
Yi Hua berjalan menuju Liu Xingsheng yang melepas riasan di wajahnya. Wajah Liu Xingsheng terbilang sangat putih dibandingkan pria lain. Sehingga sebenarnya riasan itu hanyalah tambahan saja.
Perayaan telah berakhir dan sudah sangat sore. Bahkan hanya dalam hitungan detik mungkin saat ini akan disebut sebagai malam hari. Alun-alun masih ramai karena mereka menikmati perayaan dengan lentera di sepanjang jalan. Walau sebagian dari mereka memutuskan untuk pulang.
Meski malam hari, tentunya itu adalah momen yang berkesan.
Ketika melihat Yi Hua, Liu Xingsheng langsung berseru dengan heboh. "Kau habis darimana? Aku kira kau diculik, Yi Hua."
Yi Hua hanya bisa menghela napasnya. Bagaimana pun dari apa yang ia mengerti, Liu Xingsheng cukup perhatian padanya. Yah, itu karena Liu Xingsheng selama ini bisa dikatakan cukup baik padanya. Itulah mengapa Yi Hua juga cukup baik pada Liu Xingsheng.
"Mengapa susah sekali bagi dirimu untuk berkata jika Liu Xingsheng adalah temanmu?" ujar Xiao yang tak mengerti lagi dengan pola pikir 'tak bahagia' Yi Hua selama ini.
Sebenarnya jika ditelisik hidup Yi Hua ini sudah cukup berubah. Yi Hua asli bahkan dahulunya sangat jarang bicara dengan normal. Jika dia bicara mungkin ketika menyindir orang lain, atau berbohong tentang kehebatannya. Mungkin menunggu sapi reinkarnasi tiga kali baru Yi Hua asli akan bicara dengan tulus.
Walau Yi Hua yang ini juga sama buruknya, tetapi dia agak berbeda dengan cara lain.
Seperti ...
Belum sempat Yi Hua menjawab, sosok lain datang. Itu adalah Jenderal Wei yang berlari menuju ke arah Yi Hua dan Liu Xingsheng.
"Yi Hua, apa kau baik-baik saja? Kau tadi bertarung dengan aneh. Mengapa tidak kau berteriak untuk minta bantuan?" Kali ini teguran datang dari Jenderal Wei.
Lihatlah. Seperti yang Xiao pikirkan, Yi Hua ini agak berbeda dengan Yi Hua asli. Dia memiliki orang-orang yang bisa dikatakan cukup perduli padanya.
Yi Hua mengangguk, "Tidak apa-apa. Pria itu sepertinya hanyalah petarung biasa. Saya masih bisa melumpuhkannya."
"Bagaimana bisa ada orang yang berani menyerang Yi Hua di saat perayaan? Atau dia salah target, dia pikir Yi Hua gadis manis dan punya banyak uang? Jika seperti ia salah target karena mencoba merampok manusia berkelakuan seperti sapi," ujar Liu Xingsheng dalam satu tarikan napas. Pria itu kini mengikat rambut panjangnya dengan pita.
Bahkan di mata orang lain aku sudah terkenal dengan kata 'tak punya uang'.
Lagi-lagi Yi Hua hanya bisa menghela napas. Ia ingin mencekik Liu Xingsheng, tetapi ingat bahwa meski konyol, Liu Xingsheng memiliki gelar tinggi di Kerajaan Li. Ia bisa dikejar-kejar oleh kerajaan jika menganiaya orang ini. Belum lagi dengan kakaknya Liu Xingsheng, Selir Qian.
"Hanya saja saya berpikir bahwa ada yang tak beres sekarang, Perdana Menteri Liu. Seperti seseorang sedang menciptakan banyak kerusuhan untuk alasan tertentu," jelas Yi Hua.
Jenderal Wei mengangguk, "Seperti yang Yi Hua katakan, ini dimulai dari gadis pelayan cantik tapi mayat itu yang berniat meracuniku."
