Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Putri Li Wei 13: Longsoran Batu


__ADS_3

"Lalu, bagaimana cara kita menemukan letak dari pengendali Mayat Berjalan ini?" tanya Wei Wuxie yang sedikit tak mengerti dengan sesuatu yang berbau mistis.


Masalahnya Wei Wuxie dalah orang yang hidup dengan menggunakan pelatihan pedang. Ia terbiasa bertarung fisik, dan sangat jarang bertemu dengan hal yang seperti ini. Bahkan keluarga Wei adalah bangsawan yang turun-temurunnya sebagai Jenderal Perang.


Tidak ada peruntungan atau ramalan dalam perang. Yang ada ialah strategi.


Zhang Yuwen menatap pada Hua yang sangat tenang. Pria itu tak berniat berbicara pada mereka meski berada di kelompok mereka bertiga. Hanya saja ia yakin Hua ini memiliki pengetahuan yang di atas orang lain. Walau identitas Hua ini agak membingungkan.


Apalagi dengan kemampuannya. Ketika mereka dikejar-kejar oleh Mayat Berjalan, tak ada yang berani mendekati Hua. Hal itu yang membuat Li Wei juga terlindungi. Semua Mayat Berjalan yang menghadang mereka menuju ke arah Zhang Yuwen dan Wei Wuxie.


Ini tentu saja aneh.


Li Wei juga ikut menatap Hua, dan ketika pria itu juga menatap padanya, Li Wei langsung pura-pura berkedip sebanyak yang ia bisa. Bagaimana pun dengan jarak sedekat ini, akan sangat aneh jika mereka berpandangan. Masalahnya bukan karena Li Wei ingin memandang Hua, tetapi dia ingin meminta pendapat Hua.


SRET!


Karena itu Hua langsung keluar dari persembunyian mereka. Terutama saat asap di sekitar telah mengepul. Itu adalah yang diinginkan oleh Wei Wuxie. Jika rumput dibakar, ketika padam asapnya masih ada.


Ditambah lagi mereka sekarang perlu mengantisipasi adanya musuh lain. Dengan kabut asap ini Mayat Berjalan akan sedikit terkecoh dengan aromanya.


Li Wei juga ikut keluar diikuti oleh kedua temannya. Di sana ia menatap pada punggung Hua yang tegap. Lalu, tangan pria itu meraih pedang tipis yang sangat biasa. Li Wei sering melihatnya di pasaran, dan jelas Hua tak begitu perduli pada senjatanya sendiri.


Kehebatan senjata bukan terletak pada hebatnya pedang, tetapi hebatnya si pengguna pedang.


"Ayo," ucap Hua yang menunduk di depan Li Wei.


Eh?


"Sepertinya tidak perlu, Tuan Hua," ucap Li Wei yang merasa tak enak.


Padahal akan sangat merepotkan jika Hua selalu menggendong Li Wei. Lain halnya mereka sedang berjalan-jalan. Mereka ini sedang bertarung dengan para Mayat Berjalan. Bukannya sedang berkeliling Pusat Kota untuk melihat pemandangan.


Hua menoleh pada Li Wei dari samping. Hal itu langsung membuat Li Wei hanya bisa pasrah. Ia memeluk leher Hua, dan pria itu bangkit dengan mudah. Ini seperti Li Wei tak begitu mengganggu untuk Hua.


Zhang Yuwen mengikuti mereka berdua, "Kaki Putri yg pendek itu tak akan bisa digunakan lagi jika terluka lebih parah dari ini."


Li Wei jelas merasa sakit di kakinya. Akan tetapi, ia tak tahu jika akan separah itu. Di atas bahu Hua ia melihat ke arah kakinya sendiri, dan melihat seperti cetakan kelima jari di pergelangan kakinya. Sejak kapan ia terkena bubuk mayat?


Lebih dari segalanya Hua bahkan tak mengatakan apa-apa, tetapi ia sudah mengetahuinya. Li Wei bahkan baru ingat jika dirinya sempat terjatuh karena ditarik oleh mayat berjalan dari dalam tanah.


"Tuan Hua, maaf merepotkan," ucap Li Wei yang merasa tak enak.


"Hmmm ..."


Untuk sekarang Li Wei sudah terbiasa dengan tanggapan Hua yang sangat singkat.


Saat ini mereka tengah berjalan, tetapi dengan suara yang seminim mungkin. Mereka tak boleh membiarkan para Mayat Berjalan ini menyadari keberadaan mereka. Jelas mereka harus menghemat tenaga, daripada berlari sambil bertarung.


SRET!


