
Hey, bagaimana bisa ada pria yang menyebalkan seperti itu? Apa dia pikir hati seorang gadis hanya bisa dibeli dengan uangnya?
Meski kebanyakan hal itu bisa terjadi, tetapi tak semua orang bisa seperti itu. Terutama untuk seseorang yang punya banyak harta seperti Luo MeiYin. Ditambah lagi, Yi Hua tak mengerti alasan mengapa dia ingin menikahi Luo MeiYin.
Atau, bisa jadi ini hanyalah aturan yang memang dia buat agar memiliki keturunan?
Bisa jadi ...
Yi Hua mendadak marah-marah sendiri. Bahkan dia menghentak-hentakkan kakinya sepanjang perjalanan. Dia bahkan berbanding terbalik dengan Luo MeiYin yang agak tenang. Gadis itu malah menatap Yi Hua dengan aneh. Gadis pelayan yang mengikuti Luo MeiYin juga ikut menatap Yi Hua.
Pasalnya, Yi Hua lebih emosi dibandingkan Luo MeiYin.
"Pokoknya jika pria itu tidak datang untuk minta maaf, jangan terima dia ke rumah Anda, Nona! Anda harus menjual dengan agak tinggi. Paham!" ucap Yi Hua sambil menunjuk ke depan hidung Luo MeiYin seperti seorang mertua.
Luo MeiYin mengangkat alisnya yang runcing. Yah, Yi Hua belum mengomentari tatanan alis dari Luo MeiYin ini. Dia tak mengerti mengapa Luo MeiYin merasa percaya diri ketika berjalan dengan alis yang sangat tipis.
Itu seperti kau meletakkan rautan kayu runcing ke atas dahimu!
"Aku tak berani melakukannya, Tuan Yi! Apa kau pikir orangtuaku akan membiarkan aku bertindak tidak sopan seperti itu? Kau pikir aku ini orang sepertimu!" bentak Luo MeiYin yang masih gemas dengan tingkah Yi Hua.
Oh iya!
Yi Hua akhirnya mendudukkan dirinya di rerumputan. Tanpa menunggu hitungan detik, dia langsung berbaring di sana. "Dia tidak mencintaimu, Nona Luo!"
Ia jelas bukan orang yang suka berbasa-basi tentang ini semua. Lagipula, lebih sakit dari segalanya ialah diberi harapan atau ditinggikan begitu saja. Lalu, tak lama kau tetap jatuh oleh keadaan. Itu sangat omong kosong.
Namun ini sebenarnya bukan urusan Yi Hua.
Meski tanpa cinta, tetapi dunia ini berjalan dengan sangat wajar.
Selama kau bisa hidup nyaman, memiliki kemuliaan, dan status yang tinggi, apa yang perlu kau risau lagi tentang kehidupan?
Yi Hua yakin Luo MeiYin juga begitu. Entahlah.
Luo MeiYin berdiri dengan angkuh di samping Yi Hua. "Aku tahu."
Cerita cinta yang tak begitu luar biasa. Dan, Yi Hua bukanlah orang baik. Dia tak ingin ikut bersedih atas cerita cinta orang lain. Cukup menjadi seperti Yi Hua yang biasanya. Dia adalah orang yang tak ada baik-baiknya.
Yi Hua berusaha menekan apapun yang ia pikirkan.
Ayo, pikirkan cara untuk mencari uang saja. Jika aku tak bekerja, aku makan apa nanti!?
"Sudahlah, aku akan pulang," ucap Luo MeiYin dengan wajah angkuhnya. Seolah semua kesedihannya telah terhapus begitu saja.
Yi Hua memejamkan matanya. Menolak untuk melihat momen menyedihkan atau apapun. "Jangan lupa untuk membayar. Anda bisa membayar di muka, atau sekaligus."
"Kau pikir aku tak sanggup membayarmu!" teriak Luo MeiYin yang melemparkan kantong uang ke perut Yi Hua.
BUGH!
Yi Hua yang pecinta uang langsung menangkapnya. Ia membukanya dengan wajah berseri, dan itu hanya bertahan beberapa saat. Tak lama wajahnya menjadi kelam.
"Nona, saya sudah membantu untuk menunjukkan wajah asli 'Saku Pribadi' milik Nona itu. Mengapa hanya memberiku sedikit?" tanya Yi Hua lemah.
Luo MeiYin mencebik karena mendengar ucapan Yi Hua. "Tanpa kau beritahu aku juga sudah tahu."
Jadi, mereka seperti tidak mengerjakan apa-apa!
