
Tuan Qiu tersenyum tipis. "Saya harusnya tak terkejut saat melihat seorang Perdana Menteri di sini."
Akan tetapi, Tuan Qiu adalah seorang pedagang dari Kerajaan lain. Meski dirinya tak mau menerima permata itu, Tuan Qiu tak punya pilihan lain. Ia adalah tamu dan di depannya Perdana Menteri dari Kerajaan Li, jika dirinya tidak menghormati, maka Tuan Qiu pasti akan melanggar batasan kedamaian di antara kerajaan mereka.
Permata itu hanyalah agar Tuan Qiu tidak mempermasalahkan ini ke depannya lagi. Sekaligus membebaskan gadis ini sepenuhnya. Meski sebenarnya semahal apapun permata, tentu saja tak bisa membeli nyawa manusia.
Akan tetapi, bagi segelintir orang nyawa manusia hanya seperti sapi yang berkeliaran di jalan.
Dan, sebagai bonusnya permata ini memang benar-benar berharga.
"Lepaskan mereka," ucap Huan Ran sekali lagi.
Tatapan mata Huan Ran tampak tak bercanda sekali pun. Ini nyaris seperti suara Huan Ran begitu tenang dan datar, tetapi semua orang tahu bahwa Huan Ran tak main-main. Sehingga Tuan Qiu tak berani untuk membuat Huan Ran ikut campur dalam masalah ini.
Lagipula, ...
"Senang berbisnis dengan Anda, Perdana Menteri Huan," balas Tuan Qiu sambil memberikan penghormatan.
Setelah itu, Tuan Qiu memerintahkan anak buahnya untuk melepaskan Yi Hua dan lainnya. Meski Jian tampak masih sangat dendam dengan Yi Hua. Mata pria itu melotot tajam, dan tambah mengerikan lagi dengan fakta bahwa wajah Jian memiliki luka bakar yang parah.
Pelakunya tentu saja Yi Hua.
"Selamat HuaHua. Kau telah menambah musuh baru dalam hidup ini. Jangan bertanya lagi jika suatu hari kau mati tiba-tiba," ucap Xiao yang seperti biasa hanya berada di kubu menyoraki.
Yah, apa yang bisa tahan dari kepribadian Xiao yang terkadang unik ini. Eh? Apa Xiao punya kepribadian? Sangat menakjubkan bahwa Xiao tampak punya kepribadian, tetapi Yi Hua sendiri tak memahami konsep kepribadian dari Xiao ini.
Percayalah. Dunia begitu unik hingga kau berpikir bahwa pencipta sangat menakjubkan ketika membuatnya.
"Tunggu dulu ..." ucap Huan Ran menggantung ucapannya.
Terutama saat melihat Jian yang masih memiliki dendam pada Yi Hua.
Yi Hua masih dengan sikap sombongnya menatap pada Jian. Walau tak saling berkomunikasi, tetapi pikiran Huan Ran pasti sama dengan Yi Hua. Sehingga Yi Hua meludahkan darah dari mulutnya, "Tinggalkan satu kereta untuk kami. Di dalamnya harus ada makanan yang cukup."
"KAU ..." Jian mendatangi Yi Hua, dan nyaris mencekik Yi Hua.
Akan tetapi, Yi Hua tetap berdiri tegak sambil membentangkan jimatnya. Melihat kertas jimat Yi Hua yang terbakar api, Jian tak berani mendatangi lebih dekat. Bagaimana pun ia sudah tahu jika Yi Hua tak akan segan bertingkah liar seperti sapi lagi. Itu akan sangat merugikan Jian tentunya.
"Hentikan, Jian!" bentak Tuan Qiu sekali lagi. Terutama saat melihat tatapan mata Huan Ran yang begitu dingin.
Bagaimana pun apa yang terjadi saat ini bisa saja menjadi masalah untuk Tuan Qiu nantinya. Jika ia tidak melepaskan mereka sekarang, maka Huan Ran akan mempersulit Tuan Qiu juga. Sebab, Tuan Qiu bukan orang 'bersih' dan kejahatannya di tempat ini bisa saja menyeretnya untuk dibongkar satu-persatu kejahatan lainnya.
Itulah mengapa ia tak bisa melakukan apapun. Dan, permata hitam yang diberikan Huan Ran adalah tutup mulut dan jalan damai di antara mereka.
"Baik, Tuan Qiu," jawab Jian yang menahan amarahnya.
Pria tinggi besar itu segera membawa beberapa orang untuk mempersiapkan apa yang orang-orang di depannya ini minta. Dan, sepanjang Jian menatapnya dengan ancaman ternyata Yi Hua sedang melamun dan berbicara dengan Xiao. Pantas saja ia tak merespon atau merasa ngeri. Sehingga Jian tampak sangat murka karena tatapan membunuhnya tak berguna bagi Yi Hua.
