Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Putri Hitam 11: Jejak Kehancuran


__ADS_3

SYUT!


Li Wei nyaris terjengkang ketika kuda mulai berjalan kesulitan. Hal itu yang membuat Li Wei teringat jika ia berada di kuda. Sedari tadi karena tak berbicara Li Wei menjadi mengantuk. Ia tanpa sadar tertidur begitu saja dengan bersandar di lengan Hua.


Lebih dari segalanya pria itu juga ternyata cukup baik untuk membiarkan kepala Li Wei yang terhuyung-huyung di lengannya. Perjalanan tak memakan waktu panjang, dan Li Wei sempat-sempatnya tertidur.


Sudah di mana ini? Aku di mana?


Li Wei mengangkat dagunya yang ternyata menyangkut di lengan atas Hua. Beruntung selama perjalanan kepalanya tak lengser dari bahu Hua ini. Jika tidak, maka Li Wei akan terguling di jalan sejak ia mulai tertidur.


"Maaf Tuan Hua, kita sudah sampai di mana?" tanya Li Wei sambil mengusap wajahnya beberapa kali.


Hua melirik sekilas pada Li Wei, "Hampir sampai."


Gadis itu menganggukkan kepalanya dan berusaha menegakkan tubuhnya. Melihat dari jalan yang rusak ini harusnya Li Wei sudah tahu. Gunung di sebelah Li Wei terlihat seperti longsor separuh akibat terjangan air hujan. Sehingga jalan untuk dilalui benar-benar lengket oleh lumpur. Jika kaki kuda tergelincir, maka mereka tak punya pilihan selain berjalan kaki.


Oleh karena itu, Hua hanya mengatur agar kuda berjalan pelan. Itulah yang membuat Li Wei kembali kehilangan kata-kata. Ia ingin berbincang, tetapi Hua bukanlah lawan bicara yang baik. Bahkan bicara dengan sapi lebih baik ketimbang dari Hua. Setidaknya sapi tak akan menatap dirinya dengan datar seolah dirinya pengganggu.


Akan tetapi, jika tak bicara, maka Li Wei merasa sangat gerah. Nyaris ia menggaruk kepala kuda karena kurang kerjaan. Li Wei mengamati sekitar, pada daerah yang benar-benar rusak parah. Banjir besar beserta hempasan ombak yang keras meluluh-lantakkan setengah dari wilayah Pusat Kota.


Mereka sedang menuju ke arah pengungsian, dan rumah-rumah di sana sudah menjadi tumpukan begitu saja. Beberapa prajurit kerajaan terlihat secara berkelompok untuk memeriksa timbunan. Hanya untuk memastikan bahwa tidak ada korban nyawa yang tertimbun di sana.


"Bagaimana dengan jumlah korban?" tanya Li Wei sambil mengamati sekitarnya.


Rasanya tak percaya jika Pusat Kota yang biasanya Li Wei lihat di balik kereta setiap kali ia berjalan-jalan akan terlihat seperti kota mati.


Hua menjawabnya dengan suara yang datar seperti biasanya. Suaranya terdengar di atas kepala Li Wei, "Terus bertambah."


Tentu saja.


Siapa yang bisa menahan nyawa manusia untuk mati?


Terutama jika suatu tanah sudah terkena bencana. Seandainya, ... Seandainya saja ... Li Jun tidak memerintahkan untuk membangun dinding penahan banjir, maka banjir ini akan datang seperti layaknya banjir. Bukan karena desakan air akibat terlalu ditahan. Sehingga serpihan bebatuan yang menjadi dinding penahan banjir juga ikut menghujani tubuh penduduk.


Yah, seandainya ...


Walau metode Li Wei juga memiliki resiko yang tak bisa diduga oleh manusia.


"Apakah memang tak ada cara untuk menyelamatkan Pusat Kota? Maksud saya adalah ... Seandainya ada cara untuk mencegah," ucap Li Wei yang entah mengapa tak bisa melupakan kehancuran tanah kelahirannya ini akibat bencana.


