Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Janji 7: Anggaplah Semuanya adalah Takdir


__ADS_3

Ling Xiao menyadari perubahan wajah dari Yi Hua, meski pada dasarnya masih ada sisi angkuh yang terlihat di sana. Bagaimana pun wajah putih dan dingin Yi Hua memang sudah menjadi ciri khasnya. Walau terkadang tingkahnya seringkali tak terlihat begitu dingin. Seolah ada yang kontradiksi di dalam diri Yi Hua.


Entahlah.


"Aku sungguh terkejut saat mendapati pria gila ini datang dengan mayat di tangannya. Aku pikir diriku akan melakukan pekerjaan seperti menyembunyikan mayat atau sebagainya," jelas Ling Xiao sambil mengibarkan jubah serba merahnya itu.


Sungguh pemandangan yang menarik mata.


Juga, mengapa ada kediaman di dalam Lembah Debu?


Apa orang ini bukanlah cangkang manusia?


Jelas sekali Lembah Debu tak berpenghuni. Namun kediaman Ling Xiao jelas berada di sekitar Lembah Debu. Bisa jadi Ling Xiao hidup dengan damai di sini. Entah bagaimana dia melakukannya.


"Jangan pikirkan tentang hal itu, dia hanya orang yang sangat buruk dalam bersosialisasi. Sehingga lebih baik dia tinggal di tempat seperti ini," ucap An sinis.


"Kau harusnya bersyukur bahwa kau punya teman yang tinggal di sini," jelas Ling Xiao malas.


Yi Hua menatap lekat pada Ling Xiao. "Anda tinggal di sini? Sebenarnya apa yang terjadi di Lembah Debu? Yue Yan, dan Shen Qibo. Apa yang sebenarnya mereka lakukan hingga ini menjadi Lembah Debu?"


"Wow ... Wow .. Pertanyaan itu! Ya ampun, aku ini penduduk baru. Aku tak tahu tentang apa yang kau bicarakan. Hanya saja apa yang terjadi di sini hanyalah bencana alam, Tuan Kecil," jelas Ling Xiao dengan tawa di belakangnya.


Bencana alam? Apakah hanya seperti itu?


"Dua teman yang berselisih itu sering terjadi jangan terlalu dipikirkan. Bukankah begitu, temanku? Kami berdua bahkan pernah saling ingin membunuh hanya karena aku menyebutnya gila," tunjuk Ling Xiao pada An.


An terlihat tidak terpengaruh dengan yang dikatakan oleh Ling Xiao. Pria itu malah menatap lekat pada Yi Hua. "Bagaimana perasaanmu?"


Namun mata Yi Hua jelas tak bisa terlepas dari sosok tenang yang tak lagi tenang ini. Yi Hua entah mengapa merasa bahwa An tak lagi tenang. Hal itu karena rahang An yang terlihat menegang dari biasanya.


Apa mungkin dia terpengaruh dengan kata-kata pria Ling Xiao ini? Tersinggung begitu?


"Sudahlah. Lebih baik biarkan dia mengumpulkan nyawa terlebih dahulu." Yi Hua melihat Ling Xiao mendekat padanya dengan mangkuk air minum berwarna putih.


Hanya dengan melihat itu Yi Hua langsung mengusap lehernya sendiri. Ia meraih gelas air yang disodorkan oleh Ling Xiao padanya, tanpa perduli pada tatapan An yang lekat padanya. Yi Hua bisa melihat bahwa An memperhatikan kedua tangan Yi Hua yang memegang mangkuk.


Bagaimana pun An jelas tahu bahwa tangan itu tersambung lagi. Sebab, pria ini berada di jarak yang sangat dekat dengan Yi Hua.


Akan tetapi, karena Yi Hua benar-benar haus tanpa dikarang-karang, ia akhirnya meneguk air minum itu. Tenggorokannya kering seperti tanaman kurang asupan. Sehingga dia jelas tak akan mempermasalahkan tentang An, meski dia sendiri agak canggung. Lagipula, dia tak berpikir bahwa dia harus menjelaskannya pada An.


