Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Sebuah Bunga 12: Bunga yang Terlahir Kembali


__ADS_3

SRET!


"Perdana Menteri Huan Ran!" teriak Selir Qian ketika melihat pria itu menarik pedangnya.


Ada apa dengan wajah kacau itu?


Selir Qian dan Raja Li Shen baru datang di tengah semua kerisauan. Perkara bagaimana menjelaskan keadaan ini, Yi Hua juga tak mengerti. Ia hanya tahu Liu Xingsheng menghilang.


Iya.


Menghilang. Seperti mantan kekasih yang lupa membayar tagihan yang dikeluarkan selama menjadi pacar.


Sudahlah.


"Dimana Liu Xingsheng?" tanya Selir Qian dengan wajah tenangnya. Walau tak ada yang tahu betapa tegangnya situasi ini.


Bolehkah ia mendikte kerusuhan yang ada di tempat ini sekarang?


Pertama, baru saja mereka melihat bagaimana kutukan Tengkorak Putih berlaku. Seseorang, yang walau kualitas hidupnya tak penting bagi Yi Hua, dia mati dengan cara yang paling tak berkemanusiaan. Yi Hua menatap tulang yang mengering di depannya. Rahang tengkorak sosok itu tampak menganga, sehingga kita tahu betapa menderita Tuan Qiu di akhir kematian. Ia meraung keras tetapi dewa kematian tak berbaik hati padanya.


Tulang belulang Tuan Qiu tampak seperti orang yang mati beberapa abad yang lalu. Seperti tulang yang baru digali setelah terpendam dimakan tahun di dalam tanah. Sulit dipercaya jika pria bajing*n itu baru mati beberapa menit yang lalu.


Kedua, Yi Hua merasa sedikit khawatir tentang identitasnya.


Cermin bayangan yang katanya berharga beberapa peti emas itu ternyata hanya pecahan sarung pedang. Lebih lagi pecahan sarung pedang itu berasal dari pedang Li Wei. Dan, pedang Li Wei adalah material utama dari Lingkaran Mawar.


Ini seperti ...


Yi Hua baru menyadari jika dirinya terdahulu memang memiliki kaitan dengan Hua Yifeng.


Semua orang tahu jika pedang Li Wei adalah milik Hua Yifeng. Dari namanya saja sudah aneh, mengapa Hua Yifeng mengambil namanya sebagai nama pedang. Dan, mengapa sarung pedang ini malah menjadi material utama dari Lingkaran Mawar.


Bukankah itu berarti sejak awal senjata Hua Yifeng adalah milik Li Wei juga?


Yi Hua menoleh pada Hua Yifeng yang ternyata menguap.


Ini lebih aneh lagi! Mengapa iblis bisa menguap? Memangnya dia bisa tidur?


Yi Hua benar-benar kurang tempat untuk bertanya. Ia tak bisa bertanya pada Xiao karena Hua Yifeng ada di dekatnya. Yi Hua mendadak ingin mendorong Hua Yifeng ke jurang agar iblis ini jauh dari jarak pandangnya, dan ia akan melakukan musyawarah besar bersama Xiao sekarang juga.


Hua Yifeng menyentuh dahi Yi Hua yang berkerut. "Jangan diingat jika itu menyulitkanmu."


Yi Hua mendadak tersentuh. Apa orang ini mengkhawatirkan dirinya?


"Kenapa?" tanya Yi Hua tanpa sadar. Biasanya Yi Hua tak pernah bicara baik-baik pada Hua Yifeng. Kecuali ada maunya saja.


Hua Yifeng menguap lagi seolah pria ini tak tidur semalaman, "Karena aku tahu otakmu itu tak akan berguna untuk berpikir tentang apapun."


Aku tarik kata-kataku! Dia sama sekali tak perduli padaku. Siapa yang menyebarkan rumor jika orang ini kekasih Li Wei? Mungkin saja Li Wei pernah punya hutang pada Hua Yifeng di masa lampau, makanya sampai di kehidupan ini pun dirinya harus berhadapan dengan Hua Yifeng.


Dahulu ... Awal mengenal Hua Yifeng, pria ini paling gatal tangannya untuk menyentuh Yi Hua di sana-sini. Sekarang Hua Yifeng malah sering membuat Yi Hua marah dengan kata-katanya. Apa Hua Yifeng punya banyak kepribadian hingga sifatnya bisa berubah seperti sapi mengedipkan mata?


