Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Putri Li Wei 16: Menyerahkan Diri


__ADS_3

UGH!


Li Wei memejamkan matanya saat mendengar suara hempasan keras. Yang ia tahu ialah Wei Wuxie yang dilemparkan di sampingnya. Gadis itu duduk rapi seperti seorang Dewi yang betapa. Bukan karena persoalan apa, tetapi masih ada pedang yang mengarah di lehernya. Ia tak bisa melakukan apa-apa.


Wei Wuxie tentu saja merasa tak terima ketika melihat garis darah di sekitar kerah Li Wei. "Kami hanya perlu kembali ke Istana, bukan?" tanya Wei Wuxie dengan nada tajam.


Raja Xin Wantang tersenyum manis sambil menarik pedangnya untuk menjauh. Xin Wantang menaruh kembali pedangnya ke pinggang. Lalu, pria itu mengangkat tangannya dengan gaya dilebih-lebihkan. Hal itu membuat Li Wei merasa sangat jengkel.


Jika ia tak dalam posisi terancam sekarang mungkin ia yang akan menendang kepala Xin Wantang.


"Ikat mereka," perintah Xin Wantang pada Zhang Yuwen.


Tentu saja itu membuat Zhang Yuwen terkejut. Pria itu sudah tak berani menatap pada Wei Wuxie dan Li Wei, dan sekarang Xin Wantang memerintahkan Zhang Yuwen untuk mengikatnya. Akan tetapi, Zhang Yuwen hanya bisa menuruti.


Pria itu menunduk dan membantu Wei Wuxie untuk duduk.


SRET!


"Kau hanya terluka pura-pura saat itu agar bertemu dengan aku di jalan. Tapi kenyataannya, saat Kerajaan Li jatuh kau sudah berada di sisi Kerajaan Xin? Aku benar, bukan?" tanya Wei Wuxie sarkas.


Bagaimana pun ia tahu kehebatan Zhang Yuwen. Pria itu tak akan mudah kalah saat memimpin perang, meski dia bukan Jenderal Besar. Akan tetapi, dari segala kebetulan, Zhang Yuwen tergeletak di jalan dan Wei Wuxie yang baru menyusul menemukan Zhang Yuwen.


Jika Dewa Kebetulan ada di sana, mungkin Wei Wuxie orang paling kebetulan yang menemukan Zhang Yuwen.


"Aku benar-benar terluka, Wuxie. Kau pikir karena apa aku 'memeluk paha' mereka?" tanya Zhang Yuwen dengan nada serba salah.


^^^*Memeluk paha di sini kayak menjilat dan menjadi sekutu. Jadi, Zhang Yuwen kayak bilang dia menjadi sekutu Kerajaan Xin karena dia kalah dalam perang.^^^


"Apa lidahmu tidak luka karena menjilat ke beberapa arah?" tanya Li Wei yang merasa sangat kecewa.


Ia mengenal Zhang Yuwen bukan satu dua hari. Li Wei berteman dengan Wei Wuxie dan Zhang Yuwen sudah lebih dari sepuluh tahun. Jika ditukar dengan usia anak itu mungkin sudah besar anaknya. Akan tetapi, mungkin Zhang Yuwen punya alasan tersendiri.


"Putri pasti benar-benar membenciku." Hanya itu yang dijawab santai oleh Zhang Yuwen.


Zhang Yuwen beralih untuk mengikat kedua tangan Li Wei. Meski berada di pihak musuh, Zhang Yuwen tak bersikap kasar pada Zhang Yuwen. Ia mengikat Li Wei agak longgar, dan hal itu membuat Li Wei menatap pada Zhang Yuwen tak mengerti.


Apa yang dilakukan oleh Zhang Yuwen?


Li Wei melirik pada ikatan tangan Wei Wuxie, dan menyadari jika ikatan itu hanya simpul seperti pita pakaian. Terlihat rumit sebenarnya, tetapi jika ditarik ujungnya, maka akan terbuka ikatannya. Pria ini apa yang sebenarnya direncanakannya?