SRET!
"Ayo pergi," ucap Yue Yan dengan sedikit berbisik.
Yi Hua menganggukkan kepalanya untuk menanggapi. Di sampingnya gadis malang itu masih memeluk lengan Yi Hua. Hal tersebut membuat Yi Hua sedikit tak nyaman, tetapi ia tak bisa menarik tangannya. Mengabaikan hal itu Yi Hua menerima isyarat dari Huan Ran untuk segera pergi.
Xiao mendadak berkata sesuatu. "HuaHua, aku merasakan firasat yang buruk."
Namun ...
Sejak kapan ada hal baik di sekitar Yi Hua?
Sehingga Yi Hua tak memperdulikan ucapan Xiao, dan berlari dengan gadis itu yang kini menggunakan jemarinya untuk menggenggam jemari Yi Hua. Tanpa Yi Hua sadari gadis itu tersenyum dengan air mata di sudut matanya. Dari pipinya yang memiliki memar kini bertambah merah. Bukan karena apa, tetapi lebih karena gadis itu tengah merona.
"Tuan Yi ...
Yi Hua hanya menoleh sekilas karena tak ingin berbasa-basi saat dalam pelarian ini.
SRET!
"Masuklah!" teriak Yue Yan yang mulai berguna untuk kelompok mereka. Hal tersebut juga yang membuat Yi Hua tak ingat untuk mendengar ucapan gadis itu.
Pria itu, Yue Yan, kini membantu Liu Xingsheng untuk naik ke kereta, sedangkan Huan Ran mengambil alih kemudi. Yi Hua naik duluan ke dalam kereta sebelum membantu gadis itu masuk ke dalam kereta. Kala itu gadis itu memandang telapak tangan Yi Hua yang kecil dan putih.
"Terima kasih, Yi Hua."
Benar kan ... Firasat Xiao selalu benar.
Gadis itu dengan konyolnya jatuh cinta.
__ADS_1
***
Yi Hua menghela napasnya ketika kereta mulai berjalan. Yue Yan masih mengeluarkan kepalanya untuk memeriksa keadaan di luar. Tak ada yang bisa mengatasi keadaan apabila Tuan Qiu dan rombongannya mengikuti.
Akan tetapi, Yi Hua memiliki metode yang lebih cepat untuk memeriksa keadaan. Yi Hua yang mendengar laporan aman dari Xiao langsung menarik pakaian bagian belakang Yue Yan. Hal tersebut membuat Yue Yan tertarik dengan sangat dramatis. Tentu saja pria itu protes pada tindakan anarkis Yi Hua.
"Kau apa-apaan?!" teriak Yue Yan yang selalu berisik.
Yi Hua nyaris menyumbat mulut Yue Yan dengan kertas jimatnya. Siapa tahu bisa dibakar kapan-kapan saat Yue Yan sudah menelan kertas itu.
Akan tetapi, karena aku adalah orang yang baik hati dan suka menolong serta rajin berhutang, aku tak akan melakukan tindakan kejam itu.
"Bagaimana jika kepalamu tersangkut pepohonan nanti?! Kau akan merepotkan aku untuk menarikmu," jawab Yi Hua seenaknya.
Yue Yan tentu saja semakin geram. "Jika itu terjadi kau adalah orang terakhir yang ingin ku minta tolong."
Jika Yi Hua yang menolong, yang ada Yue Yan akan segera kehilangan kepalanya.
Dan, Yi Hua langsung ingat jika mereka memiliki orang lain di dalam kereta. Yi Hua menoleh pada gadis kecil yang menatapnya dengan senyum di wajahnya. Hal tersebut membuat Yi Hua memberi senyuman singkat. Hanya untuk kesopanan.
"Terima kasih karena telah menolong saya, Tuan-Tuan," ucap gadis itu sambil menundukkan kepalanya.
"Kau akhirnya tahu betapa merepotkan itu," balas Yue Yan sinis.
CIT!!
Yi Hua mencubit lengan Yue Yan agar pria itu menahan ucapannya. Tentu saja Yue Yan mengomel lagi.
"Kau tidak usah berpura-pura baik, Yi Hua. Kau tahu tujuan kita, dan aku sudah berbaik hati untuk menolong kalian. Lalu, karena kau membawa masalah ini, Perdana Menteri berwajah datar itu kehilangan permata berharganya. Sekarang apa yang bisa kita gunakan untuk membeli cermin bayangan itu?" tanya Yue Yan masuk akal.
