
Yi Hua dengan cepat menarik baju Liu Xingsheng. Hanya agar pria itu melepaskan cekikannya pada kakaknya sendiri.
"Apa yang Anda lakukan, Perdana Menteri Liu?" tanya Yi Hua yang mencoba memisahkan.
Akan tetapi, Yi Hua melihat munculnya garis nadi yang tebal di sekitar dahi Liu Xingsheng. Pertanda jika memang Liu Xingsheng telah kehilangan kesadarannya sebagai manusia. Ia tak bisa menalar lagi yang mana musuh. Yi Hua menatap Liu Xingsheng dengan perasaan berkecamuk.
"Ikat dia," perintah Yi Hua pada Yue Yan.
Hal tersebut membuat Selir Qian menatap tajam pada Yi Hua. "Apa yang kau lakukan? Lepaskan adikku!" teriak Selir Qian marah.
Namun tangan Yi Hua yang lain berusah menekan Liu Xingsheng yang memberontak. Tak memperdulikan Selir Qian yang marah. Mengapa Selir Qian tak mendatangi Yi Hua?
Itu karena Lingkaran Mawar yang diutus Yi Hua untuk mengikat Selir Qian.
Wanita itu tak bisa bergerak karena pengaruh sarung pedang itu. Jika Selir Qian masih bersikeras, maka tubuhnya akan rusak atau terluka parah akibat serangan Lingkaran Mawar.
"Errrkkkhhhh ..." Tangan Yi Hua bergetar ketika melihat Liu Xingsheng memuntahkan darah.
Hey, Yi Hua bahkan masih ingat betapa orang yang ia ikat ini begitu aktif seperti anak sapi lepas.
Sekarang mengapa dia bisa sampai seperti ini?
"Yi Hua," tegur Yue Yan yang memerintahkan para ularnya untuk melingkari Liu Xingsheng.
Mencegah pria itu memberontak, tetapi bukan untuk melilitnya seperti halnya ular biasa.
Selir Qian menatap Liu Xingsheng dengan air mata di bawahnya. "Xingsheng! Apa yang terjadi? Mengapa dia berubah seperti mayat hidup? Aku berhasil Yi Hua saat itu."
Tidak tahu.
Itulah yang bisa Yi Hua katakan.
"Ughhh ... Kak ... Uphh!"
Yi Hua yakin ia tak salah mendengar.
Yi Hua memperhatikan Liu Xingsheng yang lagi-lagi muntah darah. Apa Liu Xingsheng sadar?
"Yi Hua, lepaskan Xingsheng! Dia sudah sadar," teriak Selir Qian dengan nada terburu-buru.
Baru saja Yue Yan ingin melepaskan ular-ularnya yang melilit Liu Xingsheng. Pria yang biasanya berwajah ceria itu menggelengkan kepalanya.
"Tidakk ... Ekhhh!" ucap Liu Xingsheng dengan matanya yang tak fokus.
Yi Hua yang masih kehilangan kata-katanya berusaha memperhatikan apa yang sebenarnya terjadi pada Liu Xingsheng. Tubuh Liu Xingsheng tampak miring, dan Yi Hua ingat jika Liu Xingsheng memiliki memar di bahunya. Itu adalah saat Liu Xingsheng terkena bubuk mayat.
Yi Hua perlahan menarik turun kerah pakaian Liu Xingsheng yang longgar. Di sana memar biru itu muncul lebih besar. Seolah seluruh kulit Liu Xingsheng berubah warna menjadi biru layaknya orang yang mati tenggelam di air. Meski begitu, ada garis panjang di dada Liu Xingsheng seperti bekas luka.
Bukan ... Di sana adalah tempat dimana Selir Qian membedah tubuh Liu Xingsheng. Itu semua karena sebuah jasad tak akan bisa menelan atau mengalirkan makanan dari mulut menuju ke organ dalam. Jika Yi Hua tak salah menduga, maka seluruh organ tubuh Liu Xingsheng memang sudah mati. Sehingga Selir Qian harus membedah adiknya sendiri tepat di bagian dadanya.
Kemudian, menyiram jantung Liu Xingsheng yang saat itu sudah mati dengan darah milik Bao Jiazhen.
"Yi Hua, aku tak mau ... ughhh ... puhhh." Lagi-lagi Yi Hua panik ketika melihat Liu Xingsheng memuntahkan darah.
