
Yi Hua menyadari tentang Hua Yifeng yang mulai kehilangan kekuatan. Sejak awal Wang Zeming sudah memprediksi tentang ini semua. Ia tahu kekuatan lima Bencana adalah yang terkuat saat ini di dunia. Sehingga dengan menghalau kekuatan mereka, Wang Zeming bisa mengendalikan Pohon Iblis.
Ketika Hua Yifeng terjatuh ke arah cekungan besar, Yi Hua tak bisa mengejarnya karena dikelilingi oleh para serigala. Sama seperti di Labirin Batu saat itu. Serigala ini mungkin juga sesuai dari rencana Wang Zeming.
Membuat Li Wei dan yang lainnya terjebak di dalam Labirin Batu, dan bertemu dengan Pedang Pangeran Penduka.
Seperti mengembalikan kembali senjata itu pada pemiliknya. Sayangnya, Wang Zeming mungkin agak geram karena yang mengambil pedang itu adalah Hua Yifeng. Padahal memang seperti takdirnya, pedang itu akan memilih tuannya sendiri.
Namun kesalahpahaman berlanjut lagi dengan Pedang milik Hua Yifeng itu malah bisa dikendalikan oleh Li Wei juga. Hal tersebut membuat Wang Zeming, yang percaya pada kebohongan Ling Xiao, menjadi semakin yakin jika Li Wei adalah titisan Pangeran Penduka.
Buruk sekali. Mungkin Wang Zeming menjadi pelatih kepribadian Li Wei saat ia kecil pun karena Wang Zeming sedang mencari Tuannya. Semuanya sudah direncanakan sejak awal.
Itulah mengapa segala sesuatu di sekitar Li Wei terasa sial untuknya. Sebab, kata orang kebetulan tidak akan terjadi lebih dari tiga kali. Juga tak ada manusia yang ditakdirkan untuk sial terus-menerus.
"Tetap lindungi Raja kita," perintah Wang Zeming pada serigala-serigala itu.
Ya ampun! Yi Hua ingin meneriaki Wang Zeming bodoh sekarang. Namun karena Yi Hua adalah anak baik dan tidak sombong, ia tak menahan semuanya. Ia ingin memaki betapa Wang Zeming begitu buta pada kenyataan yang ada.
Bukankah sudah pernah Ling Xiao katakan jika dia menipu Wang Zeming?
Sampai di sana pun dia tak paham juga.
"Penasihat Wang! Apa Anda tidak mengerti, saya bukanlah Raja siapapun!" Teriak Yi Hua yang frustasi sendiri.
Rasanya lebih nyaman berbicara pada tembok dibanding bicara pada orang ini. Bagaimana bisa ia menganggap 'pandangan'nya sebagai suatu kepastian yang mutlak? Kau bisa berpendapat dan berkomentar tentang apapun, tetapi kebenarannya itu relatif.
Grrrr ... Para serigala yang mengitari Yi Hua mengeram saat mendengar teriakan Yi Hua. Membuat Yi Hua terperanjat kaget dan semakin berdiri tegak di tengah-tengah. Ini tak lucu jika Yi Hua diserang oleh serigala saat dirinya tak punya senjata apapun di tangannya.
"Anda hanya tidak ingat masa lalu," ujar Wang Zeming yang memberikan penghormatan pada Yi Hua.
"Saya bukannya tidak ingat. Tapi memang tidak ada apa-apa di sana. Saya adalah Li Wei dahulu, tapi saya juga Yi Hua sekarang!" bantah Yi Hua yang sudah ingin menendang kepala seseorang.
Tapi orang ini jauh lebih tua dari Yi Hua. Ia bisa dikutuk Dewa karena menindas kaum tetua!
Ini gila! Mereka sesama manusia dan di negeri yang sama. Bahasa mereka juga sama, tetapi kenapa Wang Zeming tak mengerti bahasanya. Atau memang sebenarnya Wang Zeming telah kehilangan tujuannya, sehingga hanya bisa berpegangan pada hal ini agar ia memiliki tujuan.
Apa kau tahu jika dirimu bisa hidup beberapa hari tanpa makanan, tetapi hidup satu detik saja tanpa tujuan akan membuatmu tersesat?
