Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Putri Li Wei 14: Menghancurkan Pedang Terkutuk


__ADS_3

BUAHHH!


Li Wei mengangkat kepalanya seperti telah berendam lama di dalam air. Itu semua terjadi karena Li Wei memang sempat terkubur di bawah longsoran batu. Sehingga ketika udara datang kembali padanya, ia harus bernapas dengan baik.


Rupa-rupa sekali perjalananku di Labirin Batu ini. Bukannya aku hanya sedang ikut ujian Pelatihan Awan?


Entah mengapa ujian untuk lulus pelatihan malah menjadi ujian lulus dari kematian. Li Wei sudah tak mengerti lagi dengan kesialan yang terjadi di sekelilingnya.


Li Wei berusaha bangkit, tetapi rasa nyeri di kakinya mulai terasa lagi. Li Wei memperhatikan kakinya yang dalam posisi aneh. Bagaimana bisa ia melihat telapak kakinya terlebih dahulu ketimbang punggung kakinya?


Mau tak mau Li Wei menyadari bahwa tulang kakinya terputar akibat tertindih batu.


"Akhh ..." Li Wei memejamkan matanya karena ingin memutar kakinya sendiri.


Tapi, Li Wei takut.


Pada akhirnya, Li Wei hanya bisa memperhatikan di sekelilingnya. Ia bisa melihat bahwa sekarang dirinya berada di wilayah rerumputan yang luas. Ada banyak batu berserakan di sekelilingnya, tetapi ia tak melihat dinding-dinding yang roboh.


Bisa disimpulkan ketika longsor Li Wei berpindah tempat ke sini. Lalu, dimana yang lainnya?


"Wei Wuxie? Zhang Yuwen ... Tuan Hua!" teriak Li Wei untuk memastikan kehadiran dari yang lainnya.


Namun ...


"Tuan ... "


GREP!


Kenapa akhir-akhir ini banyak sekali yang membekap mulutku?


Li Wei berusaha memberontak, tetapi suara tenang terdengar di belakangnya. "Ini bagian tengah labirin."


Tengah Labirin Batu?


Li Wei meraba tangan yang membekapnya, ...


Ini Tuan Hua.


Pria ini mungkin pergi sebentar untuk memeriksa keadaan sekitar. Sehingga ketikao Wei bangun, Hua tak ada di sekitarnya. Li Wei berpikir seperti itu karena ia ingat saat terjatuh, Hua adalah yang paling dekat dengan Li Wei.


Hua melepaskan bekapannya pada mulut Li Wei, dan Li Wei segera bertanya, "Dimana Wei Wuxie dan Zhang Yuwen?"


SRET!


Lalu, mata Li Wei mengikuti arah Hua menunjuk. Tepatnya itu di bagian yang tak jauh dari mereka. Dan, itu sangat mencolok lagi mengerikan. Karena Li Wei melihat segerombolan kelelawar hitam yang berputar di satu titik. Karena penuhnya gerombolan itu, Li Wei tak bisa melihat apa yang dikerubunginya.


Meski begitu, Hua menunjuk ke arah sana, dan meneruskannya, "Mereka di sana."


Ini bercanda, bukan?


Bagaimana bisa Zhang Yuwen dan Wei Wuxie dikerubungi oleh kelelawar, dan mereka hanya diam. Li Wei menggeleng kepalanya tak ingin mempercayainya, "Mereka tidak ..."


Padahal baru saja mereka tengah berbincang sebelum labirin longsor.


"Mereka masih hidup."


Eh? Li Wei baru saja ingin menangis berguling-guling, tetapi Hua sudah menghancurkan momen sedihnya.


Li Wei menoleh pada Hua yang ada di belakangnya. Dari sana Li Wei bisa melihat bulu mata Hua yang lentik dan lebat seperti bulu mata sapi. Mata pria itu kecokelatan seperti warna tanah berlumpur, tetapi warnanya cukup gelap.


Pria ini pasti diberkati Dewa ketika sedang diciptakan, makanya wajahnya sangat menarik.


"Kelelawar itu sangat sensitif pada bunyi. Mereka hanya pura-pura tak sadarkan diri," jelas Hua yang kali ini cukup banyak berbicara.