Pria itu mungkin mendapatkan sedikit kesadarannya. Berusaha untuk bertahan, dan meminta pada Yi Hua.
"Aku tak mau menjadi mayat berjalan," ucap Liu Xingsheng lirih.
Liu Xingsheng sangat mengerti apa yang terjadi pada dirinya. Ia sangat tahu jika dirinya seperti ini terus, maka energi iblis akan membuatnya menjadi mayat berjalan. Ia juga akan mengikuti mayat berjalan lain yang bisa dikendalikan oleh iblis seperti Bao Jiazhen.
Selir Qian menggeleng. "Apa yang kau katakan, Xingsheng? Kau akan baik-baik saja. Kakak berjanji."
"Yue Yan ... Apa yang harus kita lakukan?" tanya Yi Hua dengan nada bergetar.
Jauh di dalam hatinya, ia berharap Liu Xingsheng kembali seperti dahulu.
Liu Xingsheng adalah temannya di kehidupan ini. Ia menatap Yue Yan dengan penuh permohonan. Yue Yan adalah orang yang cukup banyak mengerti tentang keadaan ini.
Akan tetapi, harapan Yi Hua menjadi padam ketika Yue Yan menggeleng.
"Jika kau tak membunuhnya, maka kau akan melihatnya menjadi mayat berjalan," ucap Yue Yan lemah.
Tidak mungkin.
Yi Hua menatap Liu Xingsheng yang menatap Yi Hua dengan mata tak fokus. Garis-garis nadi semakin timbul di permukaan kulit Liu Xingsheng. Itu berubah menjadi membiru. Pembusukan mayat berjalan dimulai.
Napas Yi Hua tersengal.
"Yi Hua, bunuh aku ..." pinta Liu Xingsheng sekali lagi.
Napas Yi Hua semakin memburuk. Terutama ketika ia mengalami hal yang sama sebelumnya. Ia juga pernah diminta untuk membunuh Li Jun dahulu. Saat Li Jun menderita karena penyakit batu dan jatuhnya harga diri Li Jun karena kalah perang.
Li Jun meminta hal yang sama pada Li Wei.
Xiao! Xiao! Apakah tidak ada cara untuk menyelamatkan Liu Xingsheng?
Tidak. Xiao tidak akan aktif di saat seperti ini.
Yi Hua menatap ke arah seberang. Berharap ia bisa melihat Ling Xiao untuk diminta saran. Yi Hua baru saja melangkahkan kakinya sekali, dan Yue Yan menahan tangannya.
"Ini cerita lama, tetapi Hua Yifeng juga pernah meminta Ling Xiao untuk menyelamatkan Putri Li Wei. Hanya agar Putri Li Wei berhasil hidup kembali saat menjadi Cangkang Manusia. Sayangnya ..."
Dalam sejarah tak tertulis, Hua Yifeng diceritakan membunuh kekasihnya sendiri karena tak ingin kekasihnya, Li Wei menderita. Daripada ia melihat raga Li Wei yang menjadi mayat berjalan.
Ia tak memiliki pilihan lain, bukan?
Selir Qian semakin memberontak dari belenggu Lingkaran Mawar. Hal tersebut membuat tubuh Selir Qian tampak terluka. Itu nyaris seperti terkena duri panjang yang melilit tubuhnya. Meski begitu, Selir Qian masih berharap agar ia bisa mendekat pada adiknya.
Bagi Selir Qian, adiknya adalah segalanya.
"Aku bisa menyelamatkan Liu Xingsheng! Dia hanya sedang dikutuk oleh Bao Jiazhen sialan itu. Liu Xingsheng akan baik-baik saja jika aku menemukan darah Klan Bao lagi," ucap Selir Qian dengan histeris.
Itu tak sepenuhnya benar. Bao Jiazhen hanya sengaja membuat Liu Xingsheng keracunan bubuk mayat. Sisanya adalah efek buruk dari percobaan.
Tak ada yang baik dari melanggar kehendak Dewa.
"Tidak ..." Bisik Liu Xingsheng. Darah yang ia muntahkan perlahan menjadi hitam. Organ di dalam tubuhnya sudah mulai mati, dan energi buruk mengambil kesadarannya.
Lebih dari segalanya ...
Liu Xingsheng tak mau menjadi sebab bagi kakaknya untuk membunuh orang lain lagi.
