
Li Wei pada akhirnya harus kembali bersama Li Chen ke Istana Kerajaan. Hua Yifeng juga mengikuti mereka untuk kembali. Meski pria itu tak tampak batang hidungnya. Setelah apa yang terjadi, Li Wei yakin kehidupan yang biasanya tak akan mudah kembali.
"Apa yang kau pikirkan, adikku?" tanya Li Chen yang sedang memeriksa botol-botol ramuan yang dibawanya.
Li Chen adalah seorang Pangeran yang lebih memilih belajar tentang pengobatan ketimbang berlatih pedang. Yang Mulia mungkin adalah Raja yang paling longgar dibanding penguasa lainnya. Ia membebaskan keturunannya untuk mempelajari apapun yang diinginkan.
Dengan catatan, tidak melanggar peraturan kerajaan.
"Saya hanya memikirkan tentang kejadian sebelumnya, kakak. Apakah tidak ada cara untuk mengatasinya?" tanya Li Wei pelan. Sesekali ia memukul nyamuk yang terbang ke arahnya.
Ini nyamuk tidak mengerti suasana hati. Di saat gundah saja dia bernyanyi di sekitar telinga.
Li Wei menyadarkan kepalanya pada dinding kereta. Nyatanya mereka harus kembali ke istana untuk mengatur pertahanan. Bukan persoalan siapa yang bekerja, tetapi perihal perintah siapa yang digunakan.
Meski ada Ling Xiao yang diutus untuk membawa perintah Raja*, tetapi mungkin tentang pukulan mundur yang dialami pasukan kerajaan belum terdengar di Istana Kerajaan. Bisa jadi belum ada pembaruan tindakan yang dilakukan Ling Xiao. Peramal itu juga, meski sangat cerdas, tetapi tak akan punya tindakan lebih.
^^^*Orang yang mendapat tugas dari Raja. Bisanya kalo Raja pergi ke suatu tempat, titah tertinggi diletakkan pada siapa gitu. Jadi, setiap keputusan itu berdasarkan perintah orang yang ditunjuk Raja.^^^
Ini kembali lagi pada sikap misterius Ling Xiao yang terkadang tak bisa ditebak. Jika ada yang mengatakan bahwa Ling Xiao adalah mata-mata dalam kerajaan, maka semua orang mungkin akan langsung menyetujuinya. Hanya saja kembali lagi pada Ling Xiao yang lebih menyerahkan dirinya pada kehendak Dewa, sehingga semua sikap misteriusnya mungkin karena 'apa' yang Ling Xiao lihat.
SREK!
Li Wei mengerutkan keningnya ketika melihat Li Chen tengah menggosok sebuah botol dengan kain kecil. Biasanya kain kecil seperti itu digunakan untuk menyimpan ramuan bubuk, atau tumbuhan herbal yang sudah dikeringkan. Akan tetapi, Li Wei tak berpikir jika Li Chen akan menyediakan obat di dalam kereta.
Malas berpikir, Li Wei menengok ke arah jendela kereta. Ia berniat untuk memanggil Hua Yifeng untuk menumpang pada kuda pria itu lagi. Semua itu bukan karena apa, tetapi lebih karena Li Wei sakit pinggang karena duduk di kereta cukup lama.
SRAK!
Tangan Li Chen menutup tirai jendela dengan cepat. Seolah kakaknya itu cukup takut dengan datangnya matahari. Dan, karena itu juga Li Wei menyadari jika mereka bukan menuju ke istana kerajaan.
Seingat Li Wei setelah melalui jalan berlumpur, seharusnya mereka sampai pada jalan yang agak padat. Itu karena mereka masih di bagian Pusat Kota, walau di wilayah yang agak ujung. Namun mereka sekarang melintasi hutan yang terbilang sempit jalannya.
Pantas saja Li Wei mendapati kedatangan nyamuk. Mereka saat ini memasuki hutan yang agak lebat, seperti keluar dari wilayah Pusat Kota. Ini Li Wei yang salah mata, atau mereka memang tersesat?
Lagipula, ... Prajurit yang awalnya cukup banyak mengikuti kereta mereka kini hanya tersisa beberapa orang. Itu pun tidak Li Wei kenali.
"Kak, .... Apa kita ..."
GRAK!!
Li Chen terlihat menarik senyumnya ketika kereta terdengar seperti menabrak sesuatu. Hal tersebut membuat kereta berhenti mendadak, dengan Li Wei yang nyaris terjengkang ke depan. Jika Li Wei tak cukup cekatan untuk menempelkan tangannya ke dinding kereta depan seperti cicak, maka wajahnya yang akan menempel duluan.