Jika dia ketahuan pura-pura bersekutu dengan musuh Zhang Yuwen bisa dibunuh dengan kejam!


"Tunggu."


DEG


Li Wei duduk semakin tegak, dan ia melihat pada Zhang Yuwen yang terlihat tenang.


"Ikat dia juga," perintah Raja Xin dengan nada mengejek.


Seorang prajurit menendang kaki Zhang Yuwen untuk berlutut. Lalu, mengikat kedua tangan Zhang Yuwen di belakang punggungnya. Li Wei bisa melihat kemarahan Zhang Yuwen, terutama pria itu adalah seseorang yang terhormat. Berlutut untuk seorang Raja seperti Xin Wantang adalah suatu penghinaan.


Akan tetapi, pria itu tak cerewet seperti biasanya.


"Putri hamba, Bao Tian masih berada di tangan Yang Mulia. Dan, Yang Mulia masih ketakutan jika hamba melarikan diri?" tanya Zhang Yuwen dengan nada meremehkan.


Raja Xin tertawa renyah. "Seorang anak yang tidak diakui oleh keluarga Zhang yang terhormat. Pantas saja keluarga Zhang memberikan anak itu untuk dijadikan jaminan keselamatan mereka."


STAP


Namun Raja Xin menarik pedangnya untuk memotong tali pengikat Zhang Yuwen. Mungkin pria itu berpikir untuk mengalahkan Zhang Yuwen itu cukup mudah, meski pria itu berhianat nantinya.


"Juga ..."


Raja Xin berjalan menuju Li Wei sambil melanjutkan ucapannya. "Anak kecil itu cukup cantik, Pejabat Zhang Yuwen. Sayangnya, dia tak begitu berharga seperti Putri Mawar ini. Pasti merusak bunga yang begitu indah dan terhormat itu sangat menakjubkan."


Saat Raja Xin mengulurkan tangannya untuk mengusap wajah cantik Li Wei, ...


Cuihh ...


S*alan Biawak Air Danau ini! Aku akan dahulu merobek kepalamu.


Li Wei meludahi tangan Raja Xin yang 'terhormat' itu. Wei Wuxie berusaha bangkit dari posisi duduknya, dan hal tersebut membuat prajurit yang berjaga bersiap untuk menyerang. Akan tetapi, Raja Xin hanya tersenyum sambil menarik tangannya kembali.


Lalu, ...


PLAK!

__ADS_1


"Putri."


Lagi-lagi Wei Wuxie berniat bangkit, tetapi Zhang Yuwen memukul kaki Wei Wuxie untuk duduk kembali. Saat ini mereka nyatanya tak bisa melakukan apa-apa, atau mereka akan semakin tersiksa. Tak ada yang bisa melindungi Li Wei yang ditampar wajahnya oleh Raja Xin.


Namun Li Wei lebih keras kepala dari siapapun. Meski ditampar sekali pun, Li Wei tetap menatap Raja Xin dengan penuh kebencian.


"Orang jahat biasanya hidup lebih lama. Bukan karena Dewa menyayanginya, tetapi Dewa hanya ingin mereka mengalami hal yang sama seperti yang telah dilakukannya," ucap Li Wei sambil menjilat darah yang mengalir di sudut bibirnya.


Raja Xin menatap tajam pada Li Wei dan melayangkan tamparannya sekali lagi. Lagi-lagi Wei Wuxie berniat untuk bangkit, tetapi Li Wei menggelengkan kepalanya. Zhang Yuwen juga menepuk bahu Wei Wuxie untuk memberi isyarat.


Nyatanya mereka tak bisa apa-apa sekarang.


Menyakiti seorang Putri Kerajaan yang mereka hormati dan jaga adalah suatu penghinaan. Ditambah lagi Li Wei selama ini selalu terjaga, dan Wei Wuxie tak takut untuk mengorbankan nyawanya demi Li Wei.


Akan tetapi, saat ini mereka bukan dalam posisi bisa memberontak. Wei Wuxie hanya bisa menggertakkan giginya. Meraung atas ketidakberdayaannya sendiri.


Li Wei menekan kukunya sendiri di dalam genggaman telapak tangannya.