TASSS!
Yue Yan melihat beberapa ekor ular miliknya yang putus karena kekuatan dari Liu Xingsheng. Hanya beberapa yang tersisa, dan Yue Yan tak yakin jika ular miliknya sanggup menahan lagi. Ia segera mendesak Yi Hua.
"Jika kau tak bisa membunuhnya, maka aku ..."
Air mata Yi Hua menetes. Walau ekspresinya tetap menjadi datar.
"Aku akan mencari cara," bisik Yi Hua dengan tangan bergetar.
Hal tersebut membuat Yue Yan berhenti bicara. Bagaimana pun Yi Hua mencari cara agar Liu Xingsheng sembuh dari penyakit anehnya. Yue Yan tahu itu karena Yue Yan bersama dengan mereka di sepanjang perjalanan menuju Kerajaan Bawah hingga sekarang.
Yi Hua meraih kertas jimat miliknya. Itu bisa menetralkan energi buruk. Dengan panik Yi Hua menempelkan kertas jimat itu di dada Liu Xingsheng. Tepat di mana ada luka memanjang di sana.
Kemudian, ia mengulurkan tangannya untuk menarik hawa buruk di dalam diri Liu Xingsheng.
Yue Yan berusaha mencegah Yi Hua. "Berhenti! Ini berbahaya."
Yang dilakukan Yi Hua sekarang ialah menarik semua energi buruk ke dalam dirinya. Sama seperti yang dilakukan Yi Hua saat mengatasi penyakit Li Quon dahulu, putera Raja Li Shen*. Ia hanya berharap itu bisa mengurangi keracunan bubuk mayat, sehingga mereka punya waktu untuk mempertahankan 'manusia' di dalam diri Liu Xingsheng.
^^^*Kalau lupa ya aku ingatin lagi. Itu ya kasus pertama yang ditangani Yi Hua. Yang waktu itu dia dibantu Hua Yifeng pertama kalinya. Karena terlalu banyak mengambil kekuatan buruk, Tungku Iblis terus memanas dan membuat Yi Hua muntah darah. Jadi, metode yang sama dilakukan Yi Hua sekarang.^^^
Yue Yan berusaha mengehentikan apa yang dilakukan Yi Hua. Akan tetapi, sengatan energi dari Yi Hua sangat mengerikan. Itu seperti saat Yue Yan merendamkan tangannya di dalam air mendidih.
"Yi Hua, dia tak bisa diselamatkan lagi!" teriak Yue Yan yang masih berusaha.
TUK!
Mendadak sepasang tangan pucat menek Yi Hua tepat di tengkuknya. Hal tersebut membuat lonjakan kekuatan di sekitar tubuh Yi Hua meredup dengan cepat. Seolah seseorang baru saja menahan kekuatan Yi Hua.
Yi Hua menoleh tepat pada Hua Yifeng yang menghentikan kekuatan Tungku Iblis. Entah bagaimana Hua Yifeng sudah berada di sampingnya sekarang. Hal tersebut membuat Yi Hua meraih tangan Hua Yifeng, berusaha menyerap kembali energinya.
Akan tetapi, tak ada apapun. Hua Yifeng menahan kekuatan Tungku Iblis.
"Berikan kembali! Aku bisa menahannya." pinta Yi Hua tegas. Matanya menatap Hua Yifeng dengan memohon.
__ADS_1
Hua Yifeng menggelengkan kepalanya. "Tidak."
Yi Hua mencengkeram pakaian Hua Yifeng. "Aku harus menghentikan kematian organ di tubuh Perdana Menteri Liu!"
Hua Yifeng hanya diam.
Yi Hua menarik kertas jimat lagi. Dan sialnya kertas ini hanya tersisa satu. Itulah layaknya seperti kesempatan terakhir. Meski begitu, Yi Hua masih punya harapan untuk menyelamatkan Liu Xingsheng.
Jika Hua Yifeng menyedot kekuatannya, maka Yi Hua hanya perlu mengeluarkannya lagi. Ia menempelkan kertas jimat lagi pada Liu Xingsheng yang sudah lemah. Kini bola mata Liu Xingsheng nyaris berubah putih seutuhnya.
Crashhh!
"Apa yang Anda lakukan?" teriak Yi Hua yang panik.
