
Namun yang lebih Yi Hua perhatikan ialah pria gila di hadapannya ini. Bagaimana pun dia masih ingat bahwa dirinya hanya bisa bertarung sendiri. Ditambah lagi dengan tangannya yang sudah terpotong.
Jika Yi Hua bisa mengangkat tangan untuk menyerah, dia akan melakukannya. Hanya saja dia berpikir bahwa dirinya tak ingin menjadi salah satu orang yang terjebak di dalam Lembah Debu ini. Oleh karena itu, ia berdiri dengan pakaian bersimbah darah.
Tangannya ....?
Jangan tanya tentang itu, karena Yi Hua sendiri berusaha tak melihat tangannya. Bahkan rasa sakit itu perlahan menjadi kebas, dan Yi Hua tak bisa merasakan tangannya lagi. Lalu, pandangan Yi Hua langsung berkunang-kunang.
"Aku sepertinya mulai kehabisan darah," bisik Yi Hua yang sudah berayun-ayun pikirannya.
Tangannya yang satu masih menggenggam pedang dengan erat. Sedangkan pria aneh di depan Yi Hua juga terkekeh seperti kurang waras. Atau, memang otaknya sudah oleng begitu saja?
Xiao tampak diam sejenak, dan tak lama suaranya terdengar lagi. "Kau harus melarikan diri dahulu. Dengan tubuh tidak berguna milikmu itu, kepalamu akan terpisah."
Yah, seperti yang dikatakan oleh Xiao. Selama kepala Yi Hua masih terpasang dengan baik, maka ia tak akan mati dengan mudah. Jadi, untuk sementara ini Yi Hua harusnya tak bertarung dengan keadaannya yang nyaris mati.
Pria gila itu berhenti tertawa entah karena apa. Namun Yi Hua berharap dia berhenti tertawa karena tersedak debu. Lebih baik seperti itu, sebab dia sangat geram ketika mendengar suara tawa menyebalkannya.
"Jangan marah pada apapun, Tuan. Ini hanya karena saya berjanji untuk menghentikan bencana ini," ucap pria itu sambil berjalan ke arah Yi Hua.
Mau tak mau Yi Hua mundur dengan waspada. Bagaimana pun dia seharusnya tak begitu dekat dengan orang beracun ini. Siapa yang bisa menjamin bahwa orang ini memiliki sekelompok racun di dalam dirinya.
Akan tetapi, janji apapun itu, apakah perlu melakukan hal seperti ini?
Namun di atas segalanya, Yi Hua tahu bahwa fenomena debu ini bukan disebabkan oleh pria ini. Sebab, pria ini mungkin hanya satu orang yang selamat dari bencana. Jangan tanya tentang mengapa, itu pasti karena hewan beracun yang bisa ia kendalikan.
"Lalu, aku tak bisa bertemu lagi dengannya jika aku tidak menghentikan bencana ini. Padahal aku sudah menjadi kuat, dan aku yakin diriku sudah bisa membunuhnya! Akan tetapi, aku tak bisa keluar dari tempat ini," bisik pria itu setengah meracau.
Yi Hua sebenarnya tak bisa menangkap sebagian dari apa yang pria itu katakan. Hanya saja Yi Hua bisa menduga usia pria ini mungkin hanya dua puluh tahun ke atas. Itu semua hanyalah dugaan, dan Yi Hua tak bisa memastikan.
Apalagi dengan keadaan Yi Hua yang sudah hampir sekarat ini.
Dalam keadaan lemahnya, Yi Hua mengambil sebatang kayu dan menuliskannya sebagai media jimat. Bagaimana Yi Hua menulisnya?
Tentu saja dengan darahnya!
Nyatanya tangan Yi Hua belum tersambung kembali. Hal itu sudah menunjukkan fakta bahwa Yi Hua belum mencapai target 'hampir' mati seperti yang dikatakan oleh Xiao. Yi Hua hampir ingin menendang sapi jika dia bisa sekarang. Dia sangat kesal.
Apa aku harus mencekik diriku sendiri, baru kemampuan busuk itu berjalan?
"DENG ... DENG! Bunuh diri sangat dilarang. Jika kau sengaja ingin mati, dan itu tidak karena situasi, maka kau akan diledakkan!" Xiao menjawab dengan santai. Seolah ia tak tahu jika Yi Hua sedang dikelilingi oleh hewan beracun.
Sistem busuk!
Jika begitu, maka Yi Hua tak punya pilihan lain selain bertarung. Ia sedikit bersyukur ... Ini hanya SEDIKIT! Setidaknya dia bisa bertarung tanpa takut akan resiko kematian. Dia hanya perlu melindungi kepala tercintanya, dan semua akan normal kembali setelah kemampuan 'kembali ke awal' aktif.
"Xiao, jadi mataku!" perintah Yi Hua tanpa perduli pada pria yang masih melantur di depannya itu. Pria itu mungkin akan mengira Yi Hua sama sintingnya dengan dia karena berbicara sendiri.
Yi Hua, entah mengapa, yakin bahwa rencananya akan berhasil. Sebab, melihat dari gerakan pria ini, dia sudah tahu bahwa pria ini lemah. Dia hanya bisa mengendalikan hewan beracun, sisanya dia hanyalah seonggok tahu.
