Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Selembar Kain 2: Serangan Shen Qibo


__ADS_3

"Awas!"


Anak kecil bernama Ping itu jelas tak memiliki begitu banyak daya untuk melarikan diri. Ayahnya menarik Ping untuk menjauh dari ular tersebut. Akan tetapi, masih kalah cepat juga, karena entah mengapa pria itu yakin jika ular itu akan tetap mematuhinya. Yah, tentu saja karena tangan Ayah Ping segera memeluk anaknya. Melingkupinya agar tidak dipatuk ular.


Dan, ...


Sssshh


Suara desis ular itu terdengar tak lama setelah keributan. Hal itu membuat Ayah Ping mengangkat kepalanya. Ketika ia terkejut dengan Yi Hua yang berhasil menangkap ular itu. Tangan Yi Hua dengan cepat mengikat ular itu agar tidak bisa mematuk.


Setelah itu, Yi Hua melemparnya ke tanah dan menghidupkan api dari jimatnya. Jimat itu layangkan ke tanah yang agak gelap karena matahari mulai padam. Hal itu membuat Yi Hua bisa melihat ular-ular yang bergerombol seperti semut.


Itu sangat mengerikan.


SRATTT!!


Sisa ular yang tersisa mundur karena api dari Yi Hua. Selama ada api itu, para ular tak akan berani menerobos. Yi Hua segera menatap pada Ping dan ayahnya yang masih berpelukan. Yi Hua menghela napas karena kedua orang itu masih baik-baik saja.


Sedangkan Paman Tua yang masih tergeletak sebelumnya ... Yi Hua menunduk untuk memeriksa.


"Xiao, periksa kadar racun di tubuhnya," perintah Yi Hua di dalam hati. Tangannya memeriksa seperti seorang tabib, tapi sebenarnya Yi Hua tak tahu memeriksa.


Ia hanya perlu menyentuh nadi seseorang, dan Xiao bisa merasakannya. Apalagi pemeriksaan Xiao lebih akurat daripada hanya menebak saja. Setidaknya Xiao ada sisi berguna, walau mulut berbisa Xiao bisa dijadikan alasan untuk menghina sistem ini terus-menerus.


Ping mendekat pada Yi Hua yang tengah memeriksa. "Bagaimana keadaan Paman, Kakak?" tanyanya dengan mata berair. Situasi ini tidak baik untuk seorang anak kecil sepertinya.


"Paman ini keracunan parah tetapi nyawanya masih belum melayang. Dia masih bisa bernapas dengan baik-baik dan berlari seperti sapi jika diberi penawarnya," ujar Xiao cepat. Ia tak perduli jika penjelasannya menyebalkan atau tidak.


Masalahnya adalah ular milik Yue Yan itu tak diketahui penawarnya. Jika pun ada Yi Hua yakin tak mudah. Dia pernah dipatuk oleh ular peliharaan Yue Yan, tetapi Yi Hua mengatasinya dengan memotong tangannya sendiri. Berkat kemampuan 'kembali ke awal' Yi Hua masih hidup seperti Phoenix yang lahir dari api. Jelas sekali Yi Hua tak bisa melakukan metode ini pada si Paman, atau Yi Hua akan membuat Paman ini kehabisan darah.


Ping mengguncang bahu Yi Hua dengan panik. "Kenapa kakak tak menjawab? Mengapa Paman tak bergerak seperti ini?" tanya Ping yang membuat situasi semakin panik.


Apakah aku harus melakukan ini?


Yi Hua sekarang masih belum bisa menghentikan peredaran racun. Ia yakin ada penawarnya, tetapi ia tak yakin itu mudah ditemukan. Jalan satu-satunya adalah menyumbat aliran racun itu. Akan tetapi, itu jelas tak mudah.


Jika ular biasa mungkin dengan mengikat bagian atas dari tubuh yang dipatuk akan membuatnya berhenti. Akan tetapi, sejak awal racun ular dari Yue Yan itu berbeda. Yi Hua sudah merasakannya sendiri. Aliran racunnya sangat cepat, dan Yi Hua yakin tak lama racunnya akan menuju jantung.


SRET!


Yi Hua memeriksa di mana Paman ini dipatuk. Ia masih tak menghiraukan suara dari Ping. Yi Hua harus fokus sekarang. Akhirnya ia menemukan di mana Paman itu dipatuk. Itu tepat di lengan kanannya. Jika dibiarkan, meski sudah mendapat penawarnya, tetapi akan tetap membuat Paman ini kehilangan tangan apabila racunnya menyebar.


"HuaHua, jika kau melakukan itu, maka semua rasa sakit akan berpindah padamu," cetus Xiao yang selalu menjadi bagian untuk mengingatkan.


