Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Bertemu Jenderal Hantu


__ADS_3

TUK!


TUK!


Kereta berjalan menyusuri malam yang lenggang. Suara derap kaki sapi terdengar keras memimpin malam. Selain itu, bunyi serangga malam juga menghiasai kesunyian malam. Seolah mereka tengah berbincang satu sama lainnya dengan bahasa yang hanya dimengerti sesamanya. Barangkali mereka membicarakan tentang manusia yang berkeliaran setiap di muka ini, maka tak ada yang tahu.


Di tengah kesunyian itu, sebuah kereta sederhana dengan bahan kayu membelah jalan dengan ditarik oleh dua ekor sapi. Tentu saja kedua sapi ini tak sekadar jalan-jalan semata. Apalagi dengan membawa kereta kayu yang sangat sederhana ini.


Di kereta itu tertata secara berantakan rerumputan yang biasanya untuk makanan sapi. Jelas sekali jika yang memiliki kereta itu adalah seorang petani. Dan, di atas rerumputan kering itu duduk dua orang makhluk. Perawakan keduanya agak berbeda, karena salah satu dari mereka menggunakan pakaian yang sangat putih. Seolah sosok itu tak takut bila bajunya memiliki noda. Sedangkan yang satunya lagi memakai pakaian hijau, sehingga ia terlihat menyatu dengan tumpukkan rumput di bawahnya.


Di bagian depan, tepatnya pada kayu dudukan yang tersambung dengan tubuh para sapi, di sana duduk seorang pria lagi. Namun perawakan tidak secerah kedua orang lainnya, melainkan dia seperti awan mendung. Sehingga keheningan di sekitar mereka sangat mendukung sikap mereka yang tak saling bicara.


Mau bagaimana lagi.


Yang berpakaian serba putih baru saja merajut mimpi terlambatnya, dan yang terbaring di sampingnya, entah seberapa panjang mimpinya. Hingga ia tak bangun-bangun juga. Ditambah lagi dengan Huan Ran yang pasti tak akan banyak bicara, sehingga Yi Hua mudah mengantuk sekarang.


Pasti aku seperti berbicara dengan telapak kaki jika mengajak Perdana Menteri Huan bicara.


Oleh karena itu, Yi Hua berbaring di samping Liu Xingsheng yang seperti boneka. Awalnya Liu Xingsheng duduk dan menatap lurus ke depan. Hanya karena Liu Xingsheng bernapas dan berkedip sesekali Yi Hua bisa tahu bahwa Liu Xingsheng masih hidup.


Sisanya tak ada respon.


Karena kasihan pada Liu Xingsheng yang mungkin akan oleng jika perjalanan mereka kurang baik, Yi Hua membaringkan Liu Xingsheng di atas rumput dan menutup kelopak mata Liu Xingsheng. Dengan seperti itu, maka Liu Xingsheng terlihat seperti benar-benar tertidur.


Lalu, Yi Hua berbaring di samping Liu Xingsheng, dengan menggunakan lengan sebagai bantalnya.


Juga, entah mengapa Xiao malam ini sangat tenang. Biasanya Xiao akan berisik seperti lalat yang berpesta di atas daging busuk, tetapi Xiao senyap. Apa sistem itu bisa tertidur?


Entahlah.


Yi Hua berbaring miring sambil menatap Liu Xingsheng yang ada di sebelahnya. Karena kesunyian itu, Yi Hua tak tahu kapan ia jatuh tertidur. Dan, ia bermimpi.


Ingatannya kembali pada masa pelatihannya di Pelatihan Awan.


Dirinya bukanlah seseorang yang sabar ketika mendengar penjelasan. Sehingga ketika Zhang Yuwen melempar belakang kepalanya dengan gumpalan kertas, tangannya sudah meraih kertas catatannya. Dengan segenap hati dan jiwa ia menggumpal kertas itu, dan melemparnya kembali pada Zhang Yuwen. Akan tetapi, pria kurang kerjaan itu hanya membalasnya dengan tawa.


