Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Putri Hitam 4: Diskusi


__ADS_3

Setelah sekian lama mereka tak bertemu, Hua masih mengingat Li Wei. Apa ini masih bisa disebut sebagai suatu kemajuan?


Setidaknya ada sedikit tentang Li Wei yang masuk di pikiran Hua ini. Itulah yang Li Wei pikirkan.


Sebab, sebelumnya Hua hanya menganggap Li Wei nyaris seperti tak perduli pada kehadiran gadis itu. Yah, apapun itu ... Jelas tak ada kepentingan apapun untuk Hua mengingat tentang Li Wei.


SRET


"Anda salah kenal. Saya ini hanya sedang tersesat. Dimana saya sekarang?" tanya Li Wei yang pura-pura kebingungan sambil menengok lincah.


Bahkan dengan buruknya Li Wei bertingkah seolah dia orang buta. Akan tetapi, ketika ia mendengar langkah Hua yang mendekat ke arahnya, Li Wei langsung berniat melarikan diri. Ia nyaris berlari hingga Hua berhasil menangkap kerah pakaiannya dari belakang.


"Hey, jaga tanganmu! Bagaimana bisa Anda menarik orang lain seperti kucing?" teriak Li Wei yang tak terima.


Ia memberontak hingga penutup kepala Li Wei terjatuh ke tanah. Hal tersebut yang membuat rambut panjang Li Wei terurai. Mungkin kain pengikat rambut Li Wei juga ikut tertarik bersama penutup kepalanya.


Melihat itu, Hua melepaskannya. Terutama saati Wei menatapnya dengan jengkel, seolah gadis itu bisa menendang Hua kapan saja. Hanya saja Li Wei sedikit mengingat tentang perbedaan kekuatan, dan ia jelas menghindar untuk bertarung dengan Hua.


Lalu, pria itu berbicara dengannya dengan nada yang masih sama datarnya seperti sebelumnya. "Sudah aku katakan ..."


"Saya tak mengikuti Anda, Tuan Hua. Kebetulan saya ada urusan di sini," bantah Li Wei. Menolak untuk dianggap mengikuti pria ini lagi.


Bagaimana pun susah-susah Li Wei bertaruh dengan Hua agar mendapat pelajaran bertarung baru. Akan tetapi, dia malah tak mendapat apa-apa. Ia malah harus membuat gerakan baru yang 'agak' mirip dengan yang Hua lakukan. Walau tak sekuat dan cepat seperti gerakan aslinya.


Lagipula, orang yang lemah lembut, ramah lingkungan, dan rajin menabung seperti aku tidak mungkin mengikuti orang seperti anak ayam!


"Pulanglah. Aku akan mengantarmu pulang," ucap Hua yang seperti selalu terganggu dengan kehadiran Li Wei.


Jelas sekali Li Wei merasa tersinggung. Seolah Hua ini tak ingin berada di tempat yang sama dengan Li Wei. Menyebalkan sekali.


Li Wei menghela napasnya sebal. "Saya bisa pulang sendiri."


"Kau bilang tadi, kau tak tahu dimana kau sekarang berada. Dimana kedua orang yang selalu bersama denganmu?"


Oh iya.


Namun Li Wei menyadari jika Hua sudah dalam sikap yang 'meningkat'. Biasanya Hua tak akan bicara lebih dari lima kata dalam sehari. Akan tetapi, sekarang Hua sudah bisa berbincang seperti orang lain pada biasanya.


Mendadak Li Wei ingin mengusap air matanya. Terharu karena perubahan Hua yang signifikan. Ia merasa seperti melihat seorang anak yang sudah besar dan pandai bersosialisasi.


Akan tetapi, itu tak bertahan lama. Terutama setelah Li Wei ingat jika dia sedang menyamar. Ia tak boleh ketahuan oleh orang lain. Atau, ini akan menjadi berita baru.


