
Cerita ini hanya berdasarkan pemikiran author. Setiap elemen di dalam cerita tidak mengambil dari kehidupan asli atau apapun. Ini murni khayalan tinggi author-nya yang mungkin kebanyakan membaca cerita Naga Terbang, Sihir-sihiran, sampai sapi yang bisa terbang.
Itu tak melepas kemungkinan jika ada kesamaan dengan cerita lainnya. Oleh karena itu, mohon untuk dipandang dengan bijak. Juga ... Apapun elemen di dalam cerita ini bukanlah fakta. Tidak ada penelitian yang seperti dijelaskan dalam cerita. Semuanya hanya berdasar teori cocoklogi.
Jika tak nyambung, berusaha disambungkan. Biar apa? Yah, biar jadi ceritanya.
***
"Jadi, kalian ingin berkata bahwa kita sekarang terkubur di rongga tanah?" tanya Yue Yan histeris.
Jadi, sekarang Yue Yan dan yang lainnya masih dalam posisi yang sama. Mereka saling bertatapan, dan berharap jika salah satu dari mereka bisa menghancurkan keputus-asaan ini. Sayangnya, tak ada yang berniat menyudahinya.
Ling Xiao menghela napasnya. "Sebenarnya kita bisa keluar dari sini dengan perpindahan seperti sebelumnya. Namun ... Kita kekurangan orang."
Yue Yan merasa kepalanya menjadi gatal. "Jika itu Si Iblis Kehancuran, Hua Yifeng, dia tak akan ragu meninggalkan kita! Kekasihnya tak ada bersama kita, maka dia tak akan perduli pada kesejahteraan orang lain," teriaknya histeris.
Benar.
Pecahan dari Lingkaran Mawar masih ada di tangan Wei Wuxie. Pria itu dengan cekatan menyimpan kembali Lingkaran Mawar saat mereka hampir terjatuh. Dan masalahnya adalah ada alat dan bahan, tentu saja yang diperlukan ialah pengolahan.
Bagaimana mereka menggunakan Lingkaran Mawar yang jelas-jelas adalah senjata spiritual?
Benda ini memiliki Tuan-nya sendiri. Ingatlah senjata spiritual tak bisa dikendalikan sembarangan. Karena ketika senjata spiritual diciptakan, diperlukan ikatan jiwa senjata dengan pemiliknya. Sehingga pemiliknya pun baru bisa menggunakan senjata itu jika dia bisa mengendalikannya.
Sayangnya, pemilik Lingkaran Mawar yang asli sudah mati*. Hua Yifeng bisa menggunakannya karena Hua Yifeng kuat. Itulah yang Yue Yan pikirkan.
^^^*Yue Yan tidak tahu jika Yi Hua itu Li Wei. Jadi, narasi ini diambil dari sisi cerita Yue Yan. Lingkaran Mawar itu sarung pedangnya Hua Yifeng, tetapi dia mengakui Li Wei sebagai 'Tuan'nya juga. Sehingga hanya dua orang yang bisa menggunakan "Pedang Li Wei" dan "Lingkaran Mawar", yaitu Hua Yifeng dan Yi Hua (Li Wei). Itu jika ada yang lupa.^^^
Di tengah suara kacau Yue Yan itu, Huan Ran melihat Li Shen menarik pedangnya. Pria itu tak mengatakan apa-apa. Akan tetapi, Huan Ran tahu pria itu akan pergi menjelajahi celah retakan tanah ini. Tentu saja untuk mencari Selir Qian.
"Yang Mulia, dalam keadaan seperti ini kita tak bisa berpisah. Mohon Yang Mulia tidak membahayakan diri sendiri," ujar Huan Ran sambil memberikan penghormatan.
"Perdana Menteri Huan menganggapku lemah?" tanya Li Shen dengan rahang mengeras.
Ia sangat benci diremehkan.
Karena menjadi Raja di usia muda, Li Shen seringkali mendengar opini publik yang mengatakan jika kepemimpinannya lemah. Kerajaan Li yang dahulu besar, makmur, dan maju kini hanya sebuah Kerajaan lemah. Bahkan dalam Pengadilan Tinggi, para Tetua Bangsawan dan Pejabat meminta adanya sistem Dua Perdana Menteri karena 'tiang utama' kerajaan lemah.
