
Wah, wah! Ini kasus. Menyembunyikan anak manusia seperti aku, benar-benar kasus!
Yi Hua mondar-mandir seperti gergaji saat dia berusaha berpikir. Sayangnya otaknya yang tak begitu banyak muatannya tak akan sanggup berpikir begitu keras. Ditambah lagi dengan Xiao yang bukannya malah memberi solusi, tetapi lebih banyak memberikan motivasi semata.
Ingatlah ada kalanya motivasi hanya sekadar omong kosong jika tak bisa diterapkan! Ini pesan moral, tolong dicatat.
"HuaHua, seharusnya kau berpikir jernih dan menceritakan padaku tentang Hua Yifeng yang mencium dirimu!"
Yi Hua nyaris ingin menggaruk dinding saking sebalnya. Pada akhirnya, dia ingin mencoba kekuatannya dengan cara mendobrak pintu. Sayangnya, dia juga tak mengerti bagaimana pintu ini bekerja.
"Biasanya pintu seperti ini ada tombol khusus untuk membukanya," jelas Yi Hua yang meraba dinding-dinding Istana Awan.
Namun dinding itu ternyata sangat rata. Bahkan jauh lebih rata daripada saku uang milik Yi Hua. Hal itu membuat Yi Hua mulai berpikir kembali tentang teori membuka pintu ini. Lalu, entah menatap ketika pintu ini ditutup jadinya malah seperti rata sama sekali.
Ini malah seperti aku sempat mimpi bahwa ada pintu di sini sebelumnya. Dimana pintunya bersembunyi?
Karena kelelahan, Yi Hua membaringkan tubuhnya di lantai. Ia bahkan tak merepotkan diri untuk tidur di bangku panjang. Mendadak Yi Hua berpikir tentang berapa orang yang sudah datang ke ruangan ini. Dan, apa saja yang mereka lakukan.
Jelas sekali seperti Hua Yifeng adalah orang yang seperti itu.
"Jangan berpikir buruk tentang Hua Yifeng. Dia memanglah iblis, tetapi bukan berarti dia seburuk itu. Siapa tahu dia hanya penasaran mengapa bibirmu tebal," nasehat Xiao keluar lagi.
"Mungkin saja dia ingin menyerap jiwaku, Xiao. Kau tahu bukan aku memiliki tungku iblis di dalam diriku. Menjadi yang terkuat, itu adalah tawaran yang sangat menggiurkan," simpul Yi Hua sambil berguling-guling di lantai.
Rasa lantai itu dingin, sehingga Yi Hua yang gerah dengan pakaiannya sendiri menjadi sedikit tenang. Entah mengapa dirinya sekarang tak bisa meniru Yi Hua asli dengan baik. Ini sangat buruk!
"Kau tidak tahu betapa kuatnya Iblis Kehancuran seperti Hua Yifeng, Yi Hua. Dia adalah seorang manusia yang menerima kesakitan dan menjadi iblis."
DUG!
Eh?
Yi Hua berhenti berguling karena dua hal. Pertama karena kepalanya menabrak kaki meja. Ia mengusap kepalanya pelan karena itu. Dia tak bisa menahan diri untuk mengeluh. Bagaimana jika dia bertambah bodoh karena kepalanya terpukul?
Yang kedua adalah fakta bahwa Hua Yifeng bukanlah iblis sejak awal. Melainkan dia adalah seseorang yang memilih jalan hitam, atau terperangkap dalam kegelapan hingga menjadi iblis. Ah, iya bukannya Hua Yifeng adalah salah satu dari lima bencana di Kerajaan Li?
"Apa maksudmu dengan menerima kesakitan? Hua Yifeng manusia?" tanya Yi Hua langsung pada poinnya.
"Bukankah itu sudah jelas? Saat kegelapan masuk ke dalam dirimu, apa itu akan menyenangkan? Saat hatimu dirusak oleh kegelapan, dan kau berhenti menjadi manusia. Itu adalah sakit yang berkepanjangan, hingga kau berpikir bahwa mati lebih baik daripada hidup," jelas Xiao yang entah mengapa terdengar sangat serius kali ini.