Yah, walau sebelas dua belas dengan Yi Hua. Namun Yi Hua punya kelebihan lain, yaitu ...
"Kau punya 'bongkahan' di dadamu?" tanya Xiao kurang sopan.
Maksudku adalah aku memiliki pedang di tanganku -_-
Yi Hua tak berpikir bahwa dia bisa membunuh. Ia tahu dirinya naif, dan dunia kasar ini tak perlu orang seperti dirinya. Meski begitu, Yi Hua merasa jika dirinya masih memiliki opsi untuk tidak membunuh. Ia yakin dia bisa melarikan diri tanpa membunuh.
"Saat aku membelakanginya, maka kau harus mengatakan dimana dia berada. Begitu juga dengan peliharaannya itu," ucap Yi Hua sambil berjalan dengan lemah ke arah kerangka yang bergerombolan.
__ADS_1
Dari gerakannya, Yi Hua tahu ini adalah segerombolan anak-anak. Mungkin anak-anak ini tengah berlarian, dan tertimpa bencana. Sehingga mereka tampak berlari, tetapi terus terhenti pada sebuah kereta yang melintas di jalan.
Oleh karena itu, Yi Hua mencoba berjalan dengan agak cepat ke arah kereta itu.
"Kau pasti gila jika melawannya secara langsung. Aku tak akan menanggungnya jika kau akan menebas tubuhmu sendiri nanti," ujar Xiao menasihati.
Yi Hua menarik senyumnya yang pucat dengan tipis. "Siapa bilang aku akan melawannya secara langsung?"
Pria itu dengan cepat menebar hewan berbisanya untuk mengejar Yi Hua. Yi Hua bisa mendengar suara mengerikan dari hewan-hewan itu yang berjalan ke arahnya. Meski begitu, dia sudah sempat menulis jimat dengan darahnya.
Itu adalah jimat pengusir tikus. Baru-baru ini Yi Hua menyadari jimat itu berfungsi bukan hanya pada tikus, tetapi tergantung pada tinta untuk menulisnya. Jika menggunakan darah, maka mungkin kau bisa mengusir sapi yang datang.
Entahlah.
Ini adalah pertaruhan.
Yi Hua menyebar jimatnya melingkar seperti busur. Hal itu membuat hewan-hewan itu terbagi membentuk seperti lengkungan. Menyebar sesuai dengan yang Yi Hua harapkan.
"Mereka lebih banyak di sisi kanan, HuaHua," ucap Xiao yang mendadak menjadi navigator yang baik.
Yi Hua mengangguk. Ia tak perduli Xiao mengerti maksudnya atau tidak. Sejak awal dia dan Xiao saling berbicara seperti berbincang dengan nyamuk. Sehingga tak ada yang aneh jika dia tak perlu Xiao untuk mengerti maksudnya.
"Yi Hua, hanya sekitar tiga langkah maka hewan-hewan itu akan datang! Jimat busukmu itu tak berguna apa-apa," desak Xiao yang juga terdengar panik.
Dengan sekuat yang ia bisa Yi Hua melompat pada kereta yang hanya tersisa tiang-tiangnya saja. Meski begitu, Yi Hua bisa menggunakannya. Lalu, Yi Hua langsung menjatuhkan dirinya tepat saat hewan-hewan itu hendak menerjangnya. Alhasil, hewan-hewan itu, seperti kalajengking dan kelabang mengenai tengkorak anak-anak.
Hal itu membuat pria pengendali hewan beracun itu terkejut. Seperti dugaan Yi Hua, pria ini yang membuat para tengkorak ini terus berjalan. Tentu saja karena rasa tak ingin kehilangan 'kehidupan' di sini alasannya.
Yi Hua hanya bisa bertaruh pada ini semua, karena nyatanya Yi Hua sudah merasa pusing. Tetesan darahnya sudah mengenai jubah putih peramal yang ia kenakan. Warna darah itu sangat kontras, dan membuat Yi Hua yakin dirinya terlihat seperti habis berendam di kolam darah. Luka potong di tangannya juga bertambah terbuka akibat Yi Hua yang terlalu lincah.
BUGH!
Yi Hua yang menjatuhkan diri langsung berguling ke bawah kereta. "Dimana pria gila itu berada?"
Dengan bertumpu pada pedang yang ada di tangannya, Yi Hua bangkit.
"AKHHH!" Pada akhirnya, Yi Hua hanya bisa berteriak saat rasa sakit di tangannya yang buntung benar-benar mematikan kewarasannya.
Sakit sekali ...
Namun ini sebentar lagi. Yi Hua bangkit dengan air mata di wajahnya. Ia langsung bertatapan dengan pria yang terlihat sadar kembali itu. Akan tetapi, dia terlambat ...
"Ku sebut ini sebagai jurus Biarkan Racun ini Kembali Padamu!" Yi Hua tanpa tahu malu berteriak, walau nama jurusnya sudah melebihi keanehan sapi yang bisa terbang.
"Kau ..."
CRAT!
