
BRUK!
Aduh! Pinggangku terasa seperti dipijat sapi!
Yi Hua hanya bisa mengasihani pinggangnya sendiri, karena pendaratannya yang kurang mulus. Meski begitu, jelas ia tak bisa mengeluh terutama saat dirinya sendiri yang memilih untuk melompat. Yi Hua berusaha memeriksa tubuhnya sendiri hanya agar dia tahu bahwa dirinya masih utuh. Tak tercerai-berai..
Dan, aman!
Semuanya masih melekat dengan baik. Lalu, untuk pertama kalinya ada makhluk yang tak bersyukur pada keselamatan dirinya sendiri.
"Aku berharap tubuhku langsung terluka dan sekarat. Lalu, kemampuan busuk itu akan bekerja!" omel Yi Hua yang tak bersyukur pada keberuntungannya sendiri.
"Katanya, saat kau tak ingin terluka, maka kau akan mudah terluka. Namun saat kau ingin terluka, maka kau akan baik-baik saja." Jawaban Xiao datang cukup lambat dari biasanya.
Sebab, sistem busuk itu cenderung akan mengatakan secara langsung, bahkan tanpa Yi Hua yang memulainya. Namun sekarang komentar Xiao dikalahkan oleh keluh kesah Yi Hua.
"Semoga aku tidak luka. Tidak sekarat. Dan, tidak mudah mati," ucap Yi Hua yang sudah seperti membaca mantra.
Entahlah.
Yi Hua sendiri merasa heran dengan dirinya yang malah berharap hampir sekarat di tempat ini. Bukan persoalan apa, dia hanya ingin cepat menyelesaikan misinya. Yah, meski sakit sekali pun.
Masalahnya ialah ...
Apa bedanya sakit nanti dengan sakit sekarang?
Yi Hua memang ditakdirkan untuk mengalami penderitaan itu. Semua teka-teki dalam hidupnya akan terjawab apabila dia terus-menerus mengikat dirinya pada kematian. Sehingga takut pun akan menjadi percuma.
Ini tak seperti seseorang akan mengambil rasa sakit itu jika Yi Hua mengeluh.
Kembali lagi pada Yi Hua yang tergeletak di gumpalan pasir.
Eh?
Yi Hua baru menyadari bahwa dia sendirian di tempat ia tergeletak.
Hey, bukannya tadi dia baru saja melompat dari kereta?
Setidaknya dia akan melihat kereta di sekitarnya, atau akan ada bekas roda kereta di sana. Namun lebih buruk dari segalanya ialah Yi Hua tak melihatnya! Bahkan ia yakin jika kereta itu dekat dengannya, Liu Xingsheng pasti akan meneriakinya.
Namun ...
"Sepertinya ada yang aneh di sekitar sini, Yi Hua." Xiao juga mendadak waspada dengan sesuatu yang ada di sekitar mereka.
Huh?
BAP!
BAP!
BAP!
Yi Hua berusaha menajamkan pendengarannya. Matanya mencoba menerawang ke permukaan tanah yang diliputi pasir. Ini seperti ia tengah berdiri di padang pasir, dan tidak ada apa- apa di sana. Bahkan Yi Hua tak bisa melihat rerumputan atau pun pohon, baik dari dekat mau pun dari kejauhan.
Dia benar-benar berpindah tempat dengan sangat aneh. Bagaimana mungkin ini terjadi?
TUK!
TUK!
"Apa yang kau lakukan, Yi Hua?" tanya Xiao ketika Yi Hua melompat-lompat di tempat.
Yi Hua masih melompat-lompat dengan cepat. "Aku hanya memastikan kandungan tanahnya. Biasanya ... Huftt ... Jika gumpalan pasir ini baru saja berjatuhan, maka satuannya tidak akan sepadat pasir yang sudah lama ada di sini. Jika seperti itu, mungkin saja kereta tertimbun pasir," jawabnya dengan tarikan napas yang kencang karena aktivitasnya sendiri.
