Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Seorang Wei 3: Jalan Masuk Lain


__ADS_3

"Kemari."


Hua Yifeng mengarahkan pedang Li Wei ke hadapan Yi Hua. Sepertinya Hua Yifeng berniat untuk menarik Yi Hua untuk naik ke permukaan. Akan tetapi, Yi Hua yang keburu jengkel, dan berhubung pedang Li Wei masih terbungkus dengan kain tebal, ia tak takut untuk menarik bungkusan pedang itu dengan kuat. Berharap pria tinggi ini juga akan jatuh ke dalam air.


Namun ...


Orang ini selain tinggi, tetapi berat juga. Dasar curang!


HAPP!


Yang ada hanyalah Yi Hua yang tertarik dengan mudah. Hua Yifeng bahkan menarik Yi Hua hanya dengan satu tangan. Yi Hua menjadi semakin jengkel dan mengguncang-guncang pegangannya. Hal itu membuat mata Hua Yifeng menyipit. "Kau mau berendam lagi?" tanya Hua Yifeng usil.


Yi Hua tak menjawab, dan membuat Hua Yifeng melepaskan pegangannya pada pedang. Yi Hua semakin jengkel, tetapi ia tak bisa menendang Hua Yifeng. Itu semua karena dia kembali limbung ke dalam air.


BYUR!


Orang ini sebenarnya tak jelas otaknya! Dia mau membantu atau tidak?


Hasilnya adalah Yi Hua kembali berendam sambil memeluk pedang Li Wei. Yi Hua jelas-jelas tahu jika Hua Yifeng ini sedikit usil. Lihat saja Yi Hua akan melempar kepala Hua Yifeng dengan pedang ini. Jika perlu, Yi Hua akan menusuk Hua Yifeng lagi dengan pedang.


Toh, Hua Yifeng tak mati-mati juga biar ditusuk dengan pada apapun.


Yi Hua masih duduk di dalam air. Ia masih di bagian tepi, sehingga kedalaman air hanya mencapai perutnya. Ia duduk di sana sambil berkomat-kamit. Membacakan mantra untuk mengutuk Hua Yifeng.


Hua Yifeng mendadak menarik ujung bibirnya untuk tersenyum. Sangat tipis, tetapi ini bukan senyum yang licik seperti biasanya. Ia menatap Yi Hua sambil berjongkok di depan Yi Hua yang masih sibuk berkomat-kamit.


Tak lama Yi Hua mengayunkan pedangnya untuk memukul kepala Hua Yifeng, tetapi ...


SRET!


TAP


"Pemarah sekali," ujar Hua Yifeng yang menangkap ujung pedang itu.


Yi Hua menghela napasnya. "Apakah Anda ingin balas dendam karena saya menusuk Anda dengan pedang?" tanya Yi Hua yang masih berusaha menekan pedang ke arah kepala Hua Yifeng.


Namun Hua Yifeng hanya menggeleng dengan masih menahan pedang. "Aku melihat Yi Hua masih mengantuk. Seingatku Yi Hua juga belum sempat membersihkan diri tadi pagi."


Orang ini ...


"Menjauh. Biasanya jika saya belum membersihkan diri, maka saya akan mengeluarkan asap beracun dari mulut," ucap Yi Hua yang berusaha bangkit dari air lagi.


Ia harusnya tak meladeni Hua Yifeng, atau iblis ini akan semakin mengerjainya.


Hua Yifeng mengulurkan tangannya untuk mengangkat Yi Hua di ketiaknya seperti anak kecil. Bahkan Yi Hua belum sempat untuk menjauh, tetapi tangan Hua Yifeng lebih cepat. Pria itu mengangkat Yi Hua dari air. Tetesan air tampak mengenai pakaian hitam Hua Yifeng. Akan tetapi, tak begitu mencetak bentuk karena warna pakaiannya memang gelap.


"Hey ..." Yi Hua yang takut jatuh langsung memegang kedua lengan Hua Yifeng.


Bagaimana pun ia takut jika Hua Yifeng datang usilnya lagi dan melemparnya ke dalam air.


Yi Hua menunduk untuk menatap mata Hua Yifeng yang merah.


Seperti bunga mawar merah.


Itu adalah apa yang bisa Yi Hua tangkap dari warna mata Hua Yifeng. Jika dalam gelap, maka mata Hua Yifeng akan bersinar. Seolah ada lentera merah di sana. Namun jika pada waktu terang-menderang, maka kau seperti melihat mawar yang mekar di mata Hua Yifeng.


