Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Desa Yi dan Perayaan Qixi


__ADS_3

"Aku rasa Ming Fan ini tak benar-benar mengandung, HuaHua. Hanya kau seorang 'pria' yang pernah dekat dengan Ming Fan. Mungkin dia punya alasan mengapa berpura-pura." Xiao memberikan argumentasinya untuk menenangkan Yi Hua.


Yi Hua berjalan kembali ke kediamannya dengan pikiran yang berliku-liku. Bagaimana pun meski dia tak mengenal Ming Fan ini, tetapi semua tentang gadis itu dikaitkan dengan Yi Hua asli. Lalu, bagaimana cara dia mencari gadis itu yang bahkan wajahnya tak bisa dia ketahui.


Apa aku harus menempelkan selembaran di Pusat Kota dengan tulisan "Yang merasa namanya Ming Fan segera pulang ke rumah"?


Pada akhirnya, Yi Hua memutuskan untuk tidak menulisnya karena dia ingin hemat kertas. Ditambah lagi itu akan jadi sangat memalukan jika Yi Hua melakukannya. Mungkin Yi Hua harus meminta bantuan Liu Xingsheng yang punya 'nama' di Kerajaan Li ini.


SRET


"Menurutmu kemana Ming Fan pergi, Xiao?" tanya Yi Hua ketika membuka pintu kediamannya.


Namun baru saja dia membuka pintu, ucapannya langsung terhenti. Xiao langsung menjawab Yi Hua dengan sangat cerdas dan yang pastinya benar. Sebab, mereka telah melihat sosok yang ditanya Yi Hua.


"Aku rasa dia di sini," balas Xiao yang segera dijawab Yi Hua dengan anggukkan.


Di depan Yi Hua sekarang tampak seorang gadis yang tengah menyenderkan tubuhnya ke dinding. Dari gerakan gadis itu saja sudah terlihat jika dia tak canggung saat berada di kediaman Yi Hua. Lalu, tangan langsingnya meraih mangkuk teh yang telah disediakan oleh gadis itu sendiri.


"Kenapa kau lama sekali?" tanya gadis itu setelah menyesap teh.


Yi Hua langsung mendekat pada gadis itu, yah ... Ming Fan yang katanya hilang ini. Rasanya Yi Hua ingin segera menyapa kepala gadis ini dengan sepatunya. Namun ia tak melakukannya karena tak mau dianggap pemarah.


Peramal itu duduk di hadapan Ming Fan sambil meletakkan roti yang sempat dibelinya dari Bibi di dekat rumahnya. Ia mengatakan dengan senyum yang sangat manis. "Silahkan dimakan. Tak perlu sungkan, anggap saja rumah orang."


Ming Fan menatap Yi Hua dengan tatapan aneh. "Hey, temanmu datang dan begitu sikapmu? Biasanya kau lebih manis."


Apa definisi manis yang dilihat Ming Fan dari Yi Hua?


Bisa saja peramal itu cukup lelah untuk meladeni Ming Fan. Atau, Yi Hua asli memang aslinya tak begitu pandai bicara. Hal itu bisa dilihat dari betapa tingginya kata-kata Yi Hua. Jika dia lebih pandai bicara, tak akan ada orang yang menyebutnya penuh omong kosong.


"Jika Nona Ming ingi melarikan diri itu bilang-bilang pada orang di rumah, sehingga kau tak dicari," tegur Yi Hua yang sudah lelah sendiri.


Ming Fan menatap Yi Hua tak mengerti. "Aku melarikan diri itu karena tak mau dicari, Yi Hua. Kau ini mengapa bertindak aneh? Biasanya juga kau tak pernah menyebutku 'Nona'?" tanya Ming Fan yang merasa Yi Hua di depannya agak berbeda.


Biasanya Yi Hua akan menanggapinya dengan kalimat-kalimat singkat dan tidak jelas. Apabila Yi Hua berbicara agak banyak, maka setengah dari pembicaraan Yi Hua adalah kesombongan. Meninggikan dirinya untuk merendahkan orang lain. Atau, bisa jadi Yi Hua hanya melihat sesuatu yang tak bisa dilihat orang lain. Itulah yang membuatnya seperti itu.


