Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Janji 5: Tipuan


__ADS_3

Sekarang mari mendeskripsikan posisi.


Yi Hua tak tahu bagaimana keadaan di dalam sumur, tetapi dia tahu keadaannya. Kini ia berada di dada An yang entah mengapa terlihat agak berbeda dari biasanya. Akan tetapi, dia An.


Yah, bagaimana mengatakannya ... Dia hanya terasa seperti muda kembali. Eh?


Katakanlah seperti ini. An biasanya adalah seorang pemuda yang benar-benar dewasa. Itu bukan hanya dari wajahnya semata, tetapi dari fisiknya. Dia seperti pria yang sudah memasuki masa-masa emasnya, dan matang.


Seorang pria beraura Paman Tampan.


Akan tetapi, ... Yi Hua sempat memegang bahu An, yah ... Saat jatuh di jurang dahulu Yi Hua pernah berada dalam posisi menindih An, dia tahu sedikit bagaimana fisik An.


Dan, sekarang An agak berbeda karena dia merasakan bahwa fisik An jauh lebih segar dari sebelumnya. Dia terasa seperti pria energik yang punya fisik seperti tiang listrik. Bahkan Yi Hua yakin An juga bertambah tingginya, dan bahunya lebih tegap dibandingkan sebelumnya. Selebihnya Yi Hua hanya bisa menebak, karena dia jelas tak bisa dengan begitu 'sopan'nya meraba-raba tubuh An.


Mendadak Yi Hua menyeka hidungnya sendiri. Takut mimisan.


Namun ...


Apa otakku sudah benar-benar terendam dengan racun hingga terlalu banyak berpikir seperti ini


Entah mengapa Yi Hua tak ingin memikirkannya lebih lanjut.


Xiao berseru di telinga Yi Hua. "Hewan-hewan peliharaan itu ikut masuk ke dalam." Ucapan Xiao menghentikan Yi Hua dari segala macam praduga.


Yi Hua menajamkan telinganya hanya untuk mendengar suara seperti 'krasak-krasak' dari segala penjuru. Itu terdengar cukup lengket seperti seseorang mencuci pakaian secara bersamaan. Yi Hua bahkan tak bisa mendeskripsikan suara itu dengan benar.


Apakah benar hewan seperti itu memang bisa dipelihara? Entahlah.


"Tuan An, turunkan saya sepertinya hewan beracun itu mengikuti kita ke dalam sumur," ucap Yi Hua yang sebenarnya membiasakan matanya dengan gelap. Belum lagi dengan rasa pusing di kepalanya.


Yi Hua ingin meraba tangannya, tetapi takut sendiri dengan fakta bahwa tangannya belum ada. Ia juga menyembunyikan tangannya dari pandangan An. Dia hanya tak mau An tahu tentang keadaannya.


Keadaan mereka ini benar-benar gelap hingga Yi Hua nyaris tak bisa melihat setitik cahaya pun. Ia berharap An tak melihat tangannya, agar tak terkejut bila tangannya tersambung lagi nanti. Akan tetapi, An terlihat agak dingin dari biasanya.


Pria ini masih marah?


Namun, Yi Hua pertama-tama harus memastikan keselamatan mereka.


Pasti tidak lucu bukan jika mereka terkubur dan mati bersama hewan beracun di dalam sumur?


Aku hanya tak mau ada penemuan sejarah dan spekulasi tentang penemuan tulang-belulang kami.


"Seperti, "Sepasang makhluk yang disebut manusia ditemukan berpelukan di dalam sumur. Dari keadaanya mereka seperti sengaja melarikan diri dari perjodohan, dan tak bisa lari dari kematian karena CINTA," ujar Xiao yang mendadak seperti penyebar rumor.


Walau nyatanya Yi Hua yakin akan muncul rumor seperti yang Xiao katakan jika mereka tak bisa keluar dari sumur ini. Sebab, siapa tahu mulut masing-masing dalam membuat cerita. Itu semua biasanya dibuat dalam beberapa versi, dan akan banyak cerita tambahan di dalamnya.


