
Ya ampun! Ternyata Yi Hua ini memiliki tubuh yang tak tahan banting.
Dirinya berpikir bahwa ia bisa menggendong Li Quon lebih lama. Sayangnya, Yi Hua asli adalah orang yang jarang melatih tubuhnya sendiri. Di usia Yi Hua yang baru menginjak tujuh belas tahun, dia sudah merasa seperti encok. Yi Hua mengeluh saat ia mengalami rasa kram di bagian pinggang dan perut.
Yi Hua pada akhirnya menurunkan Li Quon. Terutama saat mereka sudah mencapai keramaian Pusat Kota. Liu Xingsheng yang berada di depan mereka malah terlihat lebih girang dibandingkan Li Quon. Terutama ketika melihat penjual riasan wajah.
Seketika Yi Hua merasa gagal menjadi seorang gadis. Bahkan dia tak begitu tertarik dengan riasan wajah, tetapi pria seperti Liu Xingsheng yang malah tertarik. Tak aneh jika kau melihat wajah Liu Xingsheng yang licin seperti guci antik. Mungkin jika lalat terbang ke wajah Liu Xingsheng, maka dia akan terpeleset.
Liu Xingsheng memberikan penghormatan untuk Pangeran Li Quon. "Semoga Yang Mulia menyukai keramaian ini."
Namun Li Quon masih datar seperti biasanya. Yi Hua yakin pria kecil ini sudah mengalami kelumpuhan wajah sejak dini. Sehingga dia terlihat cukup dingin untuk anak seusianya.
Dan, Liu Xingsheng melihat tatapan heran dari Yi Hua. Hal itu membuat Liu Xingsheng mulai berbicara tanpa perlu ditanya oleh Yi Hua.
"Aku bertemu dengan Pangeran Li Quon kemarin. Dan, dia terlihat kelelahan ketika membaca buku-buku politik. Yah, kau tahu bukan itu meresahkan. Bahkan aku nyaris gila saat harus mempelajari itu dahulu," jelas Liu Xingsheng dengan nada santai.
Yah, Yi Hua memahami itu.
Bagaimana pun Li Quon adalah Putera Mahkota Kerajaan Li. Itu bukan karena persaingan dan sebagainya, tetapi karena memang Raja hanya memiliki satu anak. Dan, itu adalah Li Quon. Sehingga bagaimana pun bakat dan kemampuan Li Quon, dia adalah pewaris tahta.
Di masa sekarang penentuan pewaris tahta berdasarkan garis darah. Sedangkan dahulu, penentuan pewaris tahta diambil melalui ramalan para Peramal Istana. Melalui sejarah yang cukup panjang, peraturan pun berubah.
Entahlah..
Yi Hua tak begitu perduli dengan gadis tahta di Kerajaan Li. Sepanjang hidupnya sejahtera, dan misinya selesai, maka dia akan baik-baik saja.
Dan, karena itu kini Li Quon memiliki dua orang yang berjalan bersamanya. Mereka berjalan berdampingan, tetapi dengan penampilan berbeda. Yi Hua bahkan sadar bahwa penampilannya yang paling berantakan. Ia bahkan mengikat rambutnya dengan asal-asalan.
Lalu, ada Liu Xingsheng yang tampak seperti ibu-ibu yang tengah berbelanja. Ditambah lagi dengan kipas yang selalu ia bawa. Namun penampilan Liu Xingsheng terlihat luar biasa, apalagi dengan wajahnya yang menarik.
Di antara mereka berdua ada makhluk kecil dengan jubah kebesaran. Sengaja untuk menutupi penampilan 'istimewa' dari seorang Pangeran. Bagaimana pun Pangeran Li Quon adalah aset kerajaan yang tak boleh lecet.
Melihat situasi itu, Xiao jelas hanya bisa berkomentar pedas.
"Seharusnya kalian membawa satu orang yang beres otaknya." Xiao jelas diciptakan untuk menyindir. Jelas sekali itu karena Xiao cukup sangsi jika Liu Xingsheng dan dirinya tak akan membuat masalah.
Kau tahu saja jika mereka berdua adalah dua orang yang dicintai oleh kesialan.
Yi Hua menunduk untuk menatap Li Quon yang masih diam. "Apakah ada yang diinginkan oleh Yang Mulia?" tanyanya pada Li Quon.
Namun bukan Li Quon yang menjawab, tetapi Liu Xingsheng. Dia menepuk bahu Yi Hua dengan bangga. "Kau yang membayar, bukan?"
Hey, bukankah dia sudah tahu betapa melaratnya diriku?
Karena malas meladeni Liu Xingsheng, Yi Hua menarik tangan Li Quon menuju ke arah penjual mainan. Itu berada di seberang jalan, sehingga Yi Hua harus memastikan Li Quon tak menghilang di telan arus keramaian di Pusat Kota. Kali ini Li Quon mengikuti begitu saja, tapi masih tanpa ekspresi.
SRET!
