
Hari yang tenang ...
"Mari kita rayakan kesembuhan, Yi Hua!"
Yi Hua tak tahu kapan matahari kembali bertahta, dan menjadi siang. Seingatnya dia telah memiliki hari yang tenang tadi malam. Lalu, ia dibangunkan oleh suara cempreng dari Perdana Menteri yang enggan terlihat dewasa ini.
Beruntung Yi Hua selalu mengenakan pakaian laki-laki, meski ia tengah tertidur di malam harinya. Sehingga ketika seseorang kurang kerjaan datang, dan memberikan kejutan, Yi Hua sudah siap untuk memukul kepalanya.
Namun ketika ia mengingat wajah dingin Huan Ran, Yi Hua malas untuk mengatakan apa-apa. Ia hanya menyadari dirinya lebih beruntung dari Huan Ran ini. Telinganya hanya mendengar suara Liu Xingsheng sesaat, tetapi Huan Ran jelas mendengarnya hampir setiap hari.
Semoga Dewa tak lelah memberi Huan Ran kesabaran.
"Saya belum sembuh, Perdana Menteri Liu," ucap Yi Hua sambil mengikat rambut panjangnya yang berantakan.
"Yi Hua, kau sudah tinggal di dunia ini cukup lama. Dan, hanya mendapat beberapa ingatan tentang kematian dirimu yang sebelumnya!" Xiao mendadak mengomel seperti ibu tiri.
Dan, Yi Hua ingat bahwa dia punya pengingat sejati yang sama berisiknya.
Yi Hua mengorek lubang telinga kirinya. Jika dia punya jiwa tega lebih banyak, maka dia akan memilih melepas telinga kirinya. Hanya agar anting s*alan ini! Xiao! Berhenti berteriak di hari tenangnya.
Kau pikir ini salah siapa! Kau sistem yang busuk, dan memilih raga Yi Hua tak berguna ini!
Jika saja dia terlahir kembali menjadi sosok hebat, seperti Liu Xingsheng atau Huan Ran. Atau yah, jika dia terlahir menjadi seorang gadis, maka dia akan memilih untuk menjadi Selir Qian. Sehingga dia tak akan susah payah bekerja keras hanya untuk bertahan hidup.
Xiao jenuh mengeluh. Ia hanya bisa mengatakan, "Pasti ada alasan dari itu semua."
Hanya itu yang sering Xiao katakan. Walau akhirnya Xiao tak akan mengatakan 'alasan' apa itu sebenarnya.
DOK!
DOK!
DOK!
Oh iya, aku belum membuka pintu.
Yi Hua yang sempat mengkhayal kembali sadar. Ia lupa membuka pintu untuk menyambut Perdana Menteri paling santai ini masuk ke kediaman sederhananya. Ia hanya takut jika lambat sedikit saja, maka Liu Xingsheng akan merobohkan pintu kediaman Yi Hua.
Yang dipikirkan Yi Hua adalah dimana dia mencari uang lagi untuk memperbaiki pintu?
Lain halnya dia bisa meminta An secara langsung untuk memperbaiki pintunya.
SRET!
"Lihat! Apa yang aku bawa." Liu Xingsheng mengangkat seorang anak kecil ke depan wajah Yi Hua.
Yi Hua mengangkat alisnya tak mengerti saat yang ada di hadapannya ada wajah seperti bakpao. Ditambah lagi dengan tubuh mungilnya, dan mata yang mirip dengan Raja Li Shen. Walau ada wajah menyebalkan Selir Wen yang juga diwarisi oleh makhluk buntal dan kecil ini.
Tunggu dulu ....!!
Bagaimana bisa Putera Mahkota yang Terhormat ini berada di depan kediamannya?
__ADS_1
"Perdana Menteri, mengapa Anda menculik Pangeran Li?" tanya Yi Hua histeris.
Dia masih ingat bahwa kepalanya pernah dipertaruhkan untuk keselamatan anak ini. Lalu, bagaimana bisa makhluk ini berada di depan kediamannya. Jika sampai dia berada dalam situasi yang sama lagi, maka Yi Hua berarti memang dibenci dengan Dewa Keberuntungan.