Hanya itu dugaan Yi Hua. Namun apa yang ia dapati ialah permukaannya seperti yang sudah ada. Ini cukup padat, dan memang terlihat seperti sudah seperti ini sejak lama. Ditunjang dari pasir yang memang sudah kering, dan menyatu dengan tanah.
Yi Hua yakin bahwa jika pun ada yang berubah, maka itu adalah posisi Yi Hua.
Dengan kata lain, dia tak berada di tempat awalnya.
Hey, bukankah ini kedua kalinya aku tersadar bahwa aku berpindah tempat?
Baru saja Yi Hua ingin berteriak memanggil ketiga lainnya, suara panik Xiao membuat Yi Hua bergerak dengan sangat cepat. Terutama saat suara Xiao bernada perintah. Dan, karena perintah Xiao, Yi Hua menunduk dengan cepat.
__ADS_1
"Yi Hua, awas kepalamu!"
Ia bersyukur bahwa Yi Hua memiliki refleks yang baik. Saat ia menunduk, ia bisa melihat sesuatu melintas di atas kepalanya.
Itu adalah sebuah mainan anak-anak.
Sebentar ... Bukankah Yi Hua sebelumnya mendengar langkah kaki?
DRAP!
DRAP!
Ada sesuatu yang datang.
SRET!
Sebuah tangan pucat dengan wajah yang kosong datang mengambil mainan yang terlempar itu. Matanya sangat kosong, hingga Yi Hua merasa sangat merinding. Saat itulah Yi Hua melihat sesuatu yang sebenarnya 'normal' untuk dilihat. Namun tidak normal lagi karena terjadi di sekitarnya. Sebab, Yi Hua sangat tahu bahwa di tempat penuh debu ini bukanlah tempat yang bisa dihuni.
Yah, setidaknya manusia tak akan bisa tinggal di sana.
Lalu, desa yang ramai ini, bagaimana bisa masih ada di dalam kubangan debu di sekitar mereka?
Orang-orang di sana bahkan berkeliaran dengan wajah pucat. Mereka beraktivitas seperti biasa, tetapi wajah mereka pucat dan tak bernapas. Mereka memasukan sesuatu ke dalam mulut, tetapi apa yang mereka masukkan akan keluar dari perut mereka yang membusuk.
Mungkin mereka sendiri tak tahu jika mereka hanyalah raga yang berkeliaran.
Seperti mayat hidup.
***
BRAK!
"Hey, kau pikir bisa menemukannya di antara gumpalan pasir ini?"
Mungkin ini pertama kalinya Liu Xingsheng mendengar suara paling keras dari Huan Ran. Sebab, biasanya Huan Ran hanya akan berbicara sangat pelan. Bahkan jika ada kertas di depan wajahnya, kertas itu tak akan tertiup jika Huan Ran berbicara.
Namun teriakan bergairah Huan Ran itu tak membuat An berhenti dari apa yang dilakukannya. Pria itu menarik pedangnya sendiri untuk ditebas ke depan, dan berkat kibasan itu gumpalan debu menjauh. Walau nyatanya di sekitar mereka kembali dipenuhi oleh debu.
"Yi Hua!"
DAK!
Tanpa perlu ada diskusi lagi, An langsung mencobanya sendiri. Pria itu langsung melompat dengan cara yang sama dengan Yi Hua. Namun kakinya masih dapat berpijak dengan baik.
Hal ini membuat An langsung mengedarkan pandangan. Tangannya berada di depan wajah untuk melindungi matanya. Sehingga Liu Xingsheng tak melihat tatapan tajam dari An. Meski begitu, entah mengapa Liu Xingsheng tahu jika An sedang dalam suasana hati yang buruk. Walau pada kenyataannya, An memang selalu terlihat berwajah tenang.
"Dia mungkin dibawa pergi seperti saat itu," ucap Huan Ran yang mengingat bahwa Yi Hua pernah menghilang seperti ini sebelumnya.
Tepatnya saat di Pengadilan Tinggi. Itu adalah sesuatu yang aneh sekaligus menakjubkan. Tentang menghilang dan berpindah tempat seperti itu adalah sesuatu yang sedikit langka. Tak begitu banyak yang bisa mengalaminya, karena biasanya para petarung yang memiliki ilmu bela diri akan berpindah tempat dengan cepat. Bukannya menghilang seperti angin, dan muncul di tempat yang berbeda.