Lebih dari segalanya, bukankah mereka harus kembali ke istana?
"Li Wei, apakah ikut dalam masalah kerajaan adalah hal yang menarik?" tanya Li Chen sambil merapikan botol-botol ramuannya kembali.
Akan tetapi, Li Wei tahu jika Li Chen sudah membubuhkan cairan berbau aneh di atas kain itu. Hal tersebut membuat Li Wei dengan cepat memperbaiki duduknya. Hanya bersiaga karena tak ingin lengah. Bagaimana pun siapa yang bisa menduga tentang serangan mendadak.
Apalagi kerajaan sekarang memiliki dugaan jika mata-mata di dalam kerajaan.
Hal itu karena, mendadak Kerajaan Xin yang cukup 'terpencil' ini tahu celah lemah dari Kerajaan Li.
Apalagi tentang bencana ini serta kekacauan akibat kematian Selir Li Jun. Semua masalah itu sudah cukup mengguncang Kerajaan Li. Bukan perkara kematiannya, tetapi lebih pada munculnya perselisihan di antara para pejabat.
Li Wei memeriksa wajah sendiri karena takut bergeser karena guncangan sebelumnya. Entah mengapa Li Wei melakukannya. Mungkin itu hanyalah segelintir hal yang ia lakukan untuk mengisi waktu. Ia juga tak ingin memikirkan hal yang aneh-aneh. Termasuk tindakan aneh Li Chen ini.
"Kenapa kakak bertanya?"
Li Chen memberi senyum yang hangat. Tangannya melipat kain yang ada di tangannya dengan rapi. Li Chen terbilang cukup rapi dan teliti. Bahkan lipatan Li Chen terhadap kain di tangannya lebih baik dibandingkan Li Wei. Jika itu Li Wei, maka dia akan menggumpal kain tipis itu ketika akan digunakan menghapus keringat.
"Tidak. Hanya bertanya saja. Sebab, terkadang persoalan semacam itu bisa membuat usia seseorang menjadi pendek," komentar Li Chen yang mewakili seluruh tindakannya selama ini.
Pria ini selalu menghindari bergelut dalam bidang politik. Sehingga ia memilih untuk mempelajari tentang pengobatan. Meski begitu ...
"Bukankah ini jalan yang berbeda, kak?" tanya Li Wei masih dengan ketenangannya.
"Ha ... ha ... Tentu saja ini jalan yang berbeda, Adikku. Jalan yang biasanya dipilih oleh seorang Pangeran," ucap Li Chen dengan mengejek.
Entah mengapa 'jalan' yang disebut oleh Li Chen agak berbeda dengan jalan yang dimaksud oleh Li Wei. Mungkin ini sudah berlangsung agak lama, tetapi Li Chen memiliki pemikiran tersendiri. Apalagi Li Wei mulai merasa pusing akibat aroma ramuan yang ada di tangan Li Chen.
Aroma ini mengingatkan Li Wei tentang aroma di Labirin Batu.
Tunggu ...
SRAT!
__ADS_1
Li Wei dengan cepat menghindar ketika Li Chen mengarahkan jemari tangannya menuju leher Li Wei. Pria itu berpikir untuk mencengkeram leher Li Wei, tetapi Li Wei cukup gesit. Gadis itu berkelit di dalam kereta yang agak sempit. Ia berputar arah hanya agar tak menjadi dekat dengan Li Chen.
Namun Li Chen kali ini menggunakan kainnya untuk membekap wajah Li Wei. Hal tersebut yang membuat Li Wei menjauhkan wajahnya hingga tanpa sadar keluar dari tirai kereta. Ketika kepalanya keluar, ia melihat seorang prajurit mengarahkan pedangnya. Sehingga Li Wei mau tak mau harus menendang tangan Li Chen untuk menghindari serangan.
Ini satu lawan jamak! Bagaimana bisa orang-orang ini melawan satu gadis yang lembut bagaikan embun dengan banyak orang?
Li Wei kembali masuk ke kereta, tetapi ia melompat dengan posisi berjongkok. Seperti bandit di Pusat Kota saat sedang bercengkerama dengan sesama golongannya. Tatapan Li Wei mengarah pada Li Chen yang bertindak lain daripada biasanya.
"Apa yang Kakak lakukan?" tanya Li Wei ketika Li Chen tak melakukan gerakan.
Namun Li Wei melihat adanya pisau tipis yang terikat di lengan Li Chen. Pisau itu hanya terlindung oleh lengan bajunya. Akan tetapi, Li Wei bisa melihatnya ketika tangkap-menangkap mereka sebelumnya.
