Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Putri Li Wei 12: Mencari Cara


__ADS_3

Aku menyebutnya tampan dan berani.


Li Wei tak tahu bagaimana bisa ia menyimpulkannya seperti itu. Pria ini sepertinya selalu menunggu di momen yang tepat untuk menunjukkan diri. Atau, memang pria ini sedang menghindari tempat yang ada Li Wei-nya.


Lebih dari segalanya Li Wei hanya bisa menangisi rambutnya yang baru dipangkas oleh panah Hua. Pria itu mungkin menyadari keresahan dari Li Wei. Sehingga tangan Hua segera mengambil helai rambut Li Wei yang terpotong, dan kebetulan hinggap di bahunya. Setelah itu, Hua memberikannya pada Li Wei kembali.


Jangan katakan jika makhluk yang sering muncul di momen terbaik ini tengah mengembalikan rambutnya?


Hoii ... Bahkan Hua menatap serius pada Li Wei seolah mengamati jikalau mata wajah Li Wei berpindah ke belakang.


Apa pria ini mengkhawatirkannya?


"Rambutmu."


Pria ini sungguhan berniat untuk mengembalikan rambut Li Wei. Dasar! Memangnya bisa dipasang kembali?


Berarti Li Wei sempat terlalu percaya diri jika pria ini mengkhawatirkannya. Beruntung saja jika pria ini tampan, sehingga Li Wei sedikit kasihan jika pria ini dipukul di wajahnya. Mungkin Hua mengira Mayat Berjalan ini adalah hewan buruan hingga memanahnya. Entahlah. Li Wei tak mau memikirkan banyak hal. Ia sungguh merasa kesal dengan banyak hal.


"Kau ..."


Sungguh! Kenapa terus-terusan memanggilku? Kau kira aku ini tak sibuk.


Li Wei menendang Mayat Berjalan yang sudah tak bergerak karena dipanah oleh Hua. Mereka saat ini sedang melawat Mayat Berjalan. Masih sempat-sempatnya pria ini memanggilnya dengan wajah datar.


Ketika Li Wei sudah mendengarkan ucapan Hua dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, suara menyebalkan menyela.


"Maaf mengganggu tebaran cinta di antara kalian. Tolonglah diri saya ini yang sedang bermain-main dengan peliharaan tak berpemilik ini," ucap Zhang Yuwen yang mengusap bahunya yang berdarah. Meski Mayat Berjalan itu hanya mencengkeram bahunya. Tetapi, bubuk mayat sudah menyakiti bahu Zhang Yuwen.


Percayalah, jika Zhang Yuwen tidak terbiasa menahan racun, maka dia akan tergeletak di tanah. Dia sebenarnya cukup sekarat, tetapi tak bisa sekarat juga.


Bahkan itu menghentikan Hua yang sangat hemat bicara ini untuk meneruskan ucapannya. Mendadak Li Wei penasaran apa yang dikatakan oleh Hua. Lagipula, ... Apa-apaan dengan tebaran cinta?


Mata manusia ini pasti kemasukan debu dosa saat ini! Dari segi mana ada cinta di antara kami berdua?


Namun Hua segera berbalik ketika Li Wei kembali menatapnya. Kemudian, pria itu berjongkok di depan Li Wei.


"Apa?" tanya Li Wei yang tak paham pada tingkah Hua.


"Naik, atau ku tarik," ucap Hua tanpa ada sopan-sopannya.


Lebih dari segalanya Hua menyadari jika kaki Li Wei terluka. Padahal Li Wei sudah berusaha untuk menyembunyikan pincangnya. Meski begitu, Li Wei yakin dirinya akan menyulitkan Hua jika harus digendong sepanjang jalan.


Wei Wuxie menatap pada gerakan aneh Mayat Berjalan itu. "Ini buruk! Mereka bergerak lagi," teriak Wei Wuxie memberitahu.


SRAT!