Bagaimana jika orang-orang malah membuat cerita baru seperti Li Wei yang menyelinap ke Pelatihan Awan hanya untuk bertemu dengan pria ini?


Itu semua karena manusia terkadang pandai membuat cerita. Bahkan kadang ditambahkan lagi dengan bumbu-bumbu agar menimbulkan tekanan darah tinggi. Entah mengapa Li Wei sekarang berbicara panjang lebar di kepalanya.


Ia menggelengkan kepalanya cepat, "Anggap saja saya melantur. Saya bisa pulang sendiri, dan saya bisa mengurus diri saya sendiri. Saya bukan anak kecil."


KRUKK!


Li Wei secara refleks menyentuh perutnya sendiri. Terutama ketika pandangan Hua juga tertuju pada Li Wei yang memelas seperti anak sapi jatuh ke tumpukan sampah. Seperti yang terlihat sekarang.


Laparnya itu loh tak seberapa. Malunya itu yang agak 'beberapa'.


Bukannya apa ... Li Wei sejak pagi memikirkan cara melarikan diri dari Istana. Lalu, saat sudah bisa melarikan diri, dia harus mencari ayam. Masalahnya ayam itu tak punya identitas yang jelas, dan juga tak bisa ditanya siapa namanya. Makanya, Li Wei tak mudah mencarinya.


Setelah ayam ditemukan, petunjuk baru membawa mereka ke Pelatihan Awan. Li Wei harus memikirkan tentang penyamaran. Dari semua hal itu, Li Wei jelas tak ingat untuk makan dari tadi pagi.


Dan, saat disebut pun ... Li Wei jadi bertambah lapar hingga ia berpikir bisa menelan anak satu buah apel tanpa dikunyah lagi.


Sudahlah. Sekarang Li Wei hanya perlu mencari Wei Wuxie dan Zhang Yuwen. Dan, meminta mereka untuk membelikan makanan dahulu. Ganti uangnya nanti setelah Li Wei ingat akan hutangnya.


"Apakah 'anak' dalam perutmu mulai menendang?" tanya Hua yang entah serius atau sebenarnya hanya sarkas semata.


Lebih dari segalanya ... Hua yang pendiam itu perlahan berubah menjadi orang yang bermulut kejam.


"Bukan. Itu hanya anak sapi. Anda tak melihat jika baru saja ada anak sapi yang terbang di udara untuk melintas dengan kecepatan rata-rata," balas Li Wei tak kalah sarkasnya.


Karena tak mau baku hantam dengan Hua, Li Wei memutuskan untuk kembali. Ia membalikkan tubuhnya, dan ...


TEP!


Entah kapan Hua mengambil penutup kepalanya. Akan tetapi, sekarang Hua sudah memasang kembali penutup kepala Li Wei untuk menutupi rambut Li Wei yang berantakan. Li Wei memegangi penutup kepalanya sambil menengok ke belakang. Tepatnya pada Hua yang masih memegangi penutup kepalanya.


Pria itu agak menunduk, "Aku juga belum makan."


Lalu, apa hubungannya kau yang belum makan dengan aku yang kelaparan ini?


Li Wei tak mengerti dengan apa yang Hua katakan. Namun ketika perutnya berbunyi sekali lagi, Li Wei langsung menyerah. Ia hanya ingin meminjam uang dari Hua untuk membeli makan.


"Baiklah jika Anda memaksa," ucap Li Wei dengan senyum manisnya. Beruntung ia pandai menangkap kalimat tersirat.


Ah ... Aku punya ide baru.


"Saya punya bisnis dengan Anda. Bagaimana jika saya mengajak Anda berkeliling untuk melihat Pusat Kota sambil bicara tentang masa lalu? Biasanya orang-orang tua zaman dahulu saat bertemu teman lama akan bicara sambil minum teh," ucap Li Wei dengan senyum membujuk.