Liu Xingsheng menggoncang-goncangkan tubuh Pangeran Li yang masih diangkatnya di bagian ketiak. Dan, anehnya Pangeran Li Quon yang mungil ini diam layaknya boneka. Hal itu sebenarnya membuat kesan menggemaskan.
"Aku membawanya bermain, Yi Hua," jawab Liu Xingsheng dengan senyum konyol di wajahnya.
Namun Yi Hua lebih takut pada 'harga' dari Pangeran ini di Kerajaan Li. Jika Pangeran ini lecet, maka kepala Yi Hua bisa saja diburu oleh kerajaan!
SRET!
Liu Xingsheng kemudian menurunkan anak kecil itu lagi ke tanah. Bagaimana pun Li Quon meski kecil, tetapi beratnya sudah hampir sama dengan sebuah guci di ruangan tidur Liu Xingsheng. Meski begitu, Pangeran Li Quon ini tetap diam, dan hanya berkedip jika dia ingin berkedip.
"Apa Pangeran Li Quon masih sakit?" tanya Yi Hua pada Liu Xingsheng.
Anak-anak seperti Li Quon seharusnya cukup aktif untuk bermain dan berlari-lari. Akan tetapi, Liu Quon cukup tenang untuk anak seusianya. Ia berdiri dengan tenang di depan Yi Hua, dan menatap Yi Hua dengan penasaran.
SRET!
Baru saja Yi Hua ingin menepuk kepala Liu Quon, anak itu langsung menghindar. Hal itu membuat Yi Hua berpura-pura mengibas nyamuk. Hanya agar dia tak malu dengan tangannya yang melayang.
*Anak ini sama menyebalkan seperti Selir Wen. Pantas saja dia terlahir menjadi anaknya!
^^^*Jika lupa dengan Selir Wen. Dia itu ibunya Pangeran Li Quon. Dia muncul di kasus pertama. Selir rusuh yang sering nyindir Yi Hua*. ^^^
"Dia tak sakit lagi. Hanya saja Pangeran Li Quon memang tak pernah bicara," jelas Liu Xingsheng yang tahu dengan kebingungan Yi Hua.
Jelas Yi Hua tak tahu tentang hal tersebut. "Apa dia ..."
Yi Hua menganggukkan kepalanya sambil memperhatikan Pangeran Li Quon yang sangat senyap ini. Bagaimana pun Yi Hua mulai terbiasa dengan orang-orang yang irit berbicara. Namun kali ini hanya berbeda usia saja.
"Silahkan masuk dulu, Perdana Menteri Liu," tawar Yi Hua yang masih mengingat tentang kesopanan.
"Kita tak punya banyak waktu, Yi Hua. Aku sudah berjanji pada Pangeran Li Quon agar mengajaknya berjalan-jalan. Mungkin tak lama lagi pengawal kerajaan akan menemukannya."
Akan tetapi, Liu Xingsheng langsung menarik tangan Yi Hua untuk keluar dari kediamannya. Ia juga tak lupa untuk menarik Pangeran Li Quon bersama mereka. Sehingga Yi Hua juga tanpa sadar menarik tangan Li Quon. Hal itu karena Yi Hua kasihan dengan tubuh kecil Li Quon yang agak terseret karena harus berlari.
Akan tetapi, bukankah ...
Hey, jadi Liu Xingsheng sedang menyeludupkan Pangeran Li dari pengawal istana?
Jelas Yi Hua ingin menolak. Akan tetapi, Liu Xingsheng adalah makhluk yang sulit untuk ditolak. Yi Hua mengasihani dirinya sendiri yang belum menata diri. Ia bahkan mungkin terlihat seperti bulu sapi yang tak disisir.
Sehingga pagi hari Yi Hua disambut oleh mereka bertiga yang berlari menuju Pusat Kota.
Ketika Yi Hua melihat ke arah Pangeran Li Quon yang kelelahan, Yi Hua berhenti sejenak. Ia berjongkok di hadapan Li Quon dan menawarkan. Liu Xingsheng juga berhenti karena dia akhirnya ingat bahwa dirinya menarik tangan Li Quon seenaknya. Pasti anak itu kesulitan mengimbangi kecepatan mereka.
