
Pernahkah kau berada dalam posisi mengantuk, tetapi tak bisa tidur dengan leluasa?
Yi Hua akan menjelaskannya.
Setelah menggunakan pakaian yang tebalnya dua lapis, Yi Hua berbaring di samping An yang sudah terlebih dahulu bersandar di dinding. Pria itu tak terlihat risih sedikit pun, atau memang wajahnya yang memang sangat tenang. Yi Hua jelas tak bisa membaca ekspresi An seperti buku yang terbuka.
Rasanya sungguh seperti menahan kentut di saat Pengadilan Tinggi.
Yi Hua tahu bahwa dia tak punya masalah dengan jantungnya. Ia sangat baik, dan sehat sentosa. Akan tetapi, tidur berdempetan dengan seorang pasti akan menjadi tantangan sendiri untuk jantungnya.
"Terutama dengan orang yang kurang pengalaman di ranjang seperti dirimu, Yi Hua," tanggap Xiao langsung pada intinya.
Sejatinya Xiao adalah sistem yang sangat jujur apa adanya. Jika dia ingin menyebut sesuatu, baik dalam hal baik atau buruk, Xiao akan tetap mengatakannya. Entah ini pengaruh yang baik atau tidak, tetapi Yi Hua sedikit mengerti tentang perbedaan pria dan wanita.
Namun Yi Hua harus bertingkah seperti pria gagah. Oleh karena itu, ia langsung memejamkan matanya, dan berharap dirinya tidak begitu liar ketika tertidur. Bukankah tidak lucu jika dia menendang An dalam tidurnya?
"Apakah Anda sudah mengantuk?" tanya Yi Hua yang merasakan hangat lengan An yang menempel di lengannya.
Seperti yang sudah Yi Hua jelaskan. Ruangan yang digunakannya menjadi tempat tidur ini masih bisa nyaman untuk satu orang, tetapi jika untuk dua orang maka kau akan tidur berdempetan. Apalagi tubuh An yang sangat tinggi, walau An cenderung sangat ramping.
"Tidurlah, Yi Hua. Ini sudah larut malam," tegur pria itu dengan suaranya yang dalam.
An bergerak pelan sebelum benar-benar berbaring di sisi Yi Hua. Pria itu menggunakan lengannya sebagai tambahan bantal, dan memejamkan matanya. Yi Hua bisa melihatnya dari sudut mata, tetapi ia sengaja bertanya hanya agar tidak terlalu canggung.
Bagaimana pun dia harus bertingkah bahwa mereka adalah makhluk yang sama spesiesnya!
"Ingatlah bagaimana perasaanmu pada Hua Yifeng, maka kau bisa menahan semuanya," cetus Xiao yang entah mengapa gemar menjodohkan Yi Hua dengan Hua Yifeng.
XiaoBusuk! Darimana pemikiran aneh itu muncul? Jelas-jelas aku ini ingin mencekik Hua Yifeng setiap kali bertemu!
An terlihat terhibur dengan Yi Hua yang sangat ekspresif. Terkadang Yi Hua akan terlihat sebal, marah, atau pun tertawa sendiri, entah karena apa. Jika ditegur, mungkin Yi Hua akan memasang topeng seolah dirinya adalah seseorang yang dingin. Oleh karena itu, An hanya memperhatikan Yi Hua dalam diam.
"Jangan terlalu banyak membenci seseorang. Kau tahu perasaan manusia itu mudah berubah akibat keadaan," jelas Xiao yang sudah seperti ahli percintaan.
Entah mengapa Xiao seperti memiliki sesuatu dengan Hua Yifeng. Seperti jika ada Hua Yifeng, maka Xiao akan berhenti berfungsi. Lalu, percikan cahaya ketika Hua Yifeng menyentuhnya, Yi Hua masih mengingatnya.
Yi Hua menjadi bingung sendiri. Dirinya masih memiliki banyak kematian untuk dikejar agar bisa mengaktifkan kemampuan 'kembali ke awal'. Lucunya dirinya harus hampir mati dahulu, baru ingatan tentang dirinya akan muncul. Takdir yang benar-benar busuk untuk ditempuh.
Pada akhirnya, dia memutar tubuhnya untuk membelakangi An. Bagaimana pun ia hanya tak bisa tidur dengan mudah. Apalagi dengan An yang ada di sampingnya.
"Krrr ..."
Yah ... Tidak bisa tidur dengan mudah katanya.
Hanya dalam waktu sepersekian detik suara napas teratur dari Yi Hua terdengar. Ia dengan mudah tertidur karena sebenarnya Yi Hua kelelahan. Terlalu banyak yang mereka kerjakan hari ini, sehingga meski dalam keadaan seperti ini pun Yi Hua masih bisa tertidur.
