
Jadi di sini sekarang Yi Hua.
Lagi-lagi ia harus memasuki Lembah Debu itu, tetapi dengan rombongan pedagang. Termasuk anak kecil yang dipanggil Ping itu. Sedari tadi anak kecil itu mengajak Yi Hua berbicara dengan semangat. Terutama saat anak ini tahu jika Yi Hua juga seorang pekerja kerajaan.
Ping terus berbicara dengan Yi Hua karena dia jelas tak berani bertanya pada Jenderal Wei.
"Katanya kerajaan sangat hebat, kak. Mereka bisa menciptakan hujan. Mereka juga menangkap penjahat yang sering menculik anak kecil. Aku tak pernah melihat para pejabat di kerajaan, tetapi bagaimana rupa mereka?" tanya anak itu dengan sumringah. Bahkan dia sampai memajukan wajahnya untuk menatap Yi Hua yang sedang memeluk pohon.
Pasalnya Yi Hua benar-benar lelah sekarang karena perjalanan jauh. Ia harus menempuh jalan di Lembah Debu dengan berjalan kaki. Itu semua karena mereka bersama para pedangan. Lagipula, lebih aman jika mereka tidak menggunakan kereta. Siapa yang tahu jika kereta mereka akan tersangkut di lubang yang diseliputi oleh debu di Lembah Debu ini. Sehingga jika menggunakan kereta mereka tak bisa mengemudi dengan cepat.
Hanya Huan Ran orang berbakat yang bisa mengemudikan kereta tanpa matanya pedih karena debu. Itu agak unik dan aneh. Bayangkan dengan debu setebal bedak Selir Kerajaan ini Huan Ran masih bisa mengemudi dengan kecepatan lari anak sapi.
SRET!
Yi Hua hanya bisa mendorong kepala anak kecil yang masih sangat semangat itu. Dia jelas terlalu lelah untuk menjawab pertanyaan aneh dari anak ini. Dia jelas anak yang punya kehidupan desa. Jauh dari politik kerajaan, dan bahkan belum pernah melihat istana. Tentu saja dia menjadi penasaran.
Percayalah, saat kau di kalangan 'biasa', kau berharap ingin punya kehidupan yang hebat. Dikenal banyak orang dan sebagainya. Akan tetapi, sebagian orang tak tahu jika hidupnya mungkin adalah pilihan paling damai dari segalanya.
Contohnya seperti Yi Hua sekarang. Seorang peramal yang dicurigai oleh para pejabat kerajaan akibat ramalannya. Bahkan Yi Hua punya pengalaman di dalam penjara. Sungguh menakjubkan hidup ini
Namun anak ini tetap mengguncang-guncang lengan Yi Hua dengan semangat. Hal itu membuat Yi Hua sekali lagi menjauhkan wajah anak ini dari depan matanya.
Hey, bocah ini! Apa dia tak tahu bahwa pria tak boleh memajukan wajahnya terlalu dekat pada seorang gadis
"HuaHua, aku menyuruhmu waspada. Bagaimana jika temanmu yang memelihara ular itu ada di sini?" omel Xiao pada Yi Hua yang selalu menyelipkan kekonyolan dalam hidupnya.
Lagipula, sejak kapan Yi Hua memiliki persahabatan dengan Yue Yan. Bahkan jika mereka bertemu pun mereka tak akan berpelukan dan menabur rindu di sana-sini. Jelas sekali bahwa Xiao memang sengaja mengejeknya.
"Kakak, kenapa kau tidak menjawab?" tanya anak itu yang berusaha mendekati Yi Hua lagi.
Namun tangan Yi Hua menahan dahi anak itu, sehingga meski sekuat apa anak itu berlari, dia akan tetap berada di tempatnya. Itu semua karena Yi Hua sejak awal bertenaga seperti sapi. Dan, akhirnya anak itu kelelahan sendiri.
"Memangnya kau bicara apa, anak kecil? Telingaku sebelumnya hanya bisa mendengar sesuatu yang berguna," ujar Yi Hua yang memang terbiasa sarkas.
Anak kecil yang jelas seputih ketiak sapi itu jelas hanya menggaruk kepalanya bingung. "Aku bertanya bagaimana orang-orang kerajaan bekerja? Mereka pasti hebat sekali karena bisa menyelesaikan semua masalah."
Menyelesaikan semua masalah?
