
Hari sudah menjadi malam.
Li Wei bisa melihat obor yang menjilat-jilat udara di balik celah dinding rumah yang renggang. Di dalam ruangan hanya ada dirinya serta Wei Wuxie dan Zhang Yuwen. Sedangkan Ling Xiao sudah membawa Hua Yifeng ke tempat lain.
"Putri istirahatlah sebentar. Maaf dengan kediaman sederhana ini, Putri. Ini dahulu adalah tempat di mana saya sering berlatih saat masih muda," ucap Ling Xiao dengan nada tenang.
Bagaimana pun Li Wei tetap bertanya-tanya tentang usia Ling Xiao. Pria itu berkata saat ia masih muda, tetapi Ling Xiao terlihat berusia sama seperti Hua Yifeng. Akan tetapi, ia masih ingat jika jarak usia Hua Yifeng dengan Ling Xiao cukup jauh.
Jadi, masa muda Peramal Ling ini di usia ke berapa?
Li Wei jelas tak bisa menanyakan tata cara awet muda seperti yang dimiliki oleh Ling Xiao. Hanya saja, Li Wei pernah mendengar jika kultivasi seseorang meningkat dan membentuk inti emas (qi), maka orang tersebut tak menua. Bahkan mungkin telah mencapai tingkat tinggi, yaitu keabadian.
Untuk tingkatan itu, mungkin di Kerajaan Li sangat sulit dicari orang yang telah mencapai tingkatan-tingkatan tersebut. Mungkin orang seperti mereka hanyalah segelintir orang biasa yang belum mencapai tingkatan apa-apa.
Tentang Hua Yifeng ... Yah, dia agak istimewa.
Berbicara tentang Hua Yifeng, Li Wei teringat dengan tatapan mata merahnya yang kosong. Itu mengingatkan Li Wei saat pertama kali dirinya mengajak Hua Yifeng bicara. Seingat Li Wei ... Saat itu, Hua Yifeng baru saja bertarung dengan anak buah kakaknya Li Jun, sehingga Hua Yifeng memiliki memar di wajahnya.
Lalu, Hua Yifeng nyaris memukul ke wajahnya ... Seingat Li Wei itulah awal dari perkenalannya dengan Hua Yifeng.
Sungguh tak ada manis-manisnya. Pantas saja aku selalu bertengkar dengan pria itu.
"Putri, apa yang Anda pikirkan?" tanya Wei Wuxie yang belum tidur.
Bagaimana pun lelahnya pria itu, ia tak akan mudah tidur. Berbeda dengan Zhang Yuwen yang sudah mendekur di lantai. Dengan nyamannya pria Zhang itu tertidur, dan Li Wei tak heran. Selain karena Zhang Yuwen mudah beradaptasi, juga Zhang Yuwen sudah meminum ramuan obat. Mungkin itulah yang membuat Zhang Yuwen mudah tertidur.
Seperti yang Li Wei dengar dari cerita Zhang Yuwen sebelumnya. Dengan semangat Zhang Yuwen bercerita. Bahkan Li Wei berpikir untuk menggunakan tirai untuk berbicara dengan Zhang Yuwen karena takut terkena hujan musiman. Mungkin hal yang dialami Zhang Yuwen cukup panjang dan berliku.
Hanya saja ... Li Wei tahu tentang kematian Raja Li. Zhang Yuwen sempat diselamatkan oleh Wang Zeming, Penasihat Kerajaan. Setelah itu, Wang Zeming memerintahkan pasukan untuk mundur ke Pusat Kota. Dan, bertemu dengan Wei Wuxie yang terlambat memberi bantuan pasukan.
Begitu juga dengan Li Jun yang datang ke Perbatasan, tetapi perang sudah usai. Sehingga saat Pusat Kota rendah penjagaannya, Pasukan Kerajaan Xin masuk ke wilayah Pusat Kota. Suatu hal yang sudah Li Wei bicarakan dengan Li Jun. Akan tetapi, kakaknya itu malah memerintahkan Li Wei dan Li Chen yang pergi.
Siapa yang bisa menduga jika Li Chen adalah mata-mata Kerajaan Xin.