Akan tetapi, Hua Yifeng menggelengkan kepalanya. Pasalnya Hua Yifeng hanya menekan kekuatan Yi Hua, bukan mematahkan kekuatan kertas jimat.
Kertas jimat penahan energi buruk itu terbakar. Bukan karena Hua Yifeng, tetapi karena Bao Jiazhen.
Bao Jiazhen tampak duduk dengan tenang di bangku tahtanya. Tengkorak yang awalnya duduk di bangku itu entah ke mana perginya. Di sana dengan angkuh mata Bao Jiazhen menatap pada mereka secara bergantian.
"Dia akan menjadi boneka yang baik. Sama seperti Perdana Menteri lugu yang nyatanya menjadi boneka dari kakaknya sendiri," ujar Bao Jiazhen dengan wajah penuh ejekan.
Tentu saja itu semakin menyulut kemarahan Selir Qian. "Yang membunuhmu adalah aku! Ini sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan Xingsheng."
"Tentu saja ada. Kau merasakan seperti apa yang dirasakan oleh keluargaku. Kau merasakan seperti apa yang dirasakan oleh keluargaku saat melihat kematianku," ucap Bao Jiazhen dengan wajah penuh senyuman manis.
Suatu hal yang tak biasa dari wajah seorang Perdana Menteri Kanan Kerajaan Li. Atau, mantan Perdana Menteri?
"Perdana Menteri Huan ... Kalian berteman sejak lama," ucap Yue Yan yang menyambung.
Bao Jiazhen berdecih. "Jangan mengajariku saat kau sendiri membunuh Pendeta Buta, Shen Qibo. Kalian berteman, bukan?" ejek Bao Jiazhen.
Baik. Yue Yan tak bisa ikut-ikutan di sini.
"Kau bisa membunuhku, sialan!" bentak Selir Qian.
"Melihat Liu Xingsheng terus membusuk sebagai mayat berjalan. Itu lebih menarik dibanding melihat kau mati," ucap Bao Jiazhen keji.
Liu Xingsheng yang menunduk tiba-tiba berucap pelan. "Kakak Huan ..."
Bao Jiazhen mendengus. "Jangan panggil aku dengan nama itu lagi."
Mata Liu Xingsheng tampak basah. Entah rasa sakit mana yang lebih kentara. Apakah itu sakit di tubuhnya yang seperti diserang ribuan serangga? Atau hatinya ...
Selir Qian menatap marah. "Xingsheng, sadar! Kau bisa bertahan. Kakak akan mencari obat untukmu."
"Egghhh ..." Liu Xingsheng yang kesakitan berusah memberontak dari ikatan.
Tawa Bao Jiazhen muncul dengan keras.
"Baiklah karena aku berbaik hati, aku akan memberi kalian pilihan."
Bao Jiazhen berdiri menuju ke tengkorak besar berbentuk naga. Sudah bisa dipastikan jika itu memang tengkorak naga yang sudah mati. Bao Jiazhen mengusap tulang naga itu seperti mengusap kepala sapi peliharaan.
"Aku memiliki penawarnya," ucap Bao Jiazhen.
Bagaimana pun Bao Jiazhen yang memberikan bubuk racun mayat pada Liu Xingsheng. Sehingga ia pasti memiliki penawarnya.
Yi Hua menatap Bao Jiazhen lekat. "Katakan apa mau Anda, Perdana Menteri Huan."
Kebiasaan sulit untuk diubah. Hanya karena dia membongkar kedoknya sekarang, bukan berarti Yi Hua akan terbiasa memanggilnya Bao Jiazhen. Meski begitu, Bao Jiazhen terlihat tak masalah. Mungkin tak hanya Yi Hua yang terbiasa di sini.
"Jika Selir Qian berlutut di depanku, mungkin aku akan berniat baik," ejek Bao Jiazhen.
Selir Qian langsung menjawab cepat. "Aku akan berlutut sekarang. Jadi, lepaskan aku, Yi Hua!" perintah Selir Qian pada Yi Hua.
Wilayah di sekitar Bao Jiazhen menjadi bergetar. Itu seperti bencana susulan yang akan datang. Tentu saja yang dilakukan Bao Jiazhen ialah untuk menakuti mereka.
Liu Xingsheng dengan kesadaran terakhirnya menatap pada Bao Jiazhen. "Kak ... ak Huan. Tolong ..." Bisik Liu Xingsheng.