"Lalu, mengapa mereka tak datang kemari?" tanya Li Wei yang heran.


Baru saja Li Wei berteriak sebelumnya, tetapi ia tak dikerubungi oleh kelelawar itu. Bukannya Li Wei ingin diajak berbicara dengan kelelawar itu, tetapi ini agak aneh. Apa kelelawar ini pilih-pilih orang untuk dikerubungi?


"Darahku. Mereka tak menyukainya," balas Hua dengan nada yang dalam.


Huh?


Li Wei kali ini menundukkan kepalanya untuk melihat pada telapak tangan Hua. Entah sejak kapan ada darah yang menetes dari sana. Hua benar-benar melukai tangannya, dan meneteskan darahnya di sekeliling mereka berdua.


Hanya saja ... Li Wei baru pernah mendengar jika seseorang memiliki darah yang bisa mengusir binatang.


Hua menyadari tatapan Li Wei, dan tak berniat menjelaskan apa-apa. Seperti itu adalah apa yang sudah ditanggung oleh Hua sejak lama. Sejatinya, Li Wei tak pernah tahu bagaimana hidup Hua ini. Li Wei tak tahu banyak tentang Hua, tetapi ia mengganggu Hua ke sana-sini.


"Maaf atas tanganmu," ucap Li Wei yang merasa bersalah.


Namun Hua sepertinya tak perduli tentang hal itu. Pria itu malah tengah mempersiapkan panahnya lagi. Hua sepertinya masih memiliki beberapa panah. Mungkin sekitar dua buah panah.


Apa jangan-jangan Hua tidak mengikuti Perburuan Malam sama sekali. Ia tak memanah hewan buruan yang dibuat oleh Ling Xiao. Pria ini sama sekali tak perduli pada pelatihan.


"Sekarang apa yang bisa kita lakukan?" tanya Li Wei yang berusaha berkomunikasi dengan Hua.


Bagaimana pun dirinya masih tak mengerti apa yang terjadi saat ini. Hanya saja ia mulai setuju bahwa ada hal tak rasional di sini. Apa mereka benar-benar terkena sihir atau ilusi dari pedang terkutuk itu. Entahlah.


"Persembahan." tunjuk Hua pada gerombolan itu.


Hal tersebut membuat Li Wei menatap pada Zhang Yuwen dan Wei Wuxie yang aneh-anehnya seperti ditarik. Kelelawar ini tidak sedang memangsa mereka, tetapi seperti menyeret mereka berdua secara bersama. Kelelawar ini seperti ingin membawa kedua orang ini ke suatu tempat. Zhang Yuwen sebenarnya sudah sadar, tetapi ia tahu keadaannya. Sehingga mereka tetap diam.


Seperti yang dikatakan oleh Hua tentang persembahan. Apa maksudnya kedua orang ini akan dipersembahkan?


"Jika seperti itu, maka kelelawar ini sedang membawa Zhang Yuwen dan Wei Wuxie untuk dipersembahkan pada pedang Pangeran Penduka?" tanya Li Wei yang masih duduk di tanah.


Kakinya terkilir, bukan? Ia tak bisa berjalan untuk mengikuti rombongan kelelawar itu. Li Wei hanya bisa menggelinding saja ke sana.


Atau aku mengikuti gaya ulat bulu saja untuk mengikuti kedua orang ini?


"Kau ..."


Li Wei menoleh lagi pada Hua yang memanggilnya. Entah sejak kapan pria ini berada di sampingnya, dan mengulurkan tangan untuk ....


"Apa?"

__ADS_1


KRAK!


Mata Li Wei membulat ketika Hua memutar pergelangan kakinya untuk mengembalikan tulangnya seperti semula. Li Wei yang takut membuat keributan segera menggigit punggung tangannya sendiri. Mencegah mereka ketahuan, dan tangan Li Wei meremas pergelangan tangan Hua yang tegap.


Pasti orang ini punya dendam tersirat padaku. Pasti!


Li Wei memejamkan matanya untuk memeras air matanya dahulu. Lalu, setelah itu ia menguatkan hatinya, dan meneriaki Hua, "Kenapa tak bicara dulu?!" tanya Li Wei yang sudah siap menendang kepala Hua.


