Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Putri Li Wei 22: Janji


__ADS_3

Oleh karena itu, Li Wei kembali untuk menghampiri Li Shen yang masih tertidur. Tangan Li Wei mengguncang bahu Li Shen lembut, tetapi tangannya sudah membungkam mulut Li Shen. Sehingga tak akan ada keributan yang muncul.


Namun Li Shen terbilang cukup tenang ketika bangun dari tidurnya. Anak kecil memang tak sepenuhnya berpikiran seperti anak kecil. Apalagi untuk seorang pangeran seperti Li Shen yang memang sudah berlatih banyak hal.


Li Shen bangkit dengan tenang, dan Li Wei melepaskan bekapannya di bibir Li Shen.


TAP!


TAP!


"Mereka belum keluar dari Pusat Kota," ucap seseorang dengan nada yang datar.


Dari suaranya Li Wei tak mengenalnya. Mungkin karena memang tak pernah bertemu. Akan tetapi, dari sikap hormat para prajurit orang yang berbicara sebelumnya pasti bukan orang biasa. Dan itu dibenarkan oleh ekspresi Wei Wuxie yang menegang.


"Jenderal Liu, kami sudah memeriksa beberapa rumah di sekitar sini. Hanya ada beberapa orang Kerajaan Li yang terjangkit penyakit batu. Selebihnya kediaman itu kosong," lapor seorang prajurit yang sekaligus menerangkan identitas pria tersebut.


Meski Li Wei tak pernah bertemu dengan pria ini, tetapi Li Wei tahu siapa dia.


Liu Sang.


Jenderal utama dari Kerajaan Xin, musuh mereka. Jenderal yang memimpin pasukan untuk melucuti semua kekuasaan Kerajaan Li di Perbatasan. Seseorang yang mungkin lebih hebat dibandingkan Wei Wuxie.


Liu Sang juga terkenal dengan pemahamannya yang tinggi tentang struktur tubuh manusia. Sehingga ketika bertarung Liu Sang cenderung menyerang titik lemah lawannya. Cara membunuh yang rapi dan sedikit menakutkan.


Tak lucu bukan saat kau hanya dilemparkan jarum kecil dan nyawamu langsung melayang. Ini sama seperti seekor kutu yang sanggup membunuh seekor sapi digigit. Untung jika masuk surga, kalau tidak bagaimana.


Jadi begitulah tentang Liu Sang.


SRET!


Wei Wuxie menggenggam erat pedangnya ketika mendengar langkah kaki Liu Sang mendekat. Li Wei juga yang gugup tanpa sadar menekan kepala Li Shen untuk bersembunyi di belakangnya. Walau pria kecil itu jelas-jelas tak mau bersembunyi.


CRAK!


S*al! Jika terjadi pertarungan, maka kami tak bisa bertarung.


Pintu rumah tempat mereka bersembunyi bergetar karena hendak dibuka dari luar. Li Wei menggenggam sarung pedang yang entah bagaimana selalu menjadi senjatanya. Jelas mereka tak bisa memikirkan tentang kemungkinan yang ada.


"Putri, saya pergi untuk mengalihkan perhatian," ucap Wei Wuxie cepat, tetapi masih dengan suara yang tenang.


Pria itu mengikat pedangnya di telapak tangan dengan kain. Hanya berjaga-jaga karena Wei Wuxie memiliki pertahanan yang lemah sekarang. Wei Wuxie memiliki banyak luka di tubuhnya, dan ia pasti tak akan cekatan seperti biasanya.


Setidaknya ia bisa mempertahankan pedangnya dalam pertarungan.


SRET!


Li Wei segera berdiri untuk mengikuti Wei Wuxie, tetapi pria itu menunduk memberi penghormatan.


"Putri tetap tinggal di sini, dan saya pastikan mereka akan mengikuti saya. Jangan membuat keributan, dan keluar dalam waktu dekat," pinta Wei Wuxie pelan.


Akan tetapi, dengan kehadiran Liu Sang dan pasukannya Wei Wuxie tak akan bisa bertahan. Itulah yang membuat Li Wei khawatir. Namun ia tak bisa pergi karena itu pasti akan membahayakannya jika meninggalkan Li Shen sendirian. Lagipula, mereka bisa menjadi beban untuk Wei Wuxie jika ikut pergi.