Nyatanya kebiasaan adalah hal yang sulit diubah. Dahulu Liu Xingsheng selalu meminta tolong pada Huan Ran. Dalam hal apapun.
"Ini sudah tak menarik lagi," bisik Bao Jiazhen dengan mata dingin.
SRAKKK!
Tak lama setelah itu, Bao Jiazhen menarik sebuah botol kecil sebesar ibu jari. Yi Hua yakin itu adalah penawarnya. Akan tetapi, ...
PLUNG!
Dengan seenak kepalanya Bao Jiazhen melempar botol kecil itu ke dalam air hitam. Air di mana ada banyak mayat Hantu Air bergelimpangan. Setelah itu, tengkorak-tengkorak pengikut Bao Jiazhen mengitari tubuhnya.
"Selamat berjuang," ucap Bao Jiazhen sebelum sosoknya menghilang bersama dengan hancurnya tengkorak naga yang awalnya kokoh.
Dengan hilangnya Bao Jiazhen, goncangan di sekitar mereka semakin kuat. Pilar-pilar kuat milik istana Bao Jiazhen hancur perlahan. Sepertinya mereka lagi-lagi dibawa Bao Jiazhen dalam ilusinya.
Dan ...
Air hitam dimana Bao Jiazhen melempar penawar itu semakin surut.
"Tidak!" teriak Yi Hua yang bersiap untuk menerjuni air hitam itu.
Akan tetapi, Hua Yifeng meraih bahu Yi Hua. "Kita harus pergi!" ucap Hua Yifeng tanpa bisa dibantah.
Sihir perpindahan yang dibuat Ling Xiao sudah jadi. Mereka harus pergi dari tempat ini, atau mereka akan tertimbun batuan dan tanah. Belum lagi jika muncul serangan lain di tempat yang kurang mencintai perdamaian ini.
Yi Hua masih berusaha memberontak ketika Hua Yifeng menahannya. Perlahan tubuh Yi Hua terangkat ketika
Mata Yi Hua menatap nanar pada sosok Liu Xingsheng yang masih terikat dengan para ular. Kepala Liu Xingsheng terangkat untuk menatap pada Yi Hua. Pria itu tampak berucap sesuatu yang Yi Hua tak bisa lihat jelas.
Meski begitu, Yi Hua bisa melihat ada botol kecil di samping kaki Liu Xingsheng. Botol yang Yi Hua kenal sebagai botol penawar bubuk mayat.
BAMMM!!!
"Tidakk!!" Teriak Yi Hua ketika melihat bongkahan batu besar yang menutup pandangannya dari Liu Xingsheng.
Setelah itu, suasana di sekitar mereka berubah dengan cepat. Yi Hua tak bisa berkata apa-apa saat perlahan tanah di sekitar mereka terus runtuh. Menutup ruang bawah tanah yang memang seharusnya terus tertutup.
Di sana terlalu banyak korban dan kematian.
Juga, percobaan yang seharusnya tak pernah dilakukan oleh manusia.
Liu Xingsheng adalah hasil percobaan sukses dari Selir Qian. Dan ... Liu Xingsheng ikut tertimbun bersama rahasia dari 'obat dari kematian'.
Yi Hua kehilangan semua kata yang bisa ia ucapkan.
Namun apa yang ia lihat dari gerak bibir Liu Xingsheng adalah ...
"Sampai jumpa lagi."
***
SRAT!
Ketika Yi Hua kembali ke kesadarannya, ia kini berada di wilayah Kerajaan Bawah. Di tempat tinggal ayahnya yang sekarang. Tempat di mana mereka melakukan perpindahan sebelumnya.
Saat segel perpindahan dipatahkan, mereka kembali ke tempat semula.
Yi Hua menatap ke sekelilingnya, dan mereka kembali dengan jumlah yang sama.
Bahkan Selir Qian sekalipun.
Yi Hua menepis tangan Hua Yifeng yang ingin mengusap sisa-sisa air matanya. "Saya tidak apa-apa."
Walau nyatanya semua sia-sia. Mereka pergi untuk mencari Liu Xingsheng, dan kembali dengan tangan kosong. Yi Hua tak tahu harus menangis sedih atau tertawa keras untuk kegagalan ini.
GREPPP!!