Hua ... Yah, Hua Yifeng menjawab dengan tenang. "Jika kau menyalahkan Pangeran Pertama, maka itu kurang tepat. Sejak awal pemukiman yang tinggal di dekat laut selalu memiliki resiko."


Sejak kapan Hua Yifeng sejalan dengan kakaknya itu?


"Dengan kata lain ... Kematian banyak orang ini memang tak bisa dihindari?" tanya Li Wei pilu.


"Berpikir naif tak akan mengubah, Li Wei."


Sejatinya ... Air terus mengalir, angin terus berhembus, dan daun yang jatuh akan tetap jatuh. Hidup terus berjalan. Hancur pun tak ada yang bisa menghentikan kehidupan. Matinya seseorang pun tak berarti dunia akan berhenti berganti siang dan malam.


Maka dari itu, yang hidup hanya bisa terus menata hidup.


Kejam tetapi dunia punya cara sendiri.


"Tuan Hua Yifeng ... Apa itu yang Anda selalu lakukan untuk menjalani hidup?" tanya Li Wei.


Dan, gadis itu menyadari jika Hua Yifeng tak menjawabnya. Li Wei juga tak merasa memerlukan jawaban atas pertanyaannya.


CRING!


Kuda melompat pelan, dan Li Wei baru menyadari jika ia mendengar suara denting perak. Hal itu yang membuat Li Wei mengalihkan pandangannya pada pinggang Hua Yifeng. Di sana terikat dengan rapi pedang dengan sarung peraknya.


Namun yang mencolok adalah hiasan berwarna merah yang terikat di ganggang pedang. Bahkan hiasan itu ditempa dengan besi yang baik agar terus terikat dengan ganggang pedang. Li Wei merasa jika perpaduan antara hiasan permata merah dengan pedang perak kurang tepat.


Bagaimana pun kesan Hua juga tak ada manis-manisnya, sehingga hiasan warna merah ini terlalu 'gadis' untuk Hua gunakan. Belum lagi dengan rantai perak yang mengikat permata itu. Li Wei tak melihat itu tepat untuk dijadikan senjata yang terlihat 'menakjubkan' ini.


"Hiasan ini ... Bukankah biasanya digunakan oleh seorang gadis?" tanya Li Wei yang familiar dengan benda itu.


Seingatnya ia juga punya yang seperti itu. Tapi hilang entah kemana. Namun itu tak aneh bagi Li Wei, karena dia memang sering kehilangan barang. Itulah kenapa dia jarang membawa uang atau emas bersamanya, takut dia tak bisa tidur karena menghilangkan uang.


"Aku menyimpannya untuk mengingat seseorang," ucap Hua Yifeng apa adanya.


Li Wei merasa agak terganggu tentang 'seseorang' ini, "Siapa? Mengapa harus menyimpan hiasannya? Jika tak salah tebak, maka itu adalah hiasan rambut seorang gadis. Saya juga pernah memiliki yang sama persis, tapi hilang entah di mana," ucap Li Wei dengan satu tarikan napas.


Hua Yifeng tak tahu bagaimana ketahanan suara Li Wei. Bagaimana bisa gadis tak tahu diam ini bicara cepat seperti itu tanpa sesak napas? Unik sekali. Bakat yang tak bisa Hua Yifeng lakukan.


"Seorang Tuan Putri kecil," jawab Hua Yifeng.


Li Wei menyadari jika Hua Yifeng ini cenderung jarang berbohong saat bicara. Pria ini akan mengatakan secara lugas apa yang ditanyakan. Dengan syarat ... Bertanya. Jika tak diajak bicara, maka kau hanya bisa berpandangan dengan pria jelmaan batu sungai ini.


Tapi, ...


Seingat Li Wei, Hua Yifeng ini sangat jarang berdekatan dengan seorang gadis. Lalu, Tuan Putri kecil ini darimana munculnya hingga membuat Hua Yifeng ini menyimpan hiasan rambut miliknya? Li Wei mendadak ingin bertanya lagi.