Yi Hua menunduk secepat yang ia bisa, dan hewan-hewan itu melompat ke arah pria itu sendiri. Sebab, pria itu pasti lupa dimana arah hewan-hewannya berada akibat terkejut. Ketika Yi Hua menunduk, hewan-hewan itu mengarah ke arah pengendalinya sendiri.
Mengapa tidak pada Yi Hua?
Karena Yi Hua menuliskan mantra untuk jimat pengusir tikus di ujung jubahnya. Sehingga hewan-hewan itu berbelok untuk menghindar, tetapi jarak antara Yi Hua dengan tuannya dekat. Sehingga kalajengking dan semua serangga beracun menuju ke arah pria itu. Dan, Yi Hua yakin hewan itu tak akan memangsa tuannya, tetapi bisa menghentikan gerakan tuannya sendiri.
Benar saja. Pria itu terlihat kesusahan karena dikelilingi oleh hewan-hewan yang berkeliaran di sekujur tubuhnya. Yi Hua tak mau melihatnya lebih lanjut, dan mendadak trauma pada penampakan gerombolan hewan kecil. Ini rasanya seperti kau melihat lubang-lubang kecil yang dibuat berdekatan dalam jumlah banyak.
Sangat membuat geli!
"Yi Hua, Tuan Pengawal datang."
__ADS_1
An ..
Yi Hua mengedarkan pandangannya ke semua arah, tetapi dia tak bisa melihat An yang datang. Akan tetapi, Xiao berbeda, hal itu membuat Yi Hua percaya. Karena Yi Hua memperhatikan ke sekelilingnya terlalu banyak, ia tak melihat keadaannya sendiri.
Ia berada di dekat sumur tua!
Ia bahkan tak tahu bahwa segerombolan tengkorak tiba-tiba menarik kaki Yi Hua untuk masuk ke dalam. Cangkang manusia.
Jika seperti ini, maka lawan Yi Hua bukan hanya pengendali hewan beracun ini saja. Sebab, pria gila itu tak memiliki kemampuan mengendalikan cangkang manusia. Dan, Yi Hua yang sudah lemah, lengah, lelah, dan buntung satu tangan tak bisa menahan dirinya untuk terseret ke dalam lubang sumur.
Bagaimana bisa keberuntungan tak pernah menyukaiku?!
Dia juga yang buntung. Dia juga yang harus bertarung. Dia juga yang harus masuk ke dalam sumur! Yi Hua hanya bisa mengutuk keberuntungan yang pilih-pilih untuk datang.
Tepat sebelum Yi Hua terlempar ke dasar sumur, sebuah tangan menangkapnya dengan kokoh. Dan, entah mengapa Yi Hua tahu siapa orangnya. Terutama saat pria ini memang selalu datang di saat-saat yang paling menakjubkan.
Hal itu membuat An bisa terlihat 'sangat' tampan ketika hadir! Dan, Yi Hua akan terlihat paling berantakan dari yang lainnya. Sangat menyedihkan.
KRAK!
Yi Hua tak tahu apa yang terjadi. Dia hanya tahu bahwa sumur ini gelap. Yi Hua bahkan tak bisa melihat apa-apa. Lalu, diperburuk lagi oleh gerombolan pasir yang mendadak menghujani di mulut sumur.
Yi Hua yakin jika giginya cukup putih, dan dia membuka mulut untuk bicara, maka yang akan terlihat sekarang hanyalah giginya.
TAP!
Eh?
Awalnya Yi Hua mengira jika mereka sampai ke dasar sumur, maka akan ada yang terhempas. Nyatanya tidak sama sekali, bahkan An mendarat dengan sangat cantik. Masih dalam posisi berdiri, dan menggendong Yi Hua di dadanya.
Sebentar ...
"Tuan An ..."
Yi Hua merasakan hembusan napas di pucuk kepalanya. "Apakah kau bisa berhenti membahayakan dirimu sendiri? Kau pikir kau itu tak bisa mati apa?"
Yi Hua merasakan tangan An yang kuat untuk menahannya. Pria tenang ini terlihat marah. Entah kenapa, dan Yi Hua tak tahu alasannya. Meski begitu, Yi Hua masih memiliki pembelaan untuk keadaannya.
"Saya hanya ..."
"Yi Hua, tolong hargai hidupmu sendiri. Kau bisa mati kapan saja."
Jadi, aku marahi di sini? Lalu, mengapa nada pria ini terdengar sangat pilu?
Namun ...
Yi Hua menarik senyumnya kelu. "Saya memang tak bisa mati, Tuan An."
Lalu, Yi Hua menyadari Xiao tak mengatakan apa-apa. Setidaknya apa yang dikatakan Yi Hua benar. Meski dia tak membahayakan dirinya sendiri, dia masih harus menjalani hidup busuknya.
Terus-menerus mengejar kematian. Entah sampai kapan.
***
Selamat membaca.
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
Maaf cerita ini menjadi sangat lambat. Jadi, ceritanya aku ini kehabisan ide. Entah mengapa, mungkin karena aku belum semedi di kandang sapi. Jadi, chapter ini datang terlambat lagi.
__ADS_1
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
Adios~