Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Putri Li Wei 9: Situasi Sulit


__ADS_3

Zhang Yuwen yang menyadari bahwa yang datang bukanlah musuh langsung mendekat ke arah Hua. Sejauh apa yang ia mengerti, Hua ini tak akan mengganggu orang yang tak mengganggunya. Lebih dari segalanya mereka juga masih mengkhawatirkan keadaan Li Wei. Sehingga mereka perlu informasi sekarang.


Namun Wei Wuxie bergerak lebih cepat. Ia mendekat ke arah Hua untuk berterima kasih, "Terima kasih atas bantuannya, Tuan Hua."


Meski begitu, Hua jelas tak akan menjawab apa-apa. Kala itu Hua menatap ke arah mereka berdua lagi yang entah mengapa berbaris dengan rapi ketika ditatap oleh Hua. Hingga Zhang Yuwen menyadari apa yang membuat Hua menatap ke arah mereka.


"Jika Anda khawatir akan diganggu oleh Putri Li Wei, maka Anda bisa tenang. Kami tak bersama dengannya," ucap Zhang Yuwen yang mengingat jika mereka masih kehilangan satu orang.


Hua tak menanggapi apa-apa.


Ini sungguh sulit saat kau harus mengatasi orang yang jarang bicara. Bahkan untuk menagih pria ini menjawab dengan satu kata saja mereka berdua sudah kelelahan.


Wei Wuxie memperhatikan ekspresi dari Hua dan menanggapi. "Ada masalah, Tuan Hua?"


Pria ini tampak berubah ekspresinya. Baru kali ini Wei Wuxie melihat gestur resah dari wajah yang datar ini. Sehingga ia hanya bisa bertanya.


Zhang Yuwen kelelahan sendiri karena menunggu Hua bicara. Bukannya tak sopan, tetapi Zhang Yuwen juga mengkhawatirkan Li Wei. Ia menarik tangan Wei Wuxie untuk kembali ke jalan sebelumnya. Setidaknya jika mereka menyusuri jalan yang sama mereka mungkin bisa menemukan Li Wei.


Percayalah ... Baru kali ini mereka berharap pada peruntungan.


"Lebih cepat kau mendengar burung bernyanyi ketimbang menunggu pria itu bicara. Sekarang yang terpenting adalah menemukan Putri. Apa kau tak khawatir jika Yang Mulia mencari Putri rusuhnya itu?" tanya Zhang Yuwen sambil berbisik pada Wei Wuxie.


"Dimana?"


Apanya?


Ini tak seperti Hua ini pernah merasa tertarik terhadap sesuatu. Akan tetapi, mengapa sekarang Hua ini terlihat sangat tertarik. Meski pria itu hanya mengeluarkan satu kata.


Wei Wuxie yang juga sesama orang yang jarang bicara langsung mengerti. "Kami kehilangan Putri Li Wei sebelum bertarung dengan ular raksasa itu."


Terdengar helaan napas dari Zhang Yuwen ketika merasa sunyi. Ia terbiasa berbicara banyak, tetapi kedua orang ini jelas tak berbicara banyak. Mendadak Zhang Yuwen merindukan suara berisik Putri Li Wei.


"Putri terjatuh begitu saja ke dalam lubang. Tanpa ada petunjuk apa-apa kita tak bisa mencarinya," keluh Zhang Yuwen lelah.


Lalu, tak lama Zhang Yuwen berseru, "Hey, ... Jika Putri baik-baik saja, dia tak akan diam. Apalagi dengan sikap rusuhnya dan kemampuannya untuk menemukan jalan, pasti Putri tak akan menghilang begitu lama. Apa Putri ..."


SRET!


Lalu, Zhang Yuwen dikejutkan oleh busur panah yang mengarah tepat di antara mereka berdua. Meski itu bukan serangan, tetapi jika terkena pasti akan menimbulkan sakit. Hal itu yang membuat Zhang Yuwen menoleh ke belakang. Tepatnya pada Hua yang menyelinap di antara mereka.


" ... Hey, ini hanya dugaanku saja," bela Zhang Yuwen saat mendapat tatapan tajam dari Wei Wuxie.


Namun Hua sudah berjalan tanpa menoleh ke belakang lagi. Pria itu menuju jalan yang sebelumnya ditempuh oleh mereka berdua. Hal itu yang membuat Wei Wuxie menarik Zhang Yuwen untuk berjalan juga.


