
Ketika memasuki labirin Li Wei mulai merasakan hal yang aneh. Meski begitu, ia tetap berjalan masuk dengan diikuti oleh Wei Wuxie dan Zhang Yuwen. Akan tetapi, perasaan aneh ini jelas bukan hanya dirasakan oleh Li Wei.
Ini perasaan berdebar yang agak aneh. Seperti kau tengah buang angin di dalam ruangan yang tertutup.
Seperti itulah kau bisa mendefinisikan situasi saat ini. Bagaimana pun Li Wei punya pemikiran itu, dan ia segera berhenti. Ketika ia ingin memberitahu Wei Wuxie, pria itu tampaknya juga memahami apa yang terjadi.
"Apakah sekarang saya sedang jatuh cinta hingga jantung ini mulai berdebar?" tanya Zhang Yuwen sambil bersandar di labirin dari batu itu.
Li Wei memperhatikan Zhang Yuwen, dan menyadari jika Zhang Yuwen berkeringat lebih banyak daripada yang seharusnya. Udara telah mendingin karena hari mulai malam, sehingga suhu udara harusnya dingin. Sepertinya memang ada yang salah di sini.
Padahal mereka baru saja memasuki labirin batu.
Wei Wuxie juga merasa kelelahan yang lebih besar daripada biasanya. "Saya pikir memanah bukanlah satu-satunya ujian pada Perburuan Malam."
Itu benar.
Dari lokasi mereka berburu juga sudah aneh. Biasanya Perburuan Malam itu di hutan, agar mereka bisa berburu binatang. Namun sejak lokasi berburu di tentukan, kerajaan berarti telah menyiapkan sesuatu untuk mereka. Harusnya mereka memastikan itu sebelum masuk.
"Jika seperti itu, bukankah mereka tak segan untuk membuat kita menyerah sebelum berburu?" tanya Zhang Yuwen yang memiliki napas terputus-putus. Seolah pria ini baru saja berlari kencang.
Li Wei mendadak mencium aroma yang lain. "Apakah kalian menciumnya?"
"Zhang Yuwen, kau harusnya tak buang angin sembarangan. Kau ini pasti kelelahan karena menahannya terlalu lama, bukan?" Entah mengapa Wei Wuxie jadi lebih banyak bicara sekarang.
Zhang Yuwen yang biasanya bersikap santai menjadi berang. Ia menunjuk pada Wei Wuxie seperti bandit menagih uang. "Meski aku di matamu hanya seperti makhluk tersesat, tetapi aku ini berwibawa dan mempesona. Bagaimana bisa kau menyebutku buang angin, dan bahkan di depan Putri?" bantah Zhang Yuwen tak terima.
Li Wei juga merasa ingin mengomel pada Zhang Yuwen. Terutama ketika mendengar ucapannya. Akan tetapi, itu sedikit tak beralasan. Biasanya mereka juga tak begini, apalagi untuk menanggapi mulut Zhang Yuwen yang tanpa penahan. Lagipula, Wei Wuxie adalah tipe paling damai dari semua orang yang pernah Li Wei temui.
"Dari segi mana kau mempesona? Apa kau tahu betapa terganggunya aku mendengar suaramu itu? Kau bisa menjauhkan buruan kita nantinya," ucap Wei Wuxie yang benar-benar terlihat marah.
Zhang Yuwen jelas tak akan menerima itu semua. Ia maju untuk memukul ke arah Wei Wuxie, dan Wei Wuxie jelas sudah mempersiapkan dirinya menerima serangan. Lihatlah! Bukankah perasaan mereka semua sangat berantakan?
Namun dari sana Li Wei mulai menyadarinya.
"Berhenti! Apa kalian ingin bertengkar di sini? Bukankah kalian tak merasa aneh sedikitpun dengan suasana di sekitar kita?" tanya Li Wei yang sebenarnya juga terbawa emosi.
Entah mengapa mereka menjadi seperti ini.
Wei Wuxie menatap ke sekelilingnya, "Memang ada yang aneh! Itu adalah karena kita berputar-putar di tempat yang sama."
Itu benar. Sejak mereka memilih jalan masuk d pintu samping, labirin membawa mereka menuju jalan yang sama. Bahkan sekarang Li Wei masih melihat pintu masuk mereka. Dengan kata lain, jalan yang mereka pilih ini bukanlah jalan yang benar.
