
Apa yang orang-orang ini lakukan?
Yi Hua mengusap keringat yang mengalir di dahinya. Rasa sakit di tangannya masih ada, tetapi tak begitu parah seperti sebelumnya. Yi Hua juga sudah mendapatkan penglihatannya kembali. Terkadang ia berpikir mengapa Shen Qibo begitu aneh dengan terus-menerus menutup matanya, padahal dia bisa melihat. Tanpa penglihatan yang baik kita tak dapat melakukan apapun.
Entahlah.
"Apa yang kalian lakukan? Kalian ingin terkubur di sini?" ucap Wei Qionglin sambil menatap tajam pada para pedagang itu.
Pria itu baru saja selesai mengobati seseorang yang tercuni sebelumnya, sehingga ia baru bisa mengatasi para pedagang ini. Lagipula ia tak berpikir jika orang-orang ini akan begitu serakah di saat genting. Apalagi mengambil jamur yang jelas tak lebih besar dari kelingking orang dewasa.
Salah seorang pedagang menundukkan kepalanya untuk memberikan penghormatan pada Wei Qionglin, "Kami tidak akan menggali begitu banyak, Jenderal Wei. Ini adalah hal langka yang tak bisa ditemukan di mana-mana. Ditambah lagi siapa yang menjamin jika kami tak akan digigit lagi sepanjang perjalanan."
Itu agak masuk akal!
Akan tetapi, Wei Qionglin jelas tak bisa berlaku keras pada warga sipil. Apalagi dia saat ini tidak sedang dalam bertugas. Ia hanya bisa mengawasi, dan memastikan orang-orang ini keluar dengan selamat dari Lembah Debu.
Wei Qionglin mencoba meminta pendapat Yi Hua, tetapi Yi Hua hanya mengangkat bahunya. Seolah Yi Hua tak begitu perduli. Nyatanya Yi Hua hanya menghindari perdebatan yang tak berguna. Lain halnya jika pendapatnya didengarkan di sini.
Lagipula, apakah ada yang mengerti arti dari sangat langka?
Sesuatu yang sangat sulit didapatkan. Jika kau mendapatkan satu bulu sapi di dalam lautan, bukan berarti kau mendapatkannya lagi nantinya. Itu sangat sederhana untuk dipikirkan. Jelas Yi Hua bisa menilai hasil dari semua ini. Mereka tak akan bisa mendapatkannya.
Salah seorang pedagang, yang Yi Hua tak sama sekali ingin ketahui namanya, menunjuk ke arah Yi Hua. Di tangannya ada pedang pendek seperti pedang yang khas untuk memasak di dapur. Ia jelas tahu jika pedang itu adalah salah satu benda yang dijual di dagangannya.
"Kau pasti mengambil semua jamur itu! Harusnya kau berbagi. Bagaimana bisa kau ingin dapat banyak uang sendirian?" teriaknya tak terima sambil menunjuk pada Yi Hua.
Si Paman tinggi menjulang tak berguna ini berani serakah teriak serakah!
Lagipula jelas-jelas dia melihat Yi Hua hanya memiliki satu buah jamur di tangannya. Itu saja besarnya tak lebih besar daripada satu biji kuaci. Jika bukan karena Xiao, yang sebagai sistem, mengkonfirmasi letaknya, Yi Hua juga tak akan menemukannya.
"Dasar! Coba kau pikir Yi Hua. Katakan, jika kau mendapatkan jamur itu, tetapi bayarannya adalah kau terkubur di dalam tanah. Mana yang kau pilih?" tanya Xiao di telinga Yi Hua.
"Tentu saja aku ingin mendapatkan jamur, dan tidak terkubur di dalam tanah," jelas Yi Hua yang jelas lebih serakah dari orang lain.
Suara Yi Hua cukup nyaring hingga didengar oleh yang lainnya. Akan tetapi, Yi Hua adalah Yi Hua ... Jika tak sombong dan pandai menghina, maka dia akan layu.
Paman itu semakin murka. Jika tak ada Jenderal Wei Qionglin di sini mungkin dia akan menyerang Yi Hua yang tampak rapuh seperti buah kapuk. Sayangnya, dia juga agak waspada karena kemampuan Yi Hua dalam menggunakan jimat. Sehingga Paman itu memilih untuk menunjuk dari kejauhan.
