Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Cerita tentang Cangkang Manusia


__ADS_3

BRUAKH


Yi Hua melompat dengan gaya yang luar biasa dari dalam kediaman Putera Mahkota. Akan tetapi, dia tidaklah terlatih seperti pria pengawal sebelumnya. Pada akhirnya, ia tersungkur ke rerumputan dengan posisi yang sulit dijelaskan.


Proses kejatuhan itu ditinjau juga dengan adanya lekukan tanah terjal yang ada di sekitar kediaman Putera Mahkota.


Mengapa tak pernah ada yang membicarakan tentang lokasi kediaman Putera Mahkota yang berada di atas bukit kecil ini?


Akhirnya, Yi Hua berguling-guling seperti dalam adegan drama murahan, dan mendarat sampai tujuan. Batang pohon. Bahkan dia melompat tanpa ada ada tali bantuan, ataupun tempat mendarat yang baik. Sangat luar biasa.


Akibat dari pendaratan luar biasa itu, Yi Hua menyadari bahwa pinggangnya terasa berdenyut. Ia mungkin tak akan bisa tidur dengan posisi terlentang karena ini. Jangan lupa peliharaan yang mengungsi di telinga Yi Hua sebagai anting pun mengutarakan komentarnya akan kejadian menakjubkan itu.


"Aku memuji totalitas dirimu dalam menekuni peran sebagai Yi Hua." Dengan sangat menyebalkan, Xiao malah bertepuk tangan karena bangga atas pendaratan mulus dari Yi Hua.


"Aduh! Pinggangku rasanya seperti menabrak sapi," ucap Yi Hua yang berusaha bangkit dari tanah. Ia sepertinya tidak ingin meladeni Xiao, karena orang yang otaknya beres harusnya tak akan terpancing dengan makhluk aneh yang bahkan tak diketahui ada atau tidaknya otak.


"Aku tahu kau sedang menghinaku, Huahua. Akan tetapi, aku ini lebih tebal muka daripada yang kau kira."


Yi Hua hanya bisa memuji kebesaran langit karena terciptanya makhluk seperti Xiao.


Ia menatap pada prajurit yang sudah melaju mengikuti bekas tetesan darah. Akibat terpotong, tangan itu masih menyisakan darah di sana. Hal itu membuat Yi Hua berpikir bahwa ada untungnya dia memutuskan untuk memotong tangan Zi Si.


Para prajurit yang mengikuti lompatannya jelas tak melihat keberadaan Yi Hua. Itu karena mereka melompat dengan cara yang benar, sedangkan Yi Hua tidak. Beruntung tak ada yang sadar jika Yi Hua salah jalur.


Sambil memegangi pinggangnya, Yu Hua menuju ke arah larinya tangan itu. Akan tetapi, ketika sampai di sana Yi Hua hanya bisa menatap seorang pria tinggi yang menginjak tangan itu dengan santai. Beberapa prajurit mengitari di sekeliling pria itu untuk berjaga jika tangan itu bergerak kembali. Hal itu membuat Yi Hua hanya bisa mengerutkan keningnya.


Meski tanpa kemampuan, Yi Hua bisa tahu bahwa energi buruk dari tangan itu sangat kuat. Dari bentuk 'kemunculan'nya saja Yi Hua tahu bahwa ada begitu banyak kebencian yang dikirim melalui tangan ini. Semakin banyak kebencian dan duka, maka energi buruknya akan semakin kuat.


Lalu, pria ini memang bukanlah seorang pengawal biasa.


Pengawal itu kini menyadari kedatangan Yi Hua. Dia menusukkan pedangnya ke tangan itu untuk memakunya ke tanah. Lalu, tangan yang menggelepar itu terhenti seketika.


Setelah itu, pria tinggi itu segera melambaikan tangannya pada Yi Hua seolah mereka bukanlah kedua orang yang baru pertama kali bertemu. Padahal Yi Hua saja tidak mengetahui nama pria ini. Xiao busuk ini juga tak memiliki informasi yang bisa diberikan tentang pria ini.


"Apakah dia iblis?" tanya Yi Hua pada pria pengawal itu.


"Dia adalah makhluk kiriman."