Saat Li Wei sedang lengah, Hua segera menarik tubuhnya untuk digendong dari depan. Dengan satu tangan Hua menahan pinggang Li Wei di depan dadanya. Sedangkan tangan lainnya memegang sebuah pedang.


Pria ini membawa pedang ke dalam lokasi Perburuan Malam. Namun itu bukanlah poin pentingnya karena setidaknya ada setitik cahaya di dalam gelap. Mereka tak sepenuhnya tanpa senjata di sini.


"Hey, aku bisa berjalan sendiri!" Li Wei berusaha memberontak.


"Diam. Berat."


Li Wei pikir dirinya harus membawa karung gandum lagi agar semakin menyusahkan pria ini. Hanya dengan dua kata itu Li Wei mendadak ingin mencari penerjemah bagi ucapan Hua ini. Meski begitu, entah mengapa terasa agak perih saat pria ini sangat 'manis' dalam berkata. Ini pertama kalinya seseorang memanggilnya dengan tak sopan.


Atau, pria ini tak tahu jika dirinya adalah putri dari Raja Li?


Bukan Li Wei gila pangkat, tetapi biasanya tak ada yang menyebutnya dengan sapaan yang tak hormat.


"Ayo!" teriak Zhang Yuwen yang sudah membuka jalan terlebih dahulu.


Li Wei yang digendong oleh Hua jelas bisa mengamati keadaan. "Mereka bangkit lagi, meski tubuh merek sudah ditebas."


Mendadak Li Wei memikirkan keanehan ini. Bagaimana bisa Mayat Berjalan ini menjadi seperti ini? Para Mayat Berjalan bukanlah sesuatu yang sering terjadi. Seperti yang dikatakan oleh Li Wei sebelumnya jika Mayat Berjalan adalah kejadian langka. Dimana ada banyak tanah yang masih murni dan seimbang energinya (maksudnya tidak ada gangguan dari energi buruk).


Tunggu sebentar ...


Li Wei sedikit menegakkan tubuhnya. Berhubung dia berada di atas bahu Hua, ia bisa melihat dengan pandangan yang lebih luas. Itu karena tinggi Hua yang seperti sejak kecil dia sudah memakan batang pohon. Ketika Li Wei bergerak seperti itu, tangan Hua segera memperbaiki posisi pegangannya. Akan sangat buruk jika Li Wei terjatuh dari pegangannya, apalagi saat mereka berlari saat itu.


"Hey, Tuan Hua ... Apakah ada seseorang yang mungkin mengendalikan para Mayat Berjalan ini? Seperti memanggilnya agar menuju ke suatu tempat," cetus Li Wei yang mulai memikirkan kemungkinan ini.

__ADS_1


Bukankah Li Wei mengatakan jika sejak awal ada banyak 'kecelakaan' dalam Perburuan Malam ini?


"Tapi Putri jika dikendalikan, siapa yang bisa mengendalikannya?" tanya Wei Wuxie.


Wei Wuxie yang juga ikut berlari di samping mereka berbicara. Sembari menghindari tangan-tangan yang muncul untuk meraih kakinya. Dalam perjalanan ini mereka juga harus waspada pada Mayat Berjalan yang merangkak cepat seperti semut di belakang mereka. Situasi yang benar-benar mengerikan, sekaligus membuat jengkel. Bagaimana tidak para Mayat Berjalan ini sudah seperti hewan peliharaan yang sangat patuh.


Selalu mengikuti kemana-mana. Tak pernah terpisahkan. Li Wei ingin mengatakan romantis, tetapi menyebalkan juga jika mereka terus diikuti oleh Mayat Berjalan.


Namun apa yang dikatakan oleh Wei Wuxie adalah poin penting. Jika ada yang mengendalikan Mayat Berjalan ini, maka orang tersebut memiliki kekuatan iblis yang kuat. Akan tetapi, belum ada yang bisa mengendalikan kekuatan iblis.