Dasar! Jika cantik saja pria ini ingat. Bahkan pada cangkang manusia saja matanya jeli.
Namun Yi Hua menyanggah itu dengan cepat. "Tidak seperti itu. Penyerangan ini sudah dimulai sejak Pangeran Li Quon sakit," bantah Yi Hua cepat.
Tatapan Jenderal Wei dan Liu Xingsheng tampak tak percaya.
"Apakah ini perbuatan Pemilik Gunung Hua* lagi?" tanya Jenderal Wei cemas.
^^^*Pemilik Gunung Hua\= Hua Yifeng. Jadi, sebenarnya karena nama Hua Yifeng itu tabu di Kerajaan Li, biasanya mereka akan memanggil Hua Yifeng dengan "Pemilik Gunung Hua" atau "Iblis Kehancuran". Itu adalah kebiasaan mereka, dan cuma Yi Hua yang berani memanggilnya dengan nama. Bukan hanya Hua Yifeng yang disebut begitu. Rata-rata lima pendosa dipanggil dengan gelarnya. Seperti Pendeta Buta \= Shen Qibo. Tengkorak Putih \= Bao Jiazhen. Puteri Hitam \= Li Wei. Tirai Darah \= Zhang Yuwen. Percayalah cuma Yi Hua yang menyebut nama mereka di Kerajaan Li. Yah itu karena sebenarnya Yi Hua yang tak tahu apa-apa tentang Bencana Besar Kerajaan Li itu.^^^
Liu Xingsheng menatap Yi Hua sebelum menjawab. "Cangkang manusia itu ... Walau aku tak pernah melihatnya dari jarak dekat, tapi aku tahu jika benda itu aneh. Bagaimana mungkin tubuh manusia yang sudah mati bisa berjalan seperti manusia pada umumnya? Bahkan ini berbeda dengan mayat berjalan yang sebenarnya tak bisa meniru manusia. Jelas hanya yang memiliki kekuatan besar yang mampu melakukannya," jelas Liu Xingsheng agak masuk akal.
Namun Yi Hua merasa kurang setuju. "Saya rasa ini bukan Hua Yifeng. Katakanlah tentang cangkang manusia, lalu bagaimana dengan penyerangan sebelumnya? Saya rasa Hua Yifeng tak akan begitu konyol dengan mengirimkan pembunuh lemag itu."
Yi Hua hanya merasa pembunuh amatir itu dikirim dengan alasan tertentu. Seperti mengetesnya? Sengaja untuk membuat Yi Hua menunjukkan siapa dirinya sebenarnya. Apa itu mungkin?
Akan tetapi, jika ditanya siapa saja orang yang mungkin tahu bahwa dirinya adalah Li Wei, maka itu adalah Hua Yifeng dan Ling Xiao.
Dua orang itu sangat berkaitan. Apalagi mereka berdua adalah teman.
Ini benar-benar mengarah pada Hua Yifeng.
Yi Hua menyadari bahwa ini benar-benar membuat seluruh kesalahan mengarah pada Hua Yifeng. Namun entah mengapa yang ada di pikirannya adalah ucapan Hua Yifeng padanya ketika di jurang debu. Pria itu mengatakan bahwa dia tak melakukan apa-apa.
Mengapa ini menjadi sangat membingungkan?
Xiao berseru. "Kau yang membingungkan dirimu sendiri. Jika kau tak perduli pada Hua Yifeng, mungkin kau tak akan percaya pada kata-katanya, HuaHua. Kau mempercayainya."
Ini aneh. Mengapa Yi Hua bisa sangat percaya pada Hua Yifeng? Pria itu terlihat begitu banyak muslihat di wajahnya. Akan tetapi, pria itu selalu diam-diam menjaganya. Bahkan saat ia terlahir kembali menjadi Yi Hua. Ia bahkan bisa merasakan ketulusan dari apa yang Hua Yifeng katakan.