"Ingat, Yi Hua! Kau tak boleh menceritakan tentang misimu pada siapapun. Aku pikir kau punya konsekuensi tersendiri tentang itu," jelas Xiao menerangkan.


Itu benar.


Lagipula, sejatinya An dan dirinya adalah asing.


Dan, ...


BUPHH!


"Apakah kau memasukkan bangkai manusia ke dalamnya?" teriak Yi Hua tanpa sadar. Dia bahkan tak bertingkah layaknya orang yang sopan lagi pada seniornya ini.


Bagaimana pun Ling Xiao pernah bekerja sebagai Peramal Besar Kerajaan Li. Yi Hua bahkan hanya peramal biasa.


Akan tetapi, ...


Jika dia memang tak sempat memasak air, setidaknya jarang berikan aku air! Oh ya ampun, mulutku.


Baru saja dia meminum air itu, sudah ada aroma busuk di dalamnya. Belum lagi Yi Hua sudah sempat meneguknya karena dia haus. Namun siapa sangka rasa mengerikan itu langsung terasa di lidahnya. Bahkan Yi Hua yakin dirinya nyaris muntah sekarang.


An pada akhirnya keluar tanpa mengatakan apa-apa. Lalu, pria itu masuk kembali dengan botol air minum kulit. Ia menyodorkannya pada Yi Hua, dan Yi Hua agak takut menerimanya.


"Tidak apa. Ini adalah air biasa," ucap An dengan nada tenangnya.


Yi Hua meraihnya, dan meminum air itu dengan kecepatan yang ia pikir tak akan membuatnya tersedak. Walau di otaknya masih terbayang rasa menjijikkan dari air sebelumnya. Lagipula, apa maksudnya dengan air biasa?


"Yi Hua, kau harusnya berhati-hati. Pria itu menguji dirimu. Itu adalah air pembangkit iblis," jelas Xiao di telinga Yi Hua.


Jadi, Ling Xiao ini mencurigai aku sebagai iblis? Hey, jika aku iblis maka aku tak perlu kekuatan busuk yang merepotkan ini!


Air pembangkit iblis biasanya digunakan untuk mengungkap jati diri iblis. Dengan kekuatannya, iblis biasanya menyamar, serta menyamarkan aura iblis di dalam tubuhnya. Bahkan jimat penangkap pun tak akan merasakannya, sehingga mereka bisa terlihat dan beraura seperti manusia.


Sehingga ketika ia meminum air itu, maka penyamarannya akan terbongkar.


"Dia beraura seperti Hua Yifeng," ucap Ling Xiao sambil menyenderkan tubuhnya ke dinding.

__ADS_1


BUPPHH!!


Kali ini Yi Hua nyaris menyembur An dengan air di mulutnya. Ia tak mengerti mengapa Ling Xiao harus banyak berbicara saat dia sedang minum. Beruntung An punya gerakan yang cukup cepat, sehingga pria itu bisa menghindar sebelum air itu datang ke wajahnya.


Akan tetapi, apa maksudnya beraura seperti Hua Yifeng?


"Mengapa kau sensitif sekali ketika Hua Yifeng ini disebut, Yi Hua?" tanya Xiao yang tak paham lagi dengan kelakuan Yi Hua.


Bahkan Yi Hua sekarang membuka mulutnya, dan itu membuat air berjatuhan dari dagunya. Itu jelas bukan pemandangan yang cantik. Sayang sekali Yi Hua menyia-nyiakan wajahnya yang sangat cantik. Lebih sayang lagi ialah kelakuannya benar-benar jauh dari kata cantik.


An menutup mulut Yi Hua dengan kain putih sebelumnya. Itu adalah kain putih untuk mengompres dahi Yi Hua, sehingga tak ada masalah ketika itu ditempelkan padanya. Yang menjadi masalah ialah An yang tak pandai menjaga tangannya jika berdekatan dengan Yi Hua.


