Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Yang Dipertaruhkan


__ADS_3

Yi Hua menyadari ada begitu banyak hal yang tak ia mengerti dari dunia ini. Termasuk pada pria di balik tirai hitam itu. Sejatinya Yi Hua memiliki niat hati untuk mengambil salah satu pajangan di ruangan istana ini, dan melemparnya ke ruangan yang ditutupi tirai itu. Sayangnya, dia sekarang masih takut kehilangan nyawa. Ditambah lagi dia masih menyamar sebagai istri muda dari Pejabat Biawak di istana Kerajaan Li.


Oh ya ampun! Tanganku gatal sekali ingin menyibak siapa di balik tirai itu. Bahkan Xiao pun dibuatnya menjadi seperti pengecut.


"Siapa yang kau sebut pengecut, HuaHua?" Xiao yang datang tak dijemput, dan pulang tak diantar pun datang.


Yi Hua menyentuh telinganya sendiri pertanda ia semakin heran. Kini Xiao datang kembali, tetapi ... Pria di balik tirai tak terlihat lagi. Tirai yang sempat tersibak sedikit itu kini tenang seperti angin enggan untuk datang ke sana. Sehingga Yi Hua tak yakin jika Hua Yifeng masih ada di sana atau tidak.


"Biar aku jelaskan padamu! Aku tadi pergi ke belakang untuk menuntaskan keperluan. Aku tidak takut pada Hua Yifeng. Dengarkan aku, Yi Hua! Jangan pikir aku adalah makhluk yang lemah seperti dirimu!" jawab Xiao dengan agak menggebu-gebu.


Bukannya Xiao makhluk melata yang aneh? Jelas-jelas ada ketakutan di dalam otak Xiao. Tunggu dulu! Bukannya Xiao tidak punya otak ya.


Ahh ... Pantas saja.


"Yi Hua, aku tahu bahwa kau menyimpan suatu pemikiran aneh tentangku," omel Xiao, yang entah mengapa kecerewetannya telah naik level.


Bahkan Yi Hua saja baru beberapa hari tinggal di kehidupan ini, dan Xiao berubah dengan pesat. Yi Hua jelas tak mau bertanya, sebab Xiao pasti tak akan menjawabnya dengan benar. Entah Xiao yang memang tak tahu begitu banyak, atau Yi Hua yang hanya tahu sedikit saja, bahkan tentang Xiao. Nyatanya itu yang sedang terjadi saat ini.


"Siapa yang ada di balik tirai itu?"


"Tentu saja Hua Yifeng, kau pikir siapa lagi?" tanya Xiao yang didominasi dengan rasa malas seperti biasanya.


Liu Xingsheng yang berdiri di samping Yi Hua menoleh. Tentu saja dia mendengar apa yang ditanyakan oleh Yi Hua. Sehingga dia juga ikut menjawab dengan jawaban yang sama.


"Dia Hua Yifeng, Pemilik Kerajaan Hantu."


Kerajaan?


Liu Xingsheng menyadari kebingungan dari Yi Hua. Ia berdehem sejenak sebelum menutup mulutnya dengan kipas. Berbisik pada Yi Hua hanya agar tak ada siapapun yang mendengar. Yah, walau pun Huan Ran yang ada di depan mereka jelas bisa mendengarnya.


"Itu bukan kerajaan seperti yang kau pikirkan. Kerajaan Hantu hanyalah gelar semata, tetapi Hua Yifeng sama sekali tak pernah menjadi Raja di sana. Orang-orang hanya menyebutnya sebagai Kerajaan Hantu agar mudah. Selebihnya, Hua Yifeng hanya orang yang menciptakan banyak kejahatan di gunung Hua ini. Oleh sebab itu, dia disebut pemilik Kerajaan Hantu," jelas Liu Xingsheng dengan nada yang sedikit rendah.


Huan Ran juga ikut masuk dalam pembicaraan. "Mengapa kau begitu penasaran dengan Hua Yifeng?"


Siapa yang penasaran tentangnya? Dasar Huan Ran, bukankah dia berlebihan?


"Kau yang berlebihan, HuaHua. Asal kau tak menyinggung Hua Yifeng, seharusnya kau tak begitu gencar mencari tahu tentangnya. Jangan pernah buat masalah dengan Iblis Kehancuran itu." Kali ini Xiao ikut menambahkan karena Yi Hua seharusnya tak bertanya begitu banyak saat mereka berada di wilayah kekuasaan Hua Yifeng.


"Hanya ingin tahu saja. Siapa tahu aku bertemu di suatu tempat, dan aku bisa tahu," jawab Yi Hua dengan menekan pada kata bertemu.