Sialan!


Atau ini berkaitan dengan dirinya yang sudah mengingat masa lalunya sebagai Li Wei?


Hua Yifeng sengaja membentangkan jarak di antara dirinya agar Yi Hua tak mengingat banyak hal lagi. Mengapa? Apa Hua Yifeng benar-benar ingin dirinya melupakan masa lalunya?


Bahkan bagaimana bisa Li Wei memiliki senjata Lingkaran Mawar, yang nyatanya, bahan utamanya adalah sarung pedang milik Hua Yifeng, ia tak ingat apapun tentang itu.


Ini seperti ... Ia ingat masa lalunya sebagai Li Wei, tetapi ada beberapa hal yang kosong di ingatannya itu? Seperti sebuah puisi yang belum rampung isinya.


Ketika itu Hua Yifeng ingin menyentuh dahi Yi Hua yang berkerut karena berpikir, tetapi suara tajam Selir Qian terdengar.


"Katakan padaku dimana Liu Xingsheng? Apakah kalian tahu hukuman tentang menyembunyikan ini dari kerajaan?" tanya Selir Qian.


Huan Ran tak mengatakan apa-apa, dan Yi Hua jelas tak mau angkat bicara.


Selir Qian masih menatap tajam pada Huan Ran. "Perdana Menteri Huan, apakah hantu telah memakan mulut Anda?*"


^^^*Biar gak puyeng mikir apa maksudnya, jadi maksud kalimat Selir Qian adalah kenapa Huan Ran gak ngomong apa-apa. Kenapa dibuat bahasanya kayak gitu? Ya biar keren lah 😸 Ngerti kan sekarang?^^^


"Bao Jiazhen mengambilnya."


Yi Hua tersentak. Yi Hua tak mau mempercayainya, tetapi Hua Yifeng membenarkan ucapan Huan Ran.


Ini adalah masalah ketiga yang perlu Yi Hua jabarkan di momen ini.


Liu Xingsheng menghilang seperti angin. Entah dia hilang yang benar-benar hilang, atau dia hilang karena tulangnya hancur. Yi Hua tak tahu mana yg lebih baik atau yah buruk. Jika Liu Xingsheng tidak mati saat itu, maka yang menyambutnya pasti sesuatu yang lebih buruk lagi.


Ini seperti Yi Hua berkata jika lebih baik Bao Jiazhen membunuh Liu Xingsheng langsung dibandingkan menyembunyikannya seperti ini.


Bao Jiazhen ... Makhluk itu lebih misterius.


Jika Hua Yifeng sangat sombong dan sering menampakkan dirinya, maka Bao Jiazhen lebih seperti penyakit di dalam darah.


Tak ada yang tahu rupanya. Bagaimana dia bisa ada. Bagaimana perangainya, dan tak ada yang tahu apakah Bao Jiazhen ini berniat apa.


Semuanya sangat kabur seperti Bao Jiazhen nyaris seperti ilusi dan dongeng sepanjang masa.

__ADS_1


Lalu, ...


PLAK!


Yi Hua kembali dikejutkan oleh tamparan keras yang melayang ke wajah Huan Ran. Pelakunya tentu saja Selir Qian, yang entah sejak kapan, ada air mata di wajahnya. Meski Selir Qian menangis, tetapi wajahnya masih angkuh.


PLAK!


Dua kali.


PLAK!


Tiga kali.


Entah mengapa tak ada yang menghentikan perilaku Selir Qian. Bahkan Huan Ran sendiri. Pria itu hanya diam saat tamparan Selir Qian terus datang di wajahnya. Huan Ran masih sama datarnya seperti biasa. Walau sebenarnya Selir Qian sama sekali tidak menahan kekuatannya saat menampar.


Yi Hua melirik pada Li Shen, baiklah ... Raja Li Shen, adiknya di kehidupan lalu. Pria itu tampak menghela napasnya. Kemudian, adiknya di kehidupan lalu itu melihat pada Yi Hua. Mau tak mau Yi Hua menundukkan kepalanya.