Sayangnya, Hua menjauh karena tahu kekuatan kaki Li Wei yang seperti sapi kerasukan.


"Sudah."


Sudah katanya Si Dinding Bergigi Permata ini? Dia hanya menyebut kau dan langsung memutar kaki Li Wei seolah kaki Li Wei hanyalah tusuk gigi. Dikiranya Li Wei orang yang kasar seperti itu. Ia itu gadis lemah lembut yang tak tahu cara memukul.


Ya sudahlah.


Daripada tulang kakinya bergeser, dan Hua hanya membantunya. Akan tetapi, tetap saja jika diingat lagi Li Wei rasanya ingin mencekik Hua. Walau dia takut ditebas dengan pria berwajah datar ini.


Namun Hua tanpa mengatakan apa-apa lagi langsung memberikan punggungnya pada Li Wei. Hal tersebut membuat Li Wei tak nyaman. Lagi-lagi ia merepotkan Hua untuk menggendongnya. Akan tetapi, jelas Hua tak bisa meninggalkan Li Wei di sini.


Mereka harus menyelamatkan Zhang Yuwen dan Wei Wuxie. Atau kedua orang itu akan menjadi korban persembahan untuk pedang terkutuk.


Ini sudah seratus tahun lebih. Pedang yang terbiasa menelan darah akan terus-menerus menelan darah. Jika tidak diberikan persembahan, maka pedang itu akan membuat bencana bagi manusia.


Jika seperti itu mereka tak punya pilihan lain lagi. Mereka harus menghancurkan pedang terkutuk itu. Pedang yang membawa dendam dari pemiliknya.


"Ayo," ucap Li Wei mau tak mau memeluk leher Hua lagi.


Ini bukan saat yang tepat untuk berdebat tentang harus naik atau tidaknya ke punggung Hua.


Mereka tak punya banyak waktu, atau mereka benar-benar tak bisa keluar dari sini.


***


"Di sana."


Ketika berada di punggung Hua, Li Wei nyaris tertidur. Apalagi angin malam memberi informasi bahwa sudah waktunya tidur. Sehingga ketika mendengar suara Hua yang mahal itu, Li Wei membuka matanya dengan berat. Bahkan ia mengusap dagunya sendiri untuk memastikan jika belum ada jejaknya di sana.


Bukankah sangat buruk jika Hua merasa basah di kepalanya sendiri karena Li Wei ketiduran?


Akan tetapi, pandangan Li Wei menjadi fokus ketika melihat Zhang Yuwen dan Wei Wuxie yang sudah terbebas dari kelelawar. Kemudian, gerombolan kelelawar tersebut mengerubungi batu seperti tengah membicarakan tetangga. Li Wei langsung memeluk pohon di sampingnya untuk bersembunyi. Ia juga menekan bahu Hua, dan memaksa pria itu untuk ikut duduk juga. Dan, aneh-anehnya Hua mengikuti. Jadi, mereka berdua sedang bersembunyi di belakang pohon yang jelas-jelas tak bisa menyembunyikan keberadaan mereka. Apalagi tubuh bongsor Hua yang makan tempat.


Entah mengapa Hua tak merasa aneh lagi dengan tingkah Li Wei yang terkadang rusuh.


Zhang Yuwen yang jelas-jelas sudah bangun dari tadi segera bangkit. Pria itu menepuk kecil pipi Wei Wuxie yang masih pingsan. Zhang Yuwen bisa melihat ada aliran darah dari dahi Wei Wuxie. Sepertinya Wei Wuxie sedikit terbentur sebelumnya.


Karena takut Wei Wuxie sudah mendaftar menjadi warga di surga, Zhang Yuwen segera memeriksa napas Wei Wuxie. Dan, ia menghela napas saat merasa pria itu masih bernapas. Hampir saja Zhang Yuwen berniat mencekik Wei Wuxie agar tahu temannya itu sadar atau tidak.


"Psstt ..."


Zhang Yuwen masih menepuk-nepuk pipi Wei Wuxie untuk menyadarkan pria itu. Sehingga ia tak memperdulikan panggilan Li Wei. Tentu saja Zhang Yuwen tak tahu jika Li Wei dan Hua mengikuti mereka sedari tadi.


"Psstt ..."