Lagipula, Tuan Putri ini pasti merujuk pada seorang anak gadis dari seorang Raja. Jika anak bangsawan, maka Hua Yifeng pasti menyebutnya dengan sebutan Nona Muda atau Gadis Muda jika dari kalangan biasa. Hanya saja, Tuan Putri di Kerajaan ini hanya Li Wei semata biji.


Jangan ... Jangan ...


"Apa Tuan Putri kerajaan luar?" tanya Li Wei dengan cepat.


Untuk pertama kalinya wajah Hua Yifeng agak berubah. Pria itu agak terkejut dengan ucapan Li Wei. Nyaris saja pria itu ingin memukul kepala Li Wei karena sebal. Akan tetapi, Hua Yifeng memang memiliki ketahanan sikap yang lebih tinggi dari orang lain. Dengan mudahnya ekspresi Hua Yifeng berubah.


"Apa karena itu Anda menjadi seorang Pejabat Kerajaan? Agar Anda bisa meminang seorang Putri Kerajaan lain?" tanya Li Wei histeris. Ia sendiri tak tahu mengapa dia begitu penasaran tentang hal ini.

__ADS_1


Akan tetapi, sistem di masa mereka, seorang yang tak punya tingkatan dalam status sosial tak akan bisa menikahi seorang gadis dari keluarga bangsawan, apalagi seorang anak Raja. Lain halnya jika ada perjanjian atau sayembara yang menjadikan seorang Pangeran atau Putri sebagai hadiah. Sekarang semuanya sudah jelas ... Itulah mengapa Hua Yifeng rela memberi penghormatan pada Li Jun. Hanya agar dirinya tak tersingkir dalam strata sosial.


Bukan karena Hua Yifeng menjatuhkan kehormatannya, tetapi berdamai dengan keadaan.


"Menurutmu begitu?" tanya Hua Yifeng yang tak bisa Li Wei lihat ekspresinya.


Li Wei tak bisa menjawab apa-apa.


DUG!


Hua Yifeng memberi hukuman kecil pada Li Wei, yaitu dengan membentur dahinya pada belakang kepala Li Wei. Tentu saja itu bukanlah benturan yang menyakitkan. Oleh karena itu, Li Wei tak protes apapun, dan lagipula dia tak aneh lagi jika Hua iseng padanya.


Pria ini memang seringkali mengusilinya. Biarkan saja.


"Aku tentu saja tak perlu semua jabatan ini. Meski aku memiliki perasaan kepada sebuah bunga, tetapi dunia punya aturan sendiri. Jika kau menginginkan sebuah bunga, jelas harus menjadi seseorang yang setara untuknya," ucap Hua Yifeng sambil meletakkan dagunya di pucuk kepala Li Wei.


Bunga?


Entah mengapa jiwa sastra dan kesenian Li Wei menumpul.


"Jika aku perlu menjadi tanah, maka itu lebih baik," ucap Hua Yifeng pelan.


"Mengapa?" tanya Li Wei tak mengerti. Ia selalu bertanya-tanya tentang jiwa sastra Hua Yifeng ini. Karena merasa kepala Hua Yifeng agak berat, Li Wei menjadi menundukkan kepalanya sedikit.


Hanya saja ... Pria ini sangat pandai membuat perandaian dengan bahasa yang sulit dipahami.


"Jika menjadi tanah, aku bisa terus subur agar bunga itu tetap indah. Jika dia terjatuh, maka dapat disambut. Jika harus menjadi pijakannya untuk terus indah, maka itu lebih baik," ucap Hua Yifeng dengan cepat. Seolah pria ini tak memikirkan lagi apa yang ia katakan.


Entah pria ini serius atau tidak.


"Katanya Anda ingin setara, tanah dan bunga itu tak setara," jelas Li Wei yang agak kurang setuju.


"Aku ingin dia menyadari bahwa meski jatuh sekalipun, ia tak akan sendirian."


Gadis yang beruntung. Mendadak Li Wei bertanya-tanya siapa gadis ini. Dicintai sebesar itu, siapa yang tak akan bahagia?