SRET!
Pria di sebelah Yi Hua berbaring miring dengan bertopang kepala pada tangan. An menatap rambut hitam Yi Hua dari belakang. Peramal itu tidak mengikat rambutnya, dan membiarkannya tergerai. Tak ada banyak yang dilakukan oleh An selain hanya memperhatikan Yi Hua.
Setelah itu, pria itu mengulurkan tangannya untuk menekan anting merah di telinga Yi Hua.
SRING!
Muncul percikan seperti cahaya petir dari pertemuan antara tangan An dengan anting Yi Hua. Meski begitu, cahaya itu tak berefek sama sekali pada Yi Hua, sebab dia masih tertidur dengan nyaman. Yang sangat terpengaruh adalah An.
Muncul aliran seperti darah dari tangan An, dan masuk ke dalam nadinya. Lama-kelamaan aliran seperti darah itu menghitam, dan naik melalui nadi An. Keringat menetes dari pelipis An karena sakit yang ia terima.
Namun pria itu selalu tenang, sehingga dia akan tetap tenang meski urat di lehernya mengencang. Itu nyaris bisa putus kapan saja jika terlalu terkena efeknya. Meski begitu, An tetap menyentuh titik merah yang ada di telinga Yi Hua.
SRAT!
Lalu, cahaya itu menghilang begitu saja setelah aliran seperti darah itu menuju dada An. Dan, setelahnya yang terjadi hanya seperti palsu saja. Seolah An tak pernah kesakitan sebelumnya.
Pria itu berusaha tak menyentuh Yi Hua sedikit pun ketika menarik tangannya.
"Hiduplah dengan baik, Yi Hua," bisik An pada seseorang yang jelas tak akan mendengar apa-apa.
Lagipula, sejak awal dia hanya memperhatikan semuanya dari jauh. Baik dahulu maupun sekarang. Dia akan tetap sama.
__ADS_1
Melihat dari kejauhan.
Akan tetapi, apakah dia sekarang masih bisa dikatakan melihat dari kejauhan?
***
Yi Hua merasa seperti baru tertidur beberapa menit, dan matanya terasa sakit. Hal itu karena dia tak cukup tidur sebenarnya. Akan tetapi, dia sudah bisa mendengar keramaian di sekitarnya.
Tempat tinggal Yi Hua berada dekat dengan wilayah pegunungan dan lahan pertanian. Sehingga ketika matahari muncul, di sekitar kediamannya akan sedikit ramai. Itu adalah tempat yang sangat menenangkan.
Lalu, Yi Hua tahu bahwa sudah waktunya ia bangun.
SRET!
Yi Hua masih berusaha mengumpulkan ingatannya. Bahkan ia tak menghiraukan sapaan hangat dari Xiao yang bertingkah seperti mertua. Pasti sistem ini mengomelinya karena dia tak bangun lebih pagi.
Namun ...
Mata Yi Hua mengedar pada posisi tidurnya yang sudah berganti sangat drastis. Dia yang awalnya berbaring dengan baik dan sejajar, kini sudah berubah menjadi posisi melintang. Bahkan bagian kaki Yi Hua sudah berada di tempat, yang seharusnya ada seseorang di sana. Yi Hua tak bisa menahan mulutnya sendiri untuk terbuka.
Apakah aku sudah menendang kepala Tuan An? Pantas saja pria itu sudah bangun!
Lalu, dimana pria itu?
Harapan Yi Hua ialah agar pria itu sudah tak ada di kediamannya. Sebab, Yi Hua jelas tak punya muka lagi untuk bertemu dengan An. Namun di satu sisi, dia tak nyaman juga. Bagaimana pun dia sendiri yang mengajak An untuk menginap.
Dan, dia juga yang menendang kepala An!
"Bukankah sudah aku katakan padamu bahwa kau tak bisa bersantai-santai? Kau harus mengambil banyak misi untuk membuatmu dalam posisi hampir mati demi menyelamatkan sesuatu. Dengan kata lain, kau akan menjadi pahlawan kurang kerjaan di dunia ini!" tegas Xiao yang kelelahan mengomel.
Bahkan saat dia mengomel pun Yi Hua sedang dalam pikiran yang bercabang.
"Semakin sering kau sekarat dan hampir mati, maka semakin cepat kau menyelesaikan misi menjadi Peramal Yi Hua ini," lanjut Xiao lagi.
Hal itu membuat Yi Hua yakin bahwa kehidupan ini hadir sebagai hukumannya akibat dosa di kehidupan sebelumnya. Yah, walau dia tak tahu dosa apa yang ia lakukan di kehidupan sebelumnya. Hanya saja ia tahu bahwa itu adalah sesuatu yang cukup besar.