"Kau pasti sudah memahaminya, Li Wei. Gadis yang sangat cerdas, dan secantik bunga. Kematian dirimu pasti memicu banyaknya perselisihan di Kerajaan Li," ucap Li Chen yang duduk dengan tenang.
Akan tetapi, dengan ketenangan Li Chen justru membuat Li Wei takut. Biasanya jika seseorang yang bersikap tenang bukan berarti kegilaannya menghilang. Itu hanyalah segelintir ketenangan yang muncul dari percaya diri. Pria ini pasti sudah memiliki rencana.
SEBENTAR .... Mengapa pandanganku tiba-tiba buram?
"Kau gadis yang sangat cerdas dan pemberani. Akan tetapi, terkadang kecerdasanmu itulah yang membuat keributan baru. Bukankah karena rasa ingin tahumu yang membuat Jenderal Wei sekarang hancur reputasinya?" tanya Li Chen yang kini mengeluarkan pisaunya .
Itu adalah pisau yang tipis. Panjangnya tak lebih dari jari telunjuk, tetapi Li Wei tak bisa fokus untuk melihat kilau pisau itu. Hanya saja ... Ia tahu ketajamannya.
Lebih dari segalanya Li Chen mungkin adalah orang yang melontarkan anak panah di kedimana Li Wei saat itu. Kemudian, karena sikap penasaran Li Wei, ia mengikuti semua intruksi. Hingga ia menemukan fakta lain mengenai Pohon Iblis, dan kenyataan tentang istimewanya darah Hua Yifeng sebagai klan Bao.
Mustahil semua ini hanya terjadi begitu saja. Yang ditargetkan oleh Li Chen bukan kematian Li Wei, tetapi perselisihan di Kerajaan Li.
"Kenapa kakak merencanakan ini semua? Bukankah kakak ..." ucapan Li Wei terhenti ketika tubuhnya ambruk ke lantai kereta. Punggungnya mengenai bangku kereta, dan ia merasa lemah di lengannya.
Bagaimana pun Li Wei sangat ingat jika lengannya tengah terluka, dan Li Chen yang mengobati lukanya. Pria ini ... Sangat teliti untuk mempersiapkan seluruh rencana.
"Kau tahu ... Silsilah keluarga kerajaan yang sebenarnya salah. Raja yang sekarang seharusnya bukanlah silsilah penguasa kerajaan Li," ucap Li Chen lembut.
Raja yang salah ... Lagi.
Persoalan ini rupanya dipelopori bukan dari orang yang jauh. Melainkan dari Pangeran Kedua Kerajaan Li, Li Chen. Bagaimana pun pria ini terlihat tak perduli pada tahta Kerajaan Li bukan karena ia tak ingin tahta. Akan tetapi, yang sebenarnya ialah Li Chen tak ingin tunduk pada pengaturan dan kebijakan kerajaan yang dianggapnya salah.
Telinga Li Wei sedikit berdengung. Ia merasa seperti ada cairan panas yang mengalir di telinganya. Akan tetapi, saat Li Wei mengulurkan tangannya untuk mengusap ia tak mendapati ada darah di sana. Mungkin itu hanya karena hawa panas yang terasa keluar dari telinga Li Wei.
"Apa yang kakak berikan padaku?" tanya Li Wei yang kesulitan menormalkan pandangannya.
Mudah sekali kakak tercintanya ini menyebut.
"Sesuatu yang salah tak bisa dilanjutkan. Apa kau menyadari jika bencana ini adalah teguran dari Dewa?" tanya Li Chen dengan pelan.
Bencana adalah bencana. Sulit dikatakan jika itu adalah teguran Dewa atau tidak. Akan tetapi, dunia ini seringkali bergolak dan berubah. Tak ada yang menahannya jika gejala alam akan muncul. Terutama jika dipicu oleh ulah manusia juga yang terkadang merusak alam.
"Itu sudah terjadi seratus tahun yang lalu, Kak," ucap Li Wei kencang. Yah, sekencang yang ia bisa.
Ia sangat tahu jika garis keluarga kerajaan yang sekarang merupakan hasil dari pengorbanan Pangeran Bungsu, atau Pangeran Penduka. Akan tetapi, manusia hanya bisa mengenangnya sebagai suatu pembelajaran. Meski dinilai salah, tetapi itu adalah bagian dari masa lalu.