Itu adalah coretan penuh hina untuk Li Shen. Walau dengan pilu ia membenarkan itu semua.
"Hamba memohon ampun atas kelancangan hamba, tetapi hamba tak pernah menganggap Yang Mulia lemah. Mohon Yang Mulia tidak salah mengartikan," lanjut Huan Ran dengan taat, tetapi masih dengan gaya yang biasanya. Tetap tenang dan datar.
GRRR!!!
Yue Yan yang mengamati pembicaraan kedua orang itu mendadak fokus lagi. Ia menempelkan telinganya ke bagian dinding tanah yang agak lembab. Hal tersebut menarik perhatian Huan Ran.
"Apa sekarang kau bisa berbicara dengan cacing juga?" tanya Huan Ran yang melihat Yue Yan dalam posisi seperti menguping di dinding tanah.
"Ada bunyi keras dari tanah," jawab Yue Yan yang kali ini serius.
Apa tanah membelah lagi?
Itu berarti bahaya bagi mereka. Bisa-bisa mereka tertimbun di sini. Sehingga Yue Yan dengan cepat berlari menuju Huan Ran. Setidaknya jika berlari dengan Huan Ran, ia bisa meminta diselamatkan. Karena meski datar, tetapi Huan Ran dan Yue Yan cukup lama dalam perjalanan yang sama. Walau mereka kehilangan dua orang sekarang, yaitu Liu Xingsheng dan sekarang Yi Hua.
Yue Yan mengajak pria itu melarikan diri melalui retakan tanah di depan mereka. Hanya berharap jika retakan tanah itu tidak berakhir buntu. Huan Ran juga tak memberontak, karena situasi memang berbahaya.
Jika buntu, maka hidup mereka juga hanya sampai di situ.
"Bukan gempa lagi." Jenderal Hantu angkat bicara.
Yue Yan melirik Jenderal Hantu yang hanya terlihat kedua matanya.
Ling Xiao menganggukkan kepalanya untuk membenarkan. "Itu adalah ..."
BAMM!!!
Belum selesai Ling Xiao bicara, bagian dinding tanah di sebelah kanan mereka terbelah. Mereka berusaha melindungi mata dan wajah mereka dari hempasan tanah dan batuan kecil. Hempasan angin juga ikut membuat mereka mundur beberapa langkah.
Tak lama setelah debu turun kembali, sosok tinggi terlihat dari sana. Sosok tinggi yang kali ini dengan rupa yang berbeda. Biasanya sosok ini akan tampil seperti seorang remaja muda yang aktif dan jahil, sekarang dia tampil dengan pakaian serba hitamnya.
Suara denting perak terdengar dari setiap langkahnya. Rambut yang lurus dan panjang, dan tatapannya yang tegas. Belum lagi dengan aura kekuatannya yang membuat orang lain takut. Ada garis merah di bawah mata kirinya, seperti darah yang menggenang di sana. Seperti pria itu meneteskan darah dari matanya, tetapi darah itu abadi di wajahnya.
Wujud asli dari Hua Yifeng.
...(Seperti biasa ... Nyolong di Pinterestš¤£. Moga bisa mendeskripsikan si Hua Yifeng ya)...
"Dimana Yi Hua?" tanya pria itu dengan pedang Li Wei yang ada di tangannya.
Suasana di sekitar mereka terasa mencekam. Yue Yan merasa pernapasannya tercekik tiba-tiba. Ia tak bisa bernapas dengan baik. Begitu juga dengan Li Shen dan Wei Wuxie. Walau yang lebih parah ialah Yue Yan. Yue Yan bahkan terduduk di tanah dan memegang lehernya. Berharap rasa mencekik itu hilang.
Sedangkan Ling Xiao dan Huan Ran masih tetap tenang.
"Hentikan itu, Hua Yifeng!" perintah Ling Xiao dengan tegas.
Namun Hua Yifeng mengarahkan kekuatannya pada Huan Ran, dan mau tak mau Huan Ran menghindar dengan cepat. Sebelum Hua Yifeng menghancurkan tubuhnya dengan serangan itu. Tak ada yang mengerti mengapa Hua Yifeng mendadak menyerang Huan Ran.