"Sudah aku duga. Kau memiliki jamur penawar itu. Berikan sedikit pada kami, dan kita akan sama-sama menjualnya. Kau pasti pedagang baru dan tak punya koneksi. Aku bisa mencarikan pembeli yang akan membeli jamur itu dengan mahal," ucap Paman itu dengan negosiasi khas pedagangnya.
Yi Hua menganggukkan kepalanya sambil melipat kedua lengannya di dada. "Sangat menarik."
Yi Hua segera mengambil sesuatu yang diselipkannya di dalam saku. Hal itu membuat para pedagang menatap semangat. Lalu, tangan Yi Hua meraih sebuah bungkusan, dan menuju ke arah Ping.
"Hey, anak kecil. Makanlah ini! Mungkin kita akan lama di sini, dan aku tak ingin mendengar anak kecil bau sepertimu merengek kelaparan," ujar Yi Hua yang memang memiliki ucapan yang tak ada manis-manisnya.
Yang diserahkan Yi Hua adala potongan roti isi daging yang disimpan Yi Hua. Saat mereka masih di rumah makan sebelumnya Yi Hua menyimpan sisa roti yang belum tersentuh di atas meja. Siapa sangka itu akan berguna, padahal Yi Hua hanya tak ingin membuang-buang makanan.
Ping berseru senang sambil menggigit roti daging yang sudah mendingin itu. "Terima kasih, kakak."
Ayah Ping juga menundukkan kepalanya untuk berterima kasih pada Yi Hua. Sepertinya Ayah Ping terkesan tak ingin ikut campur. Apalagi pria tua itu hanya memperdulikan keselamatan Ping semata.
"Terima kasih, Nona ... Maksud saya Tuan," ujar Ayah Ping yang selalu lupa tentang hal yang Yi Hua tegaskan.
Namun itu membuat kemarahan para pedagang itu tersulut. "Bagaimana bisa kau menjadi begitu serakah? Kau pasti ingin keluar dari tempat ini dengan selamat sendirian!"
Sekarang mereka membicarakan tentang serakah dan sebagainya? Lebih baik kau bicara pada lututmu sendiri, siapa tahu lututmu bisa mengembalikan isi otakmu kembali. Sehingga otakmu tak lagi menginap di lutut. Itulah kata-kata mutiara yang dipupuk Yi Hua di kepalanya. Ia hanya tak ingin mengutarakannya secara langsung karena takut dosa.
Yi Hua mengangguk. "Tentu saja saya ingin keluar dengan keadaan selamat. Saya masih harus melepaskan sapi tetangga yang saya pelihara di dalam lemari."
"Itu tidak masuk akal. Kau mempermainkan kami!" teriak pedagang itu dengan marah.
Namun Yi Hua menepuk tangannya beberapa kali. "Tepat. Itu tidak masuk akal. Kalian melihat bahwa saya hanya mendapatkan satu buah jamur. Jelas-jelas Anda semuanya melihat bahwa saya menggunakan semua jamur itu untuk mengobati Paman. Sisanya ada pada Jenderal Wei, dan juga sudah dipergunakan. Jika ada yang bisa saya sembunyikan, maka itu adalah arwah-nya Si Jamur ini."
Lalu, mereka tak bisa mengatakan apa-apa lagi. Hal itu membuat Wei Qionglin mengagumi Yi Hua yang sangat pandai menipu orang lain dengan kata-katanya. Jujur saja Wei Qionglin jarang ada di Pengadilan Tinggi Kerajaan Li karena dia bertugas di luar Pusat Kota.
Akan tetapi, ia sering mendengar para Pejabat yang mengeluh tentang Yi Hua yang sekarang cukup pandai menjelaskan dan menghina mereka sekaligus.
Wei Qionglin yakin jika Yi Hua ingin mendapatkannya, dia pasti punya ide tentang itu. Akan tetapi, Yi Hua tak bisa melakukannya. Itu semua karena jika sampai tentang jamur ini terdengar hingga keluar, maka Lembah Debu mungkin tak akan jadi tempat ditakuti lagi. Bagaimana pun lebih aman jika tempat ini terus tersembunyi. Sebab, ada banyak rahasia di sana.
Termasuk tulang-belulang yang tak terhitung jumlahnya. Siapa yang bisa berpikir positif pada sisa-sisa pembantaian seperti itu?
__ADS_1
Seharusnya sekarang Yi Hua keluar dari lubang ini, dan pulang. Bukankah tugasnya hanya mengantar Jenderal Wei untuk bertemu Shen Qibo? Dia juga sudah menemukan jamur penawar itu, sehingga Yi Hua jelas tak punya kepentingan di sini.