Langkah Hua terhenti ketika Wei Wuxie mendadak berdiri di depannya. Li Wei yang ada di gendongan Hua mau tak mau menatap Wei Wuxie tak mengerti. Terutama dengan wajah datar Wei Wuxie yang seperti menantang.


"Maaf merepotkan, Tuan Hua. Kami bisa mengurus Putri, karena kami terbiasa saling membantu," ucap Wei Wuxie yang entah karena apa. Mungkin Wei Wuxie merasa tersinggung dengan tanggapan Hua pada Li Wei.


Bagaimana pun terlihat sekali penghormatan Wei Wuxie pada Li Wei. Itu cukup besar, dan Wei Wuxie selalu mengikuti Li Wei akhir-akhir ini. Lalu, Zhang Yuwen bergabung bersama mereka. Jelas Wei Wuxie tak membiarkan Hua bersikap kasar pada Li Wei.


Li Wei yang berada di antara dua bongkahan es. Maksudnya itu Wei Wuxie dan Hua, mereka sama-sama pendiam dan datar seperti saku akhir bulan para pembaca. Sehingga Li Wei tak bisa berkata apa-apa untuk menanggapinya.


Namun Hua jelas terlalu tak perduli pada keadaan. Ia bergeser dan berjalan lagi seolah ia tak perduli pada Wei Wuxie. Akan tetapi, Wei Wuxie berkata lagi, "Jika memang Anda tak berniat memeluk bunga, jangan petik dia."


Apa maksudnya?


Li Wei yang agak-agak tak mengerti apa yang dimaksud oleh Wei Wuxie. Ia hanya menoleh pada Wei Wuxie yang masih berdiri di belakangnya. Namun Hua masih berjalan di ke depan sehingga Li Wei tak bisa melihat ekspresi dari Wei Wuxie.


Sebenarnya apa yang terjadi di sini?


Zhang Yuwen mengangkat tangannya sambil mengusap pinggangnya sayang. "Daripada berebut untuk menggendong Putri, masih ada saya yang perlu digendong di sini."


Akan tetapi, Wei Wuxie juga tak memperdulikan Zhang Yuwen. Pria itu berjalan mengikuti Hua yang lebih dahulu berjalan dengan tenang. "Hey, katanya tadi saling membantu."


Zhang Yuwen ingin protes dengan suara yang lebih besar, tetapi dia tak bisa mengatakannya. Atau, Mayat Berjalan ini akan memindai arah suara mereka.


KREK!


Baru saja dalam suasana tenang, kaki Zhang Yuwen sudah menginjak ranting kering. Hal tersebut membuat seluruh pandangan menuju ke arah kaki Zhang Yuwen.

__ADS_1


"Grrhhh." Dengungan itu terdengar seperti orang mengeram.


Tentu saja para Mayat Berjalan ini bisa mendengar arah suara itu. Apalagi suara ranting yang diinjak cukup nyaring. Wajah Zhang Yuwen langsung memelas. Mengasihani kesialan dirinya.


Ketika Mayat Hidup itu mulai berjalan menuju ke arah suara, yaitu Zhang Yuwen. Wei Wuxie segera memberi aba-aba agar Zhang Yuwen beranjak sedikit demi sedikit.


SRAT!


KLAP!


KLAP!


Li Wei menatap ke atas mereka berpijak lagi. Suasana itu persis sama dengan yang dialaminya sebelumnya, yaitu kerumunan kelelawar yang memenuhi langit. Jadi, kelelawar ini bukanlah 'mainan' yang dibuat oleh Ling Xiao!


Beruntung aku tak serakah dan ingin mendapat buruan saat itu!


Jika saja waktu itu Li Wei berniat menambah poin Perburuan Malam-nya lagi, dan memanah salah satu kelelawar, maka dia akan habis. Siapa yang menyangka jika kelelawar yang memenuhi langit ini adalah gerombolan yang asli. Bisa-bisa Li Wei sudah berpindah alam hanya karena mengganggu pertemuan para kelelawar ini.


"Sudah dekat," ucap Hua yang membuat Li Wei memperhatikan ke sekelilingnya.


Jika Hua mengatakan sudah dekat, maka yang dimaksud adalah tempat pedang terkutuk itu ditanam. Masalahnya adalah apakah mereka harus menghancurkan pedang yang sudah ditanamkan di tempat ini?


Tak ada yang tahu betapa mengerikannya pedang yang dipenuhi dendam itu. Lebih dari segalanya pedang itu juga diberi segel agar tak bisa menebarkan kutukannya. Akan tetapi, jika pedang itu sudah bisa menarik energi buruk dan menghidupkan Mayat Berjalan, mungkin saja ...


