
Yi Hua mengangkat sedikit kepalanya untuk mengintip. Akan tetapi, tangannya terus menekan kepala Luo MeiYin untuk bersembunyi. Seolah dia lupa jika Luo MeiYin adalah seonggok manusia. Sehingga Luo MeiYin menginjak kaki Yi Hua sekuat yang ia bisa.
KRET!
Apa kaki gadis ini sebenarnya diwarisi dari kekuatan sapi? Mengapa sakit sekali!
Xiao menghela napas heran. "Harusnya kau ingat bahwa dia menginjak kakimu dengan sepatunya."
Ditambah lagi dengan kaki Yi Hua yang tanpa sepatu tercintanya. Sehingga rasa sakit benar-benar mengenai kakinya. Namun Yi Hua tak bisa berteriak, karena dia masih tetap setia pada perannya. Dia juga tak bisa menjambak rambut Luo MeiYin, meski dia jengkel sekalipun.
Dia adalah seorang 'pria' sekarang.
Akhirnya, kepala Luo MeiYin terbebas dari tekanan tangan Yi Hua. Mereka berdua terlihat seperti kedua orang yang nyaris ingin baku hantam. Bahkan mungkin mereka lupa jika mereka tengah menguntit.
Beruntung An dan Raja Li Shen sudah berlalu. Keduanya sudah memasuki ruang makan yang lebih privasi. Yah, memang rumah makan terkenal seperti ini akan menyediakan tempat-tempat khusus yang bisa dipesan.
Setelah yakin keduanya telah berlalu, mereka berdua kembali ribut.
"Kau ini ..."
SRET!
Dengan jengkel Yi Hua menekan kue daging yang tersisa di piringnya ke mulut Luo MeiYin. Dan, warna merah tercetak jelas di pinggiran roti daging karena pewarna bibir Luo MeiYin. Hal tersebut membuat pelayan di rumah makan ingin mendepak keduanya. Terutama saat Yi Hua nyaris melempar kursi ke Luo MeiYin.
Sungguh gerakan yang sangat lemah lembut.
"Kita sedang menyamar, Nona Luo. Anda ingin kita segera ketahuan?" tanya Yi Hua yang menahan tangan Luo MeiYin yang ingin menjambaknya.
Mereka berdua jelas melakukan kerja sama yang sangat buruk...
"Berani sekali kau, Tuan Yi! Aku di sini membayarmu untuk membantuku!"
Luo MeiYin menarik roti daging dari mulutnya, dan suara cemprengnya langsung membuat Yi Hua sakit telinga. Dan, bukan hanya Yi Hua, tetapi pengunjung lainnya. Sayangnya, gadis ini terlalu terkenal di Pusat Kota, sehingga tak ada yang berani mendepaknya dari rumah makan ini.
Namun Yi Hua yang terkena imbasnya. Tatapan para pengunjung mengarah pada Yi Hua yang terlihat dekil. Dia tak cukup pantas untuk masuk ke rumah makan ini. Sehingga semua efek kekesalan orang lain pergi ke arah Yi Hua.
Dasar!
Jangan lihat aku dari luarnya saja!
Xiao menyeletuk dengan jujur. "Bukannya kau di dalam juga tak ada baik-baiknya?"
Oh iya! Dia lupa bahwa Yi Hua ini adalah makhluk paling tak berguna. S*alan!
Akhirnya, Yi Hua hanya bisa menangisi takdirnya. Diam-diam ia juga menghapal mantra untuk membuat Luo MeiYin diam. Sayangnya, dia belum sempat berguru pada An. Pria itu bisa menggunakan mantra diam pada orang lain.
Yi Hua menatap Luo MeiYin risih. Bahkan gadis itu sempat-sempatnya meminta pelayan yang bersamanya untuk memperbaiki pewarna bibirnya. Yi Hua hanya bisa mengangkat alisnya heran.
"Nona, warna bibir Anda sudah seperti apel masak yang nyaris busuk. Mengapa diwarnai lagi?" tanya Yi Hua yang sama sekali tak pandai menyimpan ucapan.
Luo MeiYin menyambar pipi Yi Hua hanya untuk memberi remasan keras di sana. "Kau hanya perlu melakukan pekerjaanmu, Peramal Yi! Pria sepertimu tidak akan tahu tentang pentingnya riasan pada sebuah kecantikan."
Sayang sekali, aku tahu. Namun aku tak akan memakai riasan tebal seperti dirimu!
"Apa Anda yakin pria itu hanya seorang pedagang?" tanya Yi Hua sambil melirik sekilas pada arah hilangnya Raja Li Shen dan An.
Bagaimana pun ini sedikit aneh jika pria itu memiliki wewenang untuk bertemu dengan Raja Li Shen. Bukankah bisa saja hanya pesuruh Raja yang datang? Atau, bahkan Perdana Menterinya yang sering makan gaji buta itu.
Lagipula, apakah dagangan ini benar-benar 'dagangan'?
Yi Hua tak bisa menampik beribu pertanyaan di otaknya.
"Dia mengatakan padaku bahwa dia adalah pedagang."