Jika ada, maka orang itu sejak lama mungkin dimakan oleh energi buruk. Kemudian, menjadi iblis, dan jika tak bisa bertahan dari energi buruk, orang tersebut akan mati dengan cara yang mengerikan.


Itu sudah menjadi resiko yang sangat besar bagi pengguna kekuatan iblis.


"Pangeran Penduka," ucap Hua yang sejak tadi diam-diam menghanyutkan.


Li Wei menatap pucuk kepala Hua, karena posisi Li Wei sekarang digendong di bagian dada. Sehingga Li Wei hanya bisa berpegangan pada bahu Hua (paham gak sih posisinya gimana?).


Namun berkat ucapan Hua itu Li Wei mulai menyadari keanehan.


Pangeran Penduka memang salah satu cerita terkenal di Kerajaan Li. Akan tetapi, itu sudah terjadi sekitar seratus tahun yang lalu. Benar atau tidaknya cerita ini.


Tunggu sebentar ...


Orang-orang bercerita jika pedang terkutuk Pangeran Penduka ditanamkan di sebuah tanah kosong. Lalu, setelah itu, dari pedang yang telah menyimpan dendam dan kutukan pemiliknya itu menciptakan batu-batu yang meninggi.


Batu-batu yang meninggi? Itu adalah ucapan yang sengaja diperpanjang. Bukankah lebih mudah jika disebut sebagai dinding batu?


Sebuah kejadian alami dimana batu-batu bisa menempel dan membentuk dinding. Bahkan tanpa diberi perekat. Itu sangat mirip dengan ciri Labirin Batu.


Kerajaan pasti sangat mengharapkan terciptanya generasi hebat, bahan pengawet dan pengharum ruangan! Mereka bahkan menggunakan lokasi yang berbahaya.


Li Wei mencabut helai rambut Hua untuk meminta perhatiannya, dan benar saja pria itu hanya menyebut, "Hmm ..."


"Lalu, jika ini wilayah yang disebut dalam cerita Pangeran Penduka, bagaimana cara mengatasi Mayat Berjalan ini? Mustahil kita menunggu hingga siang datang. Bisa-bisa kita menjadi rekan para Mayat Berjalan jika kita tak keluar!" ucap Li Wei dengan histeris.


"Hmmm ..."


Apakah suaramu emas?*


Zhang Yuwen menatap horor pada Li Wei yang masih digendong oleh Hua, "Maksud Putri yang mengendalikan para Mayat Berjalan ini ialah Si Pangeran Penduka?"


Ini pertanyaan serius. Karena jika benar, maka mereka mungkin sedang melawan hantu.


"Bukan ... Itu pedangnya." Lagi-lagi Hua mengeluarkan suaranya yang sangat mahal harga.


Li Wei selalu menyadari bahwa apa yang disebut oleh Hua adalah poin penting. Masalahnya orang ini selalu berkata seperti takut giginya jatuh. Mana bisa Li Wei mengajaknya berdiskusi.


Zhang Yuwen yang kelelahan karena harus membuka jalan mau tak mau berteriak. "Jadi, kita ini sebenarnya kemana?"


Masalahnya, mereka hanya berputar-putar di wilayah yang sama.


Hua terlihat memperhatikan jalan, dan pria itu menuju ke arah yang agak cekung ke dalam. Jika tak terlalu teliti, maka tak ada yang menyadari jika di sana ada pintu. Jelas pintu ini memiliki struktur yang bisa mempengaruhi penglihatan. Nyatanya di sana ada ruangan tersembunyi, dan Hua meletakan Li Wei kembali ke tanah.


Kemudian, Hua mengambil obor yang ada di penjuru ruangan. Pria itu menyulut ke dalam lubang itu untuk memastikan tidak ada serangga atau ular di dalamnya. Setelah yakin tak ada, tanpa diminta Li Wei segera masuk ke dalam.


"Kita bersembunyi dulu," teriak Li Wei pada kedua rekannya yang masih ditemani oleh Mayat Berjalan.