Tanpa harapan.
Wang Zeming melakukan segalanya karena ia tak tahu lagi apa yang bisa ia lakukan.
Bertahun-tahun ia menyiapkan kelahiran kembali bagi Pangeran Penduka, tetapi saat semuanya di depan mata ternyata itu palsu. Puncak komedi dari segala komedi.
Namun semacam balas dendam bukanlah hal yang baik. Sehingga Li Wei mengerti mengapa Ling Xiao melakukan semua ini. Ditambah lagi pria itu telah melihat semacam gambaran masa depan, dan tanpa disangka jika Li Wei di masa lalu mengubah banyak hal.
Ramalan hanya sekadar prediksi, sedangkan prediksi itu seperti jembatan yang belum terangkai sepenuhnya. Salah melangkah kau akan terjatuh tanpa bisa bangkit lagi. Kau tak bisa menyeberang pada jembatan yang tidak lengkap papannya. kau harus membuat jembatan itu terlebih dahulu, baru berjalan di atasnya.
BRAKK!
Mungkin kemarahan telah muncul di hati Wang Zeming. Pria itu terus berubah dan membesar hingga Yi Hua bisa melihat betapa buruknya energi di sekitar mereka sekarang. Kemudian, di tengah kepanikan itu Yi Hua mendengar suara lainnya, seperti suara binatang buas.
Namun jelas itu bukanlah suara serigala.
"Yi Hua, kau dimana?"
Suara Yue Yan terdengar. Sepertinya Yue Yan sudah selesai memindahkan orang-orang ke tempat aman. Sekarang yang tersisa mungkin hanya Yi Hua, Hua Yifeng, dan Wang Zeming. Ling Xiao tak tahu pergi ke mana.
Dan Yue Yan yang memang selalu tak terduga. Pria itu tak meninggalkan Yi Hua, sebuah kesetiaan yang mungkin tak Yue Yan sadari.
Yi Hua menerbangkan kertas jimatnya yang hanya tersisa sedikit. Tentu saja kertas jimat itu hanya sebagai penanda dimana dirinya berada. Sehingga setelah kertas jimat Yi Hua, terang cahayanya membuat Yi Hua bisa melihat keadaan sekitar.
Yi Hua melihat pada prajurit yang tewas di sekitar mereka bergerak. Bukan. Mereka bukan masih hidup, tetapi terbawa energi buruk. Apalagi Wang Zeming juga terlihat seperti bisa mengendalikan mayat berjalan.
"Yue Yan, jangan kemari!"
Yi Hua hanya berharap yang lainnya bisa menutup energi di makam keluarga Wei. Sangat berbahaya jika mayat berjalan juga muncul dari sana. Mereka mungkin bisa bangkit dan menyerang siapa saja di dekat mereka.
__ADS_1
Namun ... Seingat Yi Hua, Hua Yifeng telah menebarkan semacam segel darah di wilayah Kerajaan. Seperti menggunakan darahnya untuk menakuti para hantu rendahan serta makhluk berjalan lainnya. Hua Yifeng adalah yang terkuat, dan darahnya juga bisa membunuh hantu rendahan.
Tapi percuma Yi Hua melarang Yue Yan ke arahnya, karena sekarang Yue Yan sudah melompat ke arahnya. Pedang Yue Yan menebas para serigala. Akan tetapi, sejak awal serigala ini memang bukan serigala yang biasa.
Ketika Yue Yan sampai di samping Yi Hua, serigala ini bangkit kembali. Yi Hua menerima pedang tipis, yang entah milik siapa.. Setidaknya Yi Hua punya senjata sekarang.
Dengan penutup mata yang terikat di wajah Yue Yan. Yi Hua bisa melihat ada bekas darah di sana. Apa yang terjadi?
"Yue Yan, apa yang terjadi pada matamu?" tanya Yi Hua yang menjadi sedikit familiar.
Dahulu Shen Qibo juga melakukan hal ini, bukan?
"Sepertinya mataku terlalu digunakan akhir-akhir ini," jelas Yue Yan dengan nada datar.
