Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Alasan Hua Yifeng


__ADS_3

Zhang Yuwen menatap Yi Hua dengan pandangan tak mengerti. Bukan persoalan apa, tetapi lebih pada ia tak mengerti tentang apa yang Yi Hua bicarakan. Ia ingin mengatakan jika otak orang ini, ah ... Dia menyebut dirinya peramal kalau tidak salah. Zhang Yuwen ingin menyebut orang ini kurang beres, tetapi wajah liciknya membuat Zhang Yuwen kesal.


Seperti peramal kecil ini tidak takut padanya!


Biasanya orang Kerajaan Li akan takut jika mendengar kedatangan Zhang Yuwen. Di mana Zhang Yuwen akan membantai siapa saja yang membuatnya terganggu. Akan tetapi, Yi Hua di depannya malah dengan semangat menyuarakan usahanya yang sangat meragukan.


Hidupnya saja terlihat kurang benar, tetapi dengan semangatnya dia bilang ingin menerawang nasib orang lain.


Yi Hua menarik napasnya pelan setelah bicara tanpa henti. "Lagipula Tuan ... Kita sekarang ada di makam keluarga Wei, sehingga lebih baik kita mendoakan mereka yang sudah pergi. Berdoa dimulai."


Apa-apaan orang ini?! Kenapa berbicara yang tidak jelas?


"Tentu saja Wuxie sudah mendapatkan banyak doa dari orang-orang, karena dia mati demi kerajaan yang busuk ini. Padahal sebelum kematiannya, Wuxie dianggap penjahat oleh seluruh orang Kerajaan Li," ucap Zhang Yuwen yang kini menarik lagi sebuah senar.


Sepertinya tak ada batasan bagi Zhang Yuwen untuk menciptakan senjata. Selama kekuatan Zhang Yuwen masih ada, dia bisa membuat alat musik mematikan itu. Namun fokus Jenderal Wei Qionglin lebih pada apa yang diucapkan oleh Zhang Yuwen.


"Tirai Darah, kenapa kau seperti mengenal Wei Wuxie?" tanya Jenderal Wei Qionglin yang sejatinya tumbuh besar dengan mendengar banyak rumor tentang kakaknya.


Semuanya adalah tentang kesetiaan dan tak pernah ada cerita tentang Wei Wuxie yang menjadi penjahat atau apapun. Sejatinya tak ada yang begitu tahu tentang kematian Wei Wuxie, termasuk keluarga Wei yang tersisa.


Zhang Yuwen menatap pada Wei Qionglin hingga ia menyadari jika ia mengenal pria itu. Wei Wuxie secara rupa memang tak begitu mirip, karena mereka berasal dari ibu yang berbeda. Meski begitu, Zhang Yuwen yang sejak kecil sering bersama Wei Wuxie tahu jika pria di depannya ini adalah Wei Qionglin. Adik Wei Wuxie.


Berapa banyak waktu telah berjalan?


"Oh ... Apakah kau menangis saat melihat kematian kakakmu sendiri?" tanya Zhang Yuwen dengan nada mengejek.


Jenderal Wei Qionglin menatap tajam pada Zhang Yuwen. "Kau meremehkan Wuxie!" ucap Jenderal Wei tak terima.


Jenderal Wei meraih pedangnya untuk menyerang Zhang Yuwen. Akan tetapi, Yi Hua berlari ke arah Hua Yifeng dan meraih pedang Li Wei yang ada di tangan pria itu.


Kemudian, Yi melemparkan pedang Li Wei, yang masih terbungkus kain, ke arah Zhang Yuwen.


SRAT!


BLAM


Zhang Yuwen melompat untuk menghindari pedang, dan akhirnya pedang itu tertancap di tanah. Akibat dari lemparan itu, kain putih yang membungkus pedang terbuka. Menampilkan pedang hitam yang terkenal akan kebengisannya.


Bukan hanya Zhang Yuwen, tetapi Jenderal Wei Qionglin juga terkejut dengan munculnya pedang itu.


Belum usai mereka mengurus Tirai Darah Zhang Yuwen, kini pedang Iblis Kehancuran muncul. Jika seperti itu, Hua Yifeng mungkin ada di tempat ini.


Tatapan Jenderal Wei Qionglin mengarah pada Hua Yifeng yang tetap datar seperti biasanya.