Buruknya adalah Mayat Berjalan ini akan kembali berjalan, meski sudah ditebas sekalipun. Ini seperti mereka mencoba menghitung bulu sapi. Pasti akan kesulitan, karena serangannya tak berakhir hanya karena kau sudah menebasnya. Ini buruk!


Zhang Yuwen masuk terlebih dahulu. Sedangkan, Hua menunggu di muara pintu. Mungkin dia menunggu Wei Wuxie yang masih merangkai rerumputan kering yang diambilnya dari pinggir jalan. Kemudian, menatanya tak jauh dari sekitar lubang tersembunyi itu.


Dan, ...


SRAK!


Hua melempar obor yang ada di tangannya, dan api di obor memakan habis rerumputan kering itu. Api yang terbakar tersebut membuat Mayat Berjalan tak bisa mendekat. Mereka malah bergerak seperti orang yang linglung. Bedanya semua orang tahu jika Mayat Berjalan ini bisa disebut memiliki akal.


Namun instingnya pasti tetap menuju pada detak jantung dan napas manusia.


Li Wei menjulurkan kepalanya untuk bertanya pada Hua, "Bukankah jika apinya padam mereka akan menyadari keberadaan kita?"

__ADS_1


Namun Hua dengan sangat sopan, mendorong kepala Li Wei untuk masuk kembali ke tempat persembunyian.


Hanya pria ini yang tidak ada hormat-hormatnya padaku!


Padahal Li Wei adalah Putri dari Raja yang memimpin sekarang di Kerajaan Li.


"Hey, ..."


Baru saja Li Wei ingin mengatakan kalimat mutiaranya pada Hua, wajah tenang Wei Wuxie yang muncul. Sepertinya Wei Wuxie dipersilahkan oleh Hua untuk masuk duluan. Dan setelah itu, Wei Wuxie masuk Li Wei dan Zhang Yuwen yang awalnya duduk berjauhan, mau tak mau mendekat. Itu semua karena lubang tersembunyi itu tak cukup besar untuk menampung empat orang dewasa.


SRET!


Zhang Yuwen menarik kerah pakaian Wei Wuxie untuk duduk di sampingnya. Mau tak mau Li Wei bergeser untuk memberi tempat bagi Wei Wuxie. "Putri duduk di tengah saja. Nanti digigit nyamuk jika duduk di ujung."


Alasan macam apa itu?


Lebih tepatnya mereka tahu urutan berikutnya yang akan masuk. Itu adalah Hua, dan disertai oleh api yang hanya menyisakan asap, Hua masuk dengan cepat. Wei Wuxie tidak sempat mengumpulkan begitu banyak rerumputan kering.


Hua masuk dan langsung menempel dekat dengan Li Wei yang berada di tengah. Akan tetapi, Li Wei belum sempat mengatakan apa-apa, suara langkah kaki terdengar.


SRET!


SRET!


Bukan. Itu bukan langkah kaki, tetapi para Mayat Berjalan ini yang melangkah seperti menyeret-nyeret kakinya. Sebab, fungsi tubuh Mayat Berjalan sudah berubah. Tidak seperti manusia pada umumnya. Sehingga tak ada kekuatan otot lagi di sana.


Li Wei menutup mulutnya sendiri untuk menahan napas.


Pasti suasana seperti ini lebih buruk lagi jika salah satu dari kami buang angin!


Entah mengapa Li Wei bisa memikirkan itu semua, padahal situasi sedang genting. Mungkin Li Wei sedang lelah.


SRAT!


Namun Hua malah menarik tangan Li Wei untuk berhenti menutupi mulutnya sendiri lagi. "Bau di sekitar sedang kacau bagi mereka."


Li Wei awalnya tak mengerti, tetapi ketika asap dari rerumputan yang dibakar mulai banyak. Itu menyebabkan aroma seperti daun terbakar muncul. Akan tetapi, dengan aroma yang berbeda dari rumput pada umumnya, dan itu menyebar di sekitar mereka.