"Wei Wuxie, kau harus tetap hidup," ucap Li Wei pelan.


Tanpa menjawab sepatah kata pun, Wei Wuxie segera berlari untuk menerobos jendela yang terletak di ujung ruangan dengan cepat. Suara itu jelas disengaja untuk memicu keributan.


Lalu, terdengar pertarungan yang sengit di sana. Beruntung kediaman tempat mereka bersembunyi sekarang memiliki dinding rumah yang padat. Pemiliknya mungkin cukup mampu untuk membeli bahan untuk membangun rumah. Oleh karena itu, dindingnya cukup kokoh meski terjadi pertarungan di sekitar.


Ku mohon ... Jangan sampai terjadi sesuatu dengan Wei Wuxie.


Setelah semua orang terdekatnya pergi, tentu Li Wei tak ingin Wei Wuxie pergi. Mereka tumbuh bersama sejak kecil. Tentu saja bersama Zhang Yuwen juga.


Dalam beberapa hari ini Li Wei kehilangan orang-orang terdekatnya. Itu adalah sesuatu yang menyakitkan. Oleh karena itu, ... Ia hanya berharap Wei Wuxie bisa bertahan.


TING


Itu adalah denting terakhir yang terdengar dalam pertarungan. Setelah itu, Li Wei mendengar suara langkah kaki yang menjauh. Wei Wuxie berhasil membawa orang-orang ini menjauh dari rumah tempat mereka bersembunyi.


Li Shen menatap sendu pada Li Wei. "Kak, apa yang kita lakukan setelah ini?"


Tangan Li Wei mengusap wajahnya. Hanya sekadar untuk menyembunyikan air matanya yang menetes. Ia tak mau menangis karena kelemahannya sendiri.


"Aku tak tahu."


Ia tak punya pilihan. Ini hampa.


Jika ia ingin berjuang untuk kemerdekaan kerajaannya, ia tak bisa. Susunan kerajaan telah hancur, dan petarung kerajaan sudah dibantai. Para penduduk juga tak melakukan perjuangan untuk menyingkirkan pasukan Kerajaan Xin. Mereka lebih fokus pada pandemi parah yang misterius, penyakit batu.


Hampir setengah dari penduduk kerajaan Li mati, dan batu berserakan di tanah semakin banyak. Itu sudah cukup menjadi gambaran bahwa tanah Kerajaan Li sudah menjadi kuburan.


Lalu, jika Li Wei ingin melarikan diri.


Ia tak bisa.


Ibarat kaki dan tangannya sudah dipatahkan. Hidup esok hari pun masih jadi pertanyaan. Lebih dari segalanya ...


Li Wei menatap pada Li Shen. "Setidaknya kau bisa hidup, maka Kerajaan Li bisa bangkit lagi."


Ia akan melindungi Li Shen ... Apapun yang terjadi, adiknya harus tetap hidup. Karena pria kecil ini adalah satu-satunya keluarga yang Li Wei punya.


***


"Apa kau pikir aku ini sedang berbohong?!" teriakan Su Nan benar-benar mengganggu kedamaian.


Akibat teror menakutkan dari Li Wei, yang katanya datang untuk membalas dendam Su Nan menjadi uring-uringan. Bahkan wanita itu tak bisa tidur dan selalu ketakutan. Semua orang tak bisa menyebut Su Nan berbohong. Gestur tubuhnya yang bergetar kencang dan matanya yang selalu menatap ke sekitar sudah menjadi bukti paling jelas.


Su Nan benar-benar ketakutan.


Raja Xin menatap marah pada Su Nan. "Antar wanita sialan ini ke Kerajaan Xin. Jangan buat dia menimbulkan masalah lagi!" perintah Raja Xin pada seorang prajurit.


Belum sempat prajurit itu menjawab, Su Nan sudah berlari untuk memeluk lengan Raja Xin. Tatapannya nyaris seperti Su Nan menjadi gila. "Tidak! TIDAK, YANG MULIA! Bagaimana jika Li Wei membunuhku dalam perjalanan? Dia masih belum ditemukan," jerit Su Nan seperti sapi yang terinjak ekornya.


BRUK!


Raja Xin Wantang yang marah segera mendorong Su Nan hingga wanita itu terjatuh ke tanah. Tatapan tajam Xin Wantang mengarah pada Su Nan.