__ADS_1
Yi Hua nyaris menggigit meja saking sebalnya. Ini seperti ada pencuri yang bilang bahwa dia adalah pengrajin barang-barang orang lain. Makanya dia mengambilnya. Intinya hanya karena orang itu bilang dia adalah daun, maka kau bisa dengan polosnya menganggap dia daun.
Ingatlah tak semua orang begitu jujur. Apalagi untuk seseorang yang misterius seperti pria ini.
"Bagaimana jika pria ini memiliki 'sesuatu' di balik kehadirannya?" tanya Yi Hua pelan, tetapi Luo MeiYin masih bisa mendengarnya.
"Apa maksudmu memiliki sesuatu? Apa kau tahu bahwa dia adalah pria yang jujur? Dia sangat tampan, dan lebih utama lagi dia punya uang. Beraninya kau ..."
Jadi, intinya yang kau suka itu uang dan ketampanannya, bukan?
Yi Hua bisa menarik kesimpulannya begitu saja. Lalu, mereka berdua terus berdebat, dan tak menyadari bahwa An mendekat ke arah mereka.
"Yi Hua."
Suara yang ia kenal itu membuat Yi Hua menoleh ke arah suara. Di sana tatapannya pertama kali mendarat pada An yang tersenyum tipis padanya. Setelah itu, Yi Hua langsung mengangkat piring kosong di meja untuk menutupi wajahnya.
"Anda tak mengenal saya, Tuan An! Saya hanyalah pawang sapi di jalanan," ucap Yi Hua yang masih menyembunyikan diri dari pandangan An.
Sepertinya An sudah mengantar Raja Li Shen ke dalam ruangan khusus di rumah makan ini. Lalu, dia mungkin sejak awal sudah tahu tentang keberadaan Yi Hua di dalam rumah makan ini. Sehingga saat tugasnya selesai, dia keluar untuk mencekik Yi Hua.
Itu hanya dugaan Yi Hua saja. Sebab, bisa jadi Yi Hua diduga sebagai mata-mata, bukan?
Dia terlihat seperti menguntit Raja Li Shen!
"Aku tahu."
Apanya?
An meletakkan sepiring buah di meja Yi Hua. "Makanlah. Kau suka buah, bukan?"
Luo MeiYin menatap tak mengerti pada kedua orang di hadapannya. Ia tak tahu jika Yi Hua mengenal pengawal pribadi Raja ini. Bahkan seingat Luo MeiYin, Yi Hua juga berbicara sangat akrab dengan Perdana Menteri Liu.
Siapa sebenarnya Yi Hua ini?
"Tuan Yi, kapan kau berkenalan dengan pengawal tampan ini?" tanya Luo MeiYin sambil berbisik pada Yi Hua.
"Dia adalah rekan kerja saya sebelumnya," bisik Yi Hua untuk membalas. Ia tak menyadari perubahan wajah dari An. Walau wajah An kembali tenang seperti biasanya.
Setelah itu, Yi Hua menurunkan piring yang menutupi wajahnya. Ia harus menyapa An dengan sopan. Jika sudah ketahuan begini, mengapa dia harus pura-pura lagi. Itu akan sangat memalukan.
Baru saja ia ingin menjawab ucapan An, suara dingin yang tak ia kenal mendinginkan segalanya. Bahkan Yi Hua bisa melihat Luo MeiYin yang tiba-tiba memucat. Luo MeiYin bahkan kehilangan semua senyum di wajah menyebalkannya. Sehingga warna merah di bibirnya terlihat seperti hanya ditempel sebagai pelindung dari kepucatannya.
"Apa yang kau lakukan di sini, Nona Luo?"
Yi Hua menoleh ke arah suara dingin itu. Ia menyadari bahwa suara itu selaras dengan wajah dingin yang dimilikinya. Hanya saja dia tak begitu menyangka jika 'Saku Pribadi' Luo MeiYin ini akan terlihat sedingin ini. Dia tak terlihat seperti orang bodoh yang mudah di manfaatkan. Apalagi oleh seorang bangsawan menyebalkan seperti Luo MeiYin.
"Saya ..."
Pria itu menatap Luo MeiYin dengan sangat dingin. "Aku sudah mengirimkan perhiasan itu padamu, bukan? Untuk apa kau datang kemari?"
Pria ini ... Mengapa dia berbicara seperti itu?
Luo MeiYin mencengkeram tangannya sendiri. Entah apa yang gadis ini rasakan, tetapi gadis ini tidak menangis. Mungkin dia terlalu angkuh hanya untuk sekadar meneteskan air mata. Kali ini Yi Hua bisa memahaminya.
Selama ini Luo MeiYin menerima semua barang yang diberikan pria ini karena hanya itu yang bisa di dapatkan. Apakah ini bisa dimengerti?
Barang-barang itu adalah hal yang bisa membuat Luo MeiYin berpikir jika mereka berdua memiliki ikatan. Setelah itu, tidak ada. Mereka terlihat seperti kedua orang asing yang akan saling menatap dingin satu sama lainnya. Ini sama seperti kau melihat seseorang yang berpapasan jalan denganmu kemarin. Tidak ada yang mengikat.