Inti dari segalanya, yakni tentang alasan dari Hua Yifeng yang memilih jalan kegelapan. Dia ingin kuat atas dasar sesuatu. Tentu saja. Sehingga jika yang dikatakan oleh Xiao benar, maka Hua Yifeng pasti memiliki sesuatu yang membuatnya menjadi iblis.
"Bukankah itu terlihat seperti dia membutuhkan kekuatan yang lebih besar lagi, Xiao? Dia mungkin benar-benar ingin memanfaatkan aku untuk mengumpulkan kekuatan yang lebih besar lagi," simpul Yi Hua yang tak bisa berpikir positif tentang Hua Yifeng yang menyanderanya seperti ini.
__ADS_1
Yah, itu memang masuk akal. Sebab, sejak awal Hua Yifeng dan Yi Hua seharusnya tak memiliki kaitan apa-apa. Bahkan Yi Hua mencintai Li Shen, Si Raja Li itu. Hua Yifeng juga tak ada dalam ingatan Yi Hua, karena tak ada informasi pribadi tentang Hua Yifeng dalam data Xiao.
Ingatkah kalian bahwa Xiao adalah sistem yang dibentuk berdasarkan hidup dan kehidupan Yi Hua?
Itulah sebabnya ia dapat menyimpulkan bahwa tak ada kaitan antara Yi Hua dengan Hua Yifeng sebelumnya.
Ini sedikit rumit!
"Sekarang yang lebih utama adalah keluar dari tempat ini!"
Yi Hua kembali berguling di lantai hanya agar otaknya jalan kembali. Sayangnya, Yi Hua yang merasa dingin dan nyaman di tubuhnya langsung tertidur begitu saja. Ia meringkuk seperti bayi dalam kandungan, dan mendengkur seperti suara sapi.
***
GRAK!
Yi Hua yang sudah seperti makhluk melata terbangun dengan bibir yang basah. Jangan tanya asalnya darimana, karena yang lebih penting adalah sebab mengapa Yi Hua menjadi seperti ini. Tentu saja itu semua karena Hua Yifeng juga tak datang, bahkan setelah Yi Hua tertidur cukup lama.
"HuaHua, bagaimana bisa kau tidur di saat genting seperti ini?" tanya Xiao yang sudah tak paham lagi isi otak Yi Hua.
Namun yang diajak bicara hanya mengangkat bahunya. Sama tak mengerti juga. Ia menoleh ke sana kemari hanya untuk mendapati bahwa dia masih sendirian di Istana Awan ini. Hua Yifeng masih tak menemuinya.
Yi Hua merapikan penampilannya yang sudah seperti habis ditiup badai sebisa mungkin. Sayangnya, dia memang terbiasa terlihat seperti apa adanya dengan itu semua. Lagipula, dia tak berpikir bahwa dia harus menyamar lagi saat Hua Yifeng sudah menyanderanya seperti ini.
Mana kau tahu kapan lagi kau bisa tertidur. Aku ini adalah orang yang pandai menggunakan waktu.
"Kabar baiknya aku sudah tahu cara membuka pintu itu," cetus Yi Hua tiba-tiba.
Mungkin tidur adalah jalan terbaik dalam menyelesaikan kepusingan, dan Yi Hua mulai berpikir tentang mekanisme dari pintu. Mungkin tak rumit seperti yang dikira. Akan tetapi, itu memiliki pertahanan kesabaran yang lebih banyak karena Yi Hua bukan pemilik pintunya. Ia tak tahu bagaimana cara membukanya dengan sekali jalan.
Sehingga ...
"Jangan bermain-main, Yi Hua. Apa kau tahu mungkin saja kedua Perdana Menteri itu sudah ditangkap oleh Hua Yifeng?"
Yi Hua mengorek telinganya karena merasa tak nyaman dengan suara Hua Yifeng. Setelah itu, ia berjalan menuju tembok datar yang sebelumnya ada pintu di sana. Yah, seingat Yi Hua ... Hanya seingatnya saja untuk menemukan dimana pintu itu sebenarnya.
