Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Perjalanan Baru


__ADS_3

GRAK!


"Awas! Di belakangmu, HuaHua," teriak Xiao di telinga Yi Hua.


Yi Hua yang mendengarnya segera menjauh dengan cepat. Benar saja, jika Yi Hua tak menyingkir mungkin jemari dengan kuku panjang itu akan merobek lengan Yi Hua. Yi Hua berjalan mundur dengan cepat, hingga mayat itu mengikutinya.


Setelah dekat dengan sebuah kereta kosong, Yi Hua menyingkir dan membuat mayat berjalan itu menabrak kereta. Kereta ini kosong karena orang di dalamnya sudah jelas melarikan diri. Kudanya pun sudah tak ada lagi di kereta, mungkin terlepas karena takut. Sekarang Pusat Kota terlihat cukup sepi, tak seperti biasanya.


GRAHHH!


Yi Hua memperhatikan ada sekitar tiga mayat yang melata seperti cacing liburan. Mungkin para prajurit yang bersama Jenderal Wei mengira mayat ini tak akan bangkit kembali hingga meninggalkannya begitu saja. Sedangkan mayat berjalan ini tak akan berhenti berjalan sampai pagi menjelang. Jika ingin menghentikan, maka pecahkan kepalanya.


Mayat berjalan ini sebagian merangkak dengan perut mereka yang mengeluarkan darah kehitaman. Yi Hua mendadak tak ingin makan daging dalam beberapa hari ini. Terutama saat melihat mata dari salah satu mayat hidup ini yang tak terpasang dengan baik lagi.


Mengapa aku harus melihat hal mengerikan ini terus-menerus?


Yi Hua menarik pedang Li Wei yang tergantung di bahunya. Dengan pedang itu Yi Hua menebas ban dari kereta itu, dan menggelinding menuju ke arah mayat yang merangkak. Dengan posisinya yang merangkak itu membuatnya ditindih oleh ban kereta. Jelas mayat berjalan ini tak bisa melepaskan dirinya sendiri. Ia hanya mengelepar layaknya sapi yang tidur terlentang.


"Syuuhhh ... syuuhhh ... Cuit ... Ayo, HuaHua! Tunjukkan sifat bandit di dalam dirimu," teriak Xiao yang entah mengapa bisa bersiul seperti itu.


Padahal baru saja rasa sakit kepala Yi Hua kurang, kini Xiao malah menambah sakitnya. Terkadang punya sistem seperti Xiao ini seperti memelihara penyakit buatan. Menyebalkan.


"Membanggakan sekali. Memang Pendamping Raja di Gunung Hua harus terlatih membantai. Supaya membantu suami tercintamu menindas orang lain," ucap Xiao dengan nada bangga. Seperti seorang ibu yang berhasil membesarkan anaknya dari sejak sebesar timun hingga sebesar batang pohon pisang.


Berisik sekali sistem cempreng ini!


Percayalah, musuh tersirat Yi Hua ini mungkin sebenarnya Xiao. Mungkin makhluk ini diciptakan agar membuat Yi Hua sering sakit kepala.


BRAK!


Yi Hua menendang sisa kereta yang masih berisi mayat hidup di depannya. Mayat itu terperosok masuk ke dalam kereta, dan tak bisa memaksa tubuhnya keluar. Sayangnya, karena tulangnya ada yang patah dan dagingnya sudah meluruh, mayat itu hanya bisa mengelepar seperti ikan yang sedang berjemur.


Akibat tendangan Yi Hua itu kereta berjalan pelan dan menabrak sisa mayat hidup lainnya.


Gerakan yang sangat menakjubkan, dan ...


"Aduh, kakiku!" teriak Yi Hua ketika selesai beraksi bagaikan petarung hebat.


Jangan lupakan bahwa Yi Hua bukanlah petarung sebenarnya. Ia melakukannya karena dia terbawa jengkel akibat suara menyebalkan Xiao. Namun berkat itu dia berhasil mengamankan keadaan.


Kemudian, Yi Hua mendekat pada salah satu mayat yang sudah tak bergerak lagi. Jelas Yi Hua tak ingin menatap tempurung kepala mayat ini yang pecah. Ia takut akan mengalami mimpi buruk nantinya.


Tangan Yi Hua meraih gelang lambang keluarga yang sama seperti mayat lainnya. Setiap mayat ini sepertinya berasal dari sumber yang sama. Pemakaman keluarga besar Jenderal Wei.


CRAK!