Para pedagang itu kehabisan kata-kata, sehingga mereka melanjutkan penggalian mereka pada dinding gua. Kali ini Yi Hua tak memperdulikannya. Wei Qionglin juga mungkin sudah sangat malas untuk mengatasinya. Ia hanya tak ingin terbawa emosi hingga membuat para pedagang itu terluka.
Dan, ...
TUK!
Batu terpental menuju ke arahnya sehingga Yi Hua memasang penutup kepalanya seperti biasanya. Ia sudah memberi tali untuk penutup kepalanya agar tidak menghilang, meski Yi Hua lupa. Orang-orang ini begitu semangat untuk menggali tempat ini, dan Yi Hua tak perduli.
Akan tetapi, ...
Baru saja Yi Hua ingin melesat seperti kebiasaannya setelah berhutang di warung, suara teriakan dari seorang pedagang membuat langkah Yi Hua terhenti. Bukan karena dia perduli pada orang itu, tetapi lebih pada apa yang dirinya teriakan.
"Ada kerangka di sini ..." Teriakan itu membuat para pedagang lainnya juga ikut panik dan menjauhi dinding lubang.
Yi Hua menerbangkan jimat-jimatnya ke udara. Matanya menangkap gambar aneh yang sebenarnya adalah tulisan. Yi Hua mengerutkan keningnya. Mengapa dia seperti mengenal tulisan ini?
Yi membacanya di dalam hati, "Kehancuran Kerajaan Li."
Apa?
"Bagaimana kau bisa membacanya?" tanya Xiao dengan nada datar. Seolah ini persoalan yang sangat serius. Entah yang mana lebih serius. Arti dari tulisan itu atau bagaiamana Yi Hua bisa membacanya.
"Membacanya," ujar Yi Hua apa adanya.
Awalnya Yi Hua tak menyadari gambar-gambar ini karena matanya nyaris buta. Akan tetapi, setelah matanya bisa melihat kembali, ia segera tahu bahwa tempat ini adalah terowongan baru yang pernah ia capai di lubang Lembah Debu. Ia belum pernah ke terowongan ini sebelumnya. Juga, ...
Xiao melanjutkan lagi, "Itu adalah sejenis sandi yang sering digunakan oleh Kerajaan Li. Biasanya hanya orang-orang terpelajar yang mengetahuinya. Aku tak percaya jika Yi Hua juga bisa membacanya, karena sandi ini hanya segelintir orang yang tahu. Bahkan pejabat kerajaan pun tak banyak yang mengetahuinya. Kalau kau tidak percaya, tanyakan pada Jenderal Wei. Orang seperti dia biasanya mengetahui sandinya."
Jika Yi Hua tak mungkin mengetahuinya, apa dirinya sendiri, maksudnya, dirinya di kehidupan sebelumnya yang mengetahuinya.
"Jenderal Wei, dindingnya ..." Tunjuk Yi Hua pada dinding yang berhiaskan gambaran aneh.
Itu seperti dikeruk dengan benda tajam pada dinding batu. Juga, benda itu harusnya sangat kuat hingga bisa mengeruk gadis yang cukup dalam di dinding gua. Bahkan meski gambar-gambar aneh ini ditulis agak lama, tetapi apa yang tertulis di sana tak mudah hilang oleh air dan lumut.
Wei Qionglin meraba dinding itu untuk memastikan, "Apakah gambar-gambar ini bercerita tentang rencana?" tanya Wei Qionglin dengan wajah pucat.
Pertanyaannya adalah ... Siapa?
"Beberapa tahun yang lalu, Pendeta Buta, Shen Qibo melakukan pembantaian besar. Satu kota dihabisi dalam satu malam," ujar Yi Hua yang mulai menilai apa yang sebenarnya terjadi.
Jika ada yang menuliskan tentang rencana ini, maka tak mungkin kejadiannya sesudah pembantaian. Itu semua karena tak ada orang lagi di kota mati ini, dan kota ini sudah menjadi Lembah Debu. Jika memang ada rencana ini, maka itu direncanakan sebelum Shen Qibo melakukan aksi gilanya.
Mendadak Yi Hua berpikiran sesuatu yang cukup buruk. Apalagi Shen Qibo adalah salah satu anggota dari Tentara Malam.