Tanpa terasa kuda mereka sudah berhenti. Sebenarnya mereka tak bisa masuk ke pengungsian dengan berkuda. Hal itu karena jalan yang terjal dan rusak parah. Itulah mengapa Hua Yifeng berhenti di hutan yang penuh dengan pepohonan tumbang.


Gadis itu, Li Wei mendongakkan kepalanya, sehingga ia bisa melihat hidung Hua Yifeng yang mancung. "Apakah Putri ini tak tahu perasaan Anda?"


"Entahlah," ucap Hua Yifeng sambil mendorong kepala Li Wei untuk tegak kembali.


Kemudian, pria itu turun dengan cepat. Ia mengambil tas kain yang berisi peralatan. Entah apa yang dibawa oleh Hua Yifeng. Sedangkan, Li Wei berusaha untuk turun dari kuda itu dan menyusul Hua Yifeng yang sudah berjalan terlebih dahulu.


"Hey, Tuan Hua. Kita belum selesai," ucap Li Wei yang masih menuntut penjelasan lagi.


Namun Hua Yifeng berjalan tanpa menoleh lagi. Meski Li Wei sudah mengikutinya dari belakang. Li Wei berjalan dengan sedikit ricuh, apalagi karena lumpur yang menempel di sepatunya. Terkadang ia merasa ingin menjadi hewan melata dan menyusuri lumpur dengan senyum menyala.


Sayangnya, ia hanya bisa berjalan pelan untuk masuk ke pengungsian.


***


Selama dua hari itu juga Li Wei terus berada untuk membantu pengungsi. Dalam hidup Li Wei ini, ia belum pernah melihat kematian manusia begitu dekat padanya. Hanya dalam dua hari orang-orang yang sempat Li Wei lihat keberadaannya telah menyerah pada rasa sakit. Akibat luka parah yang besar, mereka tutup usia.


Tak tentu usianya. Tua, muda, anak-anak, maupun pria dan seorang gadis sekalipun. Apa ini yang dimaksud oleh Li Jun jika selama ini Li Wei tak banyak tahu tentang kenyataan?


Ia tak pernah melihat kegentingan ini datang ke hidupnya. Sebab, ia selalu terlindung di balik tiang-tiang kerajaannya yang kokoh. Namun teh dalam mangkuk dengan mudah tersenggol. Airnya bisa jatuh tercecer. Ada yang mengering begitu saja. Ada juga yang jatuh ke tanah, dan memberi air untuk tanahnya.


Semuanya berubah dengan sangat cepat.


"Putri, istirahatlah. Kami akan mengawasi penduduk yang terluka," ucap seorang prajurit ketika melihat tatapan hampa Li Wei.


Terutama saat seorang tabib menutup sesosok tubuh yang sudah mendingin. Li Wei sempat melihat luka-luka besar di tangannya. Seingat Li Wei itu adalah seorang pria muda yang sempat membantu prajurit untuk mencari korban yang hilang. Siapa sangka pria ini dengan mudah tutup usia.


Li Wei memberi sebuah senyum tipis. Pertanda bahwa ia baik-baik saja. Lagipula, ia tak membantu apa-apa di tempat ini. Ia hanya membantu beberapa tabib untuk merebus obat herbal. Padahal sejatinya Li Wei tak pernah berurusan dengan masalah masak-memasak.


Akan tetapi, dirinya malah menyediakan obat herbal yang tentu saja diajarkan oleh tabib istana. Belum lagi Li Chen, kakaknya, sering bergelut dalam masalah tanaman herbal. Li Wei sering menemui Li Chen di Istana Pengobatan. Sehingga Li Wei sedikit familiar dengan aroma herbal. Walau tak ahli dengan cepat seperti satu kali tepuk tangan.


*Ingat kan kalau Li Wei tuh gak bisa masak. Inilah mengapa Yi Hua (yang sebenarnya dipinjam tubuhnya sama Li Wei) di salah satu bab malah buatnya bubur campur tanaman herbal. Bukan karena dia sok-sok sehat, tapi karena dia cuma pernah masak tanaman herbal. Selebihnya dia cuma eksperimen. Inilah kejadiannya mengapa Li Wei tuh tahu tentang obat-obatan herbal.