Sekali lagi Li Wei memanggil, Zhang Yuwen malah membacakan mantra menenangkan mayat pada Wei Wuxie.


BUGH!


"Aduh ... Hey!" terus Zhang Yuwen tak terima.


Karena suaranya yang terlanjur besar, Zhang Yuwen langsung pura-pura pingsan lagi. Akan tetapi, gerombolan kelelawar itu masih sibuk berkumpul dengan kelompok mereka. Mungkin sedang membicarakan pengeluaran dan anggaran. Entahlah.


Saat menyadari bahwa tak ada pergerakan dari para kelelawar itu, Zhang Yuwen bangkit lagi untuk melihat ke arah yang melempar. Ketika ia melihat wajah Li Wei dan kepalan tangan Li Wei yang mengacung di udara, Zhang Yuwen langsung mengangkat tangannya. Menyerah demi kebaikan.


Li Wei memberi isyarat agar Zhang Yuwen untuk tetap berada di sana. Tepatnya untuk menjaga Wei Wuxie juga. Bagaimana pun Wei Wuxie terlihat cukup parah. Sedangkan Li Wei mengamati pada gerombolan kelelawar itu yang seperti saling menggerogoti.


Li Wei mendadak geli sendiri.


"Apakah ini sungguhan kutukan dari pedang Pangeran Penduka?" tanya Li Wei pada Hua.


Mayat Berjalan tak ada lagi di sekitar mereka. Meski begitu, tak ada yang menjamin jika pedang itu akan menarik energi buruk lagi. Jika itu terjadi mereka berarti harus mengatasi dua hal buruk secara bersamaan.


"Iya."


Sungguh, Li Wei harus berdiskusi dengan siapa ini?


"Apa yang terjadi jika pedang itu disentuh?" Yah, walau Li Wei belum melihat seperti apa pedang itu, tetapi sebuah pedang yang tertanam di dalam tanah selama seratus tahun tak akan sama seperti sebelumnya.


"Dikutuk."


Jika itu, Li Wei juga tahu. Kalau pedang terkutuk, jelas akan dikutuk. Jika pedang terbaik, pasti juga paling baik. Begitu saja perlu disebut oleh Hua, padahal itu adalah hal yang sepele. Yang Li Wei perlukan adalah informasi jelasnya. Tak habisnya Li Wei mengomel hari ini.


"Pedangnya menjadi batu," ujar Hua menambahkan. Entah mengapa pria itu masih ikut bersembunyi bersama Li Wei di sana. Bahkan ia ikut-ikutan menunduk, karena penasaran dengan tingkah Li Wei.


Bukankah jika mereka sekarang sedang bersembunyi dari musuh, maksudnya manusia, mereka akan segera ketahuan?


Apalagi dengan tingkah Li Wei yang menengok ke sana-sini untuk memeriksa.


Li Wei memperhatikan kerumunan kelelawar itu, "Bukankah kelelawar ini seperti membentuk lingkaran?"


Nyatanya kelelawar ini memang mengerubungi sebuah batu. Akan tetapi, jika diamati lebih teliti kelelawar ini hanya mengelilingi di bagian sisinya, tidak di bagian atasnya. Sama seperti pemujaan terhadap Dewa, tak ada makhluk yang memuja sesuatu dari atas bukan? Yang ada adalah menunduk dari samping, dan tidak berada di bagian atasnya.


Itulah yang dilakukan oleh para kelelawar ini.


Lagipula, jika pedang itu telah menjadi batu, maka jika terpukul keras, maka akan pecah juga. Apalagi tak pernah disebutkan jika pedang pangeran penduka itu dari bahan yang seperti apa. Biasanya jika sebuah pedang hebat, maka akan memiliki cerita sendiri.


Namun pedang terkutuk itu hanya memiliki cerita tentang kutukannya yang mengerikan. Itu pun setelah pemiliknya mati dahulu, baru pedang itu menyimpan dendamnya.


Mendadak Li Wei mengingat ucapan dari Wang Zeming, Penasihat Kerajaan. Yah, Li Wei harus menyebut Penasihat Wang sebagai gurunya. Itu semua karena sebelum Li Wei masuk ke dalam pelatihan, Wang Zeming adalah orang yang mengajarkannya berpedang, menunggang kuda, dan memanah.