***
__ADS_1
Yi Hua merasa mengantuk begitu saja saat Luo MeiYin telah pergi. Suasana di sekitar tempat ia berbaring cukup sepi, dan jelas tak akan ada yang perduli pada seonggok makhluk melata sepertinya. Sepertinya Yi Hua hanya perlu tidur sebentar, dan pulang setelah itu.
"Xiao, jika ada orang yang hampir menginjak aku, beritahu segera," ucap Yi Hua mengkonfirmasi kegunaan dari Xiao ini.
Xiao berdecak. "Bagaimana jika aku memberitahumu bahwa ada yang ingin membunuhmu?"
"Haha ... Lucu sekali! Di dunia ini tak ada keuntungannya aku mati atau tidak."
Namun Yi Hua lupa jika Xiao tidak terlalu sering bercanda. Yi Hua harusnya tahu jika Xiao adalah makhluk paling jujur yang pernah ada. Sehingga ketika dia sadar agar terlambat, ia hampir kehilangan kepalanya. Beruntung dia sempat berguling ketika kilat pedang mendekat ke kepalanya.
Hey! Bagaimana kau bisa melayangkan pedang ke kepala orang lain seolah itu tak akan sakit saat lepas?
Yi Hua segera bangkit ketika melihat segerombolan orang dengan pakaian hitam mendekat. Langkah mereka yang teratur membuat Yi Hua tahu jika mereka bukanlah penjahat biasa. Masalahnya dia tak tahu apa salahnya.
Ini tidak seperti Yi Hua punya 'sesuatu' yang bisa membuatnya menjadi objek kejahatan.
"Itu Tentara Malam."
Huh?
Jelas saja Yi Hua baru mendengar tentang Tentara Malam. Dia harusnya mendengarkan penjelasan dari Xiao terlebih dahulu.
BRUK!
Yi Hua jelas tak ingin begitu menjadi lemah. Dengan cepat dia meraih potongan kayu yang kebetulan ada di sana. Mungkin Dewa masih mengasihaninya sehingga ada bantuan sedikit untuknya.
Xiao berdehem sejenak. "Seharusnya Tentara Malam tak bisa diperintah begitu saja."
"Apakah karena ini masih siang?" tanya Yi Hua sedikit logis. Ia mundur-mundur seperti orang mengantisipasi.
Mereka tak menyerang Yi Hua, dan Yi Hua masih mengambil ancang-ancang. Entah kapan Yi Hua memutuskan untuk menyerang. Atau, Yi Hua akan memilih melarikan diri saja.
Di masa seperti ini, aku tak perduli disebut pengecut! Lagipula, mereka membawa kelompok saat aku sendirian. Menjengkelkan.
Yi Hua langsung menatap ke arah orang-orang berpakaian serba hitam itu. Mereka juga menggunakan cadar seperti mereka orang yang takut terkena cahaya matahari. Dengan penasaran Yi Hua menunjuk pada salah seorang dari mereka. "Hey, bukannya kalian salah orang ya? Aku ini orang paling ramah yang pernah ada. Mana mungkin ada orang yang ingin membunuhku!"
Namun mereka tak mengatakan apa-apa. Dua dari mereka mendekat ke arah Yi Hua, dan entah mengapa di sekitar Yi Hua menjadi bertambah sepi. Bagaimana pun Yi Hua harusnya tahu bahwa semuanya sudah diatur.
Jika mereka bekerja di bawah perintah kerajaan, berarti ada orang di kerajaan yang ingin membunuh Yi Hua.
Akan tetapi, seperti yang Yi Hua katakan. Dia tak seharusnya dikejar seperti ini, karena dia dalam misi mendapatkan piring emas dari Raja Li Shen. Jika dia bisa membunuh Hua Yifeng, maka keselamatannya terjamin tanpa ada ancaman hukuman mati lagi.
Lalu, siapa yang punya banyak waktu luang untuk menyuruh orang-orang ini untuk membunuh Yi Hua?
Kecuali, ...
Rong Mingyu.
Jelas sekali pria itu bukanlah seorang pedagang saja. Yi Hua sudah menyinggungnya, dan jelas pria itu tak akan segan untuk menyapanya.
SRET!
Yi Hua berusaha menghindar ketika pedang itu mengarah ke arah lehernya lagi. Seperti yang dikatakan oleh Xiao, Tentara Malam sangat hebat.
Namun Yi Hua adalah orang yang terbebas beberapa kali dari mautnya.
GREP!
"Ikat!"
__ADS_1
SRING!