"Apakah Yang Mulia ... Maksudku, apakah kau ingin mainan ini?" tanya Yi Hua yang memperbaiki kalimatnya.
Bagaimana pun mereka sedang membawa seorang Pangeran. Itu adalah berita yang besar, dan Yi Hua yakin akan muncul keributan karena itu. Oleh karena itu, ia harus sebisa mungkin terlihat seperti orang biasa.
Li Quon terlihat menatap beragam mainan di depannya dengan wajah datar. Mainan yang dijual dibuat dengan kayu, bambu, dan juga kertas. Kemudian, dibentuk seperti binatang-binatang lucu. Ada juga mainan dengan bentuk seperti bunga.
Yi Hua menarik sebuah mainan yang berbentuk seperti bunga. "Ini bisa ditaruh di ruangan." Yi Hua berusaha untuk memberi pendapatnya.
Penjualnya yang tahu bahwa ada sumber uang di dekatnya langsung berkata dengan aktif. "Mainannya sangat murah. Jika membeli banyak saya akan memberikan hadiah gratis."
"Jangan percaya, Yi Hua. Biasanya ada hal menjebak di balik iming-iming hadiah gratis itu. Strategi penjualan." Xiao mengeluarkan pendapatnya.
__ADS_1
Akan tetapi, bicara dengan Li Quon sama seperti bicara dengan batu. Ditambah lagi Liu Xingsheng sama sekali tak membantu. Sebab, saat Yi Hua menoleh untuk mencari Liu Xingsheng, orang itu sudah tak ada di sekitar mereka.
Padahal Liu Xingsheng yang membawa batu kecil ini padaku! Lalu, dia meninggalkan aku untuk menghibur Pangeran kecil ini?
Yi Hua jelas semakin geram ingin menendang kepala Liu Xingsheng. Pantas saja Selir Qian sering geram dengan adiknya sendiri. Masalah yang lebih penting dari segalanya adalah Yi Hua tak punya uang untuk membayar mainan ini. Jika seperti ini, Yi Hua tak akan jadi membelikan Li Quon ini mainan.
Dia bahkan tak sempat mengambil kantong uangnya karena Liu Xingsheng juga. Yah, walau uangnya tak seberapa, tetapi dia setidaknya punya uang. Tak seperti sekarang, yang bahkan berganti baju saja tak sempat.
SRET!
Yi Hua langsung menarik tangan Li Quon yang baru saja ingin meraih mainannya. "Sepertinya mainan ini kurang bagus."
Wajah Li Quon cemberut.
Mau tak mau Yi Hua mencubit pipi Li Quon sambil tertawa. "Coba lihat, katanya di bagian sana ada sapi yang bisa terbang. Itu lebih menarik." Yi Hua menunjuk ke sembarang arah.
Namun anak-anak tetaplah anak-anak. Tubuh Li Quon tetap lekat untuk menghadap mainan itu. Sehingga Yi Hua mau tak mau memutar tubuh Li Quon ke arah yang berbeda. Lalu, menarik pria kecil itu untuk mengikutinya.
Lebih utama sekarang ialah dia mencari Liu Xingsheng. Mereka berdua menerobos keramaian lagi dengan tenang. Tangan Yi Hua jelas tak melepaskan Li Quon, karena takut bocah itu menghilang.
BUK!
Yi Hua terkejut ketika merasa pukulan kecil di kakinya. Itu membuat Yi Hua memutar matanya jengah. "Hey, aku mana tahu apa yang kau inginkan jika kau tak mengatakannya. Kau harus bicara."
Li Quon cemberut lagi. Yi Hua menghela napas saat ia melanggar hal yang seharusnya tak ia lakukan.
Apapun traumatis yang mengenai Li Quon itu bukanlah urusan Yi Hua. Ia tak punya kewajiban untuk menyembuhkan itu. Dia jelas bukan orang yang begitu baik, hingga punya ketulusan hati yang seperti itu.
"Xiao, apa dia memang punya keterbatasan?" tanya Yi Hua pada Xiao di dalam hati.
Xiao menghela napasnya. "Katanya, itu bukan urusanmu."
Lagi-lagi Yi Hua berbicara di dalam hati. "Wajah kecil yang cemberut itu menyebalkan."
Yi Hua kemudian melihat ke arah sungai yang sama ramainya. Banyak perahu-perahu yang mengapung di sungai yang tenang. Beberapa pedagang tampak menjajakkan dagangannya. Bahkan Yi Hua bisa melihat seorang gadis menjual buah di atas perahu.
"Kau ingin ke sana?"
Belum sempat Li Quon menoleh ke arah yang Yi Hua maksud, dengan cepat Yi Hua merenggut tubuh kecil Li Quon. Mencegah anak itu untuk memberontak.
Setelah itu, dengan lincah melompat ke arah perahu kecil yang tak memiliki penghuninya. Tanpa perduli lagi tentang pinjam atau membayar, Yi Hua memotong tali pengikat dengan pisau kecilnya. Ia biasanya mengikatnya di pergelangan kaki.