"Silahkan naik, Yang Mulia."
Lalu, anak itu tetap diam.
__ADS_1
"Hamba ... Baiklah, aku mungkin belum belajar cara menjadi seperti sapi yang baik. Namun punggungku lumayan kuat untuk menerobos keramaian," ucap Yi Hua yang berani mengubah cara bicaranya.
Bagaimana pun rasanya aneh ketika berbicara dengan anak kecil, yang mungkin baru belajar bicara ini, menggunakan bahasa yang sangat formal. Itu sama saja seperti kau ketakutan pada naga yang bahkan baru keluar dari telurnya.
Akan tetapi, Li Quon masih terlihat diam. Yi Hua nyaris ingin menendang Liu Xingsheng yang melibatkannya dalam hal ini. Namun ia sangat ingat bahwa dirinya berada di bawah piramida* saat ini.
^^^*Maksud Yi Hua adalah dia adalah orang 'bawah', sedangkan Pangeran Li Quon dan ^^^
^^^Liu Xingsheng tinggi status sosialnya.^^^
Jika bukan karena Yi Hua takut anak ini pingsan, dan pastinya akan membuat masalah yang lebih serius. Sehingga dia harus mengatasi permasalahan ini terlebih dahulu. Jangan sampai Pangeran ini lecet karena pelarian konyol mereka.
Yi Hua menarik jubah penutup kepala Li Quon yang sempat terlepas. Dengan cepat ia memasangkannya kembali. Kemudian, Yi Hua menunjuk ke arah belakang dengan wajah panik dibuat-buat. "Lihat pengawal kerajaan sudah datang."
SRET!
Entah karena dia terkejut atau apa, tetapi anak kecil berpipi putih bulat itu mengalungkan tangannya di leher Yi Hua. Tanpa sadar Yi Hua menarik senyumnya saat anak ini menunjukkan sikap 'manusia'nya. Yang Yi Hua sadari adalah Li Quon mungkin ingin seperti anak biasanya. Hanya saja lingkungan di sekitarnya yang membuat Li Quon bertingkah berbeda.
"Angkat tangan jika Pangeran sudah siap!" teriak Yi Hua dengan semangat.
SRET!
Anak kecil itu dengan paruhnya menurut. Tangan kanannya terangkat sebentar untuk memberikan tanda pada Yi Hua. Kemudian, Yi Hua merasa pelukan kencang lagi di lehernya.
Cukup menarik juga.
Yah, mungkin mereka perlu bermain-main sejenak hari ini. Lagipula, anak ini tidak seberat yang Yi Hua pikirkan. Mungkin menggendongnya sejenak tak akan membuat pinggangnya bergeser.
Selain itu, dia merasa sesuatu yang aneh di dalam dirinya ketika melihat wajah Li Quon yang cukup mirip dengan Raja Li Shen. Yi Hua tak tahu kenapa dia memikirkan itu. Hanya saja ia seperti melihat wajah Raja Li Shen saat masih kecil di wajahnya.
Mungkin aku terbawa pada perasaan Yi Hua asli.
Seingatnya, Xiao pernah bilang bahwa Yi Hua asli menyukai Raja Li Shen. Akan tetapi, ketika tentang itu terbuka lebar, Yi Hua direndahkan karena mencintai seorang Raja. Yah, karena dia adalah seorang pria di mata mereka.
Meski ada beberapa yang tak masalah, tetapi jelas itu menjadi masalah untuk pihak lainnya.
Yi Hua tak yakin itu adalah perasaan cinta. Sebab, rasanya lebih pada ... Kerinduan? Simpati? Atau, kesedihan?
Entahlah.
Namun jika bukan perasaan Yi Hua asli, lalu mengapa timbul perasaan ini?
Apa ini perasaannya sendiri?
Jelas Yi Hua belum bisa mengingatnya.
***
Selamat membaca.
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
__ADS_1
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
Adios~