
Segala sesuatu yang ada di cerita ini memang sedikit membuat bingung lagi tak mengerti. Meski begitu, ada beberapa hal yang tak menyenangkan untuk dibayangkan. Diharapkan untuk bersabar bagi yang tak tahan dengan hal itu.
Apapun yang ada dalam cerita bukanlah kejadian asli. Seperti apapun miripnya atau agak 'menyinggung', mungkin saja itu kebetulan. Karena cerita ini berdasar dari imajianisi author ini yang hobi bercocok-logi. Mari bijak menjadi pembaca.
***
"Qian ..."
Selir Qian menoleh pada suara panggilan itu. Wanita itu memasang wajah ketakutan, dan berniat untuk pergi. Akan tetapi, Raja Li Shen tentu saja tak membiarkan wanita itu pergi.
Sehingga setelah setengah dari dinding hancur, Raja Li Shen segera melompat ke seberang. Mengabaikan debu yang masih naik di udara. Namun rupanya Raja Li Shen bukan orang pertama yang menerobos tumpukkan batu dan tanah itu.
Ada Hua Yifeng yang sudah berjalan terlebih dahulu pada siluet putih yang terbaring di sudut ruangan.
"Qian, ada apa? Apa yang terjadi padamu? Apa kau terluka?" tanya Raja Li Shen pada Selir Qian yang tampak enggan untuk didekati.
Raja Li Shen memberi jarak agar Selir Qian tak terlalu tertekan. Terlihat sekali wajah ketakutan dari Selir Qian. Walau Raja Li Shen tak tahu apa yang membuat wanita itu ketakutan. Ia seperti melirik ke seluruh penjuru. Seperti takut diawasi oleh sesuatu.
Apakah Selir Qian bertemu Bao Jiazhen?
"Yang Mulia, hamba ingin mencari Liu Xingsheng segera," ucap Selir Qian tanpa memandang pada Raja Li Shen.
Li Shen selalu memiliki toleransi untuk Qian. Selalu. Apapun yang dilakukan wanita ini, Li Shen selalu menutup mata tentangnya. Bahkan saat ia tahu Qian adalah putri dari Liu Shang, Jenderal Kerajaan Xin yang dahulu membantai habis orang-orang di Istana Kerajaan Li.
Bahkan Liu Shang adalah yang membunuh ayahnya, Raja Li terdahulu.
Raja Li Shen tahu semuanya.
Namun ... Wanita ini sangat berarti bagi Li Shen.
"Itulah mengapa kita mencarinya bersama," ucap Raja Li Shen yang menahan tangan Selir Qian.
Selir Qian melirik Raja Li Shen angkuh. "Apakah Yang Mulia akan terus berpura-pura? Sekarang Yang Mulia tahu jika aku adalah orang Kerajaan Xin!"
Sejatinya, karena perang terdahulu, Kerajaan Xin adalah musuh dari Kerajaan Li. Penduduk dan pihak Pengadilan Tinggi tak akan diam jika tahu Selir Qian dan Liu Xingsheng berasal dari Kerajaan Xin. Lebih parahnya lagi, kedua orang ini adalah anak dari Liu Shang.
"Qian."
Selir Qian mendadak tertawa hampa. "Atau ... Yang Mulia hanya merasa bersalah? Karena Yang Mulia begitu naif dan lemah, sehingga Yang Mulia perlu dilindungi oleh seorang wanita?" ucap Selir Qian yang membuka luka lama. Seperti menggali semua mimpi buruk di antara Selir Qian dan Raja Li Shen.
Ling Xiao menghela napasnya. Ingin menyela dan tak bisa. Yang bicara ini adalah seorang Raja dan selirnya. Tentu saja Li Shen masih menjadi yang tertinggi dalam hierarki ini.
"Hentikan, Qian." Raja Li Shen memberikan peringatan.
Selir Qian menggelengkan kepalanya. "Sampai kapan Yang Mulia ingin bertindak seolah tak tahu apa-apa? Yang Mulia yang seperti ini membuat semua pejabat di bawah Yang Mulia semena-mena. Dipandang tak tahu apa-apa, padahal Yang Mulia memiliki An yang bergerak untuk 'mengatasi' mereka. Tak aneh saat seorang Pejabat mulai korupsi atau berniat buruk, mendadak semua asetnya terbakar atau keluarganya diserang bandit!"