Mendengar ucapan Yue Yan tentu saja gadis itu merasa sangat bersalah. Hal tersebut membuat Yi Hua semakin ingin melepaskan mulut Yue Yan yang kotor ini, dan menggantinya ke mulut sapi agar hanya bisa mengeong saja. Tentu saja yang bisa disalahkan di sini adalah Yi Hua.
Peramal itu menatap Liu Xingsheng yang menghadap ke depan dengan pandangan kosong. Apakah sekarang mereka dalam tahap yang putus asa?
"Perdana Menteri Huan, maafkan saya ... Permata itu saya akan menggantinya," balas Yi Hua dengan nada agak keras.
Semua itu agar Huan Ran yang tengah mengemudikan kereta bisa mendengar.
Xiao menghela napas. "Kau pernah mendengar bukan jika harga permata itu tak main-main? Bahkan lebih mahal lagi dari harga dirimu."
Sialan, Xiao! Kau memandang aku serendah apa?
Huan Ran mendadak memberhentikan kereta. Hal tersebut membuat gadis yang merasa bersalah itu semakin melekat pada Yi Hua. Tentu saja ia merasa bersalah dan ketakutan. Bagaimana jika yang mengemudi (maksudnya Huan Ran) tersebut marah dengannya. Apalagi seperti yang diungkapkan oleh Yue Yan, mereka harus membuang harta mereka yang berharga.
Uang yang dimasukkan oleh orang-orang Tuan Qiu tak begitu banyak. Itu hanya cukup untuk membeli makanan untuk beberapa hari. Harga kereta ini juga tak akan begitu mahal. Dalam teknik jual beli, jelas mereka sangat dirugikan.
Namun Huan Ran mendadak berkata. "Nyawa manusia lebih berharga dari permata apapun."
Akan tetapi, yang masih menjadi bahan pikiran mereka adalah tentang Liu Xingsheng.
Entah sampai kapan pria ini akan bertahan.
Gadis itu menundukkan kepalanya sambil memainkan kuku-kukunya yang dipotong tak rapi. Bukan. Itu bukan dipotong, lebih tepatnya gadis itu lebih sering memainkan kukunya. Semakin banyak kecemasannya, maka seseorang akan cenderung melukai jemarinya. Itulah yang Yi Hua sadari.
"Saya ... Saya hanyalah gadis dari desa yang sangat jauh dari Kerajaan Li. Nama saya Jia Yu. Orangtua saya berhutang pada Tuan Qiu, dan tak sanggup membayarnya. Mereka membawa saya saat saya masih kecil dan ..." Gadis itu tak sanggup untuk meneruskannya.
Dari saat masih kecil?
Memangnya berapa usia gadis ini? Dan entah berapa lama ia menderita.
"Tak apa. Setelah semua ini semoga akan baik-baik saja," jawab Yi Hua sambil menyenderkan kepalanya di bahu Liu Xingsheng.
Bukan perkara ia ingin membebani tubuh Liu Xingsheng. Akan tetapi, ... Yah ... Katakanlah ia memerlukan orang yang beraura positif untuk memutuskan aura suram di sekitar mereka. Sayangnya, orang-orang yang bersamanya sekarang lebih sinting daripada yang seharusnya, apalagi Yue Yan.
"Tapi ... Bagaimana dengan pelelangan ..." lanjut Jia Yu yang mengingat jika Yi Hua dan Tuan-Tuan yang lainnya ini ingin pergi ke pelelangan di Kerajaan Bawah.
Tentu saja Jia Yu mengetahuinya. Dia dibawa oleh Tuan Qiu untuk menjadi mainan di sepanjang perjalanan.
"Tenang saja. Kita bisa mencurinya jika ada peluang," jawab Yi Hua sekenanya.
"Pasti Dewa kesulitan mencatatat perbuatan burukmu, HuaHua," tanggap Xiao yang selalu menjadi penonton setia.
Walau sebenarnya Yi Hua tak yakin jika pertahanan di Kerajaan Phoenix akan begitu lemah. Tak mungkin para tamu harus mengandalkan kalung anggota untuk masuk jika mereka bisa menyusup. Pasti Kerajaan Bawah memiliki penjagaan mereka sendiri. Dan, Yi Hua tak akan terkejut lagi jika tak ada berita pencurian di sana.
Pelelangan Kerajaan Phoenix tak akan begitu 'terkenal' jika bukan karena reputasinya.
SRET!
__ADS_1
TING
TING
TING
Angin bertiup dengan agak kencang. Hal tersebut membuat tirai kereta tersibak dan terdengar suara lonceng yang lembut. Dari sana Yi Hua bisa tahu jika di dekat mereka mungkin ada sebuah kuil dewa. Yi Hua mendadak mengingat sesuatu yang ia rasa pernah terjadi di masa lalunya.
Namun ...
