
"Satin merah tertutup di wajahnya. Menutupi kecantikannya yang seperti bunga. Mengunjungi langit untuk diberkahi. Bersujud di altar, untuk saling mencintai~."
Yang dilihat oleh Yi Hua adalah keramaian, dan orang-orang yang berkeliaran di hadapannya. Keramaian ini mengingatkannya pada pernikahan palsunya untuk menyelesaikan misi. Sebentar ...
Pernikahan palsu?
Mengapa itu palsu?
Tanpa sadar matanya terus menunjukkan kebingungan. Padahal dia sendiri mengetahui siapa dirinya, tetapi di satu sisi dia tak mengetahuinya. Aneh rasanya.
Ini seperti kau percaya bahwa dirimu adalah bunga, dan di satu sisi kau merasa bahwa kau merasa bahwa kau tidak memiliki kelopak seperti bunga. Perasaan ini terasa bahagia, seperti pengantin yang menunggu pernikahannya. Namun di satu sisi dia tak yakin bahwa ini adalah kebahagiaannya sendiri.
" ... Hua."
"Dua orang yang saling mencinta telah berada pada pangkal kebahagiaan."
Lagu ini?
Perasaan rindu ini terasa membingungkan. Namun dirinya tak tahu mengapa ia bisa merasa rindu. Dia sungguh tak mengenal suara dari pria yang bernyanyi. Yang ia tahu hanyalah suara itu terasa familiar, tetapi tidak juga familiar.
Ini sangat membingungkan!
Juga ...
"Yi Hua, bangunlah atau jiwamu akan dikuasai!"
Suara menyebalkan ini! Mengapa dia selalu terdengar?
Ckk ... Mengganggu saja.
"Jangan terbawa oleh syairnya, HuaHua. Ingatlah bahwa kau adalah Yi Hua, Peramal Sampah di Kerajaan Li."
"Mereka saling berkata: Aku mencintaimu. Lalu, dikala bulan beradu, kita bersama ~"
Aku harus mempercayai suara yang mana?
Pada kenyataannya dia tak mengerti apa-apa. Dia mulai tak yakin dengan apa yang ia tempuh. Bayangan mondar-mandir dari orang yang sibuk perlahan menjauh. Itu menjadi buram, dan tergantikan dengan kekacauan.
Semuanya kacau. Dan, dia menangis?
Hari ini adalah hari pernikahannya, lalu mengapa ini bisa terjadi di hari yang berbahagia ini?
"Tolong ..."
Ia menyentuh lehernya sendiri yang terasa tercekik. Namun tidak ada tangan yang mencekiknya di sana. Hanya ada rasa sakit, tetapi tidak ada perbuatan. Dia merasa seperti ini adalah akhir dari hidupnya.
Air matanya menetes.
Kemudian, rasa sakit seperti tercekik itu tergantikan oleh rasa hangat. Seseorang seperti menyentuh rasa sakit di lehernya. Lalu, sakit itu berubah menjadi semu.
Ia membuka matanya ...
Benar. Ia menyadari bahwa selama ini matanya tertutup. Entah bagaimana dia bisa melihat keramaian, padahal matanya tertutup. Sungguh pemandangan yang tak bisa dijelaskan. Sehingga semua yang terjadi lenyap seperti rumput yang dimakan sapi.
Ketika ia membuka matanya, dia menyadari ada wajah cantik dengan senyum yang sangat berduka. Sayang sekali dengan kenyataan bahwa ada kesakitan di sana. Terlebih lagi, kecantikan ini seperti mengambil rasa sakitnya.
Sebelum mereka berdua berpisah di sana ... Kecantikan itu mengucapkan sesuatu yang membuatnya mulai mengerti tentang apa yang terjadi. Ini hanya sebuah kisah yang sangat sederhana.
Hanya saja ... Tidak ada yang menyadarinya.
"Maafkan dirinya. Tidak ada kejahatan di hatinya. Hanya saja dia ingin diriku kembali."
Namun ...
"Aku tak akan bisa kembali."
Lalu, gadis dengan gaun merah khas pernikahan itu menangis. Menahan rasa sakit yang diambilnya dari Yi Hua. Benar. Sekarang dia ingat bahwa dirinya adalah Yi Hua.
Setelah begitu banyak suara yang berkecamuk, suara putus asa terdengar. Sungguh membingungkan saat Yi Hua masih tak gila karena suara ini. Namun ia masih berdiri kokoh di atas kesadarannya. Dirinya sadar, tetapi di satu sisi dia hanya seperti segelintir bunga dandelion.
Terus terbang ... Hingga mencapai ke tanah berikutnya.