Selir Qian cukup bermata tajam dan tahu banyak hal.
Raja Li Shen dan Hua Yifeng juga diam. Pria itu lebih tertarik untuk mendekat pada sosok Yi Hua yang berbaring di atas ranjang batu. Sosok itu tak bergerak. Yang Membuat Hua Yifeng tak berani mendekat ialah karena Yi Hua tampak seperti boneka.
Mengingatkan Hua Yifeng pada saat Li Wei terbaring tanpa nyawa.
"Bahkan Yang Mulia tahu siapa An sebenarnya."
Raja Li Shen menghela napasnya. Meredam semua kemarahannya. "Kau hanya terbawa emosi karena khawatir pada Liu Xingsheng. Sekarang kita sudah berkumpul lagi di sini. Guru Ling akan membawa kita ke tempat Xingsheng."
Sikap yang benar-benar memuakkan.
Bagaimana kau bertindak bahwa tak ada masalah apapun, padahal kau melihat begitu banyak kerusakan di depanmu?
"Mengapa Yi Hua tidak bergerak?" Pertanyaan itu dilontarkan oleh Yue Yan.
Ling Xiao yang awalnya tak memperhatikan itu langsung menuju ke arah Hua Yifeng. Pria itu masih berdiri tegak, menjulang, di samping ranjang batu. Tatapan pria itu tak terbaca, tetapi tak menggangu Ling Xiao yang memeriksa Yi Hua.
"Dia mati," bisik Ling Xiao dengan wajah yang benar-benar pucat.
Fakta yang mengejutkan hingga mereka sendiri mengira itu bukanlah fakta. Karena rasanya ingin bilang tak mungkin. Namun sosok Yi Hua benar-benar mendingin, dan bibirnya biru. Ada sembab merah di bawah mata Yi Hua.
Ada bercak darah di lubang hidung dan telinga Yi Hua. Belum lagi di sekitar pipi dan dagu Yi Hua juga masih ada darah yang mengering. Pertanda Yi Hua mengalami pendarahan internal, dan itu bukan karena dipukul secara fisik. Melainkan organ dalam Yi Hua rusak karena terkena zat yang mematikan.
Yi Hua mati karena racun.
Wei Wuxie yang baru tahu jika Li Wei hidup kembali, dan sekarang 'Tuan'nya itu mati_ Lagi? Hey ... Ini tak lucu lagi.
Ini tak pernah ada di bayangannya. Ia takut membayangkan rasa sakit itu lagi. Dan ... Sekarang bukan bayangan lagi, tetapi kenyataan.
"Ha ... Ha ..." Yue Yan tak tahu darimana gelak tawanya itu muncul.
Walau ketika ia memejamkan matanya. Berharap kekuatan aneh Shen Qibo membantunya untuk mendeteksi keberadaan Yi Hua. Siapa tahu anak nakal itu menahan napasnya.
Akan tetapi, yang dilihat Yue Yan tetap sama. Yi Hua yang terbaring di ranjang batu dengan mata terpejam. Itu berarti apa yang dilihat Yue Yan, baik dalam nyata dan kebatinan sama.
Yi Hua yang sudah mendingin di depan mereka adalah nyata.
Ling Xiao melirik putra angkatnya, yah ... Hua Yifeng. Walau nyatanya mereka tak seperti ayah dan anak, tetapi Hua Yifeng dibesarkan oleh Ling Xiao. Ia mengajarkan Hua Yifeng banyak hal, dan Ling Xiao juga belajar banyak hal dari Hua Yifeng.
Tangan pucat Hua Yifeng mengarah pada pipi pucat Yi Hua. Kulit Hua Yifeng terbilang sangat pucat, tetapi kulit Yi Hua yang biasanya putih merona layaknya sakura di atas salju kini mulai serupa dengan tangan Hua Yifeng. Meski begitu, tatapan Hua Yifeng masih tak terbaca.
Apakah semua terjadi dengan cara yang sama lagi?
Namun Hua Yifeng tak mengeluarkan suara apa-apa sejak tadi. Walau auranya semakin gelap dan terus gelap. Seperti tak ada yang bisa menyelamatkan kegelapan ini lagi. Dia semakin tak tersentuh dan ... Lebih kesepian lagi.