Para prajurit tak bisa melarang Li Wei yang sibuk mondar-mandir. Gadis kecil kesayangan ibu bapaknya ini terbiasa mendapatkan apapun yang diinginkannya. Sehingga jika pun pada prajurit ini melarangnya, Li Wei tetap akan pada jalannya.


Entah ini adalah sesuatu yang baik atau buruk.


Baru saja Li Wei ingin mengambil sendok kayu untuk mengaduk rebusan obatnya, pandangannya mendadak buram. Hampir saja Li Wei tersembab ke tungku api yang ada di depannya. Beruntung Li Wei sedikit gesit untuk mengarahkan kejatuhannya. Ia memilih memberatkan diri ke belakang, hingga terduduk di tanah kering.


Karena perumahan rusak parah, mereka hanya bisa membangun tenda perawatan. Sehingga tanah adalah lantai mereka, dan Li Wei entah mengapa tak mempermasalahkan itu.


"Putri."


Seorang gadis tabib mendekat ke arah Li Wei untuk membantunya berdiri. Putri ini baru saja datang kemarin siang. Lalu, tanpa istirahat yang cukup Li Wei fokus pada pekerjaannya. Sehingga Li Wei harus istirahat. Masalahnya bukan hanya untuk Li Wei.


Jika Putri tidak istirahat, bagaimana mereka yang hanya prajurit dan tabib rendahan bisa istirahat?


Akan tetapi, Li Wei masih kukuh untuk mendekat hingga Hua Yifeng mendekat. Baru kali ini mereka sangat bersyukur untuk kedatangan pria ini. Setidaknya ada satu orang yang berani melawan kemauan Li Wei di sini.


"Pejamkan matamu," perintah Hua Yifeng dengan nada tenang.


Awalnya Li Wei tak mau menuruti. Akan tetapi, tangan Hua Yifeng terarah untuk menutup mata Li Wei paksa. Dan, karena tak mau dipaksa, Li Wei menutup matanya dengan suka rela.


"Pada ketukan ketiga kau akan tertidur," ucap Hua Yifeng sambil memberi tepukan kedua tangan untuk yang pertama.


PLOK!

__ADS_1


Li Wei mengerutkan keningnya tak mengerti. Namun setelah tepukan kedua, Hua Yifeng mengarahkan tangannya ke bahu Li Wei.


PLOK!


Hal tersebut membuat Li Wei memberontak. Hingga Hua Yifeng menyebut tentang tepukan terakhir.


BRUK!


Para prajurit terkejut ketika Li Wei terjatuh seperti tak sadarkan diri. Mereka menjadi waspada karena berpikir jika Hua Yifeng telah menyakiti Putri Li Wei. Akan tetapi, Hua Yifeng menampilkan wajah tak perduli.


Ia hanya menggendong Li Wei seperti membawa sapi di dada. Hua Yifeng hanya menekan titik tidur Li Wei. Dan, Li Wei yang kelelahan tentu saja mudah tertidur.


SRET!


Hua Yifeng berjalan keluar dari tenda pengobatan. Tak lama ia masuk ke tenda kosong yang sedikit luas dibanding tenda lainnya. Tentu saja itu disiapkan untuk Li Wei. Walau Li Wei belum masuk ke tenda itu sejak kemarin.


Pria itu segera meletakkan Li Wei berbaring di kasur dengan tiang kayu. Luasnya hanya bisa menampung satu orang. Setelah meletakkan Li Wei di sana, Hua Yifeng duduk di sampingnya Li wei tertidur.


Hua Yifeng baru kali ini mencium aroma Li Wei yang dipenuhi oleh bau arang dan juga tanaman herbal. Biasanya Li Wei akan tercium seperti kelopak mawar yang bertebaran. Dan, Hua Yifeng hanya duduk diam untuk mengamati Li Wei beberapa saat.


"Tidurlah," bisik Hua Yifeng pelan.


***


"Tidaaaakkkk!!!!"