Oleh karena itu, Yi Hua harus memikirkan bagaimana cara keluar dari sini.


"Tuan An, saya harus membuat kertas jimat," ucap Yi Hua yang kembali ke kebohongannya.


Bagaimana pun Yi Hua hanya harus bertindak seolah dia seorang peramal dan cenayang yang hebat. Dia tak bisa membiarkan harga dirinya tercoreng hanya karena dia sekadar bisa membuat jimat pengusir tikus. Apalagi dia harusnya segera turun dari gendongan An, bukan?


Posisinya agak ...


"Tidak perlu, Yi Hua. Aku sebenarnya takut pada serangga. Jangan tinggalkan aku," ucap An dengan nada sangat tenang. Seolah ekspresi takutnya dimakan sapi.


An adalah orang yang sangat tenang, hingga dia takut pun akan terlihat tenang. Begitu?


Entahlah.


Yi Hua menganggukkan kepalanya. "Tidak apa, Tuan An. Makhluk peliharaan itu memang berbisa, tetapi 'mata'nya adalah Si Pengendali. Jika pengendalinya tak melihat kita, maka hewan-hewannya juga tak akan melihat kita."


"Benarkah? Namun bagaimana jika dia menemukan kita?" tanya An yang semakin menarik Yi Hua ke dalam pelukannya. Namun suaranya tetap tenang seperti permukaan danau.


Eh? Dia memang sepertinya takut.


"Turunkan saya, Tuan An. Saya pikir kita harus menghadapi makhluk beracun itu bersama," ujar Yi Hua menenangkan.


Namun bukannya menurunkan, Yi Hua merasa An bergerak dengan sangat cepat. Seolah pria itu tengah berlari. Dan dari langkah kakinya, Yi Hua bisa mendengar seperti suara langkah kaki ketika menginjak lumpur. Sehingga Yi Hua yakin bahwa sumur ini berair.


CRAT!


CRAT!


CRAT!


"Tuan An, ada apa? Apa yang Anda pijak?" tanya Yi Hua yang meminta lagi untuk turun.


SRET!


Yi Hua bahkan harus menutup mulutnya sendiri rapat-rapat hingga tanpa sadar nyaris menggigit lidahnya karena terkejut. Pasalnya An mendadak memindahkan Yi Hua ke bahunya seperti mengangkat karung gandum. Lalu, pria itu melompat dengan cukup tinggi seolah kaki An itu sudah sekuat kuda.

__ADS_1


"Permukaan tanahnya kotor. Lebih baik Yi Hua di atas saja," jelas An yang memutar, dan terlihat seperti tengah mengambil pedang.


Bukankah pria ini terlihat seperti tengah bertarung? Dalam keadaan gelap begini?


Yi Hua tak bisa menahan diri untuk menjadi histeris. Dia ingin bertanya pada Xiao, tetapi Xiao terlebih dahulu mengatakan sesuatu.


"Ada seseorang yang mengawasi kalian," ucap Xiao yang seperti semua sikap konyolnya dimakan sapi. Dia terlihat lebih serius daripada biasanya.


GRAK!


BUAKH!


Yi Hua yang berada dalam gendongan An tentu merasakan saat An bergerak. Pria ini seperti tengah menendang sesuatu, dan sesuatu itu terkena tendangannya. Dan, jelas itu bukanlah hewan beracun karena dia bisa mendengar suara jatuh yang keras.


Mungkin An sudah menendang orang yang tengah mengawasi mereka.


CRASH!


Yi Hua baru-baru ini juga mencuri jimat cahaya dari istana. Sehingga ketika dia memetik tangannya pada jimat, jimat itu terbakar dan menimbulkan cahaya. Jimat itu terbang di atas kepala Yi Hua. Saat ini Yi Hua bisa melihat keadaan di sekitar mereka, walau tak secara keseluruhan. Karena posisinya, Yi Hua tak bisa melihat An.


Hey, mengapa hewan-hewan itu menumpuk seperti mengerubungi sesuatu?