"Kau itu hanya ketakutan! Li Wei sialan itu bukan setan, bodoh. Bagaimana bisa kau melihat dia terbang seperti dia seekor kelelawar?" bentak Xin Wantang sedikit masuk akal.


Dengan penjagaan yang ketat, Li Wei tak bisa memasuki kerajaan apalagi menakuti Su Nan. Tentang orang-orang yang mati di Pusat Kota, masih masuk akal jika Li Wei yang membunuhnya. Walau Xin Wantang masih mempertanyakan bagaimana Li Wei bisa membunuhnya. Gadis itu jelas terluka parah dan kesulitan bertarung.


Seperti ada yang tak beres di sini.


"Yang Mulia!" pinta Su Nan yang sudah merangkak dengan menyedihkan.


Xin Wantang menatap jijik pada Su Nan. Pria itu berjalan untuk keluar dari ruangan sambil memberi perintah.


"Bawa wanita itu kembali ke Kerajaan Xin. Perbaiki otaknya yang sinting itu!" perintah Xin Wantang.


Ketika ia keluar itu Liu Sang segera menghadap pada Raja Xin Wantang. Pria itu tetap berwajah datar dan memberi penghormatan.


"Jenderal Wei Wuxie bisa melarikan diri," lapor Liu Sang cepat.


Kemarahan Xin Wantang semakin membesar. "Mengapa kalian tak bisa menangkap orang-orang sialan itu hidup-hidup? Yang kalian ingin tangkap itu adalah orang yang sudah terluka!" bentak Xin Wantang.


Ekspresi Liu Sang masih tak berubah. Tetap datar. "Para prajurit masih mengejar Jenderal Wei Wuxie."


"Lalu, dimana Li Wei?" tanya Xin Wantang dengan wajah marah.


"Masih tak terlihat. Dan juga, Yang Mulia ... Dari para pelayan kami mengetahui jika beberapa orang penting kerajaan masih hidup di luar sana. Mereka tidak ada di istana saat perang terjadi," ucap Liu Sang datar.


Xin Wantang mendengarkan dengan teliti. Tentu saja mereka harus memastikan semuanya berjalan dengan baik..Jika masih ada yang bisa berjuang, maka Kerajaan Li bisa kembali bangkit.


"Peramal Ling Xiao dan seorang Pejabat baru yang tak terlalu terkenal. Mereka menyebut pejabat ini adalah putra angkat dari Peramal Ling Xiao," jawab Liu Sang.


Senyum Xin Wantang muncul lagi.


"Kerajaan Li sangat memuja para Peramal Kerajaan karena mereka bisa melihat takdir manusia. Semua ucapan Ling Xiao sama dengah kiriman dari Dewa."


Apa salahnya Xin Wantang menggunakan kepercayaan masyarakat Kerajaan Li yang taat ini?


"Sebarkan pada orang-orang bahwa Ling Xiao yang suci ini sudah memberikan ramalannya. Semua takdir menyedihkan ini karena Kerajaan Li mengangkat Raja yang salah. Sebab, sejak kelahiran Li Wei, seharusnya tahta beralih. Itulah yang membawa bencana di Kerajaan Li," perintah Xin Wantang dengan senyum licik di wajahnya.


Semakin Kerajaan Li berpecah-belah, maka yang ada hanyalah kehancuran.


"Tapi Yang Mulia, Putri Li Wei ..."


Xin Wantang menatap pada Liu Sang dengan remeh. "Kenapa Jenderal Liu? Apakah Anda merasa kasihan dengan Putri malang itu?"

__ADS_1


Liu Sang pernah melihat sosok Li Wei yang sangat cantik seperti bunga mawar. Gadis itu jelas tak salah apapun dan hanya terlibat dalam masalah kerajaan. Akan tetapi, ... Semua ini mungkin tak akan sanggup untuk dibebankan pada Li Wei.


"Hamba tak berani, Yang Mulia."


Sekarang 'wajah' keluarga Kerajaan ada di Li Wei. Jika ingin membuat penduduk semakin ragu dengan pemimpinnya, maka munculkan semua keburukan sang pemimpin. Sehingga dengan semua keburukan itu, hal baik akan segera sirna.


Penduduk akan semakin membenci keluarga Kerajaan, khususnya Li Wei.