Akan tetapi, Yi Hua lebih cepat sadar ketimbang terpaku. Sehingga ia dengan cepat memberontak ingin turun. Dan, Hua Yifeng hanya bisa meletakkan Yi Hua ke tempat berpijak. Ia takut Yi Hua akan terjatuh karena terlalu banyak memberontak.


Bukankah peramal ini lama-kelamaan semakin kelihatan rusuhnya?


Semua orang rata-rata berpikir yang sama. Pertama kali melihat Yi Hua, kesan pertama adalah sombong dan penuh omong kosong. Lalu, lama-kelamaan ketika kau sering bertemu dengan Yi Hua maka kau akan berpikir bahwa kesombongan itu hanyalah tameng. Nyatanya Yi Hua lebih tak jelas sikapnya hingga orang lain akan heran. Mengapa orang ini melamun dan bicara sendiri seolah dia berada pada dunianya sendiri?


Entahlah.


SRET


Yi Hua yang melihat tangan Hua Yifeng menuju ke arahnya langsung memejamkan mata. Ini hanyalah refleks karena ia takut jika Hua Yifeng akan mencekiknya atau menjahilinya lagi. Akan tetapi, tangan Hua Yifeng malah mengusap wajah Yi Hua yang basah.


Hal itu membuat Yi Hua tak berani membuka matanya sendiri. Beruntung setiap kali ada Hua Yifeng Xiao tak akan muncul. Jika saja Xiao ada, mungkin sistem busuk itu akan mengejek Yi Hua yang lemah hatinya. Ia harusnya tak terbuai oleh Hua Yifeng.


Bagaimana pun Hua Yifeng memiliki masa lalu yang cukup misterius. Siapa yang tahu jika semua yang ditunjukkannya ini hanyalah tipuan. Lagipula, sebagai Li Wei, ia sama sekali tak tahu 'dimana' letak Hua Yifeng di masa lalunya.

__ADS_1


Jika saja Hua Yifeng ini benar-benar ada dan bersamaku saat kekacauan itu, apakah aku tak akan menyerah?


Entahlah.


Namun jika seandainya ada satu orang yang selalu bersamanya, mungkin Li Wei tak akan berakhir dengan begitu menyakitkannya. Setidaknya saat itu Li Wei akan tahu bahwa ada satu orang yang menginginkannya untuk terus hidup. Meski begitu ...


Semuanya hanya masa lalu.


Yi Hua segera menjauhkan wajahnya dari tangan Hua Yifeng. Ia membuka matanya, dan tak berniat untuk menatap pada pria itu. Sehingga Yi Hua tak tahu bagaimana ekspresi Hua Yifeng kala itu.


"Saya harus kembali ke pasukan Jenderal Wei," ucap Yi Hua yang menjauh dari Hua Yifeng.


Entah mengapa suasana di sekitar mereka terasa agak kacau.


Ketika Yi Hua ingin berjalan ke depan, Hua Yifeng segera menangkap tangannya. "Sebenarnya kau tak perlu mencari. Jalan ini juga harus mereka lalui untuk menuju pemakaman keluarga Wei."


Namun Yi Hua tak ingin berada di tempat ini. Lebih tepatnya ia sedang berusaha menghindari Hua Yifeng.


GRAHHHHH


Baru saja Yi Hua ingin menyebut alasan agar dia bisa menghindari Hua Yifeng, suaranya terhenti ketika mendengar suara pelan itu. Suara itu sangat pelan, dan seperti suara sapi menguap. Meski dengan serak keras layaknya sapi yang kebanyakan bernyanyi.


Namun Yi Hua sangat yakin di dalam pemakaman ini jelas-jelas Jenderal Wei tak memelihara sapi. Juga ... Bukankah sejak awal tempat ini sudah aneh? Dan, ini juga di dalam hutan. Apalagi ini adalah daerah dekat pemakaman!


Ketika Yi Hua ingin bertanya, tetapi mata Hua Yifeng tertuju pada sesuatu. Hal itu yang membuat Yi Hua juga menatap ke arah yang sama dengan Hua Yifeng. Tanpa sadar Yi Hua memundurkan tubuhnya ketika melihat apa yang dilihat oleh Hua Yifeng.


"Itu hantu air," bisik Hua Yifeng di telinga Yi Hua.


Hantu air?