Yi Hua bisa melihat tumpukan hewan berbisa dari jenis yang berbeda-beda di sudut sumur yang tak jauh darinya. Ia baru menyadari sumur ini sangat besar, dan nyaris seperti dua kali lipat besarnya dari sumur biasanya. Sehingga ada banyak elemen di sana, termasuk ...


Tulang belulang? Berapa banyak orang yang mati di sumur ini?


"Ah ... Sakit sekali."


Yi Hua segera mengarahkan jimat yang sudah habis setengah itu. Bagaimana pun jimat seperti ini sangat terbatas waktunya. Meski begitu, Yi Hua bisa melihat sosok dengan pakaian putihnya seperti pendeta. Dia bukanlah pria pengendali hewan beracun tadi.


Pria berpakaian putih itu mengusap kepalanya. Sepertinya An menendang pria ini langsung ke pokoknya. Yah, walau Yi Hua masih tak begitu tahu mengapa An bisa melakukannya. Seolah mata pria ini sudah seperti mata kelelawar.


"Shen Qibo?" tanya Yi Hua untuk memastikan.


Lalu, pria berpakaian putih itu menarik senyumnya dengan sangat manis. "Selamat datang ke Tempat Pembuangan Mayat, Lembah Debu. Saya penjaga makam, Shen Qibo, sangat terkesan."


Lembah Debu sejak bencana, tak ada yang tahu di dalamnya. Siapa sangka sesuatu yang terkubur bersama desa kecil itu sangat besar. Atau, ini memanglah sesuatu yang tersimpan di desa ini lama sekali. Sebab, dari tumpukkannya, Yi Hua bisa menduga ini sudah dikumpulkan sejak lama.


Shen Qibo tertawa pelan. "Percayalah saya tak suka gadis kecil yang sangat pintar. Itu sangat menyebalkan sehingga saya ingin mencekiknya."


Yi Hua menunjuk ke arah hidungnya sendiri. Seolah dia menegaskan. "Jika kau menyebut saya gadis kecil, maka Paman salah paham. Saya PRIA! Saya bisa membuktikannya," ucap Yi Hua dengan nada tergesa-gesa.


"Dari suaramu sendiri kau bisa segera ketahuan, Yi Hua. Bisakah kau mengambil sedikit ketenangan dari pria berwajah tenang itu? Dia bahkan tak memintamu untuk membuktikannya," ujar Xiao yang lelah sendiri.


Dari fisiknya saja sudah tak seperti seorang pria. Dia disebut pria karena dia berpakaian seperti pria, dan sejak kecil dia dilihat sebagai seorang pria oleh keluarganya. Apalagi tangan Yi Hua yang kecil. Bahkan orang-orang akan berpikir jika bertarung dengan kupu-kupu saja tak akan patah sayapnya.


Yah, walau Yi Hua lebih kasar daripada penampilannya sendiri.


CTAS!


Lalu, cahaya dari jimat langsung redup kembali. Hal terakhir yang Yi Hua lihat adalah senyum aneh Shen Qibo. Pria ini adalah salah satu dari lima pendosa. Dan, terlihat cukup biasa untuk disebut sebagai pendosa.


Katakanlah Hua Yifeng. Pria itu seperti memiliki aura hitam dan sangat misterius. Jika dikatakan ada yang lebih tinggi dari lima pendosa, maka Hua Yifeng terlihat di paling atasnya.


Akan tetapi, Shen Qibo, dia terlihat seperti seseorang yang kurang kerjaan. Dan, juga dia mungkin buta seperti yang dikatakan. Sebab, Yi Hua bisa melihat kain putih yang mengikat matanya. Kain putih itu sangat lusuh seolah sudah dipakai bertahun-tahun tanpa diganti.


"Baiklah, PRIA kecil. Apa gerangan yang membawamu ke tempat ini?" tanya Shen Qibo sambil bersandar di dinding berlumut dari sumur.


Yi Hua mengerutkan keningnya ketika melihat gerakan Shen Qibo. Pria ini memang menutup matanya dengan kain, tetapi itu bukan berarti dia buta. Apalagi dari gerakannya saja sudah terlihat bahwa dia cukup lincah dibanding orang buta.