Lalu, Wei Wuxie yang jelas-jelas seorang buronan tak bisa membawa Zhang Yuwen yang terluka ke Istana. Ia terpaksa membawa Zhang Yuwen bersembunyi di hutan, dan bertemu dengan Ling Xiao. Rupanya saat itu Ling Xiao sedang bertapa untuk menerima ramalan Dewa di dalam hutan. Walau Ling Xiao tak mengatakan apa-apa tentang ramalannya. Mungkin karena waktu yang tak tepat ini.
Sehingga Ling Xiao juga tak ada di istana Kerajaan Li.
Itu adalah kabar yang menyakitkan, karena tak ada siapapun yang bisa dipercaya untuk melindungi Pusat Kota. Hal tersebut yang membuat Pusat Kota dengan mudah direbut oleh Kerajaan Xin.
Li Wei tak tahu bagaimana untuk menanggapi ini semua.
"Aku akan ke Pusat Kota besok," ucap Li Wei cepat.
Hal tersebut membuat Wei Wuxie menegakkan kepalanya. "Putri, keadaan di Pusat Kota sangat berantakan. Apalagi jika Putri muncul. Itulah yang diharapkan oleh mereka."
"Tapi Permaisuri Jiang masih ada di istana, begitu juga dengan Pangeran Li Shen. Bagaimana bisa aku bersembunyi di sini, sedangkan mereka masih ada di tangan musuh?" tanya Li Wei pada Wei Wuxie.
Itu benar.
"Namun kita tak bisa ke sana tanpa rencana apapun, Putri. Merebut Pusat Kota kembali itu tak mudah," tanggap Wei Wuxie untuk mengingatkan Li Wei.
Dan, itu juga benar.
Dengan jumlah mereka sekarang jelas tak bisa menyerang pasukan Xin yang sudah menduduki Pusat Kota. Li Wei harusnya sudah memikirkan ini semua. Akan tetapi, terlalu banyak hal yang ia pikirkan sekarang.
Bahkan Li Wei tak bisa berduka untuk ayahnya yang gugur, dan juga Li Chen, saudaranya.
Hanya dalam beberapa hari semuanya menjadi berantakan.
Ini sangat buruk hingga Li Wei tak bisa berpikir apa-apa. Mungkin sapi telah memakan otaknya yang kebanyakan berbicara tentang kebebasan dibanding realita. Bahwa dunia ini jika berandai-andai pasti lebih indah ketimbang dijalani.
Sayangnya, manusia hidup untuk terus menjalani takdirnya.
"Saya juga akan kembali," ucap Zhang Yuwen yang ternyata sudah bangun.
Li Wei mengalihkan pandangannya pada Zhang Yuwen. Pria itu dengan susah payah berusaha bangkit. Dengan luka besar di dadanya, Zhang Yuwen jelas tak bisa bertarung. Hanya saja ia harus kembali ke Pusat Kota.
"Bao Tian ... Anakku masih di Pusat Kota," ucap Zhang Yuwen dengan senyum kelunya.
Anak Klan Bao itu. Li Wei hampir melupakan tentang keberadaan Bao Tian yang juga memiliki darah istimewa seperti Hua Yifeng. Seperti yang dijelaskan oleh Ling Xiao, saat Bao Tian tumbuh dewasa, maka Pohon Iblis akan mulai memberinya kekuatan.
Namun dengan imbalan yang setimpal, usia yang cenderung singkat.
"Apa kau sudah ingat siapa ibunya?" tanya Wei Wuxie, yang entah berniat bercanda atau tidak.
Akan tetapi, Zhang Yuwen tertawa pelan. "Kenyataan bahwa Bao Tian adalah anakku itu sudah cukup."
Mereka diam lagi.
Entah apa yang bisa mereka bicarakan sekarang. Mereka tak bisa bersenda gurau seperti dahulu. Bukan karena mereka kehilangan rasa akrab. Namun lebih pada tak ada hal lucu yang bisa mereka katakan.
"Di mana kau selama ini, Wei Wuxie?" tanya Li Wei akhirnya.
Seingat Li Wei, sebelum bencana Wei Wuxie sudah menghilang keberadaannya. Sehingga pencarian dan jumlah imbalan untuk pencarian Wei Wuxie terus meninggi, tetapi Wei Wuxie juga tak terlihat. Akan tetapi, saat kerusuhan ini, Wei Wuxie muncul untuk masuk dalam pasukan.
Wei Wuxie menghela napasnya. "Saya dikurung oleh ayah di Makam Keluarga Wei*."