__ADS_1
Bagaimana bisa aku percaya pada Hua Yifeng ini? Aku tak tahu tentangnya. Tak tahu masa lalunya. Lalu, mengapa aku begitu mempercayainya?
"Yi Hua, aku pikir ini perlu dibicarakan di Pengadilan Tinggi," ujar Jenderal Wei agak keras.
Jenderal Wei jelas hanya menegur Yi Hua yang melamun. Ia hanya takut Yi Hua kerasukan. Dia normal saja tingkahnya seperti sapi kerasukan, apalagi kerasukan sungguhan. Jenderal Wei hanya mengantisipasi.
"Lagipula, apakah kalian tak merasa aneh dengan cangkang manusia ini? Siapa yang mau mengembangkan banyak boneka untuk menjadi anak buahnya? Itu memerlukan tenaga yang besar. Pernah kalian berpikir tentang darimana sumber bahannya?" tanya Liu Xingsheng takut-takut.
Namun itu membuat pikiran baru seperti yang Liu Xingsheng takutkan.
Katakanlah jika ini 'hanya' cangkang manusia. Akan tetapi, bahannya pasti dari tubuh manusia yang baru saja mati. Artinya, tubuhnya belum membusuk dan aliran darahnya baru saja berhenti. Jika lewat dari satu hari dari hari kematian, biasanya tak bisa dijadikan cangkang manusia. Pikirkan, apakah ini benar-benar manusia yang sudah mati, atau ... dibunuh.
Liu Xingsheng terlihat ketakutan sendiri. "Hey, aku tak mengatakan apa-apa. Sungguh! Hal kejam seperti itu harusnya tak muncul di otakku. Karena tak mungkin ada yang tega ..."
Lagi-lagi Liu Xingsheng terdiam. Bagaimana pun ...
"Yang lebih mengerikan dari semua kejahatan ialah hati manusia. Mereka bahkan bisa melakukan apa saja dengan mengatasnamakan keinginan di hati," ucap Yi Hua pada akhirnya.
Jelas akan sangat panjang jika membicarakan tentang ini semua.
Yi Hua mengusap tangannya yang terasa sakit, "Untuk hari ini, saya rasa Perdana Menteri Liu perlu melaporkannya pada Yang Mulia."
"Itu memang perlu untuk dibicarakan agar bisa diselidiki. Syukur saja ini hanya satu cangkang manusia yang dikirim untuk merusuh. Coba seandainya banyak, seperti tentara mayat," ucap Liu Xingsheng yang melantur.
GRAK!
SRET!
Baru saja Liu Xingsheng menyebut, Yi Hua mendengar suara langkah kaki seperti terseret di tanah. Ini nyaris seperti orang yang berjalan pincang, dan hanya bisa menyeret kakinya di tanah.
"AKHHHHH! Mayat berjalan," teriakan itu datang dari kerumunan yang sedang menikmati perayaan.
Hal itu membuat mereka terpecah dan berlarian untuk menyelamatkan diri mereka. Setidaknya agak jauh dari mayat berjalan. Yi Hua membelalakkan matanya tak percaya. Bagaimana bisa mulut Liu Xingsheng begitu sial hingga apa yang dikatakannya langsung terjadi!
Jenderal Wei jelas dengan cepat menuju ke arah keributan. Beberapa prajurit di bawah perintah Jenderal Wei langsung mengikuti. Sepertinya malam perayaan ini akan sangat berkesan bagi Kerajaan Li.
BRAK!
BRAK!
Liu Xingsheng menatap ngeri pada sekeliling mereka yang mulai kehilangan cahaya. "Percayalah aku cukup benci saat muncul hal aneh dalam kegelapan. Itu pasti mengerikan saat kau tak bisa melihat apa-apa."
Yi Hua berseru, "Jangan mengatakan hal yang buruk lagi. Biasanya hal seperti itu akan langsung terjadi."
SRET!
Liu Xingsheng menatap Yi Hua pucat. "Yi Hua, apakah kau sedang merangkul bahuku?"
