
Yi Hua menggaruk kepalanya. "Dari pada kau bertingkah seperti orang pintar, lebih baik kau jelaskan. Sebelum aku menendangmu keluar dari kereta."
Ular-ular milik Yue Yan mendesis pada Yi Hua. Mungkin ular ini sudah mendeteksi Yi Hua sebagai musuh umatnya. Akan tetapi, Yi Hua segera memberi tatapan tajam, dan ular itu langsung diam seperti menelan batu.
"Intinya kau di sana bertarung sampai sekarat dan orang-orang akan membayar untuk bertaruh padamu," jelas Yue Yan malas-malasan.
Padahal dia sudah berniat membantu, tetapi Yi Hua masih tak ada ramah-ramahnya.
"Apakah itu ada di Kerajaan Bawah, Kerajaan Phoenix itu?" tanya Yi Hua lagi.
Yue Yan mengangguk.
"Akan tetapi, di sana memiliki aturannya sendiri. Hanya ada pertarungan fisik, dan bebas memukul di anggota tubuh apa saja. Jadi, bertarung dengan kekuatan sihir dan sebagainya tidak diperbolehkan," jelas Yue Yan mengingat-ingat.
Ada untungnya Yi Hua menyeret makhluk ini untuk dibawa pergi. Sekarang Yue Yan bisa menjadi wadah informasi mereka.
Yah, untuk bertarung secara fisik mereka memiliki Huan Ran yang tangguh. Bukan masalah besar.
Xiao menambahkan. "Biasanya pertarungan ini diadakan satu hari sebelum pelelangan. Semacam acara pembuka untuk bertarung seperti itu. Dalam catatan kegiatan, tak sedikit orang yang kehilangan nyawa."
Lihatlah. Betapa berbahayanya Kerajaan Bawah.
Jelas sekali Kerajaan Bawah seperti wadahnya para bandit. Tidak ada hukum yang mengatur, mereka bisa membuang-buang uang dan nyawa orang lain seperti memotong rumput tak berguna. Seorang Raja pun tak bisa menghapus kegiatan berbahaya ini sampai sekarang. Sungguh reputasi yang tidak ada baik-baiknya.
Akan tetapi, jika itu bisa mengumpulkan banyak uang, maka mereka tak punya pilihan lain.
"Aku bisa ikut dalam tarung bebas," ucap Huan Ran langsung.
Yi Hua menganggukkan kepalanya. "Tunggu apa lagi? Sekarang kita sudah punya rencana."
"Masalahnya adalah ..."
Apalagi??
Yue Yan menatap Yi Hua dengan perasaan lelah. "Di sana bukan pertarungan tunggal."
"Bisakah kau berbicara langsung pada intinya? Kau tahu istilah singkatnya untuk dirimu saat ini? Bertele-tele!" omel Yi Hua kesal.
"Kau yang dengan suara cempreng-mu langsung memutus ucapanku! Aku belum selesai menjelaskan, dan kau sudah merancang taktik licik di kepalamu," balas Yue Yan yang tak kalah lincah dalam mengomel.
"Sini biar aku bisikkan di telingamu kalimat indah supaya kau tahu betapa merdunya suara ku."
SRET!!
Yue Yan yang ingin membalas Yi Hua langsung diam, begitu juga dengan Yi Hua. Pasalnya Huan Ran mendadak menarik pedangnya dari sarung. Walau pria itu tak mengarahkannya ke mereka berdua, tetapi Yi Hua tahu jika Huan Ran sedang sangat terganggu saat ini. Salah-salah Huan Ran akan menebas mereka satu-persatu karena jengkel.
Akhirnya, Yi Hua menutup mulutnya dengan telapak tangan kanan. Sedangkan tangan yang satunya mempersilahkan Yue Yan untuk berbicara lagi.
Yue Yan berbicara sambil menatap pada punggung Huan Ran. "Jika ingin bertarung, maka harus memiliki kelompok. Jika petarung pertama kalah, maka petarung kedua harus segera masuk ke arena. Jika menang, maka petarung pertama itu akan terus bertarung hingga mengalahkan semua anggota kelompok musuh."
Sistem ini sebenarnya ada baik dan buruknya.