^^^*Ingat gak sih yang di beberapa bab sebelumnya, yang Yi Hua masuk ke makam keluarga Wei. Di situ kan ada pembuat makamnya bilang kalau makam itu punya banyak jebakan biar Anak pertama keluarga Wei gak bisa keluar. Nah ... Yang dimaksud itu adalah Wei Wuxie, kakaknya Jenderal Wei Qionglin biawak yang sering gombalin Yi Hua. Mudahan masih ingat 😂^^^
Zhang Yuwen terkekeh pelan, "Paman tua itu rupanya berani menyembunyikan buronan."
__ADS_1
"Paman tua yang kau sebut itu ayahku, Yuwen. Lagipula, keluarga Wei membangun banyak jebakan di dalam makam hanya agar aku tak keluar. Lalu, hanya membuka pintu jika mengirimkan makanan dan minuman untukku," lanjut Wei Wuxie yang rupanya melarikan diri dari perlindungan keluarganya sendiri.
Mungkin lebih aman jika Wei Wuxie berada di dalam makam. Setidaknya Wei Wuxie tak akan berada dalam situasi pelik seperti ini. Namun jika Wei Wuxie berada di dalam makam, mungkin Zhang Yuwen tak akan berada di sini. Sebab, Wei Wuxie adalah orang yang memungut Zhang Yuwen saat terluka parah sebelumnya.
Anggap saja itu bagian dari takdir.
"Jadi, kau keluar khusus untuk menyelamatkan aku?" tanya Zhang Yuwen dengan nada usil.
Di saat seperti ini Zhang Yuwen masih bisa bercanda.
"Aku hanya heran mengapa kau tak menjadi batu? Kau terluka parah dan hampir mati," ucap Li Wei akhirnya.
Apakah ada pengecualian lainnya? Jika memang ada mungkin ada pilihan lain untuk menyembuhkan penyakit batu ini. Setidaknya tanpa harus mengorbankan Hua Yifeng atau pun Bao Tian, yang mungkin belum sempurna darah Pohon Iblisnya.
"Putri lupa jika saya pernah bercerita tentang darah Bao Tian yang menyembuhkan luka. Gadis kecil itu pernah menggunakan darahnya untuk mengobati luka milik saya dulu," ucap Zhang Yuwen dengan pedih.
Jika Zhang Yuwen tahu setiap kali Bao Tian menggunakan darahnya, maka usia Bao Tian seperti terpotong, maka Zhang Yuwen memilih untuk sembuh secara alami. Zhang Yuwen adalah ayah dari Bao Tian, jelas ia tak ingin gadis kecilnya kesakitan.
"Saya akan melindungi Bao Tian, meski harus melalukan apapun," ucap Zhang Yuwen lagi.
Li Wei mengusap lengannya yang masih diperban. Ajaibnya luka yang cukup dalam itu sedikit demi sedikit sembuh. Sehingga yang tersisa di lengannya hanyalah goresan tipis. Darah Hua Yifeng memang menyembuhkan lukanya lebih cepat dibandingkan penyembuhan secara alami.
"Apakah tak ada cara untuk memeriksa keadaan istana?" tanya Li Wei pada Wei Wuxie dan Zhang Yuwen.
Namun Wei Wuxie menggelengkan kepalanya. "Saya pergi dari Pusat Kota sebelum pasukan Kerajaan Xin datang. Sehingga saya tak tahu keadaannya."
Li Wei harus memikirkan cara untuk mengetahui keberadaan Permaisuri Jiang dan adik bungsunya, Pangeran Li Shen. Mungkin Li Wei harus mengirimkan surat pada ayam atau merpati untuk Wang Zeming. Guru Li Wei itu mungkin masih bertahan di Pusat Kota sebagai sandera.
Yang membuat Wang Zeming tak melakukan apa-apa mungkin karena Permaisuri Jiang yang berada di tangan musuh. Juga, ingatlah tentang Pangeran Li Jun yang juga masih dalam siksaan kejam Kerajaan Xin. Li Wei tak meragukan kesetiaan Li Jun, karena meski ingin naik tahta Li Jun tak akan mengkhianati tanah airnya sendiri.
Terkadang orang yang terlihat kasar dan bermulut tajam bukanlah orang yang jahat. Terkadang kau harus waspada pada bunglon yang pandai mengikuti keadaan sekitar dibanding seekor macan yang menyerang jika ingin menyerang. Setidaknya kau tak akan terkecoh tentang kawan dan lawan.