Yi Hua nyaris mengguncang-guncang pohon yang masih ia peluk karena sebal. Bagaimana bisa anak ini berkata bahwa orang-orang kerajaan bekerja dengan hebat? Memang ada yang bekerja penuh dengan semangat untuk kebaikan orang lain, tetapi jika 'semua' belum tentu. Bahkan Yi Hua bekerja keras akhir-akhir ini, tetapi yang semakin tentram malah orang-orang kerajaan.
Yah, Yi Hua tak bisa menyalahkan anak ini karena dia jelas tak tahu.
"Kau bisa anggap mereka begitu," jawab Yi Hua karena tak ingin dianggap sebagai pengkritik.
Bagaimana pun dia lebih menyukai jika dirinya menjadi rakyat jelata nan polos bahagia.
"Kakak Lin juga mengatakan hal yang sama padaku," ujar Ping dengan semangat sambil melepaskan tangan Yi Hua yang tanpa sadar meremas pipi anak kecil itu.
__ADS_1
Tapi, kakak Lin?
Yi Hua mengedarkan pandangannya hingga sampai pada seorang pria bernama Lin. Setahu Yi Hua, pemandu ini memiliki nama keluarga Lin, dan karena itu dia dipanggil Lin. Ia hanya tak menyangka jika anak kecil ini cukup akrab dengan Lin.
Akan tetapi, karena Yi Hua terlalu lama menatap Lin, pria di samping Lin, Jenderal Biawak Wei Qionglin menyadarinya. Tanpa menunggu lama pria itu mengedipkan matanya pada Yi Hua. Hal itu membuat Yi Hua segera menabur garam, yang entah kenapa Yi Hua bawa.
Katanya, jika menabur garam bisa menghilangkan sial.
Lalu, s*alnya adalah Wei Qionglin hanya tertawa. Mengapa Jenderal ini gemar sekali membuat Yi Hua ingin mencakar dinding?
"Kakak Lin berkata jika mereka bekerja dengan sangat baik untuk menyingkirkan semua yang mengancam kerajaan," jelas Ping sambil masih mengitari Yi Hua yang masih nyaman dengan posisi memeluk pohonnya.
Yi Hua mengerutkan keningnya. "Yah, mereka memang seperti itu. Tapi Kakak Lin itu, kau sering berbicara dengannya?"
Anak itu menganggukkan kepalanya dengan semangat. "Setiap kali aku ikut berdagang aku selalu bertemu dengannya. Ia bercerita jika malam hari kita akan lebih mudah menemukan jalan keluar dari Lembah Debu."
Masalahnya adalah tak semua orang tahu tentang Lembah Debu sebanyak ini. Juga, bagaimana bisa ada pemandu yang begitu terkenal ini tak bisa terdengar sampai ke kerajaan? Apalagi untuk tempat berbahaya seperti Lembah Debu.
"Mengapa?" tanya Yi Hua sambil menatap hari yang mulai gelap.
Ia mulai mengerti mengapa mereka baru berangkat di sore hari. Awalnya Yi Hua mengira karena mereka kelamaan berbincang di kota. Ia juga tak bertanya karena Yi Hua agak risih dengan Wei Qionglin yang sangat 'ramah'. Bayangkan berapa kali tangan Wei Qionglin ingin merangkul bahu Yi Hua.
"Saat malam hari Lembah Debu lebih tenang dibanding siang hari. Itu semua karena saat terik matahari semua debu lebih kering. Akan tetapi, saat malam hari embun malam akan membuat debu agak basah." Kali ini yang menjawab bukanlah Ping lagi. Itu adalah seorang pria dengan pakaian sederhananya.
Wajahnya sangat tenang, dan tangan pria itu berusaha menutupi pandangannya dari cahaya matahari. Yi Hua memperhatikannya dengan lekat dan menyadari jika pria ini sangat mudah merasa silau. Sejak tadi pria ini cukup terganggu dengan jumlah cahaya yang tertangkap oleh matanya.
Yang orang takuti ialah Shen Qibo yang gemar membunuh orang lain. Belum lagi dengan kehadiran Yue Yan, yah walau ini tak diketahui oleh banyak orang, yang juga ada di Lembah Debu. Dua orang itu saling kejar-mengejar di dalam Lembah Debu. Akan tetapi, keduanya sangat jarang dipertemukan.