"Segel yang terpasang di pedang sudah menghilang," ucap Li Wei setengah tak percaya.


Bagaimana pun jika sebuah pedang disegel, yang bisa melepaskannya hanya dua. Pertama adalah yang memberi segel, dan yang kedua adalah pemilik pedang itu sendiri. Atau, ... Bisa jadi ini sudah terlalu lama hingga segel itu tak sekuat dahulu, apalagi jika yang menyegelnya jelas sudah tiada.


Entah siapa dahulu yang punya kekuatan untuk menyegel pedang itu di sini.


"Dalam sejarah disebutkan bahwa kelelawar adalah pertanda kutukan dari Pangeran Penduka," jelas Wei Wuxie yang memang sering membaca buku tentang sejarah dan persoalan politik di Kerajaan Li.


SRAT!


"Awas!" teriak Zhang Yuwen ketika melihat seekor kelelawar yang hampir menyambar ke arah Wei Wuxie.


Beruntung Wei Wuxie lebih cekatan, dan segera menundukkan kepalanya. Sepertinya kelelawar ini menjaga daerah dimana pedang itu berada, sehingga mereka sekarang terlihat seperti mengganggu mereka. Hal tersebut membuat Li Wei merasa aneh, padahal saat Li Wei sendirian kelelawar ini tak berbuat apa-apa.


"Lari," ucap Hua sambil menebas seekor kelelawar yang terbang rendah ke arah mereka.


Suara gerombolan kelelawar yang mengejar mereka sudah seperti gerombolan lebah. Zhang Yuwen mengambil obor dari pinggir, dan melemparnya ke atas. Seketika gerombolan kelelawar itu memecah karena menghindari api.


Berkat itu mereka bisa berlari agak jauh, dan Hua mendadak berhenti.


Mau tak mau Zhang Yuwen dan Wei Wuxie juga ikut berhenti.


"Ada apa?" tanya Li Wei dengan nada bingung. Ia bahkan merenggangkan sedikit lengannya yang memeluk leher Hua karena takut Hua berhenti karena tercekik.


Saat sedang dalam keadaan genting mana aku tahu jika tanganku mencekik orang tanpa sengaja.


Lucu sekali jika itu terjadi, karena bisa menjadi sebuah informasi aneh seperti, "Seorang Putri Kerajaan Tanpa Sengaja Mencekik Manusia dengan Inisial 'H' karena Sedang Panik".


Entah mengapa Li Wei sempat-sempatnya memikirkan tentang hal itu.


Kemudian, Hua memperhatikan keadaan di sekelilingnya. "Ada yang aneh."


Bukannya sedari tadi memang di sekitar mereka sudah aneh?


Mulai dari mereka yang selalu berputar-putar di tempat yang sama. Kemudian, munculnya Mayat Berjalan beserta kelelawar satu kampung. Lalu, hal apa yang lebih aneh dari itu semua?


TAP!


TAP!


Suara itu ...


Li Wei menoleh ke belakang ketika mendengar suara seperti tanah yang runtuh. Akan tetapi, yang runtuh jelas bukanlah tanah. Melainkan dinding labirin di sekitarnya.


Hal itu tentu saja menjadi hal yang menakutkan saat dinding labirin yang tinggi mendadak runtuh. Sedangkan mereka masih berada di sekitarnya. Paling buruknya adalah mereka terkubur di sini karena runtuhan batu.


Baru saja Hua ingin berlari ke depan lagi untuk menghindari reruntuhan, dinding labirin di depannya juga bergoyang.


Ini seperti dinding ini mendadak kehilangan semua daya lengketnya satu-sama lain. Batu-batu yang awalnya melekat di dinding berberai, ...


BRAK!

__ADS_1


"Aku bahkan belum sempat menulis wasiat pada orang-orang di sekitarku. Padahal aku mau mewariskan sisa tulang ayam yang aku sembunyikan di lemari kemarin." Sempat-sempatnya Li Wei menangisi sesuatu yang tak penting seperti ini.


Zhang Yuwen yang sedang mengamati sekitar untuk mencari jalan lain, "Untuk apa Putri menyimpan tulang ayam?"


Lama-kelamaan gadis kecil ini semakin aneh saja. Sayangnya Zhang Yuwen tak ingin mengatakannya secara langsung. Hanya karena ia tak mau mengubah sebab kematiannya, yaitu karena dicekik oleh Li Wei.


"Siapa yang tahu di masa depan ayam itu sudah punah. Sehingga anak cucumu tahu bahwa ada makhluk bernama ayam sebelumnya," jelas Li Wei yang sebenarnya sangat tak penting.


Atau, gadis itu hanya berusaha menghibur dirinya sendiri.