Entahlah.


Yi Hua menggaruk kepalanya asal. "Anggap saja aku tak bicara apa-apa. Sekarang apa kau tahu buruknya situasi yang aku alami?" tanya Yi Hua yang sekarang ingin mencakar dinding karena kurang kerjaan.


"Selain karena kau berpura-pura sebagai pria, ku pikir tak ada situasi yang bisa lebih buruk lagi. Aku sudah sering mengatakan tentang hal itu. Kau akan segera ketahuan," balas Ming Fan sambil menggigit roti dengan cepat.


Yi Hua segera menarik kembali bungkusan rotinya. Jika ia tahu jika Ming Fan ini seperti sapi tak diberi makan, maka ia tak akan menawarkan. Masalahnya adalah ...


Nanti aku makan apa jika makhluk ini menghabisinya?


Namun seperti yang Xiao katakan, Ming Fan tahu identitas Yi Hua yang sebenarnya.


"Ming Fan tahu identitas Yi Hua karena mereka adalah teman sejak kecil. Lalu, setelah mereka tumbuh besar Yi Hua mulai masuk kerajaan dan bekerja. Sehingga mereka jarang bertemu. Terakhir kali mereka bertemu ialah setelah ayah Yi Hua meninggal," jelas Xiao di telinga Yi Hua.


Jika seperti itu, mereka tak bertemu cukup lama. Mungkin ada beberapa tahu. Bagaimana mungkin ada dua orang teman yang tinggal di kota yang sama, tetapi baru bertemu lagi setelah beberapa tahu? Apakah itu masih disebut teman?


Meski begitu, dirinya ingin menangis ketika mendengar ucapan Xiao. Setidaknya Yi Hua ini punya segelintir teman, walau agak tak beres seperti Ming Fan. Yah, lumayan masih ada orang yang akan diwariskan Yi Hua hutang-hutangnya di pasar jika tak bisa membayar.


Yi Hua menekan dadanya lagi yang terasa sesak. Rasa sesak di dadanya kian lama semakin pelik. Yi Hua pikir meladeni Ming Fan hanya akan membuat darahnya semakin panas saja. Itulah yang membuat Yi Hua mengangkat sebelah kakinya ke meja untuk menyamankan diri.


"Maksudku adalah kau melarikan diri setelah mengatakan bahwa kau mengandung. Aku tak tahu apa yang kau inginkan. Namun jika kau berpura-pura mengandung hanya karena ingin segera bebas dari kediaman Keluarga Ming, sebaiknya kau pulang saja. Jangan membuat orang lain memandang dirimu sebagai gadis tak benar," nasihat Yi Hua yang sudah seperti leluhur tentang kemanusiaan dan logika.


Setelah itu, Yi Hua mengambil mangkuk yang lainnya lagi dari dapur kecilnya. Meski dia tak mampu, tetapi Yi Hua setidaknya punya mangkuk minum lainnya untuk tamu. Apalagi Yang Hua akhir-akhir ini agak terkenal.


"Lagipula, jika kau bermaksud membuat kita berdua menikah agar kau terbebas, maka aku akan memukulmu sekali agar cepat sadar," ucap Yi Hua sebelum menuang air dan langsung menegak minumannya hingga tandas.


"Aku tidak berniat menikah denganmu yang kurang mampu ini," bantah Ming Fan dengan wajah meremehkan.


"Gadis Ming Fan ini sangat cerdas. Meski kau seandainya benar-benar pria, HuaHua, tetapi jika tak berguna, mana ada yang menikahimu. Aku sarankan kau mencari pasangan yang kaya raya untuk kesejahteraan hidup," ucap Xiao yang ikut-ikutan.


Yi Hua mendadak merasakan pedih di hatinya. Meski dia tak ber-uang, jangan disebut!


Untuk meredakan sebal di hatinya Yi Hua minum air lagi.