"Penasihat Wang Zeming berada di istana. Saat pasukan terdesak, Penasihat Wang diperintahkan untuk kembali ke Pusat Kota. Saya yakin jika kita bisa menyusup untuk masuk ke Pusat Kota, kita bisa memiliki jalan untuk menemui Penasihat Wang untuk mengatur rencana," ucap Zhang Yuwen menerangkan.
Wei Wuxie menganggukkan kepalanya. "Saya juga perlu memberitahu keluarga Wei. Siapa tahu mereka bisa diandalkan."
Reputasi keluarga Wei sebagai penghasil Jenderal-Jenderal besar mungkin perlu diuji sekarang. Walau Wei Wuxie kurang menyukai keluarganya sendiri. Akan tetapi, di saat seperti ini mungkin keluarga Wei bisa bersatu untuk membebaskan Pusat Kota dari jajahan Kerajaan Xin.
"Aku pernah bertemu sekali dengan adik bungsu keluarga Wei. Siapa namanya ... Wei Qionglin, adikmu itu sangat tampan, walau masih tampan aku. Mungkin di masa depan ia bisa menguasai kecantikan dengan wajah tampannya itu. Kenapa kau tidak memiliki wajah tampan seperti Wei Qionglin*?" tanya Zhang Yuwen yang sekali lagi selalu usil pada Wei Wuxie.
^^^*Wei Qionglin itu Jenderal Wei di zamannya Yi Hua. Yang sering ganggu Yi Hua, terus yang bawa Yi Hua masuk ke Makam Keluarga Wei.^^^
"Apa itu penting? Lagipula, dari segi mana wajahmu itu tampan? Ayam ... Maksudku mendiang ayamku, Xue Fang, lebih indah dibanding dirimu," ucap Li Wei jengkel.
Zhang Yuwen menghela napasnya. "Putri pasti memiliki dendam pada saya. Mengapa tak pernah membela saya?"
Entahlah ... Sebenarnya perdebatan ini tidaklah penting. Mereka hanya ingin berbicara seperti dahulu. Di masa-masa mereka masih sering bermain di Pelatihan Awan.
Tumbuh dewasa memang membuat orang lain berpikir untuk kembali ke masa anak-anak.
Jika membiarkan kedua orang di depannya bertengkar, mungkin kediaman sederhana ini akan berantakan. Belum lagi Li Wei dengan tenaga sapinya beraksi. Wei Wuxie tak mau Ling Xiao kehilangan tempat bertapanya ini.
"Kau tahu jalan keluar dari sini?" tanya Zhang Yuwen yang tak tahu jalan.
Bagaimana pun ketika ia dibawa kemari saat itu dirinya dalam keadaan tak sadar. Ia tak tahu dimana mereka berada sekarang. Li Wei juga tak tahu karena keadaan mereka sama.
Wei Wuxie menganggukkan kepalanya. "Tempat ini agak dekat dengan Labirin Batu. Tempat Perburuan Malam dahulu."
Itu cukup jauh dari Pusat Kota.
Jika mereka menggunakan kuda, maka itu bisa menempuh waktu cukup singkat. Jika berjalan, mungkin akan memakan waktu setengah hari. Saat ini mereka tak punya apa-apa, dan tak bisa menyewa kereta karena identitas mereka.
Sehingga mau tak mau mereka harus menyamar, dan mencari tumpangan untuk datang ke istana.
"Lalu, bagaimana dengan Tuan Hua?" tanya Li Wei pelan. Ada rasa bersalah dalam suaranya.
Terutama saat ia menyadari jika Hua Yifeng adalah seseorang yang selalu membantunya. Ketika Li Wei dalam bahaya, Hua Yifeng selalu datang untuk menolongnya. Bagaimana mungkin ia menjadi sangat tak tahu diri sekarang.
"Peramal Ling Xiao masih mencoba meredakan amukan Pohon Iblis di tubuh Hua Yifeng. Keberadaan kita di sini tak akan membantu apa-apa. Lebih baik kita melakukan apa yang bisa dilakukan," putus Wei Wuxie yang berusaha menenangkan Li Wei.
Hanya orang bodoh yang tak tahu perasaan di antara Hua Yifeng dan Li Wei. Sayangnya, kedua orang yang terlibat ini malah lebih lambat memahami perasaannya masing-masing. Wei Wuxie hanya bisa menutupi perasaannya sendiri.