Bukan takut, tetapi lebih ke pada posisi ini, Li Shen adalah seorang Raja. Yi Hua adalah seorang peramal.


Mereka bukan lagi adik kakak.


Yi Hua mendadak tersenyum pasi. Lagipula, Li Shen sangat membenciku. Dia pasti akan memburuku dan membunuhku tanpa takut jika dia tahu Li Wei hidup kembali.


"Aku sudah mengatakan padamu jika kau tidak perlu ikut campur atas apapun dari Liu Xingsheng," ucap Selir Qian tajam.


Huan Ran masih diam saja. Kali ini tangan Selir Qian melayang lagi di udara. Nyaris mendarat di pipi Huan Ran yang kokoh. Akan tetapi, ucapan Huan Ran menghentikan Selir Qian.


"Jika ada alasan mengapa Liu Xingsheng tak ingin hidup, maka Selir Qian adalah jawabannya," ucap Huan Ran tenang.


Hey! Ada apa ini?


Ia sangat tahu jika Liu Xingsheng seperti tak ingin bertemu dengan Kakaknya sendiri, Selir Qian.


Raja Li Shen tampak bergeming mendengar ucapan Huan Ran. Ini sangat tak biasa saat Huan Ran ternyata memiliki sikap membangkang. Yah, mungkin karena ketika mereka berada di Kerajaan Bawah, tahta Raja pun tak ada gunanya.


Sebelumnya Li Shen tengah mengamati peti mencolok yang ada di sekitar mereka. Sebab, Li Shen mungkin mengenali benda apa yang ada di sana. Akan tetapi, tahu dengan ketegangan antara Huan Ran dan Selir Qian, Li Shen angkat bicara.


"Lebih baik kita mencari Xingsheng," ucap Li Shen datar.


Huan Ran tak menghiraukan apapun lagi. Pria itu melangkah, masih dengan pedang di genggamannya. Apa ini berarti Huan Ran tak ingin mencari Liu Xingsheng bersama Selir Qian dan yang lainnya?


"Hey, Perdana Menteri tampan kau mau ke mana?" tanya Yue Yan yang entah mengapa agak akrab dengan Huan Ran.


Maklum mereka menjelajah bersama dalam beberapa hari ini. Membentuk tim yang sama sekali tak berguna, tetapi Yue Yan tak canggung pada Huan Ran, dan Huan Ran yang identiknya tak perduli pada Yue Yan.


Yi Hua ingin menyusul Huan Ran, tetapi tangan Hua Yifeng menahannya.


"Itu tak berguna," ucap Hua Yifeng yang melirik Huan Ran sinis.


Yi Hua menyadari jika Hua Yifeng mungkin makhluk paling santai di kejadian ini. Bahkan jika disajikan kasur jerami, maka Hua Yifeng adalah orang yang akan tidur cepat sekarang juga.


"Apa maksud Anda dengan tidak berguna?" tanya Yi Hua yang berusaha menarik lengannya dari genggaman Hua Yifeng.


Sayangnya pegangan Hua Yifeng cukup kokoh, tetapi tak menyakiti.


"Mereka sudah pergi jauh," balas Hua Yifeng.


Yi Hua melirik tak percaya. "Bagaimana bisa ..."


Tapi, apa yang mustahil di dunia ini. Yang mereka hadapi bukan sapi, tetapi iblis legendaris Tengkorak Putih, Bao Jiazhen.


"Mengejar mereka mungkin perlu waktu lima hari. Liu Xingsheng pasti dibawa ke Laut Selatan."


Shi Heng menghela napasnya. "Aku pernah mendengar sedikit rumor tentang Tengkorak Putih."


Semua pandangan beralih pada Shi Heng. Bagaimana pun Kerajaan Bawah punya cerita mereka sendiri. Di sana terkadang tak hanya menjual barang, tetapi informasi juga. Meski masih kalah dengan Gunung Hua yang dimana semua bentuk kejahatan ada di sana. Hanya saja perlu bayaran mahal untuk mendapatkan semua itu.


Yah, kerajaan iblis milik Hua Yifeng seingat Yi Hua, kau bisa menukar takdir kemiskinanmu untuk jadi kaya. Namun bayarannya bisa jadi jiwa manusia, bahkan kemanusiaannya.