"Kau berkata seperti itu karena kau tak berada di garis yang sama, Li Wei. Aku terus tumbuh dan mempelajari silsilah keluarga. Hingga aku menemukan jika keluarga ibu-ku sebenarnya berada di garis tahta yang benar. Seharusnya ... Keluarga utama kerajaan berada di garis keluarga ibu-ku, Li Wei. Apa kau mengerti betapa buruknya perasaanku saat ini?" tanya Li Chen sambil menghela napasnya.
Mungkin ia berbicara cukup banyak hari ini.
Lebih dari segalanya ... Ini tentang tahta.
"Keluarga kami ... Leluhur kami dihindari karena merupakan keturunan dari Pangeran Penduka. Hanya setelah seratus tahun hal itu menjadi sekadar cerita, tetapi itu bukan berarti semua itu tak pernah terjadi Li Wei," ucap Li Chen dengan lembut.
Pria ini selalu bertingkah lembut untuk Li Wei. Seolah masih menunjukkan kasih sayangnya, tetapi Li Wei merasa ketakutan. Sehingga dengan lemah Li Wei menjauhkan kepalanya dari usapan jemari Li Chen. Meski begitu, Li Chen tak marah sedikit pun.
"Tenang saja Li Wei. Sakitnya tak akan lama. Aku memiliki penawarnya. Namun aku tak bisa memberikannya karena pembicaraan kita belum selesai. Kemampuanmu yang cukup hebat itu menyulitkan aku," ucap Li Chen sambil mendekatkan dirinya pada Li Wei.
"Ughhh ..." Li Wei sungguh tak bisa merasakan tangannya sendiri. Hanya matanya yang menatap lekat pada Li Chen. Menunjukkan kekecewaannya pada pria yang selalu dipanggilnya kakak ini.
Li Chen membawa kepala Li Wei untuk bersandar di bahunya. Sekadar menenangkan Li Wei dari goncangan racun. Tangan Li Chen mengusap rambut Li Wei lembut.
"Kau hanya perlu berada di sini agar Hua Yifeng juga berada di sini. Kerajaan tak perlu orang hebat, karena nanti akan muncul pandangan jika kekalahan Kerajaan Li adalah karena pertahanan yang lemah. Hanya agar semua orang tahu jika yang salah tak akan pernah dibenarkan oleh Dewa. Takdir Dewa yang mengatur semuanya," ucap Li Chen dengan nada yang seperti biasanya.
Apa hubungannya Hua Yifeng dengan aku? Pasti orang itu sudah kembali ke Kerajaan!
Hua Yifeng jelas tahu mana yang prioritas atau tidak. Kerajaan jelas lebih penting untuk dilindungi ketimbang seorang Putri yang dijebak oleh kakaknya sendiri. Lagipula, Li Wei harus memikirkan rencana lain untuk keluar dari kereta ini.
Ia harus kembali ke kerajaan dan memberitahukan tentang penghianatan Pangeran Li Chen.
Pria ini memiliki strategi yang teliti. Kerajaan Xin tak perlu prajurit hebat untuk menaklukkan Kerajaan Li. Yang diperlukannya adalah menyingkirkan menghancurkan pertahanan Kerajaan Li dari dalam. Dan diperburuk lagi oleh datangnya bencana ini.
__ADS_1
"Li Wei, kau bisa hidup dengan keindahanmu sendiri. Setelah Kerajaan Li hancur nanti, aku akan membuat kerajaan yang baru dengan bantuan Kerajaan Xin. Dan, kau ... Akan menjadi kecantikan terindah milik Raja Xin. Bagaimana adikku?" tanya Li Chen sambil mengusap rambut Li Wei yang berkeringat parah.
Sekarang Li Wei merasa seperti darahnya mendidih. Panas di seluruh badannya, dan ia merasa ingin muntah. Entah mengapa Li Wei berpikir jika dirinya muntah, maka hanya akan memuntahkan darah. Apalagi sekarang Li Wei tengah lapar.
Bukannya dibuat-buat, tetapi Li Wei memang belum makan apapun di Pengungsian. Tentu saja karena kejadian penyakit batu sebelumnya. Itu bukanlah hal yang mudah diatasi, dan lagi pengkhianatan Li Chen ini.
"Sungguh cerita memalukan," tanggap Li Wei apa adanya.
Pria ini berpikir jika Li Wei tertarik dengan hal seperti itu. Apalagi menjadi kecantikan milik Kerajaan Xin yang serakah itu?
"Ah ... Apa yang kau inginkan? Aku yakin kau pasti tertarik jika berbincang dengan Raja Xin."
Li Wei mencoba menegakkan kepalanya, dan menyundul dagu Li Chen sekeras yang ia bisa. Dan, Li Chen tentu saja tak menyangka jika Li Wei masih akan memiliki kekuatan sebesar itu. Terutama untuk membuat mulut Li Chen berdarah parah seperti sekarang.