__ADS_1


Belum sempat Hua menjawab apa-apa, Li Wei sudah menarik tangan Hua kencang. Mengajaknya berlari tanpa memberi waktu untuk Hua berpikir lagi. Juga, ... Hua yang sekarang terlihat 'ber-uang'. Walau Li Wei masih tak tahu bagaimana bisa Hua mengalami perubahan nasib yang cukup besar.


Bahkan Hua ini menjadi guru di Pelatihan Awan. Apa itu berarti Hua juga menjadi peramal di Kerajaan Li?


Lebih dari segalanya ... Li Wei tak menyadari jika Hua tak menolaknya.


Atau, sejak dahulu Hua memang tak bisa menolak apapun yang Li Wei katakan padanya.


Selain itu, Li Wei juga tak menyadari jika semuanya sudah diatur dengan sangat baik.


Takdir memang sudah menjadi bagian dari apa yang Dewa berikan. Akan tetapi, setiap hal di dunia tak terlepas dari tangan manusia sebagai pelakon. Hingga ... Bisa memainkan takdir orang lain.


Lucu sekali.


***


Selir Mo Jiao menampilkan senyum manis. "Maaf mengganggu waktunya, Jenderal Wei. Tetapi rasanya masih banyak yang ingin saya bicarakan dengan Anda."


Wei Wuxie berdiri agak jauh dari Selir Mo Jiao. Meski secantik apapun wanita itu, Wei Wuxie sedikit pun tak menunjukkan ketertarikan. Ia malah merasa seperti ... Terganggu?


Ini seperti rasa muak yang tertunda.


"Sekiranya kita bisa mencari tempat yang lebih pantas, Selir Mo. Bagaimana pun Anda adalah kecantikan milik Pangeran Pertama," jawab Wei Wuxie seadanya.


Ia tak melebih-lebihkan, tetapi jika seorang Pangeran, terlebih lagi Raja, telah membalik piring* seorang gadis, maka gadis itu adalah milik sang pria sepenuhnya. Sehingga cinta dan hati gadis itu harus menjadi milik sang pria. Walau tak ada timbal balik yang sama di sana. Sebab, pria bisa mencintai lebih dari satu gadis di masa itu.


^^^*Membalik piring itu maksudnya adalah dipilih. Jadi, biasanya dalam cerita semacam ini, di saat kedewasaannya seorang pangeran dia harus memilih seorang pendamping terlebih dahulu. Biasanya akan ada banyak pilihan, dan tinggal milih aja gitu. Setiap gadis yang dipilih oleh pangeran berarti adalah miliknya. Tapi, dalam hal ini ... Hanya Permaisuri yang dinikahi, sedangkan Selir tidak dinikahi oleh pangeran.^^^


Akan tetapi, Mo Jiao malah menyuruh pelayannya untuk keluar dari gudang itu. Sehingga yang tersisa di sana hanyalah dirinya dan Wei Wuxie. Wajah Wei Wuxie masih datar seperti biasanya. Malah wajahnya mulai menampilkan gestur meremehkan.


"Apa yang Anda inginkan, Selir Mo?" tanya Wei Wuxie langsung. Tanpa berniat untuk membiarkan Selir Mo mendekat lagi padanya.


"Saya tahu dalam Pengadilan Tinggi Anda tak berada di sisi Pangeran Li Jun," ucap Selir Mo Jiao yang kini berdiri sangat dekat dengan Wei Wuxie.


Tangan wanita itu menuju ke arah dagu Wei Wuxie, dan Wei Wuxie jelas tak bisa dengan lancang untuk menjauhkan wajahnya. Ia hanya diam saja, tetapi ekspresinya masih datar seperti biasanya. Ia mulai mengerti permainan ini.


Bagaimana pun ia tahu Pangeran Li Jun tengah mencari sekutu. Wei Wuxie adalah seorang yang terpandang dalam Pengadilan Tinggi. Pendapatnya didengar oleh Raja sekarang. Sehingga jika dirinya berada di pihak Li Jun, maka Pangeran Li Jun tak memiliki hambatan yang besar.