^^^*Jadi, kalau mau dapat harta secara gaib. Minta sama Hua Yifeng.^^^


"Laut selatan itu tak diketahui tempatnya dimana. Jika kau sial kau pasti bisa melihatnya. Ada yang bilang bahwa ada kerajaan di bawah laut di bagian selatan. Akan tetapi, lebih jelasnya tak ada yang tahu. Tapi aku punya pedang portal sihir yang bisa membawa kalian ke tempat itu," ucap Shi Heng dengan senyum sumringah.


Baru saja Yi Hua ingin mendekati ayahnya, pria itu kembali berucap lagi.


Shi Heng, "Kalian bisa memilikinya dengan membayar tiga peti emas."


Heh? Aku lupa ayah sialanku ini seorang pedagang.


Shi Heng tersenyum sumringah. "Jika kalian penawar pertama, aku akan memberi kalian cermin bayangan tanpa bayaran apa-apa lagi." Pria itu terus berjualan, dan situasi ramai seperti ini adalah hal yang disukai Shi Heng.


Akan tetapi, Yi Hua menggerakkan giginya sebal. "Shi Heng ... Cermin bayangan itu ..."


Baru saja Yi Hua ingin mengatakan bahwa cermin itu adalah miliknya, tetapi ucapannya terhenti. Pasti tidak lucu jika dia membongkar kedok sendiri.


"Hua-er, aku juga membelinya dari pedagang lain. Setidaknya aku sudah memberi harga murah," ucap Shi Heng sambil menyeka dahinya yang berkeringat.


Entah mengapa tatapan Yi Hua mengingatkan Shi Heng bahwa anaknya ini agak unik sekarang. Bagaimana jika Yi Hua memutuskan untuk mencakarnya?

__ADS_1


"Tidak berguna," bisik Yi Hua pelan karena tak mau durhaka di depan umum.


Namun Shi Heng bertelinga seperti tetangga, sehingga dia bisa mendengar ucapan Yi Hua.


Baru saja Yi Hua ingin membujuk Yi Hua agar tak mengomel padanya, mendadak sosok tinggi dan berpakaian serba putih tertangkap di pandangannya. Pakaian yang berwarna sama dengan pakaian Yi Hua.


Entah mengapa seorang peramal sangat terbiasa dengan pakaian serba putihnya.


"Jadi, Anda bisa mengatasinya ... Guru Ling," panggil Li Shen sambil menoleh ke belakang. Tepatnya pada mantan peramal yang baru datang di belakang mereka.


Bagaimana pun Ling Xiao, orang yang baru datang ini adalah petaka di Kerajaan Li. Karena ramalannya yang salah dan tak becus, Kerajaan Li hancur beberapa tahun yang lalu. Itu adalah yang orang lain percaya tentang Kerajaan Li. Lebih dari segalanya ... Li Shen sepertinya adalah orang yang memanggil Ling Xiao.


Dulu banyak yang menganggap Ling Xiao tidak mengubah apapun walau dewa memberi petunjuk. Hingga Ling Xiao dipukul mundur keluar dari kerajaan dan mengasingkan diri. Kata mereka, Ling Xiao merenungi kesalahannya di masa lampau.


Walau Yi Hua tak tahu apa Ling Xiao benar-benar merenung, atau terus melukis tak jelas.


Akan tetapi, tentu saja ini agak mustahil karena tahu atau tidaknya akan masa depan, semua takdir akan tetap berjalan. Jika ada sesuatu yang harus kau alami, percayalah sesuatu itu berarti sesuai dengan kemampuanmu. Karena takdir itu memilihmu, sehingga tak perlu takut untuk menjalaninya.


"Kesejahteraan menyertai Yang Mulia Raja Li," ucap Ling Xiao memberi penghormatan.


Yang lebih mengejutkan dari segalanya adalah ... Di mana posisi Ling Xiao sekarang?


Musuh kerajaan karena merupakan teman dari Hua Yifeng. Atau ... kaki tangan kerajaan dan bermusuh dengan Hua Yifeng? Percayalah ... Yi Hua tak pernah mengerti pemikiran Ling Xiao sejak ia masih di Pelatihan dulu.


"Segel perpindahan bisa membuat kita berpindah tempat dengan lebih cepat," ucap Ling Xiao sambil mengedipkan matanya pada Hua Yifeng.