"Pastikan Li Wei tertangkap, dan Pangeran Li Shen temukan ia juga. Biar kita pertemukan mereka dengan Pangeran Li Jun yang sudah sekarat itu. Aku hanya ingin melihat ... Bagaiaman reaksi mereka jika salah satu dari mereka harus mati demi kerajaan ini," ucap Xin Wantang dengan tawanya yang menyebalkan.


"Baik, Yang Mulia. Namun Jenderal Wei ..."


Xin Wantang tersenyum bahagia. "Perintahkan Pejabat Zhang Yuwen untuk membunuhnya. Dia adalah sahabat lama Jenderal Wei Wuxie, dia tahu cara membunuh sahabatnya sendiri."


Semuanya menjadi sangat berantakan hingga tak ada titik baik untuk memperbaiki.


***


KLANG


KLANG


Su Nan menatap ke sekelilingnya dengan ketakutan. Ia sekarang berada di dalam tandu, dan beberapa prajurit mengawalnya untuk kembali ke Kerajaan Xin. Meski Su Nan memohon, tetapi Raja Xin sudah memberi perintah. Itulah yang membuat Su Nan berada di tandunya hari ini.


"Kalian harus memperhatikan ke sekeliling. Jangan sampai gadis sialan itu mendekatiku!" jerit Su Nan yang penampilannya sangat kacau.


"Baik, Permaisuri Su."


Semua yang mengantarnya mulai berpikir jika ada yang salah dengan kepala Su Nan. Bagaimana bisa ia takut pada Li Wei seperti Li Wei adalah hantu. Ditambah lagi ... Li Wei terkenal dengan hatinya yang tak akan sanggup untuk membunuh orang lain.


Itu adalah hal yang tak bisa dipercaya.


SHHHH ...


Hanya beberapa saat setelah mereka memikirkan itu, angin berhembus kencang. Suasana di sekitar mereka mendadak kelabu, dan ada aroma seperti darah yang tercium. Itu sudah cukup untuk membuat bulu-bulu kecil di tubuh mereka berdiri.


Perjalanan mereka saat ini sudah memasuki kawasan kosong. Hanya ada gunung dan pepohonan, sehingga angin seperti ini sebenarnya adalah hal biasa. Entah bagaimana angin ini terasa berbeda.


SRET!


KLING


"Apa yang terjadi?" tanya mereka ketika udara di sekitar mereka terasa memberat.


Lalu, kabut tebal muncul. Seseorang dengan pakaian serba hitamnya muncul. Wajah cantiknya masih sama seperti bunga mawar, tetapi beraura hitam. Yahh ... Seperti mawar hitam.


"Putri Li Wei," teriak mereka tak percaya.


Su Nan yang mendengar jeritan itu tentu saja merasa semakin ketakutan. Wanita itu menjerit dan keluar dari keretanya. Hendak berlari agar tak dikejar oleh Li Wei.


Namun ...


"AWUUUOOHH ...."


Sialan!


Bagaimana bisa ada sekumpulan serigala di sekitar mereka sekarang?


Apalagi di siang hari seperti ini. Rasanya binatang buas memang sering muncul di jalan, tetapi bukannya berkerubung seperti ini.


Tak lama ...


CLAK!


CLAK!


CLAK!


"Apa lagi ini?" teriak mereka tak percaya.


Memangnya kelelawar sekarang sudah sering berjalan-jalan saat matahari masih bertahta?


Muncul kelelawar dengan jumlah yang menakutkan. Langit menjadi gelap bukan perkara awan yang mendung. Akan tetapi, lebih pada awan yang ditutupi oleh kelelawar.


^^^(Bagi yang ingat Perburuan Malam Li Wei, dkk. Pasti ingat jika Li Wei juga bertemu kelelawar dan juga serigala di sana. So, jika mengingat clue ini mungkin dugaan kalian tak akan tersesat)^^^


"Apa yang kalian tunggu? Bunuh gadis menakutkan itu!" perintah Su Nan pada para prajurit.


DRAP!


DRAP!


Percikan darah terlihat di mana-mana. Su Nan menjerit ketika melihat pasukan yang menjaganya perlahan menjadi tulang karena dikerubungi oleh kelelawar. Su Nan berlari untuk pergi, tetapi sekumpulan serigala sudah menghalangi jalannya. Besarnya serigala seperti dua kali lipat dari serigala yang seharusnya.