Yah, semenjak Yi Hua punya kesialan di atas rata-rata ia senantiasa harus siaga untuk menjaga kepalanya.
"Hey, itu perahuku."
Yi Hua meletakkan Li Quon di permukaan perahu sambil melambaikan tangan pada Paman yang menunjuk ke arahnya. "Minta pada Pengawal Kerajaan bernama An untuk bayarannya."
"Kau tahu cara menggunakan pria dengan baik, Yi Hua," sindir Xiao pada Yi Hua.
Yi Hua tersenyum tipis. "Setidaknya aku tahu Tuan An pasti tak akan miskin hanya karena membayar sewa perahu."
Lalu, Yi Hua mendorong bambu panjang ke dalam air untuk membawa Li Quon mengarungi sungai yang ramai. Beruntung Li Quon adalah anak yang tenang, sehingga ia tak takut jika anak ini akan melompat ke dalam sungai.
Setelah yakin mereka agak jauh dari pinggir sungai, Yi Hua membiarkan perahu mereka hanyut pelan mengikuti arus. Sungai itu cukup tenang, sehingga mereka tak takut hanyut begitu jauh. Apalagi ada banyak tumbuhan teratai yang bisa menghentikan perahu mereka.
Yi Hua mendekat ke arah Li Quon yang tengah menatap helai teratai. "Bukankah mereka indah?" tunjuk Yi Hua pada hamparan daun teratai yang lebar.
__ADS_1
Meski Li Quon tak mengatakan apa-apa, tetapi anak kecil ini jelas menatap hamparan teratai di hadapannya dengan takjub. Li Quon mungkin baru pertama kalinya melihat pemandangan yang seperti ini. Yah, sebenarnya Yi Hua juga baru mengingat tentang keindahan ini.
Setidaknya ia mungkin punya kehidupan yang familiar dengan masa sekarang. Ia mungkin adalah seseorang yang juga lahir di era yang tak jauh dari sekarang. Sebab, kehidupan di sekitarnya terkadang terasa familiar.
Keduanya terdiam beberapa saat, sebelum Yi Hua melihat sesuatu yang menarik di perhatiannya.
Lalu, peramal itu melompat ke dalam sungai. Hal itu membuat Xiao yang bersama Yi Hua terkejut. "Apa yang kau lakukan, Yi Hua? Apa kau tahu hamparan teratai seperti ini pasti punya pemiliknya?"
Di bagian Yi Hua melompat air tak begitu dalam. Hanya setinggi lututnya saja, dan Yi Hua bisa merasakan akar teratai yang sempat ia pijak. "Aku belum mandi, Xiao. Sehingga bukankah ini cara mandi yang gratis?" canda Yi Hua pada Xiao.
"Aku tak ingin kenal orang yang sepertimu," sindir Xiao yang jengah dengan tingkah Yi Hua.
Yi Hua tampak menghilang di antara hamparan daun teratai yang lebar. Sekarang belum musim panen, sehingga teratai belum memiliki biji. Akan tetapi, Yi Hua sempat melihat biji yang sempat menua. Mungkin tumbuhan teratai ini adalah biji pertama sebelum yang lain menyusul.
Mengingat wajah tertarik Li Quon, Yi Hua ingin anak itu melihat biji teratai langsung dari batangnya. Yi Hua yakin Li Quon tak pernah melihatnya selama terkurung dalam istana. Percayalah, masa kecil itu berharga karena pengalamannya. Itu adalah masa yang tak akan terulang kembali saat kau dewasa. Yi Hua merasa Li Quon perlu pengalaman itu.
TEK!
Yi Hua memetik tangkai teratai setelah meminta izin dari bunga teratai. Setidaknya Yi Hua bilang, bukan?
Namun ...
" ... Hua ..."
Eh?
Yi Hua mengusap pipinya yang agak gatal. Mungkin lumpur dan debu yang menempel di daun telah membuat wajahnya gatal. Hal itu membuat Yi Hua jauh lebih berantakan dari sebelumnya.
" ... Hua ... Yi Hua ..."
Siapa yang memanggilnya?
Suara kecil itu tampak terburu-buru, sehingga Yi Hua segera keluar dari hamparan daun teratai. Saat itulah ia melihat Li Quon melompat dari perahu.
Hey, aset kerajaan ini tingginya hanya sepinggang Yi Hua!
Apalagi dengan akar teratai yang licin, Li Quon mungkin akan kesusahan di dalam air. Ada apa gerangan hingga anak itu melompat ke dalam sungai?
Belum lagi anak kecil itu memanggilnya. Eh?
Memanggilnya? Anak ini khawatir padanya.
"Pangeran! Aku tidak tenggelam."
BYUR!
Belum sempat suara Yi Hua sampai, anak itu sudah melompat ke sungai. Dan, langsung tak terlihat di permukaan.
Yi Hua jelas dalam masalah sekarang!
***
Selamat membaca.
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
Adios~
__ADS_1