
An yang tak ingin terjadi pertumpahan darah segera mengambil wadah memasak nasi itu dari tangan Yi Hua. Jelas saja dia harus waspada, sebab Yi Hua agak berbahaya jika dia sedang niat untuk memukul. Setelah An mengambilnya, ia segera meletakkannya di tungku api.
Namun Yi Hua terlihat tak ingin begitu mengurus tentang Shi Qingnan. Sepupu dari pihak ayahnya ini memang salah satu dari kesekian banyak orang yang mengutuk Yi Hua. Pasalnya, bukan salah dari siapa-siapa.
Itu adalah Yi Hua sendiri yang membuat masalah. Sejak kecil Yi Hua tak pernah menghiraukan Shi Qingnan. Bukan karena masalah apa, tetapi lebih pada Yi Hua yang sama-sama sampahnya dengan Shi Qingnan. Alasan lainnya ialah karena Yi Hua sudah tahu bahwa dia bukanlah 'pria' sebenarnya.
Ketika Yi Hua tumbuh besar ia mulai menyadari bahwa dia bukanlah seorang pria seperti Shi Qingnan. Apalagi ayahnya menjelaskan bahwa Yi Hua harus dibesarkan menjadi seorang pria karena dirinya yang sering sakit-sakitan dari kecil. Sehingga Yi Hua tak bisa begitu dekat dengan sepupu gilanya ini.
Dengan kata lain, Shi Qingnan juga tak tahu bahwa Yi Hua bukanlah seorang pria. Jika Shi Qingnan tahu mungkin akan ada lebih banyak sumpah serapah yang diberikan mulut bermasalah pria itu pada Yi Hua. Sangat menyebalkan!
"Kalian itu setali tiga uang. Sama-sama dipenuhi dengan omong kosong. Sehingga jika kalian bertemu, kalian akan mengorek kelemahan masing-masing," jelas Xiao dengan malas-malasan. Seolah Xiao adalah makhluk yang hidup, dan memerlukan tidur.
Yah, sekarang memang sudah tengah malam. Akan tetapi, Yi Hua tak berpikir jika makhluk tak terdefinisi seperti Xiao akan mengantuk. Entahlah. Tak ada yang tahu seluruh elemen yang ada di dunia, sehingga Yi Hua harusnya tak begitu terkejut dengan keanehan itu.
Lalu, yang lebih penting dari segalanya ...
Ya ampun pintu-ku ... Apakah kau menderita di sana?
Yi Hua tanpa memperdulikan Shi Qingnan langsung menuju pintunya yang telah tergeletak di lantai. Tangan Yi Hua berusaha untuk memasang kembali kayu yang terlepas, tetapi pintu itu sudah mencapai ajalnya. Yi Hua mungkin harus memasang pintu itu esok hari.
"Hey, s*alan Yi Hua! Apa kau mengabaikan aku? Kau ini selalu membawa masalah untuk keluargamu! Apa kau tahu bahwa mendiang Ibu-mu akan terlempar keburukan akibat sikapmu?" cerca Shi Qingnan yang menginjakkan kakinya ke pintu yang sedang ditangisi Yi Hua diam-diam.
Yi Hua hanya bisa berdiri kembali, dan melipat tangannya untuk menantang Shi Qingnan. Walau sejatinya Yi Hua benar-benar malas. Pasalnya sekarang pun An ada di sini, dan itu pasti akan membuat pria itu tak nyaman.
Ia menoleh pada An, dan menyadari bahwa An terlihat tenang seperti biasanya.
Yi Hua menghela napasnya. "Jika kau selesai, silakan keluar. Tempatku akan roboh mendengar suara milikmu."
Shi Qingnan terlihat seperti ingin mencakar Yi Hua. Akan tetapi, pandangannya juga mengikuti pandangan Yi Hua. Sepertinya pria ini juga terkejut dengan kehadiran An yang tak biasa. Sebab, Yi Hua biasanya tak memiliki teman atau pun seseorang yang akan mengunjungi kediamannya.
"Bukankah dia ..."
SRET!
Yi Hua merasa bingung ketika An tiba-tiba menarik kerah belakang pakaian Yi Hua. Setelah itu, pria itu langsung berbisik pada Yi Hua: "Airnya sudah mulai kering. Kau tidak akan membiarkan aku kelaparan, bukan?"