Sepertinya Hua Yifeng juga tahu tentang ini. Namun pria itu terbiasa tak akan menjawab tanpa ditanya. Sehingga Yi Hua sebal sendiri saat bicara dengan Hua Yifeng.


"Buat sekarang juga, Guru Ling," perintah Selir Qian tak sabar.


Ling Xiao menghela napasnya. "Hamba tak berani membantahnya, Selir Qian. Namun hamba takut itu tak cukup mudah untuk dilakukan."


"Kenapa Anda tak bisa Guru Ling?" tanya Selir Qian tak mengerti.


Ling Xiao menggelengkan kepalanya. "Tengkorak Putih, Bao Jiazhen, tak akan punya reputasi besar jika kekuatannya adalah omong kosong. Hamba bisa membuat segel perpindahan, tetapi siapa yang tahu dimana kita muncul nantinya."


Yang dimaksud Ling Xiao adalah mereka tak bisa menjamin jika mereka sampai nanti, maka tempat itu adalah tempat yang aman. Kan tidak lucu jika baru sampai mereka langsung mati.


Selir Qian menunjuk pada Huan Ran, "Kita memiliki Perdana Menteri Huan Ran dan Anda Guru Ling. Dengan pedang portal sihir Anda bisa membukanya."


Tapi ... Sejak kapan Huan Ran setuju bergabung dengan Selir Qian dan lainnya.


Namun Shi Heng tertawa puas, "Jadi, kalian akan membeli pedang di pelelangan kami? Kualitasnya terjamin dan ada beberapa keuntungan jika kalian membelinya. Seperti ..."


Belum selesai Shi Heng menjelaskan, Yi Hua sudah menatap tajam pada ayahnya sendiri. Dan Shi Heng hanya bisa mengunci bibirnya sendiri. Tak mau putri kecilnya mengamuk di tempat ini.


"Pedang itu tak berguna," jawab Ling Xiao cepat.


Tentu saja Shi Heng tak terima. "Kau meremehkan pedang yang kami jual!"


Ya ampun.


"Kita perlu pondasi yang kuat untuk membuka portal, dan pedang tak berguna itu hanya akan memberi waktu sedikit untuk kita masuk. Akibatnya kita bisa terlempar ke tempat yang tak sesuai dengan diinginkan," ucap Ling Xiao masuk akal.


Bagaimana pun hal spritual seperti ini kadangkala berbahaya jika tak bisa mengendalikannya.


"Kecuali, jika kita menggunakan pedang Li Wei dan Lingkaran Mawar.


DEG!


Tatapan Li Shen menjadi tajam. "Guru Ling memintaku untuk bekerja sama dengan Iblis Kehancuran dan menggunakan senjata terkutuk Lingkaran Mawar?"


Sampai kapan pun. Putri Li Wei adalah tabu di Kerajaan Li, apalagi terdengar di telinga Li Shen. Dan sekarang bahkan harus melibatkan pedang terkutuk milik Hua Yifeng, Pedang Li Wei. Yi Hua merasa dingin di wajahnya.


Masalahnya adalah Pedang Li Wei dan Lingkaran Mawar itu sepasang. Pedang dan sarungnya.


Jika disatukan maka benda itu akan menuju pemiliknya.


Seperti yang kita ketahui ... Pemilik pedang dan sarung itu adalah dua orang.


Hua Yifeng dan Li Wei.


Apakah kelahiran kembali Li Wei sebagai Yi Hua akan segera terbongkar? Sebuah Bunga yang gugur dahulu dalam dosa yang besar. Kini hidup kembali sebagai seorang peramal yang penuh kebohongan.


Yi Hua mendadak ingin pergi dari tempat ini.


...***...


Selamat membaca 😉


Maaf ini sangat terlambat dari biasanya.


Kenapa jarang up? Jadi ya ... Karena ya ... begitu. Jawabannya seperti yang saya jelaskan sebelumnya. Ya, begitu 😂. Sekali lagi maaf ya. Saya usahakan untuk rajin up, walau sebenarnya aku sedang banyak pikiran.


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.


Mari bertemu di chapter selanjutnya.


Adios~

__ADS_1


__ADS_2