Tentu saja.
"Tidurlah, Putri. Kami akan berjaga di sini," ucap Wei Wuxie.
Li Wei hanya menganggukkan kepalanya. Tatapannya mengarah pada pedang Hua Yifeng yang disandarkan pada dinding. Jika Hua Yifeng sadar, pria itu tak akan meninggalkan pedang.
Mungkin tak apa jika meminjamnya.
***
Keesokan paginya mereka bertiga meninggalkan kediaman sederhana Ling Xiao. Peramal itu juga tak menampilkan dirinya hari itu. Mungkin pria itu lebih sibuk daripada yang Li Wei sadari. Terutama saat Ling Xiao tengah mengobati Hua Yifeng.
Sehingga mereka memutuskan untuk pergi tanpa berpamitan.
Akan tetapi, ketika mereka baru saja berjalan sekitar seratus kaki dari kediaman, Wei Wuxie mendengar suara derap kaki kuda. Hal itu yang membuat Li Wei mendorong Zhang Yuwen untuk bersembunyi di balik semak-semak. Meski protes, tetapi Zhang Yuwen tetap berjongkok di balik semak-semak.
Li Wei juga bersembunyi di balik pohon. Di tangannya ada potongan ranting daun yang agak besar beserta daun-daunnya. Dengan itu Li Wei berharap tak ada yang melihat wajahnya jika dirinya menyamar menjadi dedaunan. Mungkin hanya Wei Wuxie yang cukup normal dalam bersembunyi.
Namun yang lebih penting adalah siapa yang datang.
__ADS_1
Li Wei mengintip sedikit dan ia melihat seseorang dengan gaya pakaian yang agak berbeda dengan mereka. Tentu saja dengan lambang kerajaan yang berbeda dan orang-orang yang tidak Li Wei kenal. Ketika ia melihat pada Wei Wuxie, dan pria itu mengangguk.
Itu adalah pasukan Kerajaan Xin.
Pasukan itu sepertinya tak segan lagi untuk menyusuri Kerajaan Li dengan seenak kepalanya. Ditambah lagi keberadaan mereka kemari bukan hanya untuk berjalan-jalan. Lebih dari segalanya, bagaimana jika mereka menemukan kediaman Ling Xiao.
Di sana ada Hua Yifeng yang masih tak sadarkan diri.
SRET!
Li Wei melihat Zhang Yuwen memberi isyarat dengan jemari tangannya. Biasanya isyarat ini mereka gunakan saat berburu dahulu. Jika mereka berburu tentu saja tak bisa saling bicara. Dan, Li Wei jelas masih mengingatnya.
Hanya saja ... Isyarat ini agak aneh karena apa yang Zhang Yuwen katakan adalah mereka harus keluar kembali melarikan diri. Dengan catatan sekarang juga.
Namun jelas-jelas di depan mereka itu adalah pasukan Kerajaan Xin. Apa Zhang Yuwen hanya mencari mati?
SRET!
Li Wei menunduk ketika anak panah melintas di atas kepalanya.
"Putri." Wei Wuxie yang menyadari persembunyian mereka telah diketahui segera menuju ke arah Li Wei.
Akan tetapi, Li Wei memberi isyarat agar Wei Wuxie tetap diam di tempat. Gadis itu segera berguling untuk bersembunyi pada salah gunungan tanah yang agak tinggi. Panah mengarah cukup banyak pada Li Wei.
Hal itu menandakan jika hanya posisi Li Wei yang diketahui.
"Tuan Putri Li Wei, senang bertemu dengan Anda," ucap seseorang yang hanya Li Wei dengar suaranya.
Itu membuat Li Wei melirik hanya untuk melihat siapa yang berbicara. Hingga pandangannya terarah pada seorang pria yang masih di atas kudanya. Tatapan pria itu sangat sombong dan menyebalkan. Wajahnya seperti jelmaan biawak yang meninggalkan kekasihnya saat masih sayang-sayangnga.
Entahlah hanya itu yang bisa Li Wei pikirkan.
"Terimalah penghormatan saya. Kesejahteraan menyertai Putri Li Wei yang memiliki kecantikan seperti mawar. Saya Raja Xin, Xin Wantang menjemput Anda," ucap pria itu dengan ramah.
Menjemput katanya?