Yang mereka tahu ialah iblis tetaplah iblis. Pria ini lebih berbahaya dibandingkan gempa susulan.
Meski Huan Ran dapat menghindar, tetapi ia tak bisa menahan kekuatan Hua Yifeng sepenuhnya. Pria itu mendapati bahwa dirinya memiliki luka gores panjang di bahu kanannya. Angin dari serangan Hua Yifeng membuat sobekan luka di kulitnya. Itu pasti pedang Li Wei!
"Aku tak perduli apa rencana sialan-mu, tetapi lihat yang kau lakukan," ucap Hua Yifeng dengan nadanya yang dingin. Sangat kontras dengan aura kekuatannya yang panas.
Darah hitam tampak meliuk turun dari pergelangan tangan kanan Huan Ran yang tersayat. Akan tetapi, Huan Ran masih tenang seperti biasanya. Walau tangannya mengepal dengan kuat.
"Apa maksudmu? Ku pikir dengan kekuatan iblismu kau bisa menemukan dimana Peramal Yi?" ejek Huan Ran yang memicu masalah.
__ADS_1
Huan Ran kembali berucap. "Atau ... Kekuatan Tengkorak Putih berhasil mengacaukan kekuatan busukmu? Tak ku sangka kau lemah!"
Jadi, sekarang mereka berada dalam lingkaran kekuatan Tengkorak Putih. Hua Yifeng tak bisa mengeluarkan kekuatannya karena ini bukan wilayah kekuasaannya. Di dalam wilayah kekuasaan Tengkorak Putih, semua kekuatan dilemahkan dengan ilusinya.
Hua Yifeng bisa saja mengeluarkan kekuatannya, tetapi akibat buruknya adalah orang di sekitar mereka bisa terkena dampaknya. Seperti yang dialami Li Shen, Wei Wuxie, dan Yue Yan sekarang.
Dua kekuatan yang beradu akan berakibat buruk. Hua Yifeng sudah mencoba mengeluarkan kekuatannya, dan malah seperti menembak panah di wilayah yang bisa memantulkan anak panah. Itu akan menyakiti manusia biasa.
SSIIIINGGG!
Akibat lonjakan kekuatan Hua Yifeng, Yue Yan mendadak merasakan telinganya berdenging. Ia bisa mendengar suara panik dari para ular miliknya. Meski begitu, pandangan Yue Yan mendadak berganti-ganti.
Ia melihat sesuatu yang tak biasanya ia lihat.
Seolah dinding di sekitarnya berpindah-pindah, dan saat Yue Yan memejamkan matanya ... Pandangannya menjadi lebih jelas.
Ini aneh! Bagaimana bisa ia melihat lebih jelas saat menutup mata dibandingkan saat membuka mata?
Yue Yan menyadari sesuatu!
Ia pernah ingat saat Shen Qibo, yah ... Si Pendeta Buta. Pria itu saat mereka masih kecil, Shen Qibo pernah berkata padanya jika ia lebih suka menutup matanya dibanding membuka matanya.
Awalnya Yue Yan pikir itu karena saat Shen Qibo membuka mata ia melihat kesakitan dan luka di sekitarnya. Itulah mengapa Shen Qibo memilih menutup matanya terus-menerus.
Namun ia mengerti sekarang ...
"Aku melihat ... Yi ... Hua!" teriak Yue Yan dengan nada tercekat.
Saat ia menutup matanya ada kilasan seperti ia bisa melihat di bagian ruangan yang lain. Walau ia tak tahu dimana tempatnya. Ia hanya bisa melihatnya seperti 'ingatan' terhadap mimpi. Dirinya bisa melihat apa yang ia cari di otaknya.
Ia yakin saat Shen Qibo memikirkan tentang apel, maka ia bisa melihat semua 'apel' di dunia ini. Walau dia tak tahu dimana saja apel yang bisa dia lihat. Begitu juga jika dia tahu tentang rumor tentang ini dan itu ... Maka, dia bisa melihat kejadian, walau ia tak tahu kapan itu terjadi.