Akan tetapi, ketika mereka memasuki ke bagian labirin selanjutnya, mereka hanya melihat sebuah dinding yang baru terbuka. Sebuah pintu baru yang terbuka. Mungkin Hua langsung menemukan pintunya, dan berhasil membukanya. Sedangkan Hua tak ada lagi di sana.


Kemana dia pergi?


"Mengapa dia bisa secepat ini?" tanya Wei Wuxie bingung.


Akan tetapi, ia seperti bertanya pada orang yang tak berguna. Sebab, Zhang Yuwen hanya menggelengkan kepalanya. Sungguh! Adakah yang bisa berkomunikasi dengan baik dengan Hua ini?


***


"Hey, terima kasih atas ..."


Hanya kesunyian yang menyambut Li Wei. Itu semua karena anggota Tentara Malam itu sudah tak ada lagi. Entah kemana dia pergi.


Namun dari sana Li Wei berpikir jika Labirin Batu ini memiliki beberapa jalan rahasia. Lebih dari segalanya Li Wei tak tahu harus kemana dia sekarang. Ia bahkan tak muncul di tempat ia terjatuh sebelumnya. Ini seperti ia berada di sisi labirin yang lainnya.


Li Wei memperhatikan sekelilingnya untuk memastikan di sisi mana ia berada. Sayangnya, ia agak kesusahan karena ini di malam hari. Ia tak bisa melihat matahari sebagai penentu arah.


Namun dari banyaknya pepohonan di sekitar Li Wei bisa menebak jika ia berada di bagian dalam Labirin Batu. Itu semua karena Labirin Batu ini terlihat semakin mirip hutan lebat jika semakin masuk ke dalam. Bedanya hanyalah kau tahu bahwa mereka di dalam labirin


Juga, bukankah di sisi ini lebih gelap daripada sisi sebelumnya?


Li Wei memperhatikan langit malam, dan ia menyadari bahwa di atasnya adalah awan gelap. Akan tetapi, Li Wei sangat ingat jika malam hari ini berbintang. Kenapa cuaca berubah seperti tiba-tiba datang bulan?


KRAK!


Kibasan sayap? Ini bukan awan gelap. Jika awan gelap, maka tak akan menimbulkan suara seperti ini.


Li Wei menatap ke atasnya, dan menyadari bahwa di atasnya telah dikelilingi oleh segerombolan burung. Tidak ...

__ADS_1


Ia segera berlari untuk bersembunyi di bawah pohon besar. Beruntung saat di bagian hutan lebat labirin ia memiliki banyak tempat untuk bersembunyi.


Ini kelelawar! Apakah Ling Xiao memutuskan untuk mengubah hewan buruannya? Atau, memang semakin masuk ke dalam, maka para peserta akan mendapat binatang yang berbeda. Entahlah. Li Wei hanya bisa menebaknya.


Li Wei menarik busur panahnya yang memang tergantung di bahunya. Akan tetapi, ketika ia ingin mengambil anak panah Li Wei mulai menyadari bahwa ia kehilangan tas kulitnya. Mungkin tas kulitnya terlepas ketika Li Wei terjatuh sebelumnya.


Kesialan macam apa ini?


KLAP!


KLAP!


Gawat.


Kelelawar ini semakin turun ke bawah. Li Wei bahkan tak tahu ini kelelawar biasa atau apa. Namun ini jelas sama berbahayanya. Apalagi jika kelelawar ini datangnya dalam jumlah yang mengerikan.


Bahkan kelelawar ini sudah mulai mengadakan pertemuan di bagian atas labirin. Entah mereka berbincang apa, tetapi Li Wei tak berniat untuk bergabung bersama para kelelawar ini. Sehingga ia harus tetap bersembunyi di balik bebatuan ini.



Li Wei menghela napasnya saat sudah berada di bagian pepohonan yang lebat.


Atau, Li Wei bisa mencari jalan lain dengan cara diam-diam. Bagaimana pun dia tak bisa berada di wilayah ini tanpa ada senjata.


Sekarang aku harus melemahkan langkah kaki seperti sapi yang turun berat badannya.


Li Wei memperhatikan di sisi-sisi labirin dari kejauhan. Beruntung meski di malam hari, tetapi kerajaan mempersiapkan banyak obor yang terpasang di sepanjang labirin. Sehingga tak ada kendala dalam gelap. Kecuali, yah tempat-tempat yang tersembunyi.


