
Yi Hua menyesap habis teh di mangkuk miliknya. Setelah itu, tangannya meraih paha bebek yang dipanggang bersama rempah-rempah. Dari jauh saja Yi Hua bisa mencium aromanya. Oleh karena itu, ia tak malu-malu untuk makan lagi. Walau dia sudah menghabiskan satu mangkuk nasi.
Liu Xingsheng memperhatikan Yi Hua dengan takjub. "Apa kau tak takut jika daging bebek yang kau makan itu bisa bersatu di dalam perutmu lagi? Lalu, tubuh kecilmu bisa diambil alih," cetus Liu Xingsheng yang juga mengambil daging bebek, tetapi hanya potongan kecilnya saja.
Namun seperti Yi Hua akan mendengarkannya saja. Ia lebih memilih untuk menggigiti paha itu tanpa berkata apa-apa. Dan, Liu Xingsheng hanya mengangkat bahunya, seperti tak menginginkan jawaban dari Yi Hua.
"Aku hanya bingung ... Di mana pria pengawal yang selalu bersama denganmu?" tanya Liu Xingsheng sambil memperhatikan di sekeliling Yi Hua.
Daging di mulut Yi Hua langsung terasa hambar. Yi Hua mau tak mau meletakkan kembali paha itu ke piring besar. Hal itu membuta Liu Xingsheng tampak bingung.
"Yi Hua, kenapa kau tak makan lagi? Bagaimana jika kau tiba-tiba lapar seperti sebelumnya?" omel Liu Xingsheng sambil memisahkan isi bebek itu dari tulangnya.
"Sebentar saya hanya membiarkan bebek itu bereinkarnasi lagi agar kita dapat banyak," jawab Yi Hua asal.
Liu Xingsheng yang tak paham dengan ucapan Yi Hua memilih untuk meletakkan isi bebek itu dalam mangkuk untuk Yi Hua. Di sebelah mangkuk ada roti panas yang baru saja di panggang. Liu Xingsheng jelas tak tanggung-tanggung dalam menjamu Yi Hua. Sebab, di masa depan mereka akan terus berbisnis.
Yi Hua kini mengambil isi bebek dengan sumpit, "Tentang cerita Perayaan Dewa itu, sebenarnya cerita seperti apa?" tanya Yi Hua untuk mengalihkan pembicaraan.
"Kau tak tahu?" tanya Liu Xingsheng heran.
Sepertinya ini adalah cerita rakyat yang terkenal di Kerajaan bernama Xin. Itu adalah salah satu kerajaan kecil yang dikuasai oleh Kerajaan Li. Sekarang wilayah Kerajaan Xin sudah masuk ke wilayah Kerajaan Li, dan lebih berkembang lagi. Wilayahnya berada jauh di bagian Selatan. Penduduk yang dahulu menjadi warga negara Xin juga tak ada lagi yang asli. Mereka hanyalah orang pendatang dan masyarakat Kerajaan Li yang membangun kediaman kembali.
Xiao mengatakan tentang seseorang anak yang memiliki keberuntungan yang sangat besar. Cerita ini memang cerita asli Kerajaan Xin, tetapi sudah menjadi cerita yang khas juga di Kerajaan Li. Anak ini, bahkan saking beruntungnya, situasi hampir gagal panen bisa berbalik menjadi panen. Ada juga yang menambah-nambahkan hingga cerita ini jadi sangat di luar nalar. Seperti cerita lucu yang mengatakan tentang,"ikan-ikan akan melompat sendiri ke dalam perahu jika anak ini menginginkannya".
"Sebagian kisah dari masyarakat terlihat ditambah-tambahan. Kau harus menyaring, mana yang disebut keberuntungan yang asli dan masuk akal, dan mana yang tidak," jelas Xiao yang mengakhiri penjelasannya. Yah, beruntung Xiao ingin menjelaskan kali ini.
Yi Hua mengunyah roti untuk membantunya berpikir.
"Yang diceritakan ini bukan Yi Hua asli, bukan?" tanya Yi Hua pada akhirnya. Untuk saat ini, hanya Yi Hua yang bisa menumbuhkan pohon yang sudah jadi kayu bakar.
Yah, itu pun jika kayu itu bukanlah kayu biasa. Jika tumbuhan biasa ya jelas tak bisa.
Dan benar saja Xiao membantahnya, "Jelas bukan, HuaHua. Yi Hua jelas-jelas bukan makhluk pendatang di Kerajaan Li. Lagipula, tidak semua tumbuhan memiliki 'isi' di dalamnya. Kebanyakan tumbuhan itu adalah sekadar tumbuhan."
Nah ... Seperti yang Yi Hua duga.
Liu Xingsheng meletakkan mangkuk tehnya sambil berbicara dengan ringan. "Itu adalah cerita terkenal saat aku masih kecil. Mereka berkata ada sebuah desa yang sangat kaya dan makmur. Semua itu karena peruntungan dari si anak ini. Kau bayangkan karena beruntungnya dia bahkan bisa menyebar ke tetangga-tetangga sekitar. Kata orang-orang dia adalah anak yang diberkati oleh Dewa."