"Kau yang membuat keributan karena hal yang kecil inilah yang membuat kita tidak fokus, Wuxie." Anehnya Zhang Yuwen yang biasanya tak perduli pada komentar orang lain malah membara sekarang.
Wei Wuxie menunjuk ke arah Zhang Yuwen, "Apa kau memang memiliki masalah dengan mulutmu itu? Karena suaramu yang berisik itu, aku jadi tak mengamati keadaan sekitar."
STAK
STAK
Li Wei yang jengkel berdiri di antara Zhang Yuwen dan Wei Wuxie. Lalu, dengan tangan kanan dan kirinya yang terangkat bersamaan, Li Wei menyentil dahi kedua temannya ini sekaligus. Menghentikan adanya pertengkaran yang tak jelas muaranya dari mana.
Zhang Yuwen mengusap dahinya karena tak menyangka jika sentilan jari Li Wei cukup sakit. Sepertinya Li Wei tak menahan-nahan tenaganya untuk menghentikan mereka. "Tuan Putri diam dulu ya. Nanti saya belikan manisan buah. Biar Zhang Yuwen ini menghadapi reinkarnasi gunung salju ini."
"Apa-apaan kau! Beraninya kau menyogok, Putri Li Wei," balas Wei Wuxie yang mungkin memecahkan rekor berbicara paling banyak di hari ini.
"Bisakah kalian mendengarkan aku dulu?" tanya Li Wei yang sudah mengepalkan tangannya ke udara. Siap memberi pukulan pada kedua orang ini.
Dengan sigap Wei Wuxie menarik bahu Zhang Yuwen untuk duduk berlutut di tanah seperti anak-anak yang dimarahi oleh ibunya. Zhang Yuwen jelas tak membantah ketika ditarik Wei Wuxie. Sebab, itu lebih aman ketimbang Li Wei mengamuk. Taruhannya besar jika membuat Li Wei marah.
"Kalian ini sedang terbawa suasana tak nyaman di sekitar ini. Bahkan kita juga berputar-putar sejak tadi di Labirin Batu ini. Apakah kalian tak menyadari ada yang aneh?" tanya Li Wei sambil melipat kedua lengannya di dada.
Wei Wuxie yang lebih cerdas dalam menangkap informasi jelas langsung paham. "Maksud Putri itu memang disengaja? Ada sesuatu yang mengontrol kita di sini hingga kita seperti berputar-putar."
Li Wei mengangguk, "Karena kita berputar-putar inilah yang mempengaruhi hati hingga terasa marah. Ini sangat aneh saat kita berdebat pada sesuatu yang biasanya sepele untuk kita."
Itu benar.
Mereka bertiga bisa berteman ialah karena Wei Wuxie dan Li Wei tak sedikit pun bermasalah pada mulut Zhang Yuwen. Sikap serius Wei Wuxie juga tak sampai mengekang Zhang Yuwen ini, apalagi mengaturnya. Namun hari ini mereka malah keluar dari kebiasaan mereka sendiri. Itu karena ada sesuatu yang membangkitkan emosi dan rasa lelah di hati mereka.
Tunggu sebentar.
__ADS_1
Zhang Yuwen berpikir sejenak. "Bukankah sebelumnya Putri mengatakan bahwa Putri mencium sesuatu?"
Benar.
Mengapa aku sampai melupakannya? Gara-gara kedua makhluk beda selera ini aku jadi lupa.
"Namun sekarang baunya tak ada," cetus Li Wei setelah mencoba memastikan lagi.
"Bukankah itu karena sudah terbawa angin? Labirin Batu adalah labirin terbuka di atasnya," ucap Wei Wuxie sambil menunjuk pada bagian atas labirin yang seperti bibir jurang.
"Labirin batu ini tercipta secara alami karena pengaruh air hujan dan aktivitas alam lainnya. Itulah yang pernah aku dengar. Sehingga tak aneh jika ada tumbuhan dan lumut yang menempel di batu-batu. Dan, itu tak menutup kemungkinan ada hewan atau tumbuhan yang bila dihirup aromanya bisa membuat kacau otak. Bahkan kita tanpa sadar memilih jalan yang sama terus-menerus," ucap Li Wei.
"Namun jika memang ada tumbuhan atau hewan itu, mengapa baunya hilang? Lain halnya kita dapat bertanya pada angin! Jelas itu tak bisa menjadi jawaban pasti," ucap Zhang Yuwen sambil mengamati di sekitar labirin.