Yi Hua yang sedang memperhatikan keadaan jelas tak paham dengan Liu Xingsheng. "Saya sedang memperhatikan dimana mayat-mayat itu, Perdana Menteri Liu. Apalagi kita juga berjauhan."
Liu Xingsheng menarik napasnya seperti kekurangan udara. Ia berkata dengan nada bergetar. "Lalu, tangan siapa yang ada di bahuku, Yi Hua?"
Yi Hua langsung waspada dan mengeluarkan kertas jimatnya. Ia membakarnya di udara, dan diterbangkan ke arah suara Liu Xingsheng. Lalu, ... Tangan kurus dengan darah kering dan kuku runcing ... Jelas itu bukan tangan manusia.
Liu Xingsheng juga melihatnya, dan berusaha melepaskan tangan itu dengan kipas miliknya. Hanya itu yang di bawa oleh Liu Xingsheng. Ia memang biasanya tak membawa kipas.
"Perdana Menteri Liu, jangan bergerak. Mayat hidup itu bisa mencabik bahu Anda. Tahan napas Anda. Mayat hidup hanya menemukan orang melalui napasnya," teriak Yi Hua yang mencegah Liu Xingsheng melepaskan tangan itu dari bahunya.
Liu Xingsheng melakukan apa yang Yi Hua perintahkan. Seperti yang sudah sering dipelajari dari pelatihan, memang mengatasi mayat berjalan adalah dengan menahan napas. Berbeda dengan cangkang manusia yang bisa mengatasi tindakannya sendiri, mayat berjalan adalah benar-benar mayat berjalan. Mereka hanya merobek ke arah jantung untuk mendapatkan apa yang kurang dari mereka.
Kehidupan. Jantung. Aliran darah.
KRAT!
Yi Hua menyobek jubah bagian luarnya. Hal itu membuat Liu Xingsheng membelalakkan matanya tanpa bisa berkata. Jelas tindakan Yi Hua menjadi sangat aneh. Mengapa menyobek pakaian tiba-tiba.
__ADS_1
Yi Hua juga tak memiliki senjata. Ia hanya memiliki Pedang Li Wei di tangannya. Hal itu membuat Yi Hua harus membungkus mata pedang Li Wei. Setidaknya bisa menyembunyikan mata pedang hitam ini. Sehingga fungsinya jelas bukan untuk menebas, tetapi memukul.
Namun Yi Hua yakin pedang Li Wei bahkan akan sangat kuat, meski telah dibungkus sekalipun.
"Xiao, tunjukkan dimana mayat-mayat itu berada," perintah Yi Hua langsung.
Di saat seperti ini tak akan ada yang menyadari jika Yi Hua berseru.
"Ada banyak di arah Utara. Di bagian Timur sudah di atasi oleh Jenderal Wei dan pasukannya. Di belakang Liu Xingsheng hanya satu. Sisanya agak jauh, HuaHua," jelas Xiao cepat. Bahkan hanya beberapa detik setelah Yi Hua bertanya.
Yi Hua mengangguk dan melepaskan jimatnya di udara. Hal itu membuat seberkas cahaya agak membantu penglihatan. Yi Hua langsung bergerak cepat menuju ke belakang Liu Xingsheng lalu memukul keras ke arah pergelangan tangannya.
KRAK!
Meski pedang Li Wei tertutupi, tetapi tangan kurus mayat hidup itu benar-benar patah hanya karena dipukulkan. Ketika hanya tersisa jemari-jemari menempel di bahu Liu Xingsheng, pria itu langsung menepisnya dengan kipas di tangannya.
CRAT!
Kali ini kelima jari dengan kuku runcing itu bisa terlepas. Yi Hua memeriksa bahu Liu Xingsheng. Di sana ada sobekan, dan Yi Hua bisa melihat jika ada bekas hitam di sana.
Bubuk mayat. Perdana Menteri ini bisa mati jika tak dibersihkan!