Selir Qian tiba-tiba meraih kerah pakaian Yi Hua. "Dimana Liu Xingsheng?! Harusnya kau membiarkan aku menggunakan Lingkaran Mawar untuk menyelamatkan Liu Xingsheng," ucap Selir Qian dengan tajam.
Yi Hua menggelengkan kepala. "Lingkaran Mawar tak memiliki kekuatan seperti itu."
Bagaimana pun Lingkaran Mawar hanyalah sarung pedang. Jika pun ada fungsinya, Yi Hua tak yakin jika Lingkaran Mawar bisa digunakan untuk menghentikan keracunan bubuk mayat. Akan tetapi, tangan Selir Qian masih menggoncang kerah pakaian Yi Hua dengan keras.
"Kau pasti bekerja sama dengan Bao Jiazhen sialan itu! Kau ..."
Yi Hua melihat Hua Yifeng tampak marah, tetapi dengan isyaratnya Yi Hua menghentikan tindakan Hua Yifeng. Ia tahu Selir Qian hanya bersedih. Seperti dirinya sekarang. Sehingga ... Tak ada yang buruk, dan ia hanya perlu menerima semua kemarahan Selir Qian.
__ADS_1
SRET!
PLAK!
Yi Hua diam saja ketika Selir Qian menamparnya sekali.
Setelah itu, tangan Selir Qian terangkat lagi untuk memukul lagi. Namun tangan Raja Li Shen menghentikannya.
"Cukup. Apa yang kau lakukan, Qian?" tanya Raja Li Shen sambil menahan lengan Selir Qian.
Selir Qian menghela napasnya. "Hamba akan mencari Liu Xingsheng."
Dan sekali lagi Raja Li Shen menghentikannya. "Berhentilah bertindak semaumu, Qian! Kita bisa mencari Liu Xingsheng bersama-sama."
"Hamba tak perlu bantuan Yang Mulia," ucap Selir Qian datar.
Wanita itu berlalu tanpa perduli pada pandangan orang lain di sekitarnya.
"Qian, beri aku kesempatan untuk menebus segalanya," ucap Raja Li Shen dengan nada memohon.
Suasana di sekitar mereka membuat Yi Hua agak tak nyaman. Bagaimana pun ini adalah hal pribadi antara Li Shen dengan Liu Xinqian. Ini seperti mereka perlu waktu untuk berbicara berdua.
"Aku tahu Xingsheng adalah segalanya untukmu. Namun kau adalah segalanya untukku, Qian. Kau menyelamatkan aku di saat aku hampir mati. Hingga mengorbankan sesuatu yang berharga untukmu," lanjut Li Shen dengan cepat.
Dahulu saat Raja Li Shen yang lemah nyaris dibunuh oleh seseorang yang tak dikenal, Liu Xinqian yang menolongnya. Wanita itu menahan tusukan pedang tepat pada perutnya. Menghalau Li Shen yang sudah hampir mati untuk ditusuk kembali.
Itu adalah pertemuan berikutnya setelah ia bertemu Liu Xinqian yang tengah mengobati orang-orang Kerajaan Li dahulu.
Sehingga dengan sisa kekuatannya, Li Shen menggendong Liu Xinqian yang kala itu terluka parah. Ia mencari seseorang yang bisa membantu mereka. Lalu, tanpa sengaja menemukan kediaman Ling Xiao yang jelas-jelas sangat anti sosial.
Itu adalah keberuntungan karena mereka bertemu Ling Xiao. Akan tetapi, Liu Xinqian bisa diselamatkan, tetapi luka di perutnya sangat besar dan parah. Hingga merusak bagian yang berharga bagi setiap perempuan.
Semua itu karena Li Shen.
"Hamba tak ingin membahas ini lagi. Lagipula anggap itu sebagai bentuk maafku karena karena ayahku turut serta menghancurkan Kerajaan Li," ucap Selir Qian menguatkan hatinya sendiri.
Raja Li Shen menggelengkan kepalanya. "Aku memerlukanmu, Qian."
"Tapi hamba tidak." Hanya itu yang bisa Liu Xinqian ucapkan untuk Raja-nya ini.
Selir Qian menegakkan kepalanya. "Sesuatu di antara kita benar-benar tidak bisa diperbaiki. Sejak awal hubungan kita dimulai dengan kebohongan. Yang Mulia tidak tahu ..."
"Aku tahu," tegas Li Shen.