"Dan juga ... Aku memang mengandung."


Yi Hua mengangguk. "Oh ... Mengandung."


Hening.


"Bukannya kau bilang jika Ming Fan ini tak pernah dekat dengan pria?" protes Yi Hua di dalam hati.


Xiao menyahut. "Informasi yang aku miliki itu sama dengan pengetahuan Yi Hua asli. Jika aku tak tahu, berarti Yi Hua juga tak tahu."

__ADS_1


"Sistem tak berguna," omel Yi Hua pada akhirnya. Setelah itu, Yi Hua mendengar balasan dari Xiao, tetapi ia mengabaikannya seperti mengabaikan suara nyamuk.


Sekarang gadis ini mengaku padanya bahwa dia benar-benar mengandung. Yi Hua langsung mendekat pada Ming Fan dan mengguncang-guncang tubuh gadis itu. "Ayo cepat tarik kata-katamu. Tidak boleh sembarang bicara, Nona Ming," ucap Yi Hua yang tersenyum seperti keledai.


Ming Fan berusaha melepaskan tangan Yi Hua yang melekat di kedua bahunya. Meski begitu, ia menyadari bahwa Yi Hua cukup kuat seperti sapi. Bahkan Ming Fan nyaris bereinkarnasi tanpa mati hanya karena Yi Hua yang mengguncangnya.


"Aku serius, Yi Hua. Aku memang mengandung," ucap Ming Fan yang berhasil menjauh dari tangan kejam Yi Hua.


Yi Hua menghela napasnya. "Siapa ayahnya?"


"Itu tak penting, Yi Hua. Ini bukan masalahmu. Yang lebih penting adalah aku menemukan apa yang kau cari," ucap Ming Fan dengan wajah tenang seolah mereka sama sekali tak membicarakan hal yang serius sebelumnya.


Tak penting katanya! Itu masalah untukku, karena semua orang mengira aku si penabur benih tanpa bertanggung jawab.


Namun apa maksudnya yang dirinya cari?


Melihat wajah bingung Yi Hua, Ming Fan berdecak sebal. Gadis itu berdiri dari duduknya tanpa berniat basa-basi lagi. "Apa kau lupa dengan apa yang kau minta padaku?"


"Apa aku pernah meminta kau untuk meminjami aku uang? Sepertinya aku mengalami kecelakaan tunggal dengan sapi, dan mendadak hilang ingatan. Tolong ingatkan aku kembali," ujar Yi Hua tanpa berniat bertanya pada Xiao. Dia masih sebal dengan Xiao yang selalu terlambat memberi informasi.


Ming Fan tak tahu apa yang dimakan Yi Hua sehingga menjadi tak beres seperti ini. Akan tetapi, ia hanya datang ke kediaman Yi Hua untuk menyampaikan sesuatu. Itu adalah apa yang dijanjikan Ming Fan pada temannya yang kurang beres ini.


"Kau ingin tahu di mana Nyonya Yi berada, bukan?" tanya Ming Fan yang kelelahan sendiri.


Yi Hua mengangkat sebelah alisnya. "Nyonya Yi?"


Seingatnya hanya dirinya yang bernama 'Yi', karena dia tak punya saudara. Ditambah lagi tak ada 'Yi' yang dirinya kenal selain Yi Hua ini. Sehingga dia masih bingung dengan arah pembicaraan ini.


Kecuali ...


"Ibumu."


Yi Hua tak mengatakan apa-apa lagi.


Bagaimana pun tentang sosok ibu di kehidupan Yi Hua adalah tidak ada. Tak ada sedikit pun informasi tentang ibunya. Bahkan semua orang menyebut jika Yi Hua hanya anak yang diasuh oleh ayahnya.


"Yi Hua dan Shi Heng tak pernah membahas tentang ibumu. Kau tahu kedua orang itu lebih pandai berkata-kata pada orang lain, daripada berbicara seperti ayah dan anak pada umumnya," jelas Xiao di telinga Yi Hua.