Dua orang yang mendekat pada Yi Hua mendadak terikat oleh sesuatu. Mereka tak bisa bergerak, dan saling menatap tak mengerti. Setelah itu, Yi Hua memukul titik tidur mereka dengan cepat hingga mereka berjatuhan di rerumputan.
Hal itu terjadi dengan cepat, dan membuat beberapa orang yang tersisa menatap bingung. Pasalnya, mungkin mereka telah mendengar bahwa Yi Hua adalah seseorang yang tak bisa apa-apa.
"Mungkin dia memang benar-benar pernah bertarung dengan Shen Qibo. Dia tak terlihat bodoh seperti yang diceritakan."
Yi Hua mendengar salah satu dari mereka berbicara. Namun ia tak menyangka jika Shen Qibo disebut-sebut di sini. Lebih dari segalanya, Yi Hua mulai mengingat sesuatu. Terutama tentang 'keluarga' yang disebut oleh Shen Qibo. Juga tumpukan tengkorak di sumur Lembah Debu.
Jelas saja jika mayat itu tidak 'ada' begitu saja seperti rumput yang tumbuh, bukan?
Bagaimana jika lubang yang menampung tumpukkan tengkorak itu memang tempat untuk 'membuang'?
Hey, aku tidak sedang membongkar keburukan kerajaan, bukan?
Yi Hua menjadi takut sendiri dengan pemikirannya. Akan tetapi, Shen Qibo tetap menjadi sosok yang misterius. Dan, juga jika Shen Qibo merupakan salah satu dari Tentara Malam, mengapa dia membantai orang-orang desa?
Ia tak menyangka jika ini akan saling berhubungan.
Oleh karena itu, Shen Qibo menjadi pendosa. Dia diburu oleh kerajaan, dan mendapat kekuatan iblis akibat dosanya. Dia diliputi darah dan dendam orang lain. Sehingga dia tak bisa melarikan diri dari dosanya, dan diliputi energi buruk.
Yi Hua hanya takut ada hal yang sangat buruk di balik ini semua.
Namun ia yakin ini bukan saat yang tepat untuk membongkar sesuatu seperti ini. Terutama saat Ling Xiao mengingatkannya untuk tidak menggali sesuatu yang sudah dikubur lama. Apalagi tentang Shen Qibo yang jelas-jelas berhubungan dengan Tentara Malam.
Hey, bukannya tugasku hanya mengumpulkan ingatan milikku saja?! Mengapa aku harus terlibat dalam hal ini juga?
***
Yi Hua bukanlah seorang kultivator, dan tak memiliki kekuatan untuk bertarung. Akan tetapi, dia adalah pengguna jimat. Dia hanya perlu membuat jimat sebagai medianya untuk menangkap energi di sekitar. Dan, Yi Hua adalah orang yang dikelilingi oleh banyak energi. Tentu saja itu karena dirinya adalah tungku iblis di dalam dirinya.
Energi yang terkumpul di sana bisa Yi Hua salurkan ke dalam jimat. Ia mempelajari hal itu selama beberapa hari ini. Darimana ia mempelajarinya?
Entahlah. Dia entah bagaimana mengetahuinya.
Mungkin di kehidupan sebelumnya aku juga pernah menggunakan energi iblis.
"Yi Hua, kau seharusnya tak menggunakan energi iblis," tegur Xiao saat menyadari Yi Hua melanggar batasan.
Namun Yi Hua tak punya pilihan lain. Lagipula, selama tak ada yang tahu, maka semuanya baik-baik saja. Yi Hua mengambil pedang milik kedua orang yang pingsan sebelumnya. Dia tak boleh menggunakan jimat lagi, atau dia akan ketahuan.
Oleh karena itu, ia harus bertarung.
"Rong Mingyu itu. Katanya dia tak cemburu!" ucap Yi Hua dengan nada jengkel. Suaranya begitu kecil seolah dia tak ingin ada yang mendengarnya.
"Atau, dia hanya dendam karena kau menentangnya, Yi Hua," jelas Xiao lebih masuk akal.
BAKK!
Baru saja Yi Hua ingin bertarung, seseorang memukul belakang kepala Yi Hua dengan kayu. Yi Hua menoleh sejenak, dan di sana ia melihat senyum menyebalkan dari Rong Mingyu.
Orang ini benar-benar bukan seorang pedagang biasa.
***
Selamat membaca.
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik lagi untuk ke depannya. Sertakan dukungan bagi author agar tambah semangat lagi.
__ADS_1
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
Adios~