Meski masih merasa bingung, Yi Hua segera berjalan menuju dapur, atau dia akan menghanguskan buburnya.
"Hey, aku masih ingin bicara Yi Hua! Apa kau mendengar? Kenapa kau meninggalkan aku bersama ..." teriak Shi Qingnan tanpa memikirkan kesopanan lagi. Namun suaranya tak muncul lagi ketika suara gebrakan keras terdengar.
BRAK!
Hal itu membuat Yi Hua mengerutkan keningnya. Awalnya ia sedikit penasaran, karena seingatnya dirinya tak memelihara sapi yang bisa membuat keributan seperti itu. Akan tetapi, setelah bantingan itu, ketenangan datang ke kediamannya. Hal itu membuat Yi Hua kembali pada kegiatannya.
Mungkin makhluk itu sedang sakit perut, makanya dia keluar dengan membanting pintu.
"Yi Hua, apa yang kau masukkan itu?" Teriakan histeris Xiao terdengar di telinga Yi Hua.
Akan tetapi, ... Sebentar ...
Pintu kediamannya baru saja rusak, maka suara keras itu muncul darimana?
Xiao semakin histeris lagi di telinga Yi Hua. "Kenapa fokus mu malah ke sana? Aku bertanya mengapa kau memasukkan benda 'itu' ke dalam bubur? Kau memilki dendam pada Tuan Tampan itu?"
"Diamlah! Lihatlah bagaimana orang hebat bekerja," bantah Yi Hua yang memasukkan bubur yang sudah matang ke dalam mangkuk.
Yah, mangkuk kesayangan. Itu semua karena hanya ada beberapa mangkuk di kediamannya, dan yang ia gunakan adalah yang paling baik di antara yang lainnya. Yah, Yi Hua menganggapnya itu lebih baik daripada harus makan di dalam wadah memasaknya langsung.
"Atau, lebih baik kau menuangnya ke lantai karena itu tak layak untuk dimakan!" cerca Xiao yang masih percaya bahwa akan ada keajaiban. Ia berharap Yi Hua tersandung, dan membuat makanannya tergeletak di lantai.
Yi Hua menepuk kedua tangannya dengan wajah bangga. "Jangan lihat dari penampilannya, tetapi rasanya adalah utama. Apalagi ini adalah bubur yang berkhasiat."
Yi Hua segera menyelesaikan memasaknya hanya agar dia tak terlambat jika terjadi hal yang buruk. Yang ia pikirkan ialah An mungkin saja sudah menebas kepala Shi Qingnan karena berisik. Sebab, tidak ada lagi suara melengking Shi Qingnan, dan An jelas sangat pendiam untuk menciptakan keributan seperti itu.
"Bagaimana perasaanmu ketika menyiapkan makanan untuk suami di pertama kalinya? Aku tak menanggung jika kau diceraikan oleh pria itu." Xiao tak akan hidup jika tanpa menyindir Yi Hua. Oleh karena itu, Xiao tetap akan mengeluarkan kritiknya terhadap perilaku Yi Hua.
Yi Hua hanya bisa melebarkan hatinya, dan menahan rasa ingin memantra-mantrai Xiao. Pasalnya, makhluk seperti Xiao biasanya akan sulit menghilang. Katanya, semakin seorang individu menjadi menyebalkan, maka semakin lama dia hidup.
Entah darimana Yi Hua mendengarnya.
Ia dengan berbaik hati menyiapkan dua mangkuk. Hanya berjaga-jaga jika masih ada Shi Qingnan di sana. Jika tidak ada, mungkin Yi Hua yang akan memakannya. Walau nyatanya Yi Hua agak kenyang karena roti yang diberikan An sebelumnya cukup besar.
"Tuan An ... Eh, kenapa kau menempel seperti itu?" Yi Hua tak bisa melanjutkan ucapannya terutama ketika melihat sepupu tercintanya menempel di dinding seperti siluman cicak.
__ADS_1
GRAK!
GRAK!
Shi Qingnan terlihat berusaha mendorong permukaan dinding tempatnya melekat. Akan tetapi, itu membuat Shi Qingnan semakin terlihat bagaikan cicak yang belajar berenang. Yi Hua hanya bisa menyaksikannya saat meletakkan mangkuk bubur di atas meja kecil, yang entah darimana An mendapatkannya.