Kata orang ... Hantu air adalah orang-orang yang meninggal karena tenggelam di dalam air. Biasanya dia akan berwujud seperti rambut yang berenang. Lalu, jika ingin mencelakai maka hantu air akan melilit agar tak bisa menyelamatkan diri dari air. Manusia yang dililit oleh rambut itu jelas tak bisa meloloskan diri, dan akhirnya tenggelam.


Masalahnya adalah ...


Aku tadi berendam di tempat yang sama dengan hantu air itu? -__-.


Atau, karena itu Hua Yifeng menggendongnya untuk naik dari air langsung?


"Yi Hua, tatap matanya terus," bisik Hua Yifeng tepat di telinga Yi Hua.


Dilihat sekali saja sudah mengerikan, apalagi Yi Hua harus menatapnya terus. Ia ingin protes, tetapi ia tak boleh sedikit pun membuat keributan. Atau, dia akan membuat hantu air mengamuk.


"Bukankah Anda Raja Iblis? Mengapa Anda tak bisa mengatasi hantu seperti ini?" bisik Yi Hua yang ingat jika Hua Yifeng ini bahkan bisa memerintah iblis lainnya.


Hua Yifeng menarik Yi Hua untuk lebih dekat darinya. "Dia memang takut padaku, tetapi hantu air bisa membuat ilusi. Jika kau terbawa ilusinya, maka kau akan melihat sesuatu yang kau inginkan ada di depanmu. Apapun itu ... Seolah terjadi dengan sangat instan. Padahal itu hanyalah ilusi, dan kau sebenarnya sedang tenggelam."


Maksud Hua Yifeng adalah pria itu tak akan termakan ilusi. Namun Yi Hua jelas akan termakan ilusi itu. Ia akan dikendalikan oleh hawa tak nyaman dari hantu air ini hingga berpikir tentang keinginan terdalamnya. Lalu, hantu air ini akan menghadirkan ilusi.


"Dan jika kau termakan ilusi, aku hanya bisa membuatmu pingsan agar kau tak mengikuti ilusinya. Bahkan jika hantu air ini aku bunuh, ilusinya akan tetap bertahan pada siapapun yang menjadi targetnya. Kau harus menatap matanya, maka secara naluri kau akan ingat bahwa hantu air ini 'ada," lanjut Hua Yifeng yang menjelaskan dengan rinci.


Maka dari itu Hua Yifeng menyuruhnya untuk terus menatap. Yah, meski Yi Hua akan punya mimpi buruk karena melihat hal mengerikan itu, tetapi lebih baik daripada dia termakan ilusi.


Lalu, hantu air kembali menenggelamkan dirinya ke dalam air. Yi Hua menghela napasnya lega. Ia memajukan tubuhnya sedikit, dan membalikkan tubuhnya untuk menatap Hua Yifeng. Pria itu rupanya sudah menatap Yi Hua terlebih dahulu.


Bahkan ada hantu air juga! Pemakaman keluarga Wei ini benar-benar tertata untuk memenuhi standar kematian yang cepat.


Demi kesopanan Yi Hua hanya bisa membungkukkan tubuhnya. Tentu saja Yi Hua berterima kasih, dan membentuk salam seperti layaknya seorang pria. "Terima kasih atas bantuannya, Pemilik Gunung Hua."


Hua Yifeng mengangkat sebelah alisnya karena merasa unik dengan tingkah Yi Hua. Jujur saja Hua Yifeng merasa sangat terhibur dengan tindakan peramal ini.


"Darimana asalnya hantu air ini?" tanya Yi Hua pada akhirnya. Seperti biasa ia menghindari kontak mata dengan Hua Yifeng.


"Sebelum dibangun menjadi pemakaman keluarga Wei, wilayah ini memang hutan. Mungkin itu adalah seseorang yang tenggelam jauh sekali sebelum makam ini dibangun," jawab Hua Yifeng seadanya.


Jika seperti itu, mungkin orang ini adalah orang yang tenggelam berpuluh-puluh tahun yang lalu. Atau, .... Bisa jadi ...


"Ada sungai yang terhubung di ke dengan air terjun di dalam pemakaman ini," ucap Yi Hua menduga.


Katakanlah memang ada orang yang mati di air, tetapi jelas-jelas keadaan hantu air tadi masih memiliki daging yang melekat. Jika itu adalah manusia di zaman yang lebih kuno dari sekarang, maka daging-daging itu akan mengelupas. Bahkan hanya akan tersisa tulangnya saja.