Sedangkan Wei Wuxie yang duduk di seberang mereka hanya bisa mengabaikan keduanya. Ia bertingkah seolah dirinya tak mengenal kedua temannya ini. Namun Zhang Yuwen yang usil itu malah mencolek punggung Wei Wuxie dengan pegangan kuas.


Anehnya ... Kenangan ini sangat tenang.


Rasanya lama sekali waktu telah berjalan, dan banyak hal yang terjadi. Apa yang ia lihat dalam mimpinya ini adalah sesuatu yang tak bisa terulang lagi. Semuanya sudah berakhir, dan mereka semua tak sama seperti dahulu.


Mungkin aku bermimpi seperti ini karena melihat makam Wei Wuxie, dan bertemu lagi dengan Zhang Yuwen. Entahlah.


Yah, walau masih misteri di mana tubuh Wei Wuxie. Yang Yi Hua harapkan tidak ada yang memanfaatkan tubuh Wei Wuxie. Mendadak Yi Hua memikirkan para kerangka berjalan saat itu, dan yang paling ia takutkan ialah mungkin salah satu dari mereka adalah tengkorak dari Wei Wuxie.


Tanpa sadar Yi Hua mengerutkan keningnya dalam tidur tak tenangnya itu.


SRET!


Lalu, di mimpi itu ia menoleh ke deretan belakang bagian kanan. Biasanya pemiliknya selalu tak ada, tetapi kali ini pria itu ada di sana. Sebentar .... Pria yang mana? Mengapa dirinya mengenal pria ini?


"Katanya, sebuah jiwa bisa terlahir kembali pada tubuh yang baru. Mungkin raga bisa membusuk, tetapi jiwa adalah sesuatu yang akan terus berlayar." Mendadak suara tenang itu terdengar, dan dirinya kembali duduk dengan tegak.


Menghadap pada Ling Xiao yang duduk di meja pengajar.


"Peramal Ling, bagaimana dengan hati yang menghitam? Menyerahkan diri pada dendam, dan membiarkan jiwa terus hidup walau menjadi iblis?" tanya seseorang kala itu.


Entah bagaimana hingga sampai mereka membicarakan tentang hal ini. Mungkin dirinya terlalu banyak bermain dengan Zhang Yuwen hingga tak ingat bagaimana pelajaran hari ini. Intinya mereka belajar tentang bagaimana ajaran Taoisme yang membawa mereka pada ketenangan.


Seperti bagaimana memperbaiki batin seseorang agar bisa mengendalikan sifat buruk mereka sendiri.


"Maka, mereka melanggar ketentuan Dewa dan hidup dalam kesesatan hati mereka sendiri," jawab Ling Xiao dengan tenang.


SRET!


"Sehingga takdir kematian tak bisa diubah. Jika diubah sekali pun, akan selalu ada karma yang mengikuti." Ucapan Ling Xiao ini terdengar jelas di telinganya. Entah karena apa.


TAK!


TAK!


Kepalanya menabrak pinggiran kayu ketika berjalan di bagian yang sangat berbatu. Oleh karena itu, Yi Hua terbangun dengan tatapan yang bingung. Mungkin karena mereka sekarang sedang mencari Ling Xiao, makanya ia bermimpi bertemu dengan Ling Xiao. Walau itu sebenarnya adalah kenangan masa lalunya sendiri.


Yi Hua terbangun sambil memegangi kepalanya sendiri, dan tatapannya tertuju pada wajah Liu Xingsheng dari samping. Sejak dibaringkan pertama kali sampai sekarang, Liu Xingsheng masih tetap berbaring tegak. Yi Hua bisa melihat dada Liu Xingsheng yang naik turun dengan pelan, pertanda pria ini masih bernapas.


Ia menghela napasnya.


"Ku kira kau mendadak kehilangan jiwa saat tidur," ucap Xiao dengan sinis.