Letakkan petarung terkuat di tempat pertama, maka mereka bisa menguasai pertandingan. Mereka bisa meletakkan Huan Ran di bagian depan, sisanya hanya sebagai anggota kelompok saja. Yi Hua jelas hanya bisa bertarung dengan kertas jimat, itu tak diizinkan. Yue Yan juga tak begitu baik dalam pertarungan fisik.
Namun buruknya adalah jika petarung pertama kalah dan itu yang terkuat, maka itu sudah menjadi ukuran. Mereka pasti tak akan bisa bertahan sampai di pertarungan akhir.
Bukannya Yi Hua meragukan Huan Ran, tetapi dengan kawasan Kerajaan Bawah, kau tak akan pernah tahu siapa saja yang ikut dalam pertandingan ini. Permainan licik pasti tercipta di sana dan tak ada 'hukum' pasti yang bisa memastikan mereka tetap hidup dalam pertandingan. Itu sangat berbahaya.
"Bagaimana dengan batasan jumlah kelompok?" tanya Yi Hua lagi.
Yue Yan mengangkat bahunya. "Itu tak dibatasi. Seandainya kita hanya punya tiga orang di anggota kita dan musuh kita lima orang, itu sudah dihitung sah. Kita tetap harus bertarung dengan kelompok mereka meski kalah jumlah."
Benar-benar tanpa aturan.
"Sekarang kita hanya perlu mencari cara bagaimana menarik orang-orang untuk bertaruh banyak pada kelompok," ucap Yi Hua yang memikirkan tentang menarik uang sebanyak-banyaknya dari tarung bebas ini.
Jika orang-orang hanya berani bertaruh sedikit, maka itu rugi bagi petarung. Sudah babak-belur tetapi uang yang didapat hanya sedikit. Itulah mengapa mereka harus membuat orang-orang tertarik dengan pertarungan mereka.
"Aku punya ide," ucap Yi Hua mendadak.
Yue Yan mendekat untuk mendengar ide dari Yi Hua. Akan tetapi, Yi Hua mendorong dahi Yue Yan untuk menjauh karena ia tak berniat berbisik-bisik. Lebih tepatnya ide ini tidak ada rahasia apapun.
"Berapa lama lagi kita akan sampai ke wilayah Kerajaan Bawah?" tanya Yi Hua pada Yue Yan.
Yue Yan tampak berpikir. "Jika tak ada masalah, mungkin siang hari besok kita sudah sampai di sana."
Baiklah. Anggap saja mereka tak memiliki masalah.
"Kita masih memiliki waktu untuk mengatur jumlah dukungan," ucap Yi Hua.
Xiao menyeletuk. "Jika memilih pemimpin artinya jangan sampai kau yang terpilih. Pasti banyak permainan liciknya."
Berisik Anda! Ini namanya strategi.
Yi Hua menunjuk pada Yue Yan. "Besok. Saat memasuki wilayah Kerajaan Bawah, kita harus menceritakan keluh-kesah tentang kita yang merampok harta Tuan Qiu."
"Untuk apa?" tanya Yue Yan yang tak mengerti.
Untuk apa mereka bercerita pada orang-orang yang mereka tak kenal. Apalagi di Kerajaan Bawah juga. Apa hebatnya merampok harta karena di sana kejahatannya lebih mengerikan lagi?
Baru kali ini mereka ingin bersaing dalam hal dosa.
"Bukan tentang besar kejahatannya, tetapi harga diri mereka sebagai orang 'besar'," lanjut Yi Hua sambil tersenyum manis.
Terutama jika pelaksanaan pelelangan itu untuk menarik orang-orang untuk bertaruh. Mereka pasti akan mengolah 'cerita dendam pribadi' di antara kelompok satu dengan lainnya. Apalagi ada riwayat 'menjanjikan' untuk dijagokan dalam pertarungan.
"Kita akan membuat pelaksana pelelangan menetapkan anggota Tuan Qiu untuk menjadi musuh kita dalam pertarungan," ucap Yi Hua.
"Darimana kau tahu jika Tuan Qiu akan membentuk kelompok dalam pertarungan?" tanya Yue Yan cepat. Ia masih tak menangkap hubungan antara menyebarkan rumor dengan penetapan musuh di arena.