Dunia-nya sebagai Yi Hua nyatanya seperti penebusan dosa di kehidupan sebelumnya. Sehingga tak aneh jika dia memiliki kehidupan yang sangat sampah. Bahkan dia harus menjadi seseorang yang dipenuhi omong kosong seperti Yi Hua. Lalu, dia harus hidup dan berpelukan dengan kematian. Seolah kematian sudah menjadi bagian yang vital dalam hidupnya.
Dalam ingatannya, dia baru sekali hampir mati. Itu ialah saat dia menyerap energi buruk dari tangan iblis itu. Yah, walau akhirnya Hua Yifeng yang muncul untuk menarik energi buruk itu hanya agar Yi Hua tak meledak.
Ingatlah! Menjadi Yi Hua sangat beresiko karena Yi Hua adalah tungku iblis.
Dia disenangi oleh energi buruk, dan dia sudah seperti benda langka bagi pengguna seni kultivasi iblis. Jika dia tak cepat-cepat menyelesaikan misinya, maka Yi Hua tak akan bisa menahan ledakan kekuatan di dalam dirinya.
Dengan kata lain, dirinya juga tak boleh sampai meledak akibat ledakan kekuatannya sendiri.
Bukankah ini sangat busuk?
Ia harus melakukan banyak perbuatan untuk menyelamatkan dunia dan mempertaruhkan nyawanya. Lalu, dia seperti orang gila yang menyukai penyiksaan sampai hampir mati. Namun jika dia terlalu kesakitan, dia bisa meledak karena tungku iblis di dalamnya.
Ini seperti kau menjadi sebuah gelembung. Dipaksa untuk menginjak beling, dan hati-hati agar dirinya tak meledak. Bukankah itu seperti omong kosong yang memerlukan keajaiban?
Terlalu tipis kemungkinan dirinya untuk menyelesaikan misi. Akan tetapi, dia tak memiliki pilihan lain, karena dia adalah seseorang yang ditahan oleh sebuah sistem. Itu adalah Xiao!
Apakah ada orang yang hidup seperti berdiri di atas duri seperti dirinya sekarang?
"Apakah itu berarti aku harus menyingkirkan semua hal yang mengancam kedamaian hidup orang lain?" tanya Yi Hua yang menggaruk kepalanya sendiri karena gatal.
Sepertinya aku harus berkeramas, atau aku akan memiliki banyak kotoran di kepalaku saat ini!
"Benar. Sebenarnya tak harus menjadi pahlawan. Kunci sebenarnya hanya hampir mati saja. Kau bisa menjadi penjahat agar bisa berhadapan dengan sesuatu yang berbahaya seperti itu. Namun yah ... Sebagai sistem aku ingin membawamu ke jalan yang benar. Bukankah kau lebih baik menggunakan setiap misinya untuk hal yang baik?" Yi Hua nyaris ingin mencekik Xiao ketika mendengar ucapan Xiao itu.
Dan lagi ... Hampir mati saja katanya ....??? Kata saja itu sudah seperti omong kosong paling mengerikan yang pernah ada. Dirinya bahkan tak bisa menikmati hidup sebagai seorang Yi Hua. Padahal dirinya berharap bisa hidup dengan tenang, dan menjadi peramal dengan masa depan paling bersinar yang pernah ada.
"Maaf! Kau yang mengatakannya, tetapi aku yang malu ketika mendengarnya. Kau pasti tahu bukan jika Yi Hua sejatinya tak bisa hidup lama juga," sanggah Xiao yang entah bagaimana bisa mengetahui pemikiran Yi Hua.
Cara satu-satunya jika dia ingin membuat Yi Hua hidup panjang ialah dengan mengendalikan tungku iblis di dalam dirinya. Meski sampai sekarang, dirinya belum bisa menemukan caranya. Bukankah dia terlalu banyak tujuan sekarang?
"Lagipula, jika aku masuk ke dalam diri Yi Hua, bukankah itu berarti Yi Hua asli sudah tiada? Atau dia akan kembali?" tanya Yi Hua karena penasaran.
__ADS_1
Xiao tak mengatakan apa-apa selama beberapa detik. Sebelum suara enggannya terdengar. "Benar. Yi Hua asli sudah tiada. Oleh karena itu, kau bisa masuk ke dalam raganya."
"Bagaimana dia bisa mati?"
Seingatnya saat dirinya terbangun, dia sudah berada di dalam penjara. Apa Yi Hua mati karena kelaparan? Hipotermia? Atau, ada sesuatu yang membuatnya mati?
Entahlah. Sampai sekarang dia juga masih tak tahu. Lagipula, apa sekarang waktu yang tepat untuk memikirkan tentang latar belakang dari raga Yi Hua yang kosong ini?