Xiao agak bingung dengan tindakan Yi Hua yang sudah seperti bandit. Bagaimana bisa gadis ini bisa terlihat menyimpan dendam dengan Hua Yifeng? Padahal ini adalah pertama kalinya kedua orang ini bertemu. Yah, itu setahu Xiao. Dia juga tak melihat ada data yang terhubung antara Yi Hua dan Hua Yifeng akhir-akhir ini.


Namun Yi Hua sangat yakin jika pria bertopeng yang kala itu datang adalah Hua Yifeng. Walau pun dia hanya menilainya melalui suara saja. Meski begitu, alasan utama dari Yi Hua yang begitu ingin mendatangi Hua Yifeng kali ini ialah karena ciuman pertama-nya direnggut oleh pria ini. Bagaimana bisa orang itu melakukan penyerapan energi buruk dengan cara mencium?


Bukankah ada cara lain, bukan? Mungkin seperti menempelkan tangan ke punggungku. Seperti pengobatan dengan tenaga dalam.


Ia tak tahu bagaimana dengan Yi Hua yang asli, tetapi ketika ia masuk ke dunia ini, dia sudah seperti kain putih tanpa noda. Sehingga dia seperti menulis cerita hidupnya sendiri. Dan, sebagai makhluk tanpa noda, soda, dan dosa, Yi Hua tak terima jika dirinya dicium begitu saja oleh Hua Yifeng. Kenal saja tidak!


Tahan aku, Xiao! Tahan aku, atau aku akan mendatangi Hua Yifeng dan mencekik lehernya.


"Silakan. Aku akan menyediakan peti yang baik untukmu. Setelah kau menjadi abu, aku akan meletakkannya ke dalam peti. Dan, aku akan membiarkan peti itu mengarungi sungai."


S*alan! Yi Hua langsung angkat tangan begitu saja.


"Ada apa, Yi Hua?" tanya Liu Xingsheng yang memutar-mutar tubuh Yi Hua karena takut jika peramal ini dirasuki makhluk halus.


Mereka saat ini tengah berada di Kerajaan Hantu, sehingga tak aneh jika Yi Hua mendapat 'sapaan'. Liu Xingsheng jelas tak ingin mengurusi orang yang dirasuki hantu sekarang. Ditambah lagi Liu Xingsheng saat ini sedang dalam mode cantik.


Ia tak boleh membuat riasannya berantakan akibat mengatasi Yi Hua yang sedang kurang asupan.


Yi Hua menunjuk dengan menggunakan bibirnya ke arah ruangan dengan tirai hitam itu. Itu dilakukan oleh Yi Hua agar tak dicurigai, tetapi hal itu juga membuat Liu Xingsheng tambah bingung. Bagaimana bisa bibir sekarang sudah menjadi penunjuk arah?

__ADS_1


"Di dalam sana, itu Hua Yifeng?" tanya Yi Hua yang merapikan kembali bibirnya. Jelas ia tak begitu tahu jika Liu Xingsheng bingung dengan tindakannya.


Liu Xingsheng membuka kipasnya lagi untuk berbisik pada Yi Hua. Sehingga kedua wanita(?) ini terlihat seperti dua orang yang gemar bergosip. Hal itu membuat Huan Ran yang berjalan di depan mereka sesekali terbatuk.


"Aku tak pernah sama sekali melihat Hua Yifeng. Sejak aku sebesar timun hingga menjadi seperti batang pohon kelapa, aku dibesarkan untuk menyebut Hua Yifeng sebagai musuh yang harus dihindari."


Yi Hua melipat kedua lengannya di dada, "Dia memang harus dihindari."


Sebab, dia mungkin orang yang menganggap sebuah ciuman itu seperti kebiasaan.


"Uhuk ... UHUK!" Batuk Huan Ran kelepasan karena terbawa. Sehingga dia kini benar-benar terbatuk.


Liu Xingsheng mengusap punggung Huan Ran agar pria itu bisa meredakan batuknya sendiri. "Itulah kenapa Kakak Huan tidak boleh memakan begitu banyak manisan buah."


Huan Ran hanya bisa mendelik sebal. Sayangnya, kedua orang di belakangnya itu tak sadar juga. Huan Ran akhirnya menarik kedua istri gadungannya itu untuk duduk di bagian perjudian paling ramai.


"Wah, ada peserta baru!"


Yi Hua masih memperhatikan ruangan yang tenang itu. Ia sendiri tak yakin bahwa ruangan dengan tirai hitam itu masih memiliki penghuninya. Setelah memberi titah sebelumnya, Hua Yifeng tak mengeluarkan suara emasnya lagi. Lalu, anak buahnya di istana ini melakukan apa yang diperintahkan.


KRAK!


"AKHHH!!"