Shi Heng? Ini pertama kalinya aku mendengar nama 'ayah'ku di kehidupan ini.


Xiao hanya berdecak dengan Yi Hua yang semakin menjengkelkan dari hari ke hari. "Kau selalu menyalahkan aku yang kurang cepat memberitahu informasi. Lalu, apa kau juga pernah koreksi dirimu sendiri yang kurang bertanya? Kau tahu ada pepatah dari suatu negeri, malu bertanya sesat di akhirat!" omel Xiao yang sudah panas sendiri.


Yi Hua hanya menanggapi dengan santai seolah dia tak begitu menangkap ucapan Xiao. Lagipula, jika dia mendengarkan semua ucapan Xiao, dia akan menjadi suci dari noda. Seperti diberi mantra-mantra agar dirinya terhindar dari energi buruk.


Sudahlah abaikan semua komentar di kepala Yi Hua. Inti dari segalanya ialah ...


Ayah dan anak itu yang sama-sama sering berbicara omong kosong. Shi Heng juga mencurigakan karena dia sama sekali tak ingin mengungkap tentang diri Yi Hua. Bisa jadi Shi Heng juga tahu tentang tungku iblis di dalam diri puterinya. Atau, itu alasan Shi Heng menyembunyikan identitas Yi Hua yang sebenarnya?


"Apakah kau menemukan di mana ibuku?" tanya Yi Hua pada akhirnya. Walau bibirnya terasa kelu ketika harus menyebut ibu.


Bagaimana pun dia yang dengan ingatan 0 tak pernah tahu tentang kerabat. Baik kerabatnya sendiri di kehidupan sebelumnya, atau kerabatnya di kehidupan ini sebagai Yi Hua. Ia hanya tahu keluarga 'Shi'. Itu pun Yi Hua sudah ingin keluar dari KK ... Maksudnya keluar dari pengawasan keluarga 'Shi'.


Ming Fan mengusap perutnya yang datar dengan irama konstan. Yi Hua tak tahu mengapa Ming Fan melakukannya. Sehingga dia menganggap Ming Fan mungkin hanya lapar.


"Aku tak tahu tentang keberadaan ibumu. Saat aku berpura-pura sebagai pasanganmu aku bisa berkumpul dengan sesama keluarga Shi. Namun mereka sama sekali tak tahu tentang ibumu," ujar Ming Fan dengan nada malas. Apalagi ketika dia menyebut pasangan terhadap Yi Hua.


Yi Hua mulai berpikir, "Apa maksudmu ayahku juga tak pernah mengungkapkan apa-apa pada Keluarga Shi? Oleh karena itu, dia dikeluarkan dari keluarga Shi."


"Apa kau harus bertanya lagi tentang itu? Kau diberi nama Yi Hua, dan itu membuat orang bertanya apakah ayahmu hanya mengarang nama keluarga atau apa. Namun orang berpikir bahwa ibumu mungkin bermarga 'Yi'," balas Ming Fan.


Dirinya mulai bertanya-tanya tentang kehidupan Yi Hua ini. Apakah kedua orang ini hanya hidup berdampingan seolah ayah dan anak? Akan tetapi, mereka berdua tak memiliki keberanian untuk saling bicara.


Bagaimana bisa seorang anak tak berani bertanya pada ayahnya, seperti "Di mana ibuku?" atau "mengapa aku berbedak?" Atau apa saja yang membuat ayahnya akan menceritakan tentang asal-usul Yi Hua ini.


Entahlah.


Lalu, setelah 'ayahku' ini meninggal aku harus bertanya pada siapa? Hanya dia saksi pembuatan diriku ini di dunia, Yang lainnya tak tahu.


Lagipula, wajar saja jika seorang anak bertanya tentang ibunya. Yi Hua asli juga begitu, apalagi dengan embel-embel bahwa dia hanya dibawa oleh Shi Heng begitu saja. Pasti akan aneh jika tak ditanya. Lain halnya jika Yi Hua hanya dititipkan oleh sapi kepada ayahnya.