Dan, Li Wei langsung menatap pada Zhang Yuwen yang kini mencongkel batu di dinding labirin, "Apa yang kau bilang tadi?"
"Saya tak mencuri apapun, Putri. Ini hanya batu, dan saya sedang memeriksanya," bela Zhang Yuwen sambil membuang kayu yang ia gunakan untuk mencongkel batu kecil yang tertempel di dinding batu.
Mendadak Li Wei lelah sendiri.
"Kau tadi bilang apa?" tanya Li Wei lagi untuk memastikan. Ia hanya tak mau jika dirinya salah berspekulasi.
Zhang Yuwen mengingat-ingat, "Jelas itu tak bisa menjadi ..."
"Bukan itu!" ucap Li Wei yang kelelahan, padahal mereka baru mulai masuk ke labirin batu.
Ini sangat berbahaya jika mereka tak menemukan penyebabnya. Salah-salah mereka akan terkapar di tanah karena kelelahan. Perburuan Malam ini memang bukan berburu yang biasa. Ini seperti mereka juga diburu oleh sesuatu.
Sebenarnya Zhang Yuwen terkesan menjadi orang yang lidahnya bergerak lebih cepat dari otak*, sehingga ia terkadang lupa apa yang disebutkan. Jika pun dia ingat, maka itu hanya sebagian kecilnya. Ia pun mengulang kata yang menurutnya 'pernah' di ucapkan sebelumnya.
"Bertanya pada angin ..." ucap Zhang Yuwen yang berusaha mengingat.
^^^*Maksudnya perumpamaan lidah yang bergerak lebih cepat dari otak adalah orang yang bicara tanpa dipikir terlebih dahulu. Kali aja ada yang gak paham 😅^^^
^^^PLAK!^^^
"Itu dia!" ucap Li Wei sambil memukul lengan atas Zhang Yuwen karena mendapat ide.
Zhang Yuwen hanya bisa mengusap lengan atasnya dengan sedih. Lain halnya jika Li Wei ini tidak sekuat sapi! Zhang Yuwen segera bangkit dari posisi berlututnya, dan kali ini membawa Wei Wuxie lagi untuk berdiri. Hanya agar Wei Wuxie tak mendapat pukulan juga dari Li Wei.
Sayangnya sikap perhatian Zhang Yuwen dibalas dingin oleh Wei Wuxie. Pria itu malah menepis tangan Zhang Yuwen dengan wajah datar. Hal itu membuat Zhang Yuwen melepaskan pegangan tangannya pada Wei Wuxie.
Baru kali ini Zhang Yuwen merasa tak punya sekutu.
"Putri, kita tak bisa bertanya pada angin," ucap Zhang Yuwen yang mendadak ingin menangis karena tertindas.
"Bukan secara langsung, Yuwen! Ini hanyalah maknanya. Maksudnya angin," jelas Li Wei dengan senyum senang di wajahnya.
Ini seperti mereka berhasil memenangkan taruhan di tempat judi!
Wei Wuxie lagi-lagi cepat mengerti. "Maksud Putri, jika bau itu memang ada, pasti sudah dibawa oleh angin?" tanya Wei Wuxie, tetapi pria ini sudah mendapat gambaran.
Li Wei mengangguk. "Jika memang dibawa oleh angin pasti baunya tak akan bertahan. Namun jika 'benda'nya masih ada, dan kita bisa tahu darimana asal baunya jika menyusurinya." Li Wei menunjuk ke arah Zhang Yuwen ketika menyebut itu.
Zhang Yuwen dengan agak jengkel memutar arah tunjuk Li Wei, "Jangan menunjuk ke saya jika berbicara tentang bau. Jadi, apa yang harus kita lakukan? Mencari asal dari benda itu dan menghancurkannya?"
"Lebih baik begitu. Namun kita belum tahu benda apa ini," ujar Wei Wuxie yang sepertinya kurang setuju dengan saran Zhang Yuwen.
"Apa jangan-jangan ini ulah dari hantu?" tanya Zhang Yuwen dengan ekspresi menakuti.
Li Wei berpikir. "Jika ini ilusi hantu, maka itu bisa jadi. Hantu juga bisa menyesatkan jalan, dan ini juga wilayah yang jarang didatangi. Akan tetapi, ini bukanlah hantu. Apa kau tidak melihat jimat yang diletakkan di pintu labirin?"
