
TAP!
TAP!
Kemampuan 'kembali ke awal' aktif kembali. Kini matanya menjadi kebas karena cahaya yang sangat terang. Ia sangat lelah melihat cahaya ini, tetapi entah mengapa cahaya ini menuntunnya. Terus menuntunnya untuk masuk tanpa henti.
Itu sangat menakutkan.
Lalu, di sana ia melihat punggung kecil dari seorang gadis. Gadis itu tengah berlari dengan kencang menuju sebuah bangunan yang agak mewah. Di belakangnya ada sosok kecil seorang pria kecil. Sama seperti sudut pandang sebelumnya, Yi Hua hanya bisa melihat bayangan itu dari belakang.
Apakah itu dirinya lagi?
Yi Hua masih ingat bentuk wajah dari dirinya sebelumnya. Akan tetapi, ia masih belum tahu siapa dirinya di kehidupan ini. Ditambah lagi dengan kondisi di dunia ini belum ada gambar yang bisa benar-benar mempresentasikan wajah asli. Lukisan pun hanya bisa mirip, dan belum tentu mirip sempurna. Lagipula, ia tak yakin jika dirinya memiliki lukisan diri sendiri di kehidupan ini.
Akan tetapi, mengapa ia berlari?
Yi Hua melirik ke sekelilingnya. Entah mengapa dia merasa familiar dengan sekelilingnya. Ini seperti tempat yang sering dirinya lihat di kehidupannya sebagai Yi Hua. Walau cenderung agak berbeda kondisinya.
Dirinya sungguh tak yakin lagi.
Dan, di sini ... Mata Yi Hua terpaku pada bangunan yang ada di hadapannya. Bukankah ini Istana Pengobatan?
Yi Hua adalah pengunjung setia di istana itu, sehingga dia tak akan salah lagi. Meski begitu, bangunan istana pengobatan terlihat lebih kecil dibandingkan sebelumnya. Itu sudah menunjukkan zaman bahwa mungkin istana ini adalah penampakan sepuluh atau belasan tahun sebelum zaman Yi Hua sekarang.
Jika seperti itu, mungkin jika dirinya masih hidup, usianya akan sama seperti Ayah Yi Hua.
Ini hanyalah kemungkinan saja.
"Kak, apa yang kau lakukan?" tanya seorang pria kecil yang sejak tadi mengikutinya.
Pria kecil ini memanggilnya dengan sebutan kakak. Hal itu membuatnya mengulurkan tangan untuk menyentuh si pria kecil. Akan tetapi, pria kecil itu mendadak lebur. Kemudian, menjadi lautan merah. Bukan ... Itu bukan lautan, tetapi darah yang berceceran di istana.
"Kami memperjuangkan titah Dewa! Raja selanjutnya yang naik tahta bukanlah dari keluarga Raja Li," teriakan itu terdengar di telinganya dengan sangat keras.
Lalu, ...
"Bukan ini yang aku inginkan. Pemberontakan! Tidak! Bukan pemberontakan. Jangan saling berperang. Ku mohon," pinta sosok itu yang kini tak lagi bersih. Di tangannya telah berlumuran darah.
Awalnya sosok ini terlihat sangat cantik dengan pakaiannya yang berwarna-warni. Namun sekarang pakaiannya telah berlumuran dengan darah. Itu semua sudah menunjukkan betapa buruknya perang di Istana Kerajaan Li.
TAP!
TAP!
"Kakak, dia adalah adik kita. Bagaimana bisa kita berperang dengannya?" Suara itu terdengar lagi di sekeliling Yi Hua.
"Maka kita perlu menghentikan suara rakyat. Yaitu, dengan menjadikan dia sebagai kambing hitam. Kita sebut dia pengkhianat!" Suara itu terdengar sangat jelas. Seolah dirinya mendengar secara langsung ucapan itu dengan telinganya sendiri.
Siapa yang berkhianat? Siapa yang membuatnya terlihat berkhianat?