"Juga ... Mengapa Yue Yan masih memelihara benda seperti ini?" tanya Shen Qibo yang menunjuk pada tumpukkan hewan beracun yang berada di atas para tengkorak.


Dan, semua hewan beracun itu tak bergerak seolah mati dan terpotong-potong. Bahkan sampai ke ulat-ulat kecil pun terpotong. Siapa yang ...


"Kita keluar dari sini," ucap An memotong pembicaraan tak jelas antara Shen Qibo dan Yi Hua.


Shen Qibo tiba-tiba berkata. "Saya punya sebuah cerita, Nona ... Maksudku Tuan Mungil. Apakah Anda tertarik mendengarnya?"


Hey, bukannya dia tengah menutup matanya? Bagaimana bisa dia menyebutku mungil seperti itu?


"Kau mempermasalahkan hal seperti ini lagi, Yi Hua. Itu sudah takdir alam bahwa Si Peramal Yi Hua memang kurang baik pertumbuhannya," jelas Xiao yang tak bisa saja untuk tidak mencerca Yi Hua.


Lagipula, cerita itu, apakah tentang Yue Yan yang disebut oleh Shen Qibo sebelumnya? Si Pengendali Hewan Beracun?


"Omong kosong."


Shen Qibo menarik senyumnya ketika mendengar suara An. "Apakah Anda ingin mendengar omong kosong ini lebih lanjut?"


"Maksud Anda tentang pembunuhan yang Anda lakukan pada orang-orang desa? Anda mengumpulkan tengkoraknya ke dasar sumur?" tanya Yi Hua cepat.


"Keledai yang pintar. Sayangnya, sepertinya saya tak perlu menceritakan tentang itu semua. Karena itu tak penting sekarang," ucap Shen Qibo sambil menepuk kedua tangannya untuk membersihkan debu.

__ADS_1


Belum sempat Yi Hua mengatakan apa-apa, cahaya tiba-tiba menyerbu dari mulut sumur. Yi Hua mendongakkan kepalanya, dan segera ditundukkan kembali oleh tangan An. Seolah tak ingin Yi Hua melihat keadaan sekitar lagi. Bahkan Yi Hua tak bisa melihat An yang memanggilnya.


Hanya saja Yi Hua bisa melihat jubah hitam yang digunakan oleh pria ini, dan sepatu hitamnya.


"Kita keluar," ucap An yang sepertinya tak ingin terlalu lama berada di tempat ini.


Namun ...


"Shen Qibo, aku akan membunuhmu!" Teriakan itu cukup dikenal oleh Yi Hua karena dia bisa menduga memang Yue Yan yang datang.


Mungkin saja Shen Qibo inilah yang dimaksud oleh Yue Yan. Seseorang yang dalam janjinya ingin ia bunuh. Lalu, Yi Hua menyadari bahwa rasa pusing benar-benar menyakiti kepalanya. Akan tetapi, Yi Hua pada dasarnya ingin tahu semua dasar dari Lembah Debu.


Sesuatu yang terkubur bersama bencana.


Shen Qibo langsung mengarahkan tinjunya pada Yue Yan yang menerjunkan dirinya ke dalam sumur. Dan, itu membuat Yue Yan terbanting ke dinding sumur dan terjatuh dengan sangat menyakitkan. Bagaimana pun seperti yang Yi Hua duga, Yue Yan hanya bisa mengendalikan hewan beracun.


Namun tenaganya sama sekali jauh dari Shen Qibo. Yue Yan masih tak bisa mengalahkan Shen Qibo. Apakah ini berarti Yue Yan tak akan bisa menepati janjinya?


BRUGH!


Shen Qibo mendekati Yue Yan yang terkapar di lantai gua. Beberapa hewan beracun sepertinya mengelilingi Yue Yan untuk melindunginya. Sesungguhnya Yi Hua tak tahu apakah hewan berbisa seperti itu bisa memiliki empati pada pemiliknya.


Akan tetapi, yang terlihat sekarang sebuah kepedulian yang agak aneh.


"Bukankah aku bilang untuk lebih kuat dari dahulu?" tanya Shen Qibo lalu mengarahkan tendangannya pada kepala Yue Yan.


