Xiao System: Peramal Yi Hua

Xiao System: Peramal Yi Hua
Sebuah Bunga 10: Selalu Sama


__ADS_3


***


Yi Xia ...


Tidak.


Siapa sangka beberapa tahun berlalu sejak ia meninggalkan putrinya sendirian, Shi Heng akan melihatnya tumbuh dewasa. Atau ... Mungkin Shi Heng harus menyebut Yi Hua seorang 'pria'? Entahlah. Itu adalah fakta menyakitkan dimana Yi Hua kecil pernah bertanya padanya mengapa dirinya tak bisa seperti gadis lainnya.


Jawaban Shi Heng selalu sama.


"Hidup sebagai seorang gadis lebih sulit dibandingkan menjadi seorang pria," ucap Shi Heng kala itu.


Bukan.


Bukan Shi Heng menganggap gadis itu lemah, tetapi lebih pada orang-orang di sekelilingnya. Seorang gadis terlihat sebagai makhluk yang perlu dilindungi, padahal tak semua pria ada untuk melindungi. Lagipula, kepercayaan di keluarga Shi yang memang sejak turun temurun adalah seorang peramal, untuk menghilangkan penyakit aneh Yi Hua, gadis kecilnya harus berpakaian seperti pria sampai usianya sepuluh tahun.


Dan ... Siapa sangka di usia sepuluh tahun Yi Hua agak berbeda dengan sepuluh tahun usia orang lain.


Gadis itu tumbuh tidak sehat dan lebih kecil dibanding anak seusianya. Pada akhirnya Shi Heng tahu jika itu karena gadis ini bukanlah gadis biasa. Dia adalah anak yang dilahirkan oleh Dewa Phoenix. Dan tubuh manusia tak bisa menampung kekuatannya. Sehingga Shi Heng tahu jika putrinya tak akan bertahan hingga dewasa.


Lalu, ...


"Mengapa kau masih hidup, Yi Hua?" tanya Shi Heng ketika mendekati putrinya.


Ia masih tak menyadari jika Yi Hua terlihat menundukkan kepalanya.


Apa gadis itu terharu melihat ayahnya lagi?


Shi Heng ingin memeluk putrinya, dan ...


"Setelah sekian lama ..."


Eh? Mengapa aura si kecilnya ini malah terasa seperti sapi mengamuk?


Yi Hua mengangkat kepalanya dan Shi Heng melihat ada memar di sudut bibirnya. Ia ingat bahwa Yi Hua juga terlibat dalam pertandingan brutal itu. Dan mungkin seseorang sudah memukulnya. Ya ampun ... Siapa yang berani memukul putri kecilnya ini?


Tapi dibandingkan Shi Heng yang ingin marah, Yi Hua malah menunjuk ke arahnya dengan wajah jengkel. Lalu, jika seseorang_ yang entah siapa, Shi Heng tak mengenalnya, tetapi seseorang itu berdiri di belakang Yi Hua. Sosok itu menahan tubuh Yi Hua yang ingin meraih wajah Shi Heng dengan sebal.


"Shi Heng! Setelah sekian lama Anda menghilang seperti orang berhutang, kini Anda muncul dan bertanya kenapa aku masih hidup?" tanya Yi Hua sebal. Ini karena Xiao tak ada, Yi Hua tak bisa mendeteksi keberadaan Shi Heng.


Yah, sebagai gantinya ada Hua Yifeng di sini.


Coba aku tahu jika ayah dari Yi Hua asli ini kaya raya, pasti aku sudah memeras uangnya! Aku susah payah mencari sesuap nasi, padahal pewaris Kerajaan Bawah nantinya. Sial.


Hua Yifeng yang sigap menangkap Yi Hua agar tak menyerang Shi Heng. Bahkan saking lincahnya Yi Hua memberontak, kaki Yi Hua sampai terbang karena berusaha melompat. Beruntung tangan Hua Yifeng masih bisa menahan Yi Hua yang lincah ini.


Orang-orang di sekitar mereka menatap tak mengerti pada pemandangan di depan mereka. Bagaimana pun terkenal Yi Hua di Pusat Kota, tetapi di Kerajaan Phoenix, Yi Hua ini hanyalah seorang petarung yang mengacau. Akan tetapi, ini pertama kalinya mereka melihat pemimpin Kerajaan Bawah yang misterius ini dibentak oleh Yi Hua.


"Yi Hua, ini Ayah ..." ucapan Shi Heng tentu saja mengejutkan mereka semua yang ada di sana.


Jangan bilang dunia hanya sebesar bulu sapi? Bahkan bawahan mereka tak pernah tahu jika pemimpin mereka bernama Shi Heng. Ini lagi ... Sejak kapan pemimpin mereka memiliki seorang anak yang lincah seperti sapi ini?


"Shi Heng, ingat untuk memberiku warisan nanti," ucap Yi Hua yang masih berusaha melepaskan diri dari Hua Yifeng.

__ADS_1


Huh?


"Tuan, bagaimana dengan pertandingan?" tanya bawahannya yang memberanikan diri untuk menyela.


Akan tetapi, Shi Heng panik dan bingung. Dia hanya melambaikan tangannya asal pada bawahannya.


Ini siapa yang menukar anaknya dengan jelmaan anak sapi? Seingatnya Yi Hua-nya itu pendiam dan sangat rapi dalam bersikap.


"Bubarkan saja pertandingan ini," ucap Shi Heng yang tanpa sadar bersembunyi di belakang anak buahnya. Itu karena Yi Hua ini seolah jika lepas dari Hua Yifeng, maka peramal ini akan mencakar wajah Shi Heng.


"Hey, mana bisa ..." Protes dari para petarung.


Shi Heng kembali ke sikapnya yang sebelumnya. Ia berdiri tegak sambil menatap pada deretan petarung dan penonton. "Apa kalian tidak mendengar jika aku mengatakan berhenti?" tanya Shi Heng dengan nada dingin.


DEG!


Aura di sekitar langsung berubah. Bagaimana bisa orang ini berubah-ubah dalam bersikap? Padahal baru saja Shi Heng terlihat seperti kucing penakut.


"Apa maksud Anda dengan dihentikan?" ucap Yi Hua yang berhasil melarikan diri dari Hua Yifeng.


Pria itu, Hua Yifeng, akhirnya melepaskan pelukannya pada Yi Hua saat Yi Hua menyikut perutnya. Tentu saja Hua Yifeng tidak terluka karena itu, hanya saja telinganya sakit mendengar suara cempreng Yi Hua yang minta dilepaskan. Sehingga Hua Yifeng hanya berdiri di belakang Yi Hua.


Shi Heng yang mendengar itu, mendadak berubah ekspresi lagi seperti seseorang yang tengah melihat anak kucing. "Yi Hua, mana mungkin Ayah membiarkan kau bertarung lagi," ucap Shi Heng dengan nada membujuk. Shi Heng menatap sekilas pada Hua Yifeng, tetapi seperti menyadari siapa pria itu, Shi Heng kembali mengalihkan pandangan pada Yi Hua.


Tatapan Shi Heng sedikit ganjil ketika melihat Hua Yifeng yang berdiri dengan tenang di belakang Yi Hua. Pria ini ...


Akan tetapi, Huan Ran dan Yue Yan berdiri waspada di sisi kiri mereka. Pertandingan belum usai, bukan?


Bahkan Huan Ran masih bisa melihat orang-orang yang siap meremukkan kepala mereka jika pertandingan dimulai kembali.


Yue Yan menghela napas lelah. "Apa maksudmu, Yi Hua? Jika pemimpin mereka adalah ayahmu, mengapa kau perlu bertarung lagi?!" tanyanya tak terima.


Yue Yan menoleh pada Hua Ran yang bersih dan rapi. Seketika Yue Yan merasa dirugikan. Di sini hanya dia yang terluka parah. Yi Hua saja hanya dipukul sekali. Dan juga ... Tentang pria yang baru datang ...


Yue Yan tak berani menatap pada Hua Yifeng ... Orang ini dari jarak lima ratus kaki saja Yue Yan dapat mengetahui hawa berbahayanya. Apalagi dengan ular-ular milik Yue Yan yang tak berani bergerak di dalam pakaian Yue Yan. Ularnya adalah iblis kecil, sehingga mereka tahu letaknya.


"Maaf ... Tapi kalian masih harus bertarung."


Ucapan itu membuat mereka menoleh ke arah suara. Tepatnya pada Tuan Qiu, yang entah nyawanya ada berapa, berdiri dengan tenang. Di belakangnya muncul beberapa orang dan salah satunya adalah ...


Huan Ran nyaris beranjak maju ketika melihat Liu Xingsheng yang berdiri tegak seperti patung. Pria itu masih tak sadarkan diri seperti sebelumnya, tetapi Liu Xingsheng berada di tangan anak buah Tuan Qiu. Juga ... Jia Yu yang mengigil ketakutan.


Pakaiannya yang sobek membuat siapa saja tahu apa yang terjadi pada Jia Yu. Gadis itu mungkin berusaha memberontak dan melindungi Liu Xingsheng juga, tetapi apa dayanya yang hanya seorang gadis lemah. Harusnya mereka tak meninggalkan keduanya di penginapan!


"Bajingan, apa yang kau inginkan?" bisik Yi Hua yang mengepalkan tangannya kasar. Bahkan tanpa sadar kukunya melukai telapak tangannya.


"Aku tak tahu apa maksud kedatangan kalian di Kerajaan Bawah ini. Namun aku sangat tersinggung dengan apa yang terjadi kemarin," ucap Tuan Qiu yang mengingat kembali tentang kelancangan Yi Hua dan lainnya.


Shi Heng tak mengerti kondisinya, sehingga ia memerintahkan anak buahnya untuk menangkap Tuan Qiu dan lainnya. Ia hanya tahu Tuan Qiu berselisih dengan Yi Hua. Akan tetapi, gerakan Tuan Qiu mengejutkan mereka, terutama saat sebuah pisau tipis diarahkan Tuan Qiu ke tenggorokan Liu Xingsheng.


Huan Ran terlihat pucat dan Yi Hua berteriak. "Jangan lakukan apapun!"


Anak buah Shi Heng berhenti kala itu juga. Akan tetapi, pisau Tuan Qiu sudah sempat menggores ke leher Liu Xingsheng. Dan, di sana ada kepiluan di hati Yi Hua. Meski tergores sekalipun, Liu Xingsheng masih tetap berdiri seperti boneka.


"Kau mempermalukan aku, Tuan-Tuan. Padahal aku sudah berbaik hati untuk memberi kalian tumpangan. Siapa sangka jika kalian malah mengambil milikku. Sehingga tak aneh jika aku juga mengambil milik kalian. Hanya saja ini hanyalah mayat berjalan," ucap Tuan Qiu yang sebenarnya tak mengerti apa yang dialami oleh Liu Xingsheng.

__ADS_1


Selama ia memiliki benda untuk mengancam Huan Ran dan lainnya, maka tak ada yang salah.


Huan Ran menatap dingin pada Tuan Qiu. "Aku akan membunuhmu suatu saat nanti," ucap Huan Ran dengan dingin.


Tentu saja itu membuat Tuan Qiu bergidik. Akan tetapi, ia harus melakukan ini untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Lagipula jika dia tak melakukan ini, dia mungkin gak bisa keluar dari Kerajaan Bawah hidup-hidup. Ia harus punya jaminan agar dirinya bisa keluar.


"Aku ingin kalian berlutut di hadapanku sekarang juga. Terutama kau ... Perdana Menteri Kanan," teriak Tuan Qiu sambil menunjuk marah pada Huan Ran.


Dia adalah seorang pedagang besar. Ia banyak uang dan memiliki banyak orang yang akan menuruti setiap ucapannya dengan cara dirinya mengeluarkan uang. Akan tetapi, dirinya bahkan dipermainkan oleh orang-orang ini.


Memang Huan Ran adalah orang yang dihormati di Kerajaannya. Namun saat ini mereka berada di Kerajaan Bawah. Dimana hukum alam yang bekerja. Di sini tak perduli apa statusmu, selama kau memiliki uang dan kekuatan, kau bisa membeli apapun. Siapapun yang mati di Kerajaan Bawah, tak akan ada tindakan apapun. Di sini hukum tak berlaku.


Jika dirinya ingin membalas dendam pada Huan Ran dan yang lainnya karena membuat masalah dengannya, maka arena tarung bebas adalah tempatnya.


Huan Ran menatap leher Liu Xingsheng yang masih mengalirkan darah. Meski luka itu tercipta, tetapi wajah datar Liu Xingsheng semakin mematikan perasaan mereka. Lebih baik jika Liu Xingsheng mengomel atau mengaduh sakit sekarang juga.


Akan tetapi, hanya ada kesunyian di sana. Seolah Liu Xingsheng yang berdiri di depan mereka hanyalah sebuah raga.


Suasana di sekitar menjadi sepi. Penonton yang berasal dari Pusat Kota, dan tahu siapa Huan Ran, segera menyembunyikan wajahnya. Mereka jelas tak mau dihukum atau bermasalah saat mereka kembali ke Pusat Kota nanti. Sehingga merasa tak mau membuat masalah karena kehadiran Perdana Menteri Kanan ini.


Yue Yan merenggut, ..." Kau bercanda, Tua Bangka. Kau pikir kami akan melakukannya?!" tanya Yue Yan kasar.


BUGH!


Baru saja Yue Yan mengatakannya, Huan Ran sudah berlutut dengan wajah dingin. Tak ada keraguan atau apapun di wajah Huan Ran. Seolah pria ini tak perduli pada apa yang terjadi di depannya. Yi Hua yang merasa tak nyaman berusaha meminta Huan Ran untuk bangkit kembali.


Yi Hua menoleh pada Hua Yifeng untuk meminta bantuannya. Akan tetapi, pria sinis itu hanya berkata. "Omong kosong," ucap Hua Yifeng dengan sinis.


Apanya yang omong kosong? Tolonglah! Yi Hua ini masih sangat ingat dan menghormati Huan Ran sebagai atasannya.


"Lepaskan dia," ucap Huan Ran dengan tatapan tajamnya.


Melihat tatapan tajam itu, Tuan Qiu bergidik ngeri. Tangannya yang bergetar meraih acak bahu Liu Xingsheng, seolah pria ini sudah kehabisan akal. Ia meraih bahu Liu Xingsheng dan menekan pisau ke leher putihnya.


SRAT!


BRUGH!


Sosok itu ambruk begitu saja di tanah. Darah mengalir deras dari tenggorokan yang terpotong.


"Tidak ..."


Kenapa kau melakukannya?


Yi Hua berteriak keras ketika melihat itu semua. Itu terjadi sangat cepat hingga tak ada yang menyadari apa yang sedang terjadi. Meski begitu ... Huan Ran sudah maju ke depan, tetapi tak sempat untuk menyelamatkan sosok yang tiba-tiba maju ke depan.


Pada akhirnya, ia tetap tak bisa menyelamatkan siapapun.


Yi Hua merasa hampa seketika.


***


Selamat membaca 😉


Jangan lupa untuk meletakkan jempol pada tempatnya. Berikan kritik dan saran agar cerita ini semakin baik untuk ke depannya. Sertakan dukungan agar author tambah semangat lagi.

__ADS_1


Mari bertemu di chapter selanjutnya.


Adios~


__ADS_2