Bubuk mayat jika terkena kulit akan membuat tubuh manusia membusuk seperti kulit mayat. Katanya itu adalah kutukan dari mayat hidup yang meraung atas rasa iri hati mereka terhadap manusia yang masih hidup. Jika tertelan oleh manusia bisa membuat busuk organ tubuh bagian dalam. Tentu saja semua itu memiliki obatnya, yaitu beras. Tetapi tak bisa jika bubuk mayat itu terlalu lama di tubuh manusia.
Yi Hua berteriak, "Jangan sampai ada mayat hidup yang menyentuh kalian! Jika ada yang merasa tertekan bubuk mayat atau muncul bekas hitam di tubuh, katakan!" teriak Yi Hua untuk memberitahukan.
"Baik, Peramal Yi," teriak para prajurit yang tengah bertarung dengan para tentara mayat.
Lalu, Yi Hua memperhatikan bahu Liu Xingsheng lagi. "Perdana Menteri Liu, Anda harus menemui Selir Qian. Cepat taburkan bahu Anda dengan tumbukan beras," ucap Yi Hua sambil memperhatikan sekitar.
Liu Xingsheng mulai lemah karena pengaruh bubuk mayat. "Tidak ada kakak di alun-alun."
Ia jelas tak melihat seorang pun yang bisa ia kenal. Selir Qian jelas tak ada di alun-alun. Akan memakan banyak waktu bagi Liu Xingsheng jika mereka menuju ke istana Kerajaan Li atau rumah penduduk untuk mengambil beras. Apalagi harus melalui para mayat hidup ini.
"Yi Hua, awas di belakangmu," teriak Xiao untuk mengingatkan. Itu adalah mayat berjalan yang sebelumnya Yi Hua potong tangannya.
Mengapa bisa berjalan lagi?
DUG!
Yi Hua memukul kepala mayat itu dengan ganggang pedang Li Wei. Pukulan itu cukup keras hingga memecahkan tempurung kepala mayat.
CRAK!
Darah hitam mengalir dari tubuh mayat berjalan itu. Sepertinya itu adalah cara untuk menghentikan mereka agar tak berjalan lagi.
"Pecahkan kepalanya. Dengan itu mayat-mayat berjalan ini tak akan 'hidup'," ujar Yi Hua memberitahu lagi.
Setelah itu, Yi Hua menghampiri Liu Xingsheng untuk memeriksanya lagi. Pria ini sepertinya cukup lemah sekarang. Bahkan badannya memanas. Akan tetapi, Liu Xingsheng berkata, "Aku tak apa, Yi Hua."
PATS ...
Lagi-lagi kertas jimat Yi Hua habis di udara. Situasi menjadi gelap kembali. Ia lalu menerbangkan kertas jimat lagi di udara. Kali ini ada dia untuk memperhatikan jalan. Setidaknya ia harus menemukan penawar bubuk mayat terlebih dahulu. Rumah penduduk atau jika perlu ladang padi untuk menemukan beras.
Kala itu Yi Hua menyadari bahwa di perayaan ini pun yang merayakan bukan hanya manusia. Namun mayat berjalan ini sepertinya ingin merayakan bersama manusia. Wah ... Benar-benar perayaan yang berkesan.
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
Oh ya ... Tentang grup Mira Akira, sebenarnya aku kehilangan aksesnya. Ini lucu, tapi aku tak bisa masuk ke grup itu sendiri. Entah karena apa.
Jadi, sudah sekian waktu berlalu, dan grup itu terbengkalai. Sehingga bagi yang ingin masuk ke grup, makasih loh udah mau bergabung. Namun sepertinya grup itu juga hanya sepi seperti hutan yang didiami oleh Zhang Yuwen. Sehingga kita sepertinya hanya bisa berbincang melalui komentar di novel ini. Semoga aja aku bisa balas satu-satu ya biar bisa menjawab semua pemikiran pembaca tentang cerita ini.
__ADS_1
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
Adios~