Itu bukanlah pertanyaan, melainkan pernyataan. Pria itu mengerti apa yang terjadi saat ini. Ada begitu banyak jenis makhluk yang ada di dunia ini. Salah satunya adalah seperti tangan ini.


Seperti yang disebutkan. Tangan ini merupakan bentuk sihir yang dikirimkan oleh seseorang. Biasanya digunakan untuk menjaga, melindungi, atau bahkan menyakiti. Akan tetapi, yang paling banyak terjadi ialah menyakiti.


Itu bukanlah hal yang tak biasa jika seseorang mengirim suatu 'benda' ke kediaman seseorang hanya untuk menyakiti. Yi Hua tak bisa menyalahkan tentang pemikiran pria itu. Itu akan sangat relevan lagi jika disebut pengirimnya adalah musuh dari Kerajaan Li.


Membunuh Putera Mahkota adalah sesuatu yang paling sering dilakukan oleh musuh.


Namun ...


"Zi Si ... Apakah dia hanya dimanfaatkan? Lalu, apa aku membunuhnya?" tanya Yi Hua tak mengerti tentang Zi Si. Sebab, awalnya Yi Hua berpikir Zi Si adalah iblis.


Pria pengawal itu menarik senyumnya untuk menjawab pertanyaan Yi Hua.


"Dia adalah orang yang sudah lama mati. Cangkang manusia."


Konsepnya seperti mayat hidup berjalan. Tanpa ada pikiran, tanpa ada keinginan, dan tanpa ada jiwa lagi. Sehingga bisa dimasukkan sihir ke dalamnya, dan menjadi budak dari pengendalinya. Zi Si adalah sesuatu yang seperti itu.


Namun ia yang menjadi Yi Hua tanpa banyak informasi ini tak begitu mengerti tentang cangkang manusia ini. Lagipula, bagaimana makhluk seperti itu bisa tercipta. Akhirnya Yi Hua hanya bisa menatap seorang prajurit dengan wajah paling muda di antara prajurit lainnya.


Ketika ditatap pria itu langsung tertawa tak jelas sebelum menjawab.


"Dahulu kala ada seorang pria yang mencoba untuk menghidupkan kembali kekasihnya. Dia melakukan pemanggilan jiwa, dan meletakkan tubuh kekasihnya dalam lingkaran pemanggilan. Sayangnya, cara itu tidak berhasil, dan kekasihnya tak bisa kembali. Yang terpanggil adalah energi jahat, dan menguasai tubuh kekasihnya. Lalu, ada banyak kejadian buruk setelah itu. Pembunuhan yang menyebabkan begitu banyak korban berjatuhan. Pria itu menggunakan sihir buruk, sehingga dia tak bisa mengendalikannya. Sesuatu yang buruk tak pernah bisa berakhir dengan baik." Prajurit yang tertawa itu mengakhiri ceritanya dengan petuah di belakangnya.

__ADS_1


"Ini adalah sebuah akhir yang buruk. Percayalah padaku. Kau harus lebih banyak mendengarkan cerita bahagia, dibandingkan cerita seperti ini," jelas Xiao yang sepertinya kurang menyukai tentang cerita itu.


Namun Yi Hua yang masih mencoba menerawang tentang keadaan dunia tempat ia berpijak ini mau tak mau menjadi penasaran. Ia menatap pria pengawal berwajah menarik itu dengan penasaran. Walau pria pengawal itu terlihat tak begitu ingin bercerita.


"Lalu, pria itu harus membunuh kekasihnya sendiri untuk menghentikan kejahatan itu."


Tentu saja pria itu tak ingin melihat sosok kekasihnya yang melakukan banyak kejahatan. Lebih baik dia mengakhiri sesuatu yang ia mulai sendiri. Namun, membunuh seseorang yang dicintai ...


"Itu adalah cerita dari mulut ke mulut. Tak ada yang tahu kebenarannya. Meski begitu, banyak yang mengatakan bahwa dari sanalah mulainya pembuatan cangkang manusia ini."


Yi Hua mulai mengerti dengan cangkang manusia ini. Saat jiwa seseorang pergi, yang tertinggal di dunia adalah raga. Yang membuat raga itu hanya bisa terbaring dan menjadi busuk karena tidak ada jiwa di dalamnya. Lalu, dia bisa menjadi wadah baru untuk jiwa lainnya.