Lalu, ...
"Kakak Huan Ran ...!"
BUAKH!
Huan Ran yang sejak awal duduk di bagian kemudi langsung terjatuh keras ke tanah. Tepatnya saat An menuju ke arah Huan Ran, dan memberikan tendangan ke kepala Huan Ran. Ini terjadi dengan sangat cepat, seolah An memang ingin membunuh Huan Ran.
Namun ini sedikit aneh saat Huan Ran tak menghindar. Sebab, Huan Ran juga bukanlah orang yang lemah. Pria ini memiliki kemampuan bela diri yang tinggi. Dia bisa saja melihat serangan dari An, tetapi Huan Ran tak menghindar.
SRET!
DUG!
DUG!
Liu Xingsheng bisa melihat Huan Ran yang mengangkat kepalanya yang terendam ke dalam pasir. Entah seberapa kuat An melakukannya, dan hasilnya cukup mengerikan. Jika orang biasa, mungkin tulang lehernya akan patah saat mendapat tendangan dari An.
Akan tetapi, Huan Ran dengan sikap yang sangat tenang mengangkat kepalanya. Pria itu menggoyang-goyangkan kepalanya hanya agar pasif tak berada di rambutnya. Meski begitu, dia menatap tajam ke arah An yang siap menebasnya kapan saja.
"Apa yang kalian lakukan? Kita harusnya mencari Yi Hua, bukannya bertengkar seperti ini!" teriak Liu Xingsheng dari dalam kereta. Ia jelas tak bisa keluar saat hembusan pasir di sekitar mereka sudah seperti ribuan lebah yang berkeliaran.
Bahkan Liu Xingsheng hanya bisa melihat kedua pria lainnya dengan pandangan yang sedikit buram. Ini benar-benar sangat buruk, dan kedua pria ini menambah keadaan lebih buruk. Lebih parah dari segalanya ialah Liu Xingsheng yang hanya bisa mengeluh karena tindakan ceroboh dari Yi Hua.
__ADS_1
Orang kurang waras mana yang berani melompat saat kereta berjalan? Yah, walau Huan Ran hanya menjalankan kereta dengan pelan. Akan tetapi, dengan keadaan di sekitar mereka yang kurang bersahabat, seharusnya Yi Hua tak begitu lincah seperti sapi.
"Kau sengaja."
Apa maksudnya?
Sesuatu di antara An dan Huan Ran sedikit aneh seperti biasanya. Namun Liu Xingsheng tak pernah mempermasalahkannya karena dia pikir alasannya karena kedua pria ini memang kedua orang yang senang bertingkah seenaknya. Sehingga dia tak memikirkan hal yang aneh tentang itu.
Juga, apa maksudnya dengan sengaja?
"Apa yang kau pikirkan tentang itu semua? Tuan Yi melompat sendiri dari kereta!" bantah Huan Ran yang berdiri tegak.
Tangannya siap menarik pedang juga jika terjadi pertarungan. Terutama saat An terlihat siap untuk membunuhnya kapan saja. Dan, itu adalah sesuatu yang sudah Huan Ran sadari.
"Kenapa perjalanan ini tak bisa ditunda?"
Kembali lagi pada permasalahan yang sebenarnya. Ini sedikit aneh saat kerajaan tak begitu memberikan toleransi. Apalagi mengingat mereka yang memang tak bisa datang ke Kota Utara dengan jalan yang seperti biasanya. Bahkan di sana tak ada sesuatu yang begitu mendesak.
Mengapa harus begitu tergesa-gesa?
Huan Ran mendecih dan menyadari bahwa dia merasakan adanya pasir di dalam mulutnya. Awalnya dia hanya ingin mendecih agak terlihat seperti seorang bandit, tetapi dia malah melakukannya karena membersihkan mulut. Siapa sangka jika saat dia menggertakan gigi ada rasa pasir di sana.