Hanya sampai ia bisa menyelamatkan ibunya dan Li Shen.


Setelah mereka berdua aman, Li Wei akan menendang kepala pria itu. Meski dipatahkan kakinya sekalipun, ia akan tetap melakukannya.


Itu yang Li Wei pikirkan, tetapi ia tak bisa melakukan apa-apa sekarang. Bahkan ketika para prajurit memukul belakang kepala Wei Wuxie dengan kayu, Li Wei hanya bisa berteriak keras. Zhang Yuwen juga terlihat terkejut, ia tak menyangka jika mereka akan menyakiti Wei Wuxie dengan keras.


BRUKH!


"Ughh." Wei Wuxie mengerutkan keningnya saat rasa sakit menyerang kepalanya. Pandangan pria itu menjadi buram.


"Wei Wuxie! Apa yang kalian lakukan? Jangan sakiti dia," teriak Li Wei yang berusaha mendekat pada Wei Wuxie.


Akan tetapi, para prajurit menyeret Wei Wuxie untuk menjauh dari Li Wei yang sudah berteriak histeris.


Ku mohon ... Jangan!


Pria itu terjatuh ke tanah dengan cara yang menyakitkan, tetapi pandangan Wei Wuxie masih terarah pada Li Wei. Seolah memandang Li Wei pada pandangan yang sama hangatnya seperti biasanya. Akan tetapi, ada kepedihan di sana, terutama saat melihat Li Wei yang biasanya tanah kini menangis keras padanya.


Seorang Putri yang harus Wei Wuxie jaga kini menangis. Gadis yang seharusnya mendapatkan perlindungan paling terbaik, kini tampil dengan cara yang menyedihkan. Wei Wuxie tak tahu yang mana yang lebih menyakitkan sekarang. Kesetiaannya pada Li Wei membuatnya merasa rendah saat tak bisa melindungi Li Wei.


"Tidak apa-apa, Putri. Saya tidak apa-apa. Jangan ..."


Li Wei bisa melihat darah yang mengalir di tanah. Tepat dimana kepala Wei Wuxie berbaring, dan Li Wei sudah tahu bagaimana sakitnya. Ia sangat tahu jika Wei Wuxie tidak baik-baik saja.


"Kau ... Kau ingin memberi penghinaan padaku, bukan? Jangan sakiti Wei Wuxie lagi!" teriak Li Wei yang menatap tajam pada Raja Xin yang bengis ini.


Raja Xin mengangkat bahunya. Seolah tak perduli pada keselamatan Wei Wuxie. "Satu kali kau menentang aku, maka satu kali juga pukulan untuk Jenderal yang selalu menjagamu ini."


Pria ini lebih dari gila!


Zhang Yuwen tak bisa mengatakan apa-apa. Ia hanya bisa terduduk dan meraih Wei Wuxie yang telah lemah. Darah Wei Wuxie mengalir seperti ditumpahkan dengan mudah. Tanpa sadar air mata Zhang Yuwen mengalir. Akan tetapi, ia tak bisa melakukan apa-apa.


"Pejabat Zhang, apa yang kau lakukan? Apa kau merasa lemah saat melihat sahabat masa kecilmu nyaris mati?" tanya Raja Xin ketika melihat Zhang Yuwen yang melindungi Wei Wuxie dari prajurit yang mengelilingi.


Sedangkan Li Wei masih berada di samping Raja Xin.


Zhang Yuwen mengambil sapu tangan di dalam sakunya untuk menutupi luka di kepala Wei Wuxie. Tatapannya masih datar, tetapi tangannya dengan bergetar menahan darah yang mengalir dari kepala Wei Wuxie.


"Tidak, Yang Mulia. Namun kita bisa menggunakan Wei Wuxie untuk menahan Putri Li Wei. Membunuhnya akan membuat Putri Li Wei tak ragu untuk melarikan diri," jawab Zhang Yuwen yang mengusap air matanya sendiri.