__ADS_1
Yi Hua menghela napasnya. "Itulah mengapa aku mengatakan 'harga diri'. Jika orang-orang ramai membicarakan masalah kita dengan Tuan Qiu, maka Tuan Qiu akan dendam pada kita. Ia akan memutuskan untuk mencekik kita satu-persatu."
Dan, menurut perhitungan bahwa Tuan Qiu pandai berbisnis. Dia akan mencari bisnis yang menguntungkan, yaitu ikut dalam pertarungan. Ia bisa memberi pelajaran pada musuhnya sekaligus mendapat uang. Jika Tuan Qiu memang sejak awal ingin ikut dalam pertarungan, itu lebih baik. Bila tidak, maka ini adalah bumbu-bumbu dendamnya.
Yah, pedagang memang seperti itu. Mengambil resiko untuk untung yang lebih besar. Semakin besar resiko, biasanya penghasilannya lebih besar lagi.
"Kau mungkin sudah ditetapkan sebagai buronan manusia di setiap penjuru, HuaHua. Aku tak akan terkejut jika kau ditikam oleh orang asing saat tengah tidur nanti," ucap Xiao prihatin pada 'Li Wei' yang sudah menghayati peran sebagai Yi Hua yang angkuh ini.
***
Li Shen ingat tentang sesuatu yang ia kira bisa dirinya lupakan. Sayangnya, itu tidak seperti kau melupakan di mana kau berhutang, tetapi lebih pada kau ingin melupakan dan gagal untuk melakukan itu. Yah ... Mungkin karena kenangan itu tak sepenuhnya buruk, dan juga tak sepenuhnya baik.
"Hey, apakah kita akan bertemu lagi?" tanya pria itu pada gadis yang berdiri di belakangnya.
Ia adalah seorang yang memiliki tanggung jawab besar di punggungnya. Setelah era kebangkitan ini, ia akan kembali ke Pusat Kota. Bukan lagi sebagai seorang Pangeran, tetapi seorang Raja.
Raja Li Shen.
Lucu sekali.
Ia naik tahta di beberapa hari setelah kematian kakak-kakaknya. Mendadak Li Shen mengingat semua kenangan buruk lagi. Hingga ia ingin muntah, dan itu benar terjadi.
"HOEK!!!" Li Shen muntah di pinggir sungai.
Ah ...
Ia ingat sekarang.
Saat itu dirinya tengah pergi bersama Wang Zeming, yang entah bagaimana masih hidup, dan mereka mendatangi kota yang tertimpa bencana. Wang Zeming mengatakan jika mereka menemukan seseorang yang bisa membuat suatu obat. Entah bagaimana, tetapi penyakit aneh itu segera sirna.
Itulah mengapa Li Shen datang ke kota ini.
Wang Zeming yang melihat Li Shen muntah segera menghampiri. Namun Li Shen segera berteriak. "Pergilah, Paman! Aku ingin sendirian di sini. Paman saja yang bertemu dengannya."
Yang dimaksud oleh Li Shen ialah sosok yang katanya bisa mengobati itu. Mendadak Li Shen tak ingin bertemu lagi. Ia masih tak terbiasa dengan semua ini.
Siapa sangka kehidupan sederhananya menjadi terlihat penting.
Dahulu ia berpikir jika dirinya tak mungkin menjadi Raja. Ia memiliki kakak-kakak yang sangat menjanjikan. Sehingga Li Shen berharap dirinya hanya bisa membantu ketika salah satu dari kakaknya naik tahta menjadi raja.
Namun ...
"Mereka semua mati. Ha ...Ha ... Konyol sekali," bisik Li Shen sambil menatap bayangannya yang ada di air.
Betapa menyebalkan semua ini. Lebih dari segalanya, Li Wei, Li Shen sungguh benci menyebut namanya. Sosok kakak yang menyayanginya itu perlahan seperti monster mengerikan. Itulah yang Li Shen pahami dan ketahui. Sisanya ... Entahlah.
"Yang Mulia ..."
SRAT!
Li Shen menatap tajam pada Wang Zeming, dan pria tua itu hanya bisa menghela napasnya.
"Jaga diri Yang Mulia. Hamba akan segera kembali," ucap Wang Zeming dengan penghormatannya yang begitu sopan.
CRRRRR ...