Akan tetapi, ...


"Bahkan ramalan tentang Pewaris Tahta Kerajaan Li belum diumumkan oleh Peramal Ling. Apa yang harus Pangeran Li Jun takutkan, Selir Mo?" tanya Wei Wuxie yang sedikit membenci tentang orang-orang yang kurang bersyukur.


Selir Mo menajamkan matanya untuk menatap Wei Wuxie. Akan tetapi, Wei Wuxie sebenarnya sudah nyaris kehilangan semua kesopanannya sekarang. Ia berpikir untuk pergi lebih cepat dari tempat ini, karena ia tak akan tahu apakah ini rencana Pangeran Li Jun atau hanya inisiatif Selir Mo Jiao saja sebagai pendamping.


"Meski begitu, saya yakin Anda tak berharap bahwa Pangeran Pertama yang akan naik tahta," ucap Selir Mo sambil mengusap rahang tegas Wei Wuxie dengan jemarinya yang lembut.


Ia hanya mengikuti kebijakan yang terus berkembang di Kerajaan Li. Lagipula, Wei Wuxie percaya pada pewaris tahta yang dipilih oleh Dewa. Itu sudah pasti yang paling tepat untuk menjadi pewaris tahta. Lagipula, tidak mengikuti peraturan yang sudah ditetapkan sejak zaman dahulu jelas akan membuat masalah baru, bukan?


Akan tetapi, selama Wei Wuxie berada di Pengadilan Tinggi, ia merasa bahwa ada rumor-rumor di sekitar. Bagaimana pun keanehan dimulai dari Ling Xiao yang terlihat enggan menyampaikan ramalannya. Ling Xiao selalu mengatakan waktu belum tepat, dan sebagainya.


Ini tak seperti Ling Xiao sudah menerima ramalannya, bukan?


Sehingga banyak orang yang berpikir jika ramalan Dewa tak datang lagi. Mereka berpikir jika Ling Xiao kehilangan kekuatan meramalnya. Dan, tak ada ramalan hebat yang keluar dari mulut Ling Xiao dalam lima tahun belakangan ini.


Yah, kesempurnaan tak akan selalu jatuh pada manusia.


Kemudian, di kala itu mereka mulai menentukan sendiri siapa yang 'layak' menjadi pewaris tahta. Hingga pemikiran mereka sampai pada seseorang yang sangat cantik seperti bunga. Itu adalah Li Wei, yang bahkan memegang lambang kerajaan mereka.


Mereka adalah kerajaan yang berlambangkan bunga mawar.


Akan tetapi, Li Wei adalah seorang gadis yang seharusnya tetap menjadi kecantikan. Mereka tak ingin jika Li Wei berada dalam peliknya politik kerajaan. Walau begitu mereka menantikan naiknya Li Wei sebagai seorang Raja. Belum lagi mereka berpikir dimana Li Wei harus bersaing dengan saudara-saudarannya.


"Pangeran Li Jun pasti memiliki pembicaraan yang lebih baik dengan Anda," ucap Selir Mo Jiao yang masih mengangkat dagu Wei Wuxie.


Tatapan Wei Wuxie masih datar seperti biasanya. "Saya tak tertarik untuk berat sebelah, Selir Mo Jiao."


Jika sudah saatnya tahta beralih, Wei Wuxie tak perduli siapa saja yang menjadi Raja. Namun Wei Wuxie sangat yakin jika banyak pihak-pihak yang ingin menjatuhkan kebijakan Raja yang sekarang. Tentu saja semua pemikiran manusia tak sama, dan ada yang tak setuju dengan kebijakan Raja yang sekarang. Yang paling ditakutkan adalah penggulingan kekuasaan.


Terutama saat Raja yang sekarang sangat mencintai perdamaian.