"Ayo pergi!" teriak Yi Hua yang melemparkan kertas jimatnya di udara.


CISS!!


Kertas-kertas itu terbakar hingga menciptakan kabut buatan untuk menghalangi pandangan Zhang Yuwen. Teriakan Yi Hua membuat Jenderal Wei menahan semua hal yang ingin dikeluarkannya. Ia mengikuti Yi Hua dan pria muda yang bersamanya itu pergi. Para bawahannya mengikuti Jenderal Wei untuk menuju ke pintu lainnya.


Mereka hanya ingin menghindari Zhang Yuwen, karena Zhang Yuwen cukup merepotkan jika urusan ini berkepanjangan.


Zhang Yuwen mengibaskan lengan pakaiannya yang lebar untuk menangkis kabut.


Tak lama setelah itu, kabut menghilang dan tidak berefek apa-apa. Padahal Zhang Yuwen mengira jika kabut itu beracun. Ia mencari peramal kecil yang berisik itu beserta orang-orang yang bersamanya, tetapi mereka sudah menghilang. Zhang Yuwen berdecak kesal karena kesenangannya berakhir.


Dan, tatapan Zhang Yuwen beralih pada pedang yang masih tertancap di tanah.


"Pedang Li Wei ..." ucap Zhang Yuwen yang menatap lekat pada pedang itu.


Ia sangat mengenal pedang Li Wei. Sehingga ia tak akan dengan bodohnya ingin menarik pedang itu dari tanah.


Percayalah ... Meski Zhang Yuwen iblis dan segila apapun, ia tak akan mau menggenggam pedang Li Wei. Sebab, kekuatannya akan terhisap jika memegang pedang hitam itu. Apalagi pedang itu tak bisa 'tenang' jika bukan pemiliknya yang memegangnya.


SRAP!


Hanya dalam hitungan detik pedang itu terbang melintas, dan bahkan nyaris mengenai kepala Zhang Yuwen. Jika Zhang Yuwen tak menggunakan senarnya untuk menarik dirinya ke sisi lain, mungkin Zhang Yuwen akan mengalami luka parah. Jelas pedang itu akan pergi ke arah pemiliknya.


Meski begitu, sejauh yang Zhang Yuwen ingat, yang melempar pedang ini adalah peramal kecil bermarga Yi itu.


"Ini mulai menarik," bisik Zhang Yuwen sambil mengikuti ke arah perginya Yi Hua dan yang lainnya.


***


Sejak zaman dahulu kala Zhang Yuwen memang menyebalkan. Namun menyebalkan yang ini lebih berasa mengganggunya.

__ADS_1


Yi Hua menghela napas lega saat mereka sudah terlepas dari Zhang Yuwen. Lebih beruntung lagi pilihan Yi Hua benar. Di sana tak ada jebakan atau makhluk aneh lainnya.


Akan tetapi, baru saja ketenangan itu diperoleh kali ini Yi Hua terkejut ketika Jenderal Wei bergerak cepat untuk menebas Hua Yifeng. Hua Yifeng melayangkan akar tipis di udara untuk menghalangi pedang besar Jenderal Wei. Meski akar merah itu terlihat tipis, tetapi sudah cukup untuk menahan serangan Jenderal Wei.


"Jadi Anda Hua Yifeng?" tanya Jenderal Wei dengan tatapan tajam.


Yi Hua nyaris menepuk dahinya sendiri. Bagaimana ia bisa lupa jika Hua Yifeng adalah musuh semua umat manusia. Apalagi jelas-jelas pedang milik Hua Yifeng telah dilihat oleh Jenderal Wei. Sekarang masalah baru telah muncul.


Dan Hua Yifeng tetap tenang dan datar seperti biasanya. Akar merah, perwujudan kekuatan Hua Yifeng, menjalar menuju ke arah Jenderal Wei. Hal tersebut membuat Yi Hua menjadi panik.


Masalahnya ini Hua Yifeng, Si Iblis Kehancuran!


Meski nekat dan niat pun Jenderal Wei pasti akan setengah mati jika melawan Hua Yifeng. Itu pun jika Hua Yifeng ini tak lagi kejam-kejamnya. Sehingga Yi Hua dengan sembrono menerobos di antara Hua Yifeng dan Jenderal Wei.