Makhluk ini tak bisa sehari saja tidak merusuh di hidupku.


Ketika Yi Hua bangkit dari rumput kering itu, ia menyadari bahwa lehernya terasa gatal. Ia membersihkan punggungnya dari tempelan rumput. Dan, ketika itu Huan Ran yang mengemudikan kereta sapi menoleh sekilas padanya.


Namun itu hanya sekilas, dan pria itu kembali menatap lurus ke depan.


"Perdana Menteri Huan, jika Anda lelah saya bisa menggantikan Anda," ucap Yi Hua menawarkan diri.


Pasti dirinya sangat sopan jika berpangku tangan saat Huan Ran harus menjelajah malam bersama sapi-sapi ini. Sehingga Yi Hua merangkak menuju ke bagian kemudi, tetapi suara Huan Ran terdengar ketus.


"Aku masih menyayangi nyawaku, Peramal Yi," balas pria itu.


Wah, orang ini meremehkanku. Belum tahu dia jika sapi ini terbang pun, aku juga bisa mengemudikannya.

__ADS_1


Ingatlah pesan hidup Yi Hua. Sombong sesekali tak apa. Itu modal untuk menerobos dari pandangan rendah orang lain.


Yi Hua menyandarkan tubuhnya di pinggir kereta, "Saya bisa mengemudikannya, Perdana Menteri."


Sejatinya ia pernah menggunakan kuda dalam perjalanan. Walau yah sudah lama sekali.


Pada akhirnya, Huan Ran menghentikan jalannya kereta. Hal tersebut membuat Yi Hua dengan semangat turun dari gerobak sapi, dan Huan Ran yang duduk di samping Liu Xingsheng yang masih tertidur. Melihat ekspresi semangat Yi Hua, mendadak Huan Ran menyesal.


Ini mereka benar-benar akan selamat sampai tujuan atau menuju ke alam lainnya?


SRAT!


"Ayo jalan, sapi!" teriak Yi Hua yang kurang kerjaan.


Sebenarnya bukan karena apa. Yi Hua nyaris mencabut satu-persatu helai rambutnya karena bosan. Ia merasa seperti sesak karena tak berbicara pada siapapun. Sebab, Huan Ran memang cetakannya begitu.


Huan Ran tanpa sadar berpegangan pada pinggir gerobak. Wajah pria itu masih datar, tapi terlihat sekali jika tubuhnya mendadak tegak. Belum lagi Huan Ran meletakkan kakinya di atas tubuh Liu Xingsheng. Hanya sekadar menjaga jika tiba-tiba Yi Hua kerasukan, dan mereka bisa terlempar.


TUK!


TUK!


Namun Yi Hua mengemudikan sapi ini tidak seburuk yang Huan Ran kira. Itu sedikit mencengangkan karena Huan Ran mengira Yi Hua sama sekali tak tahu mengemudikan kereta. Entah sejak kapan peramal yang hanya bekerja di sekitar istana ini bisa mengemudi.


Huan Ran juga tak berniat ingin tahu.


Juga, ...


"Apa kau tahu jalan menuju Lembah Debu?" tanya Huan Ran mendadak.


Yi Hua memang pernah melintas Lembah Debu kala itu. Akan tetapi, yang mengemudikan kereta kala itu ialah Huan Ran. Sehingga mungkin saja Yi Hua tak akan tahu.


Namun Yi Hua menganggukkan kepalanya. "Saya tahu, Perdana Menteri Huan."


Karena dahulu Lembah Debu adalah tempat di mana dirinya dan teman-teman satu pelatihan untuk melakukan Perburuan Malam. Jika diingat-ingat lagi tempat itu sudah sangat berubah. Entah mengapa tempat yang dahulunya dipenuhi oleh tumpukan batu kini berubah menjadi tumpukkan debu.


Huan Ran menghela napasnya dan berusaha menenangkan dirinya sendiri.