Aku tak bisa mengingatnya dengan baik. Hanya saja ... Aku seperti merasa sangat familiar dengan semua ini.
Yi Hua mendadak telah hidup cukup lama.
TING!
TING!
Huan Ran tak juga menjalankan kereta. Mungkin pria itu berpikir untuk beristirahat. Bagaimana pun hari masihlah gelap. Selepas kuil ini mungkin mereka akan memasuki hutan. Itu jelas bukan perjalanan yang mudah.
Yi Hua menatap punggung Huan Ran yang tampak sesekali apabila angin menerbangkan tirai. Entah apa yang pria itu pikiran sambil menatap ke arah depan. Lebih dari segalanya Huan Ran mendadak berucap sesuatu.
"Saat kecil orang-orang di sekitarku sering berkata, 'tumbuhlah besar menjadi orang yang baik dan jangan berbuat jahat'." Huan Ran tampak menjeda perkataannya.
"Dan saat aku tumbuh dewasa aku menyadari bahwa baik dan jahat itu sebenarnya tidak ada," lanjut Huan Ran tenang.
Tentu saja karena baik dan jahat itu hanyalah pandangan. Itu hanyalah sebutan yang diberikan orang-orang untuk mengukur orang lainnya. Mereka memberi batasan 'baik' dan 'buruk' untuk orang lain di sekitarnya. Beberapa dapat menalar ukuran itu, tetapi sebagian tak bisa. Sehingga banyak yang tak tahu betapa baik dirinya atau malah sebaliknya.
Yue Yan tak berkata apa-apa. Pria itu lebih memilih untuk mengusap kepala ular-ularnya. Pandangan pria itu tak terbaca, tetapi ia justru paling mengerti apa yang Huan Ran maksud. Yi Hua mendadak merasa jika setiap orang memiliki masalahnya masing-masih.
Tak sopan rasanya jika mengatakan bahwa 'akulah' yang paling menderita. Padahal orang lain juga. Hanya saja dalam bentuk yang berbeda. Namun biasanya orang yang pandai menyimpan keluh-kesahnya adalah orang yang paling tahu rasanya menderita.
Karena mereka tahu mengeluh tak akan menyelesaikan masalah.
"Jadi, kau tak perlu merasa bersalah, Peramal Yi. Jika aku mengambil keputusan yang sebaliknya mungkin jika Liu Xingsheng sadar nanti dia akan memarahi kita semua. Dia adalah orang yang baik," ucap Huan Ran yang mendadak tertawa dengan hampa.
Itu bukanlah tawa karena lucu.
Yi Hua memicingkan matanya saat mencium aroma darah yang sangat kental. Akan tetapi, aroma itu tak bertahan lama. Setelah angin datang lagi, aromanya langsung lenyap dan tergantikan dengan aroma daun kering.
Fokus Yi Hua teralihkan lagi pada tarikan pelan gadis itu di lengan pakaiannya. Tampaknya gadis itu ingin berkata sesuatu. Akan tetapi, ia mungkin terlalu takut untuk memulai pembicaraan di antara mereka.
"Ada apa, Nona Jia?" tanya Yi Hua.
Gadis itu berkata dengan agak ragu. "Saat Tuan Qiu berkumpul dengan rekan-rekannya mereka pernah bercerita tentang bertaruh di tarung bebas," jelas gadis itu terbata-bata.
Tarung bebas?
PLAK!
Yue Yan mendadak menekuk tangannya karena mengingat. Lalu, pria itu melanjutkan.
"Benar. Tarung bebas! Kita bisa ikut bertarung di sana!" teriak Yue Yan mendadak.
Hey, jangan berteriak saja seperti sapi terjepit ekor. Jelaskan dulu!
***
Selamat membaca 😉
Selamat hari raya Idul Fitri, teman-teman. Mohon maaf lahir dan batin, baik yang disengaja atau tidaknya. Jika ada salah kata setiap kali aku membalas komentar-komentar kalian mohon dimaafkan ya. Jika ada salahnya berarti kalian yang mulai 😑 Nah kan baru aja minta maaf sebelumnya.
Cerita ini baru muncul lagi.
Iya, kan masih suasana lebaran. Aku baru punya waktu untuk melanjutkan.
Tetap semangat ya dalam menjalani hari. Semoga selalu diberi kesehatan dan ketabahan dalam menghadapi masalah di sekitar kita.
Juga ...
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Jangan terlalu kasar ya kalo kasih kritik, karena hati saya selembut sutra dan sehangat bawah panci. Oleh karena itu, biasakan untuk berkomentar yang baik atau lemparan sepatu menjadi balasannya.
Sekian dan terima kasih.
Wassalam.
__ADS_1
Oh ya lupa. Adios~