Apa dia akan menghantui aku karena mengambil gelangnya nanti? Kira-kira hantu jika ditendang akan terjatuh atau tidak?


"Kau takut pada hantu, HuaHua? Bukannya kau terbiasa melihat semacam ini di Gunung Hua? Bahkan kau sudah pernah datang ke pasar dunia lain," ujar Xiao yang melihat tak nyaman Yi Hua.


Situasi ini jelas tak bisa disebut sebagai hal yang baik. Padahal dirinya baru saja hidup kembali, dan lupa banyak hal. Akan tetapi, dari hari ke hari, banyak hal mengerikan yang dialaminya sebagai Yi Hua ini.


"Tak takut bukan berarti aku bisa melihat hal mengerikan ini setiap harinya, Xiao," omel Yi Hua pelan.


Namun Yi Hua tetap harus mengambil gelang itu untuk menjadi bukti. Mungkin salah satu prajurit juga telah mengambil gelang lambang yang digunakan mayat berjalan ini. Akan tetapi, Yi Hua hanya berjaga-jaga, siapa tahu tak ada yang mengambilnya. Jika ada yang menunjukkan besok di Pengadilan Tinggi, maka Yi Hua tak akan menunjukkannya.


SRET!


Karena tangan mayat berjalan itu yang tersisa tulang, tak begitu sulit untuk melepaskannya dari tangan. Ketika Yi Hua melepas gelang itu, ia menyadari jika masih ada sisa daging busuk yang menempel di dalam gelang itu. Yi Hua menahan isi perutnya yang ingin keluar.


Tenang. Demi uang! Ini pekerjaan. Mungkin nanti Perdana Menteri Liu akan menugaskan aku lagi, dan aku akan dapat bayaran.


CREK!


Yi Hua merobek jubah putihnya lagi. Sobekan itu ia gunakan untuk membungkus gelang itu. Yah, tidak masalah juga jika dirobek, karena pakaian Yi Hua juga sudah memiliki sobek besar karena digunakan untuk mengobati Liu Xingsheng sebelumnya. Lagipula, Yi Hua masih bisa menagih ke kediaman Liu Xingsheng untuk mendapat pakaian baru nantinya.


Saat Yi Hua ingin memasukkan gelang itu ke dalam saku jubahnya, sebuah tangan mencengkeram lengannya. Hal itu membuat Yi Hua refleks menghentak sikunya ke belakang. Dan, ...

__ADS_1


"UGH ... Sakit sekali ... Yi Hua, ini aku Jenderal Wei." Suara Jenderal Wei terdengar di belakang kepala Yi Hua.


Hal itu membuat cengkeraman di lengan Yi Hua terlepas. Lebih dari segalanya Yi Hua segera memasukkan gelang itu ke dalam saku jubahnya. Akan tetapi, Jenderal Wei langsung mengerti tanpa perlu diperlihatkan begitu jelas.


"Masalah ini sudah diatasi oleh Yang Mulia, Yi Hua. Para mayat sudah dilumpuhkan, dan untungnya tak ada korban jiwa dari situasi ini," jelas Jenderal Wei sambil mengikat pergelangan tangannya dengan seutas kain hitam panjang.


Sepertinya karena pertarungan ikatan di pergelangan tangan Jenderal Wei terlepas. Namun lebih dari segalanya Jenderal Wei terlihat tak begitu berantakan. Masih tetap tampan tanpa bahan pengawet dan pewarna. Harusnya Yi Hua tak mengkhawatirkan seseorang yang sudah sering bertempur di medan perang.


"Tentang mayat berjalan ini ... Apakah memang berasal dari rumah makam keluarga Wei?" tanya Yi Hua langsung pada intinya.


Jenderal Wei kehilangan senyumnya. "Seperti yang kau lihat, mereka memang berasal dari para keluarga Wei. Besoknya akan dikembalikan ke dalam rumah makam. Bagaimana pun mereka adalah para leluhur di keluarga Wei."


Pria ini berbicara tanpa ada kesan jika ia tersinggung. Sepertinya hubungan Jenderal Wei dengan keluarga besarnya tak begitu baik. Walau nyatanya pria ini adalah kepala keluarga Wei yang sekarang. Pria ini menghormati, tetapi tak ada perhatian di sana.


"Wei Qionglin sebenarnya tak pernah ingin menjadi kepala keluarga. Ini semua terjadi karena hanya dia dan kakak pertamanya yang terlahir sebagai pria di keluarga Wei. Yang lainnya seorang gadis," jelas Xiao yang baru kali ini menjelaskan tentang kehidupan Jenderal Wei.