Darah yang menempel di tangannya membuat pipi Zhang Yuwen ternoda darah. Tatapan Zhang Yuwen mengarah pada Li Wei yang sama kacaunya dengan dirinya. Lalu, Zhang Yuwen mengangguk dengan wajah permohonan.


Mereka tak bisa melawan kehendak Raja Xin sekarang.


Raja Xin tersenyum sambil memberi isyarat pada prajurit di belakang untuk menebas Zhang Yuwen. "Bunuh."


Li Wei menggelengkan kepalanya cepat. "Jangan! Yang kau perlukan adalah aku, s*alan! Kau bisa membunuh aku, tetapi jangan mereka."


"Putri." Wei Wuxie masih berusaha bangkit, terutama ketika mendengar ucapan Li Wei.


Akan tetapi, Zhang Yuwen memukul tengkuk Wei Wuxie untuk membuat pria itu pingsan. Hanya itu yang bisa dilakukan Zhang Yuwen agar Wei Wuxie selamat. Selama Wei Wuxie masih berusaha menentang Raja Xin, maka Wei Wuxie bisa mati kapan saja. Sedangkan, Li Wei ... Zhang Yuwen yakin Raja Xin tak akan membunuhnya.


"Aku memiliki permainan untukmu. Sayangnya Raja Li tak bisa melihat Putri tercintanya memohon seperti sekarang. Jika ia melihatnya mungkin ia akan merasa malu saat menolak aku untuk membawa Putrinya sebagai Permaisuri," ejek Raja Xin yang kini mengusap pipi Li Wei yang agak memar.


Ketika itu Li Wei semakin melukai telapak tangannya sendiri untuk menahan rasa kebenciannya. Rasanya sangat menjijikkan ketika tangan pria itu mengusap wajahnya. Li Wei merasa sangat muak, dan ingin meludah lagi. Bibir Li Wei bergetar menahan kemarahannya sendiri, tetapi matanya terasa basah.


"Bawa mereka ke kereta," perintah Raja Xin dengan senyum penuh kemenangan.


Li Wei menatap pada pedang Hua Yifeng yang terjatuh tak jauh dari semak-semak tempat Li Wei bersembunyi sebelumnya. Nyatanya hanya sarung pedang Hua Yifeng yang masih terikat di pinggangnya. Itulah mengapa prajurit Kerajaan Xin tak mengambilnya. Lebih pada mereka berpikir jika sarung pedang itu tak berguna apa-apa.

__ADS_1


"Tuan Hua, apakah sangat aneh jika berharap kau datang untuk menolongku lagi? Sekali lagi," ucap Li Wei di dalam hatinya.


Sebab, biasanya Hua Yifeng selalu datang di saat-saat genting. Li Wei selalu mengingat itu, karena ia pernah berpikir jika Hua Yifeng seperti tahu saat Li Wei memerlukan bantuannya. Meski begitu, Li Wei tak ingin melibatkan Hua Yifeng dalam masalah ini.


Akan tetapi, bahkan sekarang pun Hua Yifeng masih tak sadarkan diri.


Apakah aku harus mengucapkan selamat tinggal sekarang?


Li Wei hanya berharap pedang itu kembali pada Hua Yifeng.


Lagipula hidup atau matinya Li Wei, sekiranya masih ada yang melindungi Kerajaan Li nantinya.


Mungkin.


***


Hanya saja ...


Li Wei masih sangat ingat ketika malam sebelum mereka memutuskan untuk pergi dari kediaman Ling Xiao. Mereka bertiga masih ingat apa yang dibicarakan oleh Ling Xiao saat itu. Saat ini jelas kurang tepat untuk membicarakan tentang masa depan Kerajaan Li.


Apalagi di masa setiap orang mulai skeptis tentang kemerdekaan mereka sendiri.


Penduduk merasa sangat tersiksa dengan penindasan pasukan Kerajaan Xin. Mereka datang untuk merusak Pusat Kota. Membunuh siapapun yang diinginkan. Itu terjadi hanya dalam waktu tiga hari. Belum lagi dengan penyakit aneh dimana setiap luka akan menjadi batu.


