Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Putri Li Wei 24: Tirai Berdarah


__ADS_3

Li Wei masih berdiri tegak untuk melindungi Wei Wuxie dari Zhang Yuwen. Akan tetapi, Zhang Yuwen menghela napasnya sambil menarik pedangnya keluar. Hal tersebut membuat Wei Wuxie berusaha bangkit dari duduknya.


Sampai sekarang Wei Wuxie tak terima jika Zhang Yuwen menghianati mereka. Bagaimana pun jika Zhang Yuwen dan Wei Wuxie berteman sejak kecil, bahkan sebelum mereka berteman dengan Li Wei. Jika ada yang paling mengenal Zhang Yuwen, maka itu adalah Wei Wuxie.


"Yuwen, jangan ..." ucap Wei Wuxie lemah.


Pandangan Wei Wuxie menjadi buram. Ia kehilangan cukup banyak darah saat ia harus menghindari serangan. Sebelumnya Wei Wuxie hanya dikejar oleh beberapa prajurit. Ia tak menyangka jika yang memimpin pasukan ini adalah Zhang Yuwen.


Mungkin Zhang Yuwen keluar dari persembunyiannya ketika melihat Li Wei.


Tujuan mereka sudah jelas. Raja Xin ingin Li Wei ditangkap hidup-hidup.


Li Wei juga mengambil sarung pedangnya yang tentu saja selalu mengikuti. Semua prajurit yang menyaksikan lemparan Li Wei di istana saat itu tahu tentang keanehan benda itu. Jelas sekali sarung pedang yang digunakan oleh Li Wei tak bertindak seperti sarung pedang pada umumnya.


"Putri, saya tak ingin menyakiti Putri," ucap Zhang Yuwen sambil mengarahkan pedang ke arah depan.


CLING!


Eh? Apa kata Zhang Yuwen dimasuki sapi makanya berkedip aneh seperti itu?


Li Wei menatap Zhang Yuwen tak mengerti ketika Zhang Yuwen mengedipkan sebelah matanya. Lebih dari segalanya Zhang Yuwen mengangkat sebelah tangannya seperti memberi aba-aba. Para prajurit bersiap untuk menyerang, dan ...


SRAT!


BUGH!


Zhang Yuwen berputar cepat untuk menebas ke arah belakang. Hal tersebut tentu saja menimbulkan kebingungan bagi para prajurit. Pasalnya Zhang Yuwen mengarahkan pedangnya pada mereka.


Pada akhirnya, beberapa orang yang terkena pedang langsung mati di tempat. Zhang Yuwen langsung menebas ke tenggorokan mereka dengan tipis.


Kemudian, pria itu bersiul pelan dan aura aneh langsung muncul di sekitar mereka. Angin menderu keras seolah pertanda hujan. Udara menjadi dingin seketika.


SYUUUUHHHH!!


Apa-apaan ini?!


Li Wei menyadari jika ini bukan pertama kalinya Zhang Yuwen menggunakan siulannya untuk melemahkan tubuh orang lain. Hanya saja ... Li Wei tahu jika Zhang Yuwen mungkin menggunakan jalan hitam untuk mendapatkan nada kematian ini. Apa yang disiulkan oleh Zhang Yuwen bukanlah sembarang siulan.


Itu adalah nada yang bisa mempengaruhi otak manusia.


Li Wei pernah mendengar jika orang-orang terdahulu bisa mempengaruhi jiwa orang lain dengan musik. Akan tetapi, ia baru pernah melihat secara langsung. Dan, Li Wei sangat tahu jika metode itu berbahaya.


"Zhang Yuwen, hentikan!" teriak Li Wei yang melihat mata Zhang Yuwen memerah.


Sama seperti Hua Yifeng ... Zhang Yuwen juga dipengaruhi oleh energi iblis, walau tak sebesar yang dimiliki oleh Li Wei.


SRET!


Akibat seruan Li Wei itu kesadaran Zhang Yuwen kembali. Pria itu nyaris seperti orang yang baru sadar dari tidurnya. Tak lama setelah itu, Li Wei melihat aliran darah muncul dari hidung Zhang Yuwen.