"Yifeng. Ini ..." ucapan Ling Xiao terhenti ketika ia mendengar suara keras di belakangnya.
BUK!!
BAMM!
Lalu, asap tebal muncul entah darimana. Karena perhatian mereka terbagi, mereka tak tahu jika Selir Qian telah pergi. Kemudian saat asap mereda, tampak Raja Li Shen yang terduduk di tanah. Di lehernya tampak sebilah jarum dan itu membuat Huan Ran segera menghampirinya.
Memeriksa jarum itu untuk memastikan tak ada racun di sana. Dan ... Untungnya hanya jarum untuk menekan titik gerak Raja Li Shen.
"Yi Hua sepertinya diracuni oleh Selir Qian," ucap Huan Ran sambil menatap jarum yang baru saja dilepaskannya dari Raja Li Shen.
Raja Li Shen masih diam dan berusaha bangkit. Walau semua ototnya masih belum bisa mengikuti maunya. Titik geraknya baru saja ditekan oleh Selir Qian, dan ia perlu waktu untuk menyesuaikan diri.
"Tidak mungkin. Qian ..."
Huan Ran sebenarnya merasa muak dengan sikap Raja Li Shen. Orang ini sangat enggan menerima kenyataan. Li Shen suka hidup dalam imajinasinya dan kemauannya. Tak mau sadar bahwa dia sebenarnya dikhianati sejak awal.
Jika cinta membuat semua orang bodoh seperti ini, maka Huan Ran akan mengutuk cinta itu.
Wei Wuxie juga menyadari jika kantung yang berisi pecahan Lingkaran Mawar juga menghilang. Selir Qian, wanita ini benar-benar berbahaya. Dia sangat sunyi dan memahami obat-obatan herbal.
Ada aroma terbakar di sekitar mereka, dan Wei Wuxie ingin mematikannya. Ling Xiao yang melihatnya segera berlari ... Mengambil sejumput rumput kering yang dibakar itu, dan melemparkannya ke dalam peti. Yang entah isinya apa.
"Jika kau matikan apinya, asapnya akan semakin tebal. Kau akan mabuk seperti minum arak!" tegur Ling Xiao ketika menutup peti itu dengan kayu.
"Tapi ... Mabuk karena arak tak berbahaya," komentar Yue Yan.
Ling Xiao tersenyum manis. "Jika tahap ringan, Anda akan mabuk seperti minum arak. Jika menghirup cukup banyak, pernapasan Anda akan sesak karena asap itu akan melukai paru-paru. Kemudian, ..."
Yue Yan mengangguk cepat. "Saya mengerti." Dengan patuh Yue Yan menutup hidungnya, walau sumber asap sudah dilemparkan ke dalam peti.
Sekarang mereka benar-benar bingung dengan apa yang terjadi. Mereka tak tahu bagaimana berekspresi. Ada rasa marah, penasaran, dan sebagainya.
Bahkan Hua Yifeng tak mengeluarkan sepatah katapun di ruangan ini.
Yue Yan mengira Hua Yifeng akan mengamuk. Menghancurkan semua yang ada di ruangan ini, atau bahkan dunia. Membunuh mereka satu-persatu atau apa lah.
Namun Hua Yifeng hanya diam seolah semua kesadarannya tak ada di sana.
__ADS_1
Sekarang mereka tak tahu apa yang harus dilakukan mereka setelah ini. Lingkaran Mawar mereka hilang, dan itu berarti mereka tak bisa melakukan sihir perpindahan. Yi Hua yang sudah mati ini, dan Yue Yan yakin tak ada yang sanggup untuk menguburkan Yi Hua. Air mata Yue Yan tanpa sadar menetes.
Dasar bodoh! Hanya karena orang berisik itu mati, mengapa aku harus menangis?
Lalu, rasa sakit di hatinya ini karena apa?
"Aku rasa aku akan pulang ke Lembah Debu," ucap Yue Yan dengan perasaan yang hampa.
Ia menepuk bahu Huan Ran, "Maaf Perdana Menteri - Entah siapa namamu. Aku tak bisa membantu mencari teman boneka kita itu. Tentang pulang ke sana ... Sepertinya aku bisa pulang sendiri," ucap Yue Yan yang sekarang tak rela. Padahal ia ingat jika seringkali dirinya melarikan diri, dan Yi Hua akan mengancamnya.