"Kereta sapi ini ... Di mana kau menemukannya?" tanya Huan Ran tiba-tiba.


Seingat Huan Ran saat mereka keluar dari Pusat Kota, Yi Hua sudah menunjuk ke kereta sapi ini. Dan, Huan Ran yang sejak awal tak banyak repotnya, langsung membimbing Liu Xingsheng untuk naik ke kereta sapi ini.


Yi Hua menjawab dengan santai. "Saya meminjamnya."


Siapa yang percaya itu?


Xiao hanya bisa menghela napasnya lelah. "HuaHua, aku bilang padamu untuk tidak memupuk dosa di kehidupan berikutnya ini. Mengapa kau tak menurut? Ya ampun ... Sia-sia aku membesarkanmu dari makhluk berpengetahuan semut hingga menjadi sapi."


"Jenderal Wei?" Huan Ran tak berpikir jika Yi Hua bisa mengambil_ Maksudnya meminjam uang dari Jenderal yang mencintai banyak gadis itu.


Yah, anggap saja bayaranku karena membantu keluarga Wei untuk mengembalikan para mendiang mereka ke tempat peristirahatan.


Yi Hua hanya mengambil uang muka saja.


Xiao berceloteh lagi, "Bukannya kau bilang meminjam kemarin?"


"Bukannya sama saja?" tanya Yi Hua di dalam hati dengan mudah.


Percuma bicara pada Yi Hua. Xiao sepertinya lebih efektif jika bicara pada angin. Setidaknya sikap tak tahu diri Yi Hua akan berkurang sedikit jika otaknya dibilas oleh angin.


"Aku kira kau mendapatkan uang dari An," lanjut Huan Ran, yang entah ada angin apa menjadi banyak bicara hari ini.


Apakah ini suatu kemajuan?


Juga, mengapa sekarang Huan Ran menyebut tentang An? Yah, memang sedikit aneh saat pengawal itu tak ada di sekitar Raja Li Shen.


"Saya tidak terlalu dekat dengan Tuan An, Perdana Menteri. Sehingga meski Tuan An ada di Pusat Kota pun, saya tak bisa meminjam uang darinya," jawab Yi Hua seadanya.


Faktanya ia memahami bahwa Hua Yifeng tak akan menyamar lagi menjadi An. Itu semua karena Yi Hua sudah tahu tentang wujud aslinya. Atau, mungkin An memiliki tujuan lain. Entahlah.


Yang pasti saat menjadi An, Hua Yifeng tidak berniat buruk pada Kerajaan Li. Buktinya pria itu hanya bermain-main menjadi pengawal di Kerajaan Li. Mungkin saja Iblis Kehancuran itu sedang kurang kerjaan saja.


DRAP!


DRAP!


Mendadak di malam yang hening itu terdengar bunyi derap kaki kuda. Hal tersebut membuat Yi Hua menepikan kereta sapinya di bawah pohon. Setidaknya cahaya bulan tak akan menyapa mereka dengan begitu jelas. Ia melirik pada Huan Ran yang ternyata sedang berbaring tenang.


Yi Hua melompat lincah menuju ke samping sapi. Akan tetapi, sebelum melompat tangan Yi Hua menyempatkan diri untuk mengambil segenggam rumput kering. Kemudian, Yi Hua menggelinding di atas permukaan kereta dengan halus. Ia melempar rumput ke tanah, dan berbisik pada kedua sapi itu.


"Dengarkan aku! Kalian harus diam atau aku akan menggelindingkan kalian ke jurang."


Jelas saja kedua sapi itu tidak akan menghiraukan ucapan tak jelas dari Yi Hua.


Sedangkan Huan Ran dan Liu Xingsheng masih tetap tenang berbaring di atas kereta. Beruntung pagar kereta itu agak tinggi, sehingga menyembunyikan keberadaan mereka di dalamnya. Suara derap kaki kuda itu mendekat dan Huan Ran menajamkan pandangannya di antara celah pagar.