Dan, Yue Yan mengalami hal yang sama ... Yang ia lihat ialah Yi Hua yang terbaring di sebuah ranjang batu yang berlumut. Di sekitarnya ada banyak gulungan kertas dan lemari berisi gulungan yang sama. Itu adalah tempat kosong dan Yue Yan yakin itu berada di bagian belahan tanah yang lain.
Masalahnya adalah Yue Yan tak tahu itu dimana.
Meski begitu, mengapa sekarang ia memiliki kemampuan ini? Itu adalah kemampuan dari Pendeta Buta, Shen Qibo, orang yang Yue Yan benci.
Mengapa sekarang Yue Yan memiliki kemampuan yang sama?
"Aku kembalikan, Yue Yan. Terima kasih. Akhirnya, aku bisa mengembalikannya," ucap Shen Qibo sebelum Pendeta Buta itu hancur seperti debu.
Kenapa Shen Qibo? Setelah kau mencegah aku untuk mati sebelumnya, mengapa kekuatanmu beralih padaku?
Yang dikembalikan Shen Qibo saat itu hanya kain penutup matanya. Sekarang Yue Yan ingat jika kain penutup mata itu merupakan kain yang diikatkan Yue Yan saat Shen Qibo terluka. Itu saat mereka masih kecil.
Saat itu hanya Shen Qibo yang menjadi temannya. Pria itu berteman dengan Yue Yan walau Yue Yan aneh. Yue Yan yang bisa berbicara dengan ular dan tak memiliki orang tua. Itulah yang membuat orang lain sering takut padanya.
Dan ... Sejauh yang Yue Yan ingat, jauh di dalam hatinya Yue Yan ingin hidup dengan normal. Ia ingin menjadi pemuda biasa dan memiliki teman yang biasa. Shen Qibo yang bisa melihat keinginan dan hati orang lain bisa melihat itu.
Itulah mengapa ia berteman dengan Yue Yan, karena bagi Yue Yan 'normal' berarti memiliki teman. Saat Shen Qibo mati pun ia juga 'memberikan kembali' teman untuk Yue Yan.
Ini sialan sekali!
Selain kain itu Shen Qibo juga memberikan kekuatannya. Walau kekuatan itu berhasil Yue Yan bangkitkan setelah dipicu oleh aliran kekuatan Hua Yifeng. Ia bisa menggunakan mata itu, walau tak sekuat pandangan Shen Qibo.
Hua Yifeng meredakan kekuatannya.
Yue Yan membuka kedua matanya, "Aku bisa menemukan dimana Yi Hua. Oleh karena itu, berhenti memaksa kekuatan Anda, Tuan Iblis Kehancuran."
Lalu, pupil mata Yue Yan berubah menjadi kebiruan seperti bulan purnama yang tenang. Meski tak ada warna jelas untuk mendefinisikan warna bulan, tetapi warna mata Yue Yan seperti bulan yang terang di kala sedang penuh.
..."Jika ada satu saja orang yang perduli padamu di dunia ini, maka kau sebenarnya beruntung."...
...***...
Beberapa saat sebelumnya ...
Yi Hua didera rasa pusing ketika jarum mengenai dahinya. Rasa panas dan perih mengenainya, ia merasa seperti demam. Meski begitu, bibir Yi Hua terasa dingin.
"Kau keracunan, Hua," ujar Xiao dengan nada yang tak jelas.
Di tengah lemahnya kesadaran Yi Hua ini, ia berbisik untuk memberi perintah pada Xiao. "Pikirkan penawarnya. Aku akan memberi 'tanda' pada orang yang mungkin menemukanku."
Ia yakin pasti ada yang akan mencarinya saat mereka terpisah.
Hanya saja ... Apa Yi Hua pantas berharap? Atau apa orang itu akan tahu tanda yang Yi Hua tinggalkan.
"Kabar buruknya ialah racun ini tidak ada penawarnya," ucap Selir Qian dengan nada yang tenang.
Mendadak Yi Hua ingin tersenyum. Bukan karena bahagia, tetapi karena dia merasa heran dengan nasibnya sendiri. Ia bahkan kehilangan koneksi dengan Xiao. Dirinya tak bisa mendengar ucapan Xiao lagi.
Ada rasa dingin di telinganya. Itu berarti darah mengalir dari dalam telinganya.