Percayalah ... Selama Raja Li, Ayah Li Wei ini menjadi Raja, mereka tak pernah melakukan penaklukan terhadap kerajaan lain. Alih-alih membuat Kerajaan mereka menjadi lebih besar, Raja Li lebih menyukai untuk bertindak sangat 'lembut'. Walau begitu, pertahanan kerajaan sangat ditekankan.


Itulah yang membuat Kerajaan Li benar-benar menyerupai mawar selama di bawah perintah Raja Li. Kerajaan yang tak pernah mengusik kerajaan lain, dan terlihat sangat indah. Meski begitu, ada duri-duri yang bisa melindungi keindahannya.


Namun untuk seseorang seperti Li Jun ... Itu tidaklah cukup.


Pria itu jelas punya cita-cita mulia untuk membuat Kerajaan Li menyebar hingga ke tanah lainnya. Itu adalah hal yang selalu dikatakan Li Jun di Pengadilan Tinggi. Dan, Raja Li selalu menolak usulannya.


SRET!


Tangan Selir Mo Jiao mengusap rahang Wei Wuxie lembut. "Apakah ada yang membuatmu tertarik sekarang?" tanya Selir Mo Jiao dengan senyummya yang ambigu.


Tatapan Wei Wuxie beradu dengan Selir Mo. Tak lama pria itu mendekatkan wajahnya pada wajah cantik Selir Mo, sehingga wanita itu perlahan memerah. Wajah Wei Wuxie sangat tampan, dan siapa yang tak tertarik akan rupanya?


Meski begitu, ...

__ADS_1


Wei Wuxie berbisik ke telinga Selir Mo Jiao, "Saya lebih tertarik untuk mencium sapi sekarang." Senyum Wei Wuxie muncul ketika mengingat sesuatu yang sangat menarik.


Apa?


BRUGH!


Selir Mo Jiao mendorong dada Wei Wuxie dengan kasar. Hal tersebut membuat Wei Wuxie menjauh dengan kasar. Meski begitu, Wei Wuxie tak bermasalah sedikit pun. Baginya itu lebih baik untuk menghindari jebakan ini.


"Kau merendahkan aku, Jenderal Wei!" bentak Selir Mo Jiao.


Sekarang busuknya sudah terlihat. Tak menarik sama sekali. Bahkan Selir Mo langsung kehilangan semua penghormatannya. Tak bisa diprovokasi lebih lanjut.


Suara wanita itu terlalu tinggi hingga pelayanan masuk kembali. Seperti memeriksa keadaan Tuan-nya. Meski begitu, Wei Wuxie segera memberikan penghormatan, karena semuanya sudah sangat jelas.


Ia tak akan berada di pihak Pangeran Li Jun.


"Tak ada yang merendahkan kecantikan seperti Anda, selain diri Anda sendiri, Selir Mo Jiao," ucap Wei Wuxie dengan senyum ramahnya.


Wajah Selir Mo terlihat memerah. Kali ini karena marah. "Apa maksud Anda, Jenderal Wei? Kau tahu bahwa aku adalah kecantikan milik Pangeran Pertama! Beraninya kau merendahkan aku."


Nah ... Sekarang baru kau mengatakan bahwa kau milik Pangeran Li Jun. Lucu sekali.


"Jika Anda menghargai kehormatan Anda, maka orang lain akan ikut menghargainya. Oleh karena itu, jaga kehormatan Anda, Selir Mo Jiao," ucap Wei Wuxie sambil memberikan penghormatannya.


Wanita ini adalah milik Pangeran Li Jun. Menyentuhnya sama seperti merusak permata yang dimiliki oleh Pangeran Li Jun. Meski begitu, selain karena penghormatan, Selir Mo Jiao juga tak menarik untuknya.


"Beraninya orang seperti kau dan Ling Xiao ..."


Tanpa sadar Selir Mo Jiao membongkar keburukannya sendiri. Hanya saja Wei Wuxie merasa memiliki teman. Rupanya ada orang 'penting' lainnya yang dirayu oleh Selir ini. Sayangnya, kecantikan palsu tak bisa membuat dunia berperang.