"Li Wei, ampuni aku. Aku akan memberimu banyak uang! Aku akan membawamu untuk keluar dari Kerajaan Li agar kau bisa hidup!" jerit Su Nan semakin ketakutan.


Akan tetapi, Li Wei hanya berdiri seperti bunga yang tak tersentuh oleh angin. Tatapan Li Wei masih sama datarnya, tetapi ada aura yang biasanya tak pernah Li Wei miliki. Hal tersebut membuat Su Nan membelalakkan matanya.


"Kau ... Bukan Li Wei ..."


CRAkKKk


"AKKKKHHHH... Sakit. Tolong selamatkan," jeritan Su Nan memenuhi hutan yang kosong.


Hal itu karena seekor kelelawar menuju ke arah jantung Su Nan. Mengorek ke dadanya dengan kuku dan mulut kelelawar yang kecil. Su Nan berusaha melepaskan kelelawar itu yang masih mengorek dadanya. Ini sangat menyakitkan.


Namun ... Bukan hanya satu kelelawar, kini beberapa kelelawar satu-persatu mengigiti kulit Su Nan dengan perlahan. Wajah Su Nan yang cantik juga sudah sobek dan berdarah-darah.


"Tolong ... Selamatkan aku ... AKHHHHH Sakit! Yang Mulia! Tol ..."


KRAK!


Mulut Su Nan tak bisa berteriak lagi ketika seekor kelelawar masuk ke dalamnya. Mengobarak-abrik tenggorokannya dan masuk ke dalam tubuhnya. Seperti yang diucapkan oleh sosok Li Wei kala itu.


Sebuah kematian yang mengerikan.


Semua manusia tak bisa memilih bagaimana kondisinya saat menjelang ajal. Akan tetapi, jika dipilih pun mereka tak mau mati seperti Su Nan sekarang. Itu menakutkan.


BRUKK!


Su Nan ambruk ke tanah dengan isi perut yang keluar dengan sangat mengenaskan. Kala itu tangan Su Nan masih bergerak hingga kelelawar itu memakan jantungnya. Seluruh kulit Su Nan sudah dikupas oleh para kelelawar. Hingga yang tersisa hanya tulang berdarah.


Tak akan ada yang mengenali Su Nan meski tubuhnya ditemukan sekalipun.


Setelah itu, para kelelawar pun hilang dan langit menjadi terang seperti biasanya. Dan sosok 'Li Wei' juga tak ada di sana.


***


Li Wei mengusap kepala Li Shen yang kembali demam. Adiknya itu berbaring di pangkuannya, dan terbatuk dengan parah. Belum lagi dengan rasa lapar yang mendera mereka.


Akan tetapi, mereka tak bisa keluar sekarang. Juga, Wei Wuxie ... Belum kembali.


Li Wei menyadarkan tubunya ke dinding dengan hati yang lelah.


Mengapa takdir begitu kejam terjadi secara bersamaan?


Padahal baru saja Li Wei mengingat teriakan marah ibunya saat Li Wei berlarian. Ayahnya yang sangat tenang dan jarang marah. Begitu juga dengan Li Jun yang sering menyinggung Li Wei, tetapi sebenarnya Li Wei menyadari jika Li Jun tak pernah berniat jahat padanya.


Juga, Li Chen ... Awal dari semua kehancuran mereka. Penghianat dalam kerajaan.


Lalu, Zhang Yuwen yang ikut berhianat walau pria itu masih membantu mereka. Dan, Wei Wuxie yang selalu melindungi Li Wei.


Li Wei menyadari bahwa ia tak bisa apa-apa.


Suhu tubuh Li Shen terus tinggi. Li Wei tak bisa membiarkan Li Shen sakit dan kelaparan.


"Kakak, di mana Jenderal Wei?" tanya Li Shen dengan nada lemah.


"Mungkin Wuxie sedang mencari makanan untuk kita, makanya di pergi lama. Ia akan segera kembali," ucap Li Wei yang sebenarnya tak yakin dengan apa yang ia ucapkan.


"Aku tak bisa tidur," ucap Li Shen.