SRAT!


"Yi Hua!" tegur Hua Yifeng dan langsung menarik kekuatannya. Begitu juga dengan Jenderal Wei yang menarik pedangnya dengan kecepatan yang ia bisa.


Jenderal Wei mundur dan berniat untuk menarik Yi Hua menjauh dari Hua Yifeng. Namun Hua Yifeng lebih cepat lagi. Pria itu sudah membawa Yi Hua ke belakangnya. Menyembunyikan Yi Hua dari pandangan Jenderal Wei. Jelas hal tersebut menimbulkan kemarahan bagi Jenderal Wei.


"Lepaskan Yi Hua, Iblis Kehancuran. Saya tak akan membiarkan dirimu menyakiti Yi Hua," ancam Jenderal Wei.


Hua Yifeng tersenyum sinis. "Dia milikku."


Ya ampun. Sebenarnya kedua orang orang ini kenapa?


Sayangnya Xiao tak bisa muncul karena kehadiran Hua Yifeng. Jika tidak, ia mungkin akan mencurahkan semua keluh kesahnya pada sistem itu. Bagaimana pun masih banyak yang ingin ditanyakannya. Terutama saat semua ingatan sudah kembali ke tubuhnya.


Yi Hua hanya ingin bertanya, apa yang akan ia lakukan setelah ini?


Misinya adalah menjadi Yi Hua dan mengumpulkan ingatannya.


Jika seperti itu ... Bukankah hidupnya sekarang tak ada tujuan lagi?


Apa yang harus dirinya tempuh sebagai Yi Hua?


Inilah mengapa Xiao itu kurang informatif. Bagaimana dia bisa meninggalkan banyak kebingungan?


Ia mengira jika dirinya telah mengingat semua kehidupan sebelumnya, maka dirinya sudah bisa dikatakan memenuhi semua misinya. Ia bisa pergi ke kehidupan berikutnya. Atau mungkin sebenarnya kehidupan Yi Hua ini adalah kehidupannya yang berikutnya?


Entahlah.


Jika sampai ketahuan, mungkin Yi Hua akan diincar seperti buruan di hutan!


Yi Hua keluar dari belakang punggung Hua Yifeng. Peramal itu merentangkan tangannya dengan wajah tegas di antara kedua pria, yang jelas berniat saling membunuh. Ditambah Kerajaan Li selalu menganggap Hua Yifeng sebagai sebab dari segala masalah.


Namun mereka tak tahu berkat Hua Yifeng, sebenarnya yang menjadi An, Kerajaan Li bisa bangkit. Hua Yifeng membantu Raja Li Shen dari kehancuran terendahnya. Mengawal Raja Li Shen dari orang-orang yang ingin mencelakainya, sehingga kini Raja Li Shen bisa berdiri sendiri.


Itu juga dibantu oleh Penasihat Wang Zeming yang sangat hebat dalam berpolitik. Dengan kecerdasannya ia berusaha mencari kerja sama dengan kerajaan besar. Sehingga Kerajaan Li dapat maju dengan cepat dalam kurun waktu yang tak begitu panjang.


Baiklah.


Setelah sekian lama bertatap-tatapan seperti dalam cerita romantis berbau bawang, Yi Hua menarik napasnya dan mendengus sombong seperti biasanya.


"Dengarkan saya, Tuan-Tuan. Saya sebenarnya tak perduli jika kalian bertukar pukulan atau terbanting ke sana-sini. Namun saya orang baik yang tidak suka keributan. Oleh karena itu, biarkan masalah ini usai dahulu," jelas Yi Hua yang kelelahan sendiri.


Mereka memiliki tugas untuk mengembalikan tengkorak-tengkorak para mendiang keluarga Wei. Sekarang setengah jalan saja mereka sudah seperti menjelajah satu kerajaan. Ditambah lagi ada banyak jebakan di makam keluarga We, dan siapa sangka Zhang Yuwen ada di sini. Walau Yi Hua tahu mengapa Zhang Yuwen ke tempat ini.


Mungkin juga Zhang Yuwen itu selalu pergi ke tempat ini. Sebab, di sana ada peti mati Wei Wuxie. Tanpa bertanya pun Yi Hua mengetahuinya, dan siapa sangka pertemuan ini Yi Hua diingatkan bahwa mereka tak sama lagi seperti dulu.