BRAK!


Li terbangun karena keributan di sekitarnya. Itulah mengapa ia segera terjaga dengan kepala yang agak pusing. Dengan secepat yang Li Wei bisa dirinya bangkit dan berjalan keluar tenda.


Mengapa muncul keributan seperti sedang menabrak dinding?


Seingatnya, keadaan di sekitar mereka memanglah ramai. Namun bukan keramaian seperti orang yang baku hantam seperti yang ia dengar sebelumnya. Itulah yang membuat Li Wei berjalan lebih cepat untuk membuka tenda pribadinya.


SRET!


"Ada apa?" tanya Li Wei pada dua orang prajurit yang berjaga di depan tendanya.


Belum sempat untuk mendengar penjelasan apa-apa, Li Wei melihat Hua Yifeng berada di tengah kerumunan. Suara teriakan seseorang terdengar, dan Hua Yifeng memukul keras dengan menggunakan sarung pedangnya. Hal tersebut tentu saja membuat Li Wei terpaku.


Apa Hua Yifeng tengah memukuli seseorang?


"Tuan Hua, apa yang terjadi?" tanya Li Wei sambil berlari ke arah Hua Yifeng.


"Jangan kemari!" teriak Hua Yifeng yang cukup semangat kali ini. Sebab, suara ini adalah suara paling keras yang pernah Li Wei dengar selama ia mengenal Hua Yifeng.


Li Wei berhenti seperti menjadi kaku. Terutama ketika melihat apa yang sedang dipukul Hua Yifeng dengan sarung pedangnya. Masalahnya juga ia melihat batu yang terberai di sekitarnya. Ia mulai menyadari jika itu bukan batu biasa.


Itu adalah ...


SRET!


"Putri, tolong kami ... Mengapa batu-batu ini muncul di tubuh kami?" teriak beberapa orang yang terkumpul di tengah.


Tangan Li Wei bergetar saat melihat hal mengerikan di depannya. Bagaimana tidak ... Kulit orang-orang yang semula terluka parah, akibat terkena bencana, dan dari luka yang menganga itu keluarlah batu-batu yang akhirnya menempel ke kulit mereka. Apa yang dilakukan Hua Yifeng sebelumnya hanya berusaha untuk melepas batu-batu itu dari kulit mereka.


Namun ternyata batu itu tak lain dan tak bukan adalah kulit dan darah mereka.


Mereka mengeluarkan batu hanya karena terluka?


SRET!


"Putri, tolong! Tolonglah!" teriakan keras itu terdengar dari beberapa orang yang mulai keberatan di tangannya.


Nyatanya batu itu terus keluar dengan cara yang sangat mengerikan. Mereka berusaha merangkak untuk mendekat ke arah Li Wei yang berdiri dengan gemetar. Prajurit yang berjaga tentu saja memukul ke arah mereka untuk menjauhkan mereka.


Mengapa memukul dengan benda perantara?


Karena mereka takut jika penyakit batu itu akan menular.


BRAK!


Batu yang sebenarnya darah dan daging itu berhamburan di tanah. Sehingga yang tersisa adalah tangan mereka yang menjadi tulang. Li Wei mendadak mual. Terutama saat bau darah mencemari udara


"UGH!!!" tanpa bisa ditahan lagi Li Wei mual, dan meludah beberapa kali.


Bukan perkara tak sopan. Hanya saja ... Ini sangat mengerikan.


"Apakah ini kutukan Pangeran Penduka? Pangeran marah karena Labirin Batu hancur dan menciptakan bencana!!!! Tidak ... Tolong," Suara itu berbaur di sekitar Li Wei.


Dan, itu membuat Li Wei teringat sesuatu yang memang terkenal di Kerajaan Li.


Tentang bencana yang ditimbulkan oleh Pangeran Bungsu yang mengutuk negerinya sendiri karena menumbalkan dirinya.


Namun ... Bukankah itu hanya cerita rakyat biasa?


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.


Mari bertemu di chapter selanjutnya.

__ADS_1


Adios~


__ADS_2