Li Chen dengan buruknya meludah ke lantai kereta. Li Wei entah mengapa berpikir itu sedikit menenangkan. Kaki Li Wei yang terbebas melayangkan tendangan pada rahang Li Chen sekaligus menjatuhkan tubuh Li Chen untuk membuka pintu kereta. Akibatnya, Li Chen yang tidak seimbang pun oleng dan terjatuh dari kereta.
Li Wei melihat beberapa orang yang mendekat ke arah Li Chen. Mungkin mereka terkejut akan saat pemimpin mereka ambruk keluar kereta.
Li Wei menjatuhkan tubuhnya dan merayap seperti siput di lantai kereta. Sebelum Li Wei bisa keluar, Li Chen sudah berdiri kembali untuk memberi pukulan ke wajah Li Wei dengan keras.
PLAK!
"Apa kau bisa menuruti perintah orang lain, Li Wei?" bentak Li Chen setelah meludahkan darah ke tanah.
Li Wei tersembab ke bangku dengan mengerang karena rasa sakit. Nyatanya akibat tubuhnya yang melemah rasa sakit di tubuhnya menjadi lebih mengerikan. Li Wei tak tahu lagi bagaimana bertindak, dan berusaha bangkit.
BRUK!
Dengan kejamnya Li Chen menjejakkan kakinya di lengan Li Wei yang terluka.
"AKKKH!!!!"
Teriakan Li Wei menggelegar keras memenuhi isi kereta. Siapapun akan tahu rasa sakitnya. Apalagi dengan air matanya sendiri yang memenuhi pandangannya. Li Wei tak bisa mengatakan apa-apa selain memukul pelan kaki Li Chen yang masih menekan tangannya.
Seingatnya ... Pria ini masih mengucapkan kalimat lembut padanya saat di pengungsian.
Setidaknya apa yang Li Wei harapkan adalah semua sikap hangat Li Chen bukanlah kepura-puraan. Akan tetapi, entah sejak kapan Li Chen berkhianat dan bersekutu dengan Kerajaan Xin. Mungkin kekalahan di Perbatasan juga bukan karena pasukan Kerajaan Li yang lemah, tetapi sejak awal strategi perang sudah diketahui musuh.
"Kakak ..." Tangis Li Wei tak bisa tertahan lagi.
Racun itu mungkin yang membuat semuanya menjadi lebih buruk. Li Wei memuntahkan darah di antara sela tangisnya sendiri. Akan tetapi, tak ada wajah hangat dari Li Chen lagi.
"Kabarkan pada Kerajaan Li. Putri Li Wei tidak terkena penyakit batu, padahal tubuhnya terluka parah karena kecelakaan. Buat cerita palsu tentang Li Wei yang bisa menguasai Pohon Iblis," ucap Li Chen pada anak buahnya yang diperintahkan untuk memberikan rumor.
Percayalah ... Rumor jika sebarkan dengan bumbu yang menakjubkan akan menjadi hujatan keras bagi yang dirumorkan. Bukan menyakiti secara fisik, tetapi menebarkan lisan untuk menyakiti hati.
"Cara menyembuhkan penyakit batu ini ialah dengan darah dari anak Pohon Iblis. Anak klan Bao, dan salah satunya adalah .... Hua Yifeng. Pria itu juga telah memberikan darahnya pada Li Wei," tegas Li Chen sambil terus menekan tangan Li Wei.
SRIT!
Mengapa sakit di lenganku berkurang?
Li Wei menatap lengannya dengan terkejut. Lukanya mulai sembuh secara perlahan! Sebagian mungkin berpikir itu adalah kelebihan yang menakjubkan. Akan tetapi, bagi yang mengalami ... Mungkin itu adalah kutukan.
"Aku adalah seseorang yang tak memiliki masa lalu dan masa depan."
Hua Yifeng tak ingin mendapatkan semua itu.
Lebih dari segalanya ...
Li Chen tak boleh tahu tentang lukanya yang menutup lebih hanya dalam satu hari, atau Hua Yifeng dalam bahaya.
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
Untuk grup author ... Emmm ... Emang sepi sih. makanya kalo ada yang tidak dikonfirmasi itu bukan karena gak mau diterima. Tapi lebih pada authornya jarang buka grup. Jadi, kalau mau berbincang tentang novel, mari berbincang di kolom komentar. Saya usahakan untuk membalasnya. Terus kalau berbincang untuk mengenal author, silahkan kirim pesan untuk saya.
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
Adios~
__ADS_1