Akan tetapi, Xiao selalu membiarkan Yi Hua memilih apa yang dia inginkan. Sebab, dia hanyalah sebuah sistem. Jika Yi Hua tak mengikutinya dan dalam bahaya, maka Xiao juga dalam bahaya. Satu-satunya hukuman bagi Yi Hua adalah penderitaan dari kemampuan 'kembali ke awal'. Rasa sakit tanpa henti hingga kau berharap akan mati. Namun kau tak bisa mati, dan sakitnya itu terus datang hingga kemampuan itu berhenti.


Meski begitu, ... Seperti yang sudah sering terjadi. Yi Hua cukup keras kepala, dan tetap melakukan apa yang bisa dia lakukan. Memindahkan rasa sakit dari Paman itu padanya. Sehingga semua rasa sakitnya berpindah, tetapi racunnya tak bisa dipindahkan. Paman ini akan tetap mati jika terlambat, tetapi rasa sakitnya jatuh pada Yi Hua.


Sakit dan dingin.


Yi Hua hampir merasa kebas dan tak bisa menahan tubuhnya sendiri. Akan tetapi, berkat kemampuan 'kembali ke awal', Yi Hua punya jaminan bahwa sakit ini tak akan membuatnya mati. Walau dia akan terus sakit hingga Paman ini diberi penawarnya.


Yi Hua berkeringat dingin sekarang. Ia menyentuh telinga kirinya dengan gemetaran. "Cari tahu jenis racunnya," ujar Yi Hua dalam hati.


Xiao hanya berkata. "Kau melakukan ini untuk apa, HuaHua? Kau hanya punya tugas untuk mengumpulkan ingatanmu. Apapun yang terjadi itu bukan urusanmu sebenarnya."


Yah benar ... Ini bukan urusanku, dan aku juga bukanlah orang yang baik. Kenapa aku melakukan ini semua?


"Yi Hua, apa yang kau lakukan?" Jenderal Wei yang melihat Yi Hua yang pucat.


SRET!


Lalu, belum sempat Yi Hua menjawab, Paman yang sebelumnya nyaris menjadi mayat itu langsung membuka matanya. Dengan bingung Paman itu bangun dan memeriksa tubuhnya sendiri. Bukankah sebelumnya dia sangat kesakitan? Bagaimana bisa sekarang tubuhnya sangat ringan?


Ping berseru dengan riang. "Paman ... Akhirnya Paman tak mati."


Yi Hua memundurkan tubuhnya sambil memegang lengan kanannya. Ia tak perduli jika Jenderal Wei Qionglin melihatnya begitu lekat. Di lengannya jelas tak ada luka. Sebab, di sana hanya ada rasa sakit semata.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Wei Qionglin sekali lagi.

__ADS_1


Itu semua karena ia melihat Yi Hua seperti siap terjatuh kapan saja. Namun entah mengapa peramal ini tetap berdiri dengan tegak. Tanpa ingin mengeluh apapun tentang rasa sakitnya.


Wei Qionglin mengulurkan tangannya untuk memeriksa lengan Yi Hua. Akan tetapi, peramal kecil itu memundurkan tubuhnya. Berusaha menjauh dari jangkauan Wei Qionglin. Dan, ini pertama kalinya Wei Qionglin ditolak seperti itu.


Pria itu segera meraih tangan Yi Hua agak paksa. Hanya untuk memeriksa apa yang membuat peramal itu kesakitan. Akan tetapi, ia terkejut ketika dia tak melihat luka apapun di sana. Namun Yi Hua yang kesakitan sama sekali bukanlah kebohongan.


Yi Hua ini tak seperti yang Wei Qionglin dengar dari orang-orang kerajaan.


Wei Qionglin tak tahu apa yang Yi Hua lakukan. Namun bagi pria itu, Paman itu telah disembuhkan oleh Yi Hua. Dan, buruknya lagi Wei Qionglin tak bisa melakukan apa-apa. Ini kali keduanya dia merasa sangat lemah.


Pertama, karena dia tak bisa menyelamatkan orang-orang di Lembah Debu. Kedua, adalah dia harus melihat peramal kecil ini melakukan banyak hal, padahal Wei Qionglin tak berfungsi sedikit pun. Entah mengapa Wei Qionglin ingin melindungi Yi Hua, meski Yi Hua sendiri tak perduli padanya.


S*alan!


SRAT!


"Awas ... Ularnya semakin banyak," teriakan itu membuat pandangan Wei Qionglin akhirnya teralih pada kerumunan.


Situasi sudah sangat genting hingga mereka terkumpul di tengah. Yi Hua sejak tadi hanya diam tanpa berkata apa-apa. Paman yg sebelumnya telah sekarat juga ikut-ikut berkerumun. Hal itu membuat orang-orang merasa sangat aneh.


Bukankah baru saja pria tua ini terkapar dengan cairan putih di mulutnya? Lalu, bagaimana bisa dia sekarang sangat semangat berlari seperti ini?


