Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Putri Hitam 14: Awal dari Lima Bencana Kerajaan Li


__ADS_3

BRUK!


Li Chen menatap jengkel ke arah keributan, "Ada apa lagi?"


Akan tetapi, ia tak mendengar jawaban dari anak buahnya. Hal tersebut yang membuat Li Chen kembali fokus kepada Li Wei. Jelas sekarang mereka sudah seperti sapi yang bergulung-gulung dalam lumpur.


Di tanah mereka jelas sudah hujan cukup lama, sehingga muncul genangan air. Dan, mereka bergulung di tanah sekarang. Sehingga Li Chen yang selalu bersih dan teliti merasa sangat tertekan. Li Wei menyadari bahwa Li Chen sangat gila kebersihan. Hal ini pasti sangat menggangu Li Chen.


Kakinya masih menekan pada lengan Li Wei. Dan, melihat lengahnya Li Chen, Li Wei menggunakan tangannya yang tak terluka untuk bertumpu. Dari posisinya yang merangkak itu Li Wei memutar tubuhnya, dengan tangannya sendiri sebagai poros. Lalu, kaki Li Wei mengait kaki Li Chen hingga kakaknya itu jatuh tersembab lagi.


BUGH!


Lagi-lagi Li Chen terjatuh, dan kali ini dengan kaki yang terkait dengan kaki Li Wei. Hal tersebut membuat Li Chen semakin jengkel. Biasanya pria ini selalu menampilkan sikap sopan dan lemah lembut. Akan tetapi, sekarang Li Chen terlihat seperti lebih pemarah dibanding Li Jun.


Ditambah lagi ... Li Jun tidak pernah berniat menyakiti Li Wei, meski Li Jun benci pada Li Wei.


Namun Li Chen, ... Li Wei tak tahu apakah semua kasih sayang seorang kakak yang seringkali Li Chen berikan hanyalah kepura-puraan atau tidak. Akan tetapi, ini bukan waktu yang tepat untuk memikirkan semua hal itu.


"Gadis jal*ng! Harusnya aku tahu bahwa kau akan sangat mengganggu rencanaku," teriak Li Chen marah, pria itu berusaha bangkit, tetapi Li Wei menahan kaki Li Chen.


Sehingga mereka bergulung lagi seperti ulat. Li Wei sedikit terbantu dengan berkurangnya rasa sakit akibat darah Hua Yifeng. Yang menjadi masalah adalah racun yang sudah mengenai organ internalnya.


NYUT!


Li Wei merasa tubuhnya mati rasa lagi. Hal tersebut membuat Li Chen dengan mudah melepaskan pertikaian mereka. Li Chen bangkit dan membungkuk ke arah Li Wei yang tak bisa bangkit lagi dari tanah.


GREP!


Tangan Li Chen sudah mengarah untuk mencekik leher kecil Li Wei. Bahkan tanpa berpikir apapun lagi. Bagaimana pun Li Chen sama sekali tak pernah takut untuk menyakiti Li Wei.


Orang ini benar-benar akan membunuhku!


Senyum licik Li Chen tercipta, "Apa kau tahu penyesalan terbesarku?"


Jelas Li Wei tak bisa menjawab saat napasnya sudah mulai tersengal-sengal. Tangannya berusaha melepaskan cekikan Li Chen. Akan tetapi, itu jelas tak mudah. Apalagi dengan kondisi Li Wei yang bahkan bernapas saja sudah diragukan untuk beberapa detik ke depan.


Ia bahkan tak bisa mencerna ucapan Li Chen dengan baik.


"Kesalahan terbesarku adalah tidak membunuhmu ketika di Perburuan Malam. Apa kau ingat tentang binatang asli di dalam Labirin Batu?" tanya Li Chen dengan tawa mengejeknya.


Orang ini jelas bangga dengan dosanya. Sehingga kalimat motivasi dan diberi ucapan untuk mengingat Dewa saja tak akan membuat orang ini sadar. Hatinya memang sejak lama tertutup, atau memang sejak awal semuanya bagian dari rencananya.