"Hati-hati." Li Wei berlari untuk membantu Zhang Yuwen untuk berdiri tegak.


BRUK!


BRUK!


BRUK!


Akibat siulan Zhang Yuwen itu prajurit yang tersisa jatuh ke tanah bahkan tanpa diserang. Beberapa prajurit yang masih hidup menatap bingung tak mengerti. Mereka merasa tulang mereka melemah dan jatuh. Beberapa orang lainnya langsung mati di tempat dengan pendarahan di telinga.


Ini buruk!


"Yuwen, ... Ini ..." Li Wei tak tahu apa yang bisa ia katakan.


Disebut baik dan buruknya, tetapi Zhang Yuwen memerlukan kekuatan ini. Sehingga Zhang Yuwen hanya menatap dingin pada Li Wei sambil mengusap darah yang ada di hidungnya. Seperti tak ingin mendengar apapun yang akan Li Wei katakan.


Zhang Yuwen sudah berubah. Ia bukan pria yang seringkali berucap lelucon untuk mengganggu Wei Wuxie lagi.


"Saya tak akan menjelaskan apa-apa, Putri," ucap Zhang Yuwen sambil berjalan di antara orang-orang yang masih hidup.


Mungkin pertahanan tubuh orang itu cukup kuat hingga tak terpengaruh oleh siulan Zhang Yuwen. Zhang Yuwen menyelinap di antara mereka, dan dengan mudah menusuk kepala mereka dengan pedang. Li Wei tanpa sadar membuang wajahnya. Tak ingin melihat hal tersebut.


KRAK!


"Apakah sekarang Putri masih bisa untuk bertingkah naif? Jika kita tak membunuh mereka, maka kita yang mati," ucap Zhang Yuwen sambil berjalan menuju ke arah Wei Wuxie.


Pria itu masih sadar, tetapi tak bisa bangkit dari duduknya.


"Mengapa hanya mereka yang terkena akibat dari siulan itu?" tanya Li Wei tak mengerti.


Zhang Yuwen memapah Wei Wuxie, sehingga pakaian terhormat Zhang Yuwen terkena darah. Wajah Zhang Yuwen tetap datar, tetapi pria itu tetap memperhatikan Wei Wuxie. Mungkin Zhang Yuwen punya rencana sendiri.


"Karena saya tak berniat membunuh Putri dan Wuxie. Kekuatan itu menuruti Tuannya," jelas Zhang Yuwen yang sebenarnya sama sekali tak Li Wei mengerti.


Li Wei menatap Zhang Yuwen lekat. "Kau tahu kekuatan seperti itu akan semakin mempengaruhi hati. Bagaimana jika kau tak bisa mengendalikan kekuatan itu seperti sekarang?"


Hingga di mana semua orang yang mendengar akan mati ketika Zhang Yuwen menyanyikan lagu kematian. Tanpa bisa dicegah lagi.


"Apakah itu penting?" tanya Zhang Yuwen yang menahan diri agar tidak sarkastik pada Li Wei.


Apakah masih ada waktu bagi mereka untuk menalar mana yang baik dan mana yang buruk?


Li Wei tak berniat berdebat lagi. Ia membantu Zhang Yuwen untuk memapah Wei Wuxie di sebelahnya.


"Kita kembali ke tempat kami bersembunyi," ucap Li Wei memberi tahu.


Zhang Yuwen menganggukkan kepalanya. "Mungkin saya juga akan ketahuan. Setelah mengantar Wei Wuxie saya akan membawa Bao Tian pergi dari Kerajaan Li."


Zhang Yuwen tak punya pilihan lain. Awalnya ia berpikir naif dengan beranggapan bisa mempertahankan tanah kelahirannya. Akan tetapi, mungkin mereka harus berpikir lebih realistis.


Kerajaan Li mereka sudah hancur.


"Begitu juga dengan Putri," ucap Zhang Yuwen menegaskan.


Li Wei menarik senyum lemah. Ada banyak hal yang terlintas dari otaknya. Ia menatap ke sekelilingnya yang sepi. Meski begitu, Li Wei tahu para penduduk yang masih bertahan bersembunyi di balik dinding rumah mereka.