"Meski sekuat apapun batu, tetapi jika sudah lama pasti akan memiliki retaknya. Jika kau menusuk ke bagian retaknya, kau mungkin bisa memecahnya," ucap Wang Zeming ketika gurunya itu dengan aneh-aneh meminta Li Wei memanah batu.


Yah, terkadang Li Wei hanya mengikuti apa yang Wang Zeming ajarkan. Lebih tepatnya, Wang Zeming mengajarkan Li Wei untuk teliti, bahkan jika itu hanya pada sebuah retakan.


Retakannya.

__ADS_1


Li Wei menghela napasnya. "Namun dari jarak sejauh ini aku tak bisa melihat retaknya," bisik Li Wei.


Apalagi jika melihat hanya dari celah yang terbuka dari kerumunan kelelawar ini. Li Wei jelas tak bisa melihatnya.


"Retakannya ada di samping kiri atas," ucap Hua sambil menatap ke arah depan. Lurus.


Li Wei menatap Hua, dan ia menyadari jika Hua tak berkata sembarangan.


"Anda melihatnya?" tanya Li Wei tak percaya. Padahal mereka ada di posisi yang sama. Belum lagi dengan kelelawar yang menghalangi pandangan mereka.


Namun Hua melihatnya. Pria ini sebenarnya siapa?


Hua tak menjawab apa-apa, dan Li Wei menyadari jika Hua tak ingin memberitahunya apa-apa.


Tangan Hua menarik anak panahnya yang tersisa dua. Lalu, pria itu melukai telapak tangannya tanpa waktu yang lama. Hal tersebut membuat Li Wei terkejut. Tanpa sadar Li Wei meraih tangan Hua, tetapi pria itu dengan santainya melumuri anak panah yang satunya dengan darahnya.


Hua berkata jika kelelawar ini tak menyukai darahnya.


SRET!


Hua memberikan panah yang berlumuran darah itu pada Li Wei, "Panah ke arah kelelawar itu. Jangan mengenai pedangnya."


Huh?


"Mengapa saya tak boleh mengenai pedangnya? Bukankah itu yang kita inginkan?" tanya Li Wei yang tak mengerti.


Mengapa mereka harus membuang dua anak panah yang mungkin saja mereka perlukan?


"Darahku sangat kuat," ucap Hua yang mungkin terlalu banyak bicara hari ini.


Pedang itu terus memberi kutukan dan memerlukan persembahan. Jika memang darah Hua ini unik, mungkin saja bisa membuat pedang itu semakin kuat. Jika seperti itu, lontaran panah akan sangat beresiko.


Mereka harus melalukan dua hal.


Mengusir kelelawar itu, untuk mencegah tetesan darah. Baik dari kelelawar itu, maupun darah Hua yang menetes di pedang. Kemudian, seseorang lagi harus memanah tepat ke arah retakan batu (yang dianggap Li Wei sebagai pedang terkutuk Pangeran Penduka).


"Tuan Hua, saya yang akan memanah batunya," ucap Li Wei yang ingat jika itu adalah pedang terkutuk.


Bagaimana jika dirinya ceroboh dan membiarkan darah Hua berceceran di atas pedang.


Namun Hua menggelengkan kepala, "Menghancurkan pedang terkutuk tak pernah berakhir baik."


Jadi, maksudnya Hua tak mau Li Wei terkena kutukan dari pedang. Sehingga pria itu yang ingin memanahnya. Hal tersebut membuat Li Wei menggelengkan kepala. "Bagaimana jika terjadi apa-apa pada Anda karena memanah benda terkutuk? Yang bahkan di Dewa kan oleh para kelelawar!"


Itu sama seperti membunuh Dewa.


"Lakukan."


Hua meraih pinggang Li Wei untuk melempar gadis kecil itu ke atas bahunya. Lalu, pria itu berdiri di atas tumpukkan batu dari longsoran. Tumpukan batu itu cukup tinggi dan tinggi Li Wei nyaris setara dengan tinggi target mereka, tentu saja karena Li Wei duduk di atas bahu Hua.


Li Wei yang duduk di bahu Hua, dan menarik busur panah di tangannya. Ia memfokuskan sambil memperhatikan pada kerumunan kelelawar itu untuk memastikan panahnya tak akan mengenai salah satu dari kelelawar itu. Akan tetapi, bisa membuat pertemuan para kelelawar ini bubar.