Jadi, untuk kemungkinan itu Li Wei bisa menghapusnya.
Wei Wuxie menganggukkan kepalanya. "Awalnya saat saya melihat jimat itu, saya berpikir jika Peramal Kerajaan juga ikut serta dalam menyiapkan tempat. Sehingga tak aneh jika tempat ini memiliki beberapa trik sihir."
Itu benar. Terutama saat Ling Xiao juga ada dalam jajaran penyelenggara Perburuan Malam. Bahkan Peramal Ling Xiao bisa menggerakkan patung batu dengan kekuatannya. Ini tak sulit bagi Peramal Ling Xiao untuk menyulitkan mereka.
"Untuk sekarang kita perlu mencari penyebab dari kacaunya emosi dan pikiran kita ini. Atau, kita tak akan bisa maju ke lokasi selanjutnya," jelas Li Wei yang menyadari bahwa mereka telah menghabiskan waktu mereka untuk berdebat.
Namun baru beberapa langkah mereka berjalan, tak lama beberapa orang-orangan kertas sebesar lima jari terbang ke udara. Lalu, tak lama benda itu terbakar di udara. Mereka bertiga hanya bisa terpaku.
__ADS_1
Orang-orangan kertas itu terbang dari berbagai arah, dan itu adalah lambang dari peserta. Meski tak diketahui siapa, tetapi jika lambang peserta itu terbakar di udara berarti gagalnya mereka dalam Perburuan Malam. Seperti yang dijelaskan oleh Guru Ling Xiao sebelumnya, pada busur panah yang mereka pilih tertempel kertas jimat. Sehingga jika pemiliknya telah menggunakan busur panah itu untuk melontarkan anak panah selama lima kali, jimat akan aktif dan membakar busur panah.
Jika lulus atau berhasil, maka kertas jimat itu akan terbang menuju Guru Ling Xiao yang menunggu hasil. Sehingga tak ada yang bisa berbohong tentang siapa yang berhasil menembak atau tidak. Kertas jimat telah dibuat berdasarkan darah pemiliknya. Li Wei ingat dia diminta untuk melukai jarinya sedikit untuk menandai kertas jimat miliknya.
Namun kertas jimat itu terbakar di udara. Juga, dalam jumlah yang banyak. Bahkan beberapa ada yang jaraknya tak jauh dari mereka bertiga.
Pertanda kegagalan. Belum ada yang lulus satu orang pun.
"Bukankah yang gagal dalam Perburuan Malam ini sudah cukup banyak sekarang?" tanya Zhang Yuwen dengan nada tak percaya.
Mungkin pengaruh ilusi itu tak hanya dirasakan oleh mereka bertiga saja. Yang lainnya juga terbawa ilusi dan merasa bahwa telah menemukan buruannya. Sehingga mereka memanah.
Dugaan Li Wei yang lainnya adalah mereka mungkin saling menyerang karena terbawa emosi.
Entahlah.
Hanya saja ...
Perburuan Malam ini bahkan lebih serius daripada latihan prajurit istana!
***
Para pejabat yang menunggu di alun-alun jelas merasa khawatir pada anak-anak mereka. Dengan jelas mereka mengetahui betapa sulitnya Perburuan Malam ini. Akan tetapi, semuanya sudah di putuskan di Pengadilan Tinggi. Tak ada yang bisa membantah atau merasa tak adil.
Sehingga ketika beberapa kertas jimat yang terbakar di udara muncul, keringat dingin sudah memenuhi dahi para pejabat. Menebak tentang siapa yang gagal itu, dan berdoa pada Dewa. Mungkin sudah lama sekali mereka lupa untuk berdoa, tetapi mereka berharap kertas jimat yang terbakar di udara bukanlah milik anak mereka.
Lebih dari segalanya Raja Li terlihat lebih tenang daripada yang lainnya. Hal itu membuat Permaisurinya bertanya, "Apakah Yang Mulia tidak khawatir pada Putri Li Wei?" tanyanya sambil menuangkan teh pada mangkuk milik Raja Li.
"Li Wei gagal sekali pun aku tak akan kecewa," jelas Raja Li dengan mudah. Bagaimana pun ia tak pernah ingin Li Wei hidup dalam keadaan yang berpolitik atau pertarungan.