Sekarang ... Mengapa Yue Yan ragu untuk pulang? Ia punya kekuatan aneh dari Shen Qibo. Bahkan dia tadi membantu Hua Yifeng menemukan jalan menuju Yi Hua ini. Sehingga ia yakin dirinya bisa keluar dari lubang tanah ini hanya dengan kekuatan mata itu.
Akan tetapi, ...
Dia tak mau pulang. Setidaknya ia tak mau pulang sendiri. Konyol sekali.
GRRR!!!!
Hua Yifeng yang awalnya diam, kini menoleh ke arah peti yang tertutup. Itu adalah peti dimana Ling Xiao melempar rumput yang terbakar sebelumnya. Hal tersebut membuat mereka menjadi waspada, yah ... Setidaknya Yue Yan yang menjadi sangat waspada.
Pria itu bahkan tak segan-segan melompat untuk memanjat tubuh Huan Ran.
Itu adalah peti mati!
"Kenapa kau takut? Dulu di Lembah Debu kau pernah mencoba mengendalikan mayat berjalan!" tanya Huan Ran yang mendorong kepala Yue Yan menjauh.
Namun Yue Yan masih menggelantung di leher Huan Ran. "Situasinya berbeda! Dulu aku punya pecahan Lingkaran Mawar. Sekarang aku cuma punya nyawa ini saja!"
Ular-ular milik Yue Yan berisik di dalam bajunya. Hal tersebut yang membuat Yue Yan mendengar jerit ular-ularnya. Yah, tentu saja hanya Yue Yan yang paham dengan ucapan ular-ular itu.
"Ada sesuatu yang membuat ular-ularku tak tenang," ucap Yue Yan.
Namun Huan Ran menatap jengkel padanya. "Kau lupa jika Raja Iblis ada di depan kita?" tanyanya.
Meski Hua Yifeng tampak menyembunyikan auranya, tetapi semua dari mereka tahu identitas Hua Yifeng. Semua binatang iblis seperti ular milik Yue Yan pasti akan takut pada aura Hua Yifeng. Itu seperti kau tahu ada orang yang sangat kuat dan bisa membunuhmu tanpa sisa.
"Bukan dia ..."
Ling Xiao melirik pada Yi Hua dan ...
PLANG!
Peti yang awalnya ditutup oleh Ling Xiao terbuka kembali. Hal tersebut membuat Ling Xiao berteriak. "Jangan ada yang bernapas!"
Setidaknya yang manusia harus tahu diri. Mereka tak boleh mencium aroma itu lagi.
Akan tetapi, ... Bukan hanya semburan asap yang mengejutkan mereka, melainkan tengkorak yang duduk di peti itu.
Begini, ini tengkorak, dan dari posisi sebelumnya tengkorak itu pasti berbaring. Oleh karena itu, mereka yang melihat dari kejauhan tak akan tahu jika ada tengkorak di sana.
Lalu, mengapa sekarang tengkorak itu duduk dan bersandar dengan pinggir peti?
Ada banyak tempelan jimat yang sudah usang di sekitar tengkorak itu. Mungkin siapapun yang menempelkannya berharap jika tengkorak ini tak pernah bangkit lagi. Mencegah jika tengkorak ini menjadi mayat berjalan.
Tindakan preventif yang aneh. Apalagi jika kau sangat 'takut' pada orang yang sudah mati.
Yue Yan menepuk bahu Huan Ran. "Apa tengkorak itu juga sesak karena asap racun itu?" tanya Yue Yan konyol.
Tentu saja tak mungkin.
Setelah ketegangan itu, mendadak mereka dikejutkan oleh teriakan keras.
"AKKKKHHHHHHH!!!!!"
Yue Yan yang memang tegang jelas berteriak juga. "AKHHHHHH!!!"
Telinga Huan Ran langsung berdenging seperti mendengar bisikan sapi.
Namun ... Teriakan pertama yang keras itu dan berasal dari sosok putih yang awalnya terbaring di atas ranjang batu. Sekarang sosok itu langsung duduk dan berteriak kencang. Teriakan yang keras dan penuh ketakutan.
Entah apa yang dilihat oleh sosok itu di saat tubuhnya mati sebelumnya.
Tentu saja bukan hal yang menyenangkan.
***
TING TING!