"Sisi labirin ini agak sempit," bisik Li Wei yang menyadari bahwa sisi labirin ini cukup kecil, karena kau bisa melihat dinding-dinding labirin batu tanpa perlu menjelajahi.


Padahal sebelumnya Li Wei perlu berjalan agak jauh baru bisa melihat sisi dindingnya.


Sepertinya Li Wei semakin dekat dengan bagian inti dari labirin. Jadi, alur pada keseluruhan labirin adalah lebar di lingkaran luar, dan semakin menyempit di bagian dalam. Entah bagaimana bagian inti dalamnya.


Mungkin tak ada yang bisa mencapainya hingga ke bagian tengah. Sebab, setiap labirin selalu ada hewan buruan. Dengan lima anak panah peserta akan selesai setelah lima kali menembak. Itu pun jika kena.


Li Wei mungkin berada di bagian labirin terdalam daripada peserta lainnya.


Buruknya lagi Li Wei juga tak bisa melakukan apa-apa, apalagi menambah poin. Anak panah Li Wei sudah hilang.


Sungguh kesialan yang berturut-turut. Ini seperti sudah dikejar sapi, tapi sejauh apa berlari akhirnya menyadari bahwa ia sebenarnya mimpi. Lalu, saat bangun dari mimpi ia menyadari bahwa itu bukan mimpi karena benar-benar dikejar sapi.


Sudahlah. Otak Li Wei mendadak ingin pamit pergi ke alam mimpi jika kesulitan di dunia nyata seperti ini.


"Sekarang aku punya dua pilihan sebenarnya," ucap Li Wei pada pohon tempat ia bersembunyi. Ia melakukan ini agar terlihat seperti berdiskusi.


Lagipula, ketika kau mengingat-ingat sesuatu maka kau perlu menyebutkannya. Hanya agar bisa mendengar apa yang diucapkan sendiri, dan bisa muncul ide di sana.


"Pertama adalah menunggu Perburuan Malam selesai. Masalahnya, waktu yang terpakai akan cukup lama. Lagipula, kelelawar ini buatan Guru Ling Xiao, jelas tak akan memiliki ciri yang sama seperti kelelawar lainnya yang akan bergantungan ketika lelah. Apalagi ini malam hari," cetus Li Wei sambil menunjuk ke arah pepohonan.


Malam hari merupakan waktu dimana kelelawar bangun. Salah-salah Li Wei menunggu di sana sampai siang hari. Itu jika kerajaan memutuskan untuk menunggu setiap peserta keluar sendiri dari labirin.


Li Wei mengusap-usap pohon saat menyadari jika pilihan itu terkesan tak aman. Ia bahkan tak tahu kesialan lainnya. Yaitu, kelelawar menyadari keberadaannya.


Meski kelelawar ini hanyalah buatan, tetapi saat menyerang tetap sakit.


"Pilihan yang kedua ialah mencari jalan untuk pergi dari sisi labirin ini. Berarti aku harus mengamati keseluruhan labirin secara diam-diam," ucap Li Wei sambil memperhatikan ke sekelilingnya.


Namun ...


Eh, bukannya itu pintu?


Tanpa harus ditelusuri pun Li Wei sudah menemukan pintu besar. Tanpa ditutup oleh apapun. Sepertinya semakin masuk ke dalam labirin, pintu akan semakin mudah ditemukan. Akan tetapi, buruannya semakin banyak juga.


Sekarang ...


"Aku harus menemukan bagian tengah labirin karena aku tak bisa keluar dari pintu masuk," ucap Li Wei yang sudah menentukan pilihannya.


Mau tak mau Li Wei hanya mendapat satu poin. Ia kehilangan anak panahnya, dan berarti sudah menyebut poin untuk Li Wei sendiri. Satu.


Li Wei tetap menggenggam busur panahnya sebagai senjata. Sebenarnya Li Wei pernah belajar menari, dan di sana ia pernah belajar bagaimana melemahkan suara langkah kaki. Dalam bela diri juga begitu, sehingga Li Wei yang punya kemampuan tak akan begitu sulit melangkahkan kaki tanpa keributan.


SRET

__ADS_1


Mata Li Wei menatap ke bagian atas labirin yang masih sangat gelap. Mendadak Li Wei masih bergidik ngeri karena jumlahnya kelelawar ini. Itu seperti gerombolan semut hitam, tetapi kau tahu itu bukan semut. Jika kelelawar itu mendapati Li Wei, mungkin ia akan diserbu dengan cara yang mengerikan.