Yi Hua kehilangan kata-kata. Bagaimana pun ia adalah orang yang meminta bantuan pada Yue Yan. Ia seharusnya tahu jika setiap kelebihan pasti ada kelemahan. Yue Yan adalah manusia, sehingga fungsi tubuhnya tak bisa menyesuaikan kekuatan yang ada.
"Ya sudah, terus tutup matamu. Mungkin Penasihat Wang sengaja membuat kabut seperti ini, hingga membuat matamu yang tajam harus melihat banyak kejadian di balik kabut," ujar Yi Hua yang mengusap mata Yue Yan pelan.
Yue Yan menangkap tangan Yi Hua. "Apa yang kau lakukan?"
"Hanya melakukan apa yang harus aku lakukan."
Yi Hua mulai mengerti mengapa pencipta membuat takdir sedemikan rupa. Mungkin kelahiran kembalinya sebagai Yi Hua ialah bagian dari takdir. Ia sangat berterima kasih atas itu semua, meski Yi Hua asli harus menjadi korbannya.
Meski begitu, ia tahu bagaimana Tungku Iblis bisa berguna.
Tungku iblis ada untuk menjadi tempat mengolah energi yang baik. Di mana dengan api Phoenix, pemiliknya tak akan mati selama kepalanya tidak terlepas dari tubuh. Meski begitu, energi Yi Hua bisa dilepaskan untuk memberi energi pada makhluk lainnya.
Seperti yang dilakukan Yi Hua pada Pohon Phoenix.
Yue Yan bisa merasakan aliran energi yang datang ke tubuhnya. Seketika rasa berdarah dan perih di mata Yue Yan berkurang. Sehingga ia mulai mengerti dengan apa yang terjadi.
Ketika Yue Yan ingin mencegah Yi Hua, peramal itu sudah menyerang para serigala. Membuat jalan agar Yi Hua bisa pergi.
Menuju ke arah cekungan besar. Tempat di mana Hua Yifeng terjatuh sebelumnya.
Suatu hal yang pernah Li Wei lakukan di masa lalu. Pengorbanan.
Namun jika di kehidupan ini gadis itu melakukan hal yang sama lagi, itu berarti mereka tak bisa mengubah apapun.
Yue Yan berusaha mengejar Yi Hua. Terutama saat ia menyadari tentang cahaya aneh yang melingkupi Yi Hua. Kekuatan Tungku Iblis mulai bekerja, memberikan energinya untuk membuat kekuatan Hua Yifeng kembali.
Membuat kabut energi dan kekuatan Wang Zeming menjadi terpecah. Dahulu Yi Hua tak bisa mengendalikan kekuatannya. Sehingga jika sudah menyebar, siapa saja bisa mendapatkan energi dari Yi Hua.
Sekarang Yi Hua bisa mengatur, pada siapa ia akan memberi energinya.
BRUK!!
Semuanya terjadi dengan cepat. Yi Hua yang menyebarkan penyembuhan dari energi Tungku Iblis dicengkeram keras oleh tangan besar. Itu adalah tangan besar dari Wang Zeming. Yi Hua ditekan keras ke tanah, dan kepala Yi Hua terasa pusing.
Belum lagi dengan pernapasannya yang terputus-putus karena cekikan dari Wang Zeming.
"Penasihat Wang, aku tidak di jalan yang sama denganmu," ucap Yi Hua hingga kau bisa melihat giginya yang merah karena mulut Yi Hua yang berdarah.
BRAK!
Wang Zeming menghempaskan kepala Yi Hua berkali-kali hingga pandangan Yi Hua menjadi kabur.
"Dasar tidak tahu berterima kasih! Aku membuatmu menjadi Raja, tetapi kau menghancurkannya! Sejak dulu kau menganjurkannya karena berkorban," ucap Wang Zeming dengan marah.
Yi Hua bisa melihat urat-urat Wang Zeming timbul di wajahnya. Pertanda bagaimana kekuatan Wang Zeming mempengaruhi fisiknya terlalu banyak. Bahkan wajah tampan Wang Zeming pun berubah memerah dan berurat tebal.
Akan tetapi, Yi Hua tertawa pelan dengan semua itu. Meski air matanya mengalir karena rasa sakit itu.
"Anda menyalahkan saya? Apa Anda pernah bertanya padaku?"