Percayalah ... Ini bukan berarti Li Wei egois. Hanya saja sudah cukup banyak orang yang berkorban agar ia dan Li Shen bisa keluar dengan selamat. Sehingga Li Wei tak bisa menyelamatkan siapa-siapa.


Sejak dulu memang selalu aku yang diselamatkan.


"Pangeran Li Jun juga mungkin hanya menunggu waktu untuk kematiannya," ucap Zhang Yuwen yang mengingat tentang keteguhan Pangeran Li Jun.


Kakak tertua Li Wei itu tetap tak ingin bersekutu dengan Raja Xin.


"Bagaimana dengan Paman ... Maksudku, Penasihat Wang?" tanya Li Wei lemah.


Zhang Yuwen menggelengkan kepala. "Penasihat Wang berhasil dikalahkan. Hidup atau tidaknya saya tak tahu."


Napas Wei Wuxie terdengar parah. Jelas sekali jika Wei Wuxie menahan sakit di tubuhnya. Mereka harus cepat-cepat kembali ke rumah itu atau ...


"Aku juga!"


"Aku akan sembuh. Berikan padaku juga."


Teriakan itu tentu saja mengejutkan mereka. Ditambah lagi dalam beberapa hari ini keadaan di sekitar Pusat Kota benar-benar sepi. Jika ada yang berani berteriak sekencang itu mungkin hanya para prajurit yang tengah menindas penduduk.


Akan tetapi, suara itu cukup ramai seperti kerumunan saat menunggu bantuan kerajaan. Atau telinga Li Wei yang salah mendengar Jelas sekali situasi ramai ini biasanya hanya terjadi ketika Tahun Baru atau pesta perayaan lainnya.


"Dari alun-alun Kota," ucap Zhang Yuwen yakin.


Apa mereka perlu memeriksanya? Namun keadaan Wei Wuxie sekarang parah. Bahkan Li Wei yakin jika lambat dari ini mungkin Wei Wuxie sudah dikunjungi oleh Dewa yang bertugas untuk reinkarnasi.


Zhang Yuwen menggelengkan kepalanya pertanda jika mereka tak perlu memeriksa. Mungkin itu para prajurit yang biasanya semena-mena di Pusat Kota. Memang sebal saat lingkungan tempat tinggal kita dirusak oleh orang lain. Akan tetapi, mereka tak punya daya untuk memperjuangkannya.


SRET!


CRING.


"Suara itu ..."


Li Wei mengorek telinganya sendiri untuk mencari tahu suara apa yang dimaksud oleh Zhang Yuwen. Akan tetapi, Li Wei tak mendengar apa-apa. Apa mungkin telinga Li Wei sedang banyak 'isinya'?


CRING.


Langkah Zhang Yuwen terhenti ketika mendengar denting giok yang beradu itu lagi. Tatapannya menjadi tajam ketika ia mengenali bunyi itu. Ia melepaskan Wei Wuxie dari bahunya, sehingga hanya Li Wei yang menahan tubuh besar Wei Wuxie.


Akibatnya Li Wei dan Wei Wuxie terjatuh ke tanah. Li Wei segera memeriksa Wei Wuxie yang meringis kesakitan.


"Yuwen, apa yang terjadi?" tanya Li Wei tak mengerti.


Main buang-buang saja! Kau tak lihat luka Wei Wuxie yang bertambah parah ini?


Ingin Li Wei menggerutu, tetapi ini bukan waktu yang tepat. Terutama saat Zhang Yuwen yang berlari menuju ke arah keramaian. Hal tersebut membuat Li Wei harus memanggil Zhang Yuwen keras. Namun Zhang Yuwen tak menghiraukannya. Pria itu tetap berlari menuju ke arah alun-alun.


"Apa otak Zhang Yuwen tergeser? Sangat berbahaya jika dia pergi ke sana," ucap Li Wei sambil menyeret Wei Wuxie untuk bersandar di dinding rumah yang reyot.


"Putri ... Saya tak apa," ucap Wei Wuxie agar Li Wei menyusul Zhang Yuwen.