Sepertinya aku punya ketakutan tersendiri pada sesuatu yang bergerombol seperti itu.


Nyatanya itu agak mudah daripada yang Li Wei pikirkan. Kelelawar ini sepertinya tak akan mengganggu selama tak diganggu gerombolannya. Sehingga Li Wei sudah mencapai sisi lainnya dari labirin.


Ia memastikan labirin berikutnya, dan saat sudah aman Li Wei masuk ke dalam sana.


Dan,


KREK!


Aku tak menginjak apa-apa!


Li Wei sangat yakin dengan langkah kakinya sehingga yang menginjak ranting itu bukanlah dia.


SRET!


SYUT!


Baru saja Li Wei masuk ke sisi lainnya, ia sudah diterjang dari kejauhan. Beruntung mata Li Wei cukup tajam untuk mengamati. Ia mengibaskan busur panahnya untuk memukul ke arah udara. Hewan yang menerjang Li Wei terbanting ke tanah dengan cukup keras. Mau tak mau Li Wei bergerak ke arah pepohonan untuk dipanjat.


BRUK!


HAP!


Dari atas pohon Li Wei memperhatikan hewan apa yang melompat ke arahnya sebelumnya.


Itu adalah serigala.


Belum selesai ia dengan kelelawar, tetapi di sisi ada hewan buruan lainnya. Ini buruk karena ternyata setiap dinding labirin ada hewan yang dipasang. Jika seperti itu semakin masuk Li Wei ke dalam, maka hewan-hewan ini akan semakin banyak. Akan tetapi, jika dia berbalik pun mungkin ada banyak hewan yang juga di pasang di sana. Walau nyatanya sebagian sudah diburu.


Namun jika diukur dari ukuran labirin, jarak terdekat adalah bagian tengah labirin.


SRET!


Serigala itu bangkit lagi dan mengibaskan tubuhnya seperti merasa kesakitan akibat pukulan Li Wei. Akan tetapi, dari sana Li Wei mengerutkan keningnya. Bintang ini terlalu sempurna untuk Ling Xiao buat, bahkan dia bisa mengerang sakit seperti bintang asli.


Setahu Li Wei saat berhadapan dengan buruan sebelumnya ialah bintangnya hidup, tetapi tanpa ekspresi.


Namun sekarang serigala ini mengeluarkan suara dengungan seperti kesakitan. Li Wei mukul serigala ini dengan cukup kuat di bagian perutnya. Sehingga ia sangat yakin jika serigala ini memang hidup.


Maksudnya, serigala sungguhan.


Lihatlah kesialan di antara kesialan ini!


Bagaimana mungkin kerajaan juga melepaskan buruan asli saat mereka hanya memberikan lima anak panah sebagai senjata?


Bahkan pedang dari masing-masing peserta sudah disita sebelum masuk ke dalam labirin.


Apa mungkin di dalam hutan labirin ini juga memang ada bintang? Maksudnya adalah labirin ini juga memiliki hutan. Jika seperti itu, maka ini mungkin kelalaian kerajaan dalam memastikan area berburu.


Kelalaian?


"Kakak," ucap Li Wei diam-diam.


Yang mengatur labirin ini adalah kakak pertamanya, Li Jun. Sulit dipercaya jika kakaknya yang teliti itu akan lalai dalam memeriksa. Apalagi dari kecelakaan yang dialami Li Wei sebelumnya. Pasti Li Jun sudah mendapat laporan.


Namun sampai sekarang tak ada bantuan apapun yang datang ke dalam labirin, atau pemberitahuan tentang habisnya waktu. Ini seperti para peserta dibiarkan menghabiskan waktu mereka sepanjang malam di dalam labirin. Jika mereka yang di bagian terdekat dengan pintu keluar, mereka dengan mudah bisa kembali jika anak panah mereka habis.


Lalu, bagaimana jika hanya sedikit orang yang mengerti struktur labirin ini?


Itu berarti mereka juga akan terjebak dalam labirin dengan anak panah yang sudah habis.


Apa-apaan ini?!


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.


Maaf ya baru bisa up lagi. Masalah dari menulis cerita itu ialah kurangnya ide. Makanya aku tuh kehilangan ide akhir-akhir ini. Mungkin karena idenya tuh cuma ada di otak, pas dituliskan agak susah.

__ADS_1


Mari bertemu di chapter selanjutnya.


Adios~


__ADS_2