"Kau harusnya mengabaikan pria gila itu." An membiarkan Yi Hua membersihkan mulutnya sendiri.


Ling Xiao menggelengkan kepalanya. "Jika ada yang lebih gila, maka itu kau. Apalagi kenyataan bahwa kau bisa melakukan semua hal hanya karena perasaan memuakkan itu."


Apakah kedua orang ini saling menyindir?


Hey, aku masih ingin bertanya mengapa kau menyebut aku beraura seperti Hua Yifeng. Aku tidak ingat jika aku dengan Hua Yifeng adalah saudara, atau dia tak mungkin ayahku, bukan?


Xiao sendiri tak habis pikir dengan imajinasi Yi Hua. Oleh karena itu, ia hanya mendengarkannya saja. Terlepas dari itu, Xiao berpikir bahwa Yi Hua perlu dilatih lebih keras lagi untuk menjadi peramal yang angkuh dan dingin.


"Maaf, Tuan Ling Xiao, tetapi mengapa Anda memberikan saya air busuk itu? Saya bukanlah iblis, dan saya tidak ada hubungan apa-apa dengan Hua Yifeng," jelas Yi Hua yang menahan diri agar tidak bertanya dengan cara yang kasar.


Ling Xiao menggaruk kepalanya yang sepertinya tak diurus dengan baik. "Air pembangkit iblis itu, jika iblis yang meminumnya, maka akan terasa sangat manis. Namun kau jelas tak berpura-pura, tetapi aku merasa seperti kau membawa sesuatu yang dipunya oleh Hua Yifeng." Ling Xiao menatap An ketika mengatakan itu.


Dan, wajah An mengeras seperti menyimpan kemarahan. Yi Hua tak mengerti dengan semua perubahan itu, tetapi An memang dalam suasana hati yang baik beberapa hari ini. Sehingga Yi Hua seharusnya tak memikirkannya terlalu keras.


"Apa kau pernah tidur bersama Hua Yifeng?" tanya Ling Xiao terus terang. Yi Hua bisa menyimpulkan bahwa Ling Xiao sangat tidak pandai menjaga ucapannya sendiri.


Yi Hua nyaris melempar Xiao dengan wadah minuman yang ada di tangannya. "Apa kau gila?!"


Lihatlah Sifat asli Yi Hua langsung terbongkar jika dia sedang terbawa emosi.


"Sudahlah. Ini hanya kecurigaan ku saja, sebab aku bisa merasakan seperti kau memiliki sesuatu yang berbau iblis di dalam dirimu."


Apa dia bisa merasakan tungku iblis? Peramal ini bukanlah orang yang dipenuhi omong kosong seperti Yi Hua.


Ling Xiao adalah peramal yang sebenarnya.


Sebenarnya tidak ada hubungan antara bisa ular dengan tungku iblis. Hanya saja Yi Hua tak pandai berbohong. Ditambah lagi dia harus punya segudang alasan agar bisa menjawab An. Pria itu melihat tangannya tersambung kembali, bukan?


"Mungkin saja. Atau, aku hanya salah menduga. Sebab, aura iblis di dalam dirimu sangat besar, tetapi kau bukan iblis. Oleh karena itu, aku berpikir bahwa kau mungkin adalah orang yang meminum darah Hua Yifeng, karena kekuatan besar seperti itu hanya pernah aku rasakan dari Hua Yifeng," jelas Ling Xiao yang menyiapkan sebuah ramuan. Mungkin saja Ling Xiao berpikir ingin mengobati Yi Hua.


"Meminum darah? Apa yang Anda maksud?"


An menyambar mangkuk ramuan dari tangan Ling Xiao. Pria itu memeriksanya sebentar sebelum menyerahkannya pada Yi Hua. Sepertinya An tak ingin Ling Xiao berada di jarak yang dekat dengan Yi Hua.