Namun jika jiwa seseorang bisa masuk ke wadah yang sama seperti sebelumnya, itu agak mustahil. Jika itu terjadi mungkin tak ada istilah orang 'mati' di dunia ini. Akan tetapi, itu melanggar batasan dari dunia ini.


"Lalu, apa yang terjadi terhadap pria itu?"


Pria pengawal itu menyisir rambut hitam panjangnya ke belakang. Tatapannya agak seperti menyelidik, tetapi tak begitu menekan. Yi Hua sedikit terpaku dengan tindakan pria itu.


"Apakah itu penting?"


Benar. Apakah itu penting?


Ini hanya cerita yang disebar dari mulut ke mulut. Tak ada yang tahu kebenarannya. Yang terpenting sekarang ialah siapa yang memiliki kemampuan besar hingga bisa mengendalikan Zi Si?


Bahkan seingat Yi Hua, Zi Si benar-benar terlihat seperti manusia normal. Tidak ada yang membuatnya terlihat seperti hanya sekadar wadah kosong. Sungguh kemampuan yang luar biasa.


"Jika melanggar kehendak langit seperti itu jelas saja pria dalam cerita itu tak akan menjadi manusia lagi."


Yi Hua menatap ke arah prajurit lainnya, yang entah mengapa kini mereka dalam posisi siap berbagi cerita. Mereka malah lebih seperti bercerita ria dengan teman, ketimbang bertugas. Yi Hua yakin ini karena tidak ada Raja Li Shen lagi di antara mereka.


Yi Hua menyentuh ujung dagunya ketika berpikir, "Apakah ini berkaitan dengan cerita pendosa yang terkenal di Kerajaan Li?"


"Apa kau lupa bahwa Yi Hua nyaris dieksekusi karena menyebut tentang kebangkitan kembali dari Puteri Hitam?" tanya Xiao yang lelah sendiri dengan mulut tanpa rem dari Yi Hua. Bagaimana bisa orang ini begitu tak bisa menjaga mulutnya agar tak 'terlewat'?


Namun ekspresi berbeda datang dari pria pengawal itu. Dia menatap pada Yi Hua seolah peramal konyol itu mengatakan hal yang sangat menarik. Yi Hua selalu merasa ada sesuatu yang berbeda dari pria ini. Entahlah. Atau, ...


"Mungkin itu hanyalah gejala yang timbul dari sesuatu yang disebut 'perasaan'. Yi Hua sudah cukup usia untuk melirik seorang pria. Hiks ... Ibu merasa bangga," ejek Xiao yang entah mengapa selalu siap tanggap dalam merendahkan Yi Hua.


Kenapa aku harus mendengar ucapan makhluk aneh ini terus?


Yi Hua hanya bisa mengeluh dengan adanya Xiao di telinganya. Bagaimana pun dia tak bisa melepaskan Xiao, dan dia juga tak bisa menghentikan ucapan Xiao agar tak datang ke telinganya. Mungkin Xiao menjadi sistem yang menyulitkannya, bukan membantunya.


"Bagaimana menurut Anda, Tuan Yi?" tanyanya dengan suara yang sangat tenang.


Yi Hua melirik pada prajurit yang seperti menyimpan kemarahan sekaligus ketakutan di wajahnya. Bagaimana pun kelima pendosa itu selalu menjadi mimpi buruk di kehidupan manusia. Pembawa bencana dan kehancuran.


Apalagi Yi Hua pernah meramalkan bahwa salah satu di antara kelima pendosa itu akan bangkit.


"Itu akan menjadi cerita yang menyedihkan," tanggap Yi Hua yang sebenarnya bingung untuk menanggapi apa.


Jauh di antara semua itu, Yi Hua berpikir bahwa lima pendosa ini memiliki cerita mereka tersendiri. Hanya karena disebut pendosa, mereka dianggap memiliki dosa paling besar. Akan tetapi, tak ada yang pernah ingin tahu tentang bagaimana bisa mereka melakukan dosa itu.


CRASH


Tangan yang awalnya tak bergerak lagi itu kembali menunjukkan gejala aneh. Bahkan tangan itu terlihat seperti bercahaya aneh. Hal itu membuat Yi Hua berjalan menuju ke arah tangan itu.


Namun ...