Pria itu sudah duduk dengan nyaman di depan meja, dan tangannya tengah menyangga dagu. Seolah An hanya memperhatikan Shi Qingnan yang bergerak-gerak di sudut ruangan. Pelakunya jelas sudah terlihat, apalagi Shi Qingnan juga tak bisa berbicara.
Yi Hua mengalihkan pandangannya pada An, dan pria itu seperti tak ingin ditanya. Ia lebih fokus pada mangkuknya, dan memasukkan sesendok bubur ke dalam mulut. Hanya berselang beberapa detik sebelum An kembali memasukkan sendok berisi bubur ke dalam mulutnya lagi.
Pria itu terlihat menikmati bubur buatan Yi Hua tanpa mengatakan apa-apa.
"Pria ini pasti diberkati oleh Dewa di hidup ini. Dia sangat baik karena berani mengorbankan dirinya untuk itu," ucap Xiao yang entah mengapa membuat Yi Hua geram.
Yi Hua mulai penasaran dengan rasanya. Ia duduk di samping An, dan berniat mengambil mangkuk yang masih belum tersentuh. Namun sebelum Yi Hua meraihnya, mangkuk itu ditarik oleh An. Dan, itu membuat Yi Hua kembali menatap pada An.
"Bukankah Yi Hua membuatkannya untukku?" tanya An sambil mendekatkan mangkuk itu ke mangkuknya sendiri. Melarang Yi Hua untuk menyentuhnya.
BRAK!
BRAK!
Fokus Yi Hua kembali pada Shi Qingnan yang masih menempel di dinding. Hal itu membuat Yi Hua terpaksa harus meminta pada An. "Tuan An, tolong lepaskan dia. Dan, maaf karena saya harus mengabaikan Tuan An. Saya harus berbincang dengan sepupu saya."
SRET
Yi Hua melihat An menjentikkan jarinya ke udara, dan setelah itu Shi Qingnan bisa terlepas dari dinding. Tanpa berkata apa-apa, An kembali memasukkan bubur itu ke dalam mulutnya. Mungkin seperti yang Yi Hua duga, An benar-benar kelaparan..
"Silakan. Kau tak perlu merasa sungkan," tanggap An dengan senyum tipisnya.
Namun lagi-lagi pembicaraan mereka terputus ketika suara sampah Shi Qingnan menyerang. Yi Hua nyaris ingin menarik pedang yang terselip di pinggang An, dan melemparnya ke Shi Qingnan. Akan tetapi, ia tak melakukannya karena masih sayang nyawa.
"Yi Hua baj*ngan! Apa kau tertawa ketika melihatku seperti itu? Kau pikir dirimu begitu hebat, dan ..."
BRUK!
Shi Qingnan kali ini terdiam lagi, bukan karena dia ingin diam, tetapi An lagi-lagi menutup mulut Shi Qingnan. Entah darimana An mempelajari itu semua, tetapi Shi Qingnan bahkan tak bisa membuka mulutnya. Hal itu membuat Yi Hua mendadak ingin menyuruh An untuk tak mencabut mantra pembungkam itu.
Namun Yi Hua harus segera menyingkirkan Shi Qingnan dari kediamannya, atau Shi Qingnan akan benar-benar mengganggunya. Ia sekali lagi meminta An untuk melepaskan, dan Shi Qingnan langsung duduk dengan baik karena tak mau dibungkam lagi.
Hal itu membuat Shi Qingnan mengerutkan keningnya, walau dia tak berani mengomentari apa-apa tentang itu. Terutama saat ia melihat An yang terlihat begitu menikmati makanannya. Walau Shi Qingnan ingin bertanya tentang warna bubur itu yang berbeda dari biasanya.
"Yi Hua s*alan! Kenapa kau tak datang ke kediaman kami setelah kau keluar dari penjara? Ayah hanya ingin melihat bahwa kau masih hidup atau sudah gila." Shi Qingnan yang selalu memanggil Yi Hua dengan sumpah serapah di belakangnya, sehingga Yi Hua tak aneh lagi dengan semua itu.
Intinya, kedatangan Shi Qingnan ini sebagai bentuk undangan pada Yi Hua. Bagaimana pun mereka masihlah keluarga. Hanya saja, mulut Shi Qingnan ini isinya sampah semua, sehingga dia hanya bisa mengucapkan kalimat busuk dari sana. Yi Hua hanya ingin menggaruk dinding karena sebal sendiri.