"Yi Hua, dia adalah musuh Kerajaan Li! Bagaimana jika Tuan Hua Yifeng yang terhormat ini berpikir untuk menghancurkan Kerajaan Li lagi?!" tanya Jenderal Wei dengan semangat.


Sepertinya sejarah terlalu banyak diotak-atik. Garis sejarah di kerajaan Li menentukan titik kehancuran Kerajaan Li adalah saat Hua Yifeng membantai seluruh pejabat kerajaan, dan hanya menyisakan Li Shen. Namun ada hal yang disembunyikan dari itu semua, yaitu bahkan sebelum Hua Yifeng melakukan pembunuhan besar Kerajaan Li sudah hancur. Memang saat itu Hua Yifeng telah tak sadarkan diri akibat luapan Pohon Iblis.


Namun Hua Yifeng sejatinya juga korban yang disiksa oleh Kerajaan Xin.


"Itu sama sekali tak menarik," balas Hua Yifeng yang menerima kembali pedangnya.


Hua Yifeng jelas tak memiliki keinginan untuk menghancurkan Kerajaan Li.


Pedang Li Wei itu melintas cepat menuju ke tangan Hua Yifeng. Lalu, Hua Yifeng menyerahkan pedang itu pada Yi Hua. Tanpa berpikir panjang Yi Hua langsung menyambutnya. Bagaimana pun pedang itu sudah di tangannya dalam beberapa waktu dekat ini.


"Yi Hua, kenapa kau ..." Jenderal Wei tampak tercekat ketika melihat Yi Hua yang dengan patuh menyimpan pedang itu.


Yi Hua yang sedang membungkus pedang itu dengan kain lagi juga terkejut. Bagaimana pun ia lupa jika pedang Hua Yifeng ini adalah pedang legendaris. Ditambah lagi pedang ini tidak ramah lingkungan. Biasanya jika bukan pemiliknya pedang ini akan menyerap darah orang yang memegangnya.

__ADS_1


"Ahh ... Kepala saya pusing ... Ini terima kembali," ujar Yi Hua ketika melempar pedang yang sudah setengah ia balut ke kain itu kembali pada Hua Yifeng.


Aku lupa jika sekarang aku Yi Hua. Ini nih karena kebanyakan melihat kenangan masa lalu.


Ingatlah. Dalam sejarah yang ada, hanya Li Wei_ yang bukan pemilik pedang_ yang selamat ketika memegang pedang itu. Oleh karena itu, pedang Hua Yifeng ini diberi nama Pedang Li Wei. Bukan Hua Yifeng yang memberi nama, tetapi orang-orang di masa itu. Dan, Hua Yifeng tak berniat mengatakan apapun tentang nama pedangnya.


Hua Yifeng tertawa pelan ketika melihat Yi Hua yang sakit kepala di buat-buat. Tangan Hua Yifeng mengacak-acak rambut Yi Hua, dan membuat Yi Hua langsung menepis tangan Hua Yifeng. Sebab, Yi Hua saja sudah terlihat berantakan, mau dibuat lebih berantakan seperti apa lagi?


"Yi Hua, jangan mendekat padanya ... Dia akan menyakiti dirimu!" ucap Jenderal Wei dengan marah.


Ketika Jenderal Wei ingin menarik Yi Hua, pedang Li Wei yang terbungkus kain itu melayang rendah menuju tangan Jenderal Wei. Jika pria itu tidak menarik tangannya, mungkin tangannya akan terkena pedang itu. Meski pedang itu sudah dibungkus, tetapi siapa tahu masih bisa menyerap darah manusia.


Entahlah. Pedang Li Wei ini jelas sangat buruk sifatnya. Sama seperti Hua Yifeng. Mereka tak ramah dan anti manusia lainnya.


Yi Hua melirik Hua Yifeng yang sedang tak baik-baiknya.


"Begini ... Jenderal Wei, Tuan Hua tak akan menyakiti saya," ucap Yi Hua dengan nada pelan. Berusaha menjelaskan.


Sejauh yang Yi Hua tahu, Hua Yifeng perduli padanya. Meski Yi Hua tak tahu kenapa.