Mereka menyebutnya penyakit menular karena beberapa pasukan Kerajaan Xin yang datang juga mendapat penyakit yang sama. Namun dengan kejamnya Raja Xin memerintahkan prajuritnya untuk membunuh siapa saja yang terkena penyakit batu. Hanya agar tidak ada lagi yang tertular.


Dalam tiga hari semuanya berubah sangat berantakan.


Akan tetapi, ramalan Dewa telah datang pada Ling Xiao. Meski ini hanyalah ramalan dan belum tentu bisa dijadikan sebuah jalan karena belum terjadi, tetapi banyak yang mempercayainya. Sebab, biasanya Peramal Kerajaan punya pembacaan mereka sendiri.


Tak ada yang tahu apakah ramalan ini datang, berarti ada seorang 'pahlawan' yang akan membebaskan Kerajaan Li dari jajahan Kerajaan Xin. Meski begitu, ketika mendengar ramalan itu, Li Wei berpikir itu bukannya mustahil.


Hanya saja ... Ramalan datang, tetapi bukan pada garis keturunan Kerajaan Li, yaitu bukan dari seorang Li. Melainkan pada seseorang yang sama sekali tak mewarisi darah kerajaan di dalam dirinya.


Seorang pemilik dari Pohon Iblis, Hua Yifeng.


Dia adalah seseorang yang menjadi Raja di Kerajaan Li. Dikatakan Hua Yifeng akan membebaskan Kerajaan Li dari kehancurannya, tetapi seperti takdir klan Bao sebelumnya. Jika mereka menyembuhkan luka dari orang lain, bukannya luka itu hilang, tetapi berpindah.


Dengan takdir yang aneh itu, sekali lagi ... Hua Yifeng ditakdirkan untuk membebaskan Kerajaan Li dari kehancuran, tetapi kehancuran itu bukannya tak ada, tetapi Hua Yifeng-lah yang akan hancur. Apa yang ia selamatkan dari kehancuran akan membuatnya menderita.


Entah hancur seperti apa yang dimaksudkan.


Ling Xiao pernah berkata pada Li Wei, di sana ada Zhang Yuwen dan Wei Wuxie sebagai saksi dari perkataannya. Mungkin kedua orang itu juga akan menjadi saksi kehancuran Li Wei.


"Mungkin salah satu dari kalian akan menjadi kehancuran terbesar bagi seseorang yang lainnya," ucap Ling Xiao malam itu.


Zhang Yuwen yang enggan untuk menanggapi memilih menggaruk kepalanya. Akan tetapi, Wei Wuxie menatap pada Li Wei. Bukan persoalan Li Wei yang sedap dipandang atau apa. Akan tetapi, karena Ling Xiao menatap pada Li Wei.


"Apa maksud Anda, Peramal Ling? Siapa yang akan menghancurkan siapa?" tanya Li Wei.


Bagaimana bisa orang-orang berbicara dengan artian yang sulit dipahami? Ini aku yang kepintarannya jongkok, atau mereka yang terlalu pintar?


Entahlah.


Mari abaikan pemikiran Li Wei tersebut.


"Hua Yifeng dan Anda, Tuan Putri. Suatu saat salah satu dari kalian akan menghancurkan seseorang yang lainnya," ucap Ling Xiao dengan senyum tipisnya.


Kemudian Ling Xiao melanjutkan lagi, "Itulah mengapa lebih baik sedari awal kalian tak pernah bertemu."


Akan tetapi, tak berarti setiap hal di dunia ini bisa diramalkan. Jika seperti itu, Ling Xiao akan merasa sangat kesepian di hidupnya. Bukan perkara apa, tetapi kurang kejutan. Sangat tak lucu jika diberi kejutan Ling Xiao tak terkejut lagi karena dia sudah bisa melihat masa depan.


Nyatanya ramalan hanyalah titik buram untuk melihat masa depan. Sehingga dengan tenang Li Wei mengatakan ...


"Itu tak akan pernah terjadi, Peramal Ling."


Kalimat itu nyaris seperti sebuah doa.


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.


Mari bertemu di chapter selanjutnya.


Adios~

__ADS_1


__ADS_2