Ingatkah kalian bahwa Tentara Malam adalah orang-orang yang melakukan pekerjaan kotor untuk melindungi kerajaan. Itu seperti tak ada yang tahu identitas mereka, dan hidup mati mereka pun tak ada yang tahu. Tak ada yang tahu nama asli mereka, dan bisa jadi mereka mati tanpa nama asli mereka. Itu adalah suatu kewajaran.
Contohnya seperti seseorang anggota Tentara Malam yang tengah menyamar. Menggunakan nama lain dan identitas lain. Lalu, dia mati dalam misinya, maka dia akan mati sebagai identitasnya dalam penyamaran. Tak ada yang akan mengetahui tentang itu semua.
Jika Yi Hua tak pernah bermimpi tentang masa lalu Yue Yan dan Shen Qibo, maka Yi Hua juga tak akan tahu jik Shen Qibo adalah anggota Tentara Malam. Atau lebih tepatnya mantan anggota Tentara Malam.
Yi Hua mengusap permata merah di telinga kirinya. "Jika aku benar, mungkin ini adalah suatu rahasia besar kerajaan," ujar Yi Hua ketika melihat pada mayat yang ada di dalam dinding.
Wei Qionglin mengikuti arah pandangan dari Yi Hua. Mungkin pria ini juga memahami apa yang Yi Hua pikirkan. Hanya saja ini agak tak bisa ia terima saat memikirkannya. Bagaimana bisa semua kebenciannya pada Shen Qibo terlihat tak berarti apa-apa lagi saat melihat semua kemungkinan ini?
Wei Qionglin mendadak mengingat sesuatu. "Saat itu ... Setelah kematian Puteri Li Wei, muncul sebuah ramalan ... Entah dari siapa."
Ramalan? Apakah ini dari Yi Hua?
Xiao tak membenarkan tentang itu, "Jika itu tentang Yi Hua, maka kau salah besar. Saat perselisihan besar di Kerajaan Li, Yi Hua bahkan masih sangat kecil. Mungkin Yi Hua saat itu hanya anak yang sering mengusap ingusnya hingga menempel di hidung."
"Memangnya apa isi ramalan itu, Jenderal Wei?" tanya Yi Hua untuk memastikan. Jelas dia kurang informasi tentang ini semua.
Apalagi saat semua masalah melebar panjang lebar kali tinggi, tetapi ujung-ujungnya kembali lagi pada Puteri Li Wei. Seolah semuanya saling berkaitan di sana.
"Raja yang salah. Yang berdiri di tahta bukanlah seseorang yang diberkahi Dewa. Kau tahu bukan bahwa dahulu penurunan tahta Kerajaan Li itu berdasarkan ramalan dari Dewa," jelas Wei Qionglin yang mendadak pusing.
Jadi, semua masalah ini bermula dari sejarah masa lalu Kerajaan Li yang kelam. Bahkan setelah Puteri Li Wei mati, kesialan tetap datang di Kerajaan Li.
"Apa Yang Mulia Raja Li Shen ..." Yi Hua menggantungkan kalimatnya hanya agar dia tak menyebutkan sesuatu yang tak seharusnya ia sebut.
__ADS_1
Wei Qionglin menggelengkan kepalanya. "Bukan. Ini adalah tentang Raja sebelumnya. Ayah dari Yang Mulia Raja Li Shen."
Hehh??
Kerajaan memerintahkan Wei Qionglin untuk menyelamatkan para penduduk. Akan tetapi, di satu sisi kerajaan jugalah yang memiliki rencana untuk melenyapkan para pengkhianat kerajaan, yaitu para penduduk ini. Lalu, dengan baiknya, muncul satu pelaku yang bertanggung jawab untuk ini semua.
Shen Qibo. Ia menutup matanya untuk membutakan dirinya pada dunia, karena dunia juga buta padanya.
Apakah itu mungkin? Lalu, untuk apa kebencian semua orang terhadap Shen Qibo ini?
"Jika ada yang bisa meramal itu semua, mungkin saja itu Ling Xiao. Itulah mengapa dia diusir dari Kerajaan Li," cetus Wei Qionglin pada akhirnya.
Ling Xiao ... Yi Hua pernah bertemu sekali dengan Ling Xiao, dan itu bukanlah pertemuan yang baik. Dia bahkan diberi minuman untuk membuka wujud aslinya. Seingat Yi Hua, An mengatakan jika Ling Xiao tinggal tak jauh dari Lembah Debu. Pria itu menyendiri sambil melukis.