Gadis itu langsung menganggukkan kepalanya dan meraih tikar jerami yang tergeletak di tanah. Entah siapa pemiliknya. Akan tetapi, Li Wei menyelimuti tubuh Wei Wuxie untuk menyembunyikan pria itu.


"Jika para prajurit Kerajaan Xin muncul, jangan sampai ketahuan," ucap Li Wei sebelum ia berlari untuk mengejar Zhang Yuwen.


SRET!


SRET!


Baru saja Li Wei memasuki alun-alun ia menyadari jika di sana memang dipenuhi keramaian. Di sana jelas tak hanya prajurit Kerajaan Xin, tetapi penduduk Kerajaan Li juga. Mereka seperti mengerubungi sesuatu yang tak bisa Li Wei lihat dari kejauhan.


Akan tetapi, Li Wei bisa melihat punggung Zhang Yuwen di depannya. Pria itu berteriak dan memanggil Putrinya. Bao Tian.


Apa yang terjadi?


"A-Tian! Bao Tian!" teriak Zhang Yuwen sambil menerobos kerumunan.


Itu cukup membuat aneh saat orang-orang yang tengah berkerumun ini tak perduli tentang kehadiran Zhang Yuwen. Apalagi kehadiran Li Wei. Mereka seperti fokus untuk mendapatkan sesuatu yang ada di depan sana.


"Yuwen, apa yang kau lakukan?" teriak Li Wei ketika berhasil menarik bahu Zhang Yuwen.


Pria itu memiliki tatapan yang tajam sebelum menjawab. "Gelang Bao Tian! Itu adalah bunyi gelang dari Bao Tian. Hanya dia yang memiliki bunyi gelang seperti itu."


Masalahnya adalah Li Wei tak bisa menyebut benar atau salahnya. Sebab, Li Wei tak punya pendengaran yang tajam seperti Zhang Yuwen. Pria ini sepertinya terbiasa bermusik hingga mengetahui bunyi denting dari benda. Ia bahkan tak tahu apa yang didengar oleh Zhang Yuwen.


"Bao Tian ada di sini," ucap Zhang Yuwen yang membuat Li Wei mengerti apa yang dikhawatirkan oleh pria ini.


Zhang Yuwen mengenal bunyi gelang itu. Sehingga ada dua kemungkinan. Pertama, Bao Tian ada di tempat ini. Yah ... Gadis kecil itu mungkin terseret keributan hingga gelangnya bergetar. Atau, hanya gelangnya yang ada di sini dan terinjak orang-orang. Hingga terdengar bunyi gelangnya. Jika pun itu terjadi ... Pasti sesuatu terjadi pada Bao Tian hingga gelangnya hilang.


Semua kemungkinan itu buruk.


"Tian! Bao ..."


TES!


Yah, kemungkinan yang buruk.

__ADS_1


Li Wei menyadari apa yang membuat suara Zhang Yuwen hilang dari tenggorokannya. Bagaimana pun sesuatu yang mengenai wajah Zhang Yuwen itu bukanlah sesuatu yang sederhana. Akibat banyak aktivitas entah darah siapa yang terpercik di wajah Zhang Yuwen sekarang.


Namun sebelum Zhang Yuwen membersihkan percikan darah itu, sebuah tangan dengan bentolan batu mengusap darah itu dengan kasar. Sehingga wajah Zhang Yuwen terkena tanah, karena tangan itu begitu kotor. Mungkin di keadaan mereka sekarang tak ada waktu untuk membersihkan diri.


"Darah penyembuh ... Batu ini akan menghilang jika diusapkan," ucap orang itu yang seperti sudah hilang rasa kemanusiaannya.


Bagaiaman bisa darah menjadi obat?


Tunggu sebentar. Bukankah Li Wei juga mengalami hal ini ketika ditangkap oleh Raja Xin?


Mereka melukai Li Wei agar mendapatkan darahnya karena dianggap Li Wei sudah mendapat darah dari Hua Yifeng. Jika seperti itu, seseorang mungkin dilukai untuk dijadikan obat. Buruknya adalah hanya dua orang klan Bao yang Li Wei ketahui.


Itu adalah Hua Yifeng dan ... Bao Tian?!