Siapa yang bisa tidur di masa yang seperti ini. Li Shen bahkan tak tahu jika ibu mereka sudah dibunuh. Sekarang Jenderal mereka, Wei Wuxie juga tak kembali. Siapa yang tak mengkhawatirkan ini semua?


"Kakak akan bernyanyi untukmu," ucap Li Wei.


Tangan Li Wei mengusap kepala Li Shen sambil bernyanyi. "~Di kala hujan menyirami, bunga mawar tampak bersemi. Lalu, mereka bernyanyi hingga tangkai mereka bergoyang~"

__ADS_1


"Itu lagu apa?" tanya Li Shen lemah.


Ini adalah pertama kalinya Li Shen mendengarnya. Nada lagu Li Shen tahu berasal dari lagu pengantar tidur yang sering dinyanyikan pada ibu untuk anaknya. Namun itu tak memiliki lirik seperti yang Li Wei nyanyikan.


"Aku tak ingat kapan aku mendengarnya. Namun seseorang pernah menyanyikan itu untukku," ucap Li Wei tak yakin.


Ia sungguh pernah mendengar nyanyian itu. Akan tetapi, ia tak tahu siapa yang bernyanyi. Entahlah. Mungkin Li Wei bermimpi dan mendengar lagu itu tanpa disengaja.


^^^(Maksudnya waktu Li Wei tertidur di Labirin Batu. Kalau lupa silahkan dibaca kembali di bagian Perburuan Malam. Waktu itu Li Wei tidur pas tersesat di Labirin Batu, dan mendengar nyanyian dari seorang pria. Siapakah dia? Kalau ingat alur pasti udah tau dong siapa yang nyanyi.)^^^


"Berarti hanya kakak dan aku, serta orang itu yang tahu tentang lagi ini?" tanya Li Shen dengan senyum kecilnya.


Li Wei menahan air matanya sendiri. "Mungkin hanya kita yang tahu. Ini adalah rahasia."


"Berjanjilah bahwa kakak tak akan pernah meninggalkan aku," pinta Li Shen di tengah rasa kantuknya yang muncul entah karena apa.


Hanya Li Wei yang Li Shen percaya sekarang. Sehingga ia tak ingin Li Wei meninggalkannya. Sama seperti orang-orang yang perlahan pergi untuk meninggalkannya.


Tangan Li Wei menekan titik tidur Li Shen sambil terus bernyanyi.


Bagaimana pun Li Wei harus pergi sebentar. Ia tak bisa membiarkan Li Shen kelaparan. Juga, ... Ia juga tak bisa membawa Li Shen untuk keluar. Itu terlalu berbahaya.


"Kakak berjanji."


Li Shen tertidur di antara rasa lelahnya.


Mungkin Li Wei tak pernah tahu jika janji itu adalah janji yang tak bisa ia tepati pada Li Shen.


***


Untuk kenyamanan dalam membaca novel yang semakin lama semakin kacau ini, setidaknya nama-nama ini bisa membantu. Yah, jangankan kalian ... Aku juga lupa nama-nama karakter dalam novel. Bukan karena apa, tetapi nama mereka ya jelas bukan dari bahasa kita kan 😂


So, ... Inilah makhluk-makhluk yang menghuni novel ini.


...KARAKTER DALAM XIAO SYSTEM: PERAMAL YI HUA...


...Yi Hua (Di kehidupan sebelumnya, Li Wei Si Putri Hitam)...


Jadi, sebenarnya Li Wei itu terlahir kembali dalam tubuh Yi Hua. Belum diketahui alasannya. Sepanjang cerita novel, Li Wei akan dipanggil Yi Hua. Kecuali untuk flashback. Pekerjaannya Peramal Kerajaan. Sepanjang cerita dia adalah 'pria', karena dia sejak kecil dibesarkan untuk menyamar sebagai pria oleh Shi Heng, ayahnya.


...(Penampakan Yi Hua)...



Relasi:


-Shi Heng (Ayah), sebenarnya saat terbangun menjadi Yi Hua, ia tak tahu dimana ayahnya ini berada. Tapi katanya Shi Heng meninggal dalam perjalanan saat bertugas.


-Yi Xia (Ibu), di salah satu bab diceritakan Yi Xia sudah menghilang di dunia ini karena kehilangan kekuatannya sebagai Dewa.