"Jika kau dititipkan oleh sapi pada ayahmu, maka kau adalah ..." ucapan Xiao terhenti ketika Yi Hua membaca mantra-mantra aneh.


Xiao bertanya lagi, "Apa yang kau baca?"


"Itu hanya mantra agar kau terkena ilmu jahat. Namun aku sudah memastikan tidak ada dosa dari itu, karena aku tak menyakiti seorang makhluk," ujar Yi Hua dalam hati.


Yi Hua mendengar Xiao menyebutnya si*lan, tetapi Yi Hua mendadak tuli lokal.


Dalam perdebatan itu, Yi Hua tak menyadari jika Ming Fan memperhatikannya. Ketika ia menyadarinya itu sudah terlambat, Ming Fan sudah menatapnya dengan tatapan aneh. Bagaimana pun Yi Hua terlihat seperti tengah melamun dan pikirannya kosong.

__ADS_1


"Yi Hua, apa kau benar-benar tidak makan sesuatu yang aneh? Atau, kau masih memikirkan tentang Raja Li Shen itu? Harusnya kau tak jatuh cinta pada sesuatu yang tinggi, saat kau tak bisa meraihnya jatuhnya akan lebih sakit," ujar Ming Fan khawatir.


Tentu saja karena Yi Hua adalah temannya. Yah, walau pun di publik kedok mereka adalah pasangan.


Yi Hua menghela napas. "Apakah Yi Hua asli sebodoh itu dalam mencinta Raja Li Shen?" ujar Yi Hua dengan suara yang sangat kecil seperti berbisik pada semut.


"Apa katamu?" tanya Ming Fan.


"Tidak ada. Hanya saja aku sudah tak memikirkan tentang itu. Jadi, kembali lagi pada ibuku, hanya itu yang kau dapatkan?" tanya Yi Hua tak tahu diri.


Ming Fan mengangkat bahunya, "Seseorang berkata padaku bahwa Paman Shi Heng datang dari Desa Yi, lalu membawa kau yang masih kecil. Mungkin saja Paman memancing di sungai, dan mendapatkan kau."


Tunggu dulu ...


Desa Yi? Itu terdengar sama dengan namanya.


"Apakah memang ada desa yang bernama seperti itu?" tanya Yi Hua dengan bingung.


Ming Fan semakin menatap Yi Hua dengan aneh. "Apa kau kehilangan semua ingatanmu? Bagaimana kau bisa tidak tahu Desa Yi? Kau sering mengunjunginya bersama Paman Shi Heng setiap kali perayaan Qixi*


^^^*Berdasarkan tradisi perayaan Qixi adalah di mana pada gadis akan memamerkan seni mengukir mereka. Lalu, mereka bisa menuliskan keinginan mereka terhadap kekasih. Ada cerita romantis tentang perayaan Qixi, di mana cerita tentang seorang pria yang bertemu dengan seorang gadis cantik. Gadis cantik bersama keenam saudaranya tengah mandi di sungai, dan sang pria mencuri pakaian gadis itu. Gadis cantik itu dan keenam saudaranya adalah peri-penenun, yang menenun warna-warna di lawan. Nah, sejarah cerita perayaan Qixi ini sama kayak cerita Jaka Tarub kalau di Indonesia. Jadi, intinya karena menikahi manusia, Dewi Khayangan murka dan memisahkan dua kekasih itu. Akan tetapi, karena kasihan burung murai setiap setahun sekali menciptakan jembatan yang bisa membuat dua kekasih itu bertemu. Intinya kayak gitu, kalau bingung silahkan baca sendiri di g*ogle ya. Ada banyak versi tentang cerita ini. Di tiap negara juga beda-beda loh!^^^


Berati ayahnya dan Yi Hua setiap setahun sekali selalu datang ke Desa Yi. Pertanyaannya adalah mengapa mirip sekali dengan cerita sejarah perayaan Yi? Apakah itu berarti ayahnya hanya bisa menemui sang ibu setiap setahun sekali?


Eh?