Dasar. Mengapa susah sekali untuk mengatakan bahwa keluarga Shi masih mengkhawatirkan aku?
Sebenarnya Yi Hua sama saja seperti Shi Qingnan, tetapi saat dia yang sekarang menjadi Yi Hua, dia enggan bertindak sama. Lagipula, selama masih bisa berkata dengan kalimat yang baik, mengapa harus saling mengumpat?
"Aku sibuk," jawab Yi Hua sekenanya.
BRAK!
"Baj*ngan Yi Hua, apa yang membuat orang sepertimu untuk sibuk?" tanya Shi Qingnan sambil menggebrak meja.
Namun ketika melihat An yang mengangkat kepalanya, Shi Qingnan langsung menutup mulutnya sendiri dengan sepenuh kesadarannya. Apalagi dengan mata An yang cenderung tenang, tetapi mematikan. Apakah pernah ada yang mengatakan bahwa air yang tenang terkadang lebih mengerikan dibanding air terjun?
Ini seperti jika air terjun kau sudah tahu akan bahaya, dan kau bisa berhati-hati. Namun air yang tenang cenderung berbeda. Kau bisa dibuat tak waspada, dan tak lama kau bisa melihat hal tak terduga dari dalam air itu.
Yi Hua menyesap teh miliknya sendiri, dan meletakkannya dengan tenang sebelum menjawab Shi Qingnan. "Aku masih sibuk memikirkan bagaimana cara membuat sapi bisa terbang?"
"Br*ngsek! Kau mempermainkan aku?" bentak Shi Qingnan lagi.
Namun Yi Hua hanya menggelengkan kepalanya dengan gestur tak perduli. "Bukan. Aku hanya berpikir bagaimana agar kita bisa berkendara dengan sapi di langit."
Shi Qingnan melirik pada mangkuk bubur yang masih belum tersentuh. Akan tetapi, dia tak berani mengambilnya.
SRET!
"Anda terlihat kelaparan, Tuan Shi," ucap An setelah selesai dengan mangkuk buburnya.
Mangkuk yang didorong oleh An pada Shi Qingnan adalah yang masih belum tersentuh. Yi Hua merasa tak enak karena An harus memberikan makanannya untuk Shi Qingnan. Apalagi sebelumnya Yi Hua melihat An begitu kelaparan.
__ADS_1
"Bagaimana jika Yi Hua meracuniku?" tanya Shi Qingnan yang masih jual mahal.
"Lebih baik aku meracuni tikus daripada meracuni dirimu," jawab Yi Hua yang sudah kelelahan.
Bagaimana pun ia masih tak mengerti mengapa Paman Shi membiarkan anak semata wayangnya ini keluar di tengah malam. Dan, lagi bagaimana bisa Shi Qingnan tahu Yi Hua sudah datang. Menurut informasi Xiao, keluarga Shi Qingnan tinggal di kawasan yang mewah. Sebab, ayah Shi Qingnan adalah seorang Pejabat Kerajaan yang dihormati. Yah, walau anaknya hanya menjadi sampah yang gemar berkeliaran di Pusat Kota.
Lagipula, bubur buatan ku baik untuk kesehatan!
Melihat wajah tenang An, Shi Qingnan segera mengangkat sendok di mangkuk. Lalu, memasukkannya ke dalam mulut.
TAK!
Sendok yang berada di tangan Shi Qingnan terjatuh ke atas meja. Hal itu membuat Yi Hua mengerutkan keningnya. Terutama saat melihat bubur yang harusnya dimakan malah terpercik keluar dari mangkuk. Apalagi kini mangkuknya juga terguling ke bawah meja akibat Shi Qingnan yang gemetaran.
Yi Hua yang tak banyak uang untuk membeli makanan jelas menjadi sangat hemat.
"Hey, kau jangan membuang makanan. Kau tahu bagaimana susahnya aku mencari sesuap nasi!" tegur Yi Hua sambil memungut mangkuknya kembali dari bawah meja.
Seharusnya aku menendang Shi Qingnan dari sebelum dia memasuki rumahku!
An masih bersikap tenang seperti biasanya. Bahkan ia bertingkah seolah dia tak melihat Shi Qingnan yang sudah nyaris ingin tergeletak di lantai. Sikapnya yang tenang ini sangat menipu siapa saja.