Dahulu Wei Wuxie pernah mendengar tentang pepatah, dimana hanya ada satu wanita, dunia akan hancur dan saling berperang. Seolah wanita adalah sumber masalah di dunia. Sayangnya, Wei Wuxie sampai pada satu kesimpulan baru.


Yah, tergantung kecantikannya, bukan?


"Saya harus kembali, Selir Mo Jiao. Sampaikan salam hangat saya pada Pangeran Li Jun," ucap Wei Wuxie sebelum membalikkan tubuhnya.


Tatapan Wei Wuxie beralih ke pelayan yang tampak sangat lembut perangainya. Bahkan ketika ia bergeser untuk menutupi jalan bagi Wei Wuxie, langkahnya tak terdengar. Pelayan yang dimiliki oleh Selir Mo Jiao ini sepertinya bukanlah sekadar pelayan.


"Aku belum selesai, Jenderal Wei! Aku akan melaporkanmu karena telah menghina aku!" teriak Selir Mo Jiao yang semakin menyebalkan.


"Sudah saya katakan, tak ada yang menghina Anda di sini. Saya hanya lebih tertarik untuk melihat sapi sekarang," balas Wei Wuxie pelan.


Selir Mo Jiao melipat kedua lengannya di dada. Sambil tersenyum menyebalkan, "Aku tahu kau menyimpan perasaan pada Putri Li Wei."


DEG.


Wei Wuxie terlihat seperti terpaku sejenak, walau selebihnya ia tak berekasi apapun. Ia malah mengambil pedangnya, dan benar saja gadis pelayan itu bersiaga. Akan tetapi, Wei Wuxie hanya menggunakan pedangnya untuk mendorong pintu gudang. Itu semua karena udara di dalam gudang sedikit memuakkan.


BRAK!


Gudang itu memiliki penghubung pintu yang agak kasar, sehingga ketika didorong bunyinya agak menyakitkan telinga. Wei Wuxie menghela napasnya saat berbicara lagi.


"Lalu, apa yang menjadi urusan Anda, Selir Mo?" tanya Wei Wuxie pelan.


"Pangeran Li Jun pasti bisa mengaturnya agar menjadi milik Anda, Jenderal Wei," ucap Selir Mo Jiao yang memiliki caranya sendiri.


Tepat ketika itu ... Li Wei berlalu, dengan seseorang yang seharusnya tak mereka lihat lagi dalam beberapa tahun ini. Wei Wuxie jelas mengingat tentang pria itu. Terutama saat ini Li Wei terlihat seperti menarik tangan pria itu dengan ringan.


Percayalah meski Li Wei tak menariknya, Hua akan tetap mengikutinya. Namun sayangnya Li Wei tak mengerti tentang itu. Ia selalu berpikir jika Hua ini bertingkah dingin padanya.


Walau orang lain akan tahu, baru kali ini Hua begitu terlihat tertarik.


SRET!


Tangan Selir Mo Jiao dengan lancangnya melingkari perut Wei Wuxie. Kemudian, bibir merah delima wanita itu terdengar berbisik di belakang telinga Wei Wuxie. "Sepertinya kita sama-sama memiliki urusan di sini, Jenderal Wei."


Terakhir yang dilihat oleh Wei Wuxie adalah senyum ceria Li Wei. Setelah itu, tatapan Wei Wuxie menjadi teduh dan tersenyum tipis ketika pintu di depannya menutup kembali. Selir Mo Jiao ini memiliki hal yang menarik untuk dibicarakan.


Katanya, ...


Tapi bagi Wei Wuxie ... Senyum Li Wei yang seperti ini sangat membahagiakan untuknya.


...***...



Biar ku ceritakan pada kalian artinya menjadi seorang teman.


...***...


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.


Mari bertemu di chapter selanjutnya.

__ADS_1


Adios~


__ADS_2