Mendengar itu, Yi Hua langsung mengangguk-angguk tak jelas. Itu sudah pasti bukan Yi Hua asli. Sebab, keberuntungan seperti itu tak akan pernah Yi Hua asli miliki..
Ia mengarahkan sumpitnya lagi menuju mangkuk isi daging yang sudah dipilihkan oleh Liu Xingsheng. Tapi ...
TAP!
Yi Hua menatap jengkel pada tangan lainnya yang ikut mengambil isi daging bebek itu. Sedangkan pihak yang mengambil hanya tersenyum manis sambil duduk di samping Yi Hua. Kemudian, melanjutkan cerita dari Liu Xingsheng.
__ADS_1
"Tapi, anak itu mendadak ditemukan mati di danau. Itu sangat aneh," ujar Wei Qionglin yang kini beralih mengambil roti.
Yi Hua mengabaikannya karena pikirannya mulai bercabang. "Apanya yang aneh? Seorang anak sangat rentan dengan perairan. Mereka tak tahu kedalaman air, dan mungkin tak bisa berenang."
"Itulah anehnya, Yi Hua. Air danau itu tingginya tak sampai selutut anak-anak pada umumnya. Mustahil anak yang hampir memasuki usia kedewasaan bisa tenggelam di dalamnya. Kecuali ..." Wei Qionglin menggantungkan kata-katanya sebenarnya untuk membuat cerita ini agak mencekam.
"Dia sudah mati sebelum dilempar ke danau," jawab Yi Hua spontan.
Hey! Yakin cerita seperti itu ingin ditampilkan ke Perayaan Dewa.
Sebentar ...
"Lalu, mengapa cerita ini disebut Perayaan Dewa? Tidak ada hubungannya, bukan?" tanya Yi Hua dengan nada tak mengerti.
Liu Xingsheng malah menatap Yi Hua dengan bingung. "Kau ini makan garam sebanyak apa hingga tak tahu cerita ini? Atau, kau sebenarnya adalah Yi Hua yang palsu ... ha ... ha ...ha," ujar Liu Xingsheng bercanda, dan itu dibuktikan oleh Wei Qionglin yang ikut tertawa.
Masalahnya adalah bukankah Liu Xingsheng bisa menebak dengan benar?
Dasar.
Yi Hua menggaruk kepalanya yang mendadak gatal. "Maksud saya adalah cerita ini lebih rasional lagi jika cerita ini disebut cerita "Anak Kesayangan Dewa yang Malang", atau cerita lebih lengkapnya "Anak Kesenangan Dewa yang Bisa Mendamaikan Hati Manusia, tetapi Malang". Mungkin yang lebih menarik perhatian lagi jika membuat ceritanya menjadi misteri, seperti "Roh Anak-Anak Di Danau", atau "Tangisan Di Dalam Danau ...."
Liu Xingsheng nyaris tersedak mendengar ucapan Yi Hua. "Kau ini mau melantur sampai ke mana?"
"Inti ceritanya belum selesai, Yi Hua. Katanya, setelah anak itu mati, semua keberuntungan pergi. Kerajaan mereka yang makmur menjadi berantakan. Hasil panen juga tak sebanyak yang mereka usahakan. Mereka berpendapat jika Dewa mengutuk mereka. Bencana kekeringan melanda mereka. Bahkan katanya saat Kerajaan Li datang untuk merebut wilayah, di kerajaan itu memang sudah hancur. Tak ada yang selamat dari Kerajaan Xin," ujar Wei Qionglin mengakhiri ceritanya.
"Itu hanyalah cerita dari mulut ke mulut, Yi Hua. Mengapa cerita ini dinamai cerita Perayaan Dewa, itu karena Si Anak ini yang membuat Dewa Air turun untuk menerima persembahannya. Yah, itu hanyalah segelintir cerita yang tak bisa kau anggap sejarah. Bahkan itu juga bukan berasal dari Kerajaan Li. Jelas sekali janggal," cetus Liu Xingsheng santai.
"Bukan seperti itu, Perdana Menteri Liu. Katakanlah jika cerita itu dari mulut ke mulut, tetapi siapa orang yang pertama memulainya? Padahal Kerajaan Xin adalah kerajaan yang jauh di Selatan. Wilayah yang tertutup. Lalu, katanya semua penduduk Kerajaan Xin sudah tak ada lagi. Lalu, siapa yang menyebarkan cerita ini pertama kalinya?" tanya Yi Hua masuk akal.
Liu Xingsheng yang jelas-jelas kurang mampu berpikir kritis langsung menggaruk kepalanya. "Bukannya kau membantuku untuk merangkai pertunjukan nanti, tetapi kau malah membuat cerita baru!" Ia hanya bisa mengasihani dirinya yang tak pernah bisa menang dari pemikiran Yi Hua yang rumit itu.