Jika seperti itu, bukankah Yi Hua asli tak akan mencari tahu tentang ibunya lagi jika dia sudah pernah bertemu? Yah, walau hanya setahun sekali.


Atau cerita ayahnya ini mungkin sama seperti cerita peri-penenun dan manusia?


Mendadak kepala Yi Hua terasa sakit sekali.


Namun Xiao hanya menyampaikan informasi yang tak begitu lengkap. "Biar aku beri tahu, sebagai sistem yang menampung ingatan Yi Hua, setiap kali mereka pergi ke sana mereka hanya berjalan-jalan. Yi Hua asli juga tak pernah bertemu dengan ibunya atau apapun. Sejauh ini mungkin yang bisa aku simpulkan, asal-usul Yi Hua mungkin dari Desa Yi, bukan tentang perayaannya."


Ming Fan semakin tak mengerti pada Yi Hua yang mendadak melamun lagi. Dia jelas tak mau Yi Hua dirasuki energi buruk karena melamun. Yi Hua tak kerasukan saja sudah seperti sapi, apalagi kerasukan.


"Sudahlah. Intinya aku datang kemari hanya untuk memberitahu dirimu tentang itu," ucap Ming Fan yang menuju ke arah pintu kediaman Yi Hua.


Gadis itu mau kemana?


Yi Hua yang sebenarnya masih bingung bertanya lagi, "Kau tak datang kemari untuk meminta pertanggungjawaban terhadap anak itu?"


Bagaimana pun banyak orang mengira jika Yi Hua dan Ming Fan adalah pabrik dari anak itu. Walau kenyataannya Yi Hua adalah perempuan juga, sama seperti Ming Fan.


Wajah Ming Fan terlihat sangat buruk. Itu seperti Ming Fan mendengar hal paling menjengkelkan yang pernah ada. Dia menunjuk pada Yi Hua. "Mengapa kau harus bertanggung jawab pada hal yang tak kau lakukan? Anak ini bisa aku besarkan sendiri."


"Ming Fan ..." Yi Hua sungguh tak tahu harus bertanya apa. Hanya saja, dia tak begitu berani memaksa Ming Fan untuk memberitahu.


Gadis itu berkata tanpa membalik badan. "Tidak apa, Yi Hua. Jika ada yang bertanya padamu kau hanya perlu berpura-pura bermulut kasar seperti biasanya. Kau paling pandai membuat orang lain membencimu."


Namun jelas bukan itu yang Yi Hua khawatirkan. Bagaimana pun mengandung bukanlah hal yang mudah. Apalagi tanpa seorang pendamping, dan Yi Hua tak tahu ke mana Ming Fan akan pergi.


"Kau bisa tinggal di sini. Atau, mau bisa mengatakan siapa yang melakukan itu padamu. Aku akan ..." ucapan Yi Hua terhenti ketika Ming Fan masih membuka pintu kediamannya.


Ming Fan membalikkan tubuhnya dengan mata memerah. Namun masih ada senyum di wajahnya. "Ini hanyalah kesalahan yang aku buat. Dia tak perlu tahu."


Dia?


Baru saja Yi Hua ingin mengejar Ming Fan, pandangannya tiba-tiba menjadi buram. Hal itu membuat Yi Hua harus bertumpu pada dinding agar dia bisa berdiri. Ia memaksa untuk mengejar, tetapi hanya punggung Ming Fan yang bisa Yi Hua lihat dari kejauhan.


S*al! Air minum itu sudah diberi sesuatu.


Bagaimana bisa Yi Hua diberi bubuk tidur di kediamannya sendiri. Bahkan Xiao pun tidak menyadarinya, karena itu tidak membahayakan bagi Yi Hua. Gadis ini benar-benar ingin melarikan diri. Dia datang hanya untuk menepati janjinya untuk menolong Yi Hua.


"Ming ..."


BRUK!


Ketika pintu kediaman itu tertutup, Yi Hua sudah ambruk di lantai jeraminya.


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.


Mari bertemu di chapter selanjutnya.


Adios~

__ADS_1


__ADS_2