Wang Zeming menatap Yi Hua tajam. Tangannya masih mencekik Yi Hua hingga Yi Hua memejamkan matanya karena sakit. Aliran darah tampak menggenang di bawah kepala Yi Hua. Kepala Yi Hua sepertinya terluka karena terhempas beberapa kali.
__ADS_1
"Apa Anda pernah bertanya pada saya, apa saya ingin menjadi Raja atau tidak?" tanya Yi Hua pelan, dengan air mata yang menggenang di wajahnya.
Bukan karena apa, tetapi karena keputus-asaan.
Baru kali ini Yi Hua ingin menangis saat mendengar suara Xiao di telinganya. Jelas-jelas Hua Yifeng ada di dalam cekungan itu, tetapi kenapa Xiao muncul sekarang. Apa itu berarti Hua Yifeng ...?
"HuaHua, jangan lakukan hal yang gila lagi!" Tegur Xiao di telinga Yi Hua.
SRET!
BAM!
Suara ledakan terdengar keras, dan itu karena Wang Zeming melemparkan sejumlah kekuatan acak. Menghancurkan sekitar mereka, Istana Kerajaan Li, untuk menunjukkan kemarahannya.
Akibat tubuh Wang Zeming yang terlalu kuat menekan tubuh Yi Hua, hingga tanah di sekitar Yi Hua mulai retak. Mungkin Yi Hua akan terkubur jika Wang Zeming tidak melepaskannya.
Meski begitu, Yi Hua tak bisa membiarkan Wang Zeming menghancurkan Kerajaan Li.
SRAT!
Tubuh Yi Hua mendadak dilingkupi oleh aura merah terang. Api Phoenix berkerja di sekitar Yi Hua, hingga Wang Zeming pun terkena panas dari apinya. Wang Zeming melepaskan Yi Hua karena itu.
"HuaHua, jangan lepaskan begitu banyak kekuatan. Apa kau mau meledak?" Bentak Xiao yang entah mengapa berubah nada suaranya.
Meski begitu, akibat luapan kekuatan Yi Hua, Wang Zeming terus melemah. Ia mulai memberontak karena rasa sakit. Kabut di sekitar mereka juga seperti mulai tersapu oleh angin.
DRASSSHHHH!
Mendadak hujan turun tipis membasahi bumi dan menepis kabut. Lalu, tak lama di sana ... Muncul matahari yang sudah beberapa hari ini tak bersinar. Matahari ini bersinar meski turun hujan.
Apakah ini yang disebut hujan panas? Orang-orang tua dahulu sering mengatakan jika hujan panas seperti ini adalah hujan penyakit. Bahkan banyak yang berkata jika dikala hujan panas, makhluk-makhluk halus akan keluar.
Tak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Membuat orang-orang keluar dari kediaman mereka seolah mereka baru pernah melihat cahaya lagi.
Begitu juga Yi Hua yang membuka matanya kembali. Dengan matanya yang masih basah. Ia merasa hidung dan mulutnya dengan bergetar.
BLAR!
Yi Hua berusaha bangkit dan memuntahkan darah. Rasa panas melanda tubuh Yi Hua karena rasa sakit. Meski begitu, semuanya tampak setimpal karena keadaan telah berbalik.
Sekarang Wang Zeming mulai kekurangan kekuatan.
Telinga Yi Hua mendengar denging nyaring yang membuat Yi Hua kesakitan. Telinganya terasa seperti ditusuk keras, dan sungguhan darah mengalir dari lubang telinganya. Ia mengalami pendarahan sekarang.
Sekarang Yi Hua tak bisa menghentikan kekuatan Tungku Iblis.
"Yi Hua!"
Samar-samar Yi Hua mendengar seruan Yue Yan, walau ia tak bisa melihat di mana Yue Yan berada.
Rasanya hanya sakit di seluruh tubuh.
Apa ia akan meledak sekarang?
***
Maaf ya baru muncul lagi.
Jadi, yah emang aku lagi sakit beberapa hari ini. Terus ya ditambah lagi kerjaan di rumah sama di kantor. Tapi aku masih harus selesaikan cerita ini dulu. Biar lega gitu.
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
Adios~
__ADS_1