Huh?
"Dimana aku sekarang?" tanyanya.
Ia menggerakkan tangannya dan mengangkatnya ke udara. Ia bisa melihat tangannya sendiri, dan sekarang ia tak berbaring ....
Benar ...
Dirinya tampak berdiri di antara kerumunan. Itu sangat ramai hingga dirinya merasa bahunya bersisian dengan orang lain. Situasi ini berdesakan, dan beberapa orang berdiri di depannya. Mereka tampak fokus pada pertunjukan di depannya.
Lalu, mengapa ia merasa seperti bangun tidur? Apa dia tertidur sambil menonton pertunjukkan?
Dan ...
"Sangat indah," ucap orang-orang di sekitarnya.
Sehingga tatapannya juga mengikuti mereka. Di sana ia menyadari jika ada sosok yang tampak indah dengan pakaian tarinya. Tampaknya ada pertunjukan yang ...
Bukankah ini persembahan yang dilakukan oleh Liu Xingsheng?
Eh?
Tangannya ... Yah ... Ini situasi yang sama. Yi Hua mengulurkan tangannya untuk memastikan bahwa ini mimpi atau tidak. Ia seperti kembali ke masa atau saat ia menonton Liu Xingsheng sedang mempersembahkan kisah Kerajaan Xin.
Perayaan Dewa.
Tentang seorang anak yang memiliki keberuntungan yang sangat besar. Cerita ini memang cerita asli Kerajaan Xin, tetapi sudah menjadi cerita yang khas juga di Kerajaan Li. Anak ini, bahkan saking beruntungnya, situasi hampir gagal panen bisa berbalik menjadi panen. Ada juga yang menambah-nambahkan hingga cerita ini jadi sangat di luar nalar.
Seperti cerita lucu yang mengatakan tentang,"ikan-ikan akan melompat sendiri ke dalam perahu jika anak ini menginginkannya".
Yi Hua merasa bergetar saat menyadari jika dirinya seperti masuk ke dalam ruang waktu yang berbeda. Rasanya memang seperti saat itu. Ia menonton Liu Xingsheng yang sedang menari, tetapi bagaimana mungkin waktu menjadi mundur?
"Kasihan sekali. Semua keberuntungannya diberikan pada orang lain, dan hidupnya menjadi tidak beruntung. Dia mati di sebuah danau kecil. Itu sangat aneh saat dia mati di danau yang dalamnya hanya selutut orang dewasa," ujar orang di depan Yi Hua.
Yi Hua ingat ... Situasi ini berbeda.
Seharusnya setelah ini adalah serangan dari para mayat berjalan. Juga ... Tak ada orang-orang yang berbicara seperti itu di sekitar Yi Hua saat ini. Yang ada adalah Xiao yang menceritakan cerita menyedihkan itu pada Yi Hua.
Ya ... Xiao.
Yi Hua mengarahkan tangannya untuk menyentuh telinganya. "Xiao."
Namun tak ada respon.
Dirinya merasa situasi tak beres saat ini.
Seseorang di samping Yi Hua mendadak menoleh pada Yi Hua. Ia menoleh pada Yi Hua pun dengan gerakan patah-patah. Wanita tak dikenal itu tersenyum pada Yi Hua, tetapi matanya hampa. Hanya senyum yang lebar.
SRET!
Sial! Senyumnya menakutkan.
"Apa Penguasa Laut Selatan mengambilnya? Bao Jiazhen?" tanya wanita itu masih dengan senyumnya.
Yi Hua menggeleng cepat. "Saya tak tahu."
__ADS_1
Ia dengan cepat menuju ke arah Liu Xingsheng. Jika memang dia kembali ke masa lalu, maka dia harus menyelamatkan Liu Xingsheng. Di saat inilah Liu Xingsheng terluka parah. Kemudian, menjadi aneh setelah tak sadarkan diri beberapa hari.
Mungkin tanpa mereka sadar Bao Jiazhen ada di perayaan ini dan melakukan sesuatu pada Liu Xingsheng.
Namun semakin Yi Hua berjalan ke arah Liu Xingsheng, jaraknya semakin menjauh.
PLOK!
PLOK!
PLOK!
Orang di sekitar Yi Hua bertepuk tangan pada pertunjukan di depan mereka. Yi Hua melihat Liu Xingsheng tampak memberikan penghormatan untuk mengakhiri pertunjukkannya. Yi Hua tanpa sadar berteriak. "Perdana Menteri Liu ... Ayo kita pulang!"
Akan tetapi, ini seperti dunia antara Yi Hua dan Liu Xingsheng tampak berbeda.
BRUK!
Seorang anak remaja menabrak Yi Hua. Tingginya hanya sampai dagu Yi Hua, sehingga Yi Hua bisa menduga usianya sekitar dua belas tahun-an. Yi Hua mengelus dagunya yang terasa sakit.
"Maaf, kakak," ucap anak remaja itu.
Yi Hua menggelengkan kepalanya, dan tak berniat menjawab. Akan tetapi, ...
Anak remaja itu menangkap pergelangan tangan Yi Hua.
"Aku ..." Anak itu mendadak memeluk tubuh Yi Hua dengan erat. Seolah dia sangat ketakutan.
Apa dia terpisah dari ibunya?
Yi Hua mengerutkan keningnya ...
"Hey, ini pasti lucu sekali jika anak ini mendadak bilang, "Aku anakmu!" Pasti akan membentuk cerita baru dengan judul aneh," ujar Yi Hua yang melantur.
Jadi, jika memang ini anaknya di masa depan, ia hanya tinggal memperhatikan wajah anak ini. Lalu, memprediksi siapa ayahnya, supaya ketika kembali ke masa lalu target Yi Hua tidak salah. Langsung ke bapak anak ini saja. Hitung-hitung menentukan jalan menuju jodoh dengan lebih cepat. Walau Yi Hua punya satu nama pria yang dia harapkan.
Yah, itu jika Yi Hua masih hidup nantinya. Bukannya ... Eh?
Bukannya aku waktu itu mati karena diracun oleh Selir Qian?
Tunggu sebentar ...
"Aku tak mau ..."
"Apa? Aku juga tak mau terjebak dalam dunia aneh ini!" ucap Yi Hua yang berusaha melepaskan diri dari pelukan anak ini.
Namun pelukan anak ini semakin menguat lagi.
"Aku juga tak mau memiliki darah yang seperti ini. Mengapa mereka memburu keluargaku? Membunuh orangtuaku, dan setelah itu mereka berkata, "Ahh ... Bukan ini." Dengan semudah itu mereka berkata salah bunuh orang karena orangtuaku bukan dari Klan Bao," ucap anak itu sambil memeluk erat pinggang Yi Hua.
Anak ini ...
"Mengapa Tuan Putri Li Wei?"
Tubuh Yi Hua bergetar ketika anak itu berbicara lagi.
"Mengapa kau mengutuk Kerajaan Li dengan Penyakit Batu itu? Kau membuat penyakit aneh itu, dan bunuh diri. Kenapa?" tanya anak itu lagi.
Bukan aku ... Aku tak melakukan apa-apa!
Sampai sekarang dirinya tak tahu bagaimana penyakit batu itu bisa terjadi. Ia tak tahu mengapa penyakit itu muncul, dan bagaimana bisa obatnya darah Klan Bao. Itu pun hanya dari keturunan asli Klan Bao. Dan ... Yang menemukan obatnya adalah Selir Qian.
Lalu, ia melihat bayangan aneh seperti bayangan di sekitar tanah ia berpijak. Di sana Yi Hua melihat semuanya. Semuanya seperti yang diceritakan oleh Selir Qian di saat melantur.
Dari bayangan itu, tampak sosok gadis kecil yang melakukan beberapa hal aneh yang Yi Hua tak mengerti. Yi Hua ingat jika Selir Qian melakukan percobaan terhadap Bao Jiazhen dan Liu Xingsheng saat mereka masih menginjak remaja. Entah seberapa 'mati' hati gadis kecil itu untuk melakukan hal tak berperikemanusiaan.
Rasa sayang Liu Xinqian pada Liu Xingsheng membuat gadis kecil itu berani. Otaknya sangat cerdas, dan ia menggunakannya dalam hal yang salah. Yi Hua mendengar tangisan frustasi dan ketakutan dari Qian kecil.
Bohong jika Qian begitu tabah dengan keadaan. Dia hanyalah anak kecil. Kemudian, adiknya sudah tiada dan meninggalkan Qian. Dia sendirian, dan berusaha menghidupkan adiknya kembali.
Ini sinting, tetapi Qian kecil lebih takut jika adiknya tidak bersamanya. Qian kecil menangis dan beberapa kali muntah dengan apa yang dia lakukan sendiri. Itu menakutkan.
Di depan gadis kecil itu sosok lain yang terbaring di atas ranjang batu. Kemudian, di depan mereka ada bayangan lain yang bergantung dengan darah menetes dari ujung jemari kakinya.
Lalu, setelah itu ... Bayangan gadis kecil yang berusaha mendorong pria kecil lainnya yang sudah tak bernyawa ke sungai. Hingga saat pria kecil itu terendam di sana, air danau berubah menjadi merah.
Cerita Perayaan Dewa ini adalah tentang Bao Jiazhen.
Ini mengerikan.
Tidak. Yang lebih parah lagi anak ini adalah Bao Jiazhen. Yi Hua berusaha melepaskan tubuh anak ini darinya. Napas Yi Hua tampak tercekat.
Kemudian, situasi di sekitar Yi Hua berubah. Yi Hua sekarang malah berendam di sebuah danau kecil yang dipenuhi oleh teratai. Bunganya sangat indah dan hanya menunggu beberapa hari hingga petani bisa memanen biji teratai nantinya.
Namun Yi Hua melihat sebuah kaki yang mengambang di sekitar daun teratai yang lebar.
Tidak ... Tidak ...
Napas Yi Hua semakin tercekat. Terutama saat ia merasa posisinya berubah. Kini ia juga berada di sekitar danau teratai itu. Masih dengan anak itu yang memeluk perutnya.
Kemudian, Yi Hua melihat seseorang berdiri di pinggir danau. Itu adalah wanita yang tadi. Yang bayangannya bisa Yi Hua lihat.
Dan, ada seseorang yang berdiri di sebelahnya, tetapi wajahnya tak bisa Yi Hua lihat. Seperti ada kesilauan aneh yang menghujam matanya.
"Kenapa Putri melakukan itu? Jika tak ada penyakit aneh itu, aku tak akan diburu seperti hewan buruan!" teriak anak itu masih dengan memeluk Yi Hua.
Akan tetapi, anak itu mengangkat wajahnya. Awalnya Yi Hua masih melihat wajah anak itu yang tampan. Wajahnya khas dengan anak laki-laki yang baru menginjak remaja. Wajah yang ...
"Bukannya kau ..."
Belum sempat Yi Hua berbicara, mendadak wajah di depan Yi Hua mengelupas. Seolah ada sesuatu yang membuat semua kulitnya terlepas dari tulang. Buruknya lagi semua itu terkelupas di depan mata Yi Hua.
Yi Hua berteriak sekencang yang ia bisa ... Itu sangat menakutkan untuk dirinya lihat.
Tidak ... Tidak ... Aku mau kembali. Tidak!!
"Ini salahmu, Putri Li Wei! Kau membawa kutukan! Kau membawa semua bencana!" ucap anak itu yang perlahan menjadi tengkorak.
Sekarang Yi Hua tahu siapa pemilik kerangka tengkorak di dalam peti itu.
"Tidak ... Ku mohon ... Aku juga tak tahu," ucap Yi Hua.
Namun cengkeraman di bahunya semakin erat. Ia melihat banyak orang dengan penyakit batu mereka. Mendatangi Yi Hua dengan cara yang mengerikan. Ada yang merangkak, berjalan terseok-seok, juga ada yang wajahnya hancur karena dipenuhi batu.
Tangisan Yi Hua sudah seperti dia akan gila di sana.
Semua orang-orang itu berteriak. Menyalahkannya!
"AKKKKHHHHHHH!" teriak Yi Hua dengan kencang.
Tubuhnya langsung menegak dan duduk tanpa ia sadari. Saat itu tatapan Yi Hua mengarah pada tengkorak yang juga terduduk. Namun ada di dalam peti.
Yi Hua tahu dia sudah terbangun dari mimpi anehnya dan semua hal mengerikan itu hilang. Akan tetapi, ketakutan Yi Hua tak hilang.
Air matanya menetes deras. Tubuhnya bergetar. Ia masih berteriak hingga tenggorokannya sakit.
Ini salahku! Ini salahku!
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
__ADS_1
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
Adios~