Tangannya meraba-raba dan merasakan permukaan dinding yang sangat datar. Akan tetapi, ada perasan berbeda. Kau tahu!
Jika pintu akan berbeda suhunya dengan dinding? Itu karena ada celah pintu, dan dinding batu putih seperti ini cenderung dingin. Akan tetapi, di bagian pintu akan ada sedikit hembusan angin karena ada celah di sana.
Masalahnya adalah bagaimana jika pintu itu ada, tetapi hanya bisa dibuka oleh pemiliknya?
"Sepertinya pintu yang di ruangan ini hanya bisa dibuka dari dalam," ucap Yi Hua yang mulai berpikir di luar batasan.
__ADS_1
Sebab, ada banyak hal yang membuat kita harus berpikir di luar batasan yang ada. Semua hal terkadang memang tak logis, sehingga kau tak perlu bertahan pada idealisme semacam itu.
"Dan, yang bisa membukanya adalah pemilik dari ruangan ini," jelas Xiao yang mengerti pemikiran dari Yi Hua.
Pria bercadar tadi hanya menutup pintu dari luar. Itu bukan berarti dia bisa membuka kembali pintu yang ia tutup. Sehingga jika pun Huan Ran atau Liu Xingsheng tak ditangkap, dan menyelamatkannya, mereka tak bisa melakukan apa-apa.
Yi Hua menyenderkan tangan kanannya di dinding saat ia mulai buntu kembali. Dia tak bisa memikirkan tentang bagaimana Hua Yifeng, padahal dia tak begitu mengenalnya. Itu seperti ketika kau mengenal seseorang, maka kau akan hafal kebiasaannya. Bahkan pada cara dia membuat desain kediaman.
Sayangnya, Yi Hua tak begitu tahu banyak tentang Hua Yifeng. Yi Hua menghela napasnya sambil bersandar. Satu-satunya rumor yang berkenaan dengan hal pribadi dari Hua Yifeng ialah dia mungkin adalah kekasih dari Li Wei, Si Puteri Hitam terkutuk dari Kerajaan Li. Selebihnya ... Yi Hua tak tahu.
"Xiao, pinjamkan aku kekuatan agar bisa punya sihir. Aku akan menggunakan rupa Li Wei, yang siapa tahu bisa ..."
GRAK
Eh?
Baru saja Yi Hua menyebut, tetapi apa yang terjadi memang layaknya seperti sihir. Mendadak pintu bernada seperti mengalami pergeseran, dan terbuka. Yi Hua yang sebelumnya merasa agak limbung, dan tak bisa menahan tubuhnya sendiri ketika pintu terbuka.
Pintu di antara Yi Hua dan ruangan luar kini mendadak hilang.
BRUK!
Lalu, Yi Hua dengan tidak elitnya tersembab di lantai. Meski bukan jatuh yang begitu kuat, sebab Yi Hua juga sedikit menahan tubuhnya. Akan tetapi, jatuh tetaplah jatuh. Tangannya sakit karena harus menahan bobot tubuhnya sendiri
Tidak adakah yang berpikir untuk mengambil kesialan dari diriku ini?
Namun di atas segalanya, pintu terbuka karena apa?
Yi Hua menatap pintu itu dengan bingung. Bagaimana bisa saat Yi Hua menyandarkan tangannya di sana, dan pintu terbuka?
Jika pintunya memang semudah itu, maka Yi Hua akan bisa keluar sejak tadi. Meski begitu, pasti ada sesuatu yang bisa menggerakkan pintu itu. Saat itu, Yi Hua menyebutkan sesuatu ... Sesuatu yang sangat lain daripada hal lainnya. Biasanya orang Kerajaan Li tak akan menyebut nama itu. Namun Yi Hua adalah lain cerita.
Dia tak berpikir bahwa itu adalah kunci yang sebenarnya. Akan tetapi, dia menyebut nama Li Wei dan pintu terbuka.
Apakah kuncinya hanya menyebut nama Li Wei? Atau, itu karena Yi Hua menekan pada bagian dinding yang tepat?
Yi Hua sendiri tak yakin mana jawaban yang benar.
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
__ADS_1
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
Adios~