__ADS_1
Suara langkah kaki terdengar begitu keras hingga ia hanya bisa menutup kedua telinganya. Hanya bisa menangis keras melihat pertempuran di Kerajaan Li. Belum lagi dengan perang saudara ini.
JLEB!
Darah terpercik keras ke depan wajahnya hingga memenuhi wajahnya. Mengalir dengan mengerikan di pakaiannya. Ia sangat ingat bahwa itu adalah sesuatu yang sangat mengerikan.
Lalu, pandangannya tertuju pada sosok yang berdiri di depannya. Wajah tua dari wanita itu membuat air matanya menetes sangat deras. Wanita ini berdiri di depannya dan menerima tusukan pedang untuknya.
Bibirnya bergetar dengan kencang. "Ibu." Bibir keringnya hanya bisa berucap dengan sangat pelan
Tangan wanita tua yang ia panggil ibu itu terulur ke wajahnya. Menghapus darah yang mengalir di wajahnya, dan juga air matanya. Akan tetapi, air matanya tak bisa berhenti begitu saja. Belum lagi rasa sakit di hatinya.
"Semua ini salahku."
BRUK!
***
"Yi Hua!"
"HAHHH! HAHHH!" Yi Hua bernapas seperti baru saja terendam ke dalam air dalam waktu yang lama.
Rasa sakit di lengannya masih ada, dan itu mulai berdenyut lagi. Seperti mengingatkan Yi Hua tentang batas waktu dari racun itu. Pasti Paman itu akan merasa sangat aneh jika mati tanpa rasa sakit. Itu semua karena rasa sakitnya berpindah ke Yi Hua, tetapi racunnya masih di tubuh Paman itu.
Memang hal ini agak tak rasional, tetapi memang itulah kenyataannya.
Wei Qionglin membantu Yi Hua untuk bangkit. Dan, setelah ia mengucapkan terima kasih, Yi Hua berdiri dengan kedua kakinya sendiri. Tatapannya berusaha fokus pada percikan cahaya di kegelapan.
Rupanya pertarungan sedang berlangsung. Apa mereka tak lelah?
Aku bahkan seperti mengalami semalaman di dalam kenangan, dan mereka masih bertarung!
Juga ...
"Xiao, tunjukkan arah di mana lubang itu berada!" perintah Yi Hua di dalam hati.
Namun suara Xiao muncul agak lama seolah sistem itu baru hidup kembali. Sebab, setiap kali Yi Hua terganggu, Xiao juga akan terpengaruh. Mungkin karena sistem itu melekat padanya seperti bagian tubuhnya sendiri.
"Ikuti saja arah tumpukan ular itu. Kau akan tahu darimana mereka muncul," jelas Xiao dengan suara yang sangat tenang. Padahal biasanya sistem itu tak pernah tenang sedikit pun.
Yi Hua mengganggukkan kepalanya sambil berusaha berdiri sendiri. Penampilan pasti sudah sangat berantakan seperti habis dibawa lari dengan sapi. Itu adalah sesuatu yang tak bisa dihindari lagi karena Yi Hua sejak awal sudah terkapar di tanah. Pakaian putihnya sudah berubah warna seperti sapi yang kurang perawatan.
Dengan jimatnya yang tersisa sedikit Yi Hua menerbangkan jimat itu untuk menjelajah ke udara. Saat itu ia memang melihat potongan-potongan tubuh ular itu yang tampak dari kejauhan. Keringat Yi Hua tak henti-hentinya keluar, dan dia sudah merasakan bahwa hidungnya mimisan.
Ini sangat buruk jika dia tak bergerak cepat.
Wei Qionglin menghela napasnya ketika melihat wajah Yi Hua yang hanya sempat ditayangkan oleh sedikit cahaya. Meski hanya sekilas, Wei Qionglin bisa melihat betapa kacaunya Yi Hua. Peramal ini terlihat sangat berantakan hingga Wei Qionglin berpikir Yi Hua mungkin punya penyakit lama.
Untuk pertama kalinya Wei Qionglin menatap seseorang begitu banyak.