Hua Yifeng?! Tak mungkin pria itu keluar dari kediaman Ling Xiao. Dia masih dipengaruhi oleh Pohon Iblis!


Li Wei merasa seluruh darahnya menjauh dari wajahnya yang cantik. Sehingga hanya aura pucat yang tersisa di wajah Li Wei. Baik Hua Yifeng atau Bao Tian. Jika ia melihat kedua orang itu diambil darahnya. Jelas bukan pemandangan yang baik.


Zhang Yuwen dengan tatapan tajamnya menarik pedang. Tanpa pandang bulu lagi pria itu menebas ke kerumunan. Ia tak perduli yang ia bunuh itu penduduk Kerajaan Li atau orang Kerajaan Xin. Yang terpikirkan oleh Zhang Yuwen sekarang hanya menuju ke bagian terdepan.


Secepatnya.


SRET!


"AKHHH!"


Li Wei berusaha mengabaikan teriakan kesakitan itu di sepanjang perjalanannya. Kematian dan rasa sakit adalah hal yang biasa ia lihat dalam beberapa hari ini. Ia hanya bisa menulikan telinganya atas jeritan kesakitan orang lain.


Lucu sekali saat aku terbiasa melihat orang mati di sekitarku.


SRET!


BRUK!


"Aku tak menyangka jika kedatangan tamu yang menarik." Ucapan itu terdengar di telinga Li Wei dan juga Zhang Yuwen.


Hal tersebut membuat mereka menjadi waspada. Terutama saat seseorang dengan pakaian agungnya tengah duduk bersantai seolah menonton. Apapun itu ... Pria ini bahkan lebih buruk dari iblis.


"Xin Wantang!" teriak Zhang Yuwen dengan keras.


CRING.


Raja Xin Wantang melemparkan sebuah gelang perak ke udara. Rupanya gelang perak ini adalah dua gelang yang direkatkan menjadi satu di salah satu sisi. Sisi lainnya masih renggang, sehingga ketika saling beradu muncul suara denting dari kedua gelang itu.


Pria itu melakukan itu secara berkali-kali. Dan dari jarak yang dekat ini Li Wei bisa mendengar suaranya. Jika Li Wei tak salah menduga, maka gelang itu adalah milik Bao Tian.


"Di mana anakku, Xin Wantang?!" teriak Zhang Yuwen tanpa rasa takut lagi.


"Pejabat Zhang, apa yang Anda takutkan sekarang? Dia sebenarnya belum pasti darah daging Anda."


SRET!


Zhang Yuwen berlari menuju Xin Wantang untuk menebasnya. Akan tetapi, Liu Shang lebih cekatan lagi dan memukul dada Zhang Yuwen yang lengah. Hal tersebut membuat Zhang Yuwen muntah darah dan terjatuh ke tanah.


Li Wei berlari untuk membantu Zhang Yuwen kembali berdiri. Namun pria itu menepis tangan Li Wei dan berusaha berdiri dengan pedangnya.


CRING.


Zhang Yuwen menatap sayu pada gelang yang masih dilemparkan oleh Xin Wantang. Ia tahu akan pemikiran buruk di kepalanya. Dan Zhang Yuwen takut untuk menyebutnya.


"Bao Tian."


SRET!


Raja Xin Wantang melempar gelang itu ke tanah. Tepatnya pada Zhang Yuwen yang masih terduduk di tanah. Pria itu melemparkan gelang itu seolah benda itu tak berharga. Dari sana Li Wei bisa melihat bahwa gelang itu memiliki warna lain di sana.


Ada darah yang membasahi gelang perak itu.


"Aku hanya menuntaskan beban hidupmu, Pejabat Zhang. Bukankah anak itu yang membuat mu harus menghianati kerajaan dan teman-temanmu?" ucap Raja Xin Wantang yang mungkin sudah bertukar hati dengan iblis.


"KAUU!"


Zhang Yuwen berusaha untuk bangkit lagi, tetapi Liu Shang menendang tubuh Zhang Yuwen. Li Wei yang berada di belakang Zhang Yuwen juga terjatuh karena tertimpa tubuh Zhang Yuwen.