Yi Hua berusaha menutup telinganya ketika mendengar jeritan itu. Bagaimana pun saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk menjadi pahlawan. Lagipula, seperti yang dikatakan oleh Liu Xingsheng, ini hanyalah peraturan yang dibuat oleh Hua Yifeng. Dia hanya menjalankan kekuasaannya, dan pria malang itu melanggarnya. Bahkan pria itu dengan teganya ingin mempertaruhkan keluarganya sendiri hanya untuk perjudian.


Meski dari segalanya, Yi Hua dengan hati naif di dalamnya berpikir bahwa ini terlalu kejam.


"Ini bukan waktunya untuk kasihan pada seseorang, Yi Hua." Xiao menambatkan segelintir teguran untuk Yi Hua.


Apakah itu yang disebut kasihan? Yi Hua sama sekali tak ada pemikiran khusus tentang itu. Bagaimana pun dia diletakkan di dalam lingkup kehidupan busuk ini, sehingga ia harus menjadi Yi Hua yang tak berguna ini. Hanya seperti itu.


Seorang pria bertubuh besar dengan wajah yang menyebalkan terlihat menabur senyum. "Aku mempertaruhkan kehidupan saudariku! Jika aku menang, maka aku ingin keberuntungan datang padaku. Aku ingin masuk ke bagian Pejabat Tinggi istana."


"Aku akan memberikan 'buruan' jiwa yang aku miliki. Dan aku ingin kehidupan saudarimu," tunjuk pihak lainnya.


Lalu, ramai yang lainnya menebarkan semua pertaruhan mereka. Yi Hua yang berperan sebagai seorang 'istri' hanya diam di samping kanan Huan Ran. Di dalam sini sangat sulit untuk membedakan antara manusia dan mahluk lainnya. Bukan hanya dari rupa, tetapi dari perbuatan juga sangat sulit untuk dibedakan. Entahlah. Bukannya Yi Hua bertindak seperti paling suci, sebab dia sadar bahwa dirinya juga sama saja. Dia nyatanya tak bisa berbuat apa-apa, meski ada tindakan kejam di sini.


Terkadang pikiran ingin meninggikan diri sendiri itu hadir ketika tengah merendahkan orang lain. Biasanya.


Hingga sampai pada Huan Ran. Dan, pria itu jelas harus ikut dalam pertaruhan. Sehingga Yi Hua yakin bahwa Huan Ran pasti telah memiliki sesuatu untuk dipertaruhkan.


"Aku akan memberikan jiwaku dalam pertaruhan ini."


Jangankan orang-orang di sekitar, Yi Hua yang di sampingnya pun tak kalah terkejut. Bagaimana bisa Huan Ran begitu gegabah dalam mengajukan pertaruhan. Meski kenyataannya ini adalah bagian dari tugas, tetapi apakah itu berimbang?


Akan tetapi, siapa saja tahu bahwa pertaruhan yang diletakkan oleh Huan Ran sangat besar. Sebab, dalam jiwa, bela diri Huan Ran cukup tinggi. Ditambah lagi dengan statusnya yang sekarang adalah Pejabat Tinggi Kerajaan Li. Itu sudah cukup untuk membuat penduduk Kerajaan Hantu terkesan.


Yah, sama seperti Kerajaan Li yang membenci Kerajaan Hantu, itu hanya berbalik dengan pernyataan yang sama.


"Yang aku ingin dapatkan adalah informasi tentang Mawar Berdarah."


Huh? Apalagi ini?


Xiao menghela napasnya sebelum menjelaskan. "Itu adalah lambang dari kasus pembunuhan yang baru-baru ini terjadi. Sebuah pembunuhan di Pusat Kota dengan ciri khas bunga mawar di dalam jantung korbannya."


Jadi, mereka di sini hanya datang untuk mendapatkan informasi? Bukankah itu bisa diselidiki?


"Biar aku beritahu padamu, Yi Hua. Di sini orang-orang menjual atau mempertaruhkan banyak hal. Seringkali itu adalah informasi, dan pasti Hua Yifeng telah mengetahuinya. Juga, tidak ada hasil apa-apa dari penyelidikan para pejabat di Kerajaan Li selama ini."


Seorang pelaku yang sangat cerdas, sehingga sangat pandai untuk menutupi. Lagipula, jika sudah sampai seperti ini, berarti kasus yang sedang mereka selidiki kali ini sudah sampai pada tahap kebuntuan. Kerajaan Li tidak bisa mengatasinya dengan baik.

__ADS_1


"Aku tak merasa bahwa informasi itu sepadan dengan apa yang kau pertaruhkan."


Seketika pandangan semua orang beralih pada tirai hitam itu lagi. Sepertinya Hua Yifeng telah kembali muncul, atau Hua Yifeng tak beranjak sedikit pun dari sana. Mata Yi Hua bisa melihat ada sepatu hitam pekat yang muncul dari tirai yang sesekali tertiup oleh angin.