Lagipula, ... Siapa orang yang diramalkan sebagai pewaris Kerajaan Li yang sebelumnya pada waktu itu? Mengapa ada banyak perselisihan karena ramalan itu? Sungguh Yi Hua tak bisa menyimpulkan apa-apa.
BRAK!
Yi Hua mendengar suara gebrakan keras dari arah Utara. Ia menyentuh dinding itu untuk merasakan getarannya. Lubang di dalam Lembah Debu ini seperti labirin, sehingga ada banyak jalan di sana.
Akan tetapi, dari getaran tanah Yi Hua bisa tahu jika pertarungan itu cukup dekat.
Apakah ini sudah waktunya untuk mengakhiri pertarungan antara An dan Shen Qibo?
Wei Qionglin menghela napasnya sebelum berkata, "Kita keluar dari sini."
"Menutupinya?" tanya Yi Hua dengan wajah yang sangat datar.
"Yi Hua, ..."
Yi Hua menuju pintu lubang yang berhasil mereka buat sebelumnya. Mereka harus segera keluar karena mungkin pertempuran akan membuat dinding lubang bawah tanah ini goyah. Tempat ini mungkin akan segera tertutup selamanya. Begitu juga rahasia di dalamnya.
Diungkit pun hanya akan membuat banyak perselisihan
BRAK!
Dinding batu di sekitar mereka tiba-tiba roboh. Hal itu membuat muncul kepanikan baru. Ditambah lagi dengan seseorang yang tampak keluar dari tumpukan batu. Sosok itu jelas bukan manusia, karena terlihat baik-baik saja ketika terbanting.
Tak lama seseorang lagi muncul dari arah gelap. Itu adalah sosok dengan pakaian serba hitamnya. Sekali melihat pun Yi Hua sudah tahu siapa yang datang.
Shen Qibo nampak tersenyum sambil menyeka darah hitam yang mengalir dari wajahnya. Dia sekarang bukanlah manusia lagi. Semua energi buruk akibat dari kebencian orang-orang yang dibunuhnya membuatnya menjadi pendosa. Sehingga menyembuhkan diri baginya adalah sesuatu yang mudah.
"Tuan Shen, bukankah sudah saatnya Anda berhenti?" tanya Yi Hua sambil memberikan penghormatan.
Shen Qibo menatap lilitan kain usang yang mengikat lengannya. Yi Hua menduga jika kain itulah yang sering diikatkan Shen Qibo ke matanya. Akan tetapi, karena menyamar sebelumnya, Shen Qibo melepaskan kain itu dari matanya.
"Kau mengenali aku?" tanya Shen Qibo dengan senyum di wajahnya.
Yi Hua mengangkat bahunya. "Seseorang yang mengaku pemandu, dan mengenal Lembah Debu dengan baik. Anda juga memiliki warna kulit yang berbeda di bagian kelopak mata. Itu sudah menunjukkan bahwa bagian tersebut sering tertutupi. Apalagi Anda juga tak terbiasa dengan cahaya matahari yang mengenai mata, padahal hari ini tak begitu terik."
Ia bahkan sudah tahu pria pemandu itu adalah Shen Qibo.
"Mata Peramal Yi sangat teliti," balas Shen Qibo sambil melilitkan kain lusuh itu untuk menutupi kedua matanya lagi.
"Anda sengaja menjadi pemandu hanya agar tak ada korban lagi, bukan? Bagaimana pun Yue Yan masih membunuh siapa saja yang masuk ke Lembah Debu," tebak Yi Hua.
Shen Qibo lagi-lagi mengangkat bahunya. "Saya takut jika Peramal Yi terlalu berpikiran baik tentang saya."
Shen Qibo hanyalah orang yang hidup dengan seluruh rasa bersalah dalam kesehariannya.
"Saya bukanlah orang yang baik," ucap Shen Qibo dengan nada yang sangat pelan.
Sejatinya, jika ada satu hal yang membuat Shen Qibo tetap hidup sampai sekarang, itu adalah Yue Yan. Pria itu kehilangan semua hal dalam hidupnya karena Shen Qibo, sehingga dendam adalah hal yang tersisa dari hidupnya. Ini sangat sederhana, tetapi dalam hidup ini hanya ada satu dari seribu orang yang bisa kau sebut sebagai benar-benar seorang teman.
***
Selamat membaca.
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran yang mendukung apabila kalian kurang kerjaan. Mari bertemu di chapter selanjutnya.
Adios~
__ADS_1