"Kau tahu ini seperti kau menuang isi air dari botol ke dalam gelas. Hal itu berlaku juga dengan para iblis, mereka bisa meminjamkan atau membagi kekuatannya pada orang lain. Ada banyak metodenya, salah satunya ialah dengan kultivasi ganda. Itu adalah cara yang paling mudah," jelas Ling Xiao santai.


"Maksudnya kau melakukan musim semi dengan Hua Yifeng, dan berbagi kekuatan." Jika tentang mengejek, serahkan pada Xiao. Dia jelas akan mengejek Yi Hua yang sangat buta dalam hal ini.


Eh? Apakah seperti saat itu juga bisa membagi kekuatan?


"Saat itu apanya, Yi Hua?"


Yi Hua tak menjawab pertanyaan dari Xiao. Tentu saja Yi Hua ingat bahwa dia pernah dicium oleh Hua Yifeng. Yah, bukan dicium sebenarnya. Hua Yifeng hanya menempelkan bibirnya pada Yi Hua, dan menarik luapan kekuatan dari dalam tubuh Yi Hua.


Ingat! Itu hanya menempelkan bibir saja.


Yi Hua menghela napasnya tertahan. "Mungkin itu hanya perasaan Anda saja. Jangan terlalu terbawa ke dalam perasaan, sehingga Anda sering menyebut seperti atau terlihat semata." Mendadak Yi Hua langsung berfilosofi.


"Juga, Anda mengatakan jika aura saya seperti Hua Yifeng. Apakah itu berarti Anda pernah bertemu dengan Hua Yifeng?" tanya Yi Hua yang kini memakai kembali pakaian bagian luarnya.


Ia hanya bersyukur dengan fakta bahwa tak ada luka di tubuhnya, sehingga tak perlu membuka pakaiannya. Setidaknya penyamarannya masih belum terbongkar.


Ling Xiao tersenyum tipis. "Entahlah. Mungkin saja."


Apa maksud senyum itu?


Akan tetapi, Yi Hua sekarang berpikir bahwa ada yang lebih penting ketimbang masalah Hua Yifeng. Bukankah sebelumnya dia masih ada di Lembah Debu?


"Kau masih belum pulih, Yi Hua?"


Yi Hua dapat merasakan bentuk kemarahan dari ucapan An tersebut. Namun sudah pekerjaan Yi Hua untuk mencari kematian. Jika kematian tak datang padanya, maka dia yang akan mendatangi kematian.

__ADS_1


Lagipula, bukankah ingatan masa lalunya belum kembali?


Itu berarti misinya sebenarnya belum selesai. Dia masih setengah jalan untuk menuju misi sebenarnya. Tentang penglihatan sebelumnya, ia yakin itu hanyalah efek dari racun yang ia dapatkan dari ular. Atau, Yi Hua sebenarnya memiliki kemampuan untuk memahami seseorang melalui mimpi.


Ini seperti kau bisa melihat masa lalu orang lain ketika menyentuhnya. Dalam hal ini, Yi Hua dapat melakukannya melalui mimpi.


Mungkin Yi Hua sebenarnya punya bakat cenayang, hanya saja dia tak tahu menggunakannya.


"Saya harus mencari Perdana Menteri Liu dan Perdana Menteri Huan, Tuan An."


Setelah selesai dengan pakaiannya, Yi Hua meminum ramuan itu segera. Tanpa meminta persetujuan dari An lagi, Yi Hua bangkit dan menuju pintu. Sebelumnya, ia dengan sangat sopan berterima kasih pada Ling Xiao.


"Terima kasih atas keramah-tamahan dari Peramal Ling," ucap Yi Hua sambil memberikan penghormatan seperti layaknya seorang pria.


Ling Xiao mengibaskan tangannya malas. "Jika kau keluar, silakan membawa makhluk yang membawamu masuk. Kediamanku mungkin akan terkena keburukan jika dia di sini."


Yi Hua hanya memberikan Ling Xiao senyumnya. Jelas dia tak ingin memperpanjang semua itu.