Li Shen memejamkan matanya ketika mendengar suara aliran air. Itu sangat menenangkan.
"Apa kau tahu bahwa keadaanmu belum memungkinkan untuk keluar?" Suara itu menyapa pendengaran Li Shen.
Akan tetapi, ia tak menghiraukannya. Bagaimana pun jelas itu bukan untuk Li Shen, sebab tak akan ada yang berani berkata padanya dengan nada seperti itu. Dan tak lama suara itu terdengar lagi.
"Kau mendengarku atau tidak? Kau mau mati cepat?" tanya sosok itu lagi.
Kali ini jaraknya lebih dekat lagi. Suara langkah kakinya berhenti tepat di belakang Li Shen yang masih berada di dalam air dangkal.
"Kau ..."
SRET!
"Lepaskan!" perintah Li Shen ketika sosok itu, seorang gadis tengah menarik lengannya dari belakang.
"Kau ini kenapa?" tanya gadis itu sambil menatap Li Shen tajam.
Tak lama gadis itu menusuk jemari Li Shen tiba-tiba.
"Tekan ibu jarimu sebentar," ucap gadis itu sambil mengusap telapak tangan Li Shen dengan lembut.
Apa gadis ini tidak tahu siapa dirinya?
"Kau seperti memiliki kerutan di dahi. Kau terlalu emosian dan itu bisa menyebabkan tekanan darahmu naik. Urat-urat di wajahmu juga terkena dampaknya, dan kau akan tua sebelum waktunya. Lihatlah bagaimana dahinya selalu berkerut," ucap gadis itu sambil menekan dahi Li Shen pelan.
Gadis itu menampilkan wajah yang datar. Tangannya beralih untuk mengambil sebuah kantong kecil berwarna putih layaknya teratai. Dari sana Li Shen bisa mencium aroma seperti daun dan bunga, walau ia tak tahu benda apa yang ada di sana. Dan, gadis itu mendadak meraih tangan Li Shen dengan sangat santai. Tidak ada rasa canggung sedikit pun.
SRET!
"Jika rasa marah di hatimu datang, aroma ini akan menenangkan," ucapnya sambil menarik tangannya dari telapak tangan Li Shen.
Tanpa sadar Li Shen menahan tangan gadis itu di dalam genggamannya. Mereka sama-sama menggenggam kantong putih itu. Tak aneh nantinya jika telapak tangan mereka akan beraroma yang sama.
"Apakah itu berarti kau tak memiliki kemarahan di hatimu?" tanya Li Shen pada gadis itu.
Akan tetapi, gadis itu dengan mudahnya menggeleng. "Setiap orang punya kegelapan hatinya masing-masing. Lepaskan tanganku sekarang juga."
Tentu saja.
Li Shen melepaskan tangan gadis itu dengan perasaan tak rela. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Li Shen ketika menyadari jika gadis ini bukanlah orang asli Kerajaan Li.
Jika dia orang asli Kerajaan Li, maka dia tak akan dengan konyolnya bercakap akrab dengan Li Shen. Apakah mereka sudah bisa disebut akrab?
__ADS_1
"Aku hanya mencari seseorang."
Gadis itu hanya menjawab dengan singkat. Kemudian, dia membalikkan tubuhnya untuk meninggalkan Li Shen. Hal tersebut yang membuat Li Shen segera beranjak dari air. Akan tetapi, gadis itu mendadak membalikkan tubuhnya dengan cepat.
"Apakah kau tahu di mana Pusat Kota?" tanya gadis itu dengan wajah datarnya.
Li Shen dengan ragu menganggukkan kepalanya.
"Siapa yang ingin kau cari?" tanya Li Shen untuk memahami gadis ini lagi.
Gadis itu menatap tajam ke depan. "Aku akan membunuh siapapun yang tersisa di keluarga Kerajaan."
Huh?!
Ada apa dengan pembicaraan ini? Sebuah perang yang dilantangkan langsung di depan wajahnya?
Gadis itu berjalan tanpa mengucapkan salam penutup apapun.
"Hey, siapa namamu?" tanya Li Shen pada akhirnya.
Sebelum gadis itu benar-benar pergi ia menjawab dengan singkat. "Namaku Liu. Liu Xinqian."
Liu ...