Yi Hua yakin mereka seharusnya pergi dari tempat ini sekarang. Setelah semua ketegangan sebelumnya, mereka harusnya tak perlu mendengar masalah tentang orang lain. Walau yang lainnya juga merasa bingung untuk berkata apa.
Meski begitu, Selir Qian menggelengkan kepalanya. "Setiap kali hamba melihat kesendirian Yang Mulia, hamba selalu berpikir tentang rasa bersalah hamba pada kehancuran Kerajaan Li."
Bohong jika Selir Qian tak pernah memikirkan tentang perbuatan Ayahnya di Kerajaan Li. Liu Shang ber-tuan pada orang yang salah. Liu Shang menyebabkan kehancuran bagi Kerajaan Li bersama Xin Wantang yang serakah.
"Ditambah lagi ... Liu Xingsheng adalah hal terpenting di hidup hamba. Sehingga rasanya kemarahan lain juga muncul di hati hamba. Mengingat bagaimana Putri Li Wei membalas kami dengan cara yang sama. Hamba pernah melihat Putri Li Wei berkeliaran untuk merobek perut para tentara Kerajaan Xin," ucap Selir Qian sambil melirik pada Yi Hua.
Entah apa yang Selir Qian pikirkan. Hanya saja ... Ia memiliki dugaan, walau ia tak bisa menemukan alasan yang konkret tentang itu. Hanya saja apa yang tak mungkin di dunia ini?
Meski begitu ...
Yi Hua menyela. "Apa maksud Selir Qian dengan Putri Li Wei ..."
"Aku tahu jika ini sejak awal memang kesalahan dari Kerajaan Xin. Sehingga tak aneh jika Putri Li Wei menuntut balas. Akan tetapi, semua pemandangan mengerikan itu masih terasa. Di saat aku takut jika aku gagal mengobati Liu Xingsheng, di sana Putri Li Wei meneror ..."
Sebentar ...
"Selir Qian, Putri Li Wei bahkan sudah tiada bahkan sebelum Kerajaan Xin hancur," ucap Wei Wuxie yang masih mengingat jelas apa yang terjadi.
Kerajaan Xin mengalami kehancuran bertahap. Tidak langsung hancur dalam beberapa hari. Ada sekitar beberapa bulan sebelum kehancuran itu, dan kematian Putri Li Wei sudah terjadi jauh sebelum itu.
Juga ... Percobaan Cangkang Manusia Li Wei adalah yang pertama. Selir Qian adalah orang yang belajar dari percobaan pertama itu. Sehingga jika diurutkan dari waktu kejadian, maka saat itu mungkin sudah beberapa bulan setelah kematian Li Wei.
Itu sudah beberapa bulan setelah Hua Yifeng benar-benar merelakan kepergian Li Wei. Wei Wuxie sangat ingat tentang itu.
Karena saat itu Hua Yifeng berfokus untuk menyamar menjadi An. Lalu, dengan konyolnya menjadi pengawal pribadi Li Shen yang masih kecil. Mendidik Li Shen hingga mampu berdiri sendiri dengan kedua kakinya untuk memimpin Kerajaan.
Tak hanya ada An di sana, tetapi ada Wang Zeming yang selalu menjadi orangtua bagi Li Shen. Setidaknya Li Shen tak benar-benar sendirian saat semua keluarganya tewas. Semua kerusuhan mulai membaik, walau dengan sisa-sisa kepedihan dari masa lalu.
Lalu, bagaimana bisa 'Li Wei' ini meneror Kerajaan Xin di saat jiwanya sudah kembali ke langit?
Aku jelas tak tahu apa-apa. Karena aku pihak yang 'mati' di saat itu!
Selir Qian tampak bingung. "Aku melihatnya secara langsung. Bagaimana seorang gadis cantik dengan pakaian serba merahnya melintasi wilayah sunyi Kerajaan Xin. Apa kalian ingin mengatakan jika itu bukan Putri Li Wei?"
Keheningan melanda mereka.
Yi Hua menoleh ke arah Hua Yifeng. Pria itu terlihat sedikit terganggu. Sehingga dia menjawab dengan tajam. "Itu bukan Li Wei."
Pria itu tampak tak tahu juga mengenai hal ini. Apa itu berarti kejadian ini bukanlah campur tangan Hua Yifeng?
Hey? Apa yang terjadi di saat aku mati dahulu?