Lalu, Yi Hua keluar dengan cepat. Di belakangnya ada An yang mengikuti. Namun langkah An segera dicegat oleh pisau yang terbang di depannya. Itu berasal dari lemparan Ling Xiao.


"Kau yakin membiarkannya untuk menyelesaikan masalah ini? Apa kau ingin mengulang cerita lama?" tanya Ling Xiao dengan wajah datarnya.


Sebelumnya Ling Xiao selalu bertingkah santai, tetapi kini ada bentuk kemarahan dari wajahnya. Entah untuk siapa.


Yi Hua mungkin sudah berjalan duluan, dan tak mendengar apa yang mereka bicarakan. Oleh karena itu, An hanya menatap punggung Yi Hua yang menjauh.


"Bukankah karena itu aku ada di sini?"


Ling Xiao tersenyum sinis. "Ada kalanya lebih baik semuanya tertutup rapat, bukan? Lebih baik kau hidup normal seolah lingkungan di sekitar adalah biasa. Terkadang kau tak baik membongkar tumpukkan kerangka. Lebih baik mereka terkubur di dalam sumur, sehingga baunya tak akan tercium lagi. Lalu, semuanya akan terlihat seperti sampah yang normal. Seperti biasanya. Terlalu banyak ikut campur dalam urusan kerajaan akan menjadi sangat sulit."


"Mengapa kau berbicara seperti itu?" tanya An tanpa menatap Ling Xiao.


"Karena aku tahu kau perduli padanya."


An memanjangkan langkahnya untuk menyusul Yi Hua. Ia tak berniat untuk membalas ucapan Ling Xiao. Sebab, pria itu, temannya, selalu tahu apa yang menjadi jawaban An.


Seperti biasanya.


"Dia hanya tak pernah berubah. Itu saja."


***


Huan Ran mengibaskan pedangnya untuk menghalau ranting kering yang berterbangan. Sudah nyaris setengah hari mereka menunggu di tempat yang sama, dan kedua orang yang masih dalam selubung debu belum keluar. Liu Xingsheng bahkan sudah membaca doa kepada langit.


"Kakak Huan, bagaimana jika kita menyusul mereka?" tanya Liu Xingsheng yang menyembulkan kepalanya dari dalam kereta.


Huan Ran menghela napasnya. "Jika kita bisa masuk itu lebih baik. Masalahnya ialah hanya satu orang yang diizinkan masuk, makanya dia bisa masuk."


"Apa maksudnya?"


"Sejak awal pendeta gila itu hanya ingin Tuan Yi yang masuk. Oleh karena itu, ia menunjukkan dirinya."


Sebenarnya berbicara pada sapi akan lebih baik daripada berbicara dengan Liu Xingsheng. Pria itu jelas tak bisa menangkapnya dengan baik. Dia hanya tahu Yi Hua jelas dipancing ke dalam selubung debu.


"Lalu, bagaimana dengan Tuan Pengawal? Dia bisa masuk," tanya Liu Xingsheng yang ingat bahwa An bisa masuk ke dalamnya.


Huan Ran mendecih sebal. "Dia bukan dipersilahkan masuk. Dia menghancurkan perisai, dan masuk sendiri."


Tatapan Liu Xingsheng terarah pada debu yang bergolak di hadapan mereka. Seolah berharap Yi Hua kembali dari sana. "Menurut kakak mengapa Yi Hua dipersilahkan masuk oleh Shen Qibo?"


"Entahlah."


Mungkin Shen Qibo ingin menghentikan sesuatu. Sebab, sesuatu yang sudah pergi biarlah tetap pergi. Kembali pada takdirnya. Atau, bisa jadi Shen Qibo hanya ingin menghentikan harapan yang ada di Lembah Debu.


Kehidupan di sana memang telah berakhir, bukan?


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.


Mari bertemu di chapter selanjutnya.


Adios~

__ADS_1


__ADS_2