SRET!
"Yi Hua, jika kau tidak bangun, maka kepalamu akan dikorek oleh para hantu rendahan di sini."
__ADS_1
HUH?
GRAK!
BUGH!
Entah karena ketakutannya, atau dia baru sadar apa yang sebelumnya terjadi padanya, tetapi Yi Hua sudah bangkit begitu saja. Namun akhirnya ia malah terbentur pada seseorang yang membungkuk ke arahnya. .
"Aduh ..." keluh Yi Hua yang merasakan sakit di dahinya.
Mata Yi Hua kini terbuka dengan lebih jelas, dan di sana ia langsung bertatapan dengan wajah tenang dari An. Juga, warna merah di dahi An sungguh membuat Yi Hua sadar tempat. Rupanya ia menabrak An ketika ia bangkit dengan cepat sebelumnya.
"Apa yang terjadi?" tanya Yi Hua yang bingung dengan keadaannya sendiri.
Kini mereka berada di hutan yang sedikit aneh. Dimana ini adalah hutan, tetapi di satu sisi dia bisa melihat betapa 'terang' dan 'luas'nya jalan yang terbentuk. Seperti hutan yang memang terpelihara untuk dikunjungi.
"Kau pingsan, dan menangis."
Yi Hua menyentuh matanya sendiri, dan dia menyadari bahwa dia memang menangis. Akan tetapi, dia tak bisa mengerti dengan kesedihan aneh yang ada di dalam dirinya.
"Sepertinya inilah yang terjadi pada setiap kecantikan itu," ucap An sambil membantu Yi Hua membersihkan pakaiannya dari tanah.
Meski begitu, Yi Hua merasa terlindungi saat An tak begitu lancang untuk menyentuh. Gerakan pria itu sangat halus, dan bahkan sangat jarang menyentuh langsung ke kulit Yi Hua. Bagaimana pun Yi Hua baru sadar dari efek afrodisiak yang ada.
Sebenar ...
Wajah Yi Hua memerah tiba-tiba ketika memikirkan kekacauan sebelumnya.
"Efek dari afrodisiak adalah perasaan seperti memerlukan sesuatu, panas, dan terkadang seperti kau melayang, serta memerlukan pelepasan. Itulah alasan mengapa penculik ini memerlukan afrodisiak." Itu adalah yang Yi Hua katakan, tetapi dia tak tahu mengapa dia perlu mengatakannya pada An.
Wajah An terlihat begitu berbahaya. Seperti pria ini terganggu dengan kenyataan bahwa Yi Hua telah teracuni sebelumnya. Namun pria itu tetap membantu Yi Hua untuk bangkit tanpa mengatakan apa-apa.
Mengapa dia terlihat begitu marah? Apa dia merasa aku sangat merepotkan dirinya?
Yi Hua menyadari itu, tetapi dia enggan bertanya. Mungkin dia hanya takut An akan mencekiknya karena menyebalkan. Bagaimana pun dia telah menyebabkan banyak kekacauan untuk An sendiri. Ia yakin pria itu akan bersiap untuk menendangnya apabila dia banyak bertingkah.
"Lalu, para kecantikan itu bukannya hilang. Mereka hanya terbuang di sini," tunjuk Yi Hua pada tulang-tulang yang berserakan.
Sebagian dari mereka terlihat memiliki tulang yang terberai. Lalu, ada juga yang masih utuh, tetapi tengkorak kepalanya sudah pecah. Yah, tentu saja siapa yang masih utuh setelah terjatuh begitu keras dari mulut jurang.
Ia tahu bahwa An melindunginya, tetapi di satu sisi dia menyadari bahwa An tidaklah sederhana. Pria ini bahkan terlihat baik-baik saja saat mereka terguling begitu jauh. Ditambah lagi dengan Yi Hua yang membebaninya.
"Dasar orang gila."
Hanya itu yang ditanggapi oleh An, meski Yi Hua tak tahu siapa yang ia maksud. Namun itu mungkin saja penculik. Sebab, Yi Hua tahu apa yang dilakukannya. Ini adalah sebuah metode terlarang yang melakukan pembunuhan dengan sangat halus.
Yi Hua mendapat penjelasan bahwa sebuah musik atau seni juga bisa menjadi senjata spiritual. Seperti ada nada yang bisa menjadi pengantar, atau lagu yang bisa membuat orang lain bunuh diri. Itu adalah suatu hal yang terlarang, tetapi sebagai orang masih mempelajarinya.
Yah, selalu ada sisi lain dari seni.