PLOK!
Wei Qionglin yang baru saja ingin menyuap potongan daging bebek pun berhenti. Hal itu membuat potongan bebeknya jatuh ke meja. Itu karena ia terkejut saat Yi Hua menepuk tangannya cukup keras.
"Intinya adalah masih ada yang selamat dari Kerajaan Xin. Itulah yang membuat cerita ini berawal. Namun karena ceritanya tampak seperti dongeng sebelum tidur, apalagi hingga orang-orang berpikir ini adalah cerita yang bagus untuk anak-anak," ujar Yi Hua masuk akal.
Wei Qionglin mengangguk-angguk tak jelas. Seolah dia paham, tetapi fokus Wei Qionglin lebih pada potongan bebek yang tak sempat masuk ke mulutnya. Itu sudah jatuh ke meja.
"Untuk cerita yang ingin aku sampaikan ke perayaan nanti hanya pada cerita menakjubkannya saja. Seperti ketika Si Anak ini menyuburkan tanaman lagi. Atau saat Dewa Air turun untuk menerima persembahannya saat Perayaan Dewa," jelas Liu Xingsheng yang membatasi isi cerita.
Ia jelas tak mau imajinasi Yi Hua akan membuat cerita ini menjadi panjang lebar. Lagipula, jika diceritakan sepenuhnya malah akan menjadi cerita tragis ketimbang cerita menyenangkan. Apalagi bagian kematian dari anak ini.
"Juga, Jenderal Wei! Bukankah Jenderal terlalu bersantai? Bagaimana bisa Anda ada di sini sedangkan Pusat Kota ramai karena besok adalah Perayaan Dewa?" tanya Yi Hua yang menarik piring berisi bebek panggang itu.
__ADS_1
Bagaimana pun jelas-jelas ini makanannya!
Wei Qionglin tersenyum manis. "Beristirahat sebentar tak masalah, Yi Hua. Apalagi aku memiliki bawahan yang cukup handal. Juga ..."
SRET!
Tatapan Yi Hua teralih pada telapak tangan Wei Qionglin yang terarah padanya. Dahi Yi Hua mendadak berkerut pertanda ia bingung. "Apakah Anda sedang meminta makanan pada saya? Jenderal bisa menyuruh pelayan untuk membawakan Anda makanan."
Suara decakan Wei Qionglin terdengar, "Bukan seperti itu. Aku mendengar jika Peramal Kerajaan biasanya akan membuat kertas berisi ramalan yang nantinya akan dimasukkan ke dalam kue. Pasti Yi Hua juga ikut membuat kertas ramalan, bukan? Begitu juga kertas ramalan yang bisa diambil oleh orang-orang nantinya."
Tapi busuknya adalah aku tak bisa meramal.
Namun Yi Hua jelas tak bisa mengatakan itu pada Wei Qionglin. Pada akhirnya Yi Hua hanya menengok pada garis-garis tangan milik Wei Qionglin lalu ...
"Xiao, tentukan tentang takdirnya orang ini," perintah Yi Hua yang tak tahu harus berkata apa.
Xiao berdecak sebal. "Aku ini hanya bisa mengetahui tentang hidupmu yang warna-warni ini. Jika aku bisa melihat takdir orang ini, maka aku adalah sistem untuk jamak! Bukan untuk peramal busuk sepertimu," ujar Xiao yang sepertinya sedang panas hati.
Meski begitu, Yi Hua tahu cara meramal secara tekniknya. Ia pernah membaca di buku perbintangan. Oleh karena itu, ia mencobanya.
Namun ...
"Garis tangan Anda sangat hebat ... Mungkin Anda adalah seorang pemimpin pasukan di masa depan," jawab Yi Hua asal.
Hal itu membuat Wei Qionglin tertawa. "Mungkin Yi Hua benar. Buktinya aku sudah menjadi Jenderal sekarang."
Jelas-jelas Yi Hua tak meramal apapun. Ia hanya menyebut asal.
Lalu, Liu Xingsheng juga ikut-ikutan menampilkan telapak tangannya pada Yi Hua. Hal itu membuat Yi Hua harus memanjangkan lehernya agar melihat dengan jelas. Ia hanya tinggal mengarang saja bukan untuk membacanya.
Namun ...
Yi Hua menatap bingung pada garis tangan Liu Xingsheng. Jelas ia tak tahu takdir secara rinci jika membaca di garis tangan. Hanya saja garis tangan Liu Xingsheng itu menampilkan goresan takdir yang mirip dengan di buku, sebagai contoh.
Artinya ... Usia yang pendek. Tidak ada masa depan. Untuk garis kehidupan dan kematian, Yi Hua belum pernah melihat orang yang memiliki garis kematian sedekat ini sebelumnya.
Mungkin ini karena aku yang kurang tahu membaca takdir seperti peramal.
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
__ADS_1
Adios~