BUG!


Yi Hua memejamkan matanya, entah karena dia pusing atau karena tak ingin melihatnya.


"Cuihh ...Br*ngsek kau Shen Qibo, kau menipuku! Kau mengatakan bahwa kau akan membawa orang-orang desa diam-diam saat malam. Oleh karena itu, kau meminta aku untuk melepaskan hewan-hewan ke desa untuk membuat mereka tertidur sejenak!" teriak Yue Yan sambil meludahkan darah dari mulutnya.


BUG!


BUG!


BUG!


Yi Hua melihat Yue Yan memukuli tanah dengan tangannya. Seolah melampiaskan seluruh rasa sakitnya. "Jika aku tidak melepaskan hewan beracun itu, maka mereka mungkin bisa menyelamatkan diri mereka. Ini salahku karena menuruti ucapanmu!"


Ini hanyalah rasa bersalah, dan karena itu Yue Yan ingin orang-orang desa ini tetap hidup. Dia mengorbankan jiwa orang-orang yang tersesat di Lembah Debu untuk menciptakan suatu benda yang memicu gerakan benda mati. Walau Yi Hua belum menemukan benda apa itu.


"Bukankah lebih baik mereka mati lebih dahulu daripada mati karena bencana?" tanya Shen Qibo seolah berbicara bahwa ini adalah persoalan yang mudah.


Shen Qibo memutari Yue Yan seperti menjelaskan dengan sangat lembut. "Tidak ada rasa sakit. Takut. Cemas. Omong kosong. Bahkan tak ada orang culas yang bisa mencelakakan orang lain, Yue Yan. Lagipula, ..."


Yue Yan tampak terdiam ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Shen Qibo. "Bukankah kebanyakan dari mereka adalah orang yang sering menghinamu?"


Yi Hua tak tahu apakah mereka boleh berada di tempat ini. Ini bukanlah sesuatu yang bisa mereka dengar. Walau Yi Hua bisa mendengar dengung di telinganya. Ini sama dengan yang dialami Yi Hua saat ia hampir meledak dahulu.


Sepertinya 'kemampuan kembali ke awal' aktif, karena Yi Hua sudah kehabisan banyak darahnya.


SRING!


An menatap panik pada tubuh Yi Hua yang bercahaya. "Yi Hua, kau ..."


SRET!


An memangku Yi Hua di tanah. Hanya agar Yi Hua tak langsung terbaring di sana. Lalu, Yi Hua sempat membuka matanya sedikit hanya untuk melihat wajah tenang An yang bergeming. Pria ini mungkin terkejut, atau dia melihat garis melingkar di leher Yi Hua.


Setelah itu, Yi Hua tak tahu apa-apa lagi, dan apa yang ia lihat hanyalah sekumpulan pigmen yang tak beraturan. Dia sangat bingung dan tak tahu apa yang harus dilakukan. Ia melebur seolah dia adalah debu, dan yang ia lihat adalah dua orang pria muda yang tengah duduk di sebuah danau.


Sebuah kenangan masa lalu masuk ke dalam pandangan Yi Hua. Bukan tentang dirinya, tetapi ...


Shen Qibo dan Yue Yan.


Namun mereka berdua yang Yi Hua lihat sebelumnya tampak sangat berbeda dari yang ia lihat di kenangan ini. Shen Qibo benar-benar murni seperti air, dan Yue Yan yang sangat kecil seperti kurang gizi.


"Aku Shen Qibo. Apakah aku boleh bertanya dimana orang menjual sapi di dekat sini?"


Yi Hua merasa itu bukanlah kalimat pertama yang baik untuk membuka pembicaraan. Mungkin saja Shen Qibo hanya ingin berbicara dengan Yue Yan. Itu saja.


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.


Tentang kalimat di atas. Anggap saja Shen Qibo ingin berkurban, makanya dia nanya tentang tempat penjualan sapi. Jadi, abaikan saja dia.


Mari bertemu di chapter selanjutnya.

__ADS_1


Adios~


__ADS_2