"Yi Hua, kau harus mengerti jika aku melakukan ini untuk Liu Xingsheng. Kau sudah membaca buku yang aku tulis, bukan?" Selir Qian berucap dengan nada sedih.
Yi Hua merasakan pandangannya semakin gelap. "Liu ... Xingsheng... Mati. Mayatnya." ucap Yi Hua yang sebenarnya bingung.
Mengapa ia berbicara tak jelas? Ia bahkan tak bisa menyusun kalimatnya dengan baik.
"Dia tidak mati, Yi Hua. Aku berhasil," ucap Selir Qian sambil menunduk ke arah peti yang berisi tengkorak.
Tatapannya tak terbaca atau Yi Hua yang tak mengerti dengan tatapan Selir Qian. Entahlah.
Akan tetapi, apa maksudnya berhasil?
__ADS_1
Jadi tengkorak siapa yang ada di dalam peti itu? Apakah Liu Xingsheng atau orang lain? Kemudian, siapa Liu Xingsheng yang mereka kenal ini? Apa hubungannya dengan Tengkorak Putih, Bao Jiazhen?
Atau Liu Xingsheng ini adalah Bao Jiazhen?
Yi Hua tak bisa menyimpulkan yang mana yang benar.
Pendengarannya semakin memburuk. Akan tetapi, Selir Qian berusaha mengubur semuanya di bawah tanah ini. Tempat ia membuat obat, serta semua catatan. Termasuk Yi Hua yang sudah membaca catatannya.
"Aku mencari semua obat yang paling mujarab. Hanya demi Liu Xingsheng, dan akhirnya ... Iblis Kehancuran memberiku ide. Yaitu, ... Cangkang Manusia. Tidak seperti Iblis Kehancuran yang gagal menghidupkan Putri Li Wei, aku berhasil! Walau harus menggunakan darah istimewa Klan Bao," ucap Selir Qian sambil menatap kasihan pada Yi Hua.
Selama ini ... Gadis itu ... Yah, semenjak Selir Qian tahu Yi Hua adalah seorang gadis, ia menyimpan kekaguman padanya. Dimana Yi Hua adalah seorang gadis yang kuat dan lebih cerdas.
Namun ... Yi Hua sangat murni, seperti selalu ingin membantu orang lain. Membuat Selir Qian muak pada dirinya sendiri karena melibatkan Yi Hua pada semua masalah.
Akan tetapi, ... Selir Qian tak bisa berhenti di sini.
Liu Xingsheng adalah Cangkang Manusia pertama yang berhasil dan hidup layaknya manusia biasa.
"'Dia' memberitahu jika organ tubuh Liu Xingsheng pasti tidak akan berjalan layaknya manusia biasa. Tubuh Liu Xingsheng pernah mati beberapa saat. Pasti ada yang berbeda dari tubuh manusia asli. Itu membuatku takut. Bagaimana jika ada yang bermasalah di tubuhnya? Bagaimana jika Cangkang Manusia ini tak benar-benar sempurna seperti manusia pada umumnya. Sehingga aku berusaha mencari obat agar Liu Xingsheng terus kuat. Tidak sakit seperti sebelumnya," jelas Selir Qian yang membuka Yi Hua pada sesuatu yang ada di sekitar mereka.
Selir Qian terus berbicara seperti mencurahkan semuanya pada seorang teman. "Lalu, aku berterima kasih padamu karena telah menemukan Cangkang Manusia yang menyamar sebagai pengasuh Pangeran Li Quon. Apakah hasil percobaanku berhasil keluar? Aku mengurung mereka di dalam Makam Keluarga Wei! Di sana tempat tertutup! Aku tak mau membunuh Pangeran Quon. Aku bukan Bao Jiazhen yang bisa mengendalikan Tengkorak Berjalan. Aku bukan iblis, yah ... Setidaknya tubuhku masih manusia," ujar Selir Qian dengan nada hampa. Entah menyindir dirinya sendiri atau tidak.
Yi Hua ingat itu. Sangat ingat. Itulah yang berhasil membuat Yi Hua terbebas dari penjara. Ia berhasil menyelamatkan Li Quon dan mendapat pengampunan Raja. Ia tak menyangka jika dari sana ia sudah terlibat dalam semua ini.