Setelah itu, beberapa prajurit menangkap Li Wei dengan cara menekan kepala Li Wei ke tanah.


"Lepaskan aku!"


SRET!


Liu Shang memukul titik lemah Li Wei hingga gadis itu kehilangan kekuatan di tubuhnya. Pada akhirnya, Li Wei hanya bisa melihat kehancuran dari Zhang Yuwen.


Bukan itu ... Namun sesuatu yang menyakitkan dari ini semua.


Zhang Yuwen bersiul lagi dan kali ini aura berdarahnya lebih keras. Orang-orang berjatuhan dengan cara yang mengerikan. Yaitu, keluar darah segar dari telinga mereka.


Akan tetapi, Liu Shang tetap kokoh dan menutupi telinga Raja Xin Wantang dengan jarinya.


Bahkan Li Wei merasa tusukan keras di telinganya. Kali ini siulan itu juga menyakiti telinga Li Wei. Akan tetapi, Li Wei yang sudah dilumpuhkan anggota geraknya hanya bisa mengerang kesakitan.


"Yu ... Wen ... Hentika ..." pinta Li Wei yang seperti berbisik pada semut.


"Buat dia tak bisa bersiul lagi!" perintah Xin Wantang dan Liu Shang menuruti.


Sebuah kayu panjang dengan ujung yang runcing dilemparkan oleh Liu Shang ke arah Zhang Yuwen. Hal buruk dari lagu kematian Zhang Yuwen adalah ketika ia bersiul, maka kesadaran Zhang Yuwen tak ada di tubuhnya. Sehingga Zhang Yuwen seperti tak sadarkan diri.


TIDAAAKKK!


Teriakan Li Wei tak akan terdengar oleh siapapun. Tepatnya ketika kayu panjang itu menerobos ke dada Zhang Yuwen dengan keras. Kayu itu menembus tubuh Zhang Yuwen hingga ke punggungnya.


Meski suaranya tak terdengar keras, tetapi Li Wei merasa seperti tenggorokannya langsung sakit ketika berteriak. Bukan perkara apa, tetapi ia hanya ingin berteriak. Terus berteriak.


Terus berteriak hingga rasa sakit ini hilang dari dadanya.


"Zhang ... Yuwen," tangis Li Wei membuat pandangannya buram.


TAP!


TAP!


Zhang Yuwen yang di ambang kematiannya berusaha berjalan ke depan. Hal tersebut membuat Liu Sang terkejut. Bagaimana pun jika orang biasa akan langsung mati jika ditembus di dadanya oleh kayu seperti itu.


Akan tetapi, Zhang Yuwen terus berjalan menuju sosok kecil yang tergantung di sebuah tiang.


Jika Zhang Yuwen tak menuju ke arah sana, maka Li Wei tak akan tahu jika pemandangan mengerikan itu ada di sana.


Di sana ... Bao Tian dengan luka cabik di sekujur tubuh kecilnya tengah di gantung. Mereka menggantungnya hingga tetesan darah Bao Tian berjatuhan. Gadis kecil itu sudah mati dengan cara yang sangat mengerikan. Tetesan darah gadis kecil itu seperti tirai darah di hari yang cerah.


Seperti hujan darah saat hari yang cerah.


Ku mohon ... Apa lagi ini ... Mengapa semua ini terjadi?! S*alan! Jika Dewa memang memberi kesialan padaku, maka timpakan semua padaku!


Zhang Yuwen terus berjalan dengan kayu yang masih ada di tubuhnya. Tetesan darah Zhang Yuwen terus berhambur di sepanjang jalannya. Bibir pria itu sudah memuntahkan darah untuk kesekian kalinya. Dari bibir yang berdarah itu Zhang Yuwen terus mengucapkan nama Putri kecilnya.


Meski Zhang Yuwen tak tahu apakah gadis kecil itu memang Putrinya atau bukan. Akan tetapi, ...


Bao Tian.


Raja Xin Wantang berseru dengan panik. "Mengapa kau diam, Liu Shang? Cepat bunuh dia."