Shi Qingnan tak mengerti mengapa wajah pria yang bersama Yi Hua itu masih sangat tenang dan tampan saat memakan makanan mengerikan itu. Bahkan An terlihat seperti menikmati makanan yang paling enak, dan seingat Shi Qingnan awalnya An ingin menghabiskan makanan itu sendiri. Sungguh kemampuan yang tak bisa Shi Qingnan capai.
Siapa yang akan berpikir bahwa bubur itu akan memiliki rasa yang mengerikan?
"Mengapa sia ..." Baru saja Shi Qingnan ingin mengumpat lagi, ucapannya terhenti.
Yi Hua yang selesai membersihkan tumpahan bubur langsung menunjuk ke arah Shi Qingnan. "Kau tahu ini bukanlah bubur biasa. Aku memasukkan akar tanaman obat supaya itu sehat untuk dimakan."
Jika Xiao memiliki tangan, maka dia akan menepuk dahinya sendiri. "Harusnya kau mengingat bahwa kau bisa memisahkan antara makan nasi dan minum obat. Kau tak bisa mencampurnya sekaligus."
"Jika kau bisa mendapatkan keduanya sekaligus dalam satu suapan makanan, mengapa harus mengerjakan dua kali?" nasihat Yi Hua yang masih menunjuk ke arah Shi Qingnan.
Untuk pertama kalinya Xiao bersyukur bahwa dirinya hanyalah sistem di masa mematikan ini.
"Br*ngs ...!!! Ukhh ..." Lagi-lagi sumpah serapah Shi Qingnan terhenti.
An meletakkan teh yang diminumnya dengan tenang. "Kau tak bisa bicara karena kau terus-menerus mengumpat."
Yi Hua menatap takjub pada mangkuk yang kosong itu. Ia tak menyangka jika bubur buatannya, selain baik untuk kesehatan juga baik untuk kepribadian manusia. Efeknya bahkan bisa menghentikan Shi Qingnan dari ucapan kotornya.
"Lebih baik kau segera datang ke rumah untuk berkunjung. Atau, siala ...." Lagi-lagi ucapan Shi Qingnan tercekik di tenggorokan.
Tuh kan! Bubur ini memiliki efek memperbaiki kepribadian.
Akhirnya Shi Qingnan bangkit tanpa berani mengambil teh yang sudah dituangkan oleh Yi Hua. Bagaimana pun ia tak mau tertipu lagi oleh wajah-wajah tenang di hadapannya. Setelah terhuyung-huyung beberapa kali, Shi Qingnan langsung keluar dari kediaman Yi Hua yang tanpa pintu.
Jika ada pintu di sana, mungkin Shi Qingnan akan menabraknya.
Beruntung hanya beberapa langkah, pelayan pribadi si Tuan Muda Kaya Shi Qingnan ini langsung datang. Mereka memapah Shi Qingnan untuk kembali ke kereta. Sebab, Shi Qingnan sudah mencapai ke khayalan tertingginya. Sehingga yang tersisa di sana hanyalah Yi Hua yang masih bangga dengan dirinya sendiri. Sedangkan An masih dengan tenang meminum tehnya.
"Aku akan mencuci mangkuknya," ucap An yang membawa mangkuk itu ke belakang.
Meninggalkan Yi Hua yang kini tersadar dengan semua kekacauan di kediamannya.
Pintu yang terbuka lebar, dan bekas bubur yang berserakan. Yi Hua terlalu lelah untuk memperbaiki semuanya sendirian. Namun jika tak diperbaiki, dimana An akan tidur.
Kediaman Yi Hua bukanlah tempat yang besar. Dia hanya punya satu ruangan pribadi yang besarnya seperti dua peti mati. Itu biasanya digunakan Yi Hua untuk tidur, tetapi dengan catatan ... Sendirian!
Tenang Yi Hua, kalian adalah sesama 'pria' sekarang. Oke. Tidak apa tidur bersama. Tidak apa.
Yi Hua berusaha untuk membersihkan hati dan jiwanya hanya agar tidak berpikir yang 'iya-iya'. Jika dia terlihat ragu dan takut, maka An akan curiga. Oleh karena itu, Yi Hua harus bertingkah seperti yang sudah seharusnya.
Di mata orang lain Yi Hua seorang pria, bukan?
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Mari kita bertemu di chapter selanjutnya.
__ADS_1
Adios~