__ADS_1


"Mungkin saja ada yang mati di sungai, tetapi hanyut ke dalam air terjun di dalam pemakaman ini. Makanya tubuhnya tidak ditemukan," jelas Yi Hua yang dihadiahi Hua Yifeng dengan mengangkat bahu.


Dan, jika memang itu benar, maka ada jalan masuk lain selain melalui gerbang!


Pemakaman ini jelas cukup cerdas dan menipu. Akan tetapi, secerdas apapun sebuah benda, subjek hidup seperti manusia lebih cerdas dan mampu berkembang. Sehingga semua tipuan di dalam pemakaman ini bisa dipecahkan oleh siapa saja yang mampu.


SRET!


Hua Yifeng mengusap dahi Yi Hua yang berkerut karena berpikir. "Inti dari segala ini adalah mayat-mayat berjalan itu bukannya dilepaskan. Akan tetapi, dia bisa mencari jalan keluar sendiri jika dipanggil. Tanpa perlu si pemanggil ini masuk."


Itu benar.


Karena memang tercipta jalan keluar di pemakaman ini, si pemanggil tak perlu bekerja keras untuk merusak dinding makam. Ia hanya perlu memanggil para mayat, dan mayat itu akan berusaha keluar. Sebab, meski sesusah apapun atau sedalam apapun air, mayat yang tak perlu bernapas jelas bisa bertahan untuk terus menyelam. Lalu, keluar melalui lubang yang menuju sungai.


Pertanyaannya adalah ... Bagaimana bisa celah yang menghubungkan sungai dengan air terjun ini diketahui orang lain?


Harusnya jika pun ada yang tahu, maka si pembuat makam yang tahu tentang 'kelemahan' makam ini.


Bukankah pembuat makam ini juga ikut dalam perjalanan?


***


TAK


Yi Hua menajamkan pendengarannya ketika mendengar suara seperti seseorang menginjak ranting. Ia menjadi waspada, terutama saat ia tengah bersama Hua Yifeng sekarang. Bagaimana jika Jenderal Wei dan pasukannya melihat Hua Yifeng ada di sini?


Ketika itu ia memang melihat pasukan yang dipimpin oleh Jenderal Wei. Seperti yang Hua Yifeng katakan, memang Jenderal Wei akan melewati tempat ini juga nantinya. Hal itu membuat Yi Hua panik sendiri.


"Pemilik Gunung Hua, silahkan Anda pergi terlebih dahulu. Ini ..."


"Yi Hua, ..." Suara itu langsung datang untuk menyita perhatian Yi Hua.


Terlambat.


Jenderal Wei dan pasukannya sudah berada di dekat mereka. Pasti terlalu mencurigakan jika Yi Hua mendorong Hua Yifeng untuk berendam ke dalam air. Ketika itu Yi Hua bisa melihat sosok tinggi Jenderal Wei yang berlari ke arahnya.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Jenderal Wei yang ingin memeriksa tubuh Yi Hua.


Namun ...


TUK!


Entah datangnya darimana, tetapi sebuah batu langsung mengenai punggung tangan Jenderal Wei. Hal itu yang membuat Jenderal Wei menatap ke sekelilingnya hingga ia melihat pada sosok yang berdiri di belakang Yi Hua. Tatapan Jenderal Wei menjadi was-was.


Nah kan! Pasti Jenderal Wei mengenali sosok Hua Yifeng yang sangat mencolok ini.


"Siapa kau? Mengapa kau bersama Yi Hua?"


Eh?


Mengapa Jenderal Wei bertanya lagi?


Yi Hua akhirnya mengikuti arah pandang Jenderal Wei. Di sana ia melihat seorang pria yang kali ini tampak seperti remaja. Bahkan tinggi remaja ini tak begitu jauh dari Yi Hua.


Pakaiannya serba hitam, tetapi ada garis merah sedikit di bagian leher jubahnya. Belum lagi rambut panjangnya diikat dengan pita berwarna hitam. Hal itu menunjukkan bahwa remaja pria ini sangat aktif dan ceria.


Warna matanya hitam normal, dan tidak ada tulisan aneh di bawah mata kirinya.


Namun ... Yi Hua tahu itu adalah Hua Yifeng yang terlihat beberapa tahun lebih muda.


Kali ini dia menyamar lagi? Juga ... Apa-apaan dengan wajah polos itu?


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.


Mari bertemu di chapter selanjutnya.


Adios~

__ADS_1


__ADS_2