SRET


Tuan Pengawal itu membentangkan tangannya di depan Yi Hua. Hal itu membuat Yi Hua terhenti sejenak. Ia menatap pria itu tak mengerti, tetapi pria itu menatap ke arah tangan yang bergerak itu.

__ADS_1


"Sihir itu terlalu kuat."


Yi Hua merogoh kantung yang ia bawa sebelumnya. Ia hanya memiliki jimat penangkal tikus di sana. Dia tak bisa menggunakan kemampuannya, padahal dia harus menjadi pahlawan di sini.


Ia harus menjadi pahlawan agar dia bisa meminta Raja Li Shen menarik perintah eksekusi. Jika pun para Pejabat Tinggi Kerajaan Li mempermasalahkan, jasa Yi Hua akan menjadi penolongnya. Akan tetapi, ...


Yi Hua adalah seorang pecundang.


Yi Hua menghela napasnya untuk menangisi kepedihan hatinya ini. Namun ...


Bukankah Yi Hua ini adalah seorang peramal?


Dia adalah orang yang dipercayai oleh orang lain tentang penglihatan cenayang. Ia bisa memanfaatkan orang-orang di sekitarnya ini untuk menciptakan perangkap.


"Xiao, seorang peramal juga belajar tentang jimat, bukan?" tanya Yi Hua yang menghitung jimat di tangannya. Itu cukup banyak untuk bisa digunakan. Tentu saja ia bertanya hanya seperti suara bisikan semut.


"Tentu saja. Jika peramal hanya bisa meramal saja, bagaimana bisa mereka dipercaya untuk melindungi kerajaan dari segi mistis?" Xiao malah mengajukan pertanyaan retoris yang tak perlu lagi Yi Hua jawab.


"Bukankah kau berkata bahwa dirimu menyimpan segala informasi yang 'Yi Hua' ini ketahui?" tanya Yi Hua memastikan kembali.


Terdengar decak kesal di telinga Yi Hua. "Apakah aku harus menjelaskannya lagi?"


Itu sudah cukup.


"Xiao, ajarkan aku tentang jimat yang bisa mengusir energi buruk."


"Jimat itu sudah dipakai untuk menjadi jimat pengusir tikus, Yi Hua!"


Pengusir tetaplah pengusir. Itulah yang Yi Hua pikirkan. Hanya mengubah beberapa bagian dari kertas jimat tak akan memakan waktu yang cukup banyak.


Bukankah masih bisa diubah sedikit dari mengusir tikus ke mengusir energi buruk?


Tanpa ingin berdebat lagi dengan Xiao yang jelas tak setuju dengannya, Yi Hua malah berpikir tentang menyusun strategi. Kemudian, Yi Hua menarik ujung pakaian pria itu yang hanya tersisa lapisan dalamnya saja. Hal itu membuat Yi Hua ingat bahwa pria ini telah memberikan lapisan luar pakaiannya pada Yi Hua. Namun karena Yi Hua melakukan banyak atraksi hari ini, sekarang jubah itu entah kemana perginya.


Aku akan mencarinya nanti. Kemudian, mencucinya, dan mengembalikannya.


"Tolong bantu saya, Tuan Pengawal."


Hanya pria ini yang bisa Yi Hua percaya untuk menjalankan rencananya. Sebab, pria ini memiliki kemampuan terkuat di antara prajurit lainnya.


"Yi Hua, aku tak bisa menjamin keberhasilannya."


Yi Hua menarik senyum tipisnya ketika menyadari mulutnya yang masih berdarah. Ia akhirnya mengusap bibirnya untuk mengambil darah, kemudian mengubah beberapa huruf di atas jimat yang ada di tangannya. Tak lama, Yi Hua melemparnya di udara. Jimat itu terbakar ketika Yi Hua melemparnya.


Tangan yang bergerak agresif itu semakin menjadi agresif seperti merasa terganggu.


Namun melihat itu, Yi Hua menarik senyumnya dengan senang.


"Aku memang harus selalu berkencan dengan kematian, bukan?"


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.


Hey, maafkan diri ini yang tak bisa up kemarin. Ada beberapa masalah kemarin, dan memang belum usai sampai sekarang. Akan tetapi, untungnya aku masih sempat menulis cerita ini.


Mari bertemu di chapter selanjutnya.


Adios~

__ADS_1


__ADS_2