Namun tak ada gambaran fisik yang begitu jelas dari Hua Yifeng. Mendadak Yi Hua semakin geram ingin mencabut pedang Huan Ran, dan menebas tirai itu. Dia semakin penasaran dengan Hua Yifeng ini. Sungguh!


Huan Ran terlihat cukup datar seperti biasanya, "Apakah yang saya milikki tidak cukup baik, Pemilik Kota, Hua Yifeng?"


Bagi hantu rendahan dan iblis menengah, jiwa Huan Ran adalah suatu taruhan yang besar. Jika mereka bisa menyerapnya, maka itu akan menjadi kekuatan yang besar. Akan tetapi, itu jelas bukanlah hal yang menarik bagi Hua Yifeng. Pria ini sudah sangat kuat hingga tak ada yang bisa mengetahui bagaimana Hua Yifeng yang sebenarnya.


"Bukankah itu sudah jelas?"


Huan Ran terlihat tak senang dengan jawaban Hua Yifeng.


"Saya tak tahu jika informasi itu sangat mahal," tantang Huan Ran. Bahkan Liu Xingsheng pun terlihat sedikit panik.


Bagaimana jika Huan Ran malah menantang Hua Yifeng dalam pertarungan?


Ini adalah cerita yang diturunkan dari mulut ke mulut. Akan tetapi, Hua Yifeng adalah sesuatu yang jelas tak bisa diprovokasi. Katanya, Hua Yifeng bisa tahu semua hal. Baik yang penting sampai pada yang tak penting.


Salah seorang dari tabib paling cerdas di Kerajaan Li langsung berhenti begitu saja karena tak sanggup menghadapi kecerdasan Hua Yifeng. Jenderal paling kuat di Kerajaan Li juga langsung ingin pensiun dini setelah di tekan kepalanya oleh Hua Yifeng di tanah. Dia adalah orang yang paling buruk untuk di provokasi.


Lebih dari segalanya, itu adalah tentang kebanggaan diri semata. Walau Yi Hua tak yakin tentang siapa yang begitu tabah ketika kebanggaan dan penghormatan pada mereka telah sirna akibat kekalahan. Itulah alasan mengapa mereka semua tak ingin memprovokasi Hua Yifeng.


Entahlah. Itu hanyalah apa yang disebut rumor, selebihnya tak ada yang tahu. Bahkan Yi Hua yang notabenenya adalah penduduk baru di kehidupan ini.


"Yah, mungkin aku mengetahui sedikit lebih banyak dari dirimu."


Wajah Huan Ran masih datar, tetapi siapa yang tahu di dalamnya. Yi Hua jelas hanya bisa diam saja. Hanya Liu Xingsheng yang banyak memberi sinar motivasi hanya agar Huan Ran tahan panas.


"Lalu, apa sekiranya yang bisa membuat Pemilik Kota merasa tertarik?" tanya Huan Ran kali ini dengan wajah menantang.


Seorang pria dengan cadarnya mendekat ke arah ruangan ditutupi tirai itu. Sepertinya Hua Yifeng sedang membicarakan sesuatu dengannya. Setelah itu, pria dengan cadar warna hitam itu pergi begitu saja.


"Aku ingin berbincang dengan kecantikan yang kau bawa."


Oh, pikir Yi Hua begitu saja. Sebab, Yi Hua lebih fokus untuk menggaruk kepalanya ketimbang mendengarkan tentang apa saja yang ada di sekitarnya. Yi Hua sepertinya sudah siap menenggelamkan wajahnya ke wadah air sekarang. Dia sudah merasa lelah dengan semua riasan ini.


Namun tatapan Huan Ran dan Liu Xingsheng sedikit janggal. Sehingga Yi Hua berhenti menggaruk kepalanya, dan bertingkah seperti wanita anggun seperti yang sudah ada di naskah. Akan tetapi, kali ini ia menyadari bahwa bukan hanya Huan Ran dan Liu Xingsheng saja yang menatapnya, tetapi nyaris semua orang.


Apakah hidungku sudah berpindah ke dahi sekarang? Makanya mereka menatapku.


"Pengawal Hua Yifeng ada di belakangmu, HuaHua." Jika Xiao tak memberitahu, mungkin Yi Hua tak akan tahu.


Yah itu karena jelas sekali bahwa kepalanya tak ada mata di bagian belakangnya. Itu adalah alasan paling logis dari ketidaktahuan Yi Hua tentang pengawal Hua Yifeng. Hal itu membuat Yi Hua menoleh ke arah belakang dengan wajah dingin.


Dan, benar saja bahwa pria dengan cadar di wajahnya itu memang ada di belakangnya.


Jika begitu, Hua Yifeng ingin berbincang dengannya?


Yi Hua merasa bahwa mulutnya terbuka begitu saja.


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.


Mari bertemu di chapter selanjutnya.


Adios~

__ADS_1


__ADS_2