Melihat siapa yang melintas di sana.


Di sana adalah segerombolan kuda ... Tanpa kepala?


Eh?


Apakah ini hari di mana dunia manusia dan hantu bersinggungan?

__ADS_1


Jika seperti itu Gunung Hua akan terbuka dan manusia bisa masuk ke sana. Dan, sebaliknya, para hantu dan iblis juga keluar. Walau tak semua manusia bisa melihat mereka. Beda ceritanya jika manusia memasuki Gunung Hua, atau ke dunia iblis lainnya, maka mereka akan melihat hantu-hantu seperti layaknya manusia.


Walau pun itu hanyalah penyamaran hantu saja yang berusaha meniru manusia. Meski wujud mereka terkadang tak sempurna. Seperti tak memiliki lekuk di atas bibir mereka, atau rambut mereka yang terkadang tak tertata rapi tumbuhnya. Atau, mereka tak akan memiliki garis tangan, karena memang tak ada yang bisa menjadi meniru manusia dengan begitu baik. Kecuali iblis terkuat seperti Hua Yifeng dan juga Zhang Yuwen.


Bahkan seingat Yi Hua, Zhang Yuwen meninggal karena tombak yang menembus tubuhnya. Namun karena kemampuannya, Zhang Yuwen tampak seperti sedia kala.


Dan, mengapa Yi Hua bisa melihatnya?


Tentu saja karena sebenarnya Yi Hua ini memiliki tungku iblis. Yi Hua melirik pada Huan Ran yang juga sedang mengintip di balik pagar.


Tak lama Huan Ran berucap. "Itu Jenderal Hantu."


Huh?


Yi Hua ingin bertanya apa yang dimaksud oleh Huan Ran, tetapi sebuah kuda dengan api yang membakar kepalanya melintas. Kuda itu tak berjalan sendiri tentunya, tetapi seseorang di atasnya.


Seorang pria dengan penutup wajahnya yang serba hitam.


Sebentar ...


Bukankah pria ini bawahan Hua Yifeng? Dia adalah pengawal bercadar yang dahulu membawa Yi Hua ke Istana Awan.


"Bagaimana bisa pria bercadar ini disebut Jenderal Hantu, Xiao?" tanya Yi Hua dengan geram pada Xiao.


Namun Xiao berucap dengan tenang. "Manusia adalah tempatnya salah dan lupa."


Memangnya kau ini manusia?


Terkadang Yi Hua ingin menjambak rambut Xiao, jika ada tentunya. Sebab, sistem ini terkadang dengan busuknya melupakan beberapa rincian seperti ini. Sehingga membuat Yi Hua kurang informasi.


Lebih dari segalanya ... Mendadak Yi Hua menoleh pada Huan Ran yang masih tenang di tempatnya.


Bukankah ini Jenderal Hantu? Pengawal Hua Yifeng yang bercadar, dan Huan Ran bisa melihatnya.


Ini Huan Ran yang memiliki kemampuan penglihatan atau Jenderal Hantu ini yang tak biasa?


Xiao menambahkan. "Sebenarnya ku kira ini tak penting, karena kau pasti tak akan bertemu dengan Jenderal Hantu. Sebab, Jenderal Hantu hanya menghantui orang-orang yang berniat buruk."


Cerita macam apa ini? Apakah legenda horor yang berkeliaran untuk menakuti anak-anak?


"Tepatnya seperti itu ... Katanya, Jenderal Hantu bisa mengetahui pikiran buruk orang-orang. Ia akan mendatangi orang yang berniat jahat, dan membuatnya bermimpi buruk. Itu adalah cerita yang sering diberikan para ibu agar anaknya menjadi anak yang baik," jelas Xiao yang sepertinya sedang datang malasnya.


Tunggu dulu ... Apa karena sekarang aku berniat buruk, makanya aku bisa melihat Jenderal Hantu?