Yi Hua mengerutkan keningnya, dan bertanya pada Xiao di dalam hati, "Lalu, mengapa bukan kakak pertamanya saja yang menjadi kepala keluarga?"


"Kakaknya sudah tiada," ujar Xiao tanpa penjelasan lebih rinci lagi. Mungkin Xiao juga tak begitu mengetahui tentang silsilah keluarga Wei.


Yi Hua memperhatikan mayat berjalan yang diambil Yi Hua gelangnya. Berarti salah satu dari mayat ini kemungkinan adalah mayat dari kakak pertama Jenderal Wei. Itu jelas bukan situasi yang menyenangkan saat kau harus melihat saudara sendiri dalam keadaan menjadi mayat berjalan.


Kemudian, ... Memecahkan kepalanya. Itu pasti agak sulit untuk dilakukan oleh Jenderal Wei.


Jenderal Wei mengangguk degan senyum biawak yang masih tersaji di wajahnya. "Aku tahu apa yang Yi Hua pikirkan. Jika ada yang perlu disalahkan tentu saja adalah aku. Mungkin rumah makam itu sudah lama tidak dikunjungi hingga tak ada yang tahu jika para leluhur kami dimanfaatkan seperti ini."


Sebenarnya kau tak tahu ... Aku tak memikirkan hal itu. Yang aku pikirkan malah tentang rasa kekeluargaan Jenderal Wei.


Yah, mungkin di mata Jenderal Wei, Yi Hua itu seperti pengkritik semata. Entahlah. Akan tetapi, Yi Hua juga tak berani menuduh Jenderal Wei sebagai dalang dari ini semua.


Pertama adalah ... Terkadang dalang utama akan sangat pandai menutupi 'ikatan' antara dirinya dengan perbuatannya. Jika dalang ini lebih pintar, mungkin dia bersembunyi tanpa dicurigai sedikit pun. Justru yang paling terlihat bersalah belum tentu bersalah.


Ini terkadang, bukan selalu seperti itu.


Namun selama semua ini belum jelas, Yi Hua juga tak bisa memutuskannya. Apalagi Jenderal Wei tak terlihat menggunakan seni bela diri gelap. Sehingga dia jelas tak bisa mengendalikan mayat berjalan ini.


Akan tetapi, ...


Yi Hua hanya bisa mengangguk.


Kerajaan Li seperti diawasi. Entah oleh seseorang, atau mungkin ada mata-mata dari kerajaan lain?


***


Yi Hua menyadari jika ia mengalami malam yang cukup singkat. Ia juga merasa sedikit sakit di bagian kaki dan lututnya. Yah, tentu saja karena pertarungan dengan para mayat berjalan. Sehingga Yi Hua bangun dengan perasaan yang lesu.


SRET!


Matahari menyinari mata Yi Hua melalui celah dinding yang agak renggang. Meski begitu, Yi Hua merasa agak tenang ketika mencium aroma dari dupa pemujaan Dewa. Itu semua karena sebagai peramal, aroma dupa adalah ciri khasnya sebagai penyampai pesan Dewa. Sehingga tak aneh jika kediamannya akan selalu beraroma seperti itu.


Hal itu membuat Yi Hua sedikit bernapas nyaman di dalam rasa lesunya. Itu semua karena dupa yang dihidupkan ini memiliki aroma terapi. Biasanya dupa ini digunakan sebagai pengharum di istana. Aroma semacam ini sekiranya bisa menghilangkan rasa lelah dalam pikiran.


Akan tetapi, yang aneh adalah Yi Hua tidak menghidupkannya. Karena pulang di larut malam, Yi Hua jelas tak sempat untuk melalukan apapun di kediamannya. Ia langsung tertidur tanpa tahu seluk-beluk dunia.


Jadi, ...


Yi Hua mengingat aroma yang sama ketika dirinya menerima tamu di kediamannya. Itu An ... Maksudnya ...


"Hua Yifeng," panggil Yi Hua ketika membuka matanya.


Akan tetapi, di ruangan itu hanya terlihat dupa yang sudah mulai habis terbakar di atas meja kecilnya. Di sana juga tertata roti kukus yang terlihat masih hangat. Tak hanya itu, dalam keranjang bambu kecil di sana terlihat roti mawar yang dihias dengan kelopak mawar di atasnya. Buah anggur juga hadir masih dengan tangkai-tangkainya. Pertanda baru diambil dari pohonnya.


Pria itu baru saja masuk ke kediamannya. Ini katanya orang yang hanya terbiasa melihat dari kejauhan?