Tenang. Ini adalah pelatihan yang sebenarnya.


Li Wei menarik anak panahnya, dan ... SYUNNG!


Anak panahnya melintas di tengah-tengah para kelelawar. Tepatnya pada celah yang kosong di antara kelelawar. Sehingga anak panahnya melesat, dan membubarkan para kelelawar. Beruntung darah Hua tak menetes ke atas pedang, dan hanya menetes di beberapa sayap kelelawar.


KLAP!


KEKKKK


KEKkK


Kelelawar yang terkena darah Hua tanpa terjatuh ke tanah seperti menggelepar karena diracuni. Hal itu membuat Li Wei benar-benar terpaku. Apa darah Hua sebegitu mengerikannya?


Lalu, setelah kerumunan kelelawar itu kembali terbang ke atas langit, tetapi masih di dekat sebuah batu yang agak aneh. Salah satu batu itu terlihat meninggi, dan Li Wei menyadari jika itulah pedang terkutuk yang telah menjadi batu.


SRET!


"Hey! Apa yang Anda lakukan?" tanya Li Wei ketika Hua membawanya berlari mundur.


Hua meletakkan Li Wei di jarak yang agak jauh dari batu itu. Lalu, Hua menyelimuti Li Wei dengan jubah besarnya. Li Wei yang menyadari bahwa gerakan Hua sangat cepat, jelas tak bisa mempertanyakan apa-apa.


Ketika Li Wei membuka jubah besar Hua yang menutupi kepalanya, Hua sudah berdiri tegak dengan panah yang sudah siap. Li Wei hanya bisa menatap punggung pria itu dari kejauhan. Lalu, ... SLASHH!


STAP!


Anak panah itu melesat dengan cepat dan menancap pada batu. Jelas Hua mengenai pada retakannya, sehingga anak panah bisa menancap di sana. Li Wei berteriak pada Zhang Yuwen yang sudah membawa Wei Wuxie di bahunya.


"Zhang Yuwen, bersembunyi!" teriak Li Wei ketika menyadari ada kilatan aneh dari pedang yang dipanah itu.


Zhang Yuwen dengan cepat berlari, dan membawa Wei Wuxie untuk bersembunyi di belakang pohon. Pohon yang sama seperti tempat Li Wei dan Hua mengintai sebelumnya. Setidaknya jarak itu sudah cukup jauh untuk menjauh dari apapun yang keluar dari batu yang dipanah itu.


Setelah itu, terdengar ledakan yang benar-benar nyaring hingga Li Wei menutup telinganya. Li Wei menggunakan jubah Hua untuk menutupi wajahnya dari serbuan batu.


SRAK!


Hua.


Terakhir kali yang Li Wei lihat adalah punggung Hua yang menatap kehancuran batu itu. Pakaian pria itu terlihat berkibar karena hembusan angin dari ledakan. Tangan Li Wei terarah seperti berniat memanggil Hua, tetapi entah mengapa tubuh Li Wei melemah. Ia terbaring dengan masih berselimut jubah Hua.


Kemudian, ledakan besar terjadi lagi hingga Li Wei tak tahu lagi apa yang terjadi. Bahkan punggung Hua pun tak bisa Li Wei lihat lagi, terutama saat cahaya ledakan menyilaukan matanya.


Ia tak ingat apa-apa lagi.


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi. Aku harap gak ada yang bosan menanti cerita ini. Bagaimana pun aku juga masih bingung untuk memberikan momen yang berkesan.


Entah karena aku yang kurang ide, atau aku yang sedang malas berpikir, tetapi hanya itu yang bisa dituliskan malam ini. Aku berusaha agar kalian lebih mengerti ceritaku, tapinya memang pada dasarnya cerita ini aneh. Juga, imajinasi authornya juga aneh. Jadi, yah ...Maaf jika ada adegan yang agak sulit untuk dimengerti posisinya kayak mana.


Ambil jalan tengahnya aja. Anggap aja paham, biar gak paham sama sekali 😂

__ADS_1


Mari bertemu di chapter selanjutnya.


Adios~


__ADS_2