"Dia menggunakan rasa 'aneh' dari afrodisiak. Sehingga para kecantikan akan merasa perlu sesuatu. Kemudian, lagunya akan membimbing para gadis ke dalam angan yang tertinggi. Dan, melepaskan jiwanya dari raga tanpa perlu kematian terlebih dahulu," jelas Yi Hua yang menceritakan pengalamannya sendiri.
Sebab, apa yang ia lihat sebelumnya bukanlah ingatan miliknya. Itu adalah ingatan orang lain yang dipaksa tanam di dalam kepalanya. Sayangnya, saat proses pelepasan jiwanya yang terasa menyakitkan, seorang gadis datang untuk menguranginya.
Tulang-belulang yang berserakan ini ditemukan oleh An di tempat yang masing-masing berdekatan. Akan tetapi, tak bercampur dan terlihat berbeda usia dan warna tulangnya. Hal itu menandakan bahwa kematian mereka di waktu yang berbeda. Terutama pada tulang baru, yang masih ada sisa daging yang tersemat di sana.
Itu pasti korban terakhir yang menghilang.
Xiao menanggapi: "Ini sedikit aneh saat orang lain berpikir bahwa membunuh dengan cara seperti ini tidaklah menyakitkan. Membunuh tetaplah membunuh. Meski kau dibunuh saat tertidur, tetapi rasa sakitnya tak akan lenyap."
Yi Hua menatap pilu pada jejeran tengkorak yang ada di sana. Ia bahkan tak memperhatikan An yang memanggil merpati. Inilah mengapa dia selalu diikuti An, sebab pria ini adalah pria paling siaga dari yang pernah ada.
Lagi-lagi Xiao menanggapi dengan agak histeris. "Ini juga agak kejam. Sudah kau dibuat membara oleh pengaruh afrodisiak, lalu dibuang begitu saja. Hey, itu namanya mempermainkan perasaan musim semi orang lain."
Jadi, itu yang lebih kau permasalahkan, XiaoBusuk!
Yi Hua menyesal ketika berpikir bahwa Xiao benar-benar memperhatikan kasus ini. Sepertinya Xiao ini benar-benar makhluk yang antah berantah, baik raga maupun pikirannya. Yi Hua merasa ingin mencekiknya, jika bisa.
KLAP!
KLAP!
Yi Hua memperhatikan burung merpati yang dikirimkan oleh An dengan surat di kakinya. Sekarang mereka harusnya kembali saja, kerena pelakunya juga tak ada di tempat ini lagi. Dia hanya melakukan pembunuhan, dan meninggalkannya saat berpikir bahwa Yi Hua sudah mati.
Orang itu pasti sebelumnya ada di antara kerumunan para pengantar tandu.
__ADS_1
Mereka harus memberikan informasi bahwa mereka telah menemukan tulang-belulang ini. Walau Yi Hua masih tak meyakini siapa pelakunya. Hanya saja kerajaan pasti punya bukti lain ketika melihat ini semua.
"Hanya ada tiga belas."
Yi Hua menoleh pada An yang berdiri tegak di di belakangnya. Namun mata pria ini lebih rinci daripada yang Yi Hua sadari. Dan, pada kenyataannya An benar.
Dalam catatan yang ada, total gadis yang menghilang adalah lima belas orang. Dengan Yi Hua, jika dia dianggap menghilang, maka itu akan menjadi enam belas orang. Yi Hua bahkan menghitung berkali-kali, dan memang hanya ada tiga belas tengkorak di sana. Meski tak begitu utuh, tetapi perbedaan di antara masing-masing tengkorak itu jelas kentara. Sehingga tak mungkin ada yang tercampur di sana. Apalagi, jarak jatuhnya pun cenderung berbeda tempat.
Sepertinya masih ada yang belum rampung di sini.
Atau, sejak awal memang ada dua pelaku dari pembunuhan ini?.
Yah, Yi Hua sejak awal sudah memiliki dugaan tentang pembunuhnya. Namun ia tak menduga bahwa pembunuhan yang 'ini' terjadi di pertengahan. Ini semakin logis saat menghitung dari korban yang ada.
"Ini adalah jumlah yang sebenarnya," bisik Yi Hua entah pada siapa.
Sejak awal kasus yang panjang ini bermula dari hal yang tidak diketahui orang lain. Ada dua pelaku di sini, tetapi pelaku yang satunya jelas tak usah disebut lagi. Sebab, dia sudah menjadi catatan korban di dalam data kerajaan.
Hanya tersisa ...
Namun Yi Hua langsung menutup mulutnya ketika melihat An yang tersenyum. Bagaimana pun pria itu terlihat seperti menunggu Yi Hua untuk menyelesaikan ini semua. Dan, Yi Hua hanya bisa membalas senyum An dengan senyuman yang sangat aneh.