Aku tak ingat jika memiliki pelayan di kediamanku.


"Xiao, apakah kau sudah tersadar?" tanya Yi Hua yang bertanya kehadiran Xiao.

__ADS_1


Ingatkah kalian tentang keanehan Xiao yang kacau saat Hua Yifeng datang. Jika Xiao masih tak berbunyi, maka Hua Yifeng baru saja ada di dalam kediamannya. Namun tak lama suara Xiao terdengar.


"Di pagi yang menyenangkan ini aku harus mendengar suaramu pertama kali. Rasanya agak suram," ujar Xiao yang membuat Yi Hua agak kecewa.


Kalau ingin lebih ceria, lebih baik kau mendengar suara sapi tertawa!


Xiao menyadari perubahan wajah Yi Hua, "Dia mungkin datang untuk mengambil pedang Li Wei darimu."


Oh iya. Pedang!


Yi Hua memeriksa ke samping kasur jeraminya, dan menyadari jika pedang hitam itu masih ada di sampingnya. Bahkan masih terbungkus dengan kain putihnya, yang sebenarnya sobekan pakaian Yi Hua. Jadi, untuk apa pria ini datang ke kediamannya?


Yi Hua bangkit dan menyadari jika ada wadah berwarna perak yang berisi air. Bahkan ada handuk di sebelahnya. Dengan itu Yi Hua membasuh wajahnya yang masih mengantuk. Setelah itu, ... Yi Hue bercermin melalui pantulan di air untuk memperbaiki ikat rambut panjangnya. Warna merah mencolok dari Xiao memang sangat tampak di telinga kiri Yi Hua.


Juga, ...


Yi Hua menarik turun pakaiannya untuk memeriksa lebih rinci lehernya. Seingat Yi Hua bekas merah dan gigitan Hua Yifeng sudah mulai pudar di sana. Sejak kapan warna merah ini masih seperti baru?


BRAK!


"S*alan, Hua Yifeng!" Yi Hua menggebrak meja kecil yang ada di depannya. Hal itu membuat air dalam wadah memercik keluar dan membasahi meja. Membuat Yi Hua mengomel lagi karena dia harus membersihkannya.


Mengapa pria itu sangat 'sopan' sekali padaku?!


Masalahnya adalah Yi Hua ini masih sangat polos seperti kain putih yang masih baru. Ditambah lagi Hua Yifeng yang seringkali membuatnya marah. Pria ini benar-benar tak takut jika mengganggunya.


"Hanya menunggu waktu hingga kau benar-benar diambil olehnya, HuaHua! Atau mungkin dia menunggumu untuk menyerahkan diri padanya. Entahlah. Yah, itu tak aneh juga karena perasaannya padamu itu lebih besar dari apa yang kau bayangkan," ujar Xiao dengan sangat santai.


Kau pikir aku ini mudah untuk menyerah? Aku ini gadis baik-baik yang menjunjung kemurnian. Apalagi untuk orang tak sopan seperti Hua Yifeng ini.


"Kau berkata seperti itu, apa kau tak melihat wajahmu yang merah itu?" tanya Xiao mengejek.


Tanpa menjawab ucapan Xiao, Yi Hua meraih potongan apel untuk dimasukkan ke dalam mulutnya. Bahkan Yi Hua tak perduli pada ukuran potongan apel itu yang terlalu besar. Ia memaksa untuk mengunyahnya kasar.


Mungkin Yi Hua terlalu sebal hingga sapi satu ekor pun ia sanggup menelannya.


DOK!


DOK!


DOK!


"Peramal Yi." Seruan itu terdengar dari luar.


Yi Hua segera bangkit untuk memeriksa. Siapa tahu ada pelanggan yang ingin meramal padanya. Rezeki jelas tak boleh ditolak.


SRET!


Ketika Yi Hua membuka pintu, ia menyadari bahwa sebilah pedang mengarah menuju ke leher Yi Hua. Mata Yi Hua menyipit untuk melihat siapa yang mengarahkan pedang itu padanya. Seorang prajurit kerajaan.


Tak disangka pagi-pagi aku disapa dengan sangat ramah.


"Yang Mulia memerintahkan Anda untuk ikut masuk ke rumah makam keluarga Wei," ucap prajurit itu yang bukannya meminta. Namun memaksa.


Yi Hua menghela napasnya.


Apa aku dicurigai lagi?


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.


Mari bertemu di chapter selanjutnya..


Adios~

__ADS_1


__ADS_2