"Darimana kau bisa yakin seperti itu? Aku sendiri tak yakin padanya!" tanya Jenderal Wei marah. Ia masih berusaha untuk menarik Yi Hua, tetapi tatapan Hua Yifeng sedikit menyulitkannya.


Rasanya seperti ancaman. Jika ia memaksa untuk menarik Yi Hua, mungkin tangannya bisa terpotong. Mengerikan sekali Iblis Kehancuran ini.


"Jenderal Wei ..." Yi Hua bingung untuk menjelaskan.


"Kau yakin atau tidak itu sama sekali tak penting," jawab Hua Yifeng datar pada Jenderal Wei.


Orang ini ...


Eh salah. Bukannya dia Iblis.


Maksudnya makhluk ini! Bukannya memperbaiki kericuhan malah menambah api permusuhan. Jenderal Wei ini sangat persis seperti kakaknya Wei Wuxie. Ia memiliki kesetiaan yang tidak main-main. Ketika ingin melindungi seseorang, maka ia akan melindunginya dengan sepenuh hati. Tanpa meminta apapun, meski Jenderal Wei ini agak pecinta wanita. Sedangkan kakaknya agak takut dekat dengan para gadis.


Jenderal Wei menatap bengis. "Kenapa kau mengikuti Yi Hua? Dia itu tidak punya kekuatan dan tak punya uang! Kau tak bisa memanfaatkan apa-apa."


Kau salah, Jenderal Wei!


Yi Hua melarat ini punya 'tungku iblis' yang bisa membuat Iblis menjadi level tertinggi. Sialnya lagi adalah Yi Hua ini adalah diriku di kehidupan sekarang.


Sayangnya, Yi Hua tak bisa mengakui hal tersebut dengan bangga. Sebab, karena tungku iblis itu juga semua hal menjadi sulit. Ia harus menyamar menjadi laki-laki. Dan, Yi Hua asli ... Bahkan kehilangan hidupnya karena tungku iblis itu. Ini jelas masih perkiraan. Dirinya tak tahu lebih jelasnya seperti apa.


"Yi Hua adalah kelemahanku."


Jangankan Jenderal Wei, Yi Hua sendiri merasa terkejut tentang ini. Lebih dari segalanya adalah apa maksudnya Yi Hua adalah kelemahannya?


Apa karena itu Hua Yifeng selalu mengikuti Yi Hua?


Hanya agar aku tak mati. Tapi karena apa? Dia tidak ada di dalam bagian masa laluku.


Mendadak Yi Hua merasa kecewa. Entah karena apa.


^^^*Mengingatkan lagi ... Sebenarnya Yi Hua masih tak ingat tentang Hua Yifeng. Dia hanya ingat kalau Hua Yifeng itu adalah An. Yi Hua ingat kepingan masa lalunya, tetapi tidak ada Hua Yifeng di sana. Karena itu sumpah Hua Yifeng sendiri.^^^


Dengan kata lain, ia tak mengingat jika dirinya pernah mengenal Hua Yifeng di masa lampau..Ini seperti ada bagian yang kosong dalam ingatannya. Dan, dirinya tak tahu apa yang 'hilang' itu. Hanya seperti tidak ada begitu saja.


Jenderal Wei menatap tajam. "Jika Anda takut seperti itu, maka Anda perlu tenang. Dia adalah bagian dari Kerajaan, kami akan melindunginya tanpa perlu mengganggu Anda, Tuan Iblis Kehancuran."


Ini sebenarnya masuk akal. Selama Jenderal Wei tak melaporkan tentang Yi Hua yang ternyata mengenal Hua Yifeng, maka Yi Hua akan tetap aman. Ia bisa hidup sebagai peramal biasa, dan tak ada kaitan apapun dengan Hua Yifeng, yang notabenenya adalah musuh utama kerajaan.


Hua Yifeng menepuk kepala Yi Hua, yang kebetulan mendongakkan kepalanya pada Hua Yifeng.


"Dia adalah satu-satunya orang yang selalu ingin ku sebut pengganggu di hidup ini," ucap Hua Yifeng yang beralih untuk mengusap permata merah di telinga Yi Hua dengan lembut.


Dan anehnya benda itu semakin bersinar terang seolah bertemu dengan sumbernya.


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.


Mari bertemu di chapter selanjutnya.


Adios~

__ADS_1


__ADS_2