Pelayan pribadi Luo MeiYin terlihat prihatin dengan Nona mudanya. Oleh karena itu, gadis pelayan itu membantu Nona mudanya untuk berdiri. Hanya sekadar memberi salam pada pria yang begitu angkuh ini.
Semua ini ...
"Saya akan pulang, Tuan Rong. Terima kasih atas hadiahnya," ucap Luo MeiYin sambil menundukkan kepalanya. Gadis itu sama sekali tak menatap pada Rong Mingyu, orang yang ia cintai.
__ADS_1
Yi Hua mulai merasa gerah seketika. Ia langsung meraih potongan buah dari piring. Tentu saja dari buah-buahan yang dipesankan oleh An sebelumnya.
Dengan segagah yang ia bisa, Yi Hua menggigit potongan buah apel di tangannya. An hanya memperhatikan Yi Hua tanpa mengatakan apa-apa. Sepertinya Yi Hua tahu alasan mengapa An keluar lagi. Pria ini pasti keluar untuk menjemput Rong Mingyu.
Lagipula ...
Aku adalah Yi Hua, bukan? Orang yang dipenuhi oleh omong kosong!
GREP!
Tak hanya mata Rong Mingyu, tetapi An juga menatap pada tangan Yi Hua yang mendarat pada lengan cantik Luo MeiYin. Dan, Yi Hua tak menyadari hal itu. Ia bahkan tetap pada rencananya.
Akan tetapi, itu sedikit membingungkan, karena Yi Hua mengambil gerakan tiba-tiba. Apalagi sebuah kecantikan tak boleh disentuh oleh pria yang bukan pasangannya. Terutama orang asing.
Sayangnya, ... Yi Hua bukanlah seorang pria.
Lihatlah bagaimana seseorang yang hebat seperti aku bekerja!
Yi Hua pernah mendengar. Jika kau ingin tahu seseorang mencintaimu atau tidak, maka buat dia cemburu. Sebab, sepandai-pandainya seseorang menyimpan perasaannya, pasti akan terberai juga jika ada perasaan cemburu.
Ia sudah berjanji untuk membantu Luo MeiYin, bukan?
"Saya akan mengantarnya pulang, Tuan Rong," ucap Yi Hua dengan pandangan menantang.
Luo MeiYin nyaris menendang kaki Yi Hua karena tak mengerti dengan rencananya. Namun Yi Hua sudah paham dengan situasi, sehingga dia menginjak kaki Luo MeiYin lebih awal. Yah, itu tak akan terlalu sakit karena Yi Hua tak mengenakan alas kaki.
"Ini hanya pura-pura," bisik Yi Hua pada Luo MeiYin. Hanya agar gadis itu mengerti rencananya.
Jadi, Yi Hua sejak tadi memang tak mengenakan sepatu! Lalu, dia berdebat seperti perebut kekasih orang di sini. Sekali lihat pun orang lain tahu bahwa dia terlihat tak pantas. Bahkan sebagai pria pun Yi Hua tak begitu cocok.
Tapi, dia pria, di tujuh belas tahun hidupnya. Oleh karena itu, semua orang menyebutnya pria.
Namun ucapan pria dingin itu, Rong Mingyu, membuat Luo MeiYin kembali terpaku. Padahal gadis itu sudah kembali menjengkelkan seperti biasanya saat berdebat sambil berbisik pada Yi Hua. Dan, semuanya dihancurkan oleh suara dingin Rong Mingyu.
"Jaga perilakumu, Nona Luo. Kau adalah calon pendampingku," ucap Rong Mingyu dengan dingin.
Itu bukanlah kecemburuan!
Pria ini hanya memikirkan wajahnya. Dan, lebih dari segalanya. Pria ini berbicara seolah Yi Hua tak ada di depannya.
"Soalnya kau tak terlihat 'cukup' untuk menjadi perebut istri orang. Apalagi untuk Tuan Pedagang kaya ini," jelas Xiao yang membuat Yi Hua menangis di dalam hati.
SRET!
Yi Hua baru saja ingin melempar kepala pria ini dengan bangku, tetapi Luo MeiYin sudah bertingkah. Gadis itu menundukkan kepalanya dengan anggun pada Rong Mingyu. Lalu, dia berlalu untuk keluar dari ruangan itu.
Meninggalkan Yi Hua yang sudah mengangkat bangku di tangannya dengan bingung. Karena itu, Yi Hua menurunkan bangku itu lagi sambil tersenyum tak nyaman.
"Hey, Nona Luo!"
Yi Hua segera berlari untuk mengejarnya, sebelum menunjuk ke arah Rong Mingyu dengan sangat tidak sopan. "Tolong bayar makanan milik istri Anda, Tuan!"
Sebab, Yi Hua tak punya uang untuk membayar jika ditagih. Dan, karena itu dia keluar untuk mengejar Luo MeiYin. Ditambah lagi dia tak cukup tebal muka untuk dilihat oleh An.
Itu semua karena drama yang baru saja terjadi.
Ya ampun! Cerita cinta ini sangat menyebalkan.
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
__ADS_1
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
Adios~