"Aku tak mengerti maksudmu, An."
Lihatlah!
Pada suatu masa, mereka berdua terkadang berbicara dengan bahasa yang sangat informal. Ini semakin membuat keduanya menjadi sangat mencurigakan. Liu Xingsheng hanya bisa memperhatikan dari dalam kereta.
Jelas orang kasar seperti mereka tak akan cocok dengan diriku!
"Kalian melakukannya karena tahu jika Yi Hua bisa terhubung dengan hal seperti ini!" ucap An dengan nada penuh penekanan.
Tak akan begitu banyak perhitungan. Mereka, tentu saja Raja Li Shen dan antek-anteknya, terkadang sedikit tak berguna. Namun mereka bukanlah orang bodoh. Jika mereka bisa menyelesaikan sesuatu yang membuat banyak kerugian bagi mereka, jelas tak perlu dua kali untuk berpikir.
Jika akses antara Pusat Kota dengan Kota Utara bisa diperbaiki, maka mereka akan melakukannya. Itu semua semua kemudahan kerajaan, tanpa mereka perlu takut dengan fakta mereka memerlukan Yi Hua untuk ini.
Yi Hua sengaja dilibatkan dalam semua kekacauan ini hanya agar Yi Hua mengatasinya dengan hal yang sama seperti sebelumnya. Tentu saja mereka masih tak tahu bagaimana Yi Hua bisa menyelesaikan kasus pembunuhan kecantikan yang sangat legendaris itu. Berkat Yi Hua, kasus yang sudah lima tahun terjadi tanpa bisa dihentikan kini sudah benar-benar usai.
Sehingga mereka jelas tak akan segan-segan mengeksploitasi kemampuan Yi Hua.
"Kau tahu sesuatu yang berhubungan dengan hal buruk biasanya tak baik untuk tubuh manusia," ucap An yang sudah seperti ancaman.
Huan Ran menarik pedangnya. Senyumnya masih ada di wajah, seperti dia tak perlu menutupi apa-apa. Jelas Yi Hua sengaja dilibatkan dalam ini semua hanya Yi Hua bisa menyelesaikannya.
Namun apa yang salah dari itu semua?
"Ini hanya seperti seseorang melakukan pekerjaannya, An."
An memutar tubuhnya. Tak berniat untuk mengikuti pemikirannya lagi. Jika menurutinya, maka An mungkin akan menebas kepala Huan Ran sekarang juga. Akan tetapi, ...
Ia harus mencari Yi Hua.
"Jika terjadi sesuatu pada Yi Hua, maka aku tak segan-segan lagi, Huan Ran," ucap An saat menerobos ke dalam kabut debu.
Seperti yang sudah diduga oleh An. Yi Hua mudah terbawa dengan energi buruk. Sehingga yang harus An lakukan ialah membawa Yi Hua pergi dari alam 'lain' di wilayah Lembah Debu ini. Atau, Yi Hua tak akan bisa keluar dari sana.
Ini seperti kau akan terus tersesat, tanpa bisa keluar lagi. Terus berputar tanpa menyadari bahwa kau telah mati di sana. Hal yang sering terjadi pada orang-orang yang terjebak di dalam sana.
Akan tetapi, Yi Hua memiliki kemampuan yang sedikit aneh. Sesuatu yang sangat aneh, tetapi itu memang terjadi pada Yi Hua. Dia memiliki ketahanan yang membuatnya tak mudah mati.
Dan, itulah yang ingin dimanfaatkan oleh kerajaan. Mereka yakin misteri tentang Lembah Debu akan mereka dengar sendiri dari Yi Hua. Sebab, Yi Hua pasti akan kembali dari Lembah Debu, walau dalam keadaan yang sangat buruk.
Itulah yang mereka yakini. Jika mereka tahu masalahnya, pasti mereka tahu solusinya.
Tanpa perduli tentang Yi Hua yang melihat dan mengalaminya sendiri.
Meski itu penderitaan orang lain, tetapi jika melihatnya, apakah itu akan menyenangkan untuk disaksikan?
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
__ADS_1
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
Adios~