Mungkin Dewa tahu bagaimana memberikan kedamaian di dunia ini. Juga, Shen Qibo mungkin tak begitu perduli pada dendam Yue Yan. Pria itu tak ingin membuang waktunya untuk bertarung dengan Yue Yan.
Lin tertawa dengan senyum yang sangat lebar. "Itulah mengapa kita harus mencoba peruntungan."
Peruntungan?
Yi Hua mendekati Lin untuk menepuk belakangnya dengan agak kuat. Bahkan Lin sampai terbatuk beberapa kali karena tepukan Yi Hua di belakangnya.
BUGH! BUGH!
"Aku yakin kau adalah orang yang percaya pada peruntungan. Biasanya orang yang percaya pada peruntungan adalah orang yang bisa percaya diri walau menutup mata," ujar Yi Hua sambil terus menepuk punggung Lin.
Namun di sini ada Yi Hua.
Maka mereka jelas tak akan mendapat peruntungan. Itu semua karena Yi Hua adalah manusia yang disukai oleh kesialan. Anehnya, biasanya jika orang yang mudah sial itu sering menyebarkan kesialannya pada orang lain. Sehingga ... Dia pasti bisa menyelesaikan permintaan dari Wei Qionglin. Mereka pasti akan bertemu dengan Shen Qibo, dan mungkin Yue Yan juga.
Entah yang mana duluan akan mereka temukan.
"Baru kali ini aku mendengar seseorang yang sangat percaya diri pada kesialannya. Bahkan bisa menghasilkan uang dari kesialan," ujar Xiao di telinga Yi Hua. Entah itu pujian atau bukan, tetapi Yi Hua sudah terbiasa mendengarnya.
__ADS_1
"Itulah yang disebut pandai berbisnis, Xiao," cetus Yi Hua di dalam hati.
Yi Hua melihat Wei Qionglin mendekat ke arahnya. Mungkin mereka akan melanjutkan perjalanan lagi. Dan, Yi Hua harus segera mengucapkan selamat tinggal pada pohon tercinta yang ia peluk sebelumnya.
BRUK!
Baru saja Yi Hua merapatkan penutup kepalanya, suara keras itu terdengar. Yi Hua menghela napasnya. Ia tahu jika dirinya sangat sial. Namun jangan terlalu cepat seperti sekarang. Bahkan Yi Hua tengah lapar sekarang.
"Paman ... Paman!"
Anak kecil bernama Ping itu mengguncangkan tubuh seorang pria tua yang terbaring di pasir. Dari bibirnya mengeluarkan cairan berwarna putih. Gejala keracunan.
Pasti ular beracun milik Yue Yan.
Di tengah kepanikan itu, orang-orang menatap ke sekelilingnya dengan ketakutan. Mereka jelas tak berani untuk menjauh satu sama lainnya karena takut. Akan tetapi, Yi Hua segara berteriak.
"Jangan ada yang saling berdekatan. Menjauh!" teriak Yi Hua di tengah-tengah kepanikan.
Namun suara Yi Hua tentu saja datangnya sangat terlambat. Belum selesai orang-orang itu saling menjauh, dan beberapa dari mereka sangat kikuk hingga bingung sendiri. Hal itu yang membuat mereka bukannya memisah, malah semakin berkumpul.
Xiao memberitahu Yi Hua, "Arah matahari terbenam, Yi Hua. Jumlahnya banyak. Aku tak melihat di mana Yue Yan berada."
Kendali jarak jauh? Apakah kemampuan Yue Yan bertambah?
Biasanya binatang iblis seperti pelihara Yue Yan ini bisa dikendalikan oleh kekuatan yang dekat. Jika jauh biasanya para kultivator hanya bisa menerbangkan selembar boneka kertas. Itu pun jika alamatnya benar dan kekuatan cukup, maka boneka kertas akan sampai.
Atau, sejak awal Yue Yan telah berbaur dengan kelompok pedagang ini?
Yi Hua menatap pada Lin yang tengah menatap ke sekelilingnya. Pria itu tidak memiliki aura kekuatan. Yi Hua juga diam-diam meletakkan jimat di belakangnya, dan jimat itu tak bereaksi padanya. Dia seharusnya sudah mengatasi ini dari awal.
Namun ... Arah matahari terbenam?
Yi Hua segera berlari menuju Ping dan ayahnya yang masih memeriksa Paman yang tergeletak di pasir.
Lalu, di saat bersamaan seekor ular melompat ke arah Ping.
S*al!
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
Adios~
__ADS_1