Yi Hua merasa bahwa segala sesuatu di masa lalu terasa sangat janggal. Bahkan gelar Putri Hitam Li Wei juga terlihat gegabah untuk diberi padanya. Karena ia memang terkenal dengan kutukannya, tetapi Li Wei tak membantai orang lain seperti para iblis lainnya.
Lalu, mengapa dirinya bisa dimasukkan dalam Lima Bencana Besar?
Ia merasakan hal yang buruk tentang ini.
"Apa kalian ingin mengatakan jika dia bukan Putri Li Wei? Namun Putri Li Wei juga lah ..."
STAB!
Raja Li Shen terpaku ketika percikan darah mengenai wajahnya. Darah itu tak begitu banyak, tetapi hanya setitik. Dan mata Li Shen membelalak ketika tahu darimana sumber darah itu berasal.
"Qian ..."
Baru saja sebuah panah melesat tepat di bahu Selir Qian.
"Periksa di sekitar," teriak Yi Hua yang menyadari tentang serangan mendadak itu.
Tangan Raja Li Shen meraih bahu Selir Qian. Dan kala itu sebuah panah baru melesat lagi ke arah Selir-nya itu ... Kali ingin panah itu melesat tepat ke tenggorokan Selir Qian. Panah itu bukan panah beracun, tetapi itu sengaja diarahkan ke tenggorokan Selir Qian.
Membungkam sumber suara yang bisa Selir Qian keluarkan.
"EKHHHH ... Yang M... ulia," ucapannya menunjukkan rasa sakit yang Selir Qian rasakan.
Darah mengalir deras dari panah yang tertancap di tenggorokannya. Jika dicabut, maka darahnya akan lebih cepat mengalir. Namun bagaimana cara mengobatinya?
Sejauh yang Liu Xinqian ingat, dirinya melihat Ling Xiao yang tengah memeriksanya. Pria itu merobek pakaiannya sendiri untuk menahan darah yang terus mengalir dari tenggorokan Liu Xinqian.
Hingga pandangannya terus menggelap. Rasa sakitnya mengiringi napasnya yang mulai menguap.
Bukankah Liu Xinqian benar? Sesuatu di antara ia dengan Li Shen benar-benar tidak bisa diperbaiki. Mereka juga tak bisa bertindak seolah tak ada yang terjadi di sekitar mereka.
BRUK!
Yi Hua merasa semua di sekitarnya terjadi dengan cepat. Ia menoleh ke sana kemari untuk menemukan siapa pemanah itu. Namun nihil. Mereka seperti melihat panah ini seperti terbang sendiri.
Saat itulah Yi Hua menatap panah yang tertancap di leher Selir Qian. Ingatan Yi Hua masih sangat tajam.
Di masa lalunya panah itu juga yang memulai segalanya. Di kediaman miliknya, sebuah panah melesat. Kemudian dari sana semua titik-titik terus menyambung. Hingga menuju pada setiap kesialan.
Di satu sisi ia merasa seperti menemukan kejanggalan tentang semua masa lalunya. Sekarang di saat ia nyaris menemukan orang yang sepertinya tahu sesuatu, semuanya ditutup dengan rapi. Bahkan seingat Yi Hua Selir Qian juga ingin mengatakan sesuatu. Dan, Liu Xinqian ditutup mulutnya untuk selamanya.
Mengapa bisa jadi begini?
Kala itu ... Yi Hua hanya bisa menyaksikan bagaimana adiknya, Li Shen menangis. Sama seperti di masa lalu, saat Li Shen melihat kakak-kakaknya kehilangan nyawa di depan matanya.
Dan di posisi ini Yi Hua tak bisa menenangkan adiknya sendiri. Ia hanya menatap Li Shen yang memeluk Liu Xinqian yang bersimbah darah. Yi Hua menahan tangannya sendiri, dan air mata kesedihannya. Karena di kehidupan barunya ini, dia dan Li Shen bukanlah keluarga.
Mereka berhasil menemukan dalang dari kerusuhan di Pusat Kota. Itu adalah Selir Qian. Semua itu membuka pada fakta baru di sekitar mereka. Masa lalu Selir Qian, Liu Xingsheng, dan Huan Ran. Semuanya terbongkar di sini.
Tapi, apa semua ini sudah selesai?
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
__ADS_1
Adios~