Lalu, wajah Selir Qian menjadi murung. "Kemudian, semuanya lebih buruk lagi. Entah bagaimana ada pihak lain yang juga mengikuti percobaan yang sama. Dimulai dari Pejabat Zhang Yi yang berusaha menghidupkan kekasihnya, Nona Fang Yin. Pejabat Rong Mingyu yang bahkan lebih keji lagi. Dia bisa melihat hantu dan berusaha melakukan pemanggilan jiwa. Itu lebih tak masuk akal lagi, karena bagaimana bisa dia menggunakan tubuh orang lain sebagai wadah dari kekasihnya? Dan, penari itu* ... Bagaimana bisa dia menjadi bahan percobaan, aku juga tak tahu. Aku mengetahui dari Yang Mulia jika ada banyak anak yang menjadi korban karena berusaha menguat penari itu kuat. Aku sangat ketakutan. Aku tak tahu bagaimana bisa mereka mengetahuinya? Seperti semua percobaanku bisa diketahui orang lain," jelas Selir Qian yang tampak ketakutan.
^^^*Penari itu maksudnya Wei Fei.^^^
Seseorang peneliti yang takut akan temuannya sendiri. Sungguh menyedihkan. Yi Hua bahkan tak bisa berhenti mengasihani Selir Qian.
Dia melakukan percobaan sekali dan berharap menyembunyikan hasilnya. Menyembunyikan itu bahkan sampai tak ada orang yang tahu perbuatannya. Akan tetapi, muncul orang yang sama sepertinya. Dan, ia takut jika penelitiannya akan membuat masalah di kemudian hari.
Selir Qian dihantui rasa bersalah setiap kali membicarakan keberhasilannya sendiri.
"Kemudian, aku mencoba memeriksa di makam Keluarga Wei ... Memeriksa hasil percobaanku! Apakah ada yang mencurinya atau tidak? Sehingga mereka bisa 'meniru' percobaanku. Namun lebih buruk lagi ialah ... Aku tak bisa mengendalikan Mayat Hidup. Mereka keluar dan membuat keributan di Pusat Kota. Dan ... Liu Xingsheng terluka parah karena itu. Itu salahku, Yi Hua! Apa kau tahu?! Itu salahku!" teriak Selir Qian pada Yi Hua yang sudah di ambang kesadarannya.
Ia benar-benar tak bisa menyimpulkan apa-apa. Hanya saja ... Pantas Liu Xingsheng mulai terlihat menjauhi Selir Qian. Di sana Liu Xingsheng mulai mengetahui jika kakaknya berkaitan dengan semua peristiwa buruk.
"Kemudian, Liu Xingsheng mulai mimpi buruk. Ia merasa seperti diikuti oleh sesuatu. Semua itu ia rasakan karena dia teracuni bubuk mayat. Itulah yang aku pikirkan. Namun siapa sangka akan seburuk ini. Aku dahulu mengambil darah Bao Jiazhen untuk obat Liu Xingsheng, dan Bao Jiazhen menjadi iblis karena dendamnya. Dan ... Iblis sialan itu membalasnya dengan hal yang sama. Ia mengambil jiwa Liu Xingsheng, seperti aku mengambil hidupnya," ujar Selir Qian dengan nada bergetar.
Tangisan Selir Qian membuat telinga Yi Hua berdenging keras. Ia tak bisa apa-apa lagi. Apa dia akan mati karena racun?
Siapa sangka ia bisa menyimpulkan semua masalah ini? Tapi kesimpulan ini adalah kenangan terakhirnya sebelum ia benar-benar mati?
Sialan!
"Harusnya aku tahu, Yi Hua! Klan Bao punya kekuatan mistis. Mereka bisa mendapat kekuatan dari Pohon Iblis, dan membangun kekuatannya. Mereka bisa hidup kembali menjadi iblis jika mereka memiliki tekat untuk meminjam kekuatan Pohon Iblis. Bao Jiazhen sialan itu berhasil menggunakan kekuatan Pohon Iblis. Bahkan ia menjadi sangat kuat, dan bisa membayangi hidup kami. Yi Hua, aku hanya ingin adikku hidup kembali. Tapi aku tak menyangka semuanya menjadi buruk," ucap Selir Qian dengan tangisannya yang pilu.