Entah mengapa hanya wajah Hua yang datar ketika mendengar cerita Li Wei. Ia malah memberitahu mereka sebuah kabar yang sangat buruk. "Sepertinya kita memang diarahkan menuju ke sini."


Dimulai dari mereka dikejar oleh Mayat Berjalan. Lalu, segerombolan kelelawar ini muncul, dan membuat mereka harus berlari ke arah ini. Itu semua seperti sengaja mengumpulkan mereka.


BAM!


"Apakah ini perbuatan manusia?" tanya Zhang Yuwen yang berlari menghindari batu besar yang nyaris mengenai kepalanya. Batu itu terlempar dari atas labirin, dan langsung menuju ke arah mereka.


Lebih dari segalanya ... Mereka semua tahu ini sudah sangat tak wajar lagi.


Apakah benar Pangeran Penduka itu masih ada? Jika seperti itu tentang Pangeran Penduka bukanlah sebuah cerita karangan.


BRUUK!!


Suara keras itu terdengar lagi. Kali ini mereka tahu bahwa debu dan batu akibat longsoran labirin akan mengenai mereka. Li Wei memejamkan matanya saat serbuan debu berkerikil menuju ke arah wajahnya.


Namun Hua berputar sehingga debu kerikil itu mengenai belakang kepala mereka. Kemudian, labirin di sekitar mereka longsor secara bersamaan. Hua menurunkan Li Wei ke tanah, dan menutupi kepala Li Wei dengan ujung jubahnya yang panjang.


Semuanya terjadi dengan sangat cepat hingga Li Wei hanya bisa memejamkan matanya.


BRUK!!!


Batu-batu berjatuhan ke tanah, dan menghadirkan hamparan batu. Ada sekitar setengah labirin yang longsor, dan debu naik ke udara. Setelah itu, mereka berempat tak terlihat lagi ke permukaan.


***


Ketika suara longsor itu terdengar, Li Jun dan pasukannya menjadi siaga. Tatapan pria tinggi itu mengarah pada langit di atas mereka. Ada kepulan debu di atas labirin. Dimana debu itu berputar seolah baru saja seseorang menumpahkan banyaknya debu di sana.


Dengan tangannya Li Jun menghalang jatuhnya debu ke wajahnya.


Li Chen yang ada di sampingnya menatap tak percaya, "Bukankah itu suara longsor? Bukankah permukaan tanah di dalam labirin adalah permukaan datar?"


Jika ditanya seperti itu, Li Jun juga tak bisa menjawabnya. Li Jun memerintahkan prajurit yang bersamanya untuk memeriksa ke dalam labirin terlebih dahulu. Namun belum seberapa lama prajurit itu berjalan, ia kembali ke hadapan Li Jun.


Memberi penghormatan, "Maaf, Pangeran Li Jun. Kami tak bisa menemukan pintu untuk menuju ke bagian selanjutnya."


"Bukankah Peramal Ling berkata jika jalan masuk ke Labirin Batu itu tak sulit ditemukan?Setiap pintu mengarah ke bagian labirin selanjutnya," tanya Li Jun tajam pada prajurit itu.


Prajurit itu menundukkan kepalanya karena takut, "Bukannya sulit menemukan pintunya, tetapi pintu masuk ke dalam labirin tertutup, Pangeran. Ada longsoran batu yang menghalangi jalan masuk."


Apa-apaan!


Dari sekian banyak hal, mengapa longsornya baru sekarang?


Baru saja Li Jun ingin menuju ke arah pintu yang dimaksud oleh prajurit itu, sosok dengan pakaian serba putihnya, pakaian peramal Kerajaan Li, datang. Itu adalah Ling Xiao.


Pria itu datang dengan wajahnya yang sangat tenang.


"Peramal Ling, apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah Anda mengatakan bahwa buruan malam yang Anda sediakan tak akan merusak Labirin Batu? Mengapa labirin batu itu bisa hancur?" tanya Li Jun secara beruntun.


Ling Xiao menghela napasnya, "Sebenarnya saya juga tak tahu."


Semuanya terjadi di luar apa yang mereka rencanakan.


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.


Maaf karena terlambat up lagi. Itu karena aku udah mulai kerja, teman-teman. Jadi, harus membagi antara menulis novel sambil kerja. Tapi aku usahakan buat tetap up.


Seperti yang sudah pernah aku bilang. Aku mencintai semua karya ku, dan aku ingin semuanya tamat. Lagipula, ada hal menarik yang perlu kalian tahu dari cerita ini. Aku harap kalian masih menantikannya.


Mari bertemu di chapter selanjutnya.

__ADS_1


Adios~


__ADS_2