Apakah ini yang dimaksud kacau?


Ini seperti mereka tak bisa mengenal lagi aroma 'manusia' dari mereka. Lebih dari segalanya Wei Wuxie juga mengetahuinya. Bahkan Wei Wuxie adalah orang yang mempersiapkannya.


"Tempat ini benar-benar tempat yang menyegel pedang Pangeran Penduka," ucap Zhang Yuwen yang merasa panas, kelelahan, sakit tenggorokan, dan sariawan. Bibir pecah-pecah, dan masih banyak keluhan lainnya.


Mereka berempat harus berdesakan di dalam lubang tersemat ini. Bahkan karena Li Wei dalam jarak yang begitu dekat dengan Hua ia bisa mencium aroma seperti ketika kau tengah merobek pucuk daun. Li Wei lupa nama daunnya, tetapi mungkin salah satu tanaman herbal. Jika Zhang Yuwen dan Wei Wuxie, Li Wei sudah terbiasa ketika berdekatan.


Namun Hua adalah cerita lainnya.


"Lalu, bagaimana kita akan menghentikan penyerangan Mayat Berjalan ini?" tanya Li Wei yang duduk tegak di tengah-tengah.


Merasa menjadi pembatas antara perbedaan yang nyata. Keributan dan kesunyian. Entah Li Wei merasa aneh atau apa, tetapi ia merasa sedang ditatap dari samping. Akan tetapi, ketika ia menoleh, Hua sedang menyenderkan tubuhnya dengan tenang. Seolah dia tak panik dengan keadaan apapun. Bahkan Hua menutup matanya dengan tenang.


Mau tak mau Li Wei memutar sedikut tubuhnya untuk menatap Zhang Yuwen dan Wei Wuxie. Tentu saja Zhang Yuwen sedang menampilkan wajah kesal yang menyebalkan. Pria itu berkipas-kipas dengan tangannya sendiri seperti Ibu Penebar Cerita Masyarakat di Pusat Kota. Sedangkan Wei Wuxie tengah mendorong bahu Zhang Yuwen agar tak terlalu dekat dengannya. Padahal meski didorong pun jarak mereka tak menjauh. Mereka punya lubang tersembunyi ini sebagai cetakan.


Melihat berdua Li Wei menghela napasnya. Beruntung bahwa dirinya pendiam dan tak banyak anehnya seperti kedua temannya ini.


"Hey, kalian dengar pertanyaanku? Bagaimana cara kita menghentikan Penyerangan Mayat Berjalan ini? Tak ada jaminan bahwa tak ada angin yang akan meniup aroma rumput yang dibakar," ucap Li Wei sambil menyenderkan kepalanya ke dinding batu.


"Jika memang ada pedang Pangeran Penduka, mungkin saja pedang itu yang menggerakkan Mayat Berjalan ini. Pedang itu sudah ada begitu lama dan menyerap banyak dendam. Bukan hanya dari pemiliknya, tetapi juga dari mayat-mayat yang mungkin sudah mati di sini. Entah darimana mayat ini berasal hingga sebanyak ini," jelas Wei Wuxie. Akhir-akhir ini semenjak berkumpul dengan Zhang Yuwen dan Li Wei Wei Wuxie jadi lebih banyak bicara.


Entah itu pengaruh baik atau buruk.


"Menghancurkan atau menunggu," ucap Hua sambil memejamkan matanya.


Menunggu berarti mereka hanya bisa terus bersembunyi dari kejaran Mayat Berjalan. Namun menghancurkan itu tak seperti mencekik Zhang Yuwen. Itu sulit karena mereka harus menghancurkan senjata terkutuk. Belum lagi harus melewati para Mayat Berjalan ini.


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.

__ADS_1


Mari bertemu di chapter selanjutnya.


Adios~


__ADS_2