Selir ini terus bercerita di saat aku menghadapi sakitnya dari kematian! Bisakah Selir Qian memikirkan obat dari racun ini dibandingkan membahas masa lalu?!
Seperti yang Xiao pernah katakan pada Yi Hua sebelumnya, seburuk apapun masa lalu itu tak akan bisa diubah. Bukan berarti sejatinya semua kejahatan bisa dimaafkan. Apapun kesalahannya. Kejahatan tetaplah kejahatan.
Akan tetapi, jika orang lain bisa mengubah masa lalu agar tak berbuat salah maka itu bukan cobaan, tetapi ulangan!
Lebih penting dari segala ... Maafkanlah diri sendiri. Selalu ada jalan untuk kembali. Sayangnya Yi Hua tak bisa mengatakan apa-apa lagi.
Tangan Yi Hua tergeletak di atas ranjang batu yang berlumut. Entah sejak kapan ia berbaring di sana. Mungkin Selir Qian yang memapahnya dan membaringkan Yi Hua di sana.
Apa cerita Pangeran Penduka akan tetap diraih oleh Hua Yifeng? Seperti pada cerita sejarah masa lampau. Jika begitu takdir memang sangat sulit untuk diubah. Meski Yi Hua berharap, Hua Yifeng tak akan pernah melampiaskan semua kesedihannya pada dunia ini.
Kekuatan Hua Yifeng terlalu besar dan bisa merusak.
Jika ada yang bisa Yi Hua katakan sekarang dan pada siapa. Maka Yi Hua akan memilih mengucapkan satu kalimat pada Hua Yifeng. Maka itu adalah ...
"Aku ingin terlahir kembali dan terus mengenalmu."
Saat tubuh Yi Hua mulai mendingin karena jantungnya berhenti, suara keras terdengar di dinding tanah. Tanah berberai membentuk pintu baru. Pertanda telah dibuat jalan baru di retakan tanah itu. Sekaligus membuka jalan untuk ruang rahasia Selir Qian dan orang-orang yang baru datang.
Dan Yi Hua sudah tiada.
Yi Hua tahu banyak hal tentang masalah di sekitarnya, tetapi pengetahuan itu mungkin hanya bisa dia bawa mati.
Ironis.
***
Selamat membaca š
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
Bagaimana menurut kalian tentang chapter ini?
Semua misteri dan setiap kasus terhubung satu sama lainnya. Semuanya terungkap di sini. Apakah lega? Aku harap sudah karena semua orang bertanya-tanya, mengapa setiap kasus selalu terikat pada Yi Hua?
Tidak.
Bukan karena Yi Hua penyebabnya, tetapi Yi Hua terlibat di dalamnya. Dan itu juga membuat Yi Hua menemukan kembali kepingan ingatannya sebagai Li Wei. Sekaligus mengumpulkan sarung pedang, atau Lingkaran Mawar kembali.
Berarti ramalan Yi Hua asli itu terjadi di sini. Hanya saja ... Cara atau bagaimana terjadinya itu tak ada yang tahu. Dan, hebatnya Yi Hua bisa meramalkan itu, padahal Ling Xiao tidak bisa meramalkannya.
Apa itu berarti kekuatan spiritual Yi Hua asli lebih kuat dari Ling Xiao? Benar. Yi Hua adalah anak dari Dewa Phoenix, dia sebenarnya punya kekuatan. Hanya saja ... Dia tak bisa mengendalikan kekuatannya sendiri.
Karena Li Wei masuk ke dalam tubuhnya, dan Li Wei punya pengendalian diri yang baik, dia mulai bisa mengendalikan kekuatannya. Apalagi setiap kekuatan itu mulai bermasalah, Hua Yifeng selalu membantu Yi Hua.
Jadi, kesimpulannya adalah Yi Hua punya kekuatan yang menarik. Dia punya hidup yang menarik. Tapi dia tak memiliki orang yang 'menarik' di sekitarnya. Sehingga dia sendirian. Bahkan ayahnya sendiri menghindari Yi Hua, bukan?
Lalu, bagaimana selanjutnya?
__ADS_1
Entahlah.
Adios~