Wang Zeming meminta izin untuk berbicara. "Yang Mulia, Putri Li Wei selalu berusaha semampunya."
Namun Li Wei memang sejak kecil sangat berbakat. Bahkan ketika hanya diajarkan as sedikit oleh Wang Zeming dulu, Li Wei dengan cepat memahaminya. Gadis itu sebenarnya lebih berpotensi dibanding seluruh saudaranya, Li Jun, Li Chen, dan Li Shen.
Raja Li memiliki ketiga putra dan satu orang putri. Keempat anaknya itu lahir dari ibu yang masing-masing berbeda. Meski Putra Bungsunya, Li Shen di bawah tanggung jawab Permaisuri karena ibu Li Shen yang meninggal ketika melahirkannya, tetapi Raja Li juga tak melihat potensi itu dari Li Shen. Hanya pada Putrinya, Li Wei.
Akan tetapi, pewaris tahta selalu ditentukan dari petunjuk Dewa. Sehingga jika suatu saat memang Dewa telah menurunkan petunjuknya melalui peramal kerajaan, maka Raja Li harus menerimanya. Walau ia sendiri mulai punya dugaan tentang siapa orangnya.
Sebenarnya pertarungan yang sebenarnya dimulai sejak peserta memasuki Labirin Batu.
Tak lama setelah itu, seorang prajurit dengan penutup wajah, yah ... mungkin sebut dia adalah anggota dari Tentara Malam, datang. Pria itu berlutut di hadapan Raja Li untuk melaporkan hasil dari pengawasan mereka. Termasuk laporan dari Li Jun yang mengawas langsung di dekat Labirin Batu.
"Yang Mulia, kami membawa kembali mereka yang gagal. Beberapa terbawa emosi, dan berkelahi. Namun yang tahan dengan semua itu masih cukup banyak," lapor pria dari anggota Tentara Malam itu.
Jelas berita itu membuat beberapa Pejabat bertambah resah. Di situasi seperti ini, sebelum ujian selesai, semua informasi mereka masih rahasia. Sehingga jika Perburuan Malam selesai baru mereka bisa mengetahui hasil akhirnya.
Ling Xiao yang sejak tadi diam mendadak menoleh. "Apakah belum ada yang menemukan benda itu?"
"Belum, Peramal Ling. Akan tetapi, kelompok Putri Li Wei sudah menyadari keberadaannya dan sedang mencari."
Wang Zeming tersenyum maklum. "Entah mengapa hamba tak terkejut," ujarnya pada Raja Li.
Ling Xiao mengangguk dengan ekspresi sangat tenang. Namun ketenangannya berubah ketika lembaran data peserta Perburuan Malam terbuka begitu saja. Yang melihatnya bukan hanya Ling Xiao, tetapi semua pejabat yang ada di tempat itu, termasuk Raja Li. Dari lembaran yang terbuka, kertas jimat baru keluar dan terbang ke udara.
Seperti yang sudah diketahui bahwa kertas jimat itu sudah memiliki tanda dari pemiliknya, yaitu darah. Jika tanda itu bereaksi, maka pemilik kertas jimat adalah penyebabnya. Dalam hal ini, kertas jimat itu adalah kertas jimat baru yang diselipkan Ling Xiao di data peserta. Menandakan jika jimat kertas itu belum dipasang ke pemiliknya. Berarti pemiliknya juga baru datang ke lokasi Perburuan Malam.
Raja Li memperhatikan punggung Ling Xiao yang misterius. Pria itu melihat hal lain yang biasanya tak dilihat oleh orang lain. Namun Ling Xiao tak mengatakan apa-apa tentang itu. Bahkan Ling Xiao melepaskan satu kertas jimat ke udara. Sebuah kertas jimat yang baru untuk peserta yang baru.
Kertas jimat ini perginya lebih terlambat daripada orang lain. Mungkinkah pria yang menjadi bahan perdebatan sebelumnya benar-benar datang?
Ling Xiao mengangguk begitu saja tanpa ditanya oleh Raja Li.
"Katakan pada Pangeran Li Jun, peserta bertambah satu," perintah Ling Xiao pada pria Tentara Malam yang melapor sebelumnya.
Lihatlah Dewa selalu berpihak pada Putri Li Wei. Saat gadis itu percaya, maka kepercayaannya menjadi nyata. Pria bermarga Hua itu datang dalam Perburuan Malam.
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
__ADS_1
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
Adios~