Lucunya, berkat Yi Hua asli yang mati, dirinya bisa masuk ke dalam raga Yi Hua. Sangat ironis!
"Mungkin dia hanya punya nasib yang sangat buruk dan sangat malang. Ini nyaris seperti kebetulan kau memiliki jiwa yang cocok dengan raganya. Oleh karena itu, kau bisa masuk ke dalam raga Yi Hua. Tentang kematiannya, ku pikir tak perlu diungkit lagi," jelas Xiao yang seperti tak ingin membahasnya begitu banyak.
Bukankah itu sedikit tak adil untuk Yi Hua?
Baru saja Yi Hua ingin bertanya lagi, suara keributan membuatnya terhenti. Ingatannya kembali pada fakta bahwa seharusnya dia memang tak sendirian di kediamannya. Mungkin An masih ada di sana, dan Yi Hua harus memasang wajah tebal untuk menghadapinya.
Bagaimana pun kemungkinan ia menendang An nyaris benar!
TEK! TEK!
Suara seperti memukul itu terdengar lagi. Hal itu membuat Yi Hua meraih kain putih pengikat rambutnya. Mengikat dengan rapi rambutnya yang berantakan, hanya agar dia terlihat sedikit 'normal' jika benar masih ada An di kediamannya. Lalu, ia keluar dari ruang tidur sempitnya.
Wahhh ...
Yi Hua hanya bisa menatap takjub pada bagian depan kediamannya yang kembali memiliki pintu. Ditambah lagi pintu itu dibuat dengan sangat baik, dan bahkan terlihat lebih kuat dari sebelumnya. Dari pintu yang tertutup itu, Yi Hua melihat ada getaran pelan sebelum pintu terbuka dan menampilkan An yang ternyata membuka pintu.
"Aku memperbaiki pintu itu seadanya," ucap An dengan wajah tenangnya.
Meski An mengatakan seadanya, Yi Hua tahu bahwa pemasangan pintu sangat baik. Nyaris seperti An benar-benar adalah seorang yang ahli dalam bangunan. Yi Hua bahkan dengan mendramatis menempelkan pipinya ke pintu. Ia bisa mencium aroma kayu yang menempel di sana.
Pintu tercintaku. Akhirnya kau kembali juga, Nak!
"Sekarang keadaan di dalam tak akan mudah dilihat dari luar." An mengedipkan matanya ketika mengatakan itu.
"Saya benar-benar merepotkan Anda, Tuan An," jelas Yi Hua yang masih memeluk pintu kediamannya yang baru.
Bahkan An terlihat tak terganggu dengan tingkah aneh Yi Hua. Pria itu dengan tenang duduk kembali di belakang meja kecil tempat mereka makan tadi malam. Dan, itu membuat pandangan Yi Hua beralih ke bagian belakang An.
Seingatnya di sana ada papan untuk mengenalkan pekerjaannya ke masyarakat. Itu ditulis dengan sangat BAIK oleh Yi Hua. Akan tetapi, tulisan legendaris Yi Hua tak terlihat lagi di sana, dan berganti dengan papan yang lebih menarik mata.
Jangan katakan bahwa An juga menuliskan papan baru untuk Yi Hua?
Yi Hua nyaris terharu, dan senang dengan niat baiknya untuk membagi tempat tidur tadi malam. Berkat itu, uangnya bisa ditabung kembali, dan kediamannya menjadi lebih baik. Memang perbuatan baik selalu mendatangkan hal yang baik pula.
"Jika aku menjadi Tuan An ini, maka aku akan mengutukmu ketimbang memberikan ini semua. Apalagi kau memberinya makanan beracun kemarin," komentar Xiao yang selalu tepat sasaran.
Makanan beracun katamu? Itu adalah bubur yang baik untuk kesehatan!
"Pasti itu sangat merepotkan Tuan An," ucap Yi Hua sambil memberikan bentuk tangan untuk menampilkan terima kasih.
An hanya mengangguk dengan tenang.
Baru saja Yi Hua ingin mengutarakan niat untuk memasak lagi untuk An, suara ketukan terdengar di luar. Tak lama suara yang mereka kenali terdengar.
"Ini aku. Tolong buka pintu, Yi Hua!"
Sepertinya kediaman Yi Hua selalu memiliki tamu yang datang. Dan, kali ini dia memiliki Perdana Menteri kiri yang berdiri di depan pintu tempat tinggalnya. Jika seperti itu, maka Yi Hua tak memiliki waktu beristirahat.
Pasti Liu Xingsheng akan membawa masalah baru untuk Yi Hua tempuh.
Meski belum tentu, tetapi Yi Hua sudah menduganya tanpa perlu menjadi peramal.
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
__ADS_1
Adios~