"Yi Hua ..." Wei Qionglin yang khawatir menengok lagi pada Yi Hua, tetapi sosok itu tak terlihat lagi.


Hey, bagaimana bisa peramal itu begitu lincah seperti anak sapi?


Wei Qionglin langsung panik untuk mencari Yi Hua. Namun ...


SRAH!!!!


Aliran api datang dari kegelapan. Di sana ada Yi Hua yang menyebarkan jimat yang terbakar di udara. Sepertinya yang mereka perlukan adalah cahaya. Dan, ...


"Ular sebanyak ini ..."


Yi Hua bergidik melihat jumlah ular yang bergerombol itu. Itu terlalu banyak sampai Yi Hua awalnya berpikir jika itu gerombolan semut. Namun mendengar desisannya, ini seperti mereka baru saja masuk ke sarang ular.


Adakah situasi yang lebih buruk dari ini semua?


Wei Qionglin yang tahu jika Yi Hua membuka jalan. Ia segera berteriak, "Ikuti kertas api di udara. Ular tak akan mendekat jika ada api."


DUG! DUG! DUG!


Awalnya semua berjalan cukup stabil. Yi Hua bisa menghindarkan para pedagang ini dari serbuan ular. Akan tetapi, entah mengapa ular yang awalnya takut pada api-api itu malah menerobos api tanpa takut.


Badan-badan ular mengeliat karena kepanasan. Namun api itu tak membakarnya. Sebab, setelah mereka berguling, api di tubuh mereka langsung padam. Lalu, mereka kembali menuju ke arah kerumunan tanpa ada luka sedikit pun.


Sejak kapan ular ini memiliki kemampuan menyembuhkan diri dengan sangat cepat seperti ini?


Seperti yang Yi Hua duga, pengendalinya ada di sini.


Ketika Yi Hua melihatnya, dia bisa melihat sosok pria dalam kegelapan. Itu adalah orang yang mengendalikan ular-ular ini. Semuanya sudah diatur sedemikian rupa sehingga mereka seperti dibawa ke sarang ular. Apalagi saat ini sudah sangat gelap. Tidak ada bulan atau bintang di langit malam, pertanda hujan akan segera datang.


Yi Hua mengarahkan jimatnya ke sosok itu, tetapi jimat Yi Hua yang lemah jelas hanya bisa melayang ke depan sosok itu. Dan, tercabik di udara seperti debu. Lalu, sosok itu perlahan menjauh dengan tenang seolah membiarkan mereka habis diserang oleh ular.


"Shen Qibo, itu kau! Jangan pergi!" teriak Yi Hua yang ingin mengejar Shen Qibo pergi.


Harusnya aku memukul kepala pria ini sejak aku mengetahui bahwa dia Shen Qibo! Siapa sangka dia juga bisa mengendalikan ular seperti Yue Yan.


Namun Yi Hua terlambat untuk membuat keputusan. Awalnya dia hanya ingin tahu alasan mengapa pria ini berbaur dengan para pedagang. Meski begitu, Shen Qibo memang orang yang sangat acak. Bahkan tak ada yang bisa mengerti isi kepalanya.


"HuaHua, menunduk!" perintah Xiao yang sangat telat. Ular itu sudah melintas seperti habis ditendang sapi.


STAP!


GREP!


Sebab, hanya sepersekian detik ular itu akan mematuk pada wajah Yi Hua, dan Yi Hua hampir berpikir jika dia akan segera kesakitan. Namun ular itu segera terlempar dengan potongan-potongan kecil seperti tahu. Dan, bukan hanya ular tersebut saja yang terpotong, tetapi kini Yi Hua melihat bangkai ular yang berserakan di sekitar mereka.


STAB!

__ADS_1


Lalu, tak lama setelah itu sebuah pedang melintas tak jauh dari Yi Hua. Pedang itu melayang dan tertancap keras di pasir. Itu adalah pedang berwarna hitam yang sangat khas. Bahkan Yi Hua bisa melihat aura gelap dari pedang yang memang sudah sangat gelap.


Yi Hua mengedarkan pandangannya. Jika pedangnya ada di sini, di mana pemiliknya?


SRING!


TAK!


Lalu, pedang itu kembali terbang dan menuju ke arah kegelapan. Dari kegelapan itu dua pedang beradu hingga menghasilkan cahaya kejut seperti petir. Yi Hua berpikir bahwa dia harus menggunakan pertarungan ini sebagai jalan dia menyelamatkan para pedangan.


Yi Hua memanggil Wei Qionglin sambil tetap memeluk lengannya yang kebas. "Berikan perintah, Jenderal."


"Segera tinggalkan tempat ini! Ingat untuk memeriksa di sekeliling kalian. Bahkan jika itu barang bawaan. Mungkin saja ular menyelinap di sana," perintah Wei Qionglin yang langsung mendapat gerakan setuju dari para pedagang.