-Shi Qingnan (Sepupu), hubungan mereka kurang baik. Diketahui jika Shi Qingnan memiliki hubungan dengan teman masa kecil Yi Hua, Ming Fan. Shu Qingnan tidak tahu jika Yi Hua itu perempuan.


-Ming Fan (teman), Ming Fan tahu jika Yi Hua perempuan. Untuk menutupi kedok itu, Ming Fan sejak kecil dijodohkan dengan Yi Hua hanya agar Yi Hua terlihat 'laki'.


...Hua Yifeng (Tuan Hua, An)...


Diberi nama 'Hua' yang artinya bunga. Itu karena Ling Xiao bertemu Hua Yifeng saat masih kecil di gunung Hua. Semakin dewasa Hua menambah nama belakangnya 'Yifeng', sehingga Hua menjadi marga atau nama keluarganya. Meski menjadi anak angkat Ling Xiao, Hua Yifeng tidak mengambil marga 'Ling' untuk nama keluarganya. Gelarnya adalah Pemilik Gunung Hua, karena dia adalah Raja di kota 'makhluk lain' di Gunung Hua. Sering disebut Iblis Kehancuran, karena sejarahnya (katanya) yang membantai seluruh orang kerajaan Li terdahulu.



Relasi:


-Orangtua kandung tidak diketahui. Hanya saja dia adalah salah satu keturunan Klan Bao. Kayanya Klan Bao memiliki keistimewaan di darahnya yang bisa membuat takut hewan buas dan menetralkan racun.


-Ling Xiao (Ayah Angkat), tapi di masa Yi Hua Ling Xiao malah sering disebut sebagai sahabat Hua Yifeng. Ling Xiao itu mantan peramal di Kerajaan Li.


Keluarga Kerajaan Li:


-Yang Mulia Raja Li, nama asli tidak pernah disebut. (meninggal).


-Permaisuri Jiang Ning (meninggal)


- Li Jun (meninggal)


- Li Chen (meninggal)


- Li Wei (meninggal), di masa depan dia terlahir kembali menjadi Yi Hua (pemeran utama kita wuyy .. Jangan sampai lupa).


- Li Shen ( Yang Mulia Kerajaan Li yang sekarang).


- Li Quon, (Putra Mahkota Kerajaan Li sekarang) Anak Li Shen dengan Selir Wen. Yaps ... Sebenarnya keponakannya si pemeran utama nih.


Keluarga Liu:


- Liu Xingsheng (Perdana Menteri Kiri Kerajaan Li)


- Liu XinQian (Selir Qian)


Perdana Menteri Kanan, Huan Ran.


Peramal Legendaris, Ling Xiao.


Penasihat Kerajaan, Wang Zeming.


Keluarga Wei:


- Wei Qionglin (Jenderal Besar Kerajaan Li yang sekarang)


- Wei Wuxie (meninggal)


...Lima Bencana Besar Kerajaan Li...



Putri Hitam, Li Wei.


2. Iblis Kehancuran, Hua Yifeng.


3. Tirai Berdarah, Zhang Yuwen.


4. Pendeta Buta, Shen Qibo (meninggal ketika bertarung dengan Yue Yan)


5. Tengkorak Putih, Bao Jiazhen (masih belum nampak hilalnya di novel ini)



Karakter tambahan.



Zhang Yi ( Pejabat yang bunuh para gadis untuk menghidupkan kekasihnya kembali)


Fang Yin ( Kekasihnya Zhang Yi)


Zi Si (pelayannya Li Quon pas kasus penyakitnya si putra mahkota)


Wei Fei (Si Penari yang jadi korban eksperimen)


Pengawal Bercadar yang pernah ngurung Yi Hua di Istana Awan, Hua Yifeng. Ini cuma muncul di bab awal. Tapi di kemudian hari bakalan muncul lagi karena dia 'agak' penting.


Raja Xin Wantang (di flasback)


Permaisuri Raja Xin, Su Nan (di flasback)


Liu Sang (di flasback). Agak penting untuk diingat karena berhubungan dengan karakter inti.


Bao Tian (Anaknya Zhang Yuwen)



Hufftt ... Banyak banget ya karakter di novel ini. Aku aja lupa-lupa ingat. Heran juga ni nama kok bejibun yah.


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.

__ADS_1


Mari bertemu di chapter selanjutnya.


Adios~


__ADS_2