Angin menerbangkan semua darah di wajah Li Shen. Yang tersisa di sana adalah wajah pucat. Terutama ketika mengingat seseorang bernama Liu yang ia kenal. Akan tetapi, apakah memang dunia sesempit ini?
"Hey ..."
Gadis itu, Liu Xinqian berhenti sejenak.
"Jika seperti itu ... Mungkin kita akan bertemu lagi nanti," ucap Li Shen dengan senyumnya tipis.
Sebagai seorang musuh.
***
SRET!
"Yang Mulia ..."
Li Shen terbangun dari tidurnya ketika mendengar suara panggilan hangat itu. Siapa sangka ia akan bermimpi tentang seseorang yang mendatanginya ini. Lebih dari segalanya itu adalah kenangan yang sangat lama, dan tak disangka Li Shen masih mengingatnya.
Mengapa dirinya tak pernah bisa melupakannya?
"Qian," panggilnya pada wanita-nya.
Yah, sekarang Liu Xinqian adalah wanitanya.
Akan tetapi, Selir Qian hanya menundukkan kepalanya dengan wajah yang sama datarnya. Sama seperti pertama kali mereka bertemu.
"Aku mendengar Selir Wen mendatangi kediamanmu lagi," ucap Raja Li Shen sambil meminta Selir Qian untuk duduk lebih dekat.
^^^*Tambahan informasi, siapa tahu lupa, Selir Wen itu ibunya Si Pangeran Li Quon. Anaknya Raja Li Shen. Jadi, Raja Li Shen hanya punya satu anak, dan itu dari Selir Wen.^^^
"Selir Wen hanya menyapa. Hamba tak bisa menerima dia dengan baik karena aku begitu mengkhawatirkan Xingsheng," balas Selir Qian dengan wajah tenang.
Sepertinya Selir Qian benar-benar tak perduli dengan kedatangan Selir Wen. Dia adalah seseorang yang tak pernah menanggapi perselisihan di antara harem. Ia juga tak pernah mengganggu Selir lainnya dan saling bersaing.
"Qian, aku mendengar dari seorang pelayan bahwa Selir Wen menghinamu," ucap Raja Li Shen yang masih mengorek semua informasi.
Bagaimana pun biasanya para Selir akan saling menjatuhkan agar terlihat 'baik' di mata Raja Li. Sehingga ketika terjadi hal seperti ini, mereka akan segera melaporkannya pada Raja Li. Akan tetapi, Selir Qian masih tetap dengan sikapnya yang acuh tak acuh.
Selir Qian menghela napas. "Karena Selir Wen benar."
"QIAN."
Selir Qian mengusap perutnya perlahan. "Sebagai seorang wanita hamba tak sempurna."
Sejatinya, mereka berdua adalah sepasang orang yang memiliki sejarah yang sangat panjang. Hal tersebut membuat Raja Li Shen mendekat ke arah Selir Qian. Tangan pria itu memeluk pinggang Selir Qian yang masih duduk dengan tegak di sampingnya.
"Maafkan aku," bisik Raja Li Shen dengan nada lemah.
Maafkan aku.
Sayangnya Selir Qian menjawab dengan tenang. "Sampai kapan pun hamba tak akan pernah memaafkan Yang Mulia."
Hubungan mereka hanya sebatas pemaksaan sepihak.
***
Selamat membaca 😉
Hayo semakin membingungkan, bukan?
Iya. Aku juga bingung.
Intinya adalah Raja Li Shen dan Liu Xingqian punya cerita tersendiri. Entah ceritanya akan tampil dalam bentuk yang deskriptif, atau hanya dibicarakan singkat. Jadi, yang punya dugaan bahwa Liu Xingsheng adalah anak Selir Qian, maaf Anda salah besar. Selir Qian bahkan belum melewati usia 25 tahun. Bagaimana dia bisa punya anak yang usianya sama dengannya?
Apakah Selir Qian anak dari Liu Shang?
Nah Anda sudah punya gambarannya di sini.
Apakah Selir Qian tidak memiliki perasaan pada Li Shen? Dia Selir-nya loh ...
Jawabannya tergantung dari pemikiran Anda masing-masing.
Jadi, mari kita berpikir sejenak dan maafkan diri ini yang selalu membuat kalian berpikir.
__ADS_1
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
Adios~