Li Wei tak tahu mana yang lebih mengecewakannya. Namun seorang kakak laki-laki biasanya adalah seorang pahlawan untuk adik perempuannya. Yah, walau tak semuanya ... Li Wei segera memungkiri itu.


"Ka ...k, UGHH ..." Li Wei merasa tangannya tak sanggup lagi untuk terangkat.


Akibatnya, Li Wei sekarang sudah terbaring seperti dirinya adalah calon mayat. Ia bisa mendengar kalimat terakhir Li Chen, sebelum kakaknya itu terpukul ke belakang dengan keras. Adapun yang dikatakan oleh kakaknya itu adalah ... "Kau tahu ... Paman mengatakan jika Kerajaan Li akan tumbuh lebih besar jika mengulang kembali cerita Pangeran Penduka."


Orang bodoh mana yang seperti Li Chen?


Bagaimana bisa ia mempercayai hal yang seperti itu? Menuruti cerita Pangeran Penduka, berarti menciptakan penderitaan untuk seseorang yang ditumbalkan untuk kemakmuran banyak orang. Akan tetapi, siapa yang memberinya ide buruk itu?


Ia bilang ... Paman?


Pikiran Li Wei sudah tak bisa meneruskan lagi asumsinya. Ini tak seperti pikirannya dengan mudah berjalan di saat yang buruk seperti ini. Li Wei sudah tak bisa bertahan lagi.


Terkadang ucapan ibu benar. Dunia luar cukup mengerikan.


Ia selalu berpikir jika terlindung dalam kedamaian Istana adalah hal yang istimewa. Akan tetapi, ini tak seperti kau bisa terus-menerus menjadi bunga. Seorang gadis tak bisa menjadi pihak yang dilindungi, karena tak semua pria adalah pelindung. Itu adalah hal yang sering terjadi.


Terkadang seorang gadis juga perlu tahu untuk melindungi dirinya sendiri.


"Kau ... Akan mati," ucap Li Wei dengan mata yang setengah tertutup.


Itulah yang Li Wei katakan.


Dan ...


CRASHHH!!!


Ketika ia membuka matanya lagi, ia merasa limpahan darah mengenai wajahnya. Terutama saat sebuah tangan menerobos melalui tubuh Li Chen. Ia melihat wajah terkejut Li Chen, sehingga ia bisa memprediksi tentang rasa sakitnya.

__ADS_1


Ini mengerikan!


BRUK!


Li Chen ambruk ke samping Li Wei, dan yang berdiri di sana adalah wajah tenang Hua Yifeng. Tangan kanan pria itu telah berlumuran darah, tetapi pria itu hadir berbeda dari biasanya. Mata pria itu memerah, dan ada garis merah di bawah matanya. Lambang aneh seperti ekor api.


Pria ini ...


Mengapa dia berubah seperti itu?


Lalu, Li Wei tak mendapat kesadarannya kembali. Ketika pria itu menunduk ke arahnya, Li Wei berpikir itulah saat kematiannya. Akan tetapi, ia merasakan rasa anyir di dalam mulutnya. Li Wei berusaha menggelengkan kepalanya karena tak ingin meminum darah itu.


Akan tetapi, cengkeraman tangan Hua Yifeng cukup keras di rahangnya.


"Kau tak boleh mati."


Pria itu lagi-lagi meminumkan darah untuk Li Wei.


***


Kematian Li Chen merebak ke masyarakat. Bahkan sampai pada istana, sehingga semuanya menjadi gempar. Namun perintah Li Chen terus berjalan, karena orang yang membawa berita telah pergi lebih dahulu.


Akibatnya ... Semua orang ketakutan.


Seorang anak dari klan yang istimewa, Hua Yifeng telah mencetak banyak nama di sana. Masyarakat di tengah kontroversi karena Hua Yifeng diperlukan, sekaligus ditakuti. Orang-orang berpandangan jika darah Hua Yifeng bisa menyembuhkan, sehingga mereka dengan anehnya menyembah Hua Yifeng untuk meminta kesembuhan.