Li Wei tak yakin lagi tentang kata menjemput itu karena ia yakin Xin ... Siapalah namanya ini pasti akan menyeretnya untuk kembali ke istana Kerajaan Li. Lebih dari segalanya, dari segala kemungkinan mengapa orang-orang ini datang bertepatan dengan rencana mereka.
Pasti Dewa lagi-lagi tak berpihak pada mereka.
Wei Wuxie berniat untuk berlari untuk mengalihkan perhatian, sehingga Li Wei bisa melarikan diri. Akan tetapi, Zhang Yuwen dengan anehnya menekan Wei Wuxie untuk tetap duduk. Tatapan Zhang Yuwen juga terlihat berbeda, seperti ada rasa salah tingkah di wajahnya.
Hanya saja Wei Wuxie telah berteman dengan Zhang Yuwen lebih dari sepuluh tahun. Ia sangat percaya pada Zhang Yuwen hingga ia tak pernah meragukannya.
BAKHH!
Li Wei menatap tak percaya pada Zhang Yuwen. Bagaimana bisa dia melempar batu dengan cara yang sangat kekanakan?
Itu jelas membongkar persembunyian mereka.
Akan tetapi, ketika Zhang Yuwen melempar batu ke arah pepohonan, Wei Wuxie menyadari sesuatu. Zhang Yuwen sejak tadi tak memberi isyarat pada Wei Wuxie dan Li Wei. Yang diberikan isyarat adalah orang-orang Kerajaan Xin.
Wei Wuxie mencengkeram pakaian Zhang Yuwen. "Apa yang kau lakukan?"
Akan tetapi, Zhang Yuwen malah mengarahkan pukulannya pada Wei Wuxie, meski temannya itu bisa menangkapnya kembali. Li Wei hanya bisa melihatnya dari persembunyiannya. Karena ia tak bisa melerai kedua temannya itu saat mereka masih diintai oleh pemanah Kerajaan Xin.
"Bisakah kita saling berbincang sekarang?" tanya Raja Xin Wantang lagi.
Wei Wuxie menekan ke arah luka Zhang Yuwen untuk menghentikan penyerangan Zhang Yuwen. Dan itu berhasil, pria itu berhenti menyerangnya. Zhang Yuwen menunduk karena tak ingin menatap wajah Wei Wuxie.
SYUT
Akan tetapi, pria itu mendadak bersiul dengan nada yang aneh. Dan, karena suara itu, Wei Wuxie mendadak menjadi lemah tubuhnya. Sejak kapan Zhang Yuwen bisa menggunakan alunan musik untuk melemahkan orang lain?
Lalu, Zhang Yuwen mengarahkan pisaunya ke leher Wei Wuxie, "Kita hanya perlu ke Pusat Kota dengan bantuan mereka. Anggap saja sebagai tumpangan."
Jelas itu berbeda!
"Aku sudah pernah mengatakan jika aku akan melakukan apapun untuk menyelamatkan Bao Tian," ucap Zhang Yuwen dengan senyum tipis yang dipaksakan.
Mungkin sejak awal Zhang Yuwen sudah mengatur mereka untuk keluar saat Pasukan Kerajaan Xin siap menangkap mereka. Bukan karena Dewa yang tak memberi mereka keberuntungan. Akan tetapi, Zhang Yuwen yang sengaja membuat mereka tertangkap.
Mungkin Zhang Yuwen tak sengaja untuk berhianat. Hanya saja sepertinya Bao Tian berada di tangan orang-orang Kerajaan Xin. Itu yang bisa Wei Wuxie simpulkan sekarang.
Saat Li Wei menyadari itu, ia melihat beberapa orang berjalan menuju ke arah Wei Wuxie dan Zhang Yuwen. Sejak awal mereka bersembunyi pada tempat yang sudah ditentukan oleh Zhang Yuwen. Mereka terjebak sekarang.
Sehingga Li Wei hanya bisa mengangkat tangannya ketika sebuah pedang mengarah ke tenggorokannya.
"Saya sungguh tak ingin menyakiti kulit giok Putri Li Wei. Akan tetapi, Anda sungguh kecantikan yang berbahaya," ucap Xin Wantang yang tersenyum manis pada Li Wei.
"Maafkan saya, Putri," ucap Zhang Yuwen yang ternyata juga berada di pihak lawan.
Ada berapa banyak orang yang berhianat pada Li Wei saat ini?
Entahlah. Li Wei takut untuk mempercayai lagi.
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
__ADS_1
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
Adios~