Tapi dulu juga Yi Hua bisa melihatnya di Istana Awan milik Hua Yifeng! Juga, Huan Ran bisa melihatnya ... Dan, apa itu berarti Huan Ran memiliki niat buruk di dalam dirinya? Lebih lagi ... Jenderal Hantu ini sebenarnya bawahan dari Hua Yifeng. Kebetulan macam apa ini?


Sejak kapan Hua Yifeng memerintahkan bawahannya untuk menakuti manusia yang berniat buruk? Seolah Hua Yifeng ini penegak kebenaran saja!


Hah? Mengapa Yi Hua malah terjebak dalam cerita ini?


"Seperti yang sering diceritakan. Jenderal Hantu akan muncul di malam hari dengan kuda-kudanya yang tanpa kepala. Hanya ada satu kuda yang memiliki kepala, tetapi dipenuhi api. Jika ada manusia yang melihat Jenderal Hantu ini melintas, dan api dari kepala kuda itu padam. Maka orang itu akan mati."


Mengapa baru mengatakannya sekarang?


Mendadak fokus Yi Hua tertuju pada kepala kuda yang berapi-api itu. Dan ia menghela napasnya saat kepala kuda api itu masih hidup. Kemudian, pengawal bercadar atau Jenderal Hantu itu melintas dengan tenang melewati mereka. Sekilas Yi Hua melihat penutup kepala pengawal bercadar itu tersibak. Menampilkan rambutnya yang hitam panjang. Berkat angin yang membuat rambut pria itu tersapu dari pelipisnya, Yi Hua bisa melihat sebuah garis panjang. Seperti pria ini pernah terluka di sana, dan luka itu bukanlah luka yang kecil.


Mendadak lamunan Yi Hua buyar ketika Huan Ran memanggilnya. Pria itu sudah duduk kembali, dan itu membuat Yi Hua sadar bahwa Jenderal Hantu dan kuda-kuda tanpa kepalanya sudah tak nampak lagi. Yi Hua yang tengah berjongkok di samping sapi langsung menegakkan tubuhnya kembali. Tanpa sadar tangan Yi Hua saling menarik rumput dengan sapi di sebelahnya.


Mungkin Yi Hua melamun hingga tanpa sadar memainkan rerumputan di sampingnya.


"Sepertinya akan terjadi sesuatu yang buruk," ucap Huan Ran tiba-tiba.


Hal tersebut membuat Yi Hua menoleh tak mengerti. "Mengapa Anda berpikir seperti itu?"


Namun Huan Ran tak menjawabnya. Itu semua tak aneh, karena pria ini memang sangat buruk untuk diajak berbicara. Pria itu kembali berbaring dengan menggunakan lengan sebagai bantalnya. Kali ini Huan Ran berbaring menyamping ke arah Liu Xingsheng yang masih memejamkan matanya.


Yi Hua berdecak sebal. Menyesal sudah ia menawarkan diri untuk mengemudikan sapi-sapi ini.


Ia kembali menarik tali kekang sapi, dan kembali menyusuri malam.


Dan, Xiao yang entah mengapa dengan baiknya menjelaskan pada Yi Hua.


"Orang-orang Kerajaan Li percaya jika Jenderal Hantu terlihat, maka sesuatu yang buruk akan terjadi," lanjut Xiao lagi.


Memangnya ada sesuatu yang baik di sekitar Yi Hua selama ini?


Jika bawahannya, Si Pengawal Bercadar atau yah Jenderal Hantu ini berkeliaran, di mana Tuannya?


Terakhir kali Yi Hua melihatnya ialah di makam keluarga Wei. Sama seperti kemunculannya, Hua Yifeng juga bisa menghilang seenak kepalanya. Bahkan tanpa dijemput atau berpamitan. Dasar.


Sekarang ...


Apa pria itu akan muncul lagi kali ini?


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.


Mari bertemu di chapter selanjutnya.


Adios~

__ADS_1


__ADS_2