Mana bisa kau memeras orang lain seperti itu. Bukanlah gayaku. Sebisa mungkin aku harus terlihat berwibawa."


Dan, Yi Hua mendengar decihan dari Xiao busuk ini.


Lagipula, jika Yi Hua mendapat kesempatan ini, mungkin saja dia bisa mendapat koneksi untuk rahasia-rahasia kerajaan. Belum lagi Yi Hua mungkin akan mendapat pekerjaan-pekerjaan tambahan jika dekat dengan dua orang penting ini. Setidaknya saku uang Yi Hua tak akan benar-benar melarat.


Belum sempat Huan Ran menyahut lagi, seorang prajurit mendekat ke arah mereka. Prajurit itu berbisik pada Huan Ran, dan Yi Hua berusaha memanjangkan lehernya untuk menguping. Namun Liu Xingsheng dengan sikap menekan dahi Yi Hua dengan ujung kipasnya.


Liu Xingsheng harus berhati-hati dengan si tukang ikut campur ini!


Meski begitu, Yi Hua bisa menduga apa yang prajurit itu katakan. Terutama ketika melihat dari bahu Huan Ran yang menegang tiba-tiba. Jelas bukan berita yang baik datang. Lebih tepatnya itu pasti tentang fakta terbaru dari kasus ini.


"Tuan Yi, sebaiknya tak ada yang tahu tentang identitas Anda," ucap Huan Ran menekankan.


Liu Xingsheng menatap Huan Ran tak percaya. "Tapi Kakak Huan, Yi Hua tak diperintahkan oleh kerajaan dalam kasus ini."


Ditambah lagi Liu Xingsheng tak ingin Yi Hua terlibat. Hal itu karena anak ini cenderung mendapat nasib paling buruk dari orang lain. Seperti dia yang diculik, atau bahkan nyaris celaka di setiap kasusnya.


Huan Ran melirik ke arah sekitar. "Ada satu mayat lagi yang ditemukan di Kota Zhu. Penjahat ini tahu tentang keberadaan kita, tetapi masih melakukan kejahatan. Dia tak takut dengan penyelidikan."


Yi Hua agak ragu untuk ikut campur. Sebab, dia juga belum mendapat pencerahan tentang kasus ini. Akan tetapi, dia ingat bahwa dia hanya mengejar resiko dan bahaya dari kasus ini saja.


Yah, apapun hasilnya nanti Yi Hua pikir itu bukanlah urusannya.


Dia hanyalah orang yang asing, dan masuk dalam tubuh Yi Hua. Kehidupannya yang sekarang bukanlah miliknya. Sehingga ia tak perlu serius tentang hidup Yi Hua ini.


Huan Ran menoleh pada Yi Hua. "Kita memiliki anggota baru yang dikirim dari Pusat Kota. Kita akan memeriksa mayat ini," ucap Huan Ran pada prajurit yang melapor itu.


Yi Hua merapatkan penutup kepalanya ketika mengerti dengan maksud Huan Ran. Ia harus berpura-pura bahwa sebagai utusan kerajaan. Dengan kata lain, Huan Ran setuju dengan rencana kerja sama ini.


Namun dengan catatan Yi Hua harus menyembunyikan identitasnya. Sebab, jika orang lain tahu seorang peramal terlibat, mereka akan mengira ini berhubungan dengan iblis dan sebagainya. Itu akan menimbulkan keresahan, terutama saat orang-orang masih sangat takut akan kehadiran Hua Yifeng.


Walau tak ada yang tahu tentang titik terang dari kasus ini. Sangat membingungkan.


Yi Hua memberi penghormatan seperti layaknya pria pada umumnya. "Saya datang dari Pusat Kota, Perdana Menteri Huan, Perdana Menteri Liu. Nama saya Hua Yi, Asisten dari Selir Qian. Saya bertugas untuk pemeriksaan keadaan mayat."


Liu Xingsheng hanya tahu bahwa Yi Hua tak pandai membuat nama samaran. Ditambah lagi mereka sekarang juga memakai nama Selir Qian. Liu Xingsheng hanya berdoa semoga kakaknya tak begitu kejam dalam memarahinya lagi nanti.


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.


Mari bertemu di chapter selanjutnya.

__ADS_1


Adios~


__ADS_2