__ADS_1
"Dan, yang menyedihkannya aku menatap pada Yi Hua yang merupakan seorang 'pria'," dengus Wei Qionglin di dalam hati.
Yi Hua menunjuk ke arah cahaya api dari jimat yang ia kirimkan. "Ikuti arah apinya, Jenderal Wei."
Hal itu yang membuat Wei Qionglin segera sadar kembali. Bagaimana pun dia bukan dalam situasi yang dimana ia bisa tatap-menatap. Mereka sangat genting, dan meski Wei Qionglin tak tahu, dia yakin Yi Hua punya rencana. Entah mengapa Yi Hua memang tak pernah ingin mengatakan apa-apa padanya.
Lalu, Yi Hua menatap ke arah dua pedang yang masih menimbulkan kilat di dalam gelap. Ia seharusnya memanfaatkan keadaan ini untuk menciptakan cahaya.
"Tuan An, tolong buat percikan api lebih besar. Kami akan pergi ke arah matahari terbit," ujar Yi Hua cukup keras.
Setidaknya aku hanya memanfaatkan keadaan sekitar. Lumayan bukan cahaya gratis.
Mendengar perintah Yi Hua, An langsung memberi serangan sangat cepat pada Shen Qibo. Hal itu membuat Shen Qibo juga memepercepat gerakannya. Bahkan lebih liar daripada serangan sebelumnya. Mereka berdua terlihat seimbang dalam percikan api di pedangnya. Itu sudah menunjukkan betapa intens pertarungan itu. Bahkan kedua besi pedang pun bisa bergesek begitu keras dan menghasilkan api.
Namun berkat itu semua orang mulai bisa melihat dengan lebih baik. Meski hanya seperti api kelap-kelip. Yi Hua pikir dia hanya perlu menambahkan musik, maka ini akan segera menjadi pertunjukan.
Entahlah. Yi Hua hanya terkadang sering berpikir ke sana-sini hingga pikirannya bisa mencapai kinerja sapi terbang.
Wei Qionglin yang baru tahu jika petarung itu adalah An langsung menarik pedangnya. Pria itu mungkin akan membantu pengawal berwajah tenang itu. Akan tetapi, Yi Hua merentangkan tangan kanannya. Menghalangi Wei Qionglin untuk ikut bertarung.
"Yi Hua, bagaiamana pun yang dilawan oleh Tuan An adalah seorang Raja Iblis!" bantah Wei Qionglin untuk tetap menjadi pihak yang melarikan diri.
Namun Yi Hua menggelengkan kepalanya sambil menatap pada arah percikan cahaya. "Kita hanya akan menjadi bebannya. Lagipula, Tuan An tak akan kalah dari Shen Qibo."
Mengapa Yi Hua bisa seyakin itu?
Dan, Wei Qionglin hanya bisa menurut pada apa yang Yi Hua sarankan. Meski agak tak nyaman, Wei Qionglin memimpin orang-orang untuk menuju ke arah api yang dibuat oleh Yi Hua. Mereka tak boleh saling membebani satu sama lainnya.
SRET!
Yi Hua berjalan dengan lemah sambil menyentuh lengannya. Akan tetapi, baru beberapa langkah Yi Hua menolehkan kepalanya. Ia melempar kertas jimatnya ke arah pertarungan. Dan di sana ia bisa melihat wajah pria yang seharusnya Yi Hua kenali. Terutama saat melihat garis berwarna merah dari pipi kiri pria itu.
Sebuah tanda yang selamanya akan tertera di wajah pria itu. Tanda yang memang seharusnya ada di sana, walau Yi Hua tak tahu penyebabnya apa. Biasanya seseorang mungkin menyembunyikan luka di sana.
Jujur saja mungkin sudah saatnya Yi Hua melakukan hal ini. Tanpa sadar bibir Yi Hua menarik senyum tipis. Itu agak kelu untuk mengetahuinya.
"Berhati-hatilah," ujar Yi Hua sebelum memadamkan jimatnya sendiri.
Lalu, ia pergi tanpa mendengar jawaban apapun dari An.
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
Adios~
__ADS_1