
Adegan klasik semacam apa ini?
Mengapa seperti salah satu cerita di pertunjukan Istana?
Li Wei jelas merasa gatal karena rambutnya tertarik ke arah Hua. Belum lagi tinggi Hua yang berbeda dengannya. Hal itu membuatnya harus berjinjit untuk menyelamatkan helai-helai rambutnya. Li Wei jelas menolak untuk menjadi botak.
Belum lagi dengan penjaga malam yang masih berkeliaran di sekitar mereka. Li Wei tak bisa bertindak ceroboh apalagi menendang pria ini. Bisa-bisa mereka akan ketahuan.
BUGH!
"Diam," perintah Hua yang masih membekap mulut Li Wei.
Percayalah Li Wei sekarang kesusahan bernapas. Sudah ia dipaksa menempel dengan Hua, dan Hua dengan teganya menutupi aliran napasnya. Jika Li Wei tak cukup sabar, ia akan menggigit orang ini.
TAP!
TAP!
Detak jantung Li Wei sekarang beradu dengan suara langkah kaki penjaga. Ia bahkan bisa mendengar ketukan dari langkah kaki itu karena situasi genting ini. Belum lagi Li Wei tak fokus akibat hembusan napas hangat Hua di lehernya.
Ini bagaiamana?
Li Wei menajamkan telinganya untuk mengetahui keadaan. Lalu, ia mendengar suara langkah kaki itu menjauh. Hal itu membuat Li Wei menghela napasnya lega. Setelah tak terdengar lagi, Li Wei memulai aksi melepaskan dirinya.
Sayangnya ...
"Aduh ... Rambutku ... Kepalaku. Kau ini mau melepaskan rambutku dengan sekali tarik?" omel Li Wei yang tak mendapat respon apa-apa dari Hua.
"Aku potong."
SRING!
Hanya kalimat singkat itu, dan tanpa persetujuan Li Wei pria itu sudah menarik pedangnya. Li Wei menjadi panik jika salah-salah pria ini akan memotong kepalanya agar mereka terlepas. Hal itu membuat Li Wei memberontak lebih keras.
KREK!
Eh?
Hua mendorong Li Wei untuk keluar duluan dari celah di samping Tembok Batu Permohonan itu. Sepertinya yang dimaksud oleh pria ini ialah memotong jepit rambutnya. Sehingga Li Wei menghela napasnya lega sambil memegangi rambutnya yang sudah keluar dari jalurnya.
Jika ada yang perlu disesali, maka Li Wei menyesal karena menjepit rambutnya. Harusnya Li Wei mengikatnya dengan pita seperti biasanya. Hari ini terasa sangat sial bagi Li Wei.
Baru saja Li Wei ingin mengajukan protes, pria Hua itu sudah berjalan menjauh tanpa berkata apa-apa. Li Wei jelas tak terima dengan segala kerugian yang melanda dirinya.
Gadis itu berlari dan menghalangi jalan Hua. "Hey, kau! Tidak ada yang mau kau katakan padaku?" Li Wei bahkan tak lagi menyebut pria ini dengan panggilan hormat.
Ayolah. Mengertilah Li Wei yang diabaikan sejak kemarin!
GREP!
Hua memegang pucuk kepala Li Wei dan memutar arah pandangan Li Wei ke arah kanan. Lalu, pria itu mulai berjalan lagi dengan menghindari Li Wei yang berdiri di depannya. Ia hanya tak menyangka jika gadis ini sangat ribut dan tak ada jeranya.
Li Wei mengusap bekas tangan pria itu di kepalanya. Entah mengapa Li Wei melakukannya. Hanya saja dia merasa jika pria ini keringatan cukup banyak. Apakah pria itu merasa tak nyaman saat ini?
"Kau sudah berjanji untuk mengajariku jika aku menang besok. Aku harap kau menepatinya!" teriak Li Wei yang sepertinya lupa jika penjaga mungkin masih ada di sekitarnya.
Hanya sepersekian detik hingga Li Wei ingat, dan ia menutup mulutnya sendiri dengan telapak tangan. Ketika ia melakukan itu, Hua akhirnya membalikkan tubuhnya untuk menatap dingin pada Hua. Entah pria ini ingat padanya atau tidak.
Karena ia tak mau pria itu melihatnya takut ketahuan, gadis itu melepas bungkamannya. Ia lalu melipat kedua lengannya di dada sambil memberi tatapan pura-pura sinis. Walau Li Wei sebenarnya tak mengerti bagaimana bersikap sinis yang sebenarnya.
Pria sepertinya mengalami kelumpuhan wajah. Ia bahkan tak bereaksi apapun, bahkan saat ditatap sinis oleh Li Wei. Emosi sedikit lah begitu, maksudnya Li Wei. Ia jadi merasa melakukan hal yang sia-sia.
"Kau tak akan menang," ucap pria itu datar.
Li Wei semakin gatal ingin menendang pria ini. Hanya saja dari kemampuan, ia pasti akan dengan mudah dicekik oleh pria ini. Oleh karena itu, Li Wei tak ingin menggunakan kekerasan.
Lagipula, aku anak baik yang tak pernah memukul orang lain.
"Aku akan menang. Tenang saja jangan khawatir," ucap Li Wei yang terkadang memiliki kepercayaan diri agak tinggi.
"Aku tak khawatir."
Sakitnya. Dingin sekali.
Li Wei mengabaikan jiwa-jiwa terabaikan di dalam dirinya. Ia jelas lebih fokus untuk mengajak pria ini berbicara. Ia menoleh ke belakang untuk memastikan, dan tersenyum untuk mengejek pria ini.
"Mengapa kau pergi ke Tembok Batu Permohonan? Apa kau menulis permohonan di sana?" tanya Li Wei yang ingat jika ia bertemu saat Hua tengah berjongkok di depan tembok batu itu.
Hua tak mengatakan apa-apa. Ia malah berjalan tanpa menoleh pada Li Wei lagi. Li Wei yang agak rusuh jelas tak menerima ketidak-ramahan Hua ini. Akhirnya, ia mengikuti Hua dari belakang sambil berbicara lagi.
"Biar aku jelaskan padamu ... Katanya, jika kau menulis permohonan ..."
SRET!
Dengan kejamnya Hua memutar tubuh Li Wei untuk berbalik arah. Hal itu membuat ucapan Li Wei terhenti. Akan tetapi, ketika Li Wei ingin mengomel lagi, pria itu langsung menghilang begitu saja dalam gelap.
Kecepatan macam apa itu?! Pria ini pasti berbakat dalam melarikan diri dari hutang. Aku harus menyuruh Zhang Yuwen belajar darinya.
"Siapa di sana?" teriak seseorang dari kejauhan.
Dia ketahuan!
Li Wei dengan cepat memakai penutup kepala jubahnya untuk melarikan diri. Atau, dia akan mendapatkan hukuman. Belum lagi dengan suara rusuh Zhang Yuwen yang mengejeknya kelak. Mau tak mau Li Wei harus kembali ke kamarnya di Pelatihan Awan ini.
HAP!
__ADS_1
Li Wei melompat untuk naik ke atas atap, dan berlari dengan cepat. Ia mendengar derap kaki yang berusaha mengejarnya. Li Wei akhirnya berguling untuk menuruni atap yang menurun. Setelah itu, ia melompat dengan beberapa kali putaran, dan berdiri tegak di tanah.
Ia segera membuka jendela kamarnya, dan masuk dengan cepat. Beruntung ia tidur sendirian di Pelatihan Awan ini. Sehingga ia tak perlu membekap mulut teman sekamarnya atau bahkan menyogoknya.
Li Wei membuka jubah besarnya, dan langsung berbaring di bawah selimut. Tangannya meraih batu kecil yang diambilnya dari Tembok Batu Permohonan sebelumnya. Lalu, menggunakannya untuk mematikan lilin di kamar.
SRET!
Kamar tidurnya sekarang gelap gulita.
Aman!
***
TOK! TOK! TOK!
"Ibu, aku masih mengantuk," ucap Li Wei sambil merapatkan selimutnya lebih erat lagi.
Ia tidur larut tadi malam, sehingga ia tak bisa terbangun dengan mudah. Akan tetapi, suara ketukan itu kali ini datang dengan suara menyebalkan.
"Putri, Anda akan tertinggal jika tidak keluar sekarang." Suara pertama masih agak menenangkan. Suara Wei Wuxie tak akan begitu lancang dan kasar.
Tetapi ...
"Jika Putri masih hidup, keluarlah! Harusnya Anda mati itu bilang-bilang," tegur Zhang Yuwen yang selalu seenaknya.
Li Wei mulai jengkel dan bangkit dari kasurnya. "Masuk! Sebelum aku menarik kepalamu untuk dibawa bersanding dengan sapi."
CKLEK!
Mendengar perizinan Li Wei jelas kedua orang ini masuk dan langsung menyerbu ke kamar Li Wei. Zhang Yuwen lebih tak segan-segan lagi. Ia langsung berdiri dan melipat kedua tangannya untuk mengomel.
"Lihatlah, Anda ini seorang kecantikan asli atau buatan? Mana ada Putri yang berantakan seperti dirimu. Apalagi! Yang Mulia hanya punya satu Putri. Ini pasti bencana!" ucap Zhang Yuwen dengan berlebihan.
Mulut orang ini pasti terlalu sering mengunyah pisau. Jujur sekali!
"Perhatian bicaramu, Zhang Yuwen. Putri lebih baik segera bersiap karena Perburuan Malam akan segera dimulai," balas Wei Wuxie sambil membersihkan kamar Putri yang sepertinya terkena badai.
Bahkan jubah besar Li Wei masih terbaring manja di lantai.
"Kau! Siapkan pakaian Putri," perintah Wei Wuxie yang meletakkan kain bersih untuk digunakan Li Wei nantinya.
Kini menyapu di bawah kasur Li Wei, dan Zhang Yuwen hanya bisa menatap Wei Wuxie dengan bingung.
Sejak kapan mereka beralih menjadi pelayan Putri Berantakan ini?
"Apa?" tanya Wei Wuxie dengan wajah datar.
"Apa kau ini pengasuh Tuan Putri?" tanya Zhang Yuwen yang masih menatap tak mengerti pada kain di tangannya.
Sepertinya Li Wei lupa untuk melepaskannya tadi malam. Lagipula, anehnya jepit rambut ini tak berasa apa-apa. Dan, Li Wei mulai mengerti alasannya.
Itu karena jepit rambutnya telah kehilangan riasannya. Jepit rambutnya ini memiliki riasan perak, dan permata merah yang melekat di sana. Li Wei menggaruk kepalanya bingung, dan akhirnya mengingat jika pria Hua itu memotong jepit rambutnya tadi malam. Mungkin riasan rambutnya sudah terjatuh atau pecah.
Sudahlah hanya jepit rambut.
Li Wei akhirnya menyambar kain yang ada di tangan Zhang Yuwen.
"Tunggu aku! Aku bersiap lebih cepat dibanding kau menarik napas," ucap Li Wei sambil meraih pakaiannya yang sudah ia siapkan untuk dipakai hari ini.
Zhang Yuwen menghela napasnya saat mengasihani kecantikan Li Wei yang terbuang-buang. "Anak rusuh ini pasti susah mendapatkan pendamping."
"Kau akan mati jika Yang Mulia mendengarmu," balas Wei Wuxie yang bersandar dengan tenang di dinding.
Hal itu membuat Zhang Yuwen mengalihkan pandangan ke arah Wei Wuxie. Hanya dalam sekejap Wei Wuxie sudah selesai membersihkan ruangan pasca badai milik Putri satu-satunya Raja Li ini. Zhang Yuwen langsung berlutut ke arah Wei Wuxie.
"Aku tak akan menikah, Wuxie. Jadikan aku teman hidupmu, maka hidupku akan terjamin," ucap Zhang Yuwen dengan tawa yang siap ia semburkan.
BRUK!
Namun tawa itu tak sempat ia keluarkan saat dengan cepat Wei Wuxie melempar jubah besar Li Wei ke wajah Zhang Yuwen.
"Gantung itu dengan benar," perintah Wei Wuxie yang tak tahan dengan kekonyolan Zhang Yuwen.
Entah mengapa ketiga orang ini bisa berteman.
***
DUG!
DUG!
Pagi-pagi sekali mereka sudah berbaris di alun-alun Pusat Kota. Li Wei, Zhang Yuwen, dan Wei Wuxie sudah berdiri berurutan. Biasanya Perburuan Malam harus dimulai dengan pembacaan peraturan yang seringkali berbeda setiap periodenya.
Li Wei melihat Yang Mulia duduk di kursi tahtanya. Sebenarnya Li Wei sudah lama tak melihat ayahnya itu. Di bangku lainnya ada beberapa orang yang bisa Li Wei kenal. Di sebelah kanan ayahnya ada Penasihat Wang, dan ibu Li Wei ada di sebelah kiri.
Sejak tadi Li Wei melambaikan tangannya untuk menyapa sang ibu, tetapi ibunya hanya bisa menepuk dahinya ketika melihat anak gadisnya ada di barisan. Seperti biasa, ibunya khawatir pada Li Wei, tetapi tak bisa berbuat apa-apa. Apalagi dengan sifat keras kepala Li Wei, anak gadisnya itu pasti akan tetap ikut dalam Perburuan Malam.
Kemudian, ada Guru Ling Xiao yang punya banyak gelar di Kerajaan ini. Selain sebagai Peramal Besar Kerajaan, Ling Xiao juga guru di Pelatihan Awan. Li Wei pernah beberapa kali melihat Ling Xiao di istana karena setiap saat Ling Xiao akan diminta meramal kembali. Tentang masa depan Kerajaan Li, ramalan tentang Pewaris Tahta selanjutnya, dan sebagainya. Itu agak aneh saat Ling Xiao sampai sekarang belum menyampaikan siapa pewaris tahta selanjutnya. Padahal biasanya ramalan itu akan muncul lebih cepat hanya agar Pewaris Tahta bisa dilatih lebih cepat.
Juga, ada kakak pertama Li Wei, Li Jun.
Dari kejauhan saja Li Jun sudah menatap Li Wei penuh tantangan. Mau tak mau Li Wei pura-pura menepuk nyamuk karena kurang kerjaan. Bahkan dia sengaja menepuk kepala belakang Zhang Yuwen agar ada kerjaan. Hal itu membuat Zhang Yuwen hanya pasrah karena Li Wei sedang kambuh tak jelasnya.
__ADS_1
Lagipula, di tengah orang-orang kerajaan di sini mana bisa Zhang Yuwen mencekik Li Wei. Bisa mati ia dikoyak-koyak oleh orang Kerajaan. Sebab, meski Li Wei tak ada sedikit pun terlihat seperti seorang Putri, tetapi dia tetaplah anak dari Raja Li.
DUG!
DUG!
DUG!
Sepertinya gendang untuk membuka Perburuan Malam masih belum di mulai. Kemudian, mereka dipanggil satu-persatu untuk memastikan anggota. Tak lama nama berhenti pada seseorang yang disebut dengan marga Hua.
Sayangnya, Li Wei tak tahu mengapa mereka hanya menulis nama Hua untuk pria itu. Seolah tak ada nama belakang untuk pria ini. Meski begitu, mereka sudah tahu siapa yang dimaksud Hua ini.
Dan, Hua tak ada di Perburuan Malam ini.
Bukankah dia tak menepati janjinya?
Wei Wuxie menengok ke arah Li Wei untuk memastikan ekspresinya. "Putri, bukankah saya sudah memperingatkan untuk hal ini? Jangan berurusan dengan Hua itu. Dia menimbulkan banyak hal buruk."
Namun ini tak seperti Li Wei memperdulikannya. Hanya saja ...
"Putri, aku tahu jika Putri merasa kasihan dengannya. Akan tetapi, ada beberapa orang yang tak suka dikasihani. Jalan yang terbaik adalah menjauhinya," jelas Wei Wuxie lagi.
Zhang Yuwen juga hanya mengangguk-angguk karena dia setuju dengan apa yang Wei Wuxie katakan. Jelas Li Wei tak berani menyampaikan tentang kejadian tadi malam, atau kedua temannya ini akan mengomel. Meski begitu, Li Wei tak ingin menanggapi lebih banyak.
Lebih dari segalanya ... Li Wei memang tak bisa membayangkan bagaimana jika menjadi bagian dari orang yang dibenci. Tak memiliki siapapun di sisinya. Orang-orang di sekelilingnya selalu menganggap Hua seperti penjahat. Li Wei yang hidup sebagai seorang Putri jelas tak mengerti. Sebab, Li Wei selalu memiliki orang-orang yang melindunginya. Mungkin itulah yang dialami oleh Hua.
Pria itu mungkin tak percaya pada siapapun.
Aku hanya berharap bahwa diriku tak akan pernah mengalami kesendirian itu.
(T_T Bentar, kok aku mau nangis karena doa Li Wei ini. Sebab, siapa saja yang membaca cerita ini pasti tau takdirnya Li Wei.)
"Apakah Hua tak ada di sini?" tanya Guru Ling Xiao yang turun dari tempat duduknya.
Sepertinya Ling Xiao cukup perduli terhadap Hua ini. Akan tetapi, seperti yang sudah diketahui, Hua tak ada di sini.
Apa pria itu terlambat bangun juga seperti Li Wei karena mereka sama-sama melanggar jam malam?
Entahlah.
Li Jun bangkit dari tempat duduknya. "Bukankah sejak awal saya tak setuju dengan kehadiran pria itu di Pelatihan Awan?"
Eh?
Zhang Yuwen memundurkan sedikit tubuhnya untuk berbisik pada Li Wei. Seperti biasanya Zhang Yuwen selalu terdepan dalam urusan rumor dan bisik tetangga. Bahkan saat Pamannya menikah lagi, Zhang Yuwen adalah orang pertama yang tahu. Lalu, entah mengapa setelah itu berita tersebar. Tanpa disebut pun Li Wei sudah tahu siapa penyebar itu.
"Putri inilah yang saya sebut tentang pihak yang tak menyetujui masuknya Hua di Pelatihan Awan. Putri pasti tahu jika Pelatihan Awan biasanya hanya dikhususkan bagi para bangsawan di Kerajaan Li. Banyak Pejabat yang tak setuju dengan masuknya Hua dalam Pelatihan Awan, dan itu membuat Guru Ling Xiao mengangkat Hua sebagai anak. Padahal awalnya Hua hanyalah pria muda yang ditemukan oleh Guru Ling Xiao," jelas Zhang Yuwen dengan semangat.
Kita sudah tahu kemampuan Zhang Yuwen lari kemana sekarang.
Wei Wuxie menganggukkan kepalanya. Sepertinya hal ini sudah menjadi rumor besar di Pelatihan Awan. Hanya saja Li Wei yang kurang koneksi, apalagi dia juga baru masuk ke Pelatihan Awan. Tepatnya Li Wei terlambat satu bulan dari murid lainnya.
"Lebih buruknya lagi ialah Pangeran Li Jun sebagai pengawas Pelatihan Awan tak menyukai hal itu. Ini seperti menjaga kemurnian darah untuk kualitas pewaris keluarga. Sehingga Pangeran Li Jun membuat peraturan jika Hua harus bertarung dengannya untuk menguji kelayakan Hua. Dan hasilnya, Hua bisa mengalahkan Pangeran Li Jun," jelas Zhang Yuwen mengakhiri cerita ini dengan semangat.
Pantas saja tak ada yang berani membahas cerita ini di depan Li Wei. Semua orang berpikir jika Li Wei adalah adik dari Li Jun, sehingga mereka takut jika Li Wei tersinggung. Namun berbeda dengan kedua temannya ini, Zhang Yuwen jelas tak ragu berbicara pada Li Wei.
Juga, pantas saja Li Jun sangat murka dan mencari-cari masalah, itu tentang harga dirinya.
Li Jun menyadari jika banyak yang saling berbicara di dalam barisan. Pria itu berteriak, "Jangan ada yang bicara!"
Li Wei langsung diam. Bukan karena ia takut, tetapi ia tak mau bertengkar dengan kakaknya ini. Sebisa mungkin tak boleh ada keretakan internal dalam keluarga kerajaan. Itu bisa membuat munculnya penghasut dan mata-mata.
Ling Xiao menampilkan wajah penuh senyum seperti biasanya. Li Wei menyadari jika Ling Xiao sedikit memiliki misteri di balik senyumnya yang ramah itu. Terkadang kau pasti bingung dengan wajah yang ramah yang agak janggal.
"Ia memang agak kurang ramah, tetapi dia juga menantikan Perburuan Malam ini, Pangeran," ujar Ling Xiao dengan senyumnya yang seperti biasa.
Li Wei mengerutkan keningnya ketika membayangkan kata 'menantikan' ini pada wajah Hua. Ia tak bisa melihat segi menanti di wajah Hua yang datar seperti permukaan danau itu. Belum lagi dengan sikap kasarnya itu. Nyaris saja bibir Li Wei menipis karena dibekap oleh pria Hua itu.
Li Jun melipat tangannya di belakang punggung. Pria itu berjalan dengan cara angkuhnya untuk menuju ke hadapan Ling Xiao. "Anda memang tak bisa memelihara binatang buas di dalam rumah, Peramal Ling."
Bukankah itu kasar sekali?!
Li Wei terlihat tak setuju, tetapi dari arah depan Raja Li menggelengkan kepalanya. Seperti biasanya Raja Li tak ingin Li Wei terlibat dalam urusan politik. Akan tetapi, tindakan Li Jun ini jelas telah keterlaluan.
Oleh karena itu, Li Wei hanya bisa diam saja. Seperti yang Raja Li pernah ajarkan pada Li Wei, terkadang perlu pemikiran lebih matang sebelum berbicara. Sayang sekali jika Raja Li tak mengajarkan hal yang sama pada Li Jun. Bukankah kakaknya itu terlalu banyak mementingkan harga diri?
Alasan kakaknya sekarang tak lebih dari sekadar penegak atas harga dirinya karena dikalahkan oleh Hua sebelumnya.
"Ini sedikit aneh," lanjut Li Jun kemudian.
Mungkin yang aneh itu kepala kakak tersayang ini. Apa masalahnya jika Hua tak ikut dalam Pelatihan ini?
Ini sebenarnya tak berdampak bagi siapapun. Jika Hua tak ikut, maka tak ada nilai untuknya. Selesai. Tak ada urusan bagi siapapun, dan tak akan merugikan bagi siapapun. Kecuali kan janji dengan Li Wei, dan setelah itu ada atau tidaknya Hua tak berpengaruh pada siapapun. Sehingga tak akan mempengaruhi
"Mengapa Anda tiba-tiba mengangkat anak, Peramal Ling? Ini tak seperti Anda terlihat begitu kesepian hingga menginginkan seorang anak. Terlebih lagi dari keluarga yang mati dengan cara yang misterius," ujar Li Jun sambil menatap Ling Xiao lekat.
Mati secara misterius?
***
Selamat membaca 😉
Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.
Mari bertemu di chapter selanjutnya.
__ADS_1
Adios~