Juga, siapa kecantikan yang mengambil rasa sakitnya sebelumnya?
"Saya melihat seorang gadis dengan gaun pengantin merahnya. Di satu sisi saya berpikir bahwa itu adalah saya. Namun di sisi lain saya pikir itu bukan. Dan, pernikahan itu terasa sangat asing di sana," jelas Yi Hua yang meminta otak cerdas An untuk dibawa berdiskusi.
An mendengus dengan wajah tidak perduli. "Pria itu pasti berpikir bahwa dia bisa membawa kembali jiwa kekasihnya. Omong kosong seperti itu sangat memuakkan."
Entah mengapa Yi Hua merasakan rasa ganjil dari ucapan An. Seolah dia menyimpan sesuatu tentang semua ini. Namun Yi Hua tak berani menyimpulkannya. Sebab, itu adalah urusan An, dan itu adalah bagian dari apa yang An ketahui.
"Namun nyatanya dia bukannya bisa membawa kekasihnya ke dalam raga kecantikan lainnya, dia malah menyakitinya dan memberikan kematian berulang untuk kekasihnya," bisik Yi Hua yang sudah mengerti apa yang terjadi dari semua ini.
Tak semua hal di dunia ini bisa berjalan dengan cara yang sama. Meski begitu, jalan seperti ini sejak awal dibuat dengan cara yang tak baik. Maka, apa yang terjadi di akhirnya juga pasti tak akan baik.
Pada akhirnya, semuanya lebih baik tetap berjalan seperti apa adanya. Yang pergi tetaplah pergi, dan yang tertinggal tetap menjalani hidupnya. Walau berat sekalipun.
"Lagipula, bukannya jikapun dia berhasil, tetapi tubuh pengganti untuk kekasihnya akan hancur juga. Dia membuangnya ke jurang?" tanya Yi Hua yang tak mengerti mengapa orang itu melakukan metode yang seperti ini.
An menunjuk ke arah jaring aneh yang baru Yi Hua sadari eksistensinya. Jaring itu sangat tipis, dan terlihat lembut. Namun jaring itu begitu kuat hingga bisa menahan sapi yang jatuh. Sehingga ketika seseorang jatuh ke sana, dia mungkin tak akan apa-apa.
"Maksud Anda, jika dia yakin pemindahan jiwa kekasihnya gagal, dia akan melepaskan orang yang terjatuh itu. Namun jika berhasil, dia akan bisa bersama dengan kekasihnya lagi. Akan tetapi, dengan raga orang lain?" tanya Yi Hua yang lebih daripada sekadar bertanya. Dia bahkan sudah menyimpulkan semua yang ada.
Dan, An sepertinya tahu banyak, tetapi dia membiarkan Yi Hua untuk memahami semuanya. Atau, pria ini terlalu malas untuk menjabarkan panjang lebar. Entahlah. Terlebih lagi Yi Hua tak mau berprasangka pada An terlalu banyak.
Namun yang menjadi pertanyaan masih sama. Bagaimana dengan An dan Yi Hua sebelumnya? Bukankah mereka seharusnya jatuh dahulu di jaring itu?
Seperti nyamuk yang tersangkut di jaring laba-laba. Orang yang jatuh di sana seharusnya tersangkut, lalu setelah tak ada fungsinya lagi, dia dijatuhkan. Harusnya begitu.
Dan, An dan Yi Hua terlepas begitu saja tanpa terlihat terluka atau ada bekas robekan di jaring itu. Hal itu berarti mereka tidak jatuh di jaring, melainkan langsung ke jurang.
Akan tetapi, manusia mana yang bisa utuh saat terhempas ke jurang?
Nyatanya mereka berdua baik-baik saja.
"Berhentilah berpikir rumit." An merapikan anak rambut Yi Hua yang berantakan.
Lihatlah betapa pria ini begitu tak canggung ketika menyentuh seorang gadis. Wah!
"Maaf! Sekali lagi, dia tak tahu jika kau gadis. Dia mungkin kasihan dengan rambut sarang semut mu itu," tanggap Xiao.
Padahal sebelumnya Yi Hua sudah terlihat seperti bunga yang mekar dengan merahnya. Sayangnya, kini dia malah terlihat seperti habis dimasukkan ke dalam karung. Rambut panjangnya juga sudah seperti dikeramas oleh sapi.
"Jadilah anak baik, dan selesaikan kasus ini."
Semuanya akan dibincangkan pada Pengadilan Tinggi di keesokan harinya.
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
Adios~
__ADS_1
***