Itulah mengapa Yi Hua memerintahkan Wei Qionglin untuk memanggil. Sebab, jika itu Yi Hua, mereka tak akan mendengarkannya.


SRING!


TAK!


TAK!


Dalam kegelapan malam itu muncul cahaya kilat dari pertemuan pedang. Yi Hua jelas tahu bahwa terjadi pertarungan sengit. Dan, percayalah Yi Hua tahu siapa yang datang.


Terdengar suara Wei Qionglin berteriak dari kegelapan. Sepertinya mereka menemukan tempat yang aman untuk bersembunyi. Inti dari apa yang Yi Hua dengar ialah Wei Qionglin menemukan rumah yang tak terpakai lagi di Lembah Debu. Mungkin rumah itu bisa melindungi mereka dari serangan ular itu.


Belum lagi Yi Hua tak ingin terlibat dalam pertarungan pedang itu. Ia jelas tak ingin terkena tebasan karena berusaha mengalangi.


"Ikuti api terbang itu!" perintah Wei Qionglin, tetapi pria itu tetap memperhatikan lengan Yi Hua.


Percayalah ... Yi Hua juga masih tak tahu bagaimana menanggulangi racun ular ini. Selama tak diberi penawar, rasa sakitnya akan terus datang pada Yi Hua. Namun masalahnya penawar itu tak diketahui apa jenisnya.


"Menurut bisa dari ularnya, kau bisa dilihat dari jenis lukanya. Itu seperti dipatuk oleh ular biasa, tetapi racun yang ada di sana lebih kuat dari bisa ular yang terkuat. Penawarnya jelas tak seperti penawar biasa, HuaHua," jelas Xiao dengan cepat setelah selesai menganalisis jenis racun.


Yi Hua hanya memiliki beberapa jimat untuk menciptakan penerangan. Itu pun sudah Yi Hua arahkan ke depan rombongan pedagang. Sehingga Yi Hua hanya punya beberapa jimat sebagai cadangan.


Jangan sampai dia kehabisan jimat di sini!


"Kau sudah tahu penawarnya apa?" tanya Yi Hua yang tanpa sadar berteriak. Itu karena dia sudah sangat kesakitan.


"Itu adalah jamur yang tumbuh di langit-langit lubang dalam Lembah Debu. Kau pernah ke sana, tetapi kau tak pernah melihatnya. Jamur itu adalah makanan para ular ini. Jika dioleskan ke bekas gigitan akan menghilangkan bisa ular," jelas Xiao yang juga ikutan berteriak. Mungkin sistem ini terkejut dengan Yi Hua yang berteriak. Biasanya Yi Hua hanya akan berbisik padanya.


Wei Qionglin yang mendengar ucapan Yi Hua berteriak juga, "Kau bilang apa, Yi Hua? Aku tak mendengarmu," ujar Wei Qionglin yang ikut-ikutan berteriak karena dia mengira Yi Hua bicara padanya. Pedangnya juga sudah digenggam erat untuk menjaga di sekeliling para pedagang.


Kenapa semua orang sekarang saling berteriak?


Lagipula, jika jamur itu ada di sana bukannya sama dengan mencari mati? Jika memang makanan ular ada di sana, itu sama saja dengan sarangnya. Apalagi lubang Lembah Debu itu sangat sulit dimasuki karena tak ada yang tahu lubangnya di mana. Yi Hua dulu pernah masuk ke sana karena terjatuh, sehingga dia tak ingat di mana lubang itu berada.


Namun ...


Yi Hua berusaha menyeimbangkan tubuhnya yang oleng. Sekarang jantungnya berdegup dengan kencang. Sepertinya racunnya sudah mulai menyebar menuju jantung. Jika ia tak sedikit keras kepala, maka Yi Hua akan memilih untuk berguling-guling di pasir saking sakitnya. Namun Yi Hua tak bisa melakukannya, karena ia harus mengarahkan mereka ke tempat yang aman. Atau, mereka akan mengganggu pertarungan sengit di dalam gelap itu.


Mereka harus cepat, atau ...


BRUK!


Wei Qionglin yang masih mencari arah suara Yi Hua, langsung menoleh ke arah suara jatuh yang sangat keras. Mata Wei Qionglin terpaku pada sosok putih yang terjatuh di pasir. Sekali lihat pun ia tahu siapa yang terjatuh di sana.


"Yi Hua!"


Namun Wei Qionglin tak bisa mendekati Yi Hua, karena ada cahaya aneh yang muncul dari Yi Hua. Itu adalah cahaya warna merah yang berpedar.


Apa-apaan ini?


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.

__ADS_1


Mari bertemu di chapter selanjutnya.


Adios~


__ADS_2