Akan tetapi, Liu Shang tetap diam di tempat. Pria itu hanya memperhatikan Zhang Yuwen yang dengan tertatih-tatih membuka ikatan Bao Tian. Memeluk gadis kecilnya yang sudah pucat karena darahnya terus menetes di tanah.


Kini pria itu berdiri di tempat yang dipenuhi tetesan darah.


"Aku bersumpah ... Siapapun akan mengalami hal yang sama seperti yang kau alami," ucap Zhang Yuwen dengan matanya yang sendu.



Liu Shang hanya memperhatikan Zhang Yuwen yang terus kehabisan darah. Lalu, pria itu terjatuh dengan Putri kecilnya yang masih ada di pelukannya. Namun karena kayu yang masih bersarang di dada Zhang Yuwen, pria itu tak benar-benar terjatuh ke tanah.


Pria itu hanya terduduk di antara tanah yang telah bercampur menjadi darah.


Saat itu Li Wei juga telah kehilangan kesadarannya.


Liu Shang berucap dengan nada pelan. "Biarkan dia bersama Putrinya untuk terakhir kalinya."


Setidaknya Liu Shang mengerti tentang itu.


Namun tak semua orang mengetahui tentang sebuah kenyataan.


Zhang Yuwen memang mati sebagai manusia. Akan tetapi, karena jiwanya yang penuh dendam dan kemarahan, ia mengorbankan jiwanya untuk menjadi seorang iblis. Di saat semua orang berpikir jika Zhang Yuwen sudah mati, pria itu sebenarnya menjadi seorang iblis yang kelak di masa depan terus membantai dengan sangat keji.


***


Dalam sejarah Kerajaan Li ada lima bencana yang membuat ketakutan semua orang.


Kau tak tahu?


Bagaimana bisa kau tak tahu? Itu adalah hal yang sering disebut sepanjang cerita ini dituturkan. Semuanya berawal dari mulut ke mulut.


Mereka adalah lima bencana di Kerajaan Li.


Namun yang paling brutal dan keji di antara segalanya adalah Tirai Darah, Zhang Yuwen.


Jika Hua Yifeng membunuh dengan sangat rapi atau Shen Qibo yang membantai hanya dalam satu periode, tetapi Zhang Yuwen berbeda. Selamanya Zhang Yuwen akan membantai siapapun yang masuk dalam wilayahnya. Cara membunuh yang mengerikan.


Zhang Yuwen akan melukai korbannya dan membiarkan mereka tergantung di pepohonan hingga darah mereka mengering. Ini cukup mengerikan untuk disebutkan. Namun dari sanalah gelar Tirai Darah tersemat pada Zhang Yuwen.


Itu karena seorang anak kecil yang entah bagaimana bisa selamat dari kekejaman Zhang Yuwen. Anak kecil itu bercerita jika ia keluar dari tirai darah di hutan, dan kembali dengan sehat. Walau dengan keadaan yang dipenuhi darah dan ketakutan.


Dari sanalah mereka mulai menyebut Zhang Yuwen sebagai Tirai Darah.


Akan tetapi, ada keanehan dari Zhang Yuwen yang akhirnya mereka sebut pengecualian.


Zhang Yuwen nyatanya tak pernah membunuh anak kecil, terutama gadis kecil.


Tak ada yang tahu alasannya. Hanya saja ... Yah, ini hanya sekadar cerita.


Mana tahu yang benar atau salahnya.


***


--- XiaoPedia---


Karakter dalam novel ini.



Yi Hua (di kehidupan sebelumnya bernama Li Wei)



Relasi:

__ADS_1


-Shi Heng (Ayah), sebenarnya saat terbangun menjadi Yi Hua, ia tak tahu dimana ayahnya ini berada. Tapi katanya Shi Heng meninggal dalam perjalanan saat bertugas.


-Yi Xia (Ibu), di salah satu bab diceritakan Yi Xia sudah menghilang di dunia ini karena kehilangan kekuatannya sebagai Dewa.


-Shi Qingnan (Sepupu), hubungan mereka kurang baik. Diketahui jika Shi Qingnan memiliki hubungan dengan teman masa kecil Yi Hua, Ming Fan. Shu Qingnan tidak tahu jika Yi Hua itu perempuan.


-Ming Fan (teman), Ming Fan tahu jika Yi Hua perempuan. Untuk menutupi kedok itu, Ming Fan sejak kecil dijodohkan dengan Yi Hua hanya agar Yi Hua terlihat 'laki'.



Hua Yifeng (Tuan Hua, An)



Diberi nama 'Hua' yang artinya bunga. Itu karena Ling Xiao bertemu Hua Yifeng saat masih kecil di gunung Hua. Semakin dewasa Hua menambah nama belakangnya 'Yifeng', sehingga Hua menjadi marga atau nama keluarganya. Meski menjadi anak angkat Ling Xiao, Hua Yifeng tidak mengambil marga 'Ling' untuk nama keluarganya. Gelarnya adalah Pemilik Gunung Hua, karena dia adalah Raja di kota 'makhluk lain' di Gunung Hua. Sering disebut Iblis Kehancuran, karena sejarahnya (katanya) yang membantai seluruh orang kerajaan Li terdahulu.


Relasi:


-Orangtua kandung tidak diketahui. Hanya saja dia adalah salah satu keturunan Klan Bao. Kayanya Klan Bao memiliki keistimewaan di darahnya yang bisa membuat takut hewan buas dan menetralkan racun.


-Ling Xiao (Ayah Angkat), tapi di masa Yi Hua Ling Xiao malah sering disebut sebagai sahabat Hua Yifeng. Ling Xiao itu mantan peramal di Kerajaan Li.



Keluarga Kerajaan Li:



-Yang Mulia Raja Li, nama asli tidak pernah disebut. (meninggal).


-Permaisuri Jiang Ning (meninggal)


- Li Jun (meninggal)


- Li Chen (meninggal)


- Li Wei (meninggal), di masa depan dia terlahir kembali menjadi Yi Hua (pemeran utama kita wuyy .. Jangan sampai lupa).


- Li Shen ( Yang Mulia Kerajaan Li yang sekarang).


- Li Quon, (Putra Mahkota Kerajaan Li sekarang) Anak Li Shen dengan Selir Wen. Yaps ... Sebenarnya keponakannya si pemeran utama nih.



Keluarga Liu:



- Liu Xingsheng (Perdana Menteri Kiri Kerajaan Li)


- Liu XinQian (Selir Qian)




Perdana Menteri Kanan, Huan Ran.




Peramal Legendaris, Ling Xiao.




Penasihat Kerajaan, Wang Zeming.




Keluarga Wei:




- Wei Qionglin (Jenderal Besar Kerajaan Li yang sekarang)


- Wei Wuxie (meninggal)




Lima Bencana Besar Kerajaan Li




Putri Hitam, Li Wei.




Iblis Kehancuran, Hua Yifeng.




Tirai Berdarah, Zhang Yuwen.




Pendeta Buta, Shen Qibo (meninggal ketika bertarung dengan Yue Yan)




Tengkorak Putih, Bao Jiazhen (masih belum nampak hilalnya di novel ini)




Karakter tambahan.




Zhang Yi ( Pejabat yang bunuh para gadis untuk menghidupkan kekasihnya kembali)




Fang Yin ( Kekasihnya Zhang Yi)




Zi Si (pelayannya Li Quon pas kasus penyakitnya si putra mahkota)




Wei Fei (Si Penari yang jadi korban eksperimen)




Pengawal Bercadar yang pernah ngurung Yi Hua di Istana Awan, Hua Yifeng. Ini cuma muncul di bab awal. Tapi di kemudian hari bakalan muncul lagi karena dia 'agak' penting.




Raja Xin Wantang (di flasback)




Permaisuri Raja Xin, Su Nan (di flasback)




Liu Sang (di flasback). Agak penting untuk diingat karena berhubungan dengan karakter inti.




Bao Tian (Anaknya Zhang Yuwen)




Hufftt ... Banyak banget ya karakter di novel ini. Aku aja lupa-lupa ingat. Heran juga ni nama kok bejibun yah.


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.


Mari bertemu di chapter selanjutnya.

__ADS_1


Adios~


__ADS_2