Sebuah iman yang tak perlu ditiru. Sebab, kau tak bisa tunduk pada seseorang yang hanya diberi 'sedikit' kelebihan. Bahkan orang itu sendiri tak ingin kelebihannya.


Akan tetapi, sebagian menganggap Hua Yifeng sebagai bencana besar.


Juga, ... Perbatasan berhasil direbut oleh Kerajaan Xin.


Prajurit yang menjaga perbatasan diracuni dengan parah. Tak ada yang tahu siapa yang menjadi mata-mata hingga meracuni para prajurit. Nyatanya Kerajaan Xin masuk dengan mudah ke Kerajaan Li. Hingga Pusat Kota sudah dikuasai dengan Raja Xin yang tamak.


Kebijakan dipimpin oleh Raja Xin, katanya untuk sementara. Hanya sampai seorang Raja Baru untuk Kerajaan Li ada. Karena Raja Xin mengatakan jika Kerajaan Li hanya perlu dipulihkan, tetapi berada di bawah kekuasaan Kerajaan Xin.


Kebijakan muncul dengan tewasnya Raja Li di peperangan.


Li Jun dipukul mundur ke Pusat Kota dan tetap menolak untuk menjadi bawahan Kerajaan Xin. Bahkan meski pria itu disiksa sekalipun. Keteguhan itu terus terdengar sampai ke telinga penduduk. Akan tetapi, Li Jun bersumpah sampai mati ia tak akan tunduk dengan Kerajaan Xin.


Sayangnya, penyebab dari kalahnya Kerajaan Li sudah mati. Tak ada yang tahu dalang sebenarnya, sehingga seseorang 'muncul' sebagai yang bisa disalahkan. Terutama saat penyakit batu masih bermunculan di Pusat Kota.


Perhatian orang-orang mulai berbaur. Mereka ingin memperjuangkan tanah air mereka, tetapi penyakit batu ini tak bisa disembuhkan begitu saja. Mereka berusaha mencari obat untuk menyembuhkan, tetapi darah klan Bao nyatanya sulit didapatkan.


Mereka mulai mencari Li Wei, yang katanya, seseorang yang tak mungkin terjangkit penyakit batu. Serta Hua Yifeng yang memiliki darah istimewa. Akan tetapi, meski Kerajaan Li telah diduduki oleh Kerajaan Xin, Putri Li Wei yang menjadi kebanggaan mereka tak muncul batang hidungnya.


Beberapa merasa marah atas sikap diam Li Wei yang ingin selamat sendirian. Mereka mulai menyumpah tentang Li Wei, meski mereka sendiri kurang tahu apa yang sebenarnya terjadi di Kerajaan mereka. Akibat rumor yang disebarkan oleh seseorang yang tak diketahui identitasnya, kini muncul pencarian tertinggi untuk dua orang, yaitu Hua Yifeng dan Putri Agung, Li Wei.


***


"AKHHH!!"


Li Wei terbangun bukan dalam keadaan yang baik. Ia benar-benar berteriak dengan keras dan rasa takut. Hal yang ia lihat sebelumnya sangat menakutkan. Akan tetapi, karena tubuhnya yang lemah Li Wei nyaris terjatuh lagi, tetapi sepasang tangan menangkapnya dengan cepat.


Di mana aku sekarang?


Dengan cepat Li Wei membuka matanya dan langsung berhadapan dengan mata tajam Hua Yifeng. Kedua bola mata Hua Yifeng merah seperti terendam oleh darah. Hal tersebut membuat jantung Li Wei terkejut dengan sendirinya.


Tanpa sadar Li Wei memberontak dari tangan Hua Yifeng. Ia memberontak seperti cacing yang terkena panas hingga pukulannya beberapa kali mengenai wajah Hua Yifeng. Saat itu, Li Wei merasakan kulit Hua Yifeng yang dingin.


Dia bukan Hua ... Bukan! Aku akan mati.


"Menjauh!" teriak Li Wei sambil berusaha menjauh dari Hua Yifeng.


Pria itu bukan dalam wujud yang mengerikan. Hanya saja apa yang dilakukan oleh Hua Yifeng sebelumnya benar-benar seperti monster. Pria itu melubangi tubuh Li Chen dengan jari-jarinya. Bahkan dalam ingatan dan pendengaran Li Wei yang sudah mengabur, ia masih ingat jeritan para prajurit yang mengikuti Li Chen.


Mereka meraung seperti diamuk binatang buas. Suara sobekan tubuh layaknya tubuh dan tulang manusia hanya seperti batang padi. Itu benar-benar mengerikan untuk Li Wei tanggung.


Belum lagi ... Lukanya yang sembuh dengan sendirinya. Itu ... Terlalu drastis untuk diterima oleh Li Wei.


"Tenangkan diri Putri," Suara tenang itu masuk di pendengaran Li Wei.

__ADS_1


Kala itu ia menoleh dan melihat pada Ling Xiao yang ternyata ada di ruangan yang sama. Tak hanya itu, tetapi Wei Wuxie yang sudah lama Li Wei tak jumpai juga ada di sana. Juga, Zhang Yuwen yang sempat diberitakan gugur di perang.


Orang-orang itu berada di ruangan yang sama dengan Li Wei.


"Ling Xiao, apa yang terjadi pada Li Wei?" tanya Hua Yifeng dengan nada dinginnya.


Ling Xiao yang ikut menahan Li Wei yang memberontak seperti sapi kerasukan hanya bisa menggeleng. "Dia ketakutan dengan apa yang sudah dialaminya."


"Putri, tenanglah di sini ada kami," ucap Zhang Yuwen yang sepertinya memiliki luka parah di dadanya. Itu ditandai dengan ikatan perban yang melintas di bahunya.


Ketika Li Wei melihat tangan Hua Yifeng ingin mengusap wajahnya yang dipenuhi air mata. Li Wei berteriak dengan sangat keras. Mungkin itu suara paling bersemangat Li Wei yang akhirnya dikeluarkannya.


"Jangan sembuhkan aku lagi! Itu menjijikkan!" teriak Li Wei dengan keras.


DEG


Naluri melindungi diri Li Wei membuatnya mendorong keras tubuh Hua Yifeng. Itu sebenarnya tak cukup keras untuk mengalahkan Hua Yifeng. Akan tetapi, pria itu seperti tak ingin mempersulit Li Wei. Terutama dengan pandangan Hua Yifeng yang menjadi kaku.


Mata merahnya yang seperti darah itu tampak dingin. Lebih dari segalanya ... Li Wei merasa jijik dengannya. Dengan kemampuan yang Hua Yifeng milikki. Ditambah lagi Hua Yifeng adalah orang yang membunuh kakaknya, Li Chen.


Wei Wuxie segera menjadi tameng untuk Li Wei. Gadis itu segera berpegangan pada bahu Wei Wuxie untuk mengintip ke depan. Di sana suasana mendadak menjadi sepi. Entah karena apa.


Li Wei juga sejatinya tak tahu apa yang ia katakan. Ia sudah di batas rasionalnya, dan Li Wei mulai tak percaya pada orang lain.


SRET!


Ling Xiao menghela napasnya. "A-Hua."


^^^*A-Hua itu panggilannya Ling Xiao ke Hua Yifeng. Emang gak pernah sih diceritakan secara jelas, tapi Ling Xiao sudah lama mengenal Hua Yifeng. Tepatnya sejak Hua Yifeng di usia sekitar 10 tahunan. Makanya Ling Xiao manggil Hua Yifeng tu dengan panggilan lembut. Kenapa dia manggil Hua? Karena 'Yifeng' itu nama yang baru diberikan ke Hua. Dulu dia cuma dikenal dengan nama Hua. Ingat kan. Tapi di masa depan Ling Xiao gak manggil A-Hua lagi.^^^


"Aku akan mencari tumbuhan obat," ucap Hua Yifeng yang berjalan pelan menuju pintu.


Akan tetapi, baru beberapa langkah Hua Yifeng berjalan. Pria itu sudah ambruk ke lantai dengan suara yang keras. Hal tersebut tentu saja mengejutkan bagi mereka.


Ling Xiao segera mendekat ke arah Hua Yifeng yang tak sadarkan diri. Tangan Ling Xiao meraba ke kening Hua Yifeng yang pucat, dan hawa panas mengenai tangannya. Panas di tubuh Hua Yifeng sudah melebihi dari batas panas yang pernah Ling Xiao tahu. Ini nyaris seperti Hua Yifeng direbus oleh darahnya sendiri.


Apa yang terjadi?


Li Wei yang mendapat ketenangannya kembali mencoba bertanya. Walau dengan suara yang bergetar. "Apa ... Apakah Tuan Hua terluka?" tanya Li Wei lemah.


Ia menatap pada Wei Wuxie, tetapi pria itu menggelengkan kepalanya. Pertanda ia juga tak mengerti apa yang terjadi. Zhang Yuwen apalagi ... Pria itu juga jelas tak memahami apa-apa. Selain fakta bahwa Zhang Yuwen juga terluka.


Li Wei yang baru bangun juga tak mengetahui situasi yang ada. Bahkan mengapa mereka sekarang berkumpul di rumah sederhana ini pun, Li Wei tak tahu. Mungkin ia akan bertanya nanti pada kedua temannya ini.


Lebih dari segalanya ... Ada keputus-asaan di wajah Ling Xiao.


"Mungkin A-Hua sudah mencapai batasnya. Pohon Iblis sudah menyebarkan kekuatannya," ucap Ling Xiao sambil membuka pakaian Hua Yifeng.


Ling Xiao menyenderkan tubuh Hua Yifeng di dinding, dan Li Wei beserta Zhang Yuwen dan Wei Wuxie bisa melihat sesuatu yang 'ada' di tubuh Hua Yifeng.


Di kulit pria itu yang pucat seperti mayat muncul garis-garis merah. Garis itu muncul cukup banyak di bagian dada Hua Yifeng, dan mencapai pada wajah Hua Yifeng. Ada garis merah aneh yang muncul di wajah Hua Yifeng. Seperti akar merah.


"Kalian bertanya di mana Pohon Iblis?" tanya Ling Xiao pelan.


Entah mengapa Li Wei memiliki dugaannya sendiri. Terutama saat mengingat dalam buku yang pernah mereka baca di Perpustakaan Awan. Di mana menerangkan tentang keberadaan Pohon Iblis. Yang hanya disebutkan berada di Gunung Hua.


"Jika Pohon Iblis ini terus tumbuh, maka A-Hua akan mati. Karena Pohon Iblis bukanlah benda. Bukankah tumbuhan seperti yang ada dalam pikiran kalian, tetapi sebuah kekuatan iblis. Jika Pohon Iblis memilih pada siapa dia tumbuh, maka itu sama seperti memberi kekuatan sebesar mungkin. Sehingga Klan Bao akan sangat istimewa darahnya. Namun dengan imbalan yang cukup besar, yaitu jiwa," ucap Ling Xiao.


Sejatinya ... Klan Bao itu sama seperti manusia pada umumnya. Namun ... Pada masa tertentu darah mereka memiliki kekuatan yang mematikan. Terutama jika mereka tumbuh dewasa, dan tak pandai mengatur emosinya.


Jika seperti itu, mungkin sikap tenang Hua Yifeng selama ini memiliki alasan tersendiri.


Mungkinkah karena apa yang aku ucapkan padanya